Sunday, August 11, 2019

Pekerja Kebudayaan dalam Rantai Kerentanan

Pemajuan kebudayaan tak akan berjalan dengan baik tanpa adanya keberpihakan pada subjek kebudayaan, yakni Sumber Daya Manusia yang diwakili oleh para pekerja kebudayaan. Menelisik lebih lanjut tentang implementasi UU No. 5/2017 tentang pemajuan kebudayaan, pertanyaan mendasar yang saya ajukan: apakah pekerja kebudayaan di Indonesia sejahtera? Dengan menarik peran negara, saya juga mengajukan konsekuensi pertanyaan: sudahkah UU Pemajuan Kebudayaan mengakomodir itu? Sejauh penelusuran saya hingga 61 pasal, naskah UU tersebut tidak mengakomodir kesejahteraan insan-insan yang fokus menjadi seorang pekerja kebudayaan. Hanya dalam pasal 1 ayat 13 yang sedikit “nyerempet” dan disebutkan: “Sumber Daya Manusia Kebudayaan adalah orang yang bergiat, bekerja, dan/atau berkarya dalam bidang yang berkaitan dengan Objek Pemajuan Kebudayaan.”
 
Definisi pekerja kebudayaan sendiri belum begitu jelas. Ini tersandung pula oleh nilai yang dihasilkan oleh pekerja kebudayaan yang kadang juga abstrak. Eleonora Belfiore dalam tulisannya berjudul “Impact”, “value” and “bad economics”: Making sense of the problem of value in the arts and humanities membahas tentang nilai salah satu cabang budaya, yaitu seni. Di mana sustainbilitas keuangan seni sangat rentan untuk ditanyakan. Pertanyaan retorisnya, bagaimana perekonomian kesenian saat ini? Bagaimana menghitung nilai sebuah seni dalam publik? Bagaimana menghitung nilai seni yang dilkatkan dengan ekonomi? Bagaimana mengaudit nilai seni? Pertanyaan-pertanyaan ini jugalah yang ingin saya tanyakan terkait kebudayaan. Di samping peran budaya memberikan dampak transformatif baik kepada individu maupun sosial lewat para pekerja kebudayaan.

Paper ini menggunkan pendekatan “dampak” untuk mengukur seni juga terhadap riset kemanusiaan lainnya. Dibedakan menjadi empat posisi: pragmatis, konseptual, politis, dan etis. Dikatakan bahwa investasi yang diberikan pada penelitian terkait seni dan kemanusiaan akan berdampak sepuluh kali lebih cepat dan lebih banyak terhadap perubahan dan pembangunan sebuah negara. 

Pendapat yang sangat menarik juga dilontarkan oleh John Kay dalam tulisannya di Financial Times berjudul A good economist knows the true value of the arts. Dalam analoginya, orang-orang meremehkan bagaimana sebuah penyakit dapat memberikan nilai ekonomi bagi suatu bangsa. Namun orang-orang membangun ribuan rumah sakit, dengan ribuan doter, ahli bedah, dan perawat, juga farmasi atau obat-obatan. Bahkan di UK, penyakit menyumbang sekitar 10 persen dari perekonomian UK. Padahal pemerintah tak pernah cukup mempromosikan penyakit.  Hal yang sama seharusnya juga berlaku untuk ranah kebudayaan lewat SDM yang berkerja di dalamnya. Bahwa nilai sebuah budaya tidak sekedar diihat dari harga budaya itu sendiri, tapi juga harga lain di sekitarnya.

Pekerja kebudayaan bisa diwakili oleh seseorang yang menghasilkan produk cipta, karsa, dan karya—dan seniman adalah sebagian dari pekerja kebudayaan. Salah satu contoh pekerja kebudayaan adalah tetangga saya sendiri. Dia seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai pemain ketoprak. Dia bekerja hanya pada saat ada “panggilan main”. Di luar itu, dia bekerja serabutan dengan pekerjaan yang sangat tidak menentu. Apakah UU Pemajuan Kebudayaan bertanggung jawab dengan kesejateraan tetangga saya tersebut?

