Senin, 14 Juli 2014

Kalimat Sederhana Untuk .....

1.
Aneh, sepi, berisik, sakit..
Merenda kata yang terpaku pada udara yang menemani alunan musikmu
Bahagia, sumringah..
Ah, aku tak tahu bagaimana menjadi puitis
Menjadi untaian tadarus yang mengisyaratkan rasa (atau cinta) ini
Ah, kamu tak tahu ya?
Ya sudah, nggak papa
Hanya dengan melihatmu saja
Aku sudah senang

2.
Aku sedang belajar menghidupkan benda mati
Aku sedang mempelari yang ada menjadi tiada
Seperti keyboard dan layar ini yang bicara
Aku takut
Aku ragu
Nulis ini
Lain kali aku harus hati-hati
Agar tidak ada yamg mencurigai
Ha ha ha
Mereka
Sahabatmu
Dapatkah ia mengatakan sesuatu ke kamu?
Tentang hati yang mengapung-apung menuju pelabuhanmu?
Maaf ya sok puitis

Jogja, 13 Juli 2014

Minggu, 13 Juli 2014

Bukber Bareng Ayah Pidi Baiq di Halaman KR 2014

Sekitar jam setengah empat aku main ke Sanggar Teater Eska. Aku dapat info dari mas Sabiq ada akustikan Ayah Pidi Baiq di halaman Kedaulatan Rakyat (KR) sekaligus buka bersama dengan orang ikhlas se-Jogja. Mas Sabiq bilang di SMS kalau mau on foot kesananya. Yang ikut ternyata banyak, ada satu anak Eska cewek yang baru kukenal bernama mbak Sayu naik sepeda motor. UIN – KR lumayan jauh juga sih, trus aku diajak boncengan sama dia. Nggak jadi on foot deh, haha, meski yang  on foot (mas Sabiq dan Eska’s family) banyak juga.

Pas sampai di KR, wah, kejutan banget. Ada seseorang yang pengen aku temui di UIN, aku temui disini, wajahnya ku kenal sekali. Ya, teman FB yang inspiratif, tapi aku tak berani meyapanya. Setelah belasan bulan lamanya, baru lihat sore ini. Ia datang bersama temannya yang sesama penulis, yang bikin ngiri temannya itu datang kesana bawa buku dan masih nyempetin baca buku. Lelucon Jogja-nya, bajigur…

Aku sama mbak Sayu duduk di belakang (nggak jauh dari teman FB-ku itu. Ya, semoga dia tak mengenalku, tapi aku ragu) karena nggak bawa ta’jil buat buka akhirnya kita nyari mart terdekat buat beli minuman. Usai nyari minum kita balik ke depan KR, dan Alhamdulillah on foot mans-nya udah pada datang, mas Sabiq, mas Harik, mas Hilman, mas Abdillah, mas Habib, mas Sholeh, dll.

Kita ngumpul, trus tak kusangka tiba-tiba ayah Pidi berjalan di depanku menuju panggung makai kemeja warna putih (khas kampanye, haha) dan kupluk khas-nya itu. Lalu, kami merapat di depan panggung. Meski berdesak-desakan, kita nonton di depan euy, haha.

Ada empat lagu yang dibawakan ayah Pidi. Lagu pertama itu tentang anjing dan kucing, entah apa judulnya. Kata Ayah, “Anjing tidak pernah mengerti dia disebut anjing. Begitu juga kucing, harimau, dll. Ya begitulah manusia, suka ikut campur urusan Anjing”. Haha. Liriknya gini: //Kupunya anjing. Kuberi nama kucing. Bila kupanggil kucing dia mengonggong menghampiriku juga. Anjing adalah musuhnya kucing. Dia memusuhi diri sendiri.

Usai nyanyi itu ayah bilang: “Lagu ini menjelaskan untuk memerangi musuh, yaitu musuh yang ada dalam diri kita sendiri”; “Saya tidak pernah mencoba lebih baik dari orang lain, tapi saya mencoba lebih baik dari diri saya kemarin”. Yap, super sekali, Pidi Teguh Broken Ways, haha…

Lagu kedua, judulnya ayah konda. Kocak banget. Kamu bakal ngakak aja dengerinnya, dan bakal membayangkan sesuatu absurd yang hanya ibu yang tahu. Banyak hal romantis yang diceritakan ayah Pidi, seperti, ayah itu pernah nulis surat pada istrinya, dikirim ke kantor pos ke rumahnya sendiri. Tapi pas nyampe, dia sendiri yang nerima, haha, konyol. Ayah bilang itu romantis. Lalu, ayah juga sering ngirim e-mail ke istrinya, meski satu rumah gitu, hahaha. Ada nggak, suami yang kayak gitu lagi? Haha.

Ayah juga bilang, kalau kamu suka dan cinta pada seseorang, “Buatlah dia bahagia, jangan banyak kau gombali dengan kata cintamu. Kalau setiap hari kau mengatakan cinta dia akan bosan. Tapi kalau setiap hari dia kau buat bahagia, siapa coba yang bosan?”. So sweet banget!

Lagu ketiga itu tentang Nia, sesorang yang pernah ayah sukai dulu. Masih dengan lirik yang kocak dan easy listening. Terus, usai nyanyi sesinya, Tanya jawa-tanya jawab.

