Monday, July 27, 2020

Kesan Nonton "Parasite", Siapakah yang Disebut Parasit?

Nonton film "Parasite" tengah malam, tertarik nonton karena popularitasnya yang dikatakan berkualitas ibu jari. Tipe film Korea bergenre dark pertama yang kutonton. Gelapnya lebih ke kepahitan kelas sosial yang dibungkus dengan sangat rapi oleh sutradaranya. Nonton film ini 2 jam lebih gak terasa, tahu-tahu, loh, kok selesai.

Film dibuka dengan adegan sebuah keluarga miskin yang hidup di kolong basemen. Keluarga miskin ini berisi: Kim Ki-taek (ayah), Choong-sook (ibu), Ki-woo (anak laki-laki aka Kevin), dan Ki-jung (anak perempuan aka Jessica). Mereka menipu keluarga kaya dengan dokumen palsu agar bisa bekerja menjadi guru les bahasa Inggris, guru les seni, sopir, dan Asisten Rumah Tangga pada keluarga kaya. Sanak konglomerat ini berisi: Yeon-kyo (ibu), Mr. Park Dong-ik (ayah), Da-hye (anak perempuan), Da-song (anak laki-laki).
Keluarga Ki-taek
Sutradara Bong Joon-ho terampil menggambarkan kondisi sosial dua keluarga beda kelas ini. Bagaimana saat Ki-jung mencari sinyal hingga di atas WC-lah wi-fi itu kencang; bagaimana bau badan orang-orang miskin; bagaimana kondisi rumah kolong tanah ketika hujan; bagaimana nasib ratusan orang yang mengungsi di gymnasium karena rumah terendam; bagaimana perlakukan orang kaya terhadap pembantu dan sopir mereka; bagaimana orang kaya dan orang miskin memperlakukan makanan; bagaimana strategi survival hingga manusia harus bertingkah seperti tikus yang hidup di lorong-lorong bawah tanah, pengap, tanpa cahaya, dengan beban psikologi inferior; dan lain-lainnya.
Pertanyaan Ki-woo (Kevin) pada Da-hye
Ada beberapa adegan yang bagiku dark comedy. Pertama ketika Ki-jung salah makan kudapan. Dia makan snack yang ternyata adalah makanan anjing. Ki-jung tahu ketika membaca bungkusnya. Kedua, ini yang pahit banget, saat pesta Indian Da-song dilakukan di taman rumah, Ki-woo bertanya pada Da-hye, kira-kira seperti ini sambil melihat orang-orang kaya itu berpesta: "mengapa mereka (orang-orang berada) begitu alami (sebagaimana mereka yang menawan, keren, berkualitas, berkelas bahkan untuk suatu pertemuan dadakan)?" Pernah gak sih ngrasa kayak gitu juga? Misal kalian ada di pihak orang miskin ketika melihat orang kaya, kenapa ya penampilan mereka seperti itu? Ini pertanyaan besar buatku yang sering mikirin itu. Ketiga, saat si ayah Ki-taek bilang, hidup ini sebaiknya gak ada rencana, jadi gak ada hal yang perlu disesali. Kalau dipikir-pikir benar juga. Meski tatapan Ki-taek jadi kosong kemudian. Keempat, bau seseorang memang tak bisa bohong. Menggambarkan kelas sosial, bagaimana keluarga Ki-taek disebut berbau lobak busuk, pakaian yang direbus, atau orang yang ada di kereta bawah tanah. Kelima, di akhir film, saat Ki-woo bermimpi ingin membeli rumah kaya milik Mr. Park. Bukankah itu mimpi-mimpi miliaran kaum miskin lainnya pula di muka bumi? Alegori ini semacam menuntun pada diriku sendiri, dan tragedi-tragedi betapa tak adilnya kenyataan bahkan sejak dari dalam mimpi. Banyak harapan-harapan indah yang berakhir tak sesuai rencana, saat seseorang bisa mencapainya dengan lurus-lurus saja macam red carpet, lebih banyak orang mencapai dengan ngesot-ngesot di semak belukar.

Manajemen kesan yang dibangun Bong Joon-ho lewat film ini memang keren. Tiga tujuan instrumental strategi dari: menjilat, intimidasi, dan suplikasi digarap dengan apik. Serta adegan realis yang jarang ditampilkan layar kaca berkantong tebal: ketika tai keluar dari kloset secara bertubi-tubi dan salah satu tokoh utama perempuannya mengambil rokok yang disembunyikan, lalu sedat-sedut di atas WC itu. Bagaimana Bong Joon-ho mau menampilkan adegan semacam ini? Adegan pembunuhan beruntun yang terjadi dalam film ini juga sangat tega, tapi ini riil, hidup memang setega itu kalau dirasa-rasa.
Terkait pertanyaan Ki-woo pula kenapa kelas sosial atas begitu alami, baik, keren, dan berkualitas? Bahkan di level yang paling kecil dan tiba-tiba, karena mereka kaya, yang berarti berada, yang bermakna bermateri. Dan hal yang paling buruk ketika seseorang menonton film ini, ketika yang disebut sebagai parasit adalah keluarga Ki-taek (keluarga miskin yang hidup di piramida sosial bawah). Mereka menipu, membunuh, malas, bau, jahat, iri, serakah, dan tak tahu diri. Orang kaya bisa melakukan kebaikan sesukanya, lalu dielu-elukan dan ditinggikan. Bukan hanya baik secara literally, tapi juga soal penampilan, pendidikan, karya, dan lain-lainnya. Oh Tuhan, betapa berat sebelahnya, bahkan tuduhan-tuduhan di balik mereka yang dilabeli penjahat, penipu, pemalas, even, pembunuh! Siapakah parasit sesungguhnya?