Di posisi lain, dapatkah para pengamen ondel-ondel di seantero Jakarta yang berkerja dari jalan ke jalan mendorong sound dan mengais receh itu bisa kita sebut sebagai pekerja kebudayaan? Atau apakah Juno, tokoh utama penari lengger dalam film Kucumbu Tubuh Indahku karya sutradara Garin Nugroho dan kehidupan marjinal kelompok penari lengger yang “ngamen” dari desa ke desa itu bisa disebut juga pekerja kebudayaan? Bagaimana ekonomi mereka? Bagaimana UU Pemajuan Kebudayaan merespon itu?

Alih-alih sejahtera, pekerja kebudayaan yang saya contohkan ini lebih merujuk pada resipien kebudayaan yang menerima saja. Resipien tersebut berada pada posisi yang bisa dikatakan resipien ekonomi payah yang mengejar ganjaran ekonomi untuk sekedar hidup. Jangan tanyakan bagaimana kualitas seninya, saya pikir mereka pelestari budaya yang lebih mulia daripada para seniman salon. Setidaknya para resipien jenis ini mampu membuat suatu nilai guna budaya yang riil bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat yang menontonnya.

Atau disebut sebagai kebudayaan orang miskin yang orientasi budayanya mengacu pada budaya fungsional yang langsung memberi manfaat; budaya komersial yang langsung memberi keuntungan; dan budaya sosial yang berupa kebersamaan dalam taraf ekonomi rendah. Narasi ini seperti kisah para pembuat gerabah di sebuah kampung miskin di Kabupaten Kendal yang bernama Kampung Kunden (Rohidi, 2010).

Masyarakat kelas bawah selalu memiliki kecerendungan untuk patuh dan menerima begitu saja nilai-nilai kebudayaan yang ditawarkan penguasa. Antropolog Mattulada menyebut bahwa kelompok rakyat jelata sejauh yang menyangkut kekuasaan akan mengiyakan dan mengikuti dengan setia. Di samping dirigisme kebudayaan dalam rencana kapitalisme negara yang sesuai dengan alam pikir pemerintah. Saya baru berbicara tentang pekerja kebudayaan di tingkat kelas akar rumput, belum lagi pekerja kebudayaan di kelas menengah dan kelas atas, seperti para seniman galeri tentu akan berbeda lagi dinamika dan masalahnya. Dalam tulisan ini, pekerja kebudayaan dari kalangan grassroot lah yang menjadi titik tekan keberpihakan saya. 

Pekerja kebudayaan sebagian besar tergolong dalam sistem perekonomian informal yang belum diindungi oleh negara. Pekerja ini terkendala modal ekonomi, pengetahuan, keterampilan, relasi, juga hak istimewa lainnya. Mereka bekerja di ranah kebudayaan yang tak terorganisir, dan menjadi angkatan kerja cadangan, bekerja di ranah kapitalisme pinggiran. Ciri-ciri yang nampak modal mereka kecil, biasanya memanfaatkan anggota keluarga, tak memiliki serikat pekerja, dan pendapatannya hanya mencukupi untuk hari itu saja. Di Indonesia, khususnya untuk ranah pekerja kebudayaan jumahnya tak sedikit. Mereka rata-rata adalah orang-orang yang tak memiliki alat produksi sendiri. Kalau pun punya, alat produksinya sangat sederhana. Nilai tambah yang didapatkan pun akan sangat kecil. 

Untuk menjawab masalah ini, salah satunya dengan menggunakan srategi kebudayaan. Menurut Ignas Kleden, strategi kebudayaan pasti akan berhadapan dengan tiga jenis pertumbuhan yang terjadi pada tiga lapis kebudayaannya: (1) pertumbuhan ekonomi pada basis material kebudayaan; (2) pertumbuhan penduduk pada basis sosial kebudayaan; (3) pertumbuhan informasi pada basis mental kebudayaan, juga dinamika dan pengaruh dari tiga lapis kebudayaan ini. Ketiga pertumbuhan ini sangat memiliki dampak yang besar bagi pekerja kebudayaan. Di sini para pekerja berperan aktif sebagai agen kebudayaan, bukan sekedar menerima. Tak sekedar menjadi subjek yang normatif, tapi kreatif. Pekerja kebudayaan tidak sekedar mengatakan tentang apa yang harus dilakukan, melainkan juga apa yang dapat dilakukan.