Ada orang yang bertanya tentang sebenarnya kepribadian Ayah di depan teman,keluarga itu seperti apa sih? Ayah menjawab:

Setiap orang itu berbeda-beda. Bayangkan, kalau kamu menjadi se-ekor kucing jangan mengonggong karena mengonggong lagi trend. Kalau kamu jadi se-ekor bangau jangan kau membeli surai agar kau tampak seperti harimau. Kalau kau jadi se-ekor tikus, jangan menggunakan mantel manusia agar kau berlagak seperti manusia dan meninggalkan comberan padahal itu tempatmu yang nyaman.
“Untuk membuat dirimu kreatif itu tidak perlu ikut seminar kreativitas. Nanti kamu ikutin apa yang dibicarakan pembicaranya kamu jadi nggak kreatif. Kreatif itu adalah dampak karena kamu menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu se-ekor bangau dan kamu tahu tinggalnya di rawa kamu akan tahu bahwa kakimu akan panjang, benar nggak? dan akan jelas kamu akan berbeda dengan harimau, betul? Kalau kamu se-ekor lalat badanmu akan menyesuaikan lingkunganmu. Maka kamu adalah ciri khasmu. Jangan-jangan kamu jelek bukan karena kekurangan tapi ciri khasmu. Karena kalau kamu ganteng, kamu bingung ini siapa?
“Orang hebat itu bukan yang kuat dan taat, tapi yang bisa menyesuaikan dengan keadaannya. Kalau menjadi se-ekor kecoak jangan jadi kecoak yang baik nanti kamu bukan lagi kecoak, jadilah kecoak yang membuat ibu-ibu yang suka berdandan menjadi menjerit. Begitu juga se-ekor tikus dia menjijikkan, jangan jadi tikus indah, karena bukan tikus lagi.
“Setan itu beribadahnya berbuat salah. Kau tak boleh melarang setan menggodamu. Ketika nabi dihina orang, aku tanya dulu siapa yang menghina? Musuh bukan? Iya musuh. Pantaslah musuh tugasnya menghina. Kalau musuh memuji-muji, kamu curigai dia.”

Ada cerita lucu lagi, saat ujian kan ayah nggak bisa njawab, lalu diisi kertas itu dengan jawaban “Allahu ‘alam”, katanya kalau guru itu menyalahkan berarti dia murtad, hahaha. Sekolah mengajari kita percaya diri, tapi saat ujian ada kunci jawaban. Kebenaran ada di luar dirinya, bukan dalam dirinya. Atau kisah anak ayah si Timur, ia malu saat tampil di depan orang banyak, malu pada penonton, lalu ayah bilang, “Kamj jangan malu, yang harusnya malu itu penonton. Bisanya cuma nonton. Tapi kalau kamu tahu suaramu jelek dan nekat tampil itu memerlukan kekuatan mental yang besar”, haha, kacau!

Konser akustikan hari ini diakhiri dengan lagu tentang Nia lagi, tapi kisahnya ditolak. Haha. Magrib telah berkumandang, lalu panitian menginstruksikan untuk mengambil kupon angkringan, buat buka bersama bareng. Dan, mengantrilah kita, makan bareng-bareng lesehan. Nikmat sekali!
Di sisi sana, ayah Pidi sedang kebanjiran para fans yang minta foto dan tanda tangan. Usai makan, mas Abdillah dan mbak Sayu minta tanda tangan juga. Lalu, disusul mas Sabiq, hal lucu terjadi, saat semua ngantri tanda tangan di buku ayah Pidi, mas Sabiq minta tanda tangannya di buku kwarto merah isi 200, Ayah ketawa, mungkin di otaknya, “Ini apa gitu?” ketawanya bersahabat banget. Kalau mas Abdillah beda lagi, dia minta tanda tangannya di kaos, trus mas Sholeh ikut-ikutan deh, haha. Berhubung kamera HP ku nggak ber-standar saat dipakai buat foto malam, sebagai kenang-kenangan juga, aku buka note kecilku, aku minta tanda tangan juga. Lalu, aku cium tangan ayah dan aku ajak salaman. Ayah Pidi nepuk pundakku sambil bilang, “Semoga sukses” ahhh, senang sekaliii, aamiin.
Tanda Tangan Ayah Pidi
Lalu, setelah kenyang, istirahat sebentar. Kita pulang. Aku milih jalan kaki aja sama anak-anak Eska yang lain. Pengen aja malam minggu jalan-jalan menikmati udara Jogja. Kapan lagi coba bisa kayak gini? Ya, bertujuh kita jalan kaki: aku, Mas Sabiq, mas Harik, mas Abdillah, mas Hilman, mas berbaju putih, dan mas berbaju biru. Diajak main juga ke oulet biz.net, disana ngobrol, ngopi, bercanda, dll. Kita juga ditemani rintik-rintik hujan yang turun lembut sekali.
Terima kasih Allah untuk hari ini.

Jogja, 12 Juli 2014

Sabtu, 12 Juli 2014

Review Film “The Secret Life of Walter Mitty”


Motto Perusahaan
Yap, agak freaky emang nih film. Haha. Bercerita tentang sebuah perusahaan majalah. Nama majalahnya sendiri “LIFE”. Motto dari perusahaan ini sangat menantang sekali, To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each others and to feel. That is the purpose of LIFE”. Sayangnya, karena sesuatu hal, perusahaan dalam wujud kertas ini mau tutup (akan beralih ke produk digital)  dan akan mengeluarkan edisi akhir majalah. Cover terakhir dari majalah LIFE ini sangat spesial, karena merupakan intisari dari akumulasi perjalanan LIFE. Ada 25 foto negatif yang dikirimkan orang bernama Sean O’Connell, dia seorang fotografer, dan foto ke-25 lah yang rencananya akan dijadikan cover.

