Rabu, 15 Desember 2021

On Your Wedding Day (2018): Menjaga Jodoh Orang Lain

Hwang Woo Yeon (Kim Young Wang) dan Hwan Seung Hee (Park Bo Young) sama-sama remaja bermasalah yang sering membolos, berantem, dan salah satunya punya drama home broken yang menyakitkan. Mereka bertemu di sebuah SMA di Korea dan segera menjadi teman dekat. Woo Yeon akan melakukan apa pun untuk melindungi Seung Hee yang terlihat kecil itu, mereka berdua secara fisik diibaratkan seperti jerapah dan kurcaci oleh gurunya.

Waktu akhirnya mendewasakan tokoh ini. Setelah Seung Hee menghilang, Woo Yeon menemukan sosok cinta sekolahnya itu di sebuah brosur perkuliahan, Universitas Hankook. Woo Yeon yang bodoh pun belajar keras agar masuk universitas itu, perjuangan dia untuk masuk jurusan Pendidikan Jasmani karena fisiknya yang tinggi besar diperlihatkan getol. Yang lucu ketika bapak-ibu Woo Yeon menertawakan anaknya untuk masuk ke universitas yang sulit pendaftarannya itu. Namun motivasi cinta mengalahkan segalanya.

Hingga akhirnya Woo Yeon satu kampus dengan Seung Hee yang mengambil jurusan desain fashion. Meski seiringnya waktu, Seung Hee kehilangan passionnya dengan menjajal berbagai pekerjaan yang bukan dia. Lalu Woo Yeon seingatku berkata: "Kamu keren melakukan pekerjaan apa pun, tapi kamu paling keren kalau sedang mendesain. Bukankah itu cita-cita pertamamu?"

Meski pikiran manusia memang selalu bisa membuat sakit pasangannya. Woo Yeon melakukan kesalahan yang menurutku cukup ideologis diucapkan, dia semacam playing victim pada Seung Hee karena kegagalannya tak mendapat kerja, karena penyesalannya mengenal Seung Hee, dan hal mendalam lain yang kukira ketika itu diucapkan oleh seorang yang kamu cintai, kamu akan lebih baik memutuskan untuk pisah. 

Seung Hee merupakan orang yang tak mudah untuk mengucapkan terima kasih, sangat susah baginya, walau Woo Yeon memberinya banyak hal. Bagi Seung Hee mengucapkan terima kasih seperti sebuah perpisahan. Dan film ini mengajarkanku pula, semakin kamu terobsesi pada sesuatu, semakin obesesi itu akan menjauhimu. Semakin Woo Yeon menginginkan Seung Hee, semakin dia kehilangan Seung Hee, bersebrangan dengan apa yang menjadi obsesinya. Aku merefleksikan hal ini bisa terjadi juga di bidang yang lain.

Menyesakkan memang akhir kisah film ini, tak seperti judulnya yang bahagia "On Your Wedding Day". Woo Yeon pada akhirnya ditakdirkan untuk menjaga jodoh orang lain, karena Seung Hee memilih untuk tidak berjodoh dengan dirinya. 

Background film ini menurutku manis, semua musim ada, dari musim salju, gugur, panas, dan semi. Sinematografinya juga indah di layar full HD, apalagi ketika situasi senja Woo Yeon dan Seung Hee ada di sebuah tempat yang terasa hangat karena sinar gold mentari memberi energi yang jauh lebih berkata-kata. Juga adegan di pantai atau ketika membeli makanan pinggiran kesukaan Seung Hee.

The Grand Budapest Hotel (2014): Anak Tangga Karier Sang Lobby Boy

Hal utama yang kuacungi jempol dari film ini adalah sinematografinya yang super keren. Asli Wes Anderson tahu gimana cara memanjakan mata penonton dengan warna dan citra yang diangkat dari tangan layarnya. Semula, saya mengira ini adalah film cinta seorang perempuan yang terkurung di sebuah hotel dan bertemu dengan pria aneh di sana. Premis karangan saya salah, film ini justru mengambil sisi seorang lobby boy (pramutamu/penjaga pintu) yang sukses mendapat warisan The Grand Budapest. Ia bertemu dengan lobby boy lain, pegawai baru, yang menemaninya berpetualang mempertahankan lukisan "Boy With Apple" yang dihargai setara dengan (mungkin) lukisan "Monalisa".

Lobby boy baru bernama Zero Moustafa (Tony Revolori) yang juga seorang imigran gelap karena negara aslinya dilanda perang, mesti mengungsi ke negara lain dengan cara apa pun dan bekerja apa pun. Zero pindah ke Republik Zebrowka. Namun, Zero punya track record bekerja di bidang hospitality, pelayanan, di bidang perhotelan. Zero bertemu dengan bos yang sangat klik dengannya dan sangat mempercayainya karena keduanya punya latar belakang yang sama secara emosional. Bos dia bernama M. Gustave (Ralph Fiennes). Bersama bosnya, Zero terlibat dalam konflik sejuta umat pembagian warisan Madam D. (Tildon Swinton), perempuan aneh yang takut bepergian sendiri dan hanya mau ditemani Gustave. 

Petualangan dari satu tempat ke tempat lain, satu peristiwa ke peristiwa lain inilah yang membuat seru. Apalagi dibaluri dengan kisah cinta Zero dengan seorang pembuat kue hotel bernama Agatha (Saoirse Ronan). Agatha juga perempuan aneh karena tanda lahirnya atau kebiasaannya akan detail-detail dan petualangan--yah, bukan Wes Anderson kalau karakternya tidak aneh, pun karakter hotelnya pun aneh karena pemilik hotel gak peduli hotelnya sepi, gak modern, dll, ia ingin mempertahankan itu hanya untuk Agatha.

Di film ini saya suka dengan karakter Gustave. Entahlah, dia sangat selow banget ngadepi semua tantangan yang ada selama masa-masa terburuknya di penjara, dikejar-kejar, dan hampir dibunuh. Karakternya agak mirip sama The Dude di film Big Lebowski. Sedangkan Zero anaknya khawatiran, taat, dan penurut pada Gustave. Cinta antara Zero dan Agatha pun unik, meski secara ikatan emosi, saya belum ngrasain. Yang oke dan paling oke tentu adalah pemandangan dark tapi misterius dalam film.

Senin, 13 Desember 2021

The Voice of the Autumn Wind (秋風のうた By 明星)

I know it bothers you that I've always been the popular type

Because when I'm holding your hand, it's a little cold to the touch

And I realize that no matter what I say to you

Nothing between the two of us is ever gonna change


You're tearing me down

You're tearing me down


Now that the passion's died down

I'm left  feeling lonely and little morose

While I'm still on a journey of my own

Late at night I suddenly realize: rain


It keeps me calm, it keeps me calm

It keeps me walking


Coz I know you never gonna stay


So long... The rain isn't gonna let up soon

Just like yesterday, I'm left all on my own again

So long the rain washes through the city streets

Just like yesterday, I'm left all on ny own during autumn again

You ain't gonna stay


So long... Someday I will...

So long... I keep walking...

So long.. Someday I will...

So long... I keep walking...


You ain't gonna stay

Minggu, 12 Desember 2021

Sabtu, 11 Desember 2021

You Keep Me Calm, Keep Me Walking

Jika bukan karena keyakinanmu yang menguatkanku, rasanya mungkin aku tak akan menginjakkan kaki ke kota ini lagi. Dan suatu hari kau meneleponku, bertanya padaku gimana kabarku, kamu merasa tidak enak jika aku malah tidak baik-baik saja di kota ini. "Aku ikut bertanggungjawab atas kepindahanmu," katamu. "Enggak, ini semua atas keputusanku juga," jawabku. "Iya, tapi aku ikut berperan..." 

Hari ini sudah tiga bulan lebih dan aku bisa membeli begitu banyak hal-hal yang dahulu hanya angan-angan saja. Namun kadang aku juga sedih karena kota ini menjauhkanku padamu dibandingkan kota sebelumnya di mana hampir setiap malam kita berbagai cerita. 

Aku menulis ini sebagai pengingat, sore tadi aku ke Mangga Dua membeli alat kerja dan kupilih merknya juga atas rekomendasimu. Aku menamai alat ini Melly, kepanjangannya Melly Goeslaw Anto Hoed Komjingku. Kau tahu, semalam hingga hampir Shubuh waktuku kugunakan untuk mendengar kisah perjalanan rumah tangga Melly Goeslaw Anto Hoed yang bagiku menarik. Kuceritakan yang masih kuingat:

Tiap rumah tangga punya resepnya sendiri-sendiri. Dari Melly Goeslaw Anto Hoed aku belajar bahwa di luar sana akan sangat banyak orang yang lebih baik, lebih cakep, lebih pintar, lebih tajir, dan lebih-lebih semuanya, namun bagi seorang pecinta yang mencintai pasangannya, hanya akan ada satu yang tak akan tergantikan. Satu yang paling klik di antara milyaran umat manusia, suatu rasa, "Aku dengan dia akan cocok." Mas Anto sering menggunakan ilmu "Yaudahlah ya" untuk permasalahan dalam rumah tangganya. 

Kata Teh Melly juga, seorang perempuan bisa pacaran dan berhubungan dengan sekian lelaki di dunia ini, tapi jika ada satu laki-laki yang berani melamar, berarti dia serius. Jangan lepas. Dan jangan ragukan feeling sahabat sebagaimana Nike Ardilla sahabat Teh Melly yang langsung setuju ketika Teh Melly bersama Mas Anto, dengan pacar Teh Melly lainnya, Nike tak setuju.

Dan malam ini aku membuka lagi karyaku ketika sekolah, oh, bagaimana bisa penggambaranku sedekat itu dengan lingkungan tempat tinggalmu, haha. Lalu aku mendengar lagi lagu Akeboshi berjudul Akekaze No Uta. Yah, intinya, selamat datang Melly Goeslaw Anto Hoed Komjingku dengan tagline: Awet, berberforma cepat, dan memunculkan inspirasi baru.

Jakarta, 11.12.2021

Selasa, 07 Desember 2021

13 Film Pendek yang Bisa Kamu Tonton, Dari Sore Sampai Rahasia

1. Unbaedah (2019)

Pemain film Tilik Siti Fauziah di film Unbaedah masih konsisten dengan karakternya yang menyebalkan. Kali ini tingkahnya lain, dia jadi ibu serakah yang mengkorupsi nasi berkatan. Sampai tetangganya yang kesal menjebaknya dengan hantu-hantu. Film yang dibuat atas restu KPK ini bisa jadi film yang horor sekaligus lucu.

