Jumat, 22 Desember 2023

22 Desember 2023

Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening

Tak terpecik niat meloncat menerjang langit luas membentang

(Kolam - Ajip Rosidi)

Senin, 18 Desember 2023

18 Desember 2023

I

Ku masih ingat di suatu perpus kala itu pas baca tulisan Pak Ignas Kleden dan kengototanku yang keras kepala. Tak banyak pemikir Indonesia sepertinya yang berani berpikir dengan argumennya sendiri. Tak afdol kalau gak pakai meminjam kata ... Ya macam kata Lady Marguerite Blessington ini, "Borrowed thoughts, like borrowed money, only show the poverty of the borrower." Wkwk (masih ada unsur meminjam, miskin!)

II

Saat kamu meyakinkan dirimu sendiri,  kamu baik-baik saja,  kamu sehat,  kamu cerdas, kamu sabar, kamu ikhlas. Di saat yang sama realitas bawah sadarmu bilang jika kamu bukanlah itu. Seseorang yang yakin tak perlu membuktikan jika dirinya yakin.

III

Aku pagi ini belajar: tak ada satu hal pun yang tak bisa kamu pelajari dengan mudah. Asal ada referensi dan kamu tekun dan jelas, mantap. Akselerasi akan tiba.

IV

Ya, aku paham aku terlalu rumit dan kompleks. Karena kerumitanku ini aku banyak dijauhi. Aku bisa memikirkan hal terlalu di luar jangkauan. Tapi tak apa, aku bangga jadi diriku sendiri.

V

 "Sampai di titik ini aku berpikir, menghidupkan orang di sekitarmu lebih penting ketimbang apapun."

 

Entah

Tiba-tiba semua terasa menua dan tidak menarik lagi. Facebook menua, Instagram menua, blog menua, twitter udah kumatikan (jarang kubuka), meski status WA berisik setiap menit. Di luar sana paranoid maya menyebar luas, dari privatisasi data ataupun privatisasi kapital dan sumber daya secara lebih canggih. Semua hal jadi bisa terpetakan hingga detail-detailnya. Termasuk makanan favoritmu, tempat nongkrongmu, barang hits yang suka kau konsumsi, hingga tipe orang-orang yang kamu sukai. Burukkah? Aku tak bisa menjawabnya dengan pasti.

Jumat, 01 Desember 2023

Catatan Film #2-3: "Gadis Kretek" (2023) dan "Ice Cold" (2023)

Satu serial dan satu film dokumenter Netflix ini punya benang merah yang sama: membicarakan perempuan dan stigmatisasi yang dihadapinya...

Gadis Kretek (2023)

Dari banyak segi apa pun, film ini kurasa perlu mendapatkan tepuk tangan. Saking bagusnya, saya langsung memesan di Shopee dan membaca langsung buku karya dari Ratih Kumala yang juga istri Eka Kurniawan itu. Membandingkan keduanya, aku merasa filmnya lebih hidup, lebih fokus, lebih padat, dan mampu menggambarkan nyawa asli melebihi apa yang ditulis oleh Ratih Kumala. Novel dan serial film tentu saja berbeda, dan itu hal yang tak perlu disalahkan. Secara kesan, aku tak bosen nonton film ini dari awal sampai akhir, sementara ketika baca novelnya, tiga hari udah selesai di tengah kesibukan.

Serial ini terdiri dari 5 episode. Tiap episode-nya sebagaimana khas-khas film serial Korea, membuatmu terus ingin menontonnya--dan harus kukatakan secara alur Gadis Kretek lebih bermutu daripada serial Korea yang pernah kutonton. Bercerita bagaimana Dasiyah atau Jeng Yah ingin menjadi seorang peracik saus rokok, di mana profesi dan privilege ini hanya didominasi oleh laki-laki. Lalu dengan bantuan Raya (Ario Bayu) yang juga cinta pertama Jeng Yah, mimpi itu berhasil diwujudkan. 

Kisah asmara berlatar sejarah tahun 65 ini kemudian berlanjut dengan ending yang boleh dibilang tak begitu menyenangkan. Bahkan kau akan iklas untuk memaki beberapa tokoh utamanya sebagai orang yang pria bajingan, Raya (red). Dia menurutku tipe orang yang tak tahu diri, oportunistik, dan seperti itulah kebanyakan karakter orang kalau diamat-amati. Lalu dia dihukum karena karmanya sendiri.

Yang aku salut dari film ini adalah bagaimana Ratih Kumala bisa menghidupkan arsip yang mati di Museum Kretek di Kudus menjadi suatu tayangan yang hidup. Ini beneran membutuhkan kerja keras dan ketelitian yang tidak sedikit. Banyak sekali museum-museum di Indonesia, jika arsipnya dihidupkan seperti halnya yang dilakukan Ratih pasti akan menarik. Tak heran dengan prestasi tersebut, Gadis Kretek jadi serial dari Indonesia pertama yang bisa nangkring sepuluh besar di Netflix internasional.

Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso (2023)

Film ini salah satu cabang film biografi yang berani dan mencuri perhatian publik saat peluncurannya. Ini sebagaimana kisah dari kasus kopi sianida Jessica Wongso yang heboh kala itu. Film ini digarap dengan teknik jurnalisme investigasi yang baik dan tentu, berani. Setelah nonton film ini, aku jadi mencari tahu lebih lanjut terkait kisah Jessica Wongso, segelintir kisah pribadinya di sosial media, dan bagaimana perjuangannya yang seolah menjadi "kambing hitam" permainan para werewolf.  Kisahnya memang sudah tujuh tahun lalu, tapi aktualisasinya diangkat kembali.

Aku sampai bayangin jadi Jessica, dia perempuan, mengidap depresi, dan publik menyalahkannya dengan berbagai tuduhan yang tak masuk akal. Dia mungkin punya privilege sebagai orang berpunya dan berpendidikan, namun privilge lain yang lebih tinggi dari dia memakannya. Wajah Jessica yang mengingatkanku dengan wajah temanku yang lain, yang bernama Tamara, juga membuatku merasa jika sosok-sosok yang jadi kambing itu perlu dibela. Bagaimana para tokoh didatangkan ke pengadilan, membeberkan analisis sesuai bidangnya masing-masing, bagaimana pihak kejaksaan yang harusnya jadi katalisator berjalan, serta berbagai bukti-bukti yang dimentahkan dengan bukti-bukti lain. Keluar-masuknya narasi ini menjadi investigasi yang susah untuk dicerna.

Jika ada kategori serial drama yang bener-bener drama, barangkali ini film puncaknya drama di Indonesia di dekade dia. Catatan harian milik Jessica kupikir juga bisa menjadi pengakuan yang cukup autentik dari mood dia yang sering berubah-ubah. Sutradara Rob Sixsmith bersama produsernya Jessica Lee Chu En ini jadi counter budaya yang cukup sukses dalam membentuk persepsi publik pasca-kasus. Bahkan, keluarga dekat korban, Mirna Salihin, seperti ayah Mirna, bisa dicurigai sebagai dalang dari pembunuhan anaknya sendiri. Sebab dari omongan-omongan liar, ayah Mirna membunuh anaknya karena Mirna punya asuransi senilai miliaran. Tentu bola es asumsi-asumsi itu bisa dikembangkan lagi.