Tokoh utamanya adalah Walter Mitty. Seorang dreamy man, yang suka mengkhayalkan hal-hal yang tinggi, aneh, dan tidak masuk akal. Seorang pekerja yang dedikatif, yang sudah 16 tahun bekerja di LIFE sebagai layouter dan duduk di bagian perfotoan. 

Masalah terjadi, foto yang dikirimkan Sean yang nomor 25 tidak ada! Walter bingung, sudah berjuta foto masuk di mejanya, tapi baru satu ini hilang. Ia cari negatif foto itu di tempat kerjanya bersama sahabatnya, tapi tidak ada.

Akhirnya, Walter memutuskan untuk mencari dimana keberadaan Sean, fotografer bebas. Masalahnya juga mencari Sean tidak gampang, hidupnya dimana-mana, sehari di belahan bumi sini, sehari di belahan bumi sana. Lalu, melalui 24 foto lain yang diberikan Sean. Dicetak dan dipelajari foto-foto itu, ada teka-teki dan petunjuk yang tersimpan. Ia diskusikan ini bersama salah satu pekerja wanita bernama Cheryl Melhoff yang diam-diam Walter mencintainya. Cheryl ini punya anak satu bernama Richy, Cheryl baru sebulan bekerja di LIFE dan terancam PHK karena penutupan perusahaan. Kisah cinta Cheryl dan Walter ini lucu gitu, haha. Apalagi lamunan Walter, dari dia nolong Cheryl dan anjingnya pas lagi ada bom di sebuah perkotaanlah, atau tiba-tiba Walter jadi manusia kutub yang memberi Cheryl bunga-lah, atau Walter pengen berubah jadi Benjamin Button yang mengecil dan menua bersama Cheryl dan mati di samping Cheryl, unik banget imajinasi dia. Atau kegalauan dia saat mengirim “kedipan” di media sosial bernama e-harmony (sejenis “colek” kalau di fesbuk), dia galau nge-klik, iya-enggak-iya-enggak, haha.

Petualangan pun dimulai. Dari teka-teki foto-foto dan diskusinya dengan Cheryl. Dia sampai di sebuah pelabuhan terpencil gitu. Ia datangi café dan bertemu dengan seorang penyanyi laki-laki besar yang mengajaknya bernyanyi tapi Walter tidak mau. Terjadilah perkelahian, saat jempol laki-laki besar ini dekat dengan mata Walter, ia menemukan teka-teki lagi. Jempol ini sama dengan salah satu dari 24 foto. Perkelahian berhenti dan dua orang ini ngobrol-ngobrol. Laki-laki ini bercerita jika Sean pernah datang ke café itu, tapi dia pergi naik perahu gitu. Kebetulan laki-laki besar ini mau mengirim sebuah radio komunikasi gitu ke sebuah perahu dengan naik pesawat pribadi. Namun, laki-laki ini mabuk. Café ini cukup gila, masak satu porsi gelas bir ukurannya 2 literan, bentuk gelasnya sepatu besar gitu. Walter ragu, lalu imajinasinya datang. Ia melihat Cheryl tengah menyanyi lagu untuknya, menuntunnya ke arah pesawat, lalu saat pesawat on, Walter berlari dan melompat ke dalam pesawat. Nyaris tertinggal. Saat pesawat sampai di tengah lautan, laki-laki besar itu menyuruh Walter untuk melompat ke bawah. Walter ketakutan, melompatlah dia. Dia terapung-apung di laut, lalu ada ikan hiu yang nyaris melahapnya, untungnya ditolong oleh awak-awak kapal.

Di kapal itu ia menemukan petunjuk lagi. Dari bungkus roti ada tulisan tempat-tempat yang Sean datangi untuk berfoto, lalu didatangilah tempat itu.

Walter lalu tersesat di Islandia! Ia harus balapan memperebutkan sepeda dengan orang-orang laut saat sampai di dermaga, karena cuma satu-satunya sepeda. Naiklah ia, lalu saat sampai di savana hijau yang indah, dia melihat burung-burung banyak terbang. Lalu burung-burung itu membentuk formasi wajah Cheryl hingga tak sadar Walter menabrak sebuah tiang dan terloncat. Karena sepedanya rusak, ia memutuskan berjalan. Lalu ia bertemu dengan anak yang membawa skateboard, Walter teringat dengan Richy (anak Cheryl) yang ingin skateboard seperti itu. Lalu ia membuat penawaran pada si anak, boneka Armstrong miliknya untuk ditukar denga Skateboard itu, anak itu mau.

Dipakailah skateboard itu untuk mengarungi savana Islandia yang hijau dan indah. Ia datangi hotel tempat Sean menginap, tapi Sean sudah pergi di pegunungan gitu. Lalu Walter mencari lagi, naas, erupsi gunung terjadi. Walter pun berpetualangan di tengah erupsi itu.
Walter saat di Himalaya
Hingga akhirnya deadline pun tiba. Walter belum menemukan foto itu. Bosnya yang baru memecatnya. Di rumah, ia menemukan petunjuk lagi dalam piano ibunya. Lalu Walter bertanya pada sang ibu tentang Sean. Ibunya pun mengatakan keberadaan Sean. Ternyata Sean ada di Afganistan! Di pegunungan Himalaya! Dan berangkatlah Walter kesana. Petulangan dan pemandangan indah terjadi dalam scene ini. Ia bertemu penduduk asli Himalaya, mendaki bersama mereka, hingga ia pergi sendiri mencari Sean.