2. 50:50 (2019)

Film dokumenter yang berkisah tentang kelompok waria di kawasan Depok-Jakarta. Saya menonton film ini karena tengah membaca novel A. Mustafa berjudul Anak Gembala yang Tertidur di Akhir Zaman. Tokoh utama di novel itu bernama Mbok Wilis, tetua waria di Simpang Lima, Semarang. Dulu saya juga pernah punya pengalaman mewawancarai persatuan waria di Semarang, film ini mengingatkan saya lagi. Fokus penceritaan di film ini adalah tokoh Dona. Waria masih punya kebebasan untuk memiliki anak, dengan menikah dengan perempuan. Teman-teman Dona dengan latar belakang yang beragam membuat film ini jadi kompleks.

3. Bandung Renjana (2017)

Film ini bertabur kata-kata puitis dan romantis seputar Kota Bandung. Film yang ala-ala anak senja dan fans Fiersa Besari. Suasananya gloomy, udara yang minor, dengan tokoh yang bernama unik karena dinamai dengan nama gunung: Rinjani, dan kakaknya Renjana. Orangtua mereka yang suka naik gunung itu meninggal dan menyebabkan banting setir kerja apa pun untuk bisa hidup. Meski begitu, premis film bergenre romansa cinta segitiga ini kalau saya simpulkan: sejauh apa pun kamu pergi, kau akan kembali pada rumahmu. Rumah dalam arti kiasan. Film yang dibuat untuk hadiah HUT Bandung ini seperti mengajakmu jalan-jalan pada suatu petualangan hidup.

4. Hitlove (2017)

Ide film ini menarik, ada seorang cupid yang punya peluru. Ketika ditembakkan ke sepasang orang cewek-cowok, mereka akan jatuh cinta seketika itu juga. Magic bukan? Bahkan oleh dua orang yang sedang musuhan. Yang unik ketika cupid menerima seorang klien yang ternyata dia ditembakkan dengan body guard-nya sendiri.

5. Kinetik (2017)

Film yang disutradarai oleh Putri Tanjung ini boleh dikatakan sebuah film motivasi bagi orang dewasa awal yang merasa dirinya hampa. Kalimat tokoh yang kutingat: Kalau kamu merasa hampa dan ngerasa mentok sama kerjaan dan hidupmu, itu berarti ada ruang kosong yang membuatmu tambah lebih kreatif. Tinggal dicari isinya, apa, kapan dan di mananya; ini tergantung padamu. Film ini memperlihatkan perjuangan hidup dari tiga orang sahabat: Dhea, Karim, dan Kevin. Dua di antaranya ketika kecil hidup dengan nelangsa, sampai mereka mewujudkan mimpinya dan mengisi kehampaan hidup dengan membantu sesama. Mereka datang ke sekolah yang masih sangat kekurangan. Film ini coba bilang: Teruslah bergerak!

6. Rahasia (2011)

Plot twist-nya juara sih film ini. Seorang anak SMA nekat menemui pacarnya yang ada di Surabaya. Di kereta dia bertemu dengan seorang Bapak yang terlibat percakapan empat mata dan rahasia. Film yang mewakili tindakan primitif manusia, kebutuhan akan manusia lainnya dari perselingkuhan hingga seks. Dua rahasia anak manusia telah terbongkar dan usai film ini menyisakan perasaan yang suwung. Saya teringat kata-kata sang ibu si anak SMA: "Ibuk ra setuju, wong wedok kok ngampiri wong lanang." Film ini mendobrak itu.

7. Sore (Ep. 1 dan 2) (2017)

Berniat untuk menjadi futuristik, film ini justru punya banyak plot hole. Bagaimana mungkin bisa seorang istri masa depan datang ke masa kini dan menemui suaminya yang sedang merantau ke Italia? Kemudian mengikuti suaminya dan ngobrol terkait keluarga di sebuah restaurant. Saya menonton film ini karena ingin tahu terkait Tika Bravani dan Dion Wiyoko ketika dipasangkan. Mereka bertemu di film besutan Hanung Bramantyo berjudul Hijab. Mereka cukup menjadi pasangan yang manis. Bisa kau bayangkan semisal sekarang kamu jomblo dan berhalusianasi pasanganmu datang di hadapanmu, apa yang ingin kau katakan?

8. Fresh To Move On (2012)

Jika kau tengah putus dan berniat balik lagi ke mantan, film ini barangkali tepat. Barangkali setelah peristiwa putus tersebut bisa memberi ruang dan menjadi refleksi untuk lebih mengenal pada pasangan. Film pendek garapan Joko Anwar dan dibekengi oleh iklan pasta gigi ini bisa dibilang bergenre komedi romantis. Berkisah tentang tokoh yang diperankan Tara Baso dan Fachri Albar, mereka putus. Si Tara diberi buku panduan move on, ada 7 tips dari memberi nama mantan dengan nama aneh hingga ngedate dengan orang Tinder atau app date lainnya. Meski yang purna tetap menghadapinya secara langsung, rekonsiliasi. Sinematografi film ini menarik, mirip film-filmnya si Wes Anderson.

9. Djakarta 00 (2015)

Film masa depan tentang Jakarta yang sepertinya masa itu saya tak ada atau ber-reinkarnasi jadi makhluk lainnya. Jakarta dan kehidupannya sekarang telah musnah dan digantikan dengan kehidupan angkasa dengan makin banyak kesenjangan di sana-sini. Pohon-pohon dan pemandangan hijau adalah surga yang ketika kau masuk harus membayar sekian juta saking mahalnya. Nasib seniman masa depan semakin kesepian, begitu pun dengan para pembaca buku. Saya jadi ingat pidato Martin Suryajaya saat ulang tahun IKJ ke-49.

10. Ning Kene Aku Ngenteni Kowe (2015)

Sepanang film, saya tak henti-henti untuk tertawa nonton film ini. Seratus persen film berbahasa Jawa, Jawanya Jawa Jogja karena lokasi syutingnya di Jogja. Berkisah tentang Anjar dan Intan dengan segenap kompleksitas hidup di desa. Intan ingin merantau ke Jakarta karena kondisi desa tak menjanjikan apa-apa, ia ingin pergi bersama adiknya Bondan dan direstui oleh neneknya. Bagian epik dari film ini adalah sepanjang perjalanan dari rumah menuju Stasiun Lempuyangan. Banyak kritik urbanisasi dan ruralisasi yang disampikan dengan gaya yang beneran kocak. Tapi ingat ya, ini bukan lagu Didi Kempot, haha. 

11. Purnama di Terminal 3 (2016)

Jika di kehidupan lain kau pernah bertemu dengan seseorang, barangkali di kehidupan saat ini kau juga akan menjumpainya lagi dan berjodoh dengannya. Mungkin itulah yang kubayangkan saat Adam bertemu dengan sebut saja Hawa di sebuah bandara, saat menunggu waktu terbang. Mereka belum pernah berkenalan sebelumnya tapi langsung akrab dan melakukan hal-hal sebagaimana orang yang sangat dekat.  Pas lihat film ini jadi kepikiran ketika datang ke tempat baru, barangkali tidak ada salahnya untuk bersikap sok kenal dan sok dekat dulu dengan orang yang baru kita kenal. Barangkali cocok, haha, enggak sih, untuk cari teman baru aja. Judul film ini bagiku menarik, padahal saat purnama, ada mitos tertentunya lho.

12. Rindu (2018)

"Gak ada yang gak bisa Kak, belum ketemu caranya aja." Begitu pesan moral yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini. Suatu hari di sebuah agen kerja IT begitu katakanlah, seorang junior ingin mencari senior kerjanya yang tak masuk beberapa hari terakhir. Junior berkelamin jantan tersebut mencari seniornya yang betina ke Jogja, si Junior tidak tahu di mana rumah orang yang dicarinya itu, yang disangka teman-teman kerja di sana senior itu mengalami stres. Berbekal laptop merk HP yang juga menjadi sponsor film ini, perjalanan tokohnya menghidupkan jiwa-jiwa petualangan dalam diri kita.

13. Surat Untuk Jakarta (2016)

Film berdurasi sangat pendek ini sama sekali tak kumengerti. Dua menit memang, tapi saya gak paham. Yang kutangkap seputar kehidupan sehari-hari Jakarta yang metropolitan. Seputar mall, KRL, MRT, Pasar Raya, Monas, macet, dst, dll. Dan diakhiri dengan surat cinta untuk Starla, eh, untuk Jakarta.

Senin, 06 Desember 2021

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021): The Best Revenge Is Not Massive Success

Suatu hari di suatu masa, saya tengah jadi panitia di sebuah In House Training jurnalistik persma kampus. Teman saya salah satunya membawa buku karya Eka Kurniawan yang boleh dibilang kategori tipis dibanding novel Eka lain yang pernah saya temui. Judulnya "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" (2014)--dengan cover warna hijau rumput muda dan burung yang keok. Dari judulnya, saya mengira ini novel cinta-cintaan tapi dibuat lebih menarik dari sudut pandang Eka, pas saya baca, di luar perkiraan ini novel terkait pria yang tak bisa ngaceng dan dia gelisah sepanjang waktu karena itu. 

Kata-kata Eka sungguh banyak mengundang birahi--padahal saya bacanya di pondok pesantren, tempat In House Training--dari segi tema, alur, karakter, novel ini memang berani. Tak banyak penulis Indonesia yang akan kepikiran se-out of the box itu. Yah, karena waktu itu acara hampir selesai, saya hanya sampai sekitar 50-an persen halaman, dan buku itu kembali ke pemiliknya yang saya lupa siapa, yang jelas saya tidak enak kalau meminjam dan membawanya pulang.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya kemarin, Minggu (5/12/2021), saya dan dua orang teman (panggil saja Nisa dan Ola) memutuskan untuk menonton film ini karena gagal berangkat ke Bogor untuk menghabiskan weekend. Jakarta dirundung hujan beberapa hari ini mengakibatkan kemageran yang begitu parah untuk sekadar keluar. Setelah cap-cip-cup ala kelas menengah dengan nongkrong di coffee shop, kami pun nonton dengan tempat duduk berdekatan. Sayang, film yang juga tayang di Cinepolis Penvil itu diputar beberapa menit sebelum jadwal aslinya dimulai. Kami pun ketinggalan, tapi masih memenangi adegan Ajo Kawir (Marthino Lio) dengan motor edisi tuanya yang meraung-raung di jalanan meski sekilas suaranya saja.

