Saturday, August 29, 2015

Pendakian Bukit Raya, Puncak Tertinggi Kalimantan


Bukit Raya ini puncak tertinggi di Kalimantan. Jalur pendakiannya (katanya) nomor dua tersulit dan termahal di Indonesia setelah Jaya Wijaya. Hutannya masih perawan dan banyak pacetnya, haha. Mitosnya juga di sini tempat pertama orang dayak diturunkan, juga tempat semedinya Tjilik Riwut, dan jadi semacam Makkah-nya umat Kaharingan.

Rabu, 12 Agustus 2015 - Sebelum berangkat, kelompok VI (Wahyu, Dinda, Saya, Bang Nesa, Aldi, Cahyadi, Tejo, Chondro, Mbak Diah, Nazmi, Bunda--tapi Bunda nggak ikut naik, hiks) pada foto bersama, lalu kita berjalan menuju Pos I: Sei Dahie. Sei dalam bahasa orang sana artinya sungai. Track pembukanya saja sudah dipenuhi banyak sungai-sungai mengalir. Alhasil, di setiap sungai banyak peserta yang istirahat.
Waktu itu, perjalanan sekitar 3,5 jam (14.00-17.30 WIB). Waktu sampai Pos I, saya dibarengi sama Bang Nesa dan pas sampai sudah ada tiga anggota kelompok kami yang sampai duluan, si Dinda, Chondro, dan Nazmi. Nyampe sana saya dan Dinda langsung masak-masak nasi dan mi. Si Nazmi buat api unggun dan apinya lumayan gedhe, enak buat ngangetin badan. Saat itu nge-camp-nya di bawah pohon bambu, saat masakan matang, kita berlima makan bersama. 

Sebenarnya hati kami pada nggak enak mikir lima anggota kelompok kami yang lain. Syukurnya, entah jam berapa gitu (malam) mereka datang dan kami lengkap lagi. Senang rasanya. Tidurnya, tiga wanita di tenda dan yang laki-lakinya di bawah flysheet. Kelupaan: jangan lupa minta vitamin pada Wahyu, biar besoknya kuat, hihi.
Kamis, 13 Agustus 2015 – Kami berangkat pagi tepat waktu, jam 8 pagi menuju pos II, Tosah dan shelter Air Terjun Bitah Samba. Kami berempat (saya, Dinda, Chondro, Nazmi) kompakan jalan. Kami juga sempat makan siang di Tosah, masak mi dicampur kornet di sana, tapi Dinda nggak makan. Cuma nyemil roti dan energen saja. Akhirnya, kami berempat sampai di Air Terjun Bitah Samba jam empat sore, perjalanan sekitar 8 jam.

Sampai sana, Chondro dan Nazmi langsung cari tempat camp. Saya sama Dinda mandi di tempat yang tak jauh dari air terjun. Kami kungkum di sana. Sejenak jiwa dan tubuh saya lepas mengambang di air terjun sana. Dingin, sejuk, dan lelah bagai mengalir bersama aliran air.
waa
Dinda
Saat saya dan Dinda ke camp, Bang Nesa sampai, tapi lima anggota kami yang lain belum. Saya dan Dinda lalu masak-masak lagi. Menu malam itu spesial: nasi goreng chef Chondro dan mi bihun ala saya dan Dinda, lauknya sarden. Malam itu makan terasa enak banget deh, beneran

Jumat, 14 Agustus 2015 – Sampai pagi, lima anggota kami belum juga sampai di Air Terjun ini. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat lebih dulu. Berangkat sekitar pukul 09.10 WIB menuju Pos II, Hulu Sei Holom. Dan inilah track paling menyiksa se-Bukit Raya. Bayangkan, hampir dua jam track-nya naik terus, sudutnya pun nggak main-main sekitar 70-an derajat. Di titik ini rasanya saya ingin menyerah. Berulang kali saya minum air. Tak saya pedulikan lagi keringat saya. Dan di titik kritis inilah saya ingin mengucapkan banyak terima kasih pada Nazmi yang setia menemani saya. Menyemangati saya dalam diamnya.

Hingga, sekitar jam lima-an sore, saya, Dinda, dan Nazmi sampai di Hulu Sei Holom. Waktu itu Dinda lagi lemes, tenaganya habis, dia nyaris nyasar. Waktu itu Chondro sudah sampai duluan, dan camp kita dari pintu shelter lumayan jauh juga. Demi dekat dengan sungai dibela-belain.