Catatan Film #1: "Budi Pekerti" (2023)

Secara waktu, tempat, dan kesempatan, sepertinya ini film paling effort saat kutonton. Pasalnya, editorku meminta untuk buat tulisan terkait ini dari perspektif cancel culture. Yaudah, karena sekitaran tanggal 10 November 2023 jadwalku padat merayap, langsung hari Jumat abis pulang kerja aku ke langsung ke Grand Paragon XXI di sekitar area Glodok. Sore itu yungalah, macet pol, sampai aku sebel sama driver ojol yang mayan lambat, padal kan bukan salah dia. Tapi untungnya si driver kooperatif nyari jalur-jalur ilegal buat cepat. Ngapunten. Aku harus cepat karena jadwal yang kupilih tinggal beberapa menit lagi.

Setelah sampai di Grand Paragon, drama terjadi lagi. Ini baru pertama aku datang ke mal ini meski sering banget lewat di depannya, dengan kekhasan gerai Excelso di depannya. Tanya sama satpam di mana lift, arahan dia gak jelas, ya udah aku ngeloyor sendiri, gak ketemu aku langsung naik eskalator karena si satpam bilang XXI-nya ada di lantai 3. Anjaaaas, pas aku naik eskalator, tangga versi si satpam ternyata riilnya ada di lantai 8/9! Ini mal cuma fungsi dari lantai 1-3 yang ramai orang, lalu lantai 4-8/9 eskalator gak nyala, dan lantainya sepi. 

Alhasil, aku naik eskalator yang terasa panjang dan tinggi itu. Ini diperparah aku harus ngejar waktu tayang film. Aku lari-lari, nafasku terasa habis, belum lagi horor, bayangin lantai mal yang sepi dan mayan gelap di sudut-sudutnya, lalu kamu lari-lari ngatur energi kayak orang dikejar serdadu pas perang, kalau kamu gak cepat, kamu kena tembak, eh, enggak ding, kamu telat nonton. Ya, setelah sampai di XXI-nya, yang ada di lantai paling atas, akhirnya aku bisa ngatur nafas. Udah gak karuan nadiku, harusnya aku gak minum dulu biar gak mendadak koit. Aku seperti kehilangan sedetik nyawaku kala itu.

Untung, setelah nonton selama 1 jam 50 menit, filmnya bagus, kalau gak, nyesel aku bela-belain datang, wkwk. Meski telat beberapa menit, aku gak kelewatan adegan penting saat Bu Prani Siswoyo (Sha Ine Febriyanti) ngedamprat bapak-bapak main serobot pas beli puthu di mbah-mbah, di sebuah pasar tradisional di Jogja. Bu Prani bilang, "ah suwi," tapi dianggap misuh, "Asu i". Ya begitu lah bahasa Jawa, kalau gak hati-hati bisa gawat. Maknanya bisa beda. Adegan Bu Prani mempertahankan hak dan kedisiplinannya itu divideokan dan viral di media sosial. Ramai, sampai Bu Prani kena kasus di sekolah, padal dia mau nyalon jadi wakil kepsek.

Wregas si sutradara kupikir pandai mempermainkan tanda, dia menyeragami para guru dengan fashion serupa orang-orang tahanan, kuning menyala, dan semua sama. Kasus jadi pelik karena suaminya, Pak Didit Wibowo (Dwi Sasono) mengalami gejala ODGJ, macam stres dan depresi gitu. Dua anaknya, Muklas "Animalia" Waseso (Angga Aldi Yuwana) si jamet kreator konten yang hobi memproduksi konten-konten yang berhubungan dengan produk khas hewan-hewan; dan Tita Sulastri (Prilly Latuconsina) si mbak-mbak indie, progresif, dan calon musisi terkena dampaknya pula dari video viral Bu Prani. Sampai Muklas tak mengakui Bu Prani ibunya, dan Tita dikeluarkan dari grup band indie-nya.

Banyak detail-detail di film ini yang menurutku menarik, sesederhana motor cuma satu tapi harus dibagi-bagi pemakaiannya oleh empat orang dalam satu rumah. Entah buat latihan nari Bu Prani, ke markas band Tita, atau buat pergi ke pihak yang mroduksi konten oleh Muklas. Trus cara uniknya Bu Prani sebagai guru BK ketika memberikan hukuman-hukuman yang nyeleneh. Misal ada muridnya yang bandel disuruh ikut orang gali kuburan, buat lukisan, sampai si murid ini mengaku bisa menemukan jati diri dia sendiri. Jati diri yang kadang orang gak boleh tahu, semisal Gora yang suka ndekem di tempat yang kecil, sampai dia tidur di kolam sekolah ditemani Bu Prani.

Untuk situasi hari ini, semua yang dialami tokoh kupikir related banget dengan kehidupan sekarang. Ketika viral, yang terdampak bukan cuma satu orang, bisa jadi satu keluarga. Trus kritik-kritiknya Tita di ranah per-indie-an juga menarik, Tita ngritik pembuat konten yang seolah berpihak korban tapi nyatanya cari untung dan klik; dia diserang balik sama pembuat konten, isinya kira-kira, "gak ada bedanya juga sama elu, lu ngritik pemodal, kuasa, kapitalisme, and what the hell, tapi lu hidup dengan jualan dari baju-baju trifting yang lu modifikasi, trus lu jual lagi dengan harga yang tinggi. Itu apa?" Njay, ini kena banget. Trus kritik Tita juga kalau ingat pas dia lagi embung ikan sama keluarganya, terkait konten-konten di medsos yang cuma buat ajang flexing dan menuhin ego orang lain gitulah. Aslinya sih untuk kepentingan dia sendiri.

Trus nilai lain yang kental di sini itu, pertama, kekeluargaan. Bagaimana sebuah keluarga meskipun tak sempurna mau saling melindungi. Pas keluarga Bu Prani pindah rumah, adegan di rambu lalu lintas saat hujan deras, trus Tita beli bakso dan diberikan ke masing-masing anggota keluarganya itu haru banget sih. Kedua, aksi solidaritas dari guru ke murid yang melintasi angkatan. Bagaimana murid-murid yang lintas umur bantu kasus guru mereka. Ketiga, nilai-nilai permedsosan yang semakin tidak jelas. Cancel culture yang mau disampaikan film ini tuh menurutku, apa pun yang ada di dunia maya itu perlu disaring dan diverifikasi biar gak jadi bencana buat orang banyak! Itu kenapa, budi pekerti (literal) sangat dibutuhkan. Ini tuh bahasan etika sebenarnya.

Ada juga yang baca film ini dari perspektif unintended consequences. Argumennya, dalam hidup itu ada namanya konsekuensi yang gak bisa kita prediksi, gak bisa kita rencanakan, dan gak kita duga dari tindakan kita. Ini pernah dijelasin sama Marx, Engels, John Locke dan Adam Smith, jelas Okki Sutanto. Ada selalu faktor Z atau kejadian Y yang terjadi meski kita udah secara sadar dan rasional, selalu ada yang suka dan tidak suka, yang seneng dan tersinggung, jadi ya meski gitu, jangan lelah berbuat baik.