Oiya, sorry, ini too much spoiler alert yak!

Pas nonton film ini, kalau ada tiga kata yang ingin saya gambarkan untuk mewakili adalah dendam, balas dendam, balas dendam lagi. Dendam adalah motivasi utama film ini. Ajo Kawir merupakan korban pelecehan seksual ketika masih kecil, di film tidak ditampilkan dengan detail, tapi di buku saya masih ingat Ajo melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pembunuhan, pemorkosaan, dan kekerasan terhadap Rona Merah (Djenar Maesa Ayu) dilakukan hingga membuat burungnya itu tak bisa berdiri. Kekerasan itu dalam film dilakukan oleh dua orang, Codet (Lukman Sardi) dan seorang militer begitu.

Adegan awal-awal film ini dimulai dengan sebuah perkelahian antara Ajo Kawir dan Iteung yang penuh adrenalin. Saya pribadi suka dengan tokoh Iteung yang dimainkan Ladya Cheryl, entahlah, sekilas mengingatkanku dengan Anita Roddick pas rambutnya keriting. Tokoh Iteung di film itu segar, tegar, pemberani, mandiri, dan menarik. Iteung sendiri juga adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh gurunya ketika sekolah. Kala itu Iteung berani berbalas dendam dengan menjepit anu gurunya di lemari.

Alur pun bergulir dengan cepat. Nuansa film 80-an dengan nuansa dan atmosfer seusai hujan membuat memory saya kembali ke kampung halaman. Sekaligus saya mengingat rumah-rumah tetangga saya dan ndadah (semak-semak) yang bisa jadi angker itu. Apalagi saya membaca berita beberapa, lokasi syuting itu banyak diambil di Rembang, kabupaten yang beberapa kali saya kunjungi dan lewati karena dekat dengan Blora (tempat kelahiran saya). Semua latar yang ada di film SDRHDT tak ada yang asing, dari toko kelontong, bengkel, dermaga, alas, jalan raya kala malam, truck, pohon jati, dan saya suka dengan pernak-pernik rumah yang ditinggali Ajo Kawir dengan temannya Tokek (Sal Priadi). Terlihat begitu autentik dan zamannya.

Kisah jatuh cinta antara Ajo Kawir dan Iteung digambarkan begitu cepat terjadi usai kelahi berkeringat. Diikuti dengan adegan pacaran, kencan di pasar malam, having sex di bawah bianglala, dan sampai akhirnya dua sejoli Ajo dan Iteung ini menikah. Iteung menerima kekurangan Ajo Kawir karena penyakit yang paling ditakuti laki-laki itu. Apa alasannya? Ini butuh keikhlasan yang luar biasa sekali lho (baik dari pihak laki-laki maupun perempuan), apalagi di rumah tangga; sangkut pautnya tak cuma seks, tapi juga keturunan. Apakah semua karena cinta? Hanya Iteung yang tahu. Melihat di dunia nyata, akan sangat susah bertemu dengan perempuan yang mau menerima pria impoten seperti Iteung. Kecuali dia punya kualitas seperti Ajo Kawir mungkin.

Meski sungguh masalah yang berat, Iteung rindu having sex sesungguhnya, having sex yang sama-sama bisa memuaskan. Bajingan bernama Budi Baik (Reza Rahardian) yang juga punya usaha minyak bulus itu melakukannya. Dan, oh, Iteung hamil! Ajo Kawir marah luar biasa, kalau dia sudah marah, kau akan tahu dia bisa memakan apa saja. Tak cuma bisa menghabisi Macan, tapi juga musuh lainnya, dia hanya butuh satu kata untuk berkelahi: motivasi. Namun saya tetap tak tega dan sakit hati kala tokoh perempuan kala Iteung dikatai "lonte" oleh suaminya sendiri di film ini. Meski saya paham, ego dan harga diri Ajo Kawir tengah terinjak-injak, saya juga ikut kehilangan respect pada Iteung yang melakukan itu. Menurutmu, apa tepat disebut pengkhinatan?

Cinta tetaplah cinta, karena cinta pula (mungkin), Iteung membalaskan semua dendam Ajo Kawir pada orang-orang yang telah merebut masa depan suaminya. Balas dendam itu tak akan kau sangka dilakukan oleh perempuan semanis itu. Balas dendamnya pun tergolong sadis, bagi kau yang tak kuat darah, akan ngilu nonton film ini. Bayangkan seorang manusia dikerek laksana burung hingga dia meninggal. Iteung memang kriminal, tapi dia punya motivasi dan tujuan, balas dendam. Hingga balas dendam itu lunas satu per satu. Hingga Iteung bisa bisa membuatkan kue bolu yang di kertas luarnya bertulis dia mencintai Ajo Kawir.

Setelah hampir dua jam, film berakhir dengan happy ending. 

Meski begitu, ada beberapa plot hole yang sulit saya pahami sebagai penonon. Terutama kemunculan Jelita (Ratu Felisha), saya tak bisa membedakan apakah dia makhluk jadi-jadian, ilusi, atau kenyataan. Dia siapa? Apa urusannya dengan Iteung? Atau saya yang kurang menangkap jalan ceritanya.

Secara wacana dan teori, banyak yang bisa dibedah dari film ini--ini tugas kritikus. Tapi saya hanya ingin menutupnya dengan kalimat dari Frank Sinatra, "The best revenge is massive success" tak selamanya benar.

Jumat, 03 Desember 2021

Natalan/December (2015): Cepak-Cepak Ibu yang Tak Bersambut

Tiap  kali pulang, ibu saya gembira meski saya rasanya biasa-biasa saja. Mungkin ikatan emosi saya ke ibu lebih mudah diputus daripada ikatan emosi ibu ke saya. Tiap moment kepulangan saya, ibu selalu ingin masak hal-hal lezat seperti menyembelih ayam peliharaannya atau memakai uang belanja untuk memasak masakan kesukaan saya. Sedang ketika saya pulang, barangkali saya tak pernah memikirkan dengan benar oleh-oleh apa yang pas buat ibu-bapak. Dan Natalan menunjukkan kontradiksi itu, film yang sanggup memainkan emosi penonton dari sosok yang paling dekat, ibu. 

Kalau dipikir-pikir lagi, saya serupa Resnu (Ramon Y. Tungka) yang boleh dibilang cukup durhaka karena tak pulang selama kurun waktu yang lama, menyepelekan kerinduan orangtua, dan tak memberi kabar saat dibutuhkan. Kalau dipikir-pikir dalam film ini, hal-hal kayak gitu tega banget sih, tapi kenapa kalau di dunia nyata jadi hal yang wajar ya? 

Adegan paling menarik menurut saya saat ibu Resnu (Mien Brodjo) ketika ditinggal oleh pembantunya pergi ke pasar membeli bahan-bahan terbaik untuk dimasak, untuk menyambut kedatangan anak tercintanya bersama istri dan anaknya. Sang ibu yang sudah sepuh itu cepak-cepak, dia beli sayur, cari daging hingga berkilo jumlanya, lalu memasak dan menatanya di meja makan. Sedangkan di sisi lain, anaknya lebih memilih untuk ada di tempat lain.

Hal menyebalkan lain tentu sikap istri Resnu bernama Dinda (Clara Sutedja). Sepanjang film ini berlangsung, keduanya seperti sumbu X dan Y yang susah bersatu dan punya jalan sendiri-sendiri. Resnu suka makan warteg, Dinda suka McD; Resnu kusut, Dinda happy sama teman-temannya di telepon; Resnu masa bodoh dengan penampilan, Dinda menjaga penampilan dan kebersihan; dlsb. Sampai yang paling epik saat Resnu terpaksa harus ke Solo untuk ke rumah keluarga Dinda dulu dan meninggalkan ibunya yang kesepian.

Film ini terasa dekat dengan saya karena latarnya diambil di Jogja, saya merasa kembali pulang. Saya juga suka dengan pesan-pesan hangat yang disampaikan oleh film ini. Film ini memang tidak mirip Tiga Hari untuk Selamanya dengan cerita yang banyak dihabiskan di jalan dari Jakarta; kesamaannya lebih ke menuju Jogja dan menghadiri acara keluarga. Adegan yang banyak di jalan (Resnu-Dinda) dan di rumah (sang ibu) menjadi simbol pula bagaimana rumah selalu punya kebesaran hati, yang hangat, yang tatag; dibandingkan dengan jalan yang selalu gelisah, sering berganti-ganti, dan tak pasti.

Film garapan Sidharta Tata ini bagi manusia berhati halus akan dibuat mbrebes mili. Pesan yang disampaikan universal untuk semua agama. Setiap orangtua mungkin harus siap dengan kehilangan-kehilangan anaknya, entah kehilangan dalam situasi apa. Lebih berat lagi kalau orangtua hanya memiliki anak tunggal. Sehat-sehat ibu....

X&Y (2021): Disatukan Oleh Pertidaksamaan

Metode tayang film ini sangat relevan di era gadget seperti sekarang ini yang mayoritas memakainya secara vertikal, bukan horizontal, sedangkan hampir semua film horizontal. Film ini dibagi beberapa batch (6 bagian) yang khas seperti tayangan video TikTok. Cerita sebenarnya simple, ada dua tetangga mahasiswa yang hidup di kos-kosan susun, saling berbagi kabar lewat surat yang dikirim lewat bak kek orang ambil air dari sumur. Tetangga itu bernama Omar (Jourdy Pranata) dan Winda (Arawinda Kirana), keduanya bagai sumbu X dan sumbu Y yang tak pernah ketemu. Suatu perasaan umum yang dimiliki manusia atas manusia lainnya. Dan ya, saya merasakannya, bagaimana relasi X dan Y ini terjalin.

Winda memendam rasa pada Omar (begitu pun sebalinya), Winda memberi buku pada Omar yang malas untuk dibaca padahal buku itu banyak kosongnya, cuma berisi quote-quote. Winda juga memberi hadiah Omar tanaman rosemary yang lumayan susah perawatannya karena ada kadar air khusus. Hingga Winda akhirnya memilih pergi karena kasus nyokapnya yang sakit dan bokapnya yang terlibat kasus. 