Sebab itu strategi kebudayaan yang di dalamnya mengandung perangkat keras kebudayaan seperti teknologi, regulasi, sampai institusi; serta perangkat lunak kebudayaan seperti softskill dan etika mesthi mengakomodir kepentingan kelas pekerja kebudayaan. Konkritnya seperti: menyerampakan birokrat kebudayaan dan pekerja kebudayaan; revitalisasi infrastruktur kebudayaan seperti taman budaya, balai lokakarya, sanggar, dan lain-lain; serta mempunyai visi dan wacana yang jelas dalam berbagai kegiatan budaya (berkegiatan tidak sekedar berkegiatan). [Isma Swastiningrum]

Diskusi seniman (Koleksi Lukisan Galnas)
Referensi:

Belfiore, E. (2015). “Impact”, “value” and “bad economics”: Making sense of the problem of value in the arts and humanities. Arts and Humanities in Higher Education, 14(1), 95–110.

Habibi, Muhtar. (2016). Surplus Pekerja di Kapitalisme Pinggiran. Tangerang: Marjin Kiri. 

Kay, John. (2010). A good economist knows the true value of the arts. Financial Times, 10 August. Available at: https://www.ft.com/content/2cbf4e04-a4b4-11df-8c9f-00144feabdc0 (accessed 7 July 2019).

Kelden, Ignas. (1987). Berpikir Strategis tentang Kebudayaan. Jurnal Prisma. Edisi Maret 1987, pp. 3-9.  

Mattulada. (1979). “Kebudayaan Politik dan Keadilan Sosial: Tinjauan Historis” dalam Ismid Hadad (ed). Kebudayaan Politik dan Keadilan Sosial. Jakarta: LP3ES.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. (2000). Ekspresi Seni Orang Miskin: Adaptasi Simbolik Terhadap Kemiskinan. Penerbit: Nuansa.

Wednesday, July 31, 2019

Crowdfunding dan Blockchain Sebagai Model Distribusi Pendanaan Seni

Model pendanaan seni menjadi bahasan yang cukup rumit di kalangan seniman. Salah satu  model pendanaan seni yang marak di Amerika Serikat adalah model pendanaan crowdfunding (penggalangan dana). Plaftorm seperti Kickstarter, Indiegogo, RocketHub, merupakan salah tiga dari penyedia layanan penggalangan dana. Di Indonesia platform yang dikenal seperti Kitabisa dan Kolase. Cara ini marak dilakukan di jagat maya dan iklim budaya industri. 

Model ini dianggap menjadi jalan para seniman untuk mendapatkan sumber dana secara cepat melalui jejaring mereka. Penggalangan dana “memanfaatkan nilai lebih” dari beberapa patron utama untuk memberikan keuntungan pada yang lain. Namun penggalangan dana ini memiliki tantangan dan masalahnya sendiri, seperti penggalangan dana membutuhkan konektifitas yang intens antara penerima dana dan para donaturnya; mereka kadang juga harus mengikhlaskan emosi dan psikologi yang lebih.

Survei yang dilakukan oleh Davidson dan Poor terhadap 73 responden di Amerika yang penggalangan dananya dibagi menjadi empat kelompok: film dan video, penerbitan, musik, dan gim. Secara simbollik empat kategori ini mewakili budaya industri dan berpotensi menimbulkan distribusi massa. Penelitian menunjukkan penggalangan dana tergantung jaringan sosial terdekat seperti keluarga, teman dekat, dan kenalan profesional yang memberikan sinyal positif. Kebanyakan penyokong dana adalah kawan-kawan dekat. Meski ada yang di luar itu. Tergantung jaringan.

