Minggu, 29 Agustus 2021

29 Agustus 2021

Hari ini aku mendengar lagu "Timur" - The Adams dinyanyikan, 518 kilometer dari Jogja. Apakah dunia sekebetulan itu? Adakah buku-buku yang membahas tentang segala kebetulan-kebetulan yang ada di bumi? Hi Timur, kau baik-baik saja?

 
Semakin jelas tujuan, dan yang kuharus lakukan 
Dan mungkin dunia serba kebetulan juga, aku mendapati dadu yang sama, ketika baru saja kemarin aku mendengar lagu Naif ini, lalu pada jarak 518 kilometer kemudian keesokan harinya, aku mendengarkannya lagi. Haha. Ah, kalau pun patah hati, sewajarnya saja ya.
"Kuakan berubah
Seiring waktu
Oh, sabarlah sayang
Aku pasti akan berubah
Namun kapankah itu...."

Jumat, 27 Agustus 2021

Arsip: Lo Kheng Hong

Sumber tulisan: lifepal.co.id

Mau Tajir di 2019? Ini Quote dari Warren Buffett Indonesia Dijamin Tertarik Investasi


Bicara soal investasi saham, pasti kita semua selalu diarahkan ke Warren Buffett, yang jadi orang terkaya di dunia berkat saham. Tapi jangan salah, di Indonesia juga ada yang seperti Buffett lho! Dia adalah Lo Kheng Hong.

Pria ini memang cukup ngetop di kalangan investor. Ia seringkali disebut sebagai Warren Buffettnya Indonesia.

Namun sayangnya, beliau memang minim publikasi. So, gak sedikit dari kita yang gak kenal sama Lo Kheng Hong.

Pada tahun 2014, total nilai saham yang dimiliki Lo Kheng Hong dikabarkan mencapai Rp 2,5 triliun! Hanya saja, itu baru sebatas prediksi, karena dia gak pernah secara langsung membenarkan pernyataan itu.

Dia bisa jadi tajir karena membeli saham-saham yang undervalued atau yang harganya anjlok karena satu dan lain hal. Namun, berkat analisa yang hebat, harga saham yang dia beli ternyata bisa meroket di kemudian hari.

Sebagai seorang crazy rich, Lo Kheng Hong sendiri juga merupakan orang yang sangat sederhana. Ya makanya dia seringkali disebut 11:12 sama Warren Buffett yang juga bersahaja.

Biar kamu semangat investasi saham di tahun 2019, gimana kalau kita simak saja kata-kata bijak dari beliau. Bisa jadi kamu makin terinspirasi dan tertarik investasi hingga akhirnya jadi crazy rich juga. Yuk simak lebih lanjut di bawah sini.

Baca Juga: Investasi Saham atau Obligasi di 2019, Untung atau Rugi?

“Tuhan maha pengampun tapi bursa saham tak kenal belas kasihan”

Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)
Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)

Bagi Lo Kheng Hong, berinvestasi di dunia pasar modal memang gak bisa ditargetkan. Mengapa demikian? Karena kita gak bisa tahu apa yang terjadi di hari esok.

Bisa jadi harga saham perusahaan A turun atau naik. Pergerakan harga itu juga bisa berlangsung dalam hitungan jam!

Itu sebabnya, investasi ini adalah tinggi risiko. Wajib hukumnya buat para investornya untuk rajin-rajin pantau harga, membeli, dan melepasnya di saat yang tepat.

Dan ingat juga lho, membeli saham harus paham sama bisnis perusahaan yang bersangkutan. Harus tahu bidang usahanya, labanya, hingga jajaran direksinya agar gak kayak beli kucing dalam karung.

Baca Juga: Ikuti 5 Trik Ini untuk Menekan Kerugian Investasi Saham

“Kalau trading, dapatnya receh dan bisa bikin stres”

Dalam investasi saham, tentu ada dua istilah yang seringkali kamu dengar yaitu trading dan nabung saham.