Selasa, 21 November 2023

Komunitas Seni dan Ekosistemnya

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan diskusi #9 bertema "Komunitas Seni sebagai Dasar Ekosistem Seni", di Ruang Teater Wahyu Sihombing, Selasa (21/11/2023). Narasumber di antaranya: Ajeng Nurul Aini (Manager Ruangrupa), Ezra Simanjuntak (Zi Factor, The Rock Campus, Potlot), Helvy Tiana Rosa (Sastrawan, Akademisi, dan Pendiri Forum Lingkar Pena), dan Imam Hadi Purnomo (Sekretaris Dinas Kebudayaan). Juga dimoderatori oleh Sihar Ramses Sakti (Penulis, Pengajar).

Helvy bercerita terkait pengalaman menerbitkan bukunya pertama di usia 27 tahun. Dia mengaku memulai dari alif, tapi punya keinginan untuk memberi ilmu bagi orang dhuafa, lalu terbentuklah Forum Lingkar Pena. Lalu dia membuat majalah Annida. Adiknya Asma Nadia jadi murid pertamanya dan itu sukses. "Dia lebih kaya dari saya," katanya sambil tertawa.

Konsen Helvy sejak 2002 ingin membentuk FLP Hongkong untuk buruh migran. Perjuangan, nulis dapat honor, dan berangkat. Juga ada FLP di Belanda dan Mesir. Di Mesir melahirkan Habiburrahman El Shyrazi. Di FLP Jakarta ada A Fuadi.

Komunitas bisa pecah karena tiga hal. Pertama, uang. Kedua, idelogi, FLP menulis untuk mencerahkan. Di Bali bahkan ada FLP Hindu. Ketiga, karena pilihan politik.

20 tahun  FLP masih berjalan. Sekarang tata kelola lebih baik. Dulu banyak anak jalanan, sekarang sudah baik. Dulu 79, Helvy ngamen pertama di TIM. Ketemu Ramadhan KH dan Rendra. "Kau akan menemukan jalannya, meski tak punya uang."

Narasumber kedua, Ezra Simanjuntak (Zi Factor, The Rock Campus, Potlot) menjelaskan, dia menjelaskan terkait gank potlot yang akhirnya melahirkan band yang sukses, Slank. Juga banyak band yang lahir di Potlot. Dari Gigi, Ungu, Anang, dll. Karena kelewat rock and roll, terjebak di drugs. Tongkrongan pecah. Drugs bisa merubah banyak hal. Kesuksesan nyaris gak ada gunanya. Sisi positifnya, dia mendirikan independen label, untuk ngebuktiin kalau ini bisa (walau banyak mabuknya). Bukan cari cuan, dll. Dalam setahun bisa bikin 10 hits. Komunitas itu ternyata bisa mempengaruhi banyak orang secara gak sadar.

Cerita kedua terkait komunitas The Rock Kampus, dia harus merasa "give back". Beda dari sebelumnya, dia melakukan ini sendiri. " Indonesia butuh venue-venue yang mendukung original music." Di The Rock Campus sekarang udah 156 episode. Total dia menjalankan 250 lebih acara yang kecil dan besar, tanpa sponsor, "dan gw buka  orang kaya." Masak acara musik yang gak ada sponsor tidak bisa jalan. Bukan itu resepnya. "Daripada teriak marah-marah, mending gw yang lakuin sendiri." Apapun dia lakukan sendiri. Haha.

Bicara komunitas, orang harus jadi "drive". Intinya drivenya apa, motivasi apa, kalau tak ada arah tujuan, itu akan lepas. Bicara giving back juga komunitas gitar, GTS (Gitaris Teman Semua), syarat harus ketemu. Juga ada 50 gitaris nasional, Budjana, Tohpati, Eross, dll, ada yang bergerak untuk charity. Mereka melakukan empat konser charity dan dapat 8 miliar. Misal untuk banjir bandang Manado, 1.8 m didonasikan.

Komunitas punya pertanggungjawaban sosial, bahkan apa adanya. Bicara ekosistem, fungsinya macam-macam. Di musik reach beda dengan lukisan, ada humanitarian aspects. Ada temannya mendirikan Animals Defender, dan bisa berhasil.

Pembicara terakhir ada Imam Hadi Purnomo. Di Jakarta 1.112 komunitas dari tradisi dan kontemporer, yang terbanyak sanggar seni. Komunitas ini merata di lima kota, paling banyak di Jaksel, Jaktim, dan dari sifatnya unik. Peran komunitas dalam kesenian luar biasa. Ada yang umurnya lebih dari 90 tahun, Ms. Cicih.

Di semua komunitas harus ada yang menggerakkan, yang menjadi katalis, ada ratu lebah yang itu tidak mudah. Kalau ratu lebah lelah, anggotanya bubar. Ini yang menurutnya perlu digeneralisasi. "Kita butuh keberadaan komunitas, bagaimana mengembangkan kesenian di Jakarta."

Ramses berharap tiap daerah punya komunitas dia sendiri. 



Tanggapan dan tanya Jawab:

Jati: Sekian entitas butuh ekosistem, tapi ngomongnya ya itu-itu aja, yang sukses. Bicara musik sebagai pengejawantahan akal budi dengan berbagai genre, di sisi lain dia juga tempat cari nafkah. Tapi di tingkat regulasi juga ada sanggar musik tapi dipaksa jadi sanggar tari. Musisi bisa berserikat untuk jadi agent pressure, dan berlaku untuk semua genre.

Remi, Dapur Sastra Jakarta: Dari dulu berontak dewan kesenian, dan dibawa ke Forum Meja Panjang. Apa yang ingin diterapkan dalam ekosistem? Apa konsep dasar komunitas?

Erna, Politeknik Negeri Jakarta: Gimana cara mempertahankan komunitas dari empat hal dari Helvy dan Ezra? Khususnya untuk generasi millenial. Tanpa keberanian tak hadir komunitas.

Ezra menjawab, banyak anak band yang belum ngerti Union, di US escape udah ke regulasi dan hukum untuk industri musik. Entah sosialisasi belum sampai, di Indonesia itu ketinggalan dengan US itu 50 tahun lebih, butuh proses. Stakeholders gak tahu ini itu fungsinya apa. Apapun dulu yang berhadapan dengan major labels, dia akan dihantam balik. Sekarang udah beda. Di US tiap sesi dan jam juga ada patokan berapa, kalau dia sebagai profesi.

Juga kata Ezra, generasi sekarang overthinking, generasinya gak mikir sama sekali. "Gak segitunya, emang ngadepin apa? Lu emang perang? Kayak logo Nike, just do it." Untuk bikin komunitas jangan bikin formulir dll. Sama kayak belajar gitar,  udah mikir manggung pakai apa, itu kejauhan! Dulu dari Fisika belajar gitar, Fisikanya ke laut. Gak terlalu mikir konsekuensi. "Just do it lah."

Helvy menjawab, FLP dapat uang kelihatan setelah 5-10 tahun, tapi yang baik, banyak anggota FLP memberdayakan yang lain. Ini dampak yang baik. Asma dan suami bikin KBMF yang dalam sebulan penghasilan 50-100 juta. FLP juga ada sastra untuk kemanusiaan, ada komisi untuk Palestina. Kita gak harus mendirikan komunitas, tapi juga bisa ikut komunitas. "Mental kita yang harus dipersiapkan untuk buat atau ikut komunitas."