Dan, pencariannya pun membuahkan hasil. Ia bertemu Sean yang tengah duduk manis di belakang kamera, menunggu leopard salju (the ghost cat) datang. Walter ceritakan semua yang terjadi pada Sean, khusunya tentang dimana foto ke-25 itu? Sean pun menjawab foto itu ada di dalam dompet bersamaan dengan 24 foto lain tapi terpisah. Itu kado spesial Sean untuk Walter. Namun telat, dompet itu telah dibuang Walter di tempat sampah saat ia depresi dulu. Ia pun sedih. Lalu ia pulang.

Tak terduga, setiap pernak-pernik Walter selalu disimpan ibunya. Termasuk dompet yang Walter buang ketika ibunya memasak. Lalu, setelah ditemukan negatif foto itu, ia ke kantor dan memberikan foto itu kepada bosnya yang baru ketika rapat. Awalnya Walter tak diterima karena ia bukan lagi karyawan, ia bilang niatnya hanya ingin memberikan foto itu. Walter juga bertanya pada bosnya yang baru, “apa motto LIFE?”. Bosnya bilang, “Im Lovin It” yang jelas-jelas itu motto Mc. Donald, lalu Walter keluar.

Saat ngambil gaji akhirnya gitu, ia melihat Cheryl, dikejarlah wanita itu dan ia ungkapkan perasaan sesungguhnya. Cheryl salting, nggak ada kejelasan disini. Tapi kemudian mereka jalan berdua. Di jalan ada toko majalah, mereka berdua pun melihat edisi terkakhir dari majalah LIFE. Cover-nya adalah foto Walter Mitty: “Final Issue—Dedicated to the people who made it”.
Cover Akhir "LIFE"
Film ini cocok untuk ditonton para jurnalis. Menurutku, ia berbicara tentang dedikasi dan petualangan. Meski di bagian tertentu ada yang nggak nyambung.

Jogja, 12 Juli 2014

Kamis, 10 Juli 2014

Sedikit tentang Apa Itu “Pisau Analisa”

Berbulan-bulan sebenarnya saya dihantui dengan sebuah pertanyaan apa itu “pisau analisa?" Awalnya saya bertanya lewat SMS pada mas Opik, orang yang menurut saya kompeten dalam menjawab pertanyaan saya ini, saya juga bertanya pula tentang buku-buku apa saja yang harus saya baca kaitannya dengan hal ini? Namun, dia menjawab perlu face to face untuk menjelaskan ini. Sialnya saat itu mas Opik sedang membebaskan dirinya di Jakarta, entah kerja, entah ngapain. Pas  dia pulang ke Arena, saya sebenarnya pengen menagih ini, tapi nggak tahu kenapa nggak pernah sempat. Hingga akhirnya si orang gila (nan pintar) satu ini ngeluyur ke Bali, dan entah apa yang dia cari? Satu-satunya kenangan adalah saya dipinjami buku berjudul Kisah Katak dalam Belanga (buku provokatif dengan judul tidak provokatif) yang belum saya kembalikan.

Saya tidak puas kan. Akhirnya, saya searching di google. Kalau biasanya google jadi gudangnya wacana ini-itu, pas saya ketik “pisau analisa” jawaban yang saya temukan pun tak memuaskan. Saya sebenarnya mencari pengertian, disini saya temukan sekedar kata saja. Ada satu tulisan yang nyerempet sedikit. Nih web membahas tentang pisau analisa Marx (itu pun tidak lengkap). Ada juga web yang mengatakan tajamnya pisau analisa sejalan dengan kejujuran.

Dan baru kemarin jawaban itu saya temukan dari mbak Ichus. Saya pun cukup puas dengan penjelasan yang ia lontarkan. Berikut penjelasan mbak Ichus saat kami berdialog sambil jalan-jalan di pinggir jalan raya:

Pisau analisa itu analoginya kayak gini: Kamu sedang membahas tentang olahraga misalnya. Apa yang bisa kamu bahas jika kamu tidak mengetahui apa pun tentang olahraga? Tidak ada kan? Pisau analisa itu sebuah teori, wacana, gagasan untuk membedah suatu persoalan.