Trading ya ibarat jualan saja untuk jangka pendek yaitu beli saat rendah, dan ketika sudah naik 1, 2, atau 3 persen langsung lepas. Sementara itu, nabung saham ibarat membeli saham untuk jangka waktu lama.

Lo Kheng Hong bilang, ketika kamu punya mindset untuk trading saham, yang ada kamu cuma dapat cuan yang kecil. Ujung-ujungnya kamu sendiri yang stres karena harus mantau harga saham tiap jam. Nanti akhirnya tergoda nyari saham gorengan, bukan begitu?

Tapi lain halnya ketika kamu berniat memegang saham untuk jangka waktu lama. Bisa jadi cuannya makin gede seperti saat beliau membeli saham MBAI di harga Rp 250 perak per lembar, dan akhirnya naik 12.500 persen. Gokil kan?

Baca Juga: 5 Alasan Buat Stop Beli Reksa Dana Saham dan Beli Saham Langsung

“Pemain saham adalah orang yang bebas”

Walaupun punya aset triliunan Rupiah, Lo Kheng Hong merupakan orang yang benar-benar bebas dalam artian gak punya kantor, pegawai, atau bos.

Dia sendiri blak-blakan bilang kalau, “Saya tidak bekerja, tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua pembantu.” Gimana tuh? Asik gak? Gak ada beban sama sekali bukan.

Tapi untuk bisa kayak beliau ya mesti pandai beli saham dari sekarang.

“Serakahlah ketika orang lain ketakutan, dan takutlah ketika orang lain serakah”

Dalam menyikapi soal waktu yang tepat saat membeli saham. Lo Kheng Hong mengingatkan kita agar membelinya di saat krisis.

Gak salah untuk bersikap agak serakah di saat banyak orang di dunia ini ketar-ketir dengan kondisi perekonomian di negaranya. Kalau perlu borong saja mumpung harganya murah.

Pada tahun 2008 Lo Kheng Hong mengaku bahwa dia sempat bersikap serakah dalam memborong saham. Meski pada saat itu dia juga lagi rugi.

Sebaliknya, ketika perekonomian di dunia ini lagi bagus-bagusnya, jadilah bijak. Karena menurut Lo Kheng Hong, ketika kamu berada di masa ini, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk beli saham.

“Sisakan uang 15 %”

Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)
Lo Kheng Hong. (Instagram/@pmbs_id)

Dalam investasi saham, sebisa mungkin jangan menggunakan seluruh uang untuk membeli saham. Sisakan danamu sebesar 15%. Mengapa demikian? 15 persen dari total uang berarti gak banyak dong?

Tentu saja, tapi hal ini ada positifnya juga lho.

Pertama, kamu gak bakal tergoda untuk jadi konsumtif mengingat dana yang kamu pegang cuma 15 persen saja. Dan yang kedua adalah, ketika pasar modal ambruk kamu masih bisa membeli saham lagi lho.

“Sayang, jika uang digunakan buat membeli mobil mahal”

Sempat beredar foto di grup Whatsapp yang memperlihatkan Lo Kheng Hong mengendarai Porsche. Sejatinya sah-sah saja dong beliau beli mobil Porsche wong duitnya banyak.

Tapi ternyata itu bukan mobilnya. Dan Lo juga merupakan seorang yang anti membeli mobil mewah. Mengapa demikian?

Pertama adalah karena harganya mahal dan terus turun. Yang kedua adalah, dia khawatir jadi korban perampokan.

Itu sebabnya sampai saat ini Lo Kheng Hong hanya mengendarai Volvo keluaran 2005 yang harganya Rp 120 juta.

Itulah kata-kata mutiara dari seorang Lo Kheng Hong buat kamu yang ingin tajir dari saham di tahun 2019.

Intinya, gak ada yang gak mungkin kok untuk bisa tajir seperti beliau. Lo sendiri juga gak lahir di keluarga kaya raya. Keluarga beliau bisa dibilang sangatlah sederhana, dan dia juga memutuskan untuk kuliah di kampus murah.

