Kamis, 31 Agustus 2023

Ponyo on The Cliff By The Sea (2008): Mimpi Anak Ikan yang Ingin Menjadi Manusia

Ponyo lucu. Rasanya pengen punya boneka kayak Ponyo dengan perutnya yang menggelembung. Namun yang lebih lucu dan baik hati adalah yang merawat dan mencintai Ponyo, anak kecil lucu bernama Sosuke (Hiroki Doi). Tentu ibunya Sosuke, Lisa, dan si ayah, Koichi senang memiliki anak sepertinya. 

Film ini lagi-lagi seperti mengajakku ke negeri idaman yang indah di Jepang. Rumah Sosuke adalah tipe rumah ideal yang kuharapkan bisa kutinggali, ada di ketinggian, di tepi laut dan pantai, suasana alam di film ini ingin kuulang berkali-kali dalam pikiran dan imajinasiku.

Pekerjaan yang dilakukan Lisa juga mulia. Dia menjaga panti jompo dengan para orangtua yang barangkali kembali seperti anak kecil lagi. Para orangtua yang masih menyimpan jiwa petualangan mereka. Namun dibatasi oleh fisik yang renta, kaki yang terserang penyakit sendi hingga tubuh yang tak kuat menegakkan diri lagi.

Plot film ini juga sederhana, Ponyo anak dari manusia laut dan dewi/putri duyung di laut ingin benar-benar menjadi manusia. Sebab itu dia berusaha ke bumi, mendekati Sosuke, menghisap luka darah Sosuke yang memberinya kekuatan menjadi manusia.

Film juga menggambarkan bagaimana keluarga Sosuke menghadapi alam Jepang saat badai laut terjadi, saat banjir, dan usaha Sosuke untuk menyelamatkan Ponyo dari ayahnya sendiri. Ayah yang ingin mengusasi laut karena sudah jera laut dirusak oleh manusia.

Film yang katanya diadaptasi oleh buku The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen ini membuatku terbawa kedamaian-kedamaian lain. Mereka barangkali mengalami hal-hal buruk dalam hidup, tapi mereka menghadapi semuanya dengan cara damai pula.

Ketika hidupku terasa berat, barangkali aku harus mengingat wajah kalem Sosuke saat menghadapi masalah.

The Tale of The Princess Kaguya (2023): Si Bambu Kecil yang Kesepian

Di film ini, aku ngefans sama Princess Kaguya. Beberapa part dalam film mengingatkanku dengan hal-hal lain dalam hidup yang bikin sedih. Mengingatkanku pula pada buku-buku dongeng klasik yang mustahil untuk diwujudkan di dunia nyata tapi ternyata jadi juga. Termasuk kisah si Bambu Kecil dengan para lelaki yang melamarnya, meski berasal dari kalangan bangsawan, semuanya menyamakan Princess dengan "harta materi" belaka. Apalagi pas Kaguya dipeluk oleh Pangeran tanpa consent dari belakang, kekagetan yang dialami Kaguya seperti terasa juga padaku. Kenapa pria-pria itu begitu brengsek?

Namun dengan kecerdasannya, Kaguya bisa memberi syarat serupa yang dikatakan oleh para pelamar bangsawan yang tak ada kualitasnya itu: pohon permata dari dunia ajaib,  kain dari bulu tikus mengkilat, kerak burung kutilang, hingga bunga ajaib milik Buddha, ya, persisnya aku lupa. Perumpamaan ini menarik. Semuanya tak berhasil, bahkan di antaranya meninggal dunia.

Kesamaan lain yang kurasakan adalah mengenai rasa kesepian yang dialami Kaguya. Semenjak dia pindah ke kota dan meninggalkan desa, meninggalkan kehidupan miskin menjadi orang kaya baru, Kaguya tak memiliki teman, teman satu-satunya adalah ibu angkatnya. Kawannya yang sejati adalah anak-anak desa. Di sana dia bisa bebas lari kesana-kemari dengan tawa dan senyum yang bebas. Aku mencintai senyum dan tawa itu. Semua menjadi tekanan ketika Kaguya hidup di istana baru ciptaan si ayah angkat. 