Omar pun kelabakan menelepon Winda tapi tak diangkat. Hingga kemudian dia membaca buku pemberian Winda yang mengatakan mereka bedua seperti dua sumbu yang berbeda. Dan sumbu itu emang kelihatan di hobi mereka yang beda (Winda suka baca, Omar tidak); harapan mereka yang beda (Winda berharap Omar suka pemberiannya, Omar biasa saja); hingga ideologi, komitmen, dan pribadi mereka yang berbeda. Hal itu-tuh bisa dirasakan gaes, even bukan pacar kamu sekali pun. Dan sekali lagi hubungan perlu kepastian dan komitmen kan, sampai-sampai keduanya gak ketemu.

Di tengah perdebatan antara film vertikal dan horizontal yang sudah diulas baik di Cinema Poetica terkait film X&Y, bagi saya sendiri setidaknya film produksi Studio Antelope dan disutradari oleh Jason Iskandar ini memberi pandangan baru terkait model-model lain perfilman yang cukup segar. Judulnya pun menarik, kayak garap persamaan dan pertidaksamaan dua variabel matemaika.

Cukup Sekian dan Terima Kasih (2021): Hubungan Butuh Komitmen

Kalau lagi berurusan dengan namanya gantung menggantung dalam hubungan asmara, film ini bisa menjadi pelajaran. Aryo (Dikta) yang menjalin hubungan bertahun-tahun dengan Ghea (Leona Agustine) tapi tak pernah diberi kepastian kemana hubungannya akan berakhir, akhirnya si perempuan meninggalkan Aryo. Obrolan yang deep ketika di suatu taman antara Ghea dan Aryo akan membuka mata perempuan. Saya sendiri merasa kalau Ghea itu saya banget, karena zodiak kami sama-sama Aries, kami sama-sama mandiri, kami sama-sama rentan dengan perasaan, dan kami tegas memilih jalan kami sendiri.

Saya tidak tahu pikiran laki-laki terbuat dari apa, tapi ada tipe laki-laki yang seperti Aryo. Dia takut kehilangan pacarnya, tapi juga takut kehilangan sahabat baiknya Nada (Nadira Tara). Tak satu pun dari Ghea dan Nada yang diberi kepastian, sedang asmara harusnya ada hubungan akhir--entah pernikahan atau perpisahan. Sedang kata Aryo, perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan yang tidak ada kata pisah. Ghea lebih menyukai kepastian yang dihadirkan oleh calon suaminya, meski dia tak sempurna. Dan Nada lebih memilih kepastian dari salah satu sahabat dekatnya Adam (Rangga Azies), meski si calon suami juga bukan yang diinginkannya pas awal. Di sinilah plot twist-nya.

Dan entah takdir atau gimana, mungkin perempuan memang akan menikah dengan pria yang mencintainya daripada menikah dengan dia yang dia cintai. Sebab mungkin pula perempuan cukup fleksibel dalam mencintai dibandingkan laki-laki yang keras kepala. Film karya sutradara Prialangga ini cukup bisa memotret kegalauan komitmen itu.

Alur cerita ini sederhana, tapi eksekusinya yang membuat ini menarik--meski membawa pesan sponsor produk kecantikan. Adegan menarik pula menurutku adalah pertanyaan konyol Ghea, "Ada berapa orang yang bercinta malam ini? Di jendela itu apakah pemiliknya sedang bercinta?" Ini bentuk pertanyaan spekulatif yang susah ditebak, jadi ingat film Amelie (2001), ada hal yang menyinggung itu juga. Adegan lainnya saat ngobrol zodiak dari sikap Taurus yang keras kepala, sikap Virgo yang perfeksionis dan detail, serta sikap Libra yang suka perang dengan pikirannya sendiri even hal-hal kecil. Tak kalah epiknya saat Ghea minjem dress favorit Nada, itu butuh ngeluruhin ego yang tinggi sih.

Rabu, 01 Desember 2021

Merayakan Aku, Kebebasan Kebebasan

Aku berjanji akan lebih banyak berbahagia lagi. Aku akan lebih banyak keliling di dalam atau luar kota untuk menikmati kebebasanku sebagai perempuan, single, dan tak ada tanggungan apa-apa. Suatu hari kebebasan jenis ini akan sulit kudapat, di mana aku masih bebas untuk berjalan kesana-kemari. Di samping aku bisa belajar apa saja, ajaran positif apa saja, dan menaruh hormat pada agama apa saja, belajar darinya. Terima kasih untuk Allah, Muhammad, Buddha, Yesus, Bunda Maria, Kongco, Dewi Kwan Im, dlsb. Oh really, people change!

Aku mengucapkan terima kasih juga pada tempat-tempat hidup yang telah memberiku banyak kenangan: Cepu, Jogja, Semarang, Bukit Raya, dan Jakarta. Sepanjang umurku, aku dididik oleh kota-kota/tempat itu. Melihat kawanku lagi yang dulu pernah seperjalanan mendaki Bukit Raya, aku serasa dikembalikan ke alam. Aku rindu berpetualangan dengan membawa ransel, memegang kamera, dan wardrobe yang Isma banget--juga sesekali membaca National Geographic. Melihat hasil potretan kawanku itu, energinya yang dari hati sanggup aku rasakan. 

Aku ingin belajar cara memotret dan mengarsipkan. Setelah memotret, akan kupindah ke laptop dengan layar IPS, FHD, dan tersimpan di memori SSD. Aku ingin memotret langit dengan sering, memotret warna hijau yang ada di alam lebih sering, belajar budaya lokal lebih sering, jalan-jalan lebih sering, tapi doaku yang lebih penting: tetap kalem, tetap mandiri, tetap kreatif, tetap sabar, tetap mencintai alam.

Hijab (2015): Kemandirian Perempuan, Kemandirian Istri

Gokil, satu kata untuk film ini. Diawali dengan intro film yang akan membuatmu tertawa terpingkal-pingkal sangking lucunya para tokoh utama pemakai hijab ini mengatakan alasan mengenakan hijab. Misal Bia (Carissa Putri) memakai hijab karena 'kecelakaan' ketika masuk ke dalam suatu pengajian hidayah. Dirinya merasa salah kostum dan ketika datang lagi dia mengenakan hijab, sang ustazah kemudian bersyukur dan mengira Bia mendapatkan hidayah. Tapi berkat hijab tersebut Bia diundang kemana-mana dan jadi pembicara, dia punya panggilan khusus hijab hidayah. Bia bersuamikan seorang aktor sinetron terkenal bernama Matnur (Nino Fernandez).

Beda lagi dengan Tata (Ratu Tika Bravani), sang aktivis kampus yang sangat berapi-api ketika pidato. Di suasana ospek, tak dinyana rambutnya botak dan Tata tak pede sehingga mengenakan semacam bandana, lalu kemudian memutuskan untuk memakai hijab bergaya turban. Kala pidato itu, ia bertemu dengan suaminya yang seorang fotografer. Sang suami terkesan dengan pidato Tata, perkenalan berlanjut, hingga menikah, hingga memiliki anak bernama Faiz. Nama suami Tata adalah Ujul (Ananda Omesh).

Tokoh paling Islami mungkin memang ada di Sari (Zaskia Adya Mecca). Dia menikah dengan seorang keturunan Arab yang sangat Islami bernama Gamal (Mike Lucock), dia juga digambarkan memiliki keturunan dengan para habib. Mike adalah tokoh partriarkis yang melarang istrinya bekerja, yang sering sedikit-sedikit judge haram, meski sosoknya digambarkan kocak pula. 

Lanjut tokoh paling liberal di antara semua tokoh perempuan di sini adalah Anin (Natasha Rizki). Dia tidak memakai hijab, belum menikah, menyukai Prancis, dan alhamudlillahnya pacar Anin adalah lelaki yang berpikiran terbuka, yang tidak membatasi perempuan, yang paham kesetaraan, dan dewasa. Namnya Chaki, dia merintis karier sebagai sutradara film idealis. Cukup terpingkal kala dia membuat film terkait babi dan kambing yang diperankan manusia, hahaha. 

Singkat cerita, keempat sahabat perempuan ini membuat sebuah usaha fashion dan butik dengan brand Meccanism. Filosofinya adalah kota Makkah yang didatangi semua umat Islam seluruh dunia, mereka berharap merk itu pun sebagaimana Makkah yang didatangi para hijaber dari berbagai penjuru tempat. Namun Meccanism dimulai dengan main-main kucing, sembunyi-sembunyi. Para perempuan hijaber ini takut dengan suaminya masing-masing. 

Dalam budaya arisan yang ditampilkan dalam film ini, disebutkan bahwa uang arisan berasal dari suami yang berarti pula arisan tersebut arisan suami, karena suami yang mencari uang. Hal itu dikatakan Gamal dan mayoritas pada diam, hingga salah satunya segera menggantikan suasana jadi happy lagi. Hingga suatu hari konflik terjadi, Gamal, Matnur, dan Ujul sedang ditimpa masalah dalam kariernya masing-masing yang membuat perekonomian keluarga jadi terguncang. Masing-masing istri pun membantu tapi malah menimbulkan kecurigaan.

Konflik memuncak, Meccanism goyah, Anin terlibat pertengkaran dengan tiga temannya yang hijaber. Anin menilai semenjak jadi istri mereka tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka kehilangan akses dan kebebasan, terutama ketika berkarier. Hingga akhirnya para suami ini pun memahami istri mereka, perubahan yang cepat sekali haha. Yang heboh ketika Anin putus sama Chaki kemudian dimarahi oleh Bia dan Tata, salah satunya bilang: "Rumah tangga gak cuman didasari oleh cinta dan hidup dengan cowok idaman doang." Hingga akhirnya Anin menyadari cinta Chaki, Anin berubah dan kembali, dan dia memutuskan berhijab. 

Last, agak kaget pas nonton film ini, gak nyangka sutradaranya Hanung Bramantyo. Film ini gokil banget ngritik tren hijab masa kini dan isu rumah tangga bahwa istri gaboleh kerja--karena ego laki-laki kebanyakan terlalu tinggi ketika melihat istrinya lebih tinggi. Trus mikir, jadi mayan paham sama pesan-pesan film yang dibuat oleh Hanung. Melihat karyanya yang lain dari Bumi Manusia; Soekarno; Kartini; ?; Habibie Ainun; Perempuan Berkalung Sorban; sampai jadi kameo di film Ziarah, Hanung salah satu sineas yang gak bosen ngomong soal kesetaraan (perempuan dan laki-laki), toleransi, dan khasnya pula, biopik.