Tapi setelah kerja, dia rajin nabung dengan harapan agar bisa beli saham. Udah gitu saja. Sekarang, dia jadi crazy rich yang benar-benar bebas finansial. (Editor: Ruben Setiawan)

Selasa, 24 Agustus 2021

24 Agustus 2021

Ya Allah, berikan aku kelapangan dada untuk menyelesaikan masalah-masalahku dengan baik, dalam pekarangan kecilku sendiri.

Jumat, 20 Agustus 2021

20 Agustus 2021

Aku menyukai momen-momen sepintas, semisal mahkota bunga yang mirip dandelion turun dari lantai dua kos ke arah bawah. Lalu pemandangan itu terlihat dari jendela kamarku yang besar.

Jumat, 13 Agustus 2021

13 Agustus 2021

Hari ini seseorang berkata:

"Isma

Is adalah ma itu mandrasah aliah.

Tempat menuntut ilmu.

Cocok buat kamu.

Penulis yg suka membagikan ilmu kepada orang lain"

Ini untuk pengingatku, biar menjadi doa-doa baik. 

Makasi ya :')

Selasa, 10 Agustus 2021

Pekerjaan yang Berkelanjutan

Dari pengalaman yang saya rasakan, sangat susah mencari "pekerjaan yang berkelanjutan". Saya menemukan penjelasan terkait "sustained employment" dari penelitian Michalopoulous (2001) ini. Ia meneliti data lapangan dari sejumlah negara bagian di Amerika, juga instansi-instansi terkait welfare-to-work; investment-program; self-sufficient project; dll.

Intisari dari pekerjaan yang berkelanjutan dan menumbuhkan penghasilan di antaranya:
1. Adanya insentif keuangan kerja, juga hak-hak seperti tunjangan
2. Adanya program-program yang menekankan pekerjaan secara segera dengan kualitas kerja yang stabil
3. Adanya program-program pembangunan keterampilan melalui pendidikan
4. Dilakukan secara full-time dan bukan parsial-time
5. Adanya layanan pra-kerja yang berfokus pada pertumbuhan pendapatan dari waktu ke waktu

Penelitian ini juga menyinggung faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerja secara berkelanjutan. Seperti depresi, kekerasan domestik, penyalahgunaan obat, dll. Penelitian ini menyarankan, bagi yang memiliki keterampilan rendah dapat meningkatkan upah sesuai dengan mereka yang berketerampilan tinggi ketika mereka: menambah pengalaman sehingga memiliki jumlah pengalaman yang sama; serta bekerja secara full-time untuk melihat pertambahan substansial pada skill dan upah.

Michalopoulos, C. (2001). Sustained employment and earnings growth: New experimental evidence on financial work incentives and pre-employment services. Low-Wage Workers in the New Economy.

Sumber: https://www.mdrc.org/sites/default/files/workpaper_5.pdf

Pendapatan Dasar Setara untuk Semua

Jurnal ini semacam menganalisis dan mengandaikan gimana kalau kebijakan pendapatan dasar universal (Univerasal Basic Income) diterapkan di negara berkembang? Nah, negara yang coba disimulasikan ini adalah Indonesia dan Peru.

Pengandaian ini berawal dari program-program, semisal Bantual Langsung Tunai (BLT) di Indonesia. Atau di China misal ada program standar kehidupan minimum kota, di Meksiko ada program transfer langsung yang menyasar 32 juta penduduk, atau di Peru ada asuransi kesehatan (Seguro Integral de Salud/SIS) dan transfer untuk keluarga miskin (Juntos).

UBI ini singkatnya diartikan sebagai pemberian pendapatan langsung ke semua orang tanpa mempedulikan level pendapatan. Program ini sebenarnya masih terlihat utopis, meski secara kenyataan ada contohnya. Kayak Dana Abadi Alaska yang memberikan transfer tetap sekian dollar setahun bagi masyarakatnya. Atau baca-baca Iran juga pernah melakukan program serupa pada 2011.