Ya, sesimpel itu sebenarnya. Mbak Ichus mencontohkan lagi, dalam rapat redaksi, Usman (redaktur) mengajukan isu atau persoalan tertentu. Tentang TKI misalnya. Jika kajianmu tentang feminis, secara spontan kamu akan menghubungkan kasus TKI ini dengan nasib perempuan. Jika kajianmu Marx, kamu akan menghubungkannya dengan buruh. Atau jika kajianmu tentang pendidikan, mungkin kamu akan menghubungkan produk pendidikan para TKI dengan teori-teori Paulo Freire. Beda lagi kalau kajianmu tentang psikologi TKI, teori mbah Freud mungkin bisa kamu dialektika-kan, dll.
***
Dalam KBBI sendiri, pisau berarti bilah besi tipis dan tajam yang bertangkai sebagai alat pengiris. Sedangkan analisa (analisis) memiliki beberapa pengertian: 1. Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb); 2. Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahaan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan; 3. penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya; 4. Pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan akan kebenarannya. Dari pengertian ini Anda dapat menyimpulkan sendiri apa itu pisau analisa (analisis). Pengertian simpelnya menurut saya pisau analisa adalah kerangka gagasan yang kita pakai untuk menganalisa dan mensintesa tema atau peristiwa tertentu (dalam upaya menemukan solusi).
***
Dari penjabaran saya di atas, sekarang sudah jelas pisau analisa itu apa sih? Saya juga bisa menyimpulkan sendiri buku-buku apa saja yang harus saya baca. Yakni, semua buku bagus untuk dibaca, tapi tidak semua wajib dan baik untuk dibaca, sayang waktunya. Mengetahui banyak beda dengan banyak mengetahui. Kalau pengen expert (pakar) dalam satu hal, fokus pada bacaan dan buku tentang kajian yang ‘benar-benar’ mau kita dalami. Mau ke pendidikan kek, sains, olahraga, sastra atau ke kesenian kek, silahkan.

“……usaha untuk mengenali semua khazanah itu adalah sebuah kerja yang menggembirakan. Waktu untuk menyadari jarak kebodohan dan kecerdasan amatlah pendek, sehingga saat manapun yang diletakkan dalam upaya menghilangkan kebodohan dan mengejar kecerdasan adalah selalu waktu yang berharga, waktu abadi. Dan justru dalam keabadian itu, Anda akan selalu sadar bahwa kita adalah sekedar manusia saja, dan bukan malaikat” saya kutip dari buku mas Opik yang saya pinjam di atas Kisah Katak dalam Belanga.

Jogja, 4 Juli 2014

Regards: @ismaswa

Selasa, 08 Juli 2014

Jangan Sampai Doamu Dibuat Mainan Jin

Ada yang menarik terkait ceramah di lab. agama brandal lokajaya tadi malam (7/7). Penceramahnya seingatku bernama pak zubaidi, dilihat dari retorikanya dia sepertinya seorang orator. Meski ceramahnya sedikit panjang (sampai hampir setengah jam) tapi ada hal keren yang didapat.

Jadi, pak Zubaidi ini membahas tentang topik lama yang dikemas menjadi baru, yaitu tentang doa. Kenapa sih doa kita itu tak terkabul? Beliau menceritakan tiap kita berdoa, kita menjadikan harapan sebagai tujuan. Misalnya saat membaca surat X sebanyak Y kali, kita berharap kita menjadi kaya, dan harapan kita menjadi kaya itu kita jadikan tujuan kenapa kita membaca surat X sebanyak Y kali. Atau ngggak jauh-jauh doa usai sholat aja, seberapa banyak sih yang dikabulkan? Kita sholat buat apa sih?
Dewasa ini (meski sudah dikatakan berulang-ulang) kita kehilangan inti dari ibadah yang kita lakukan. Terkait doa yang dijadikan tujuan, pak Zubaidi mengkritik itu. Di alam kita yang luas ini: 1/3 dihuni oleh manusia, di atasnya 1/3 dihuni oleh dunia jin, dan 1/3 di atasnya lagi dihuni oleh nabi penjaga langit, malaikat, dll. Nah, saat kita berdoa dan menjadikan doa itu sebagai tujuan dan melupakan esensi dari ibadah itu sendiri, pertanyaannya apakah sampai ke Allah? Jangan-jangan doa kita dijadikan main-mainan jin yang ada di atas kita? Lalu pak Zubaidi meenjelaskan panjang lebar juga tentang dunia jin baik di dunia sendiri sampai kerajaan besar di atas kita. Di dunia, jin disimbolkan bermacam-macam, di Mesir, India, Asia, penampakannya berbeda-beda. Ada yang lewat patung, perwujudan manusia, hewan, tumbuhan, dll. Atau biasanya menghuni di atas gunung, itu kenapa beberapa pesawat yang melewati gunung yang dihuni kerajaan jin pesawat bisa hilang. Jadi BAHAYA kan kalau doa kita dijadikan main-mainan jin? Atau paling mentok sampai di malaikat, dan doa itu pun harus mengantri dengan doa-doa bermilyar manusia yang ada di bumi. Padahal kalau dihitung secara sains (fisika), agar doa kita sampai ke langit itu membutuhkan berpuluh bahkan beratus tahun baru nyampai.

Masalahnya sekarang adalah seberapa dekat sih kita dengan Allah? Apa Allah itu kenal kita? Analoginya, mungkin kita kenal sama SBY tapi apa pak presiden SBY kenal sama kita? Kalau kita ke istana negara dan mengaku sebagai rakyat dia, apa dia mau nemuin kita? Belum tentu kan? Banyak protokol-protokol yang harus dilalui. Presiden aja gitu, apalagi sama sang penguasa kosmos coba? Nah, kedekatan kita dengan Allah-lah yang TERPENTING. Bukan karena agar doa kita terwujud kita dekat dengan Allah tapi karena esensi dari ibadah sendiri yaitu ibadah untuk beribadah. Dalam bahasa Jawa manunggaling kawula Gusti (menyatunya kita dengan Tuhan). Itu kenapa dia yang dekat dengan Tuhan, apa yang dia butuhkan (bukan apa yang dia mau) diberikan oleh Tuhan.