Senin, 29 November 2021

Rushmore (1998): Come On Max, Tak Perlu Seambisius Itu

Gudangnya tokoh-tokoh eksentrik memang salah satunya dipunyai oleh sutradara Wes Anderson. Di film Rushmore, tokoh unik bernama Max Fischer (Jason Schwartzman) memang sedikit duanya. Di awal film tokoh ini sudah menggebrak dengan deretan aktivitas ekskul yang mirip kereta api panjang. Ekskul dia terlalu banyak hingga saya sulit mendatanya, tak hanya ikut, dia juga adalah pendiri, pelopor, wakil ketua, ketua, hingga jabatan penting lainnya.

Teman dekat Max tak biasa, dia dekat dengan seorang industrialis kaya bernama Herman J. Blume (Bill Muray) dengan beda usia seperti bapak dan anak; Mr. Blume juga tak kalah kacau dengan rumah tangga di ujung tanduk dan membenci dirinya sendiri. Keduanya terjebak cinta segitiga karena mencintai seorang perempuan yang sama bernama Rosemary (Olivia Williams). Dia adalah guru TK, punya anak satu, serta digambarkan sebagai perempuan manis tapi kacau; dia menderita kesepian setelah ditinggal suaminya yang freak dengan dunia aeorplane; hingga dijuluki "perempuan yang mencintai pria mati" (she is in love with dead man). 

Akhirnya persaingan tidak sehat dan kekanakan terjadi antara Max dan Blume. Cara-cara tak masuk akal dilakukan, dari menindas sepeda Max sampai tuduhan lainnya yang membuat Rose semakin depresi. Sampai-sampai yang lucu, Max membuat "dream graveyard" alias kuburan mimpi yang menampung mimpi-mimpi gagalnya. Hingga akhirnya, tak ada satu pun yang mendapatkan hati Rose meski segala pengorbanan telah dilakukan.

Sebenarnya, Max punya fans gadis Asia bernama Margaret Yang (Sara Tanaka) yang hobi dengan dunia sains. Namun Max biasa saja. Puncak film adalah ketika Max memainkan drama bikinannya bersama teman-temannya di sekolah Rusmore. Max sebenarnya siswa yang bodoh, hanya dia begitu aktif dan bisa membuat orang berkesan sehingga dia bertahan di Rushmore yang notebene sekolah untuk orang-orang pinter gitu deh. 

Dibanding dengan film Moonrise Kingdom, bagi saya film ini cukup membosankan. Alurnya klise dan ceritanya mudah ditebak. Alih-alih eksentrik sebenarnya, Max tokoh yang cepat dewasa, ambius, dan menyebalkan di pikiran saya. The Guardian membuat ulasan menyampaikan pujiannya, meski saya kurang sreg. Yah, 5/10 lah ya.

The Devil Wears Prada (2006): Kerja Tak Sebercanda Itu

Judul film ini pertama kali pernah saya baca di sebuah buku fashion. Ceritanya total selain seputar fashion juga kumpulan orang, para perempuan yang workaholic. Terkisah Andrea Sachs (Anna Hathaway) atau yang kerap disapa Andy bekerja di sebuah penerbitan majalah Runaway. Bosnya Miranda Priestly (Meryl Streep) adalah seorang perfectionist yang menuntut kerja keras, kerja cerdas, kerja cepat, dan kerja elegan. Andy yang baru saja lulus dari Universitas Northwestern dengan latar belakang pernah jadi aktivis pers di kampusnya dan berbagai prestasi kepenulisan lain pun bekerja bersama Miranda.

Andy pun melakukan adaptasi dan penyesuaian yang sangat banyak. Dari cara dia berpakaian, cara dia beraksesoris, cara dia dandan, cara dia memilih merk, cara dia ini dan itu berubah sangat cepat. Perubahan di sini saya kira sangat-sangat tidak masuk akal, karena saya meragukan ada manusia yang bisa belajar secepat itu tanpa memperlihatkan proses jatuh bangun dan pergulatan. Andy menyebut itu sebagai "batu loncatan", but how? Karier gak sesederhana itu. Dan tiba-tiba saja Andy menjadi tokoh sempurna yang sesuai dengan karakter Miranda. Untuk pakaian dan tas yang kampungan dikatakan: "Jangan mencemarinya di sana." 

Tapi yah, ini bisnis Bung dan Nona. Kapitalisme tak kenal belas kasihan meski kau pernah menulis terkait pemogokan buruh sekali pun. Pergolakan terjadi, Andy yang berubah membuat teman-temannya tak kenal dengan dirinya. Pacar dan sahabat dekatnya pun protes karena Andy tak menjadi dirinya lagi. Dunia fashion memang dunia serba cepat, bahkan saya tak bisa membedakan gasper dengan warna sama, model sama, tapi dibilang berbeda. 

Andy pun meski kelabakan awalnya bekerja dengan Miranda, toh dia bisa survive. Sedangkan Emily temannya mesti menucapkan mantra "I love my job, I love my job, I love my job" sekian banyak kali kala dia stress untuk bertahan. Aneka tekanan dan deadline yang tak masuk akal dibuat, sedangkan Andy bersikap sebagaimana seloka orang Jawa: "weruh sak durunge winarah." Andy tahu apa yang dibutuhkan Miranda bahkan sebelum bosnya itu mengatakan.

Oh Tuhan, kalau kau benar-benar jadi Andy saya pikir memang hanya akan sedikit yang bertahan, even posisi itu diimpikan jutaan perempuan lainnya. Bayangkan kerja dan aktivitas yang tak masuk akal yang diberikan Miranda, bayangkan bisnis yang selalu menatap simbol, tampilan fisik, dan material duniawi itu. Sehatkah kerja seperti itu? Bagaimana pula dengan pribadi Miranda yang memiliki keluarga tak harmonis meski dikaruniai dua anak kembar? Bagaimana hubungannya dengan suaminya?

Yah, apa pun kritik untuk Miranda ada hal menarik, dia punya wilayah suci terkait mode yang tak bisa diganggu gugat merupakan dunianya. Miranda memiliki karakter ganda antara feminim dan maskulin sekaligus, terlebih dari ketegasannya, sikap tidak basa-basinya, kejujurannya, ambisinya, dll. Hal yang sangat susah dilakukan oleh perempuan yang berkarakter B aja. 

Dari banyak bandrol dominan di ranah fashion, lalu mengapa harus Prada yang dijadikan judul? Mengapa tak Chanel, Calvin Klein, Gucci, LV, atau sebangasanya? Dan lagi-lagi saya serasa diajak kembali ke Italia lagi dari beberapa film terkahir yang saya tonton, meski rumah desain para perancang busana adalah Paris, Prancis. Di kota itulah Miranda melepas jabatannya dengan hormat dan penuh sombong. Ia tak bisa menyangkal untuk digantikan dengan Pemred majalah yang lebih muda.

Dan di akhir film Andy menemukan kemerdekaannya untuk memilih pekerjaan.... David Frankel sebagai sutradara memang jago di hal-hal yang bertema seperti ini. Saya jadi penasaran dengan makna kecantikan menurutnya.

A Little Romance (1979): Tergoda Mewujudkan Legenda Bikinan

Film ini satu genre dengan Flipped di ranah coming age-nya, sepasang remaja sedang jatuh cinta dan kabur ke Venesia hanya untuk membuat legenda cinta mereka sendiri: Berciuman di bawa jembatan di atas gondola dengan lonceng berbunyi kalau sanset dengan golden light-nya menghujani, di Italia. 

Dua tokoh remaja itu: Daniel (Thelonious Bernard) dan Lauren (Diane Lane). Keduanya punya kelas sosial yang berbeda. Daniel anak piatu, hanya memiliki ayah yang seorang sopir taksi yang tak kaya-kaya amat. Berbeda dengan Lauren, anak seorang bos atau raja (king)? Yah, Lauren adalah anak seorang aktor yang kaya raya, yang apa saja punya. Lauren punya IQ tinggi, 146 seingatku. Dia tak punya banyak teman, hanya satu teman yang sering bersamanya, Natalie (Ashby Semple). Lauren lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca-baca buku berat tapi dianggapnya ringan. Misal dia membaca Heidegger sebagai bacaan hiburan, tentu ayahnya yang perhatian itu kaget.

 diane lane | Diane lane, Great films, Dad fashion

Sementara Daniel tak kalah cerdinya dengan pelajaran-pelajaran yang dia dapat dari menonton film-film Hollywood. Berkat menonton film bahasa Inggrisnya jago, dan dia bisa berbicara dan sepik-sepik dengan Lauren. Dia pun kalkulator ulung karena sebagian lotre pacuan kuda dia menangkan, dia tulis hasilnya di belakang sebuah poster.

Suatu hari Daniel dan Lauren bertemu dengan seorang pria pencuri, Julius Edmond Santorin (Laurence Oliver), yang entah memiliki gangguan emosi apa mendongengi keduanya dengan kisah asmara seputar Venice. Ciuman di bawah jembatan saat golden time akan membuat cinta dua insan manusia abadi. Lauren yang hendan pindah dari Paris ke Amerika Serikat pun ingin mencetak sejarahnya sendiri bersama Daniel. 

Berawallah petualangan itu, mereka nekat pergi ke Italia dengan mengajak Julius karena masih anak-anak. Mereka menggunakan dana hasil lotre, meski sebenarnya uang hasil curian Julius, haha. Akhirnya Julius dan Lauren menjadi buronan polisi atas dakwaan penculikan. Di Italia lah petualangan sesungguhnya terjadi, mereka ikut lomba sepeda, dikejar-kejar polisi, nonton film (lagi), dan the best moment terjadi pula: ciuman di bawah jembatan! Itu worth it banget, setelah usaha keras kan ya. Meski jika dikaitkan remaja sekarang, kisah itu hampir too good to be true, haha.

Ada ulasan menarik tentang film ini dari New York Times dan Roger Ebert. Film ini sendiri diangkat dari sebuah buku dan melihat tahun pembuatnya memang cukup keren sinematografinya. Kesan dari film ini adalah hangat. Pesan moralnya: "Biar pun orang lain di luar membual, ini legenda kita, dan legenda kitalah yang valid."