Data jurnal ini diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional Indonesia (SUSENAS) dan Survei Rumah Tangga Nasional (ENAHO) Peru dari tahun 2010-2011. Penerima transfer dana langsung ini punya dua kasus: (1) penerimanya gak tepat sasaran/inclusion errors; (2) yang ditarget malah gak gapat/exclusion error.

Jurnal ini berpendapat jika di negara-negara berkembang metode penargetan dana langsung memang tidak sempurna, tapi memberikan perbaikan yang substansial bagi kesejahteraan dibandingkan dengan program universal (seperti dana pendidikan untuk semua). Karena transfer lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin dibandingkan dengan program universal.

Hanna, R., & Olken, B. A. (2018). Universal basic incomes versus targeted transfers: Anti-poverty programs in developing countries. Journal of Economic Perspectives, 32(4), 201-26.

Sumber: https://doi.org/10.1257/jep.32.4.201

Jumat, 06 Agustus 2021

Buku-Buku Si Stephen

Ngelist buku-buku yang dibaca Stephen King buat perbandingan:
    Peter Abrahams, A Perfect Crime
    Peter Abrahams, Lights Out
    Peter Abrahams, Pressure Drop
    Peter Abrahams, Revolution #9
    James Agee, A Death in the Family
    Kirsten Bakis, Lives of the Monster Dogs
    Pat Barker, Regeneration
    Pat Barker, The Eye in the Door
    Pat Barker, The Ghost Road
    Richard Bausch, In the Night Season
    Peter Blauner, The Intruder
    Paul Bowles, The Sheltering Sky
    T. Coraghessan Boyle, The Tortilla Curtain
    Bill Bryson, A Walk in the Woods
    Christopher Buckley, Thank You for Smoking
    Raymond Carver, Where I’m Calling From
    Michael Chabon, Werewolves in Their Youth
    Windsor Chorlton, Latitude Zero
    Michael Connelly, The Poet
    Joseph Conrad, Heart of Darkness (Free eBook – Gutenberg / Kindle)
    K.C. Constantine, Family Values
    Don DeLillo, Underworld
    Nelson DeMille, Cathedral
    Nelson DeMille, The Gold Coast
    Charles Dickens, Oliver Twist (Free eBook – Gutenberg / Kindle)
    Stephen Dobyns, Common Carnage
    Stephen Dobyns, The Church of Dead Girls
    Roddy Doyle, The Woman Who Walked into Doors
    Stanely Elkin, The Dick Gibson Show
    William Faulkner, As I Lay Dying
    Alex Garland, The Beach
    Elizabeth George, Deception on His Mind
    Tess Gerritsen, Gravity
    William Golding, Lord of the Flies
    Muriel Gray, Furnace
    Graham Greene, A Gun for Sale (aka This Gun for Hire)
    Graham Greene, Our Man in Havana
    David Halberstam, The Fifties
    Pete Hamill, Why Sinatra Matters
    Thomas Harris, Hannibal
    Kent Haruf, Plainsong
    Peter Hoeg, Smilla’s Sense of Snow
    Stephen Hunter, Dirty White Boys
    David Ignatius, A Firing Offense
    John Irving, A Widow for One Year
    Graham Joyce, The Tooth Fairy
    Alan Judd, The Devil’s Own Work
    Roger Kahn, Good Enough to Dream
    Mary Karr,  The Liars’ Club
    Jack Ketchum, Right to Life
    Tabitha King, Survivor
    Tabitha King, The Sky in the Water
    Barbara Kingsolver, The Poisonwood Bible
    Jon Krakauer, Into Thin Air
    Harper Lee, To Kill a Mockingbird
    Bernard Lefkowitz, Our Guys
    Bentley Little,  The Ignored
    Norman Maclean, A River Runs Through It and Other Stories
    W. Somerset Maugham, The Moon and Sixpence (Free eBook – Gutenberg)
    Cormac McCarthy, Cities of the Plain
    Cormac McCarthy, The Crossing
    Frank McCourt, Angela’s Ashes
    Alice McDermott, Charming Billy
    Jack McDevitt, Ancient Shores
    Ian McEwan, Enduring Love
    Ian McEwan, The Cement Garden
    Larry McMurtry, Dead Man’s Walk
    Larry McMurtry and Diana Ossana, Zeke and Ned
    Walter M. Miller, A Canticle for Leibowitz
    Joyce Carol Oates, Zombie
    Tim O’Brien, In the Lake of the Woods
    Stewart O’Nan, The Speed Queen
    Michael Ondaatje, The English Patient
    Richard North Patterson, No Safe Place
    Richard Price, Freedomland
    Annie Proulx, Close Range: Wyoming Stories
    Annie Proulx, The Shipping News
    Anna Quindlen, One True Thing
    Ruth Rendell, A Sight for Sore Eyes
    Frank M. Robinson, Waiting
    J.K. Rowling, Harry Potter and the Chamber of Secrets
    J.K. Rowling, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
    J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone
    Richard Russo, Mohawk
    John Burnham Schwartz, Reservation Road
    Vikram Seth, A Suitable Boy
    Irwin Shaw, The Young Lions
    Richard Slotkin, The Crater
    Dinitia Smith, The Illusionist
    Scott Spencer, Men in Black
    Wallace Stegner, Joe Hill
    Donna Tartt, The Secret History
    Anne Tyler, A Patchwork Planet
    Kurt Vonnegut, Hocus Pocus
    Evelyn Waugh, Brideshead Revisited
    Donald Westlake, The Ax