Ajeng menjawab, di komunitas dia ada fixer mencoba riset komunitas 10 tahun terakhir. Melibatkan 21 komunitas seluruh Indonesia, bagaimana kabarnya? Ternyata ada yang berhenti dan buat sesuatu yang baru. Banyak orang-orang yang justru menghidupkan komunitasnya. Namun juga punya side job dia sendiri. "Ada kebutuhannya gak sih untuk ngawali semuanya, ketika ingin berkolektif."

SESI II:

Abdul Rohim, komunitas Koran Merdeka: Jumlah komunitas sekarang mengalami kemunduran, dulu 3000 lebih. Kenapa?

Elha: Bunda, gimana caranya buat join. Misi sastra senja gimana, mereka punya definisi sendiri tentang quote.

Nalima Belvana: Bagaimana regenerasi seni di miskin ini bisa tumbuh? Harus militan terus, susah terus. Realistis, bagaimana 5.000 itu bisa bertahan untuk seminggu.

Anton: Komunitas seni itu apa? Di TIM ada seni hiburan dan seni kreatif.



Isma: Generasi sakit hati orang-orang tua di TIM banyak ya, haha.

Imam menjawab, yang 1.112 itu by name by address yang verified. Tapi yang gak juga banyak. Termasuk Covid-19 juga mempengaruhi.

Ezra: Beberapa nada lu ajaib. Terusin, ada beberapa nada. Lu bisa jadi performance. Gw tahu kesempatan itu selalu ada, dan Tuhan pasti ngasi jalan. Misal cat minyak, jangan jadiin sesuatu alasan, nunggu orang lain bantu lu. Tuhan gak pernah nutup jalan, terima nasib lu, ketika hidup ngasi beberapa tantangan, itu cara jadiin lu orang yang kuat. "You know, jangan buat alasan nunggu orang lain bantuin lu. Tuhan gak pernah nutup jalan buat semua masalah lu."

Helvy selalu merasa dirinya kaya. Dia lebih kaya kalau bisa bantu banyak orang. Dia memotivasi dirinya, bakat itu 10 persen, 90 persen latihan. Asma Nadia punya 14 macam penyakit, tapi dia memastikan tiap hari bisa baca 5-10 buku. Perlakuan buku seperti anakmu sendiri. Gak boleh terlipat. Buku Helvy, pipi ini terkait memoirnya. Untuk jadi penulis cuma baca dan nulis banyak-banyak. "Ketulusan dan tekat yang kuat."

Ajeng menjawab, banyak bahasan terkait generasi dan regenerasi. Harus ada yang buat ngobrol bareng. Ngomongin miskin juga menarik, Om Leo proud dengan kemiskinannya. Orang miskin itu yang punya banyak akal.

Ramses: tidak ada kerja keras yang mengkhianati hasil. Kita rayakan komunitas seni.

Mempertanyakan Konten Ketimpangan

Buka Tiktok, ngarsipin video-video di hape buat jadi konten ya tujuannya buat arsip. Trus tiba-tiba lewat di TL dua konten bagaimana kekayaan dan kemiskinan dibingkai sedemikian rupa untuk mencuri perhatian user medsos. Pertama, parodi remaja di Waingapu NTT yang memperagakan 'a day in my life anak miliarder' pake suara mbak kaya yang kayanya gak ketulungan, bangun tidur makan sehat, olahraga, dibantu 12 dayang, shopping barang mewah, dan pulangnya masih ditransfer uang bokap USD 500 rb buat beli kuota. Mbak2 ini nglakuin di latar atau hal yang kebalikannya. Dari POV orang gak punya. https://vt.tiktok.com/ZSNmYQFrb/

Kedua, royal wedding Gwen dan Ryan, anak tunggal Air Asia dan refina produk. Kalau diitung-itung, dekornya aja 75 M, ngundang anggota Westlifenya langsung buat nyanyi beautiful in white, MC Raffi Ahmad, bingkisannya Hermes. Scroll-scroll-scrolll, lama-lama saya pusing literally pusing, palagi lihat komen-komen yang menghibur kemiskinan banyak orang. Gak bisa mikir ini saya cara mikirnya old money crazy rich Surabaya. Kenapa konten-konten kayak gitu yang fyp ya? Apakah kesenjangan ini mampu sedikit diobati dengan konten-konten macam itu? https://vt.tiktok.com/ZSNm2NEe7/

Pertanyaannya, kenapa konten-konten kayak gitu yang fyp? Apakah kesenjangan yang tak tertangani ini mampu sedikit diobati dengan konten2 macam itu? Yang kuat merhatiin sampai mungkin bisa berjam-jam ini juga dalam rangka apa juga? Menuruti keinginantahuan, pengen menghibur diri, atau berimajinasi punya nasib serupa? Atau mungkin orang-orang tengah digiring untuk memiliki hobi baru nonton kekayaan orang lain, biar giat kerja, dan memperkaya mereka. Wkwk.

Sabtu, 18 November 2023

Tentang Karya Seni

Artjakarta, Sabtu, 18 November 2023

Saya suka karya seni tertentu bukan karena orang lain bilang itu bagus, atau karena pelukisnya yang kabotan nama, tapi karena karya itu bagi saya akrab, dekat, dan menggambarkan bagian-bagian hidup saya yang terpendam. Seperti lukisan Duong Ngoc Tuan ini, kayak nggali ingatan lama di sebuah tempat yang saya lupakan, tapi kesannya masih hidup.

Kamis, 16 November 2023

Abidin Kusno - The Green Governmentality in an Indonesia Metropolis

POIN-POIN:

Kosakata "hijau" telah masuk ke dalam leksikon pasar porperti di mana-mana. Konsep hijau tak hanya bersifat material, tetapi juga ideologis, merambah dari lanskap hijau, lingkungan hijau, properti hijau, dll. Sampai di brosur pun dihiasi oleh gambaran-gambaran hijau dari pohon, semak, bunga, dll.

Ada kebutuhan untuk menciptakan ruang hijau. Slogan "go green" ada di mana-mana, iklan ini ada di sepanjang jalan dan dikampanyekan oleh aktor-aktor atau instansi-instansi yang berbeda.

Seperti masyarakat Jakarta hari ini, yang dihadapkan pada praktik-praktik keseharian yang mendorong pada dunia yang "bersih dan hijau". Bahkan salah satu partai juga menyebut dirinya sebagai partai hijau, dengan gembor-gembor kepeduliannya terhadap lingkungan.

Artikel ini berpendapat, bentuk kekuasaan kontemporer lingkungan hijau saat ini mensyaratkan individu untuk mengkonfigurasikan ulang diri mereka. Ini ditunjukkan oleh bagaimana penghijauan khususnya dalam konteks Jakarta dapat dipahami sebagai bagian dari pelibatan teknologi pemerintahan, yang hubungannya dengan pos-autoritarian Indonesia.

Kota menjadi arena untuk menambah daya tarik lingkungan hijau di antara para aktivis, arsitek, hingga residensi kelas menengah Jakarta. Ini menunjukkan juga bagaimana dinamika antara masyarakat dan alam terjadi dalam konteks model neoliberal pemerintahan, khususnya pasca runtuhnya rezim Orde Baru.

