Sabtu, 30 Desember 2017

Berbicara Angkatan dan Persoalan Generasi Iyig-Iyig

"Sama-sama angkatan 2011. Sama-sama SMA 1 beda kota. Sama-sama IPA 3. Sama-sama suram ketika SMP. Sama-sama kecil. Sama-sama fisika. Hasyah." (Status saya yang tidak jelas)

Saat kau tua dan tertinggal dari sekelilingmu, orang yang paling dekat secara personal terkadang adalah teman seangkatan. Semisal saya menyebut diri sebagai angkatan 1993 (angkatan yang lahir dari tanggal 1 Januari-31 Desember 1993). Ketika saya bertemu dengan teman seangkatan rasanya ada motivasi tersendiri, tanpa sekat, barrier, dan tak ada beban saya harus manggil kak atau dek atau apalah. Bagi saya yang lahir sebelum atau sesudah 1993 punya cerita dan kisah sendiri. 

Tonggak sejarah kadang juga dinamai berdasarkan angkatan. Bukan angkatan lahir memang, tapi angkatan kapan suatu karya besar muncul. Seperti dalam sastra ada periodesasi angkatan: Pujangga Lama, Balai Pustaka, Pujangga Baru, 60, 80, sampai angkatan cybernetika. Angkatan dijadikan permulaan di mana inovasi-inovasi segar memulai sejarahnya yang baru. Yang lebih kontekstual dan sesuai zaman. Bahkan saya pernah baca pernyataan Eka Kurniawan yang dengan PD menyiratkan, "generasi sastra terbaik adalah angkatan saya". Penulis angkatan yang sezamannya.

Diksi "angkatan" lekat dengan dunia permiliteran. Angkatan bisa diartikan pasukan; bala tentara; atau sederhananya suatu kelompok/gank. Kayak Angkatan Laut, Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Kerja. Angkatan di sini bermakna pula sekelompok manusia yang memiliki kesamaan nasib, kesamaan zaman, kesamaan blok, sampai kesamaan persoalan. 

Di balik angkatan yang sukses, saya yakin ada penggerak sejarah yang mengawali. Yang datang dengan segenap kemampuan par exellence-nya. Membangunkan segenap ledakan yang dimiliki pada setiap manusia. Membangunkan harimau yang tertidur pulas pada diri tiap individu. Dan di balik angkatan yang gagal, ada sesuatu yang meninabobokan. Bukan inovasi yang mendatangi angkatan, tapi angkatan yang mendatangi inovasi. 

Meski begitu, "angkatan" juga menimbulkan mata lembingnya tersendiri. Sepengalaman saya di organisasi yang mengaku egaliter, konsep angkatan dianggap menciptakan kelas baru. Kerja-kerja menjadi tersekat dan tak bisa melebur satu sama lain. Salah seorang ketua saya waktu itu mencoba menghapus konsep "angkatan" yang tumbuh mengakar dari demisioner (kawan-kawan post). Sayangnya, konsep yang ia bangun tak terteruskan ke periode kepengurusan selanjutnya, karena mindset kesamaan nasib dan semangat korsa angkatan susah dihilangkan. Organisasi kembali lagi pada sistem angkatan untuk pembagian kerja. Padahal kapasitas seseorang tak bisa diukur dari angkatan. Kadang ada anggota baru yang kapasitasnya melebihi anggota lama. Di sini konsep "angkatan" menjadi tereduksi dan tak relevan.

Apa yang dibangun dari semangat angkatan? Anggap sekarang kita tengah berada pada masa "generasi iyig-iyig"; angkatan yang sedikit-sedikit berisik membuat status. Lalu, apa yang salah? Bukankah status juga semgangat generasi yang dibawa angkatan hari ini? Angkatan neo-teknologi. Kenapa banyak orang memfitnah mereka sebagai generasi micin? Yang setiap hari lebih banyak menatap layar, daripada menatap buku. Seolah generasi gelap yang sulit menghasilkan sesuatu. 

Saya hanya percaya, setiap angkatan genius pada zamannya. Cintailah zaman, dan zaman niscaya juga akan mencintaimu. Semua memang mengalir seperti air, tapi kita punya pilihan untuk mengalirkannya ke aliran yang lebih bermakna. Seperti yang dikatakan Ayn Rand: di suatu zaman pasti ada orang yang mengambil langkah pertama ke sebuah jalan baru. Mereka tidak datang dengan apapun, kecuali visi besar mereka. Yohhhhh...