Ziarah (2016): Serasa Pulang ke Batin

Bagi saya, film "Ziarah" adalah film terbaik Indonesia yang saya tonton tahun 2021 ini. Film ini membawa saya menziarahi batin dan seolah menampar saya dengan berbagai pertanyaan. Film ini menghadirkan fakta-fakta menarik akan sesuatu yang transenden, kesetiaan, pernikahan, perjuangan, mistisisme Jawa, local wisdom Gunung Kidul, serta membawa saya kembali pada Jogjakarta.

Kejujuran Akting Ponco Sutiyem di Film Ziarah | kumparan.com

Saya tak tahu harus memulainya darimana. Atau izinkan saya bercerita dulu terkait tokoh Mbah Sri (Ponco Sutiyem), nenek berusia 95 tahun yang dengan gigihnya mencari makam suaminya Pawiro, yang menjadi korban Agresi Militer II, clash saat itu. Saya benar-benar kagum dengan semangatnya, dengan usianya yang tak muda, dengan fisiknya yang sudah lemah, dia berjalan kaki hingga jauh untuk menemukan makan suaminya. Itu dilakukan dengan satu niat: dia mau dikuburkan di samping makam suaminya.

Mbah Sri berjalan dengan memecahkan satu teka-teki satu ke satu teka-teki yang lain. Dari satu orang ke orang lain. Perjalanan itu membawa saya ke Gunungkidul, makam-makam khas di sana yang sering ditutup dengan kain putih, suasana mistis rumah tradisional di sana, juga budaya tutur masyarakat di sana. Mbah Sri juga membawa keris, keris yang bisa bergerak sendiri menunjukkan arah. Sebab ternyata ada sebuah kepercayaan, keris akan menemukan pasangannya.

Tak kalah berharga juga pelajaran yang disampaikan oleh cucu Mbah Sri, Prapto (Rukman Rosadi). Di usia sekarang, obrolan terkait pernikahan menggelitik saya. Dan saat itu ada sebuah dialog yang cukup mengena di ulu hati, kira-kira begini: "yo ra gojek, umurki ki wis ra gojek." Untuk menunjukkan keseriusan Prapto pada calon istrinya Vera Prifatamasari. Saya juga belajar terkait rumah tangga, hal pertama yang perlu dibangun adalah pondasi rumah, bukan printilan macam mesin cuci, TV, dan tetek bengeknya hanya karena barang-barang itu sedang diskon besar.

Film ini membawa saya pulang ke batin juga karena mengingatkan saya akan tanah air saya sendiri. Saya membayangkan betapa susahnya kemerdekaan itu tercapai, melalui perang dlsb, dengan begitu banyak korban. 

Karya sutradara BW Purba Negara ini memang unik, selain mengambil tokoh utama seorang nenek yang sudah sangat tua, tapi juga dengan alur seperti orang mengerjakan teka-teki silang ketika menontonnya. Premis tujuan sederhana: Mencari makam Pawiro. Meski di akhir film berakhir dengan menyedihkan, di samping makam itu sudah ada makam lain seorang perempuan yang berarti istrinya. Dan apalah arti kesetiaan Mbah Sri ini?

Scene-scene yang ciamik dan emosionil juga menyentuh kalbu. Semisal ketika Mbah Sri nyekar di tengah daratan yang telah berubah jadi danau; kala Mbah Sri menyapu makam suaminya; kala Mbah Sri tertidur di pendopo makam; dlsb. Saya membayangkan diri jadi Mbah Sri, betapa mulianya....

Sabtu, 27 November 2021

Flipped (2010): Jungkir Balik Perasaan Cinta Sepasang Bocah

Semakin mendalami dan menonton, makin ke sini saya jadi paham jenis film mana yang benar-benar membangkitkan curious saya dan mana yang tidak. Saya memutuskan nonton film ini dari hasil download-an saya setelah melakukan pencarian banyak film yang "sepertinya cocok" bagi saya. Tak semua film cocok untuk seseorang, itu premis pertama. Sebelumnya saya menghabiskan waktu dengan tidak bersemangat ketika nonton Seven Years in Tibet yang dibintangi Brad Pitt di sepuluh menit awal, ternyata saya tak suka karena alurnya lambat, vibesnya bikin saya tambah sengsara, dan temanya perang. Saya akhirnya pindah ke Flipped dengan cerita yang sebocah itu. Ya, jiwa saya kadang masih sebocah kisah Juli di film ini, haha.

Sinopsis Film Flipped, Ketika Cinta Datang Berbalik | SINDOnews | LINE TODAY

Mengingat ulang, film ini sebenarnya pernah diputar di TV ketika saya masih tinggal di rumah dan ketika saya masih sekolah. Namun saya tak menghabiskannya secara penuh sehingga ingatan saya samar, tapi saya masih ingat beberapa potongannya. Di film ini saya menjumpai tokoh unik perempuan bernama Juli Baker (Morgan Lily) dengan imajinasinya yang hidup, semangatnya yang turah-turah, memahami kondisi hati orang-orang terdekatnya, tak ragu menyatakan perasaannya, dan tak bimbang untuk bertindak. Juli mewarisi bakat seniman sang ayah dan jiwa kelembutan sang ibu, juga dua kakak yang pandai menyanyi.

Tentu ini berbalik belakang dengan Bryce Loski (Callan McAuliffe), crush si Juli, cinta monyet pertama Juli, tetangga dan teman sekolahnya. Tokoh Bryce adalah cerminan anak laki-laki cool yang boleh dibilang cerdas, dingin, peragu, tak bisa mengekspresikan diri, penakut, dengan sisi lembut takut menyakiti perasaan orang lain. Bryce merasa terganggu oleh Juli yang selalu mengejarnya dari kecil hingga mereka masuk SMP. Bryce dikaruniai keluarga yang sebenarnya hangat kecuali si ayah, dia sepertinya punya problem serius dalam hal suka merendahkan orang lain, flawless itu cukup annoying untuk dihadirkan.

Melihat kisah Juli dan Bryce, saya jadi ingat kisah sendiri; pengalaman yang sama adalah saya pernah sepassionate itu mengejar cinta laki-laki yang saya sukai. Dan bisa dibilang, lelaki yang saya suka mirip Bryce. Meski saya tak memiliki ide unik untuk naik ke atas pohon dan memikirkan filosofi "melihat secara keseluruhan lebih baik daripada sebagian", tak hanya menyoal pemandangan, tapi juga perasaan dan cinta. Juli jatuh cinta pada Bryce karena tatapan matanya yang begitu indah, saya jatuh cinta dengan lelaki itu karena perlakuan baik dan selera uniknya. 

Review dan Sinopsis Film Flipped

Namun, usaha-usaha yang dilakukan oleh Juli untuk bersikap independen terhadap Bryce justru menimbulkan serangan balik. Juli setelah mengetahui telur yang diberikannya dibuang ke sampah pun patah hati, padahal telur-telur itu dihasilkan dari ayam-ayam betina yang dirawat dengan setulus hati. Hanya karena diskusi keluarga terkait rumah ortu Juli yang tak mirip halaman. Namaun energi cinta selalu sama, ia merawat dan menumbuhkan. Sebab hinaan halaman itu, Juli bertekad untuk merawat halannya yang sedari dia kecil tak pernah tertata dan dipenuhi ilalang. Sebab isu kepemilikan rumah tersebut yang dimiliki oleh adik ayah Juli yang punya kebelakangan mental membuat keluarga itu setengah hati merawatnya.

Dibantu dengan kakek Bryce, si Chet (John Mahoney), halaman itu pun berubah jadi cantik. Waktu pun berubah, sikap Juli yang menjauhi Bryce membuat Bryce justru mengejar-ejar Juli. Moment yang paling dilematis ketika agenda donasi keranjang dan makan siang itu. Bryce menggeret tangan Juli di depan anak-anak kelas dan hendak menciumnya, karena Bryce cemburu. Akhirnya Juli ngambek, gak keluar kamar, dan itu terluluhkan ketika Bryce menandam pohon sycamore di halaman rumah Juli. Dan kalimat yang begitu menyentuh: Ternyata Juli dan Bryce tak sungguh-sungguh pernah saling bicara. Sebagaimana masalah yang dihadapi pasangan pada umumnya.

Film yang disutradarai oleh Rob Reiner ini sangat cocok ditonton oleh anak-anak SD dan SMP. Tayangan keluarga yang menarik. Film yang menunjukkan suatu proses pengejaran dengan perkembangan karakter yang berkembang. 

Jumat, 26 November 2021

Moonrise Kingdom (2012): Sensasi Berpetualangan di Other-worldly Ala Pasangan Anak 12th

Oh Tuhan, dari awal sampai akhir film ini super menghibur. Saya rela memberi angka 8.5/10 untuk film ini secara keseluruhan: aktor, wardrobe, musik, alur, sinematografi, dll. Sederhana dan indah. Ide Wes Anderson memang harus saya apresiasi dengan memberinya banyak emoticon jempol. Bagaimana dia kepikiran untuk menjadikan anak 12 tahun sebagai simbol kegelisahan orang-orang dewasa yang tak cukup dewasa? Dan jujur, saya benar-benar menemukan diri saya yang lain kala menonton film ini melalui tokoh Suzy Bishop (Kara Hayward) dan Sam Shakusky (Jared Gilman). Saya tak henti mengucap "gila, gila, gila......." pada ceritanya.

Wes Anderson's Moonrise Kingdom: Inspirations Behind the Film | Vanity Fair

Sam adalah seorang anak laki-laki bengal yang barus saja kehilangan orangtuanya. Dia menjadi yatim piatu tapi nekat ikut perkumpulan pramuka yang seharusnya dapat izin orangtua. Namun Sam adalah anak cerdas yang mampu membaca peta, menguasai ilmu pramuka, mahir menggunakan tali, dan terbiasa hidup survival di alam. Sedangkan Suzy tak kalah bengalnya. Anak perempuan yang hobi bersedih, sering membawa teropong, sering memainkan peran aneh, dan suka membaca. Suzy memikili orangtua yang boleh dibilang berantakan, ibu dan Bapaknya tidak baik-baik saja secara relasi. Orangtua yang saling menyalahkan diri sendiri dan sudah lelah dengan komitmen rumah tangga, sedangkan anaknya masih empat: Suzy dan ketiga adik laki-lakinya yang seperti seumuran.