Berikutnya tentang simbolitas. Doa yang berupa simbolitas itu lebih mengena dan lebih garang dari verbalitas. Mungkin saya bisa mengatakan simbolitas mengalahkan verbalitas. Contoh sederhananya, ada pengemis dijalan mengadahkan tangan. Tanpa pengemis harus berkoar, “Buk, pak, saudara saya minta uang..” orang sudah mengerti kalau pengemis itu butuh bantuan. Atau pun seorang anak yang tiap hari dia minta terus sama orang tuanya ini-itu, lalu dibandingkan dengan seorang anak yang dia menunjukkan ketaatannya dengan simbol, dengan tindakan. Rajin belajarlah, suka membantu orang tua, dll. Orang tuanya lebih suka yang mana coba? Lebih besar mana peluang diberikan sesuatu? Begitu pun dengan berdoa. Kita hanya mengadah saja, Allah sudah tahu kamu minta sesuatu. Hanya mengadah saja nggak usah ngomong. Faktanya juga, sebagian besar ibadah-ibadah kita berupa simbolitas. Dalam sholat, puasa, zakat, haji, dll (lebih jauh teori simbol bisa dipelajari tulisan-tulisan Saussure, Pierce, atau Barthes).

Ini pun menjadi refleksi untuk diri saya pribadi: Ma, seberapa dekat kamu dengan Tuhan?

Jogja, 8 Juli 2014.

Jumat, 04 Juli 2014

Review Buku “Madre” Dee (Dewi Lestari)


Madre, buku ke-dua Dee yang aku baca (setelah Filosofi Kopi). Butuh waktu kurang lebih dua jam nyelesain buku ini. Kuambil dari banyaknya tumpukan buku sastra, filsafat, dan gender koleksinya mbak Ichus. Berikut review-nya:

Madre-Dee
Madre, bercerita tentang seorang anak muda bebas bernama Tansen Roy Wuisan yang diwarisi kedai kopi oleh kakeknya yang bernama Tan sin Gie. Awalnya, Tansen bingung saat tiba-tiba dia ada di pemakaman lalu datang seorang pengacara yang memberinya amplop yang berisi alamat. Lalu dia datangi alamat itu, sebuah toko tua di Jakarta kota. Saat ia pencet bel datanglah seorang kakek-kakek tua bernama pak Hadi. Lalu pak Hadi ini menceritakan tentang silsilah-silsilah keluarga Tansen, dari kakeknya Tan yang menikah dengan Lakshmi (neneknya Tansen). Dari pernikahan Tan dan Lakshmi lahirrlah Kartika, dan dari Kartika lahirlah Tansen. Pak Hadi juga bercerita tentang sebuah tempat yang mereka duduki sekarang. Sebuah toko roti bersejarah yang dulu bernama Tan de Bakker lalu berubah nama menjadi Toko Roti Tan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan munculnya toko roti modern, Toko Roti Tan tidak mampu bertahan. Untungnya sedikit dan tak mampu lagi membiayai karyawannya lalu toko ditutup. Pak Hadi juga bercerita tentang Madre. Tansen bertanya-tanya apa itu Madre? Madre yang dalam bahasa Spanyol berarti ibu ini adalah semacam resep rahasia roti Tan, dan itulah yang diwariskan pada Tansen. Lalu, pak Hadi juga mengajari Tansen membuat ulenan roti Tan, dan hanya dengan sekali coba, Tansen bisa membuat roti serupa enaknya dengan roti Tan, bakat yang hanya dipunyai oleh neneknya, Lakshmi.
Tansen bingung dengan perubahan hidup yang terjadi padanya. Dari pemuda bebas dengan pekerjaan serabutan di Bali kini diwarisi sebuah toko roti. Karena kegelisahannya ini tempat satu-satunya pelarian dia adalah menulis di blog. Ia ceritakan perubahan hidupnya di blog pribadinya dia. Esoknya, ada yang komen di blogya itu. Ia bernama Mei, lalu hubungannya itu berlanjut pada pertemuan di toko roti.
Mei ini seorang bos di Fairy Bread yang memiliki banyak gerai roti di Bogor dan Jakarta. Ia ingin membuat menu baru berupa roti klasik, dan saat mencoba roti buatan Tansen, Mei langsung tertarik dan berniat ingin membeli Madre seharga 100 juta.
Awalnya, tanpa berpikir panjang Tansen mau menjual itu. Namun, ia melihat kesedihan di mata pak Hadi yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di toko itu. Pak Hadi lalu membuat semacam reuni karyawan toko roti tan yang umurnya sudah pada uzur, 70-an tahun. Ada Bu Dedeh (yang dulu menjabat sebagai kasir), Pak Joko, Bu Sum, dan Bu Cory yang membantu pak Tan memasak di dapur. Mereka para artisan (orang yang skill-nya jago dalam mebuat roti) saling melepas rindu dan bersama lagi membuat roti. Saat itu Tansen tersadarkan jika dia tidak ingin menjual toko itu. Ia memutuskan hanya menerima orderan saja dari Mei.
Lalu, hiduplah toko roti itu. Namun, lama kelamaan Tansen gelisah karena ia tak tega membiarkan pak Hadi dkk yang sudah tua bekerja sekeras itu di umur mereka yang tua, kekuatan fisik mereka telah melemah. Tansen menceritakan masalahnya ini pada Mei. Lalu, terjalinlah hubungan yang intens antara Mei dan Tansen, diam-diam Tansen suka sama Mei dan pak Hadi dkk berkonspirasi mendekatkan Mei dan Tansen. Mei juga cerita tentang kesedihannya karena saat ia kecil, waktu ia main sepeda ia menjatuhkan resep rahasia kue klasik buatan Yeye (kakeknya) dari atas meja. Lalu, Mei membuat penawaran, Tan de Bekker dijual pada dia, tapi Madre tetap menjadi milik Tansen. Dan konsep kuno dari Tan de Bekker dibuat lebih modern, pekerjanya direkrut orang yang lebih muda, tapi pak Hadi dkk tetap bisa bekerja sesuai dengan shift mereka. Namanya juga diganti menjadi Tansen de Bekker. Toko roti ini pun berkembang. Dan seperti halnya Fairy Bread yang menjadi peri bagi penikmatnya, Mei jadi peri untuk Tansen. 
Kutipan yang saya suka: “Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan”.
 