#ijek kuat

Senin, 25 Desember 2017

SK Trimurti: Tak Punya Cita-Cita untuk Diri Sendiri

"Saya tidak punya cita-cita untuk diri saya sendiri. Cita-cita saya untuk Indonesia, agar Indonesia menjadi negeri yang makmur." Surastri Karma Trimurti

 Foto beliau saya tempel di kamar kos saya sebagai pengingat: saya ingin menjadi perempuan baja, sama sepertinya. Fisiknya ringkih, tapi pikirannya besar. SK memulai debutnya sejak remaja. Hidup di banyak jaman dari presiden Soekarno hingga SBY. Menteri perempuan pertama, menjabat sebagai Menteri Perburuhan (Menteri Tenaga kerja). Menjadi jurnalis dan kolumnis di berbagai koran dan majalah: Fikiran Ra'jat; Sinar Selatan; Pesat (Mingguan politik populer, suara rakjat merdeka); Api Kartini; dan Mawas Diri. Dipenjara karena tulisan. Tak mau dikasihani, karena baginya segenap penderitaan adalah konsekuensi dari perjuangan. "Saya tidak senang yang lunak-lunak itu".
Mendirikan Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis), cikal bakal Gerawan Wanita Indonesia (Gerwani). Lulusan ekonomi UI, pernah ke Yugoslavia untuk belajar workers management. Meski jadi menteri, tak malu pakai sandal jepit, setia memakai kebaya. Hidup sederhana. Meski di dalam matanya yang merasuki mata saya, SK sebelas dua belas dengan Pram: berkemauan keras, mandiri, dan keras kepala.
Dia tetap revolusioner meski punya suami dan anak. Malah berjuang bersama dengan suami, Sayuti Melik. Meski akhirnya mereka berpisah, karena SK tak mau dimadu. SK juga sadar dirinya terlalu sibuk, sedang Sayuti butuh perempuan yang selalu bisa mengasuhnya. Perkawinan ibarat kongsi. Simple saja bagi dia.
Aktif membaca, aktif di gerakan. SK menyumbangkan segenap waktu dan pengabdiannya ke bidang yang tidak kalah dengan pria. Dia di perburuhan, pendidikan, politik aktivisme, pejuang literasi. Bukan melulu di perempuan.

Ia telah tiada. Masih banyak hal yang ingin dia perbuat.  Menyatukan kekuatan revolusioner. Pesan SK di hari tuanya: Supaya meneruskan perjuangan ini supaya Indonesia menjadi masyarakat yang adil dan makmur. Bunyinya:

"Kami bukanlah pendiri bangunan candi
Kami hanyalah pengangkut batu
Kami adalah angkatan yang harus punah
agar dari kubur kami bangkit
Angakatan  yang lebih kuat..."

Minggu, 22 Oktober 2017

Doaku Hari Ini

 Ya Allah, jagalah kami dari sikap putus asa, sedih, kosong, dan tak melakukan apa-apa. Sebab jika itu terjadi, itu adalah waktu kehancuran kami. Aamiin.

Kamis, 05 Oktober 2017

Kau Jatuh dari Taman Sepi di Langit yang Hujan


Adalah daya tahan yang bisa membuatku kuat mengakrabi bayanganmu hingga sekarang. Aku sangat tahu jika kau tak hidup di langit. Mendirikan gubug reyot di sana, sambil ditemani capung-capung yang duduk riang di tangan. Lalu hujan tak menakuti apapun kecuali keinginan untuk berdamai dengan manusia-manusia di seluruh bumi. Kau begitu menyayangi gerombolan itu daripada kau menyayangi diri sendiri.
         “Apa yang kokoh akan tetap bergerak,” katamu membisikiku yang saat ini mulai kehilangan arah menjalani hidup. Kau tahu, kadang aku ingin mati saja saking membosankannya dunia ini. Tapi tiap kali mendengar kau bernyanyi, seluruh saraf seperti bertunas lagi. Sebahagia kau melihat jutaan bunga bermekaran di langit.

Ini perjalanan yang masih panjang, hingga berumur sekarang. Usiaku sudah 25 tahun dan usiamu 40 tahun. Aku mengenalmu di umur 19 tahun. Dan selustrum lebih aku mengenalmu dengan sangat baik. Kau jauh, sangat jauh. Namun sekali lagi, diri ini selalu bahagia meski hanya berteman dengan bayangan dan suaramu. Kamu kadang menjelma ekstasi yang membahagiakan.

Dengan bekal kebahagian setiap orang bersinar. Kau pun mungkin di sana telah bersinar dengan istri yang tak pernah kau publikasikan dan kedua anak lelaki yang lucu-lucu. Aku sering membayangkan bagaimana kalau aku saja yang menjadi istrimu? Aku saja yang menggantikan dia, sebab kau terlalu pelit memberi kisi-kisi bagaimana rupa dan karakter istrimu itu sampai-sampai kau mempersuntingnya? Aku sangat iri dengan perempuan itu. Berani-beraninya dia!