    Peter Abrahams, End of Story
    Peter Abrahams, The Tutor
    Aravind Adiga, The White Tiger
    Kate Atkinson, One Good Turn
    Margaret Atwood, Oryx and Crake
    Mischa Berlinski, Fieldwork
    Benjamin Black [pseudo.], Christine Falls
    Peter Blauner, The Last Good Day
    Roberto Bolaño, 2666
    David Carr, The Night of the Gun
    John Casey, Spartina
    Michael Chabon, The Yiddish Policemen’s Union
    Lee Child, The Jack Reacher novels, starting with Killing Floor
    Michael Connelly, The Narrows
    Mark Costello, Big If
    Michael Cunningham, The Hours
    Mark Z. Danielewski, House of Leaves
    Junot Diaz, The Brief Wondrous Life of Oscar Wao
    Richard Dooling, White Man’s Grave
    David Downing, Zoo Station
    Andre Dubus, The Garden of Last Days
    Leif Enger, Peace Like a River
    Frederick Exley, A Fan’s Notes
    Joshua Ferris, Then We Came to the End
    Jonathan Franzen, Strong Motion
    Jonathan Franzen, The Corrections
    Neil Gaiman, American Gods
    Meg Gardiner, Crosscut
    Meg Gardiner, The Dirty Secrets Club
    William Gay, The Long Home
    Robert Goddard, Painting the Darkness
    Sara Gruen, Water for Elephants
    Steven Hall, The Raw Shark Texts
    Mark Helprin, A Soldier of the Great War
    Charlie Huston, The Hank Thompson Trilogy
    Denis Johnson, Tree of Smoke
    Garrison Keillor (ed), Good Poems
    Sue Monk Kid, The Secret Life of Bees
    Chuck Klosterman, Fargo Rock City
    Stieg Larsson, The Girl with the Dragon Tattoo
    John le Carré, Absolute Friends
    Dennis Lehane, The Given Day
    Elmore Leonard, Up in Honey’s Room
    Jonathan Letham, The Fortress of Solitude
    Laura Lippman, What the Dead Know
    Bentley Little, Dispatch
    Bernard Malamud, The Fixer
    Yann Martel, Life of Pi
    Cormac McCarthy, No Country for Old Men
    Ian McEwan, Atonement
    James Meek, The People’s Act of Love
    Audrey Niffenegger, Her Fearful Symmetry
    Patrick O’Brian, The Aubrey/Maturin Novels
    Stewart O’Nan, The Good Wife
    Joyce Carol Oates, We Were the Mulvaneys
    George Pelecanos, Hard Revolution
    George Pelecanos, The Turnaround
    Tom Perrotta, The Abstinence Teacher
    Jodi Picoult, Nineteen Minutes
    DBC Pierre, Vernon Little God
    Annie Proulx, Fine Just the Way It Is
    Michael Robotham, Shatter
    Philip Roth, American Pastoral
    Philip Roth, The Plot Against America
    Salman Rushdie, Midnight’s Children
    Richard Russo, Bridge of Sighs
    Richard Russo, Empire Falls
    Dan Simmons, Drood
    Dan Simmons, The Terror
    Curtis Sittenfeld, American Wife
    Tom Rob Smith, Child 44
    Scott Snyder, Voodoo Heart
    Neil Stephenson, Quicksilver
    Donna Tartt, The Little Friend
    Leo Tolstoy, War and Peace
    Joseph Wambaugh, Hollywood Station
    Robert Warren Penn, All the King’s Men
    Sarah Waters, The Little Stranger
    Mark Winegardner, Crooked River Burning
    Mark Winegardner, The Godfather Review
    David Wroblewski, The Story of Edgar Sawtelle
    Richard Yates, Revolutionary Road