Di camp ini, sumprit, basah banget. Saya dan Dinda masak. Trus Bang Nesa datang. Camp kami juga kedatangan tamu-tamu dari kelompok lain. Kami masak lebih banyak untuk mereka. Setelah makan bersama, datang rombongannya Nuri, Mira, dan Nofrian. Di malam ini juga, Nuri tidur di camp kami di samping Dinda di bawah flysheet.

Nasib lima anggota kelompok kami yang lain masih simpang siur. Tak disangka, kalau nggak salah dengar, jam sebelas malam Wahyu, Aldi, Cahyadi, dan Tejo (minus Mbak Diah) sampai juga di Pos III. Senang rasanya.

Sabtu, 15 Agustus 2015 –  Seperti kemarin, hari ini setelah makan kami siap-siap berangkat. Dapat kabar, Mbak Diah kakinya terkilir dan menginap di Tosah. Kami berangkat sekitar jam 09.20 WIB, bersembilan. Di perjalanan hari keempat ini, saya seperti menemukan arti mendaki. Bahwa sebenarnya yang saya taklukan bukanlah gunung/bukit/tanjakan, tapi yang saya taklukan adalah ego saya sendiri. 

Di sini saya baru merasa teori psikoanalisanya si Freud berguna. Kering sekali belajar teori Freud kalau tidak diaplikasikan dalam gunung. Di track-track ini juga saya belajar: lek wani ojo wedhi-wedhi, lek wedhi ojo wani-wani. Saya perhatikan sebagian besar tanah dan batu yang saya injak punya prinsip bertahan seperti itu. Kuncinya hanya satu: yakin.

Dan ternyata untuk menuju pos selanjutnya, Pos IV Puncak Kait Bulan tak memerlukan waktu panjang. Jam 14.30 WIB kita sudah sampai. Namun, di titik inilah petaka bagi sebagian orang terjadi. Ada orang-orang tertentu yang menyebar hoax bahwa jalur dari Kait Bulan yang langsung menuju ke Bukit Raya tidak ada. Banyak pendaki yang kemakan hasutan dan kembali balik arah—padahal sudah sampai perjalanan separuh lebih. Maklum, jalur kali ini adalah jalur pertama yang ditemukan. Dulunya memang orang ketika sudah ke Kait Bulan akan kembali ke pos sebelumnya jika hendak ke Bukit Raya.
Negeri Hobbit
Puncak Kait Bulan
 Saya, Dinda, Chondro, dan Nazmi pun berhenti di sebuah titik di Kait Bulan untuk memastikan apakah benar? Karena tanda pendakian masih ada kami memutuskan untuk lanjut, disuruh balik rasanya sangat dongkol sekali. Kawan, di Kait Bulan inilah negeri hobbit Kalimantan sebenarnya. Di sini pohon-pohon diselimuti lumut-lumut yang hijau, tebal, dan segar. Indaaah sekali, kawan.
Setelah kami berjalan lagi, ternyata kita sampai di Pos IV, Puncak Kait Bulan. Puncak istrinya Bukit Baka. Shit and fucker for hoax!  Yah, kembali itu pamali di sini. Ingat prinsipnya hidup orang Kalimantan: tak akan menyerah sebelum tercapai!

Di puncak ini suhu lumayan dingin juga. Kelompok kami mendirikan camp di jalan menuju kubangan air kecil. Kami menutup jalan dan dialihkan ke jalur lain. Masang flysheet dan hammock di sekitar tempat itu. Dan senaaang banget, saat itu malam Minggu kelompok kami nyaris lengkap—minus Chondro yang jalan duluan k epos selanjutnya. Berangkat bersembilan, sampai pos sini berdelapan. Yah, kami sepertinya genk jojoba (jomblo-jomblo bahagia).

Malam inilah menurut saya malam yang paling mengesankan di antara malam-malam yang lain di Bukit Raya. Saat itu buat Milo, nyeduh kopi, makan roti, masak nasi. Si Aldi juga masak telur bumbu kecap dan teri sambel (tak kusangka Aldi pintar masak). Lalu makannya muter bareng-bareng, kita membuat lingkaran dan saling bercandaan. 

Topiknya Aldi dan Cahyadi gombalin Dinda. Trus Dinda nyoba buat permainan ABC-an kayak nyebutin nama-nama kota, tapi tak bertahan lama. Dinda tak kehabisan akal untuk ngajak sharing perkenalan diri dan tujuan masing-masing ke sini, tapi tak ada yang mau—sebenarnya saya mau Din. Kami, ketawa berdelapan. Dingin yang menusuk rasanya tak terasa lagi. Ah, maniis sekali. 