Model pendanaan lainnya, semisal melansir penelitian dari A. Whitaker berjudul Artist as Owner Not Guarantor: The Art Market from the Artist’s Point of View mengimajinasikan apa yang akan terjadi jika seniman menguasai 10% atas karya mereka di dalam pasar bebas? Sistem ini mensyaratkan berdirinya pasar yang baik sebelum sebuah karya seni terjual, penyediaan perlindungan kepada seniman, dan lebih menganekaragamkan struktur dana seni. Ide-ide tentang seniman sebagai pemilik fraksional dapat diperluas untuk menggambarkan semua pekerja kreatif sebagai pemilik hasil mereka sendiri. Ide besar demokratisasi pendanaan ini yang dikenal sebagai Blockchain. 

Blockchain memungkinkan menegaskan hak properti atas kreasi seniman sendiri. Menyediakan akuntansi yang murah dan sumber otomatis. Pendistribusian pendaftaran dengan struktur mata uang digital yang dinamakan Bitcoin. Blockchain sendiri sederhananya sebuah struktur partikular yang mendistribusikan buku besar yang dibagikan sepanjang jarigan komputer, setiap komputer memiliki salinan yang serupa. Distribusi sistem menghapus kebutuhan kepercayaan pada otoritas sentral, contohnya seperti bank dan lembaga keuangan. Sejumlah perusahaan blockchain dalam seni telah dibangun, termasuk Ascribe dan Monegraph. Kedunya membantu seniman untuk mendaftar dan menjual edisi seni digital.

Platform crowdfunding dan Blockchain yang telah berkembang di Amerika Serikat tersebut bisa menjadi contoh menarik bagi model pendanaan seni di Indonesia. Sebab model tersebut sangat membantu bagi seniman. Masalah yang kerap terjadi model pendanaan seni di Indonesia masih individu. Kebanyakan didanai sendiri. Tapi pas dipamerkan ke publik, buat senimannya sendiri secara ekonomi juga tidak memberi sumbangsih besar kadang. Kecuali seniman pelukis yang mempunyai nama besar, kemudian dibeli oleh koletor dengan harga mahal. Atau di bidang seni lainnya. Dalam praktiknya seniman dapat memilih untuk mengekar strategi diversifikasi seperti memperdagangkan saham dalam seni satu sama lain atau lindung nilai dari paparan terhadap karya mereka sendiri.

Bitcoin merupakana mata uang yang sangat alternatif dan membahayakan penguasa di masa depan. Itu kenapa kehadirannya dilokalisasikan pada image transaksi “pasar gelap”. Ini kenapa perkembangannya sangat lambat di Indonesia karena membahayakan para pihak ketiga, middle man, tengkulak, dan sejenisnya. Termasuk perusahaan start up seperti Gojek dan Grab yang memiliki akses konsumen terpusat. Di Blockchain tidak. Pencatatannya pun transparan, rapi, kekal, dan aman. Model ini sangat cocok bagi para seniman jika ingin berinvesatasi dengan panjang.  Seniman juga dapat mengembangkan imajinasinya sendiri terhadap segala kreasi yang diperjualbelikan dalam model dana seni gaya baru ini. 

Mohon Maaf Karya Sedang Dikonservasi
Referensi:

Davidson, R., & Poor, N. (2014). The barriers facing artists’ use of crowdfunding platforms: Personality, emotional labor, and going to the well one too many times. New Media & Society, 17(2), 289–307.

Whitaker, A. (2018). Artist as Owner Not Guarantor: The Art Market from the Artist’s Point of View. Visual Resources, 34(1-2), 48–64.

Tuesday, July 30, 2019

Sebagai Pengingat, Bunuh Pamer

Tidak adil pamer prestasi pada temanmu yang tak punya prestasi dan merasa hidupnya tak berguna, sama tidak adilnya pamer makanan pada temanmu yang kelaparan dan tak punya uang. Atau pamer kerja pada temanmu yang pengangguran. Pamer sehat dan ketawa setan pada temanmu yang sakit. Jika itu yang terjadi, kau tidak hanya sedang menyebar rasa sakit pada titik intinya, tapi juga srigala kurap tanpa empati. Wujud pamermu bisa dalam berbagai bentuk: ucapan langsung, status-status media sosial, dan terutama sikap yang tidak kamu sadari. 