Kamis, 05 Agustus 2021

Significant One

Someone ever told me: "bro, i have a life advice for you: dont ever make ur friend bcome ur significant one. sometime u need a place or time to be alone. and sometimes ur significant one cant understand it." Okay, thanks btw, I will note it in my mind.

1 Agustus 2021

Rabu, 04 Agustus 2021

IKEA

Mau nyatet apa yang bisa kuteladani dari Bapak Ingvar Kamprad, pendiri IKEA:

"Time is your most important resource. You can do so much in ten minutes. Ten minutes; once gone is gone for good."

"To design a desk which may cost $1,000 is easy for a furniture designer but to design a functional and good desk which shall cost only $50 can only be done by the very best."

 "A better everyday life means getting away from status and conventions -- being freer and more at ease as human beings."

"I'm a bit tight with money, but so what? I look at the money I'm about to spend on myself and ask myself if IKEA's customers can afford it... I could regularly travel first class, but having money in abundance doesn't seem like a good reason to waste it.. If there is such a thing as good leadership, it is to give a good example. I have to do so for all the IKEA employees."

"Simple routine have a greater impact. It is not just to cut costs that we avoid luxury hotels. We do not need fancy cars, posh titles, tailor made uniforms or other status symbols."

"I'm stingy and I'm proud of the reputation."

...IKEA people......

Ada  lima filosofi bisnis IKEA:

1. Bentuk (form): produk tak sekedar indah, tapi juga menjadikannya hidup dan menyenangkan.

2. Fungsi (function): produk yang mudah dan banyak manfaat.

3. Kualitas (quality): produk yang bertahan lama, tidak bolak-balik beli.

4. Keberlanjutan (sustainability): produkmengubah hidup jadi mudah di rumah.

5. Murah (low cost): produk bersaing harga.



"...menjembatani kesulitan dengan kemauan dan ketekunan." (Sumber: Detik)

"Ingvar pun terus mencoba berbagai kegiatan, dari menjual ikan hingga membuat dan menjual kartu Natal. Ini adalah sekolah kehidupan yang sebenarnya, Ingvar tidak terlatih untuk melakukan bisnis, juga tidak membaca buku untuk berdagang." (Sumber: Detik)

"Ingvar Kamprad tahu bahwa tokonya menawarkan segala hal yang penting bagi pelanggan di mana mereka bisa mendapatkan sensasi visual dan sentuhan dan kesenangan nyata berada di sana." (Sumber: Detik)

Minggu, 01 Agustus 2021

My Neighbor Totoro (1988): Visi Kesederhanaan yang Kuat

Ini tontonan keluarga kelas wahid yang sepatutnya ditonton. Kisah keluarga yang begitu manis, ayah yang begitu baik, ibu yang begitu kuat, dan anak-anak yang begitu lucu-lucu. Aku suka film ini. Mereka bagiku adalah prototipe keluarga yang ideal, tak lebai, dan tak terlalu mengglorifikasi keluarga tapi justru rasa kekeluargaannya lebih sampai, beda memang kalau kamu nonton film Indonesia NKCTHI misal. Dinamika kakak-adik antara Satsuki dan Mei inilah yang menjadi benang merah cerita.

