Rabu, 17 Februari 2021

Lionel

Lionel membawa kotak kecil tempat untuk berburu kepiting dan kodok. Ia berburu bersama Papi. Hari ini dia senang Papi mengajaknya menyusuri sungai. Kaki Lionel menyentuh permukaan pasir, kerikil, dan air yang mengalir pelan. Di sekelilingnya tanaman-tanaman hijau. Sesekali Lionel takut dia akan jatuh terpeleset.

"Pi, aaaa," teriak anak laki-laki umur 7 tahun itu pada Papinya yang memantau dari belakang sambil membawa jaring kecil, Lionel merasa akan terpeleset tapi tubuhnya bisa menjaga keseimbangan.

"Jatuh ya, jatuh," ejek Papi.

"Gak jadi, wek," ejek Lionel balik dan Papinya cuma ketawa. Si Papi begitu senang bisa melihat putra semata wayangnya itu tumbuh dari dekat. Memantau perkembangan Lionel dan memberikan respon cepat terhadapnya adalah komitmen yang ingin dia usahakan sungguh-sungguh. 

"Pi..."

"Iya?"

"Kenapa sungai berkelok-kelok ya?" tanya Lionel penasaran. 

"Karena ada arus."

"Kenapa ada arus Pi?"

"Karena air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah."

"Kenapa dari tempat tinggi ke tempat yang rendah ya, Pi?"

"Emm," Papinya bingung menjelaskan fenomena gravitasi dengan bahasa yang sederhana. "Sama kayak Lionel nuang air, airnya jatuh ke bawah kan? Bukan ke atas?"

"Oh, iya-ya, terus kenapa ada batu?" tanya Lionel mengikuti atensinya yang berubah-ubah sesuai dengan visualnya. Apapun yang baginya menarik akan ditanyakan. Papi jadi guru yang serba tahu yang menjawab apapun yang ditanyakan Lionel.

Papi kemudian menunjukkan pada Lionel seekor kepiting kecil di pinggiran sungai yang diam-diam merayap. 

"Papi dapat!"

"Yah, Lionel belum nih."

"Itu-itu!"

Lionel pun menangkap kepiting yang ditunjukkan Papinya. Gak hanya kepiting, akhirnya Lionel juga menangkap kodok kecil. Lionel merasa senang

"Pulang nanti, kamu rawat di akuarium ya, Nel."

"Oke." 

"Jangan lupa dikasi makan," pesan Papi. Lionel dan Papi tengah istirahat di bawah pohon yang teduh dekat sungai. Papi asyik memijat-mijat pundak Lionel pelan. 

"Kamu udah ngerjain PR dari Bu guru buat besok belum?"

"Udaaah."

"Beneran?" Papi menginterogasi dan Lionel menegaskan apa yang sudah dia lakukan.

"Hehe," Lionel puk tak pandai berbohong, jika dia belum mengerjakan PR.

"Biar apa bohong gitu?"

"Gak papa Pi, gak papa."

"Lionel gak boleh bohong meski Papi marah."

"Iya, Lionel minta maaf." Tangan Lionel dan Papi pun saling bersalaman. 

"Yuk pulang, makan masakan Mami."

"Siap!"

Mereka pulang dengan riang.

Jogja, 17 Februari 2021

Rabu, 03 Februari 2021

Work Happily, Do It Heartly

Kemarin ke Semarang untuk kesekian kalinya. Kurencanakan berangkat pagi agar sampainya juga lebih cepat untuk mendatangi salah satu instansi militer pemerintahan. Sayang, ATM ku pagi itu hilang. Hampir satu jam waktuku habis untuk mencari. Perasaan ATM selalu kutaruh tas, gimana aku berangkat kalau nggak ada uang? Akhirnya aku pergi ke cabang Bank Mandiri terdekat, berjalan sekitar 2 kilo, cari cara ambil uang tanpa ATM. Cukup flat karena beberapa kali percobaan uang tak keluar. Nanya ke satpam cara ambil uang tanpa ATM, satpam tak memberiku jawaban yang solutif. Aku bilang ATM ku hilang, jawabannya ada 2 opsi: (1) Siapkan kartu tabungan untuk membuatnya lagi, (2) Buat surat kehilangan di kepolisian terdekat plus nomor rekening, buat lagi. Aku dikejar waktu tak akan sempat mengurusnya hari ini. Google pasti punya jawaban, dan memang benar menjawab. Aku bisa mengambil uang di ATM tanpa kartu menggunakan bantuan LinkAja. Dengan teknik tarik saldo. Meski biaya admin lumayan, 5 ribu per penarikan.