Dan tidurnya pun masih sewot-sewotan. Dalam satu flysheet yang kagak luas, berdelapan kita masuk semua coba. Lima di matras, tiga di hammock. Desek-desekan, kaki nggak bisa gerak karena bakal nendang orang yang tidur di hammock. Saya dan Dinda tidur di pinggir. Jian tenan, haha.Ya, inilah hotel rimba.

Minggu, 16 Agustus 2015 – Kami bangun kesiangan. Suasananya asli mager (males gerak). Pagi itu gerimis juga. Dan karena sambel buatan Aldi semalam, perut kami pada sakit, bingung bokernya. Waktu itu, saya dan Cahyadi nyari air. Ah, saya malah curhat kangen rumah sama Cahyadi. Dia bilang apa coba? Cahyadi said: Sebulan, tiga bulan lagi kamu akan rindu saat-saat seperti ini, kalau ingat rumah akan tambah memberatkan, dinikmati saja Isma. Hati saya jadi lumayan tenang.

Karena kesiangan, kami berangkat pukul 10.00 WIB menuju Pos V Shelter Hulu Sei Samba. Dan jaraknya ternyata tak jauh, jam setengah tiga sore kita sudah ampai Pos V. Lalu kita rembugkan lagi, lanjut sampai ke puncak nggak? Kami memutuskan untuk lanjut. Perjalanan ke puncak cukup nguras tenaga juga. Perjalanan kurang lebih sama waktunya dari Pos IV ke Pos V, 4 jam-an. Waktu itu sampai puncak bareng sama Chondro. Pukul 18.30 WIB kami sampai dan langsung berdoa di sana. Alhamdulillah. Puncak men!

Ya, di puncak kami nge-camp berenam (saya, Dinda, Chondro, Nazmi, Bang Nesa, dan Nuri dari kelompok I, tiga sekawan masih di belakang). Di sini, bah, ademnya, tapi ada satu yang bikin saya kuat: kata-kata si Nazmi, kalau nggak pengen dingin di rumah aja, jangan di gunung. Jleb.

Senin, 17 Agustus 2015  Selamat ulang tahun Indonesia!!!

Yah, jam setengah sepuluh di puncak misi kami untuk mengibarkan bendera merah putih di Bukit Baka Bukit Raya, puncak tertinggi Kalimantan terwujud. Di detik-detik proklamasi kami mengadakan upacara bendera. Waktu itu juga ada penyerahan medali dari bupati. Eh, Bang Raji (ketua panitia) nggeret saya yang lagi bengong suruh mewakili yang dari jurnalis. 
Hiduplah Indonesia Raya
hormat grak!
foto bareng bupati
Sekitar jam 11-12, kami dan peserta lain pada foto-foto. Menikmati suasana puncak.
Sampai puncak, Na
Mau dzuhur kita perjalanan turun menuju Pos VI Shelter Bitah Samba. Nah, dalam perjalanan ke pos inilah kami kehabisan air, nyaris dehidrasi. Di sini saya baru bisa merasakan derita orang Indonesia timur yang bilang “sumber air sudekat” lalu yang dari belahan Indonesia lain menirukan logat ini dengan ketawa-tawa ngakak. Di tempat ini saya baru sadar kalau air itu sangat penting.

Apalagi dari perjalanan ke Pos VI Bitah Samba kami melewati jembatan gantung setan yang siap menjeburkan kami ke jurang. Dinda nyaris jatuh lewat jembatan itu karena tasnya udah melayang-layang, tapi untungnya cuma tempat minumnya aja yang jatuh. Waktu itu untung ada Nuri yang ngarahin. 

Di perjalanan ini kami kehabisan tenaga. Soalnya enggak makan, air nggak ada, track-nya rata-rata lewat di antara jurang-jurang. Duuh. Meski sebenarnya jaraknya nggak terlalu jauh, sekitar 4 jam-an. Gara-gara nggak ada tenaga jadi terasa berat. Akhirnya, sampai sana sekitar magrib-an, jam lima-an lebih. Kita nge-camp di tempat yang kasurnya akar-akar. Begitulah sensasinya. Nuri masih bersama kelompok kami, kasihan, dia sakit.
logisitk
Chondro lagi iklan produk, Aldi terpesona

Selasa, 18 Agustus 2015 – Bangun lumayan pagi. Berangkat ke pos selanjutnya sekitar pukul sembilan-an. Namun kali ini menempuh perjalanan yang lumayan panjang. Kita lewat di shelter Soa Tohotung dan Tosah, hingga lanjut terus kembali ke pos I di Dahie. Butuh waktu sekitar 8,5 jam dengan track menurun dan sungai-sungai. Saat itu di perjalanan perut saya sakit. Ya, sedikit mengobati sakit dan lelah karena ada temen jalan dari belakang, Bang Nesa. Saya sama Bang Nesa sampai di Dahie magrib jam 18.30 WIB. 
Di pos sana Chondro udah buat tenda, ada Mbak Diah juga di sana. Kita masak-masak, ngobrol-ngobrol juga. Aduh, kebersamaan yang tak terlupakan. 