Masifnya eksploitasi yang terjadi pada sumber daya alam di bawah kekuasaan neoliberal ingin menunjukkan jika pelindung lingkungan adalah semua masyarakat. “Ilusi hijau” menjadi rezim yang melelahkan dari eksploitasi massa hubungannya dengan lingkungan.

Abidin menjelaskan diskusinya dengan inisiatif warga kelas menengah yang mengadvokasi adanya ruang hijau bagi kota. Lingkungan yang hijau akan bisa membranding kota dan mendorong wisatawan internasional dan domestik datang/berinvestasi.

Sektor swasta kemudian melakukan pengalihan perlindungan ini dengan menghubungkannya pada penghijauan kota. Perhatian terkait penghijauan lingkungan beroperasi dalam konteks diskursus kembali ke kota. Padahal situasi tersebut memberikan situasi paradoks dengan pemahaman mereka akan orang-orang miskin yang tinggal di ruang-ruang urban.

Klaim ilusi hijau ini kemudian menjadi bahasa perlawanan bagi arsitek/aktivis urban. Pisau analisis yang dipakai untuk membedah persoalan ini yaitu, Abidin menggunakan konsep dari gagasan Foucauldian terkait politik kelas. Lingkunganisme lebih dianggap Foucault sebagai hal yang ideologis alih-alih ilmiah.

Berikutnya, diskursus hijau ini diterima bentuknya sebagai kekuasaan, sistem manipulasi dan pengkondisian, yang menciptakan jaringan produktif pada seluruh tubuh sosial. Bahwa antara kelompok miskin dan kelas menengah bisa mendapatkan akses terhadap diskursus hijau dan memobilisasinya sebagai sumber daya dalam mengamankan hak mereka terhadap kota.

Diskursus lingkungan memainkan peran kunci pada permulaan abad ke-20 di masala pemerintahan kolonial Belanda. Bagaimana sistem desentralisasi dijalankan, dan kota diberi kekuasaan untuk mengatur sistem.

Para arsitek seperti H.F. Tillema dan Thomas Karsten kemudian menciptakan berbagai arsitektur dan tempat tinggal yang mengutamakan kesehatan lingkungan dan kenyamanan. Pada masa itu konsep higinitas dan kesehatan ditunjukkan, meski di sisi lain juga memperlihatkan adanya segregasi ruang yang berbasis kelas sosial.

Pada perkembangannya kondisi ini menguntungkan para kelas menengah dan memindahkan kelas miskin kota dalam proses gentrifikasi atas nama perkembangan lingkungan. Apalagi diskursus ini telah menubuh pada kelas menengah.

Selanjutnya, ajakan penanaman 1.000 pohon hingga 30.000 pohon yang dibantu oleh para relawan di berbagai ruang menjadi senjata. Ini dibantu oleh para media atau radio yang juga berhubungan dengan para pemilik bisnis besar. Ciputra, sebagai salah satu pengembang mega proyek di Indonesia telah berkontribusi signifikan terhadap degradasi lingkungan di Jakarta.

Kegiatan penghijauan itu kadang juga menjadi "pajak" atas eksploitasi yang mereka lakukan, kemudian dilabeli sebagai upaya penghijauan yang ramah lingkungan. Di Jakarta ini nampak seperti pada pemerintahan Fauzi Bowo. Fauzi Bowo yang menjadi wakil gubernur sejak 2002, masih menjaga ambisinya menjadikan Jakarta sebagai kota jasa berkelanjutan kelas dunia.

Ide ini pula yang didorong oleh Wirutomo, semisal komunitas dokter harus berkontribusi pada kesehatan kota; arsitek berkontribusi terhadap pendirian bangunan yang efisien, bersih, dan sehat; sampai grup media harus mendidik publik untuk mengembangkan mendidik masyarakat menjadi lebih baik. Sistemnya dengan menggunakan kerja bakti.

Salah satu arsitek yang lingkungan rumah yang ramah ini adalah Andra Matin. Dia mengrecovery lingkungan hidup dan kerja dari masyarakat pinggiran dengan rumah tingkat, yang memungkinkan seseorang memelihara binatang seperti kucing, bebek, ayam, dll.

Quote:

‘would prefer to stay close to the working area where they do not waste too much time commuting. Efficiency will be an important issue in the future. People would now think twice about living on the outskirts of Jakarta’

Kusno, A. (2011). The green governmentality in an Indonesian metropolis. Singapore Journal of Tropical Geography, 32(3), 314-331.

Link: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1467-9493.2011.00440.x

#abidinkusno #green #environment #governmentality #backtothecity #community #middleclass #urbanpoor #jakarta #parpol

Senin, 13 November 2023

Sabtu, 11 November 2023

Catatan tentang Gastrodiplomasi Nasi Bungkus Oleh William Wongso

Dewan Kesenian Jakarta menggelar pidato kebudayaan berjudul "Gastrodiplomasi Nasi Bungkus untuk Menaklukan Lidah Dunia" oleh William Wongso. Pidato dilaksanakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (10/11/2023). Tujuannya membawa suara jernih dari gagasan, analisis, hingga kesimpulan.

Ketua DKJ Bambang Prihadi menyatakan, ini merupakan acara tahunan dari tokoh-tokoh terpilih. Jernih dari tokoh, yang tidak terdistraksi pemikirannya. Ia bebas meneroka, mengajukan pendapat dan gagasan. Ini jadi hal yang ditunggu karena itu menjadi jawaban. Sebagaimana yang dikatakan Umar Kayam, TIM adalah oase kebudayaan.

Memilih William Wongso karena punya keluasan makan tentang makanan dan pangan. Dia mengunjungi berbagai restoran di berbagai negeri. "Katakan padaku apa yang kamu makan, dan aku akan tunjukkan siapa dirimu" (pepatah China). Kepentingan gastrodiplomasi ini juga memiliki kepentingan untuk membangun pangan Indonesia.

Bambang mengakhiri sambutannya dengan membacakan puisi Joko Pinurbo, terkait keluarga Kong Guan.


William mengatakan, mulutmu harimaumu bermula dari bagaimana manusia menjaga lidahnya. Begitu juga dengan realitas hari ini, segala sesuatu yang terjadi tergantung gerakan lidahmu. Tak perlu merujuk pada spoker. UU ITE telah dituduh melakukan pelanggaran, lama kelamaan ada hantu yang memancing keributan di tanah publik.

"Beri tahu apa yang kamu makan, saya akan beri tahu siapa dirimu."

Di mana pun berkunjung, yang dicari selalu makanan. Pengalamannya ke beberapa tempat, makanan Indonesia tak begitu dikenal. Ketika Google makanan lokal bisa timbul minat, seiring dibantu dulu oleh Bondan Winarno yang mengenalkan selera Nusantara. Dirinya 40 tahun mengabadikan khazanah pasar tradisional, yang pelakunya beberapa generasi.

Di Jepang, sentuhan tradisional pada makanan kemas tidak ditinggalkan. Ini jadi daya tarik tempat. Nanti juga ada event terkait gastroekonomi. Di Jepang penjual sate masih mempertahankan kipas nenek moyang, tidak menggunakan fan. Ada pula yang jualan bumbu, tapi bukan bumbu sembarangan, dia akan melakukan profile dulu.