Rimba Amniotik. Saya menduga ini dibuat Dee saat mau melahirkan bayi mungilnya bernama Atisha. Di cerpen singat itu ia bercerita, bahwa sebenarnya bayinya lah yang mengandungnya. Ia berada dalam sebuah rimba amniotik, ia ditempa disana, melalui perjalanannya disana. Seperti yang Dee katakan, “Proses yang tak selalu mudah, tapi selalu indah”

Perempuan dan Rahasia. Bercerita tentang burung, kupu-kupu, bunga yang tidak pernah bertanya papa diri mereka apakah saya merdu, indah, dan wangi? Seperti halnya perempuan yang menyimpan rahasia dalam keanggunannya. Seperti puisi , membuat teka-teki baru bagi lelaki.

Ingatan tentang Kalian. Semacam ulasan kembali memorabilia tentang sahabat, teman, kawan, ya, yang bersemayam dalam ranah kehidupan, meng-abadi dalam ingatan.

Have you ever? Jujur, cerpen ini membingungkan untuk diri saya pribadi. Saya belum menangkap isi utuhnya seperti apa? Ada dua orang teman bernama Darma dan sosok Aku yang berlibur di Baron Bay yang letaknya di utara benua Australia. Mereka datang kesana gara-gara sepucuk surat dari tokoh misterius bernama Intan Cahaya. Mereka mengejar teka-teki dari isi surat itu tentang pantai, mecusuar, dan Bintang Selatan. Berkisah tentang sejoli yang berpisah lalu berjumpa lagi dalam reinkarnasinya. Hingga tokoh Aku dan Darma datang ke sebuah mercusuar yang dalam perjalananya mereka diserang badai. Saat tiba di mercusuar pengelolanya tak membiarkan mereka masuk karena waktu berkunjung telah habis. Mereka tetap ngotot ingin masuk karena ingin mencari jawaban atas teka-teki surat Cahaya. Disana, saat badai dan hujan reda, dilihatlah awan di langit, tokoh Aku menemukan Bintang Selatan, lalu mereka saling tertawa seperti menemukan keajaiban. Tapi keajaiban apa?

Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan. Sebenarnya bagi saya agak konyol tapi filosofis mencari jawaban dalam bawang merah utuh yang dikupas satu-satu pakai tangan sampai inti terkecil untuk menjawab pertanyaan: Apa itu cinta? Apa itu Tuhan? Intinya saja, Dee berkata, “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban”. Seperti halnya pengalaman mengelupas bawang merah yang baunya menyengat, mata berair, tapi kita tidak menggenggam apa-apa (?) analogi ini kok terasa ganjil ya? Mainstreamnya, cinta dan Tuhan itu seperti udara, tak terlihat tapi bisa dirasakan (ah, ini malah ngawur lagi).

Wajah Telaga. Hm, yang saya bisa petik dari prosa ini, Dee seolah menggambarkan dia pengen punya kepribadian yang dianalogikan seperti telaga. Yang jujur, sabar, ikhlas, dll. Di sisi lain saya menilainya sebagai sebuah kepasrahan dari telaga itu sendiri. Seperti pada larik, Wajah telaga tak pernah menyangkal II Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran Kristal putih II Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih II Ia bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati.

Tanyaku pada Bambu. Seperti mencari epistemologi pribadi. Tentang kelahiran yang dipertanyakan, lalu ke perubahan, kematian yang saling bergantian. Siklus kehidupan yang dianalogikan dalam diri sebuah “Bambu”. Bambu juga bagi saya adalah sebuah kebulatan tekad dan kesetiaan, karena tak pernah saya temukan bambu itu dalam satu pohon punya cabang.

33. Simpel banget judulnya, next time  saya pengen judulnya 21, ha ha ha. Yap, sebuah kado ulang tahun ke-33 mungkin untuk seseorang yang berarti bagi Dee. 33 itu lambang kebenaran, refleksi yang saling mengisi dan melengkapi, usia dimana Yesus mencapai kesadaran kristus, punya energi penyembuh, ya, layaknya mutiara dan pualam. Romantisnya, bagi Dee, 33 itu saat aku bersamamu sayang #ea.

Geruji. Tak jauh berbeda temanya menurutku seperti Have You Ever? Dan belum saya mengerti. Berkisah tentang dua orang yang sama-sama bernama Ari (entah saudara kembar atau bukan), satunya cowok, satunya cewek. Yang cowok itu kayak menjalani ilmu kebatinan Budha gitu, namanya Geruji. Mereka berbeda jauh sifatnya seperti putih dan hitam. Terjadilah pertentangan-pertentangan diantara mereka berdua. Hingga ending-nya aku menduga, mereka berdua ini satu tokoh (?)