Rabu, 19 Agustus 2015 – Hari ini kita dapat ikan banyak. Yang nggoreng si Wahyu. Ya, setelah monoton mi-sarden, kami perbaikan gizi, haha. Di pos ini anak-anak pada malas balik. Hasilnya, berangkat siang banget. Enaknya, perjalanan terasa lebih cepat dan ringan. Masih sempat main-main juga di sungai, minum air sungai langsung. Air sehat alami yang tak perlu pakai pengawet. Bergizi karena ada gizi dari akar dan daun pohon-pohon. Akhirnya sampai ke tempat awal pemberangkatan. Kami dijemput avanza-avanza untuk kembali ke rujab. 

Kamis, 20 Agustus 2015 – Tubuh  istirahat total, pikiran notal kenangan-kenangan.

#IS, dua puluh sembilan agustus 2015

Kelompok 6 Edan Tenan


Merasa diberkati sekali karena saya masuk dalam kelompok yang asyik-asyik sekali orangnya.
Ini saya tulis sesingkat perkenalan saya, tidak bisa menjadi patokan bagaimana watak sesungguhnya. Haha...

Kholidah Tamami
Kerap dipanggil Bunda Olie. Dulu pas masih di Universitas Pasundan, Bunda aktif dalam LPM Jumpa. Usai itu Bunda didaulat jadi Pemimpin Redaksi di pers Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam UI. Ibu beranak satu ini mudah akrab dengan siapa saja, komunikatif, dan keibuan. Ia ingin menjadi wanita yang mengerti dengan perasaan orang lain, itu sebabnya kenapa ia ingin dipanggil bunda. 

Dalam pendakian ini, bunda udah kayak malaikat penolong saya yang melimpahkan 80% alat dakinya untuk saya pakai, sehingga saya bisa mencapai puncak. Bunda tidak jadi ke puncak karena beberapa alasan, salah satunya takut dengan pacet. Apapun, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bunda. Saya belajar banyak dari Bunda. Big huge, big thanks.

Nesa Riesta
Pertama nyapa pas di rumah betang Tumbang Manggu. Pas dia nanya sama Pak Syaer Sua mengenai akses transportasi ke desa tersebut. Orangnya kalem dan agak pendiam. Dia mengaku buren, bujangan keren. Asalnya Surabaya, tapi asal usul keluarganya ada yang dari Bali. Dulu pernah kuliah di Universitas Hang Tuah jurusan menejemen apa ya? (saya lupa). Rekor waktu kuliahnya mapala banget, masuk tahun 2004, keluar tahun 2012. Dalam ekspedisi Kalteng ini dia perwakilan dari Oanc Kaskus, sebuah situs petualangan. 

Wah, Bang Nesa ini prepare banget perlengkapan naik gunungnya. Dia sebenarnya juga pintar masak, tapi agak ditutupi gitu. Buktinya, dengan tangan kidal Bang Nesa ngrajang bawang brambang cepet banget, rapi banget kayak chef profesioanl. Tuhkan, sebenarnya dia pinter masak, tapi apologinya gini: Ah enggak, cuma sering nglihatin mamah di rumah masak. Bang Nesa ini juga satu-satunya anggota kelompok VI yang bisa masak nasi dengan tidak membuat nesting dan nasi gosong. Haha.

Saya ingin berterima kasih pada Bang Nesa karena di hari pertama pendakian, Bang Nesa yang secara tidak langsung memancarkan keoptimisan pada saya untuk terus semangat. Waktu itu di perjalanan menuju Pos I Dahie, saat pertama kenalan nama (haha, kenalan yang telat). Ya, dia nemeni saya jalan sampai tiba di pos I.

Pas di hari ketujuh pendakian juga, Bang Nesa jugalah yang dengan sabar menemani keleletan saya selama 8,5 jam berjalan dari sebelum Soa Tohotung ke Tosah ke Dahie. Yang dengan rendah hati menyamakan frekuensi langkahnya dengan saya. Saat itu perut saya sedang sakit karena dilep (diksi aneh yang baru saya dengar darinya dan dilep itu sejenis penyakit nyeri bulanan perempuan), tapi dia masih mau pengertian. Rasanya saya seperti ditemani kakak sendiri, haha. Coba semua pendaki seperti Bang Nesa?