"Sate yang simple tetap dengan tatanan yang estetik."

Ada Pasar Skiji di Jepang yang terkenal dengan ikan segar besar di dunia. Di Skiji bisa melakukan pilihan ikan dengan leluasa. Sudah matang juga ada tinggal makan. Yoshinoya menjadi gerai pertama di Skiji, sekarang sudah mendunia. Sekarang ada Kitchenia sejenis Yoshinoya tapi tak punya cabang. Ada pula Gyudong, di Jepang sangat spesifik, dan William lebih memilih tempat makan yang spesifik daripada yang palu gada.

Termasuk menikmati oister, cukup mesan satu biji. Rumah makan sangat spesial, tak ada menu, pilihan ada yang berlemak atau tanpa lemak. Termasuk wagyu, sashimi, isi sashimi sesuai dengan kearifan masing-masing.

Di Jepang ada kota Narita-Sando, banyak atraksi festival, cemilan, makanan, jadi paket gastrotourism. Ada satu restoran unagi dipotong di depan kita, dan sangat segar. Semua bagian dijadikan makanan. Semua proses juga dibuka, teatrikal, tak dirahasiakan. Dirinya menikmati tipe makanan seperti itu. Makanan di Jepang santun, fine, quality luar biasa.

Yang dikuatkan Jepang adalah loyalitas. 

Lanjut ke Korea, yang lebih bergejolak, seperti jalan blondy tapi fungsional. Misal ada barbeque ayam. Di Korea dia belajar bukan sekadar makan, tapi juga asal-usul makanan. Dia mencoba hanwoo yang teksturnya luar biasa. Orang Korea menyukai tekstur. "Lihat dulu baru kemudian icip-icip." Ada pula kepiting rajungan diberi kecap dan dibiarkan hidup.

Dia beralih ke Sokcho, 200 km dari Seoul. Di Korea setiap daerah berlomba memajukan daerah dengan semua usaha, termasuk makanan. Ada gerai khas tapi hanya boleh satu biji. Ada yang bernama polat, yang dikeringkan perlahan-lahan, harga varian, dari yang satu ekor 150.00-1.000.000, harga ditentukan oleh proses. Proses yang lebih lama yaitu fermentasi. Ada pun di Indonesia ikan asin ditentukan oleh: jenis ikan, proses fermentasi, penjemuran.

Masing-masing gerai jual barang khas yang dia produksi. Dia suka melakukan candid pas motret. Kotanya ditambah fungsional dan dekoratif. Orang Korea lebih suka makanan kenyal. Di Hanwoo juga ada daging terbaik di dunia. 


Lalu di China dan Shanghai, apa yang dilakukan ketika mengunjungi? Booked Shanghai Breakfast Tour. Menurutnya melihat orang lain makan selalu atraktif. Ini keunikan orang makan. Makanan seperti dumpling bagian dari breakfast. Mereka punya langganan yang pengunjungnya juga berasal dari daerah itu. Di pasar tradisional Shanghai dia menemui cabai skrup, soulumpo, udang sungai; dan di China dessert tak sepenting di Prancis. Dan di sana makannya harus ramai biar bisa berbagi.

Ada pula produk hairy crabs.

Untuk mengetahui satu tempat, bukan hanya mencicipi tapi juga pola memasak. Semua orang melakukan cooking class pendek dengan harga pantas. Yang penting adalah "teknik memasak".

Kita tak harus mencari restoran mentereng, resto ngumpet tak kalah penting. Yang banyak dikunjungi orang lokal. Termasuk sate kambing klatak halal di China, di daerah perbatasan. Dombanya dari Sinciang, makan rumput terbaik dan jenis kambingnya sama. Di sini hanya bisa beli satu tusuk sate. Tusukan panjang dan bumbunya kering. Semua produk Sinciang dijual si sebuah restoran.

Ada pula restoran yang pedas di Shucuan. Cabainya kering dan rempahnya kering. Jangan diciduk semua. Setiap sajian harus mengandung cabai. Chinesse makan juga harus ramai-ramai.

Dia menegaskan ulang, mengunjungi restoran yang hanya menjual olahan kambing. Termasuk masakan dari kolegan kambing kemudian dicetak seperti kue.

Du kaki lima di Shucou, ada pare merah yang seperti buah. Makan tetap polanya harus ramai-ramai.

Di Beijing ada fore spart memberikan lemak di bawah kulit yang hatinya membesar. Teknik menjadi sajian yang diwariskan. Di Beijing jangan lupa makan peking roast duck yang ada di mana-mana. Kekhasan harus dibakar dengan kayu dari buah-buahan yang kayunya keras. Ada rumah makan yang harus ngantri sampai 3 jam buat beli peking duck.

Makanan halal di China, banyak atribut yang hijau. Peci jadi atribut orang Muslim China. Salah satu makanan khas takut hot pot. Makanan jalanan populer yaitu roti goreng, jujube, "foto candid menarik." Lalu ada sekba juga.

Menuju Vietnam, ada produk luar biasa tour makan naik motor. Gadis dilatih dengan penumpang sebesar 130 kg. Diajak icip-icip masakan Vietnam.

Menuju India, sepertinya makanannya bikin merinding. Di India tak ditemukan seperti itu, problem di kita tayangan dikurasi. Ada 50 juta street foods di India. Ada food safety, food handling di sana. Gerabah juga dibuang biar ada "sirkulasi". Di Cochin Kerala juga masakannua atraktif, presentasi sangat apik. Di Delhi juga ada Delhi Food Walk, salah satu tour terbaik di dunia, Karim Old Delhi salah satu restoran terbaik di dunia. Diajak jalan 4 jam, icip-icip 10 kali.

Beruntung masih mengunjungi Sana'a Yemen, juga ada anggur putih dari Yemen gak ada tandingan. Juga ada kismis. Di sana roti pipih, karena warisan Nordic.

"Budaya kuliner Indonesia juta harus berani tampil, dan lebih elite."

Tagline aneka Ratna muthu manikam. Bumbu-bumbu yang santun di Indonesia.

Daya ingat lidah penting. Lidah secara otoritatif punya memori jangka panjang melebihi otak.

Dia suka Klopo Ondomohen Surabaya, tempatnya tubuh sejak kecil. Rasa yang dibentuk lidah sejak kecil menjadi memori yang diangkat dan ada hingga dewasa. Memori yang diingat tetap, meski selera berubah, akan balik lagi. Juga siri madura gubeng pojok. Dulu di atas meja kecap asin, sekarang kecap manis. Di beberapa tempat kedai sistemnya turun menurun. Saat lidah mengecap sesuatu, dia akan ingat kapan masakan itu dimakan. Sop kaki kambing grogot (nggrogoti) demi mendapatkan serapan kolagen. Yang memberi asupan kalsium dengan jumlah yang terukur.

"Saya percaya makanan yang icip-icip daripada makan kenyang."

Memori masa kecil, juga berasal dari ibu. Ibu paham benar persoalan lidah anak-anaknya. Ada pelukan rasa kangen dan kasih. Itu peristiwa yang mengharukan di seluruh dunia. Dulu nenek dan ibu mengolah makanan sisa kemarin dan mengacungkan jempol. Pada momen seperti itu, lidah jadi kunci. Sepotong lidah bisa membongkar masa lalu, jangkauan yang jauh. Jaga lidah. Memang lidah tanpa tulang, tapi agresif.