Saat aku kalut dengan teman-teman, keluarga, dan masa depan, aku selalu mereka-reka seandainya kita hidup bersama. Di sebuah desa yang sejuk di pedalaman Switzerland. Mendirikan rumah di tepi danau dan pegunungan, membuat taman bunga yang indah di halaman, dan setiap malam minggu kita bernyanyi bersama membawakan lagu karsamu sendiri. Lagu yang selalu tulus kudengarkan tiap kali menangis.

Oya, tentang kedua anakmu. Entah kenapa aku begitu menyukai mereka, seperti halnya kau pada mereka. Rasa itu tumbuh mungkin berkat kebiasaanmu mengunggah foto-foto mereka yang tengah bermain ke Instagram—tapi kau tak pernah mengunggah foto istrimu. Foto saat mereka bermain sepeda, foto saat mereka bermain di tepi sungai, foto saat mereka ada di pelabuhan, atau video singkat saat mereka tertawa. Teknologi sekarang benar-benar mendekatkan aku denganmu, dan aku dengan anak-anakmu. Mereka sangat lucu, seperti impian anakku di masa depan, memiliki anak laki-laki yang seceria mereka. Sungguh, aku ingin sekali mengajak mereka bermain dan berlari-lari.

Langit yang menaungiku masih biru, jalan di depan masih panjang, dan aku masih duduk di bawah Ficus religiosa ini, pohon Bodhi di Taman Sepi ini. Menyandarkan bahu di sana, memikirkan beban-beban yang mengepung dari berbagai sisi, merasa tak punya siapa-siapa. Aku merasa tak ada manusia tempat berpulang, selain berpulang kepadamu.

“Kau terlihat sangat abu-abu. Bagaimana kabarmu?” tanyamu yang tiba-tiba saja datang di hadapan mengenakan kaos putih polos, celana pendek hitam selutut, dan topi semacam baret hitam khas itu. Gayamu yang paling orisinal.

“Biasa saja.” Jawabanku yang sinis membuat bibirmu tersungging ke atas. Ah, kenapa matamu begitu manis ketika kau tersenyum? Aku tak kuat menatapmu kalau kau begitu. Pandanganmu lalu kau lemparkan ke awan yang membentuk lukisan absurd itu.

“Sebentar lagi hujan,” kau meramal dengan bahagia. 

“Sebelum hujan, maukah kau mendengar cerita?”

“Ceritalah, bukankah aku selalu setia mendengar apapun ceritamu?” Tanganmu memainkan daun-daun Bodhi berbentuk hati sempurna yang jatuh. Kulihat lagi wajahmu, kau tak seperti pria berumur 40 tahun, kau seperti seumuran denganku.

“Hari ini aku sangat sibuk.”

“Sibuk apa?”

“Sibuk hidup, memikirkan tanggung jawab ke pencipta alam, berdiskusi, bersosialisasi, datang ke pertemuan yang tak penting-penting amat, membaca buku yang tak perlu-perlu amat, menulis hal yang tak berguna-berguna amat, mengurus media sosial yang tak signifikan-signifikan amat, bertemu dengan orang-orang yang selalu bercerita tentang dirinya sendiri, apalagi?”

“Hidupmu bagaimana?”

“Aku gagal menjadi manusia yang teratur. Gagal dapat predikat sukses. Sampai aku tua begini, nasib tak pernah jelas, tersengkrah kayak media sosial. Sedang usia meninggi, masyarakat menekan untuk selalu bekerja, syukur-syukur menjadi orang yang mapan, agar bisa membantu mereka yang kekurangan. Rasanya, tak ada yang benar pada pola hidupku.” Nafas berat, kuhirup nafas dalam-dalam. “Ah! Kenapa aku tak pernah bisa mandiri dan jarang berhasil!? Aku seperti tak ada gunanya untuk masyarakat dan orang di sekitar.” Aku menundukkan wajah ke bawah, tak terasa air menetes sedikit.

“Apa itu yang membebanimu?”

Kepala mengangguk lemas.

“Aku juga menderita ugly complex. Selalu merasa bahwa aku ini jelek. Tak ada orang yang mau dekat-dekat. Pola komunikasi pun buruk.”

Kamu tak menanggapi. Tanpa angin, tanpa suara, tanpa bayangan. Kita saling berdiam diri.

“Bagaimana kabar istrimu? Anak-anakmu?” tanyaku memecah kesunyian. Pertanyaan itu hanya kau jawab dengan mengangkat bahu ke atas. Seolah kau sadar, bukan itu pertanyaan sesungguhnya. Bukan anak istrimu  yang kugelisahkan, tapi id, ego tanpa superegoku yang lain. Aku tengah bolong. Kau jawab pertanyaan dengan pertanyaan:

“Kenapa kau bisa berbicara banyak tentang masalah? Kenapa kau menganggap dengan mudah bahwa dunia ini beban?” Pertanyaan dinginmu membuat tergagap. Aku lalu menutup mata, sepertinya aku telah melupakan sesuatu. Kucari-cari itu di kepala. Kucoba mengendapkan sesuatu yang tercecer di sepanjang jalan nafas.