Dia bilang kesibukannya sekarang sedang nungguin warung (warung apa bang?). 

Dinda Ahlul Latifah
Superwoman dari Sunda ini mah. Teman perjalanan saya yang paling setia. Prinsipnya gini: berjalanlah mesthi merangkak, jangan cepat-cepat berhenti dan istirahat. Latar belakang Dinda, dia perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa Suaka UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pertama kenal Dinda di Rumah Betang Palangkaraya, tahu saya pulang naik kapal, dia langsung meluk saya. Kesan pertama, Dinda ini mudah akrab, ngomongnya cepat, dan orangnya meriah kayak kembang api. 

Sebenarnya Dinda juga aktivis kampus. Dia juga ikut LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) dengan trilogi yang Dinda katakan, membaca-diskusi-menulis. Yang sekretnya dekat dengan Suaka. Selain itu dia juga ikut mapalanya UIN Bandung, namanya Maha Peka (Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam). Dari curhat Dinda sama Aldi pas di pos puncak Kait Bulan, anaknya kayak Soe Hok Gie juga: progresif dan idealis. 

Sepak terjang Dinda juga sudah banyak jika ngomongin alam, entah berapa gunung yang pernah ia taklukan juga pengalamannya seperti hidup di pedalaman Suku Baduy.

Ada kritik yang menghantam kepala bagi mapala kampus dari Dinda. Mapala kampus sekarang kerjanya suka nongkrong nggak jelas. Gak bisa ngonsolidasikan kampus agar bisa dilihat lestari atau diisi dengan kegiatan-kegiatan alam. Ya, setiap orang punya caranya sendiri, termasuk Dinda. Seperti tulisan dalam kaosnya: biarkan kami berkiprah dengan cara kami sendiri.

Nazmi
Saya berhutang banyak dengan teman perjalanan saya satu ini. Dialah teman perjalanan kali ini yang paling paham seberapa kekuatan saya. Sekaligus yang paling saaabar berjalan di belakang saya, yang menemani jalan saya yang timik-timik dan merangkak-rangkak—meski saya tahu sebenarnya dia bisa berlari dalam hutan. Dia juga yang membantu saya mengurangi beban tas kamera saya saat menuju pos II. Dia juga yang ngingetin agar dalam hutan saya tak menutup mata dan ngelamun karena kelelahan. 

Nazmi, anak Mapala Justitia Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat / Unlam Banjarmasin. Orangnya tak terlalu banyak bicara juga, tapi dalam dirinya sebenarnya perhatian.

Makasih Nazmi. Makasih.

Chondro Wardhono
Kakak angkatannya Nazmi, anak Mapala Justitia juga. Asalnya katanya dari Surabaya, tapi kuliahnya di Unlam. Chondro, orangnya asyik, suka bercanda, lucu, dan apa ya? Oya, terima kasih juga untuk Chondro yang dengan sabar menemani keleletan saya.

Perjalanan berkesan sama Chondro itu pas perjalanan mau ke puncak Bukit Raya. Pertama, saya hampir jatuh terperosok ke jurang (tak terlalu dalam sih) pas Chondro lewat dan saya duduk di kayu yang rapuh. Kedua, magrib-magrib dengan head lamp yang error, berdua berjalan sama Chondro trus dia marahi head lamp-nya itu. Saya ngira dia kesurupan penunggu Bukit Raya. Alhamdulillah tidak. Ketiga, jam setengah tujuh malam saya dan Chondro nyampe di puncak Bukit Raya. Yeah. Chondro langsung menyuruh saya berdoa, karena konon jika kita punya keinginan dan berdoa di Puncak Bukit Raya ini suatu hari akan terwujud. Saya langsung memohon pada Alloh dengan tiga permintaan, haha.

Great job brother.

Wahyu Nur Wahid
Dia adalah ketua Kelompok VI. Anak (yang kadang) paling tidak rasional. Anak yang nyetusin yel-yel: “kelompok enam: EDAN TENAN!”. Wahyu, mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya yang punya fans namanya Dinda, haha. Hobinya membuat orang lain tertawa, asyik, rame, apalagi ya? #pokoke njoget.