Yang saya tak habis pikir, ketika Sam dan Suzy janjian untuk kabur dari masing-masing kediamannya dan mengeksplorasi pulau, ketika Sam abot membawa tas besar berisi tenda, alat masak, dll-nya; eh Suzy malah membawa koper berisi buku fairytale, alat musik/perekam milik adikya, hingga hal-hal yang semestinya tak perlu kamu bawa ketika akan kabur! Tapi anehnya, semua barang-barang yang saya kira tak berguna untuk dibawa itu justru berguna! Suzy membacakan kisah buku ketika Sam santai di tenda; alat musik berguna saat mereka berdansa di sebuah pantai dengan mengikuti cara-cara orang dewasa ketika france kiss dan pelukan; hingga gunting kidal untuk menyerang musuh, hahaha.

moonrise-kingdom - Broesj Blog

Belum lagi ekspresi Sam yang merupakan paduan antara jiwa polos, cerdas, cerdik, dan rupawan. Dia menguasai jalur New Penzance, New England, Amerika tahun 1965. Saya takjub dengan cara Sam dan Suzy meninggalkan dunia membosankan dan menyedihkan mereka. Membuat sinergi kesepian mereka jadi lebih bermakna. Mereka kalau diibaratkan lirik sebagaimana yang dinyanyikan Alex Turner: "Fingers dimming in the lights/Like you're used to being told that you're trouble/And I spent all night/Stuck on the puzzle...."

Jika saya diberi kesempatan dunia lain atau jam kemana saja, saya ingin mengarungi petualangan serupa Sam dan Suzy dengan parner in crime saya (halah). Begitu indahnya berpetulangan di hutan berdua, mengarungi sungai, berdansa di pantai, membacakan buku cerita favorit, menghadapi tantangan berdua, dan tidur berdua saling berpelukan hingga pagi. Mereka hidup dan berpetualangan dengan cara mereka sendiri.

Dan yang penting pula, film ini mengubah pandangan saya terkait dunia Pramuka yang membosankan. Jujur saya tidak suka ekskul Pramuka yang isinya baris berbaris dengan banyak hal-hal otoriter yang saya benci. Namun melalui film Moonrise Kingdom, dunia Pramuka ditampilkan Wes Anderson dengan sebegitu menariknya.

Jadi ingat kalimat ini: Kalau tersesat baru petualngan, kalau gak tersesat ya itu travelling.

Palo Alto (2013): Cerita Anak-Anak ABG yang Begitulah

Okay, alih-alih melabeli kehidupan para ABG dengan kerumitan, saya lebih suka memakai diksi "begitulah". Ketika melihat masa lalu saya kala ABG--sekarang sudah mau 30, haha, duh, Tua!!!--hidup saya tak sehaip tokoh-tokoh yang ada di film ini yang punya aktivitas yang anak muda banget bro: pacaran, pesta, ikut klub sepak bola, atau sesekali minum amer, ngelinting, dan having sex dengan longgar meski akhirnya depresi kemudian. 

Jack Kilmer | Palo Alto - YouTube

Tokoh dalam film ini yang membuat saya tertarik ada dua. Pertama, Teddy (Jack Kilmer), dia adalah remaja yatim dengan satu adik perempuan berkarakter cukup pendiam, misterius, dan setia membersamai sahabatanya yang kacau secara emosi bernama Fred (Nat Wolff). Teddy gambaran remaja yang dari wajahnya sebenarnya orang yang baik, penurut, dan tentu imut. Dia punya talenta seni yang dibandingkan oleh gurunya dengan seniman Picasso. Tokoh kedua, April (Emma Roberts), remaja perempuan yang cukup impulsif, merokok, seorang striker tim sepak bola, dan suka coba-coba hal-hal baru khas anak ABG. 

Sebenarnya, April dan Teddy saling mencintai, pola rasa suka mereka yang dituturkan secara lambat oleh sutradara membuat saya gregetan. Rasa gregetan ini cukup memberi saya hiburan emosi visual. Cukup menarik di adegan ketika Teddy mengucapkan "I love you"; atau kala mereka saling memberikan pesan melalui ponsel. Meski keduanya dipenuhi kecanggungan dan kecurigaan kala sama-sama menggandeng cowok/cewek lain ke dalam hubungan kamar. Teddy dengan Emily (Zoe Levin), atau April dengan pelatih sepak bolanya, Mr. B (Jamse Franco).

Membaca nama sutradaranya Gia Coppola, film ini sarat dengan pesan-pesan feminis yang menghidupkan elan vital perempuan. Fyi, melihat track record keluarga Coppola di dunia perfilman, memang keluarga ini punya sungai perfilmannya sendiri.

Kalau dibandingkan dengan film Submarine, film ini lebih gelap dengan karakternya yang tersesat, sepi, dan depresi. Melihat latar belakang masing-masing tokoh, masing-masing keluarga memang punya kisah berantakannya sendiri. Kebanyakan dari keluarga mereka menyebalkan, kasih saya yang sepintas, dan pencarian jati diri dalam lautan keombang-ambingan. Score dari saya 5/10. Banyak alur bolong yang saya rasa bisa dirajut dengan lebih baik.

The Big Lebowski (1998): Butuh Lebih Banyak Dude!

Beberapa waktu yang lalu, saya punya kesimpulan sementara: sepertinya saya harus lebih banyak menonton film komedi agar hidup yang menyedihkan ini bisa lebih seimbang. Haha, iya, mungkin karena saya kebanyakan lebih cenderung menekan diri untuk menonton film-film yang mungkin berkategori "berat", sok-sokan nonton film kemiskinanlah, kesenjangan sosial, spiritual, etc. Akhirnya saya menemukan film ini karena tertarik dengan kutipan legendaris Lebowski: "I can't be worried about this shit! Life goes on man!

The Big Lebowski (1998)

Overall, tokoh Dude panggilan Lebowski Pemalas (Jeff Bridges) memang tokoh yang unik, hidupnya begitu tenang dan tatag kala aneka badai hidup mengerikan menggempurnya. Ini sejalan dengan prinsip hidup kawan dekatnya, Walter (John Goodman) dan Donny (Steve Buscemi), yah, meskipun Walter juga memiliki masalah emosi serius karena perang; sedang Donny si innocent yang mayan qanaah dengan kebloonannya.

Diksi-diksi seputar menjadi pasifis, nihilis, dan jew(is) diumbar di sini. Yah, mungkin mewakili nilai yang ingin disampaikan, dan tokoh Dude dengan gaya busana, gaya muka, dan gaya hidupnya memang perlu saya beri emoticon jempol. Terlebih gaya dia dalam menyelesaikan masalah, "Terkadang kamu memakan bar, dan terkadang pula bar memakanmu." Saya pikir, seberat apa pun masalah yang menghampiri Dude, dia akan konsisten untuk menghadapinya dengan tenang sambil terus meracau bersama Walter: fuck, shit, motherfucker, hell! Sial, bangsat, brengsek, anjrit!

Dan kau lihat si pecundang Big Lebowski kaya raya itu, dia adalah antinomi dari Dude. Sok-sokan mencari arti manusia dan kehidupan, orang hidupnya aja sibuk bikin jebakan sana-sini. Meski yang nyentrik tentu adik Big Lebowski yang terobsesi dengan seni vagina itu; atau istri Big Lebowski yang sangat passionate terjun di industri pornografi; juga dengan foundation anak-anak (orphanage), haha. 

Kegilaan lain yang perlu kita perbincangan soal Dude adalah bowling. Tentu Dude punya wardrobe bowling berantakan yang dibenci Jesus serta gaya duduk seenak udelnya. Dari film ini saya jadi paham mengapa bowling menjadi olahraga yang cukup digemari hanya dengan melihat Dude dan kawan-kawannya memainkannya.

Yah, humor besutan Coen Brothers Ethan dan Joel Coen ini memang akan membuatmu tertawa dan memaki berkali-kali kala menontonnya. Yuhu, The Dude yang selalu santai dengan dosa orang-orang.

Eat Pray Love (2010): Narasi Sebuah Pencarian Spiritual

Sudah lama tak nonton film, dan makin ke sini makin paham film-film apa yang saya suka; film apa yang cenderung saya bisa menikmatinya. Sebab dari semua film yang saya tonton sebagaimana makanan, cocok-cocokan. Kesan saya setelah menonton film Julia Roberts (Liz) ini, saya lumayan cocok, score 7/10. Apa yang menarik dari film ini bukan hanya seputar Bali dengan semua keindahan budayanya, tapi juga karakter dari si tokoh Liz, dan sepertinya saya mirip dia. 

Eat Pray Love' Film Hollywood yang Syuting di 3 Negara, Termasuk Indonesia!  Archive Tabloidbintang.com

Liz adalah seorang perempuan dewasa umur 30-an yang overthinking. Dia gagal dalam pernikahan dan cenderung mempermasalahkan hal-hal sepele seperti lagu dansa pernikahan yang tak sesuai dengan kesepakatan. Dia memutuskan untuk bercerai karena tidak bahagia akan pernikahannya, meski suaminya masih sangat mencintainya. Liz adalah prototype dari orang USA kebanyakan: tahu hiburan tapi tak tahu caranya bersenang-senang. Ya, saking workaholic-nya mereka. Dan saya juga sungguh merasakan ini.

Tentu kultur US ini beda sama Italia, negara yang dikunjungi Liz setelah perceraiannya, juga kegagalannya menjalin cinta dengan seorang aktor teater yang lebih muda. Setelah tragedi tidur di bawah tempat tidur itu, Liz merasa dirinya dipenjara. Kata-kata sahabat dekatnya soal kotak yang berisi pakaian bayi (mimpi mempunyai bayi) kalah dengan kotak Liz yang berisi peta dan segala bentuk barang seputar berpetualang.

Di Italia, sebagai seorang penulis script pula, Liz belajar bahasa Italia. Negara pizza dan spageti ini memang menarik dari sisi cara masyarakatnya berekspresi. Tangan mereka selalu bergerak seolah akan melakukan dirijen yang mereka sukai, atau suka-suka mereka. Orang Italia tahu cara bersenang-senang, mereka punya kultur "nikmatnya tidak melakukan apa-apa", yang tentu ini bukanlah Liz yang pikirannya selalu sibuk. Orang Italia juga paham makna cinta, kekeluargaan, dan tentu makanan enak. 