Akhirnya aku berangkat ke Semarang naik bus Nusantara. Sampai siang, makan di angkringan dekat Terminal Sukun dan melanjutkan perjalanan ke Jalan Pahlawan tempat instansi berada, di pusat kota. Aku naik Trans Semarang, otakku cukup kacau dan gak tahu aku merasa mood ku buruk waktu itu. Pengen sedih, marah, whatever, tapi ya lempeng-lempeng aja, as my default. Mungkin aku terlalu overthink my overthinking. Padal kan santai aja lebih enak. 

Di saat mood seperti itu, ada satu moment yang membuatku terharu dan menangis. Kejadian itu terjadi di dalam bus Trans Semarang. Ada Mbak masih muda, tingginya mungkin 160 cm, rambutnya panjang dikuncir, memakai hem flanel ungu dan tas warna ungu. Dia duduk di sebelahku, lalu ada ibu dua anak masuk, satunya masih kecil digendong, satunya umur sekitar 5 tahun perempuan. Anak yang tak digendong ini macam punya bisul bernanah di atas bibirnya, pakaian hingga kerudung kecilnya terlihat dekil, Mbak berpakaian ungu karena Trans Semarang goyangannya bikin oleng langsung responsif menggandeng dan menuntun anak perempuan itu sampai ke kursinya. Si ibu terlihat senang dan bahagia ditolong. 

Nah, di depan Mbak berpakaian ungu pas, ada seorang perempuam paruh baya, mungkin sudah Mbah-Mbah. Dari penampilannya sekilas, Mbah ini seperti sakit. Dia meminta tolong petugas karcis untuk memberinya plastik, mungkin mau muntah. Kulit tangan Mbahnya ini tak sehat, terlihat kusam, bintik-bintak kasar, dan dari wajahnya menahan mual. Mbah ini mengenakan baju longgar kusam dan tas ungu mayan besar. Mbak berbaju ungu pun langsung responsif mengeluarkan minyak kayu putih dari tasnya. Tangannya gercep. Langsung diberikan ke Mbah itu. Mbah itu terlihat senang, yang tadinya mau muntah setelah menghirup minyak kayu putih jadi membaik. Mbahnya kemudian bilang, yang kata-kata ini sering diucapkan oleh ibu kalau dapat pertolongan yang baginya berarti: "Matur sembah nuwun" beberapa kali. Mbah itu pun mengembalikan minyak kayu putih tersebut, tapi Mbak berbaju ungu bilang, "dibeto mawon (dibawa saja)." Dan Mbah tersebut berterima kasih kembali.

Tiba-tiba aku menitikkan air mata di dalam Trans Semarang. Aku dapat satu pelajaran yang begitu berarti dari Mbak berbaju ungu yang masih muda ini (mungkin usianya awal 20 tahunan). Pelajaran itu adalah "tolong menolong" sebagimana yang dilakukan Mbak berbaju ungu. Konsep tolong menolong bagiku sangat bermakna "dalam" untuk segala bidang, termasuk ketika melakukan pekerjaan. Lalu pikiranku berkelana terkait apa-apa yang kugeluti dengan segala hal-hal bullshit nan tinggi-tinggi. Aku mikir, ngapain sih kayak gitu, sok. Apa yang dilakukan Mbak berbaju ungu membuktikan perbuatan jauh memberi teladan daripada perkataan dan tulisan. Dan aku lebih percaya perbuatan daripada perkataan dan tulisan. Di lapangan pada kenyataannya, dunia ini penuh dengan konsep tolong menolong. Banyak yang butuh pertolangan, even, diri sendiri. Persoalannya siapa yang bisa responsif? Siapa yang bisa dengan tegas menjawab? Siapa yang mau berbuat dan memberi teladan?

Keesokan harinya, detik ini aku belajar lagi. Sepertinya aku punya semangat baru dalam bekerja: "Work happily, do it heartly." Bukan persoalan alat, tapi tekad. Dan bekerjalah dengan gercep, karena itu salah satu indikator kamu profesional. 

Godean, 3 Februari 2021