Ada dua titik ekstrim kalau kamu insaf: merasa lebih tinggi di level rendah, dan merasa rendah di level tinggi. kukira ini adalah penyakit bahaya yang mesthi diselesaikan. Menyelesaikan sampai di titik tengah-tengah: semuanya baik di level tinggi atau level rendah adalah biasa saja.

Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

30 Juli 2019

Sunday, July 28, 2019

Hari Ini Aku Ingin Menemui Diriku Sepuluh Tahun Lagi

Untuk,

Isma Swastiningrum (26 tahun)

Sudahlah Is, buang semua angan-angan dan mimpi-mimpi indah yang sering diumbar banyak orang dalam setiap kesempatan. Tanpa diajari, kamu juga paham, rumus sukses itu kayak apa. Dari racikan sifat 1, 2, 3 atau sikap x, y, z. Tak ada yang berminat untuk menjadi gagal. Tapi ini hidup, hal yang paling mahal hanya ada dua: kesempatan dan pilihan. Itu yang membedakan kenapa hidup setiap orang tak sama, tak pernah sama. Apa yang dihirup, apa yang dimakan, apa yang dipikir, apa yang dirasa, apa yang dilakukan.

Cuma ada dua kondisi, kesempatan menciptakan pilihan atau pilihan menciptakan kesempatan. Dua kondisi ini pun kamu harus memilih lagi. Tidak memilih atau lari dari pilihan juga adalah pilihan. Jadi siapakah dulu yang pra-eksis? Pilihan atau kesempatan? Tanpa kesempatan, mana bisa kamu memilih? Tapi juga kan, kamu bebas memilih sebelum kesempatan itu terjadi atau telah terjadi. Persetanlah, kupikir semuanya arbiter. 

Oke Is, mari kita berdamai saja. Hari ini aku tahu, kamu tengah berada di titik terendahmu. Kamu tengah jatuh. Kamu terpuruk hebat. Kamu sekarang memang tidak punya kesempatan untuk menjalani apa yang kamu mau. Tapi kamu harus ingat, kamu punya satu hal berharga lainnya: pilihan. Pilihan inilah yang akan mengantarmu ke kesempatan-kesempatan lainnya. Masalahmu sekarang hanya takut memilih. Benar kan? Tolonglah jangan defensif biar diagnosis masalahmu ini jadi lebih mudah. Aku sungguh ingin berbicara dengan dasar dirimu. Mau ya? Anggap aku adalah dirimu yang berumur 36 tahun, yang tengah berbicara dengan dirimu yang berumur 26 tahun. Aku cuma ingin melihat, seberapa sukses kamu berjuang sepuluh tahun kemudian? 

Is, aku cuma butuh enam bulan aja minimal untuk membentuk mindset dan pola hidup kamu yang baru. Enam bulan adalah batas minimal menumbuhkan rasa memiliki, sehingga ketika kamu tinggal kamu tak akan rela. Kumohon enam bulan saja. Selama enam bulan itu, pilih satu bidang yang benar-benar ingin kamu dalami. Kumohon pula jangan serakah. Tidak semua hal bisa kamu dalami. Satu saja bidang, tema, dan fokus. Seperti Colonel Sanders hanya fokus pada ayam goreng saja, tidak ayam bakar, ayam tumis, atau ayam pepes. Jangan berambisi untuk mendalami, mempelajari, dan melakukan semuanya; bodoh kalau itu ingin kamu lakukan. Satu saja yang kamu benar-benar yakin. Sekali lagi jangan tergoda dengan lapak orang lain yang lebih menggiurkan dan menarik matamu; yakinah di luar fokusmu itu hanya bias dan distraksi saja. Genggamlah satu saja kesetiaan itu, semacam kesetiaan pada kekasih, kesetiaan pada Tuhan. Dan sensitiflah terhadap segala hal yang membuatmu jatuh. Maaf ya kalau sampai di titik ini kamu merasa aku mengguruimu Is. Kamu memang butuh guru, dan gurumu adalah aku, dirimu sendiri. Apakah kamu sudah terbayang akan fokus pada apa semacam Colonel Sanders yang fokus pada ayam goreng? Kalau belum, usahaku akan jauh lebih berat untuk mengupasnya. Dan aku mendengar lirik hatimu yang paling sunyi kamu mengatakan belum.