Tokoh Sastuki (10th), kakak yang bertanggungjawab dengan adiknya Mei (4th), adik yang sangat aktif, kreatif, dan suka mengeksplorasi lingkungannya; mereka berdua tokoh-tokoh yang begitu mudah untuk disukai. Apalagi kalau keduanya berteriak, lucu, haha. Setelah kepindahan di rumah hantu, haha, ya, bisa dibilang begitu, di sebuah perdesaan di Jepang, ngingetin aku sama sawah-sawah di Magelang, wkwk. Membuat matamu segar.

Mei suatu hari tersesat di pondoknya Totoro, aku gak tahu ini makhluk atau hantu jenis apa, yang jelas dia serupa boneka besar berbulu banyak yang peluk-able. Hei, bukankah di Jepang ada pulau khusus yang dinamakan pulau hantu ya? Di mana banyak legenda hantu di kota itu, hmmm. Totoro ini memang ikonik sih, dia itu wajahnya serupa kucing, tapi posturnya serupa panda bertangan dan berkaki pendek, dengan warna abu-abu campuran krem. Makanan Totoro sepertinya biji-bijian, macam biji pohon oak. Saat malam Totoro membunyikan sulingnya di atas pohon.

Aku suka dengan imajinasi di film ini. Imajinatif yang gak imajinatif-imajinatif banget. Bagaimana sosok Totoro sendiri, bagaimana Mei tersesat seperti tersesatnya Alice di Wonderland, lalu dengan bus kucing super-lutju dan imut itu, dengan tumbuhnya pohon begitu cepat. Dan tak mengabaikan kebudayaan lokal seperti memberi hormat pada hutan, pada pohon, pada patung-patung.

Juga rasa cinta yang indah dan tulus antara kakak ke adik, antara ayah ke anak, antara anak ke orangtua ibu/bapak, antara anak ke tetangga, antara anak ke guru dan teman kelas. Kisah-kisah itu membuatku merinding, rasa-rasanya sangat manusiawi. Lihatlah bagaimana ketika Sastuki dan Mei menjemput ayahnya yang seorang arkeolog pulang dari laboratoriumnya; bagaimana si anak kecil laki-laki meminjami Sastuki payung dengan malu-malu; bagaimana seorang guru menerima Mei ikut ke dalam kelas Satsuki dan teman-teman di kelas itu menyambut dengan baik; bagaimana nenek dan tetangga saling membantu kala salah satu dari mereka hilang; bagaimana kegigihan Satsuki sebagai kakak mencari Mei yang hilang; bagaimana Mei dengan perasaan murninya ingin memberikan sepotong jagung bagi ibunya yang sakit di rumah sakit...Masterpiece-nya Studio Ghibli memang :)

Dan di balik film ini ternyata terinspirasi dari kisah kreatornya, Hayao Miyazaki. Dia memiliki ibu yang sakit di rumah sakit, sebagaimana ibu Mei dan Satsuki. Dan kau juga dengar bagaimana musiknya kan, bagaimana film ini bisa mengalih mediakan suara alam ke suara film. 

Di My Neighbor Totoro aku rasanya benar-benar belajar banyak. Bahwa membantu orang lain itu gak serumit itu lho, bahwa perjuangan dan perhatian itu bisa dilakukan dari hal yang sederhana dan keseharian. Semisal ketika Mei dan Satsuki menjemput ayah pas hujan di halte. Atau ketika sang ayah mengajak Mei dan Satsuki bersepeda. Di film ini juga tidak ada penjahat sebagaimana kau menemukan berbagai tokoh antagonis lainnya di banyak film. Semua manusia di film ini diceritakan dan dikarakterkan dengan wajar.