Pertanyaan yang banyak menggema, apa yang asli dari makanan Indonesia? Ini tak bisa dijawab dengan baik. Hal krusial bagaimana menyatukan beragamnya lidah di Indonesia. Fakta ini tak berhenti di selera, tapi persilangan lidah mencapai kesepahaman dalam politik makanan. Afa pusat riset terkait kuliner, makanan, dan bumbu. Seperti yang terjadi di Korea. Juga ada Washoku World Challenge, orang Jepang punya empat set makan sesuai musim. Ini homework bagaimana meneruskan makanan kakek dan eyang.

Termasuk rendang yang memainkan peran penting dalam kuliner tingkat dunia. Menurut William, makanan gak bisa dipatenkan. Pertukaran kuliner antar daerah di Indonesia jadi awal yang baik, persilangan lidah antar bangsa. Dennys Lombard menyebut itu sebagai persilangan budaya. Lembaga Pusat Kuliner ini menjadi penting. Bisa juga diteliti, kenapa di Maluku tidak memasukkan rempah di masakannya? Ini terpengaruh oleh kolonialisme. Juga orang Aceh tak menikmati kopi, tapi malah daunnya. Bagian diplomasi juga dengan ayam bengil dari Nusa Dua, dan ada wijikannya.

Termasuk diplomasi nasi bungkus, sebagai sajian makanan Indonesia. Kita perlu melakukan diplomasi kebudayaan. Kuliner sebagai gastrodiplomasi dari perasaan lidah dunia. Termasuk Garam Merica Nasi Bungkus Australia Sydney, nasi bungkus jadi agen penting. Dihargai $19, tak hanya untuk memuaskan lidah. Bukan masak base, tapi application base, memanfaatkan yang ada.

Apa istimewa nasi bungkus?

  1. Indonesia sangat kenal dengan itu dan di setiap daerah namanya beda.
  2. Teman perjalanan orang Indonesia melakukan aktivitas sehari-hari, seperti ke ladang, sawah, dll. Dikepal-kepal daun pisang dan dibawa kemana-mana.
  3. Simbol kesiapsiagaan menghadapi sesuatu yang tak terprediksi.
  4. Nikmat nyomotnya pakai tangan juga berbeda-beda.
  5. Sanitasi. Dia bukan junk food.
  6. Kesederhanaan hidup melawan kemiskinan dan penjajahan.

Kekayaan narasi nasi bungkus jadi gastrodiplomasi. Bisa melakukan ini di negara lain. Jadi agent of culture di seluruh dunia.

Sekarang begitu praktis dengan GO-FODD.

Keunikan budaya tak bisa disederhanakan.

Saya seperti diajak Pak William Wongso travelling kuliner keliling dunia.

Selain itu, DKJ juga meluncurkan buku "Posisi, Reposisi, Revitalisasi: 55 Tahun Dewan Kesenian Jakarta". Bisa dicek di bit.ly/SeriWacanaDKJ2023.

Kamis, 09 November 2023

Hak Penggunaan Lagu dan Perizinan Pemakaian Lagu

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Seri Diskusi Publik DKJ Komite Musik (8) dengan tema "Sudah Izin Belum? Mengurai Simpul Musik dan Hak Milik". Diskusi dilakukan di Teater Wahyu Sihombing TIM, Selasa (7/11/2023). Mengundang narasumber: Bayu Randu (CEO Musicblast.id), Candra Darusman (Musisi dan Komposer), Jonathan Nugroho (CEO Trinity Optima Production), dan dimoderatori oleh Nathania Karina (Pianist, Conductor, Anggota Komite Musik DKJ).

Bayu Randu memulai diskusinya dengan menjelaskan musicblast.id sebagai agregator dan publisher musik di Indonesia. Agregator berfungsi untuk mengumpulkan, seperti Spotify, YouTube, dll. Sementara publisher adalah orang yang menggunakan hak cipta tersebut. Platform yang dia kelola seperti platform ojol, perbedaan publishingnya mengumpulkan tak hanya dari musik, tetapi juga dari hotel, restauran, dll.

Orang yang menggunakan musicblast.id adalah user yang tergolong menengah ke bawah. Namun di daerahnya aksesnya bisa A. Pengetahuan seperti ini kemudian menjadi awam. Ketika punya musik bagus, rekaman dulu, masukkan agregator, lalu join dengan publisher/label. Label ini punya syarat-syarat lain, misal punya 3 single hits, sudah ditayangkan berapa ribu kali, dll.

Kebetulan di musicblast, sebagai publisher pasif menerima. Ada yang untuk film, iklan, dan game. Di musicblast kasusnya gak unik karena rentangnya daerah, yang tak punya pengetahuan akan hal itu. Konsen mereka yaitu YouTube, misal teman di Bali, tunggu naik dulu baru "petik-petik mangga". Publisher ini yang justru butuh pengcover, gak dimusuhin, tapi dirangkul. Yang dimusuhi kebanyakan yang sifatnya "etika".

Untuk sistem pembayaran, biasanya ditanya dulu lagunya buat apa? Misal film, dia dipakai sebagai main music atau scene saja, ketika dapat, akan diskusi ke owner. Yang flat itu ketika untuk cover YouTube atau platform Spotify. Setelah dibayarkan, baru dibuat kontrak. Di musicblast ada dua skema, yang dibayar dan tidak dibayar. Trus pembayaran ada yang sistemnya fifty-fifty.

Di kasus lain, ada sentimen suka dan suka pada pemilik atau performer lagu. Di daerah musisinya senior. Pas dicover, ditambah reffnya atau makai reffnya aja itu gak jadi dipakai. Di musicblast, bahkan bisa ratusan per hari. Ada 280 konflik di musicblast tahun 2023. Penyelesaian dengan take down atau diurus. Pihaknya coba meringkas birokrasi yang panjang.

Yonathan melanjutkan, label adalah label yang memproduksi karya lagu. SOP-nya dulu, baru kerja. Sound recording menjadi aset label. Label memiliki masternya, badan yang mengelola pencipta lagu. Belum tentu master dikelola oleh Trinity. Selain itu, label masuk hak terkait, ada performer dan label.

Ketika seseorang punya lagu bagus, perlu proses lain, seniman ini sebagai apa? Kemudian diatur, hingga proses distribusi dan monetisasi. Ketika lagu master menghasilkan uang, uangnya dibagi ke DSP.

Dalam instansinya, hak cipta jadi urusan nomor satu. Dibantu oleh YouTube yang menjadi the biggest disturber, sebagai UGC telah mengubah tatanan banyak hal. YouTube di satu sisi menguntungkan, tapi di sisi lain tidak. Dan di luar negeri, ketentuan hak cipta ini sangat berbeda. YouTube ini maunya "all right", isu sinkronisasi terjadi di Indonesia yang hanya mengurus "mechanical rights". YouTube ini fenomenal.