Dia aktivis Wanala (mapalanya Unair). Pernah ikut ekspedisi Indonesia Raya gitu. Orangnya care juga. Di gunung masih sempat bawa vitamin C dan B kompleks. Kenangan paling ngena sama Wahyu pas makan sepiring berdua lauk ikan goreng di Pos I Dahie mau pulang, hahaha—sorry Din, jangan cemburu, kita cuma berteman :D. 

Diah Dharmapatni
Mbak Diah ini mahasiswa jurusan antropologi tingkat akhir di Universitas Udayana Bali. Aktif di LPM Akademika juga. Di ekspedisi ini mewakili semacam citizen journalism Bale Bengong, situsnya orang-orang Bali. 

Sebagai orang Bali, Mbak Diah juga jago nari Pendet. Bahkan Mbak Diah buka kursus Tari Pendet di Rujab. Muridnya Fitri, Nuri, dan saya, haha. Dikit-dikit bisalah. Pas ngepoin situsnya juga, Mbak Diah ini penyiar radio juga lho. 

Sayangnya, Mbak Diah dalam pendakian ini tidak mencapai puncak karena kakinya terkilir.

Aldi
Ini dia, raja gombalnya Kelompok VI. Rasanya muda terus kalau di dekatnya Aldi. Apapun bisa diubah menjadi rayuan. Selain baik, anaknya juga suka bercanda dan asyik. Dia anak mapala juga di kampusnya, Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta. 

Nah, Aldi itu punya dua sahabat dari UBK juga namanya Cahyadi dan Tejo. Kalau diibaratkan, ketiga anak ini kayak tiga sahabat dalam film India 3 Idiots. Dan Aldi yang jadi Ranchodasnya (ah, kayaknya nggak cocok), haha.

Cahyadi
Anak UBK. Lucu, suka godain si Dinda sama Aldi, karena kalau godain saya mereka kapok. Balasan saya tak sebanding dengan gombalan mereka, balasan saya paling banter cuma senyum, ngangguk, ketawa kecil. Kalau bosan godain Dinda, Bang Nesa pun kadang juga kenal gombalan, hahaha.

Cahyadi itu suka nyanyi, tapi kedengarannya jadi aneh—karena terbata-bata.

Tejo
Satu komplotan sama si Aldi dan Cahyadi, tapi anaknya lebih quiet ketimbang dua temannya itu. Tejo orangnya baik juga. Wajah dan watak Tejo mengingatkan saya dengan teman sanggar saya yang njawani banget.

Isma Swastiningrum
DPO. Penyusup di Kelompok VI.

Friday, August 28, 2015

Sinar Di Atas Daun Flamboyan

Kakiku bergetar ketika hendak masuk ke ruang ini. Sisa-sisa hidupku serasa diatur kembali setelah hampir sebulan lebih tak bertemu. Kamu tahu, rasanya hampir mati berada dalam negeri orang yang jauh. Di tempat yang kanan kirinya rimba. Aku pikir aku akan diculik orang utan atau habis darahku digigit pacet atau dimakan orang-orang ot atau hipotermia di puncak atau kepleset ke jurang.

Rasanya aku hampir tak percaya bisa kembali ke kota ini. Kota yang mengutukku menjadi gadis fiksi yang berbianglala dalam ranjau wahana apa saja. Bosan dengan doktrin sakral, rindu dengan kenakalan profan. Hari ini, hari aku bertemu kamu kembali, aku hanya ingin jujur ke kamu, ini yang aku rasakan:

Dalam kediaman, sebenarnya aku berantakan melihatmu datang, tapi aku lihat kamu biasa-biasa saja. Kamu tak segera menemuiku untuk halal bihalal lebaran atau sekedar basa-basi selamat (untuk apa?). Aku pun melakukan hal sama, pura-pura asyik sendiri. Kamu serasa mengulur diriku panjang dengan duduk di depan dengan apapun aktivitas yang kamu lakukan. Melihat kedatanganmu, melihat kamu saja, sebenarnya aku sudah senang. Aku tak mengharap lebih. Namun hatiku berkata: Tuhan, kenapa dia di sini? Adakah yang lebih membahagiakan selain pertemuan bagi orang yang sekarat rindu?

Aku seperti menunggumu setua umurku hingga salah satu di antara kita bicara. Aku gemetar ketika kamu masuk dan kamu hanya bertanya: Kapan balik Is? Dan aku hanya menjawab: Selasa. Suaramu, ya, itu saja yang kuinginkan.