Bahkan Kaguya harus menciptakan dunia palsu di belakang rumah untuk mengenang masa-masa ketika di desa.  Kaguya yang seperti pohon bambu, dia tumbuh dengan sangat cepat melampaui waktu dan usia. Atau seperti karet yang semakin diulur semakin panjang.

Hatiku juga terasa hancur ketika Kaguya harus mengikhlaskan laki-laki yang dicintainya Sutemaru telah menikah dengan perempuan desa lain dan memiliki seorang anak. Namun dalam film itu, persoalan laki-laki mungkin bukan fokusnya, jadi terlihat dia tak begitu memikirkan kisahnya dengan Sutemaru. Namun di benak penonton sepertiku, kisah percintaan itu sangat tragis. Mungkin juga karena keduanya beda dunia dan sulit untuk tersatukan, maka seperti wajar jika akhirnya mereka harus terpisah. Termasuk ketika Kaguya bertemu dengan Sutemaru yang menjadi maling di kota karena tak ada pilihan, hingga ia dipukuli.

Sebab masa-masa menderita itu, dia mengatakan jika sudah tak kuat hidup di bumi dan ingin kembali tempat asalnya di langit. Bersama Dewi Kwan Im, bersama Buddha. Hidup dan lamai di langit. Dunia begitu lacur, jahat, dan kejam. Lalu setelah kembali, Kaguya tak mengingat apa-apa lagi.

His Only Son (2023): Kisah Abraham dan Berbagai Keberatanku

Mungkin karena latar belakangku yang bukan dari kalangan Nasrani, cerita yang kulihat di film ini jauh berbeda dengan yang ada di versi Islam. Aku merasa menyesal menontonnya karena tak sesuai dengan ekspektasi awalku yang  terkait kisah Nabi Ibrahim. Di tengah jalan pas nonton di Gama Plaza, aku cukup ngantuk. Baiklah, berikut perbedaan yang kutemukan dan juga keberatan yang kurasakan.

Pertama, ini adalah keanehan film USA dan beberapa kali kutemukan di film lainnya: kenapa mereka seolah meng"amerika"kan orang-orang Arabic dan Middle East dengan cara memakai aktor (tipikal) Hollywood dan memakai bahasa Inggris; meski latarnya seolah di Padang Pasir atau gurun yang tandus, tapi itu kayaknya juga masih di Amerika. Okelah latar bisa dimanipulasi, tapi bahasa dan aktor ini kelihatan banget. Termasuk film "His Only Son" misal yang nyeritain kisah Ibrahim khas bible (Perjanjian Lama) vs "Omar" yang nyeritain kisah Umar bin Khattab, yang pakai basa Arab dan khas Arab, itu beda banget feel-nya. Apalagi pesan yang mau disampaikan, jauuhhh, sejauh masa hidup Ishak dan Rafathar.

Kedua, aku cukup keberatan ketika dalam film ini entah Tuhan atau entah malaikat digambarkan sebagai "manusia bercahaya". Plis, Tuhan atau malaikat tak seperti itu, plis jangan rusak imajinasiku. Penggambaran sebagai manusia ini secara eksplisit jadi men-downgrade iman bagi orang-orang awam. 

Ketiga, aku belum membaca bible terkait Abraham (Nicolas Mouawad), Sara (Sara Seyed), dan Ishak (Edaan Moskowitz) anak mereka. Namun kisah dalam film ini berbeda jauh dengan kisah dalam Islam. Ini bukan maksudku hendak judge kisah bible atau gimana, tapi di Islam yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim itu anaknya Nabi Ismail, dan pengorbanan itu benar-benar dilakukan. Namun, yang disembelih bukan per se anaknya, karena Allah SWT telah menggantinya dengan binatang ternak. Sementara Nabi Ismail diangkat ke atas oleh Tuhan, dan kisah ini tiap tahun diperingati sebagai Hari Raya Idul Adha. Namun di film ini, kok bisa-bisanya Ishak dibebaskan (?).