Semarang, 27 Juli 2020

Kesan Nonton "Playfull Kiss"

Drama Korea "Playfull Kiss" ini dulu kesukaan adik perempuanku. Udah lama, sepuluh tahunan yang lalu kayaknya tayang di TV Indonesia. Aku nonton ulang, gak nyangka mayan cepat juga nontonnya. Dua hari selesai, hari pertama 6 episode, hari kedua 10 episode. Drakor bikin candu itu ternyata benar adanya. Tak seperti Autumn in My Heart yang penuh kesedihan, film ini lucu dan sering buat ketawa. Hahahahaha. Betah nontonnya.

Premis film sebenarnya sederhana: ada perempuan bodoh yang mencintai laki-laki jenius, mereka saling jatuh cinta dan menikah. Yes, sesederhana itu. Namun perjuangan si tokoh perempuan Oh Ha Ni ini yang bikin menarik buat dapatkan hati jenius Baek Seung Jo yang punya IQ 200 (emang ada?). Banyak tokoh yang kusuka dalam drakor ini, karakternya pun menarik-menarik. Dari keluarga Baek Seung Jo (terlebih ibunya yang awet muda, si adik Eun Jo), dua teman Oh Ha Ni (Min Ah dan Jo Ri), Hae Ra, Sunbae, Bong Joon Gu, dan lain-lain.

Banyak yang aku pelajari, terlebih bagaimana cara berpikir orang jenius. Kalau analisisku, Baek Seung Jo itu karakternya INTP, bertolak belakang banget sama Oh Ha Ni yang ESFP. Tapi ya gitu, orang jenius kebanyakan gak punya hati, sampai orang ngirim surat cinta ke dia (Seung Jo) aja harus dikoreksi bahasa dan EYD-nya. Dikasi nilai D- lagi. Dasar! Dia juga logis, rasional, bacaan buku-buku dia Bertrand Russell, Sartre, Nietschze, dan tokoh-tokoh lainnya. Dalam hal makanan dia juga pilih-pilih banget. Jangan makan manis dan berminyak, karena menurunkan daya ingat. Banyak makan buah dari kiwi, anggur, semangka. Intinya segala hal yang dia lakukan itu pakai otak. Mau pas belajar, olahraga, hingga mencintai.

Namun sebagaimana kata ibunya, Seung Jo tak punya perasaan. Perasaannya tak terasah terutama dalam hal cinta. Cinta tak seperti soal matematika yang dapat dia selesaikan dengan jawaban pasti. Oh Ha Ni jadi soal hidup susah yang menantang dia berpikir di luar zona nyaman. Ini kutipan-kutipan menarik yang kuskrinsut. Buat dokumentasi:
Arti kebebasan dari Hae Ra (saingan Ha Ni yang juga jenius)





Ha Ni memang konyol, dia ikut ekskul yang bahkan bukan fak dia.


















Seung Jo sepertinya juga seorang psikoanalis, haha



Kalau udah cinta, dalam banget Ya Allah
















Dan ini kutipan yang paling kusuka:

Ini ketika Seung Jo merasa tak ada hal apapun yang menarik untuknya karena segala hal bisa dilakukan dengan mudah. Seung Jo kelebihan otak hingga Ha Ni menyarankannya agar menggunakan otak itu untuk membantu banyak orang. Aku merasa ini relate, haha. Ha Ni benar. Hm, struktur otak dan kepribadianku memang nyerempet-nyerempet sama Seung Jo, kayak ngaca ke diri sendiri kadang. Tapi gimana pun, hidup itu harus dilakukan dengan senang dan bahagia, seperti kata nenek Ha Ni yang diucapkan Seung Jo saat pidato kelulusan sekolah. Aku suka juga dengan imajinasi Ha Ni. Menarik. Usai nonton film ini aku mendeklarasikan diri jadi penggemar Kim Hyun Joong yang meranin Baek Seung Jo, haha (pa'an dah).

Pelajaran berharga pula yang kudapat dari drakor ini: "kalau gak punya otak sejenius Baek Seung Jo, milikilah hati yang kuat dan tulus seperti Oh Ha Ni." Mereka memang pasangan yang manis.


Lof.

Semarang, 27 Juli 2020