Sebagai pengelola label, pembayaran disesuaikan dengan lagu itu penggunaannya untuk apa, juga tergantung orangnya (pencipta a, b, c berbeda), yang berhak menentukan harga adalah pencipta. Yang buat hits, dirasa make sense, dibayar juga. Tinggal penggunaan dan siapa yang buat. Ngomong range, semurah-murahnya 2 juta sampai ratusan juta. Keyakinan label sama produknya. Market place ada supply and demand. Zaman juga berbeda, label bisa memprediksi berapa keping yang laku. Dihitung harga jual, DVD, dll, label tak collect komposer lagi. Label juga yang mendistribusikan.


Candra Darusman menjelaskan, awal dia bermusik tak belajar terkait hak cipta. Para musikus ada dua hal besar yang perlu diperhatikan: dimensi seni dan dimensi administrasi, dua hal ini harus dipisahkan. Sebagai seniman, administrasi diserahkan ke spesialis, bisa label, publisher, dll. Publisher sendiri ada dua, pasif dan aktif (yang ikut memasarkan).

Lagu ketika masuk ke publik apakah dibuat mentah yang kemudian ditawarkan ke publisher, dari publisher ke label. Lalu kemudian disebar ke berbagai platform. Dalam  pengalamannya di Musica tahun 1978, mereka dikontrak tiga album. Waktu itu Amrin Wijaya yang punya langsung mengurus.

Ketika dengar satu lagu di sebuah tempat, ada tiga hal yang punya hak: pencipta lagu, performer, dan label. Masing-masing ada yang mengatur, bagi yang tak mendalami bisa kesasar. Hak cipta ada dua hal besar, ketika digandakan (publisher) dan ditayangkan (Lembaga Manajemen Kolektif).

Presentase hak agregator 20, pencipta lirik 20, performer 5-20, Sisanya label 35 persen kurang lebih.

Dalam perizinan ada berbagai hak, hak ekonomi (ada 9 macam) dan hak moral. Untuk mengcover lagu harus minta izin ke yang buat. Meskipun ada catatan, YouTube menjadi hal yang menarik. Misal tak ada urusan komersialisasi seperti untuk ulang tahun tidak apa. Namun ketika masuk ke komersialisasi, ini yang menjadi masalah, harus izin terlebih dahulu. Biasanya seniman yang menghubungi si pembuat konten. Hak cipta itu bersifat eksklusif. Kalau ada orang yang mau membawakan lagu, izin ke LMK.

Sebagai seniman, dia bercerita ada pihak-pihak yang menghubunginya langsu ketika ada yang meminta hak. Namun karena semakin banyak diserahkan ke publisher. Ada patokan persen kalau di masa lalu, sekarang di digital lebih susah, ada yang streaming, belum lagi yang download. Dia memaparkan pendapatan musisi mengandalkan performance, nyanyi dan konser sendiri. Ada yang profesinya cuma buat lagu itu berat banget, apalagi kalau lagunya gak diputer. Sehingga ada singer-song writer untuk nambah penghasilan. Di label, sepanjang sudah menandatangani kontrak, tak bisa diubah. Media sosial lain seperti Tiktok, IG, FB, berusaha untuk memikirkan hak cipta.

Sabtu, 04 November 2023

Refleksi Chapter 1 Buku "The SAGE Handbook of Marxism"

"The SAGE Handbook of Marxism" bagian I “Reworking the Critique of Political Economy” tadi malam kami lakukan. Tema-tema terkait Marx ini memang sesuatu yang helikopter, kami bersepakat memang bahasan terkait ekopol ini cukup banyak dan berat.

Kami merefleksikan keseluruhan bagian di bab 1 mengulas terkait fenomena kapitalisme di masa lalu dan di masa sekarang yang sudah jauh berbeda.

Setiap pemikir di masing-masing chapter berusaha ditarik sesuai dengan kondisi di masa sekarang. Sehingga perlu dipikirkan lebih mendalam terkait: “Kapitalisme macam apa yang kita hadapi sekarang? Masalah sehari-hari apa yang berhubungan dengan modal dan kelas yang dihadapi saat ini?”

Kawan lain berpendapat pula jika dilihat, bahasan Marx ini seperti  kultur sekolahan. Marx dirasa kaku, old school culture, kurang bersastra, dan bikin capek. Apalagi membaca  Marx tua yang kerasa kaku bin njiletnya. Belum bisa membawakannya ke dalam selubung yang lebih enak, seni, dan sastra.

Meski jika dipikirkan ulang, “bagaimana manusia dilepaskan dari hakikatnya” itu juga sesuatu yang puitis. Walaupun secara sastrawi atau akrobatik kata belum seperti Zarathustra yang berani mengatakan, “Saya suka dengan kehidupan yang penuh rasa takut dan kebosanan, itu bagus.”

Di sisi lain pembahasan di bab-bab ini juga memberikan pesimisme baru, tentang keterasingan kita yang semakin tersedot, memikirkan bagaimana menjadi buruh yang bebas? Atau menanyakan ulang, kerja yang benar-benar kerja itu apa? Disibukkan dengan kerja dan berakhir dengan “yang penting kerja.”

Sama dengan tradisi “yang penting makan dan kenyang”, padahal dulu makan adalah sesuatu yang sakral, dipilih dari benih baik, cara mengolah yang tepat, hingga proses sakral yang ada di jamuan makan.

Ofek dan Sulkhan bercerita, grup Simulakra ini diawali dari wacana cultural studies saat dia dan teman-temannya menempuh studi S2. Bahasan terkait ekopol media yang kompleks dan dirasa masih sangat konspiratif.

"Setiap orang mengalami kapitalisme masing-masing,” kata Ofek.

Kapitalisme memiliki peran besar dalam keseharian, dalam prakteknya membuat stres, bertahan hidup dalam kondisi yang sebegitu rupa, kerja sedemikian memuyengkan, masih memikirkan untuk ke depan harus bagaimana? Yang membahasnya secara serius pun kebanyakan masih di kolamnya para akademisi.

Di tingkat lapangan, bahasan ini akan mengembalikan pada orang-orang yang “berjuang” baik di tingkat urban, rural, adat, dlsb. Terutama masalah terkait otomatisasi mesin yang semakin canggih, dan itu dirasakan oleh banyak profesi.

Membaca Marx secara lebih kontemporer kemudian dibutuhkan sesuai dengan preferensi dan orientasi masing-masing. Mendekorasinya dengan bab-bab lain kehidupan, apakah dengan ilmu psikologi, spiritualisme, hingga mindfullness marxis.

Diskusi ditutup dengan beberapa evaluasi:

  1. Tidak ada target angka/jumlah yang muluk-muluk, hanya lakukan saja dengan konsisten.
  2. Ada penjaga gawang di setiap bab yang bertanggungjawab untuk membaca.
  3. Ada ide pembuatan “call paper” atau esai sebelum diskusi bagi yang mampu.
  4. Membuat diskusi selingan agar tidak kaku, seperti bahas Nietszche atau Freud.
  5. Ada selingan atau ice breaking selama diskusi, seperti pembacaan puisi, jokes, cerita, dll.
  6. Satu per temuan bisa bahas 3 bab sekaligus sehingga satu buku bisa selesai.
  7. Teknik moderasi lebih untuk “keeping time” lagi, mengingatkan agar pembahasannya holistik.

Terkait rangkuman di part 1 buku, bisa didownload di link: https://drive.google.com/file/d/1zaNdov1cYZ1IFeQ8zaXw0WcpWWp_GiHF/view