Friday, July 20, 2018

Menyusun Kata

Dari kemarin mata rasanya tidak tidur, apalagi pikiran. Sibuk merangkai kerangka-kerangka kalimat mana yang tepat untuk menjadi bagian pembuka, inti, dan penutup. Ternyata tulisan berkasus tak semudah itu.

Menumpuk wacana. Menumpuk teori. Menumpuk premis. Jika susunannya tak baik, tak bisa menghadirkan cerita yang mengalir.

Keresahan personal lebih penting/menusuk/menyentuh/dan mudah daripada wacana dan teori yang muluk-muluk. Juga kenyataan lebih mudah daripada abstraksi dan absurditas.

Tapi yang paling penting adalah membuat jalannya dulu. Akan lama ini menjadi sesuatu yang menjadi jika jalannya belum ketemu. Mencari jalan ternyata juga tak semudah menulis angka dari satu hingga sepuluh atau hingga seratus.

Picisan (1)

Menyelam. Aku tak juga sampai menggapai dasar diri sendiri. Atau pikiran-pikiranku yang tak henti-hentinya menuju padamu. Sudah sangat pelan sembari kudengar lagu-lagu sepi angin dan dinginnya penantian yang usang. Dari orang yang sudah penuh hanya dengan dirinya sendiri.

Jika takut, aku mencoba merapal namamu. Sembahyang pada ingatan-ingatan yang menyenangkan. Semakin meresapinya, semakin abstrak. Seolah almari, meja, kursi, dan jam dinding tak ada lagi. Tak ada yang menyakitkan selain tercerabut dari kenyataan; yang lebih nyata dari mimpi dan khayalan.

Buku terserengkah, tikus lewat di kolong-kolong ingin mencuri makanan, detik jam yang semakin kaya putarannya, dan adakah pekerjaan yang lebih menyebalkan selain membiarkan tanggung jawab yang belum selesai? Kumohon bersahabatlah.

Wednesday, July 11, 2018

Ritus Melupakan

Andai ritus melupakan semudah itu. Aku tak perlu melupakanmu hingga hatiku rasanya sesak begini. Tak perlu berpikir waktu berlalu begitu sangat lama. Juga tak perlu menyedihkan kemungkinan-kemungkinan negatif yang kureka-reka sendiri.

Andai ritus melupakan semudah itu. Aku tak perlu berkhayal kau akan menemaniku makan, menemaniku belajar, menemaniku membaca, menemaniku menangis; mendengarkan ceritaku, kesahku, sedihku, protesku, perbuatan-perbuatan konyol dan khilafku; sambil kusadari betapa ekspresifnya aku di depanmu. Aku belum pernah merasa seekspresif ini di depan orang lain, kecuali di depanmu, bersamamu.

Andai ritus melupakan semudah itu. Semudah mengingat semua yang kau bagikan padaku.

Kamu tahu apa satu doaku: jika aku gembok, kamu adalah satu-satunya kunci. Satu saja, satu yang dapat membukanya.

Jika tidak ... Aku akan berdoa: semoga ritus melupakan memang mudah. Semudah melepaskan nafas.

Tuesday, July 10, 2018

Ambisi Jeni

Aku selalu berambisi untuk menjadi manusia cerdas. Aku tak akan membiarkan satu orang pun di kelas yang lebih cerdas dari aku. Guru sekalipun, secerdas apa pun dia aku akan berusaha melebihi dia.

Semua berawal saat aku dikatakan GOBLOK oleh "seseorang"--dalam kondisi yang aku rahasiakan. Satu kata itu semacam hujan deras yang membekukanku di tengah jalan. Terdiam. Terasing. Tak berhenti.

Hal yang paling aku benci adalah melihat orang lain belajar. Aku selalu merasa sakit hati ketika melihat orang lain belajar. Persetan dengan perasaan tersaingi, dia sudi menjalani proses buat cerdas itu yang aku tangisi.

Kunamai diriku sendiri dengan nama "jenius", panggil aku Jeni.

Monday, July 9, 2018

The Letter That He Never Reads

Dear...

I was feeling your girlfriend or woman that you love was die. You write much this story in your many song. From: Night and Day, Quiet Garden, The Cliff, No Wish, Sky in The Pond, Diamond Dust, etc. You built hut/cliff to her. You are so faithful to her and I am envy with that, she's so lucky having you. I imagine if I could be her. Maybe, as your song said: I could give better vibrations to you. But, I understand...... this "Meet Along The Way".

17 Nov 2017

Pikiran Menyadari Pikiran

Aku tersadar cara berpikirku meloncat-loncat. Aku tersadar pikiranku sedang tak sistematis. Aku tersadar antar pikiran satu dan pikiran lain tak logis. Aku tersadar antar pikiran ini tak terhubung. Aku tersadar pikiranku ini jelek. Aku tersadar menyimpulkan aku telah membuat karya yang serampanga. Aku tersadar aku mengganggap karya ini buruk. Aku tersadar lalu bertanya: apakah ini efek dari pikiranku? Aku tersadar aku tak bisa berbuat apa-apa untuk karya itu. Aku tersadar untuk mencari sebab dan jawaban. Aku tersadar aku terus berpikir mencarinya. Ya, sementara ini aku catat dulu.

Setelah beberapa menit. Aku meng-edit-nya. Ini salah satu jawabannya, tapi tidak sebabnya.


Simfoni Dvořák

Pertama kali kudengar simfoni Dvořák adalah saat kakiku kram setelah berjongkok selama satu jam di dalam kotak biru berukuran 16 x 35 nano. Simfoninya melompat ke dalam telingaku serupa kucing yang mengejar pasangannya saat lagi birahi. Dvořák tak berkata-kata, hanya simfoninya yang berkata. Semua energinya ada di simfoni itu. Aku lalu berubah menjadi sebuah biola dan hasrat-hasratku berubah menjadi sebuah piano. Kotak biru itu hanya menyisakan piano dan biola. Dvořák tak lagi terdengar. "Apa Dvořák menjebakku dengan romansanya itu?" pikir otakku yang menjelma tuts piano. Semakin aku berpikir, semakin piano itu mengeluarkan bunyi. 

Tuhan, aku tak mengerti partitur, apalagi memainkan piano. Namun aku menyukai bunyi Tuhan. 

Biola lalu menggesekkan dirinya sendiri. Berbunyi sedetik dan sangat indah.

Aku diam. Sekian jam. Tak terjadi apa-apa. Lalu perlahan menyusut dan aku menjadi manusia lagi. Dvořák datang lagi. Simfoninya berkisah tentang romansa yang terjadi antara kelas borjuis dan proletar.

Dvořák, aku hanyalah masyarakat kelas menengah, tapi caramu begitu indah.