Keempat, karakter Sara di sini meskipun wajar jika dilakukan oleh perempuan biasa, tapi menurutku tidak wajar jika kelasnya adalah sekelas perempuan pilihan seperti Sara. Aku membayangkan harusnya dialog atau akting Sara di film ini lebih menggambarkan kekuatan dia sebagai istri dan ibu, tapi di film ini porsi lebih banyak adalah porsi kesedihan dan protes.

Kelima, sebagai film ini flat, banyak plot hole yang menurutku fatal. Secara umum alur film ini juga lambat, maju dan mundur. Dari kisah Abraham dan Sarai yang memutuskan hijrah ke tempat yang dijanjikan Tuhan. Lalu flashback ke masa sekarang saat perjalanan selama tiga hari dari tempat tinggal ke Gunung Moria untuk mempersembahkan Ishak. Kisah drama antara Abraham, Sara, hingga hamba sahaya Hagar membuat film ini juga emosional bagi orang yang tak lama dikaruniai anak. Belum lagi, dua hamba sahaya atau teman yang ikut menemani Abraham dan Ishak, Kelzar (Ottavio Taddei) dan Eshcolam (Nicolai Perez), salah satunya dari keturunan Sodom protes akan perlakuan yang dilakukan Abraham.

Rabu, 30 Agustus 2023

Gran Turismo (2023): Dunia Simulakrum Balap Maya dan Balap Nyata

Aku pernah di masa punya teman yang dia freak atau apa ya, suka banget gitulah sama dunia balap-balapan, otomotif, mobil, motor, dan punya mimpi pengen jadi pembalap yang diperhitungkan gitu. Namun, dia memilih untuk tidak melanjutkan mimpinya itu dan lebih memilih bekerja pada orang lain. Alasannya rasional, "hobiku mahal," katanya, "dan umurku udah gak memungkinkan lagi ada di level itu," terangnya. Aku pun cuma terdiam, tak sepakat, tak juga juga menolak. Dia memiliki mimpi itu dari dia kecil, persis seperti tokoh utama dalam film Gran Turismo (GT), Jann Mardenborough (Archie Madekwe). Aku nonton ini di XXI Kuningan City pukul 21.10 sampai mall tutup.

Kesan setelah menonton film ini sebenarnya nano-nano, aku gak bilang film ini bagus, tapi juga gak mau bilang ini jelek. Selain bukan genre-ku, motivasiku nonton film ini karena pengen tahu lebih jauh dunia yang disukai oleh temanku itu. Satu hal yang membuatku tertarik barangkali ada kata Yokohama saat si Jann mau ke Tokyo, hal lainnya, saat Jann sedih atau depresi, dia lebih suka mendengarkan Kenny G dan Enya, dua musikus yang punya makna sendiri untukku. Lagu Kenny G jadi saksi keberangkatanku ke Pulau Kalimantan dari pelabuhan Surabaya di masa lalu; lagu Enya pernah kukenal dan kunikmati dari seseorang yang pernah kukagumi. Keduanya kalem dan memberi efek menenangkan.

Kembali ke film, sejak awal, aku seperti disuguhi oleh sajian kelas menengah bawah yang masih hidup berkecukupan. Ya, cukup aneh jika digambarkan orangtua Jann ini dari kalangan tak mampu dengan kondisi rumah dan aset property yang seperti itu. Si Jann jadi kelas pekerja dan masih bisa beli PS! konsol game balapan bahkan hanya dalam satu kali gajinya, bukankah itu aneh? Terinspirasi dari dunia nyata, tapi keyakinanku mengatakan jika perubahan plot lebih dari setengahnya, atau antara dunia nyata dan film banyak terjadi perbedaan-perbedaan. Yang nyata dan yang maya tak bisa lagi dibedakan.

Namun, plot terus bergulir bukan. Jann yang hidup dengan ayah yang tak mendukung mimpinya karena dianggap tak jelas, bukankah begitu? Hidup jadi