Baiklah, mari kubantu kamu mencari fokus itu. (Ada baiknya kamu puasa tiga hari dulu minimal untuk berpikir, atau semacam tirakat, sekarang aku hanya akan menunjukkanmu jalan saja.)

Oke, jadilah pilot untuk dirimu sendiri. Itu aturan pertama. Jangan over analisis nanti paralysed. Teori dan praktik harus kamu perlakuan adil. Sebab kuperhatikan akhir-akhir ini kamu terlalu sering menyayangi teori daripada praktik. Setelah jadi pilot, lakukan micro-manage. Mulailah dari mencoba mengatur segala hal yang terlihat kecil dan remeh temeh. Kalau hal kecil saja tidak bisa kamu atur, bagaimana kamu akan mengatur hal yang lebih besar. Levelnya hingga ke mikro. Aturan kedua, dunia ini lapangan udara yang sangat luas, kamu ingin ke arah mana? Tujuanmu. Ukur daya tahan kamu menghadapi risiko yang disebabkan oleh pilihan. Selalu ingat, risiko selalu bisa disimulasi. Baik fisik maupun mental. Pecahkan dengan ilustrasi yang mudah-mudah. Buat diferensiasi dan saringan-saringan jika dibandingkan sistem lainnya. Lalu kunci besarnya adalah kunci D: DISIPLIN. Semua ilmu tidak ada artinya jika kamu tidak disiplin. Seperti cara Colonel Sanders, fokus pada satu sistem, satu produk, dan satu teknik saja. Lakukan berulang kali, berulang kali, berulang kali. Dari sana kamu akan dipeluk oleh sosok yang bernama ciri khas. Sesuatu yang otentik.

You have to be expert in that field. Don't compare yourself with others, there will be pressure. Don't be unique, be original. Don't value it from your dream, it's bias. Based from your track record. It will help you much.

Is. Sekarang aku sudah membuat banyak buku, banyak tulisan, banyak orang juga yang tersadarkan, tercerahkan, dan pikiran-hidupnya berubah karena membaca tulisanmu. Karya, buku, tulisan, dan pemikiranmu tak hanya dibaca oleh orang Indonesia saja. Namun juga banyak negara di seluruh dunia, dari negara-negara di benua Asia, Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan lain-lainnya. Itu kan mimpi besarmu, ayo disiplinlah. Mulailah dari sana. Lakukan pecahan-pecahan kecil hingga menjadi sangat-sangat mudah untuk kamu lakukan--dengan catatan super D, disiplin. 

Dari,

Isma Swastiningrum (36 tahun)

Wednesday, July 10, 2019

Kritik Parsial Tulisan Berat

Sebagian sangat berambisi untuk menjadi serius, berat, atau setidaknya kelihatan menyerupai itu. Sebagian lagi puas dengan yang receh-receh, ringan, dan banal. Keduanya saling memusuhi, saling mengumpat di kandang kelompoknya sendiri.

Problem orang berambisi ingin terlihat serius dan berat dari struktur tulisan:

1. Banyak melupakan fakta, apalagi fakta sekitar, fakta terdekat, fakta masyarakat; lebih suka memakai fakta kadaluarsa ala-ala sejarah yang woh, besar, tonggak. Yang kontekstualisasinya kadang sangat sedikit. Parahnya kadang fakta itu mengaburkan kejernihan tulisan secara keseluruhan.
2. Banyak main jargon. Jargon tokoh besar, jargon moral, jargon motivasi. Beberapa memainkan emosi yang tidak perlu. Membuat lagi-lagi perspektif jadi bias. Mengesampingkan inti isi dan masalah utama.
3. Pembahasan yang terputus-putus dengan sulaman yang tidak rapi. Paragraf satu bahas A, paragraf dua bahas B, paragraf tiga balik ke A, paragraf empat ganti ke C, balik lagi ke A. Yang baca seperti diajak berputar-putar secara tidak efektif dan efisien.
4. Penyeleksian perspektif tokoh yang tidak selektif. Kadang fungsi nama tokoh cuma buat pamer dan numpang "nama besar" si tokoh saja.
5. Analisis, perspektif, contoh yang dikemukanan terlalu "umum", tak ada mata spesialisnya di sana, seumpama pisau ia tak cukup tajam, seumpama bunga ia tak jelas wangi bunga apa.
6. Didukung kata sifat yang tak sesuai penempatan. Hati-hati dengan kata sifat. Kata sifat berarti penghakiman. Rasa untuk personal.