“Tak ada rumah untuk semua kebijakanku. Banyak tempat untuk luka. Aku berjalan sendiri ke semua tempat, ke semua kejadian, ke semua sisi.”

            “Apa yang kokoh akan tetap bergerak.” Kudengar lagi kalimatmu yang itu. Kau seperti tak memberi jawaban.

Kulihat dua kelinci berlari di sekitar kita dengan bahagia. Bermain-main saling mengejar. Kelinci itu mengenai sebuah bunga yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku langsung teringat dengan filosofi benih dalam lirik lagumu, yang isinya semua berawal dari benih tak terlihat yang setiap orang buang. Benih itu terus tumbuh, dan tanpa sadar benih akan tumbuh menjadi beragam bunga yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Aku lalu menatapmu dengan sangat erat di bawah pohon itu sangat lama. Tatapanmu seperti mematahkan kaki. Lalu aku menangis sejadi-jadinya tanpa sebab.

“Kuat,” katamu menepuk-nepuk pundakku. Kita saling menatap. Aku hanya mengangguk pelan. Akhir-akhir ini aku nyaris gila. Kepala batuku muncul lagi, sekuat apapun wacana di luar menggempur. Faktanya aku sangat lemah kala dikecewakan kenyataan.

“Maaf ya,” aku mengucapkan kata-kata kosong.

Bayanganmu menghilang. Hujan tiba-tiba jatuh kecil-kecil, aku berlindung di bawah pohon dan menggigil sendirian di sana. Aku lalu menayangkan ulang masalah-masalah yang tak berkelas di kepala. Apakah aku bodoh?

“Bagaimana aku bisa jadi manusia berguna kalau sifat dan sikap seperti ini?” Pertanyaan tiba-tiba mengepung. Air hujan telah menembus dedaunan. Tak deras tapi cukup membuat basah.

Aku melihatmu berjalan ke arah langit membawa cat warna warni. Kamu melukis pelangi di langit. Pelangi yang tipis. Kau buat dengan sangat anggun. Hujan berhenti pelan-pelan dan matahari menyembul dengan sangat malu-malu, sinarnya semakin membuat pelangi itu berklilau-kilau. Kamu pun pergi lagi.

“Semoga keindahan ini cukup menemani jalanmu,” kudengar suaramu menggema di seluruh langit. Ribuan bunga-bunga warna-warni berjatuhan dengan lembut dan alunan musikmu memenuhi semestaku. 
--Isma Swastiningrum. 05102017.--

Kamis, 06 Juli 2017

Pataba dan Idiosinkretisme Soesilo Toer


Rabu, 5 Juli 2017 09.50

Kau tak akan percaya. Pria itu berdiri di depan rumah. Rumah gaya Jawa dari kayu yang mungkin sama tuanya dengan usia pria itu. Di depan rumah banyak rongsokan, sambil ada seorang pria yang sedang membantu. Ada pula dua kambing kecil warna hitam dan beberapa ayam. Pakainnya kaos kampanye calon presiden berwarna putih dan celana kain warna coklat muda yang sudah lusuh. Wajahnya memperhatikan saya dan adik saya yang sedang geleng-geleng linglung mencari sebuah alamat: Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) di Jalan Pramoedya Ananta Toer No. 40 Jetis, Blora.
PATABA
“Masak itu tempatnya?” tanya adik saya tak percaya. Sepertinya tempat itu tak sesuai dengan apa yang dia ekspektasikan sebelumnya. Menganggap perpustakaan ini besar dan banyak pengunjungnya, dengan beberapa gelintir penjaga. Perpustakaan itu sangat sederhana.

“Iya,” kata saya yakin. Sebab ada mural gambar foto Pramoedya di dinding kayu rumah itu. Lalu saya turun dari motor dan menemui pria berjenggot, berbrewok putih, dan berambut putih tersebut. Pria itu masih tersenyum pada saya. Pas sampai dekat, saya bertanya:

“Maaf bapak, ini Pataba?” tanya saya.
“Iya,” jawabnya. Saya refleks langsung mengulurkan tangan.
“Isma.”
“Soesilo.”
“Soesilo Toer?”
“Iya.” Betapa bahagianya saya saat itu, dan kalau saya bahagia, saya tak ingin apa-apa lagi.
“Lagi sibuk apa Pak?”
“Sibuk jadi rektor,” jawabnya sambil tertawa.
“….” Saya membalas senyumnya agak bingung.
“Rektor, orek-orek perkakas kotor. Hehehe.” Beliau tersenyum lagi. Ia langsung mengajak saya masuk ke perpustakaan PATABA.
Ruang utama Pataba
Pak Soesilo membukakan pintu. Foto, lukisan, dan karikatur bergambar wajah Pram langsung menyambut mata saya. Diselingi pula foto-foto pemikir dunia seperti Sigmund Freud, Dostoevsky, Multatuli, dan lain-lain. Ruang utamanya berukuran sekitar lima kali empat meter, dan di sampingnya ada kamar kecil yang menjadi kamar Pram dulu. 
Kamar Pram
Buku-buku di Kamar Pram
Di ruang utama ada beberapa rak dan meja yang diisi buku-buku. Bukunya beragam tema dan bahasa, dari bahasa Rusia, Belanda, Jerman, Inggris, Indonesia, sampai buku-buku dari Penerbit Pataba. Pak Soesilo mempersilahkan kami duduk, saling berhadapan.

Soesilo Toer
Pak Soes sangat ramah. Ketika bertanya dimana saya kuliah? Saya bilang Jogja. Beliau lalu cerita tentang tempat di Jogja yang ternyata tempat asal istri ketiga Pak Soes. Selisih usia pasutri ini 30 tahun. Ia memiliki satu putra bernama Benee Santoso. Nama Ben sendiri katanya tidak jauh dari kedekatan Pak Soes dengan Benedict Anderson yang meninggal di Malang tahun 2015 lalu. Ia dan Ben sering kirim mengirim surat. Pak Soes lalu menceritakan saya tentang banyak hal, dan saya sangat bingung menulisnya darimana.

Saya akan memulai dari kisah tentang titik balik kenapa Pak Soes menjadi cerdas berikut rahasianya. Pas kecil, Pak Soes sebelas dua belas sama kakek Pram bodohnya. Dari SD sampai SMP nilai-nilainya selalu di bawah lima. Nah, pas SMA semua berubah. Pas lulus SMA, nilai ujian Matematika dan IPA-nya 10, dan bahasa Inggrisnya sembilan. Jadi lulusan terbaik yang diterima di UI tanpa tes, tapi karena tak ada biaya, tidak beliau ambil. Ia masuk di Akademi Keuangan di Bogor (yang sekarang jadi BPK), hingga di lembaga itu beliau kuliah sampai di Uni Soviet (sekarang Rusia), di Universitas Patrick Lumumba (S2) dan Universitas Plekhanov (S3) mengambil jurusan ekonomi.

Lulus dari Akademi Keuangan Bogor, ia menunggu jatah untuk sekolah ke Rusia hingga tahun ketiga. Tahun pertama jatah Pak Koesalah Toer, tahun kedua kuota penuh. Tahun satu dan dua ini tak ada tes, dan apesnya di tahun ketiga ada tesnya. Data yang saya ingat, dari 9000 pendaftar, orang yang terpilih hanya 90, dan dia salah satunya. Pas masuk di universitas itupun beliau sudah telat, Harusnya pertengahan September sudah mulai, ia baru sampai Rusia akhir Oktober. 

Ia pun mengejar ketertinggalannya. Beliau bisa menguasai Bahasa Rusia dalam waktu 6 bulan. Tiga bulan pertama untuk belajar kosa kata. 3000 kata dalam tiga bulan, 6000 kata enam bulan. Diksi yang dipelajari diksi yang sering dipakai sehari-hari. Belajarnya dari jam 11 siang sampai jam setengah dua belas malam. Di samping itu di Rusia, beliau juga menjadi editor dan kontributor di media-media Rusia, dan bayarannya lumayan banyak. Dia juga menjadi lulusan tercepat. Menempuh S3 hanya dalam 1,5 tahun. Saat temannya belum tahu judul apa yang mau digarap, beliau sudah selesai.

Sedihnya, disertasi Pak Soes yang telah dibukukan berjudul Republik Jalan Ketiga dituduh menjiplak karya Antoni Giddens yang berjudul Jalan Ketiga (The Third Way).  Buku Pak Soes itu mengkritik tentang kapitalisme dan sosialisme, mencari jalan lain dari keduanya. Tuduhan dilakukan oleh intelektual-intelektual Indonesia yang kebarat-baratan, yang menganggap barat lebih tinggi dan meragukan kemampuan anak bangsa sendiri. Padahal, Pak Soes menulis buku itu tahun 1967, sedangkan Giddens menerbitkan buku itu pertama kali tahun 1998. Tanggapan Pak Soes pun membuat saya geli: “Gak papa, saya malah bangga. Karya saya bisa menjadi inspirasi Giddens nulis itu.” 