Oya, aku mau cerita, semalam dalam bunga tidur aku melihatmu menjadi dosen matematikaku. Sepertinya kamu beralih profesi menjadi asdos dan aku mahasiswanya. Aku duduk di paling depan dengan rasa seperti yang kurasakan sekarang ketika kamu ada. Dingin. Kamu sangat serius dengan rumus di depan papan, seperti guru matematika yang aku sayangi saat aku SMA. Aku hanya memandangimu, meski di kelas itu kamu tak sedikit pun menggubrisku. Rasanya begitu nyata.

Sekarang aku juga ingin berkomentar tentang pendapat temanku yang berasumsi jika pria tertarik dengan wanita karena dua hal: visual dan kepribadian. Pertama, pria kata pria dikutuk untuk tertarik pada fisik yang cantik, seksi, dan indah. Aku selalu merasa aku terpuruk dalam hal ini, inferiorku di sini, aku merasa kecil dan tak pantas untuk siapa-siapa.Namun aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih menghargaidan mengolah kepribadian dengan apa pun usahaku.

Aku juga ingin bilang, aku tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang seremeh, sedebu apa pun dia. Karena setiap orang memberi energinya sendiri. Jika aku pernah ditemani, aku pun ingin menemani.

Dan sampai aku mengetik ini, aku masih mencari damai dari bayang-bayangmu yang pergi terlalu cepat. Yang tak pernah kamu memberi kesempatan untuk kuusaikan rinduku. Dan selalu begitu.


Selalu biasa dan terus biasa.

P.s.: Sudah, jangan pedulikan aku. Selalu hiduplah dengan gaya dan caramu, aku pun begitu.

#IS, dua puluh delapan agustus dua ribu lima belas.

Thursday, August 27, 2015

The Silent Stone of Bukit Batu Katingan

Pagi, kumpul di depan gedung bupati Katingan untuk upacara. Baris di depan dan dengerin amanat upacaranya pak Ahmad Yantenglie. Ada dua hal penting yang saya tangkap dari retorikanya. Pertama, tentang komitmen. Jika orang mempunyai komitmen kuat, dia tak akan mudah diombang-ambingkan. Orang yang punya komitmen, meski cobaan yang dihadapi seberat apapun, selagi ia teguh dengan komitmennya, ia tak akan mudah untuk dikalahkan.

Kedua, Pak Tenglie semacam menyindir peserta begini: ada perbedaan yang mendasar bagi mereka yang serius benar-benar ingin melestarikan alam dengan mereka yang hanya ikut sekedar untuk seremonial. Yang kedua itu bagaikan bola yang besar gaungnya tapi keropos di dalamnya. Jlebnya tuh di sini, di hati. Ada yang saya suka dari Pak Tenglie ini, selain humble dia tipe pemimpin yang membangun orang lain itu dari dalam orang itu sendiri. Dan yang paling saya suka: dia mencintai seni, alam, dan keindahan. Ingat bapak saya: pemimpin yang tahu seni dan tidak itu bedanya sangat jauh. Nilailah dari tata kotanya.

Setelah upacara, kami menanam pohon di sekitar kantor bupati. Saya sama Dinda, Fitri dan Bolin kompak banget nanam pohonnya. Apalagi Dinda yang penyayang banget sama tumbuhan, sampai-sampai air minumnya dipakai buat nyiram. Di depan kantor itu juga ada monumen patung pahlawan nasional asli Kasongan, Tjilik Riwut. Dia pernah menjabat sebagai gubernur Kalimantan Tengah, tokoh nasional yang dekat juga dengan Bung Karno. Saya mendekati patung itu dan menyapa beliau, saya yakin dia tahu. Beliau ini juga seorang penulis buku dan seorang pecinta alam yang ulung, kata Wikipedia: 

Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai "orang hutan" karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia ia telah tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.

Penanaman pohon kami lakukan kembali di Kebun Raya Katingan. Jujur, menurut saya kebunnya masih gersang. Kata Pak Tenglie rencananya, master plan  taman nasional ini akan dibuat kayak Kebun Raya Bogor, sebagai tempat budidaya berbagai macam tanaman dan tempat penelitian. Perlu usaha lebih keras saya kira.
Yang jadi kagak nyambung ini kan agendanya nanam pohon, tapi kami malah disuguhi dangdutan. Jadinya ada semacam ketimpangan, ada yang nanam, ada yang sekedar menonton dan joget-joget. Rasanya tidak maksimal dan begitu dimanjakan—kok saya yang sewot ya? Pohon yang dihadirkan untuk ditanam pun sedikit, tak sebanding dengan jumlah peserta, atau hanya sekedar simbolisasi? Entah. Yang saya takutkan ramalan kedua dari amanat Pak Tenglie tadi pagi terjadi. Padahal ‘kebun raya’ ini perlu mendapatkan perhatian serius.
alam apa perlu goyang dumang?
nanam-nanam
Di kebun ini juga saya ingin berterima kasih pada Hendra. Anak pers Universitas Bengkulu yang memberi saya kursus singkat tentang kamera yang entah SLR atau DSLR ini. Dia sepertinya paham kalau saya tjah ndeso iki tidak paham cara memakai kamera milik ARENA itu. Dia jelasin dari A-Dep, M, AV, TV, Auto, Potrait, landscape, cara ngatur ISO, speed, dll. Guru memang bisa datang dari arah yang tak kau sangka-sangka. Thanks Hendra!