Usai dari Italia, Liz merantau ke India. Negeri yang lebih berantakan daripada Indonesia, di mana kemiskinan dan gelandangan di mana-mana. Meski di negara inilah Liz sebenarnya belajar terkait spiritual. Dia masuk kelas salah seorang tokoh namaste di sana, mengikuti kelas yoga, ikut melakukan aktivitas pelayanan umat, dan mengikuti budaya silence (tidak berbicara apa-apa). Dia bertemu dengan sesama "orang gagal" dari US yang juga bercerai, pria ini yang mengajari Liz untuk memaafkan dirinya sendiri. Dan kalimat yang masih saya ingat: "Urus dirimu sendiri Liz, yang lain, mereka bisa mengurus diri mereka sendiri."

Lalu petualangan Liz sampai juga di Bali. Sebagaimana ramalan Ketut Liyer (Hadi Subiyanto), Liz akan kembali ke Bali dan menemukan cintanya di sini, Liz bertemu dengan pria gagal yang lain bernama Felipe (Javier Bardem). Di Bali, Liz belajar terkait keseimbangan hidup, yoga, dan ilmu-ilmu obat-obatan dari Wayan (Christine Hakim). Wayan memiliki anak bernama Tutti (Anakia Lapae), yang membantu ibunya bekerja.

Secara keseluruhan, film ini cukup menarik. Mungkin karena Liz mewakili saya, saya jadi ingin melakukan perjalanan sebagaimana Liz, yang entah itu kemana... Mungkin saya akan merencanakannya, entah di dalam negeri atau mungkin nanti keluar negeri, tujuannya: kala hidup sudah tak bermakna lagi, jalan paling indah memang pergi, jalan-jalan. Menemukan nilai-nilai baru hidup kembali. Mungkin nilai itu sesimpel: Makan Berdoa Cinta.

Selasa, 16 November 2021

Sikiater

Detik ini, aku merasa sangat padang hati dan pikiran. Kupikir aku akan gila, sering lupa, dan kembali hampa. Atau tak nafsu makan, tak meminati hobi, dan tak ingin apa-apa lagi.

"Kau butuh ke sikiater," katanya. "Setidaknya kau nanti akan diberi obat yang membuatmu lebih tenang."

Meski dalam hati aku ingin berkata, "Bolehkah sikolognya kamu saja? Aku sulit percaya pada orang lain." Namun kata-kata itu tertambat karena aku takut merepotimu. Lalu kujawab, "Iya."

Aku mulai pusing lagi.

Paginya, kamu bilang, "Nggak papa berantakan, nggak papa. Biar sekalian berantakan asal kamu pulih."

"Kamu telah melakukan sebaik yang kamu bisa. It's worth to try," nadamu bersahabat sembari kusimpulkan satu pelajaran berharga hari itu: Nyatanya, orang hanya akan berubah pada moment-moment tertentu saja. Moment yang membuatnya "kesetrum", dan katamu, aku butuh "disetrum". Ha-ha.

Jumat, 29 Oktober 2021

Pos Kesedihan dan (Tanpa) Luka

"Kamu banyak takutnya," katamu. Entah berapa kali kata-kata ini selalu ditujukan padaku dari orang-orang dekat yang berhasil menjalin komunikasi denganku sedikit lebih dalam. 

Dan kemarin langit Jakarta masih kelabu, gerimis mengguyur, dan kita bertemu di sebuah kedai kopi yang hampir tutup. Kau memesan kopi susu dan aku memesan jus apel. Waktu itu kau mengenakan jaket hitam, aku pakaian biru bunga-bunga, dan kita duduk saling berhadapan. Ini adalah pertemuan berhasil kita, setelah dua hari yang lalu terhalang bertemu karena hujan, dan tiba-tiba kantor meneleponku untuk bekerja saat malam.

Obrolan kita pertama kali adalah soal kerja, kerja, kerja. Lalu hal-hal terkait dunia lain yang tak kuketahui dari kerja-kerja freelancer dengan segenap pengorbanan immaterialnya. Dengan segenap kertas-kertas yang bisa dimanipulasi. Dan kedai pun tutup, kita berpindah tempat. Aku memintamu untuk mencari tempat yang ramai dan jangan yang sepi. Aku memboncengmu tanpa helm, dan angin Jakarta yang malam derap berselir, memenuhi rongga-rongga sepiku. Akhirnya kau mengajakku duduk di area seputar Gajah Mada Mall di pinggir jalan.

Kau menyapa Bapak penjual minuman yang berkeliling naik sepeda; yang katamu Bapak itu adalah teman nongkrongmu. Malam itu kau memesan minuman yang jarang dipesan, Es Adem Sari. Baiklah, aku pun memesan yang sama, karena aku tak tahu juga apa yang kumau, bahkan sampai di pilihan minuman pun. Di titik-titik tertentu, aku memang suka ikut-ikutan. Semakin malam, geng-geng motor dengan knalpot yang memekakan telinga berseliweran di depan kita. Seolah para pengendaranya memiliki problem kepribadian urban dan kehilafan metropolitan. 

"Mereka ini siapa?" tanyaku.

"Sampah," jawabmu. Aku diam.

"Mereka orang-orang yang pengen gaya karena gak mampu beli motor gede," lanjutmu.

Dan di malam itu juga aku jadi tahu nama-nama lain yang kaummu berikan pada isilop-isilop jalan, beberapa hewan penunggu hutan dan hewan penghamba tuan di rumahan. "Anak yatim pakai seragam kalau bahasa yang lebih halus," tambahmu. Kosakata leta-ku jadi bertambah.

Kita pun duduk di dekat pagar, dekat jalan raya, obrolan terkait hidupmu begitu mengalir. Kau bercerita jika kehidupan semasa kuliah adalah kehidupan yang paling membahagiakan, aku pun merasakan hal itu. Saat kuliah, jarang ada orang yang tidak mengenalmu. Ketika kamu datang ke kantin, dari anak-anak yang ada di pintu masuk kantin hingga ujung semua menyapamu, "Hai Brooo....." Saking kamu populernya.

Kau juga bercerita tentang kebadungan-kebadunganmu. Kala mahasiswa masuk pagi ke kelas, kau baru bangun dan mandi. Tak kalah membuatku tertawa terpingkal, suatu hari kau masuk ke sebuah ruang ujian mata kuliah katakanlah pengkodingan. Kau tak bisa mengerjakannya sama sekali dan hanya menulis nama dan makulnya saja. Beberapa menit kemudian, kau maju menyerahkan lembar jawaban pada pengawas. Pengawas pun geleng-geleng kepala karena kertas jawabanmu kosong. Kau pun berkata:

"Bu, namanya ujian kalau gak bisa ya gak usah dijawab," katamu, dan kau keluar ruang ujian dengan santai, di saat teman-temanmu di belakang teriak sambil ngedumel, "Gila lu." Entah kenapa aku sangat berkesan dengan kisah ini. Aku pernah mengalami hal serupa, saat di ujian Mekanika aku tak bisa mengisinya sama sekali. Tapi aku tak seberani dirimu, mentalku tak sekuat kamu, setidaknya masih bisa kutulis ulang soalnya sambil menunggu jam ujian berakhir. Setelah kunilai-nilai, itu moment-moment dalam hidupku yang juga sangat menyengsarakan. Juga bodoh menyiksa diri seperti itu. Mendengar ceritamu, aku terpingkal-pingkal, sudah lama aku tak tertawa selepas itu.

Kau pun bercerita dengan bangga pula kalau skripsimu berhasil kau selesaikan selama tiga hari non-stop. Sidang dengan cepat, memilih hari baik, memilih penguji yang bisa diajak tertawa-tawa bukan malah menggelontorimu dengan pertanyaan-pertanyaan killer; hingga yang paling gila kau memalsu tanda tangan dekan saking sok sibuknya dekan itu rapat sampai tiga bulan skripsimu tak ditandatangani.

Atau kisahmu yang udah expert jadi korlap dan kordum aksi, tahu gelagat-gelagat anak-anak Cipayung. Hingga jadi bos ngumpulin massa mahasiswa bayaran untuk protes. Naik bus dari kampus pagi dan pulang sore.

Kau juga bisa bercerita terkait perbedaan antara orang introvert dan ekstrovert, dan kau paham bagaimana menaklukan orang:

"Kalau kamu sudah mendapatkan empatinya orang, apa pun akan orang berikan padamu," teorimu yang kau dapat dari sekian pengalaman.

Kau juga bercerita tentang mantan-mantanmu yang belasan, tiap bulan kamu bisa berganti; bagaimana muslihat cinta dan kejahatan adalah saudara kembar yang berkali-kali menghempasmu: diperkosa, diselingkuhi, dikhinati, dituduh, perceraian, dlsb. Dosa laki-laki dan dosa perempuan sama saja. Kupikir kau telah melampaui pos-pos terburuk dalam hidup ini. Menyendiri sendiri dengan menghabiskan beberapa slop rokok dan kopi dalam semalam. Kau hanya mau sendiri. Melupakan makan, dua sampai tiga hari sekali sampai kamu gemeteran baru makan. Kau juga bercerita tentang anak laki-lakimu yang balita, juga dua anak tirimu yang salah satunya telah meninggal. 

Aku juga telah melampaui pos-pos kesedihan, tapi dengan jalur dan rute yang lain. Di satu titik tertentu saat kamu bercerita, aku merasa seolah berada di persimpangan yang sama: mati rasa. Namun kau bisa membacaku dengan nafas dan analisis yang lebih panjang. Kalau kau membaca ini, aku izin padamu untuk menuliskannya ya:

 "Asal kamu tau, aku liat kamu justru sedih, karena sadar bahwa kamu ga bisa nikmatin hidup. Tertawa kamu hanya sebatas tawa tanpa mengerti bagaimana rasanya.. aku tahu kamu lelah hati, bersandar yaa..."

Maaf, aku tak kuasa... 

Kau juga bilang: "Aku mengerti, tapi kamu ga mau. Terbuka lah.. Aku yakin kamu mampu kok...... Aku ngerti kamu....... aku ngerti lelahmu, seperti ingin marah namun tak tahu sebabnya apa. Ingin benci pun tak tahu kepada siapa, ga mau ditanya "kamu kenapa?!" Terkadang kita hanya ingin dipeluk tanpa bicara banyak dan sekadar dibisik bahwa semua akan baik-baik saja........ Aku pernah diposisi kamu. Sering."

..........