Kembali ke titik balik kecerdasan Pak Soes yang terjadi ketika ia diminta seseorang untuk mengantarkan seorang perempuan pulang naik kereta. Di kereta itu beliau membawa buku matematika dan hanya membukanya, tak mempelajarinya. Pak Soes remaja sibuk memperhatikan perempuan yang di antarnya itu, sebab perempuan itu menarik.  Lalu, jiwa mudanya tumbuh, beliau pacaran. Kata beliau:

“Pacaran menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Ketika dua otak itu berjalan, orang akan menjadi cerdas,” teorinya. Saya pun skeptis dengan narasi soal cinta.
“Tapi, kalau lihat pola pacaran anak sekarang, lebih ke perasaan. Jadi gak semakin cerdas, malah semakin bodoh, Pak,” saya tak setuju.
“Kuncinya jangan berlebihan. Semua yang berlebihan tidak baik. Dan jangan terlalu dibawa perasaan. Kau tahu Pram pernah bilang apa soal cinta?”
Saya geleng-geleng kepala, habis pikir.
“Cinta itu seperti aku kentut. Kawin itu seperti aku berak.” Saya tertawa kecil.
“Saya tidak pernah bilang cinta sama istri saya. Pram pun ketika menulis surat cinta untuk orang yang dikasihinya saya sensor dulu. Dia nyuruh saya yang sensor, lalu saya ubah beberapa.”

Lalu beliau flashback tentang masa lalunya dengan pacar-pacanya yang ada di Rusia. Kisah semuanya bisa juga kawan baca di novel Soesilo Toer berjudul “Anak Bungsu”. Cerita singkat beliau begini: pas beliau di Rusia ada seorang perempuan yang menjadi rebutan tiga pria mapan, tapi malah perempuan cantik itu milih Pak Soes. “Perempuan memiliki seleranya sendiri dalam milih pria. Pria juga. Nah, selera perempuan yang mencintai saya ternyata apa? Karena saya brewokan dan dua teman saya klimis-klimis,” ceritanya tertawa mengenang.

Menjadi Pemulung Adalah Jalan Hidup
 
Hantamassa Credit
Ini yang membuat saya antara percaya dan tidak percaya. Memulung semacam menjadi panggilan jiwa Pak Soes. Dia semacam punya radar yang kuat akan karir profesionalnya ini. Kisah memulung itu dimulai saat dia kecil bersama kawan-kawannya. Pas kecil dia dan dua kawanya janjian untuk jadi pemulung kertas perak di rokok-rokok, kertas itu dijadikan semacam tempelan (filateli).

Nah, di sebuah jalan ketika ia dan dua kawannya janjian mulung, ternyata ada benda semacam barang serupa rokok yang jatuh dari sebuah mobil—yang ternyata itu adalah dompet. Pak Soes dan kawannya saling rebutan dompet itu dengan berlari.

Lalu uang itu dihitung bersama-sama, dan isinya banyak. Para kawan itu menggunakan uang tersebut untuk membeli lontong tahu di pasar selama beberapa hari. Kisah lainnya tentang kebiasaan penjual di pasar (saya lupa pedagang apa) yang meletakkan uang di kayu-kayu. Kadang uang mereka ketinggalan dan ia dan kawan-kawannya sering memulung uang-uang itu. 

Pas tinggal di Bekasi, sampai di Jogja, dan di Blora kisahnya pun tak kalah banyak tentang pengalamannya menjadi pemulung. Anehnya, beliau semacam mendapat wangsit, ada seseorang yang membisiknya ketika ingin memulung. Dan firasat itu benar. Seperti kisah anaknya yang sakit amandel dan badannya panas di jam empat pagi minta kue cur (kalau di Jogja semacam pukis). Di Bekasi ada mainan anak-anak suka geret-geret dompet, dompet dikejar, pas sudah sampai ditarik lagi. Pak Soes berprasangka itu permainan anak-anak, ternyata bukan. Ia injak dompet itu dan ada isinya. 

Banyak keberuntungan yang beliau dapatkan, karena bisikan-bisikan itu. Kadang dapat baju baru, dapat sampo, sabun dan seperangkatnya, dll. Di Bekasi pula, waktu yang paling beliau sukai ketika memulung adalah sehabis hujan dan di jalan raya. Kadang pula beliau mulungi uang 50 perak yang dibuang oleh petugas yang suka ngatur jalan di belokan jalan raya. 

Bakat memulung itu juga diwariskan pada anak dan istri. Awalnya mereka malu, tapi lama-lama malah senang. Suka mengajak Ben memulung juga. Menurut cerita Pak Soes, anaknya Ben tidak mau kuliah dan Pak Soes tak meminta atau melarangnya juga untuk kuliah. Watak Pak Soes, juga mirip seperti Pram dalam mendidik anak. 