Ini refleksi dari pengalamanku sendiri. Tak harus sepakat. Di luar semua itu, ada satu hal penting yang sering dilupakan: kesederhanaan.

Kalau kuibaratkan sungai, tulisan yang baik itu seperti: air yang dari hulu sampai hilirnya itu jernih, mengalir, sehat, dan enak dinikmati. Jernih karena berdasarkan fakta, realitas, dan asumsi yang bertanggung jawab. Mengalir karena sesuai dengan urutan-urutannya. Sehat karena berintegritas, tidak ada informasi sakit yang masuk ke tulisan. Enak dinikmati karena perspektif, analisis, dan gaya menulisnya yang segar.

Friday, June 7, 2019

Image Control

At the Eid Mubarak, my pal shared article with the title: Keanu Reeves Is Too Good for This World from The New Yorker. This article teaches me much: it's okay to be alone, it's okay to be suffered, and it's okay separate from this canned-blather world. The noteworthy point is told about Keanu's life who has remembered me with Indonesian actor Nicholas Saputra--I awe and fond him. They're same in few aspects: mysterious, itinerant alone, and aloof. Yet, still robust.

Source: The New Yorker
All have been in the world that struck you on the precipice. Then you walk teeter to secure, because you're not cogent. Can you walk without grasp? Without feeling dread? Without fellow for to be instanced? What a difficult it is. How inscrutable the edge rebuke us. Shriek on confess. This ties with what I call "image control". Everyone has it. As cameo shines revelation after fight from buff torture. To pace up and down.

Thereby, image control for me is a everything that you do to against reverse and adverse about your inner or outer to others. A system controlling your citra and name. This control within you on precedent or unprecedented situation. When it's a question of ideas about image control my ideas are severe than your ideas. Or when it's a question of ideas about image control, mine are severe than yours. No problem.

I have instanced from my friend. His name is IA, just initial. After I had heard his saying about image control at one day, I thought deeply on myself: how about my image control? When IA had had conscious about it, he turned on cool man. He had been very splendid, because he didn't dictate. The other names were MH and BHJ. They are like teachers to me who inspires me until now. As intellectual actor or progressive scholar, they do all in silent. Not shriek on social media, they're not active. They don't show their suffer just their masterpiece. They who I called: man who walks on quiet way.

In the last, Keanu Reeves ever said: "Every struggle in your life has shaped you into the person you are today. Be thankful for the hard times, they can only make you stronger." And then, "when you're going through hard times and wonder where God is, remember the teacher is always quiet during the test."

Wednesday, June 5, 2019

Without Regret for What I've Done

Year by year, when Idul Fitri has come, maybe just one sentence that always repeat by my brother in there--even maybe I was saying sorry on thousand times: "without regret from we have done. Taqobbal ya kariim."

And it makes me thinking anymore, do I regret with all I have done or do ever? Yes, I do. Why? I don't know clearly why. Are you apologize yourself? I am not sure. For me, very easily apologize other people and difficultly apologize myself. It has made me sad and hurt. 

My brother taught me much how to see the world. How I have valued something. Its have been principal to me. He is very independent man that I ever met. Realist, naturalist, solitary, and I owe him with his character example. Are you feel that he is your patron Isma? Ostensibly. I just stranger on his mind who much copy his act and how he's thinking. I'm not sure but he is like my other part of myself. Even, consciously I just one of his complex world. Like one of billion men in mankind. 

But I don't care. We are same character at principal stance. We are equal. He taught the people around him too and I'm not special of course. In the fact, many people love him. No problem, it's done naturally. 

Repeatedly: without regret for I've done. Minal aidzin wal faidzin. 

Alone at The Old Town, Jakarta, 1 Syawal 2019.