Perjalanan berlanjut ke Bukit Batu. Apa yang ada di otakmu ketika mendengar Bukit Batu? Yah, yang pasti isinya batu, haha. Jangan salah, tempat ini sebenarnya adalah tempat balampah (semedi). Objek wisata spiritual yang dulu dipakai Tjilik Riwut untuk bertapa. 
Pasah Patahu, rumah roh

Saya punya tiga asumsi mengenai mitos dan sedikit logika tentang Bukit Batu ini:

#Pertama, legenda Burut Ules. Kisahnya mirip dengan legenda Jaka Tarub di Jawa. Singkatnya, ada pria desa bernama Burut yang melihat bidadari-bidadari dari langit mandi di telaga. Burut jatuh cinta pada bidadari paling bungsu dan mencuri pakaiannya—karena tanpa pakaian bidadari itu tak bisa terbang. Lalu mereka menikah dan punya seorang anak lelaki. Nah, ini yang menarik, konflik perselingkuhan. Jadi saudara laki-laki dari bidadari itu datang ke keluarga kecil ini, hidup menumpang. Lama-lama bidadara nan mamut menteng (gagah perkasa) tak tahu diri sering berduaan dengan bidadari bungsu.

Si Burut cemburu dan membunuh bidadara. Istrinya tahu dan memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya—setelah menemukan pakaiannya. Istrinya bilang anak lelaki mereka ketika dewasa akan hidup di alam ayahnya. Nah, suatu hari perkataan si bidadari ditepati. datang halilintar dari langit dan menurunkan batu-batu yang sekarang menjadi bukit batu. Konon di bukit batu itulah anak Burut diturunkan.

Telaga Bawin Kaleloh
Mungkin di tempat ini bidadari mandi
#Kedua, kisah orang tuanya Tjilik Riwut, Pak Riwut Dahiang yang ingin sekali punya anak laki-laki tapi tak pernah sampai besar, karena sering meninggal ketika balita. Lalu Dahiang melakukan pertapaan di Batu Keramat itu, berdoa kepada Hatalla (Tuhan). Doanya terkabul dan lahirlah si Tjilik ini. Anak yang nantinya akan mengemban tugas yang besar untuk negara. Bagi Tjilik tempat ini jadi tempat nongkrongnya untuk semedi. Begitu dekatnya sampai-sampai ketika Pak Riwut Dahiang dipanggil rohnya oleh Hattala, Bukit Batu memberi Tjilik isyarat dalam mimpi.
Batu Banama
#Ketiga, dari sudut pandang sains. Ini hasil obrolan singkatku sama anak Teknik Pertambangan, namanya Adek. Asumsinya gini: ini batu hasil dari erupsi gunung yang dimuntahkan. Anehnya di kawasan ini tak ada gunung. Jika pun asumsi ini benar, maka tidak jauh dari Bukit Batu ini harusnya ada sungai, tapi tidak ada. Trus? Kami mencoba menyambung-nyabungan dengan teori lempeng tektonik. Siapa tahu batu-batu ini hasil dari pergerakan konvergen, divergen, atau transform bumi?  Harusnya di sini ada semacam penelitian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Guna menjawab pertanyaan, darimana asal batu-batu ini? (dan saya berharap ini pada si Adek—atau sambil nunjuk muka sendiri).
sama Adek
Di sini itu yang saya bingungkan juga batu-batu di sini kan banyak nama-namanya ya, dan per batu ada tuahnya sendiri. Itu ceritanya gimana ya?
dekat Batu Penyang
Batu Keramat
Batu Sial
Batu Dewa
Batu Darung Bawan
Batu Kamiak
Ya, setelah puas menikmati Bukit Batu, menjelang sore kami kembali ke rujab. Agendanya pembagian kelompok pendakian ke Bukit Raya.

IS – Bukit Batu Kasongan (Katingan), Agustus 9, Minggu 2015