“Kalau dia mau sekolah, saya tidak mau bayari. Biar dia cari sendiri. Dan saya tak mempersoalkan dia mau kuliah atau tidak. Pram itu hanya lulusan SD, Susi (Menteri Kelautan) itu cuma lulusan SMP, tapi dia sukses. Saya menilai sesuatu dari kemampuan, bukan pendidikan,” ujarnya mantap. 

Anak beliau pernah kursus komputer di Cepu dan dia tidak malu jadi pencuci piring membantu orang jualan di taman seribu lampu. Dia sekarang kerja di Astra dan membantu salah satu keluarga Pak Soes juga. Mengirimi uang 1 juta/bulan, tapi jadi 500 ribu/bulan tapi teratur. “Biar tidak kaget,” kata Pak Soes ketika tiba-tiba saudaranya itu tidak dikirim lagi.

Namun tak jarang, pekerjaan memulung ini menjadi salah sangka bagi orang-orang yang melihatnya. Ada yang mencaci, ada yang membantu. Sampai-sampai pagi itu Pak Soes menunjukkan uang 20 ribu ke saya pemberian orang yang memberi ia sedekah. Padahal, uang dari anak dan penerbitan buku sudah cukup untuk menghidupi beliau. “Banyak orang yang salah sasaran,” tuturnya. Pak Soes memilih menjadi pemulung pula karena menjadi pemulung itu bebas. Bisa pergi kemana saja dengan sesuka hati, tanpa bos / majikan. Waktunya bisa kapan saja.

Balik ke semacam wangsit yang Pak Soes miliki. Beliau ini sepertinya punya indra keenam. Ucapannya malati. Dia pernah difitnah pas jadi backpacker di Rusia, dan Pak Soes bilang “awas.. awas..” Eh, orang yang memfitnah dia itu mati kena jantung sampai membusuk di flatnya. Ada pula orang klan China yang mengganti jamnya yang bagus dengan merk Seiko yang sering rusak, katanya diberi servis gratis tiap kali rusak. Ternyata, jam itu meski sudah diservis, seringkali mati.

Pertama - kedua gratis, tapi setelahnya pedagang itu kesel, dia bilang “ya gratisnya jangan terus.” Pak Soes sakit hati dan cuma bilang “awas.. awas..” Selang beberapa waktu, pedagang itu mati ketabrak. “Kadang saya takut kalau sudah bilang begitu. Kalau ada yang menyakiti saya dari hati, saya takut ngomong seperti itu lagi,” lirihnya.
Are you bless me sir?
Oya, mitos lainnya ketika kamu pergi ke Pataba dan melihat lukisan Pram di ruang utama yang bersanding dengan Anelis itu bergoyang, berarti Pram memberkatimu. Tiba-tiba saya berharap lukisan Pram itu bergoyang. Ah, lalu saya jadi ingat dosa-dosa saya. Inferior saya kambuh lagi. 

“Di kamar itu ada arwahnya Pram.” Saya tiba-tiba merinding sendiri.  

Metode Menulis dan Soal Dekadensi Sastra

Meski umurnya telah mencapai 80 tahun (kelahiran 17 Februari 1937), beliau masih aktif menulis. Gairah hidupnya meletup-letup dan jiwa mudanya masih terlihat di fisik dan senyumnya—meski beliau menderita prostat. Ada sekitar 40-an buku yang beliau hasilkan, sampai ia lupa judul-judulnya. Draft terakhir tulisan yang sedang beliau kerjakan berjudul “Srigala”. 
Penjelajah Siberia.
Pak Soes menulis masih suka memakai kertas dan pena, lalu meminta anaknya Ben untuk mengetik ulang di komputer. Selain mengurus perpustakaan Pataba, ia juga mengurusi penerbitan Pataba (Pataba Press). Salah satu penerbit indie yang tumbuh di tengah hegemoni Gramedia. Penerbit tersebut cukup kembang kempis, tapi omsetnya lumayan. Ia juga dibantu beberapa seniman dalam membuat cover-cover terbitan Pataba, seperti Andre Tanama. Anaknya pun ikut membantu manajerialnya.

Tentang menulis, pengalaman menjadi dasar yang sangat penting. Kata Pak Soes: “Pengalaman adalah basis pengetahuan, dan pengetahuan adala basis kapasitas, kata Einstein. Jadi seorang penulis kalau tidak punya pengalaman, dia akan bingung mau nulis apa. Kalau yang banyak pengalaman beda. Bukan karena kurang ide, tapi kurang waktu.” 

Jika mampu, mengutip pepatah Jerman yang ia ucapkan dengan bahasa Jerman, beliau bilang carilah ilmu sampai kemanapun. Dan jangan takut salah, karena menyadur dari pepatah Jerman pula: Berbuat salah adalah hal wajar yang sering dilakukan manusia.