Percakapan di Sebuah Jembatan. Seperti memutar lagi roda waktu, dan emmm… saya menyebutnya kemerdekaan. Hidup layaknya di atas jembatan panjang yang (titik-titik)…….

Menunggu Layang-layang. Ini cerpen yang paling saya suka dari semua cerita di Madre. Entahlah, ada pengalaman pribadi saya yang mendasari ini. Dari judulnya, dari tokoh bernama Che, atau gaya-gaya penceritaan cerpen yang saya rindu tiba-tiba hadir. Jadi ada tokoh bernama Christian (Che) yang hidupnya normatif, dan seorang perempuan bernama Starla yang dalam tanda petik ‘liar’. Permainan asmara dari masing-masing mereka unik. Starla ini sering gonta-ganti pasangan semudah dia gonta-ganti kaos kaki. Dia tidak suka dengan ikatan atau komitmen, dia bebas. Berbeda dengan Che yang betah dengan kesendirian, dan Che adalah ‘tempat sampah’ bagi Starla untuk memuntahkan segala uneg-unegnya. Suatu hari, sahabat Che bernama Rako tertarik sama Starla dan berniat ingin melamar Starla. Tapi apa yang terjadi? Malah terjadi tragedi kebakaran, Che meminta Starla untuk berhenti memainkan Rako. Suatu hari saat mereka bercakap-cakap, Starla menceritakan semua apa yang dirasakannya. Dialog berikut ini yang menurut saya menarik (laksana Starla jadi layang-layang, sedangkan Che yang megang talinya di atas tanah):

”Hidup kayak robot adalah satu-satunya cara yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan Cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.”
“Kamu memang terjun ke air. Tapi kamu pakai baju selam”
“Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

Hingga akhirnya, Che dan Starla saling mencintai, karena ketakutan dan ketidaksiapan dari Che sendiri terhadap Starla, Che memutuskan untuk menjalin hubungan seperti teman biasa saja. Namun, cinta tak bisa ditolak, akhirnya mereka pun bertemu di sebuah bioskop dan Starla berjanji untuk tidak menjadi layang-layang lagi. Tetapi jadi ikan lele, ha ha.

 Anggap aja kamu ikan lele. Bisa berkembang biak di septic tank. Dia hidup bahagia di tempat sampahnya”.
“Kamu orang paling gila, Che”
“Satu-satunya orang yang bisa mendampingi manusia nggak waras kayak kamu”
Dialog ini terbaca romantis di mata saya.

Prosa terakhir, ke-tiga belas, Barangkali Cinta. Sebuah perasaan, suasana, atau apalah yang dialami saat orang jatuh cinta. Barangkali cinta II Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa II dan aku dapati rumah yang kucari.

Jogja, 3 Juli 204 (10.53 WIB)

Di kamar kos Mbak Ichus yang dipenuhi buku,
ditemani sayup-sayup musik penyejuk pikiran.
Kosmu sebentar lagi jadi surga buku, Mbak.
Jangan bosan-bosan mengajakku kesini lagi, ya.

Sepuluh Kutipan #10

Seingatku awal Juni kemarin, Mas Sabiq minjemi aku buku judulnya Einstein Juga Manusia (kumpulan pendapat Einstein tentang segala hal). Isinya kebanyakan adalah kutipan. Nah, semoga memberikan pencerahan.
Albert Einstein Simplified
Einstein dan cerutunya
Persis nggak persis, ha ha
1. “Hanya ada satu jalan menuju keagungan manusiawi sejati: melalui pengalaman hidup yang penuh kesukaran.”

2. “Nilai sejati seseorang ditentukan terutama oleh bagaimana dia terbebas dari dirinya sendiri.”

3. “Kita harus melakukan sebaik-baiknya. Ini merupakan tanggung jawab kemanusiaan yang suci.”

4. “Orang harus menghentikan kebiasaannya mengukur orang lain menurut suatu landasan ideal.”

5. “Satu-satunya cara untuk menghindari membusuknya pujian adalah bekerja tiada henti. Hanya itu.”

6. “Kerja merupakan satu-satunya hal yang memberi bobot pada kehidupan”

7. “Menikmati kegembiraan orang lain dan menderita bersama mereka—adalah pedoman terbaik bagi manusia.”

8. “Aku tak sabar terhadap ilmuwan-ilmuwan yang mengambil sebilah papan, mencari bagian yang paling tipis dan mengebor sejumlah besar lubang hanya di tempat yang mudah di bor saja.”

9. “Meskipun saya tipe penyendiri dalam kehidupan sehari-hari saya, kesadaran untuk terlibat dalam komunitas tak tampak yang teridiri atas orang-orang yang berjuang bagi kebenaran, keindahan, dan keadilan membuat saya tidak merasa terkucil.”

10. “Jangan menganggap studimu sebagai beban tugas, tetapi sebagai kesempatan yang patut dicemburui, untuk belajar menyelami aliran keindahan yang membebaskan, yang tersimpan dalam dunia penuh gelora demi kebahagiaan pribadimu sendiri dan demi keuntungan masyarakat di mana nanti engkau mengabdi”

Finally, thanks to one of my teachers Aa Sabiq….