Strawberry Surprise (2014): Hidup Serupa Stawberry

Buku Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma jadi vokal poin literatur dalam film ini. Film yang diangkat dari novelnya Mbak Desi Puspitasari dengan judul yang sama. Dan selalu, akting Reza Rahardian yang bertindak sebagai Timur (oh namanya Timur!) tak pernah mengecewakan. Premis film ini kalau boleh kurangkum seperti ini: Aggi mencari cinta sejati tetapi dia tak tahu apa yang dia mau, sehingga dia secara tak sadar menguji Timur hingga akhirnya mereka menikah.

Sebagaimana dikatakan film, hidup seperti strawberry. Kita tak tahu strawberry rasa apa yang kita makan, kita mungkin berharap akan menemukan strawberry yang manis, tapi justru asam, pahit, hingga busuk yang kita temukan. Dan di suatu kondisi, mau tidak mau harus kita telan. Juga yang penting: Dalam hidup, kamu haru tahu apa yang kamu telan.

Strawberry Surprise

Dan film ini tentu sangat dekat karena mengambil latar Jogjakarta dengan semua landmark-nya. Aduh, jadi penasaran lokasi jembatan dan sungai yang dipakai di film itu di mana yaa, haha. Tapi yang pasti, galeri yang dipakai adalah basecamp-nya Kelas Pagi Yogyakarta. Fresh art therapy spot. Gaes, film ini ngasi kamu ide tempat-tempat di Jogja yang asyik buat nge-date, wkwk.

Film ini ringan dan menghibur sebagaimana kamu makan strawberry. Banyak hal-hal segar, sebagaimana straberry. Juga pelajaran terkait relasi antara perempuan dan laki-laki. Cinta memang sebegitu bodohnya, hingga orang mengikuti yang dicintai meski yang dicintai tak memberi respons yang seimbang. Cukup sedih semisal aku ada di posisi Indah (Olivia Jensen), ketika Timur main band, Indah ikut main band. Ketika Timur pindah kerja, Indah ikut pindah di tempat yang sama. 

Ya ampun, itu bikin capek sekali, semoga aku tak melakukan hal bodoh semacam itu. Cukuplah Indah menjadi pelajaran. Well, well, well, dikatakan pula kalau cinta itu ada tiga jenis: cinta yang kita semua inginkan, cinta yang datang dan pergi, cinta yang sejati. Indah cukup goblok untuk tinggal di kategori cinta nomer dua. Tak bisa diharapkan.

Tapi ada yang lebih bodoh, memiliki pacar yang serupa Wisnu, yang bilang ke pacarnya sendiri begini: "Apasih yang bisa kamu banggain dari hidup kamu? Karya, apa, karya kamu biasa aja. Tampang kamu, kamu cuma cewek yang merasa paling cantik di dunia." Kalau jadi Aggi (Acha Septriasa), aku sepakat mengatakan mulut Wisnu memang busuk. Udah ngatur-ngatur, gak sabaran, judge-nya tingkat poison dan toxic

Tapi ya begitulah, banyak perempuan hakikatnya sama: takut ditinggal. Anggi takut ditinggal Timur setelah dia pacaran kanan, pacaran kiri, pacaran tengah. Dan dia tahu belum ada yang sebaik Timur. Tapi Aggi gak tahu apa yang dia mau, dan itu parah banget. Dia seret Timur ke sana, dia seret Timur ke sini, tapi Aggi gak tahu mau ke mana. Dia gak berani ambil risiko. Mbak Anita cukup bijak: "Timur tidak akan pernah sekali seperti mereka (mantan-mantan Anggi yang brengsek-brengsek-pen)."

Tentu Timurlah protagonis di film ini. "Gak, sebenarnya yang kamu takutin itu apa?" Pertanyaan itu nempel banget di kepalaku. Trus disusul suatu resolusi: "Lebih penting komitmen kamu sih. Ya udah, makan ya makan aja. Apa yang ditakutin?" Oke, kakak Timur, noted!!!