Beliau juga menceritakan resep dari beberapa penulis nobel. Seperti William Faulkner yang menyarankan mulailah dari satu huruf yang bermakna, lalu satu kata bermakna, dan satu kalimat bermakna. Satu kalimat itu harus bisa melahirkan dua kalimat lagi yang bermakna dan seterusnya. Diimbangi dengan banyak membaca.

“Kalau baca buku jangan seperti habis makan kerupuk. Selesai baca udah hilang entah kemana, tapi dipahami, jangan dilupakan, ditubuhkan. Salah satu caranya dengan menandai kalimat-kalimat penting dan menarik dari buku. Saya sering baca buku di Rusia sering saya oret-oret dan kasi garis. Tidak peduli itu buku negara, kawan saya sampai negur: ‘itu buku negara, jangan dicoret-coret’. Saya bodoh amat.” Selain mencoret kalimat yang penting, beliau juga menulis ulang kalimat yang penting.

Pak Soes juga bilang dia hanya membaca karya-karya yang menurut ia menarik. Kalau menurutnya tidak menarik, ia tak mau baca, meski orang lain menganggap menarik. Penulis-penulis yang menginspirasinya kebanyakan penulis-penulis Rusia, seperti Ostrovsky (Bagaimana Baja Ditempa), Maxim Gorky (Ibunda), Dostoevsky, Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Nikolai Gogol, Boris Pasternak, Chekov, Chinghiz Aitmatov, dan lain-lain. Kakak Pak Soes, Koesalah Subagyo Toer juga merupakan penerjemah buku-buku Rusia ke Indonesia terbanyak. Pak Soes saat ini juga membantu beberapa penerbit Indonesia untuk jadi editor terjemahan Rusia.

Membahas sastra sekarang, penulis yang dipuji Pram dewasa ini adalah Eka Kurniawan, khususnya untuk Cantik Itu Luka. Tapi Pak Soes punya komentarnya sendiri terhadap karya Eka tersebut. Intinya: Cantik Itu Luka bahasanya jorok. Baru kali itu Pak Soes menemukan bahasa yang sebegitu joroknya dipaparkan dalam sebuah buku, dan gaya Eka itu diikuti oleh penulis-penulis lain. Baginya, itu bukan perkembangan, tapi malah mengalami dekadensi.

Saya lalu merefleksikan ucapan Pak Soes pada status-status media sosial yang sering saya jumpai. Yang jujur itu membuat saya risih. Para netizen kadang memakai diksi-diksi jorok, kotor, bahasa-bahasa selangkangan, untuk mengekspresikan kekesalan mereka. Kalau umpatan biasa atau ungkapan binatang saya bisa terima (meski binatang tidak akan terima), tapi kalau larinya sudah ke tubuh dan borok perempuan, kadang juga vital laki-laki, saya sangat risih. Bagi saya itu menjijikkan. 

Akhirnya, tidak terasa, tiga jam sudah Pak Soes ngancani saya. Di LPM Arena, saya sering dituduh kawan-kawan, kalau saya cucunya Pram, saya juga ingin mengaku(aku) Pak Soes juga kakek saya. (But, Pram is Pram, Soes is Soes). Pak Soes akan selalu membuat saya rindu untuk berkunjung ke Blora lagi. Mendengar cerita ‘Kang Gareng Blora’ yang tak pernah habis lagi.
Be shine, Kung.

Cepu, 6 Juli 2017 │ 15.33

Minggu, 11 Juni 2017

Lirik Lagu Pejalan - Sisir Tanah

Siapakah kita ini manusia?
Yang dalam diam riuh, ragu, dan tak mampu
Ada rahasia, tidak rahasia
Ada di sini, ada di situ, diseret-seret waktu

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tahu
Berapa jauh jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Kita berjalan saja masih selalu berjalan
Meskipun kita tak kunjung tahu ujung jalan ini
Dan kita tak kuga kan terhenti, selalu berjalan
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan

Bertahankah kita ini, manusia
Yang dalam riang, ringkih, rumit, dan terhimpit
Ada bahagia, tidak bahagia
Ada di sini, ada di sana
Ditikam-tikam rasa

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tahu berapa jauh, jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk, pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk, pada jarak

Kita berjalan saja masih, lalu berjalan
Meskipun kita tak kunjung tahu ujung jalan ini
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan

Kita berjalan saja masih, terus berjalan
Meskipun kita tak tahu berapa jauh jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak
Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Kita berjalan saja masih, selalu berjalan
Meskipun kita tak kunjung tahu ujung jalan ini
Dan kita tak juga kan terhenti selalu berjalan
Dan kita tak juga kan terhenti, selalu berjalan


-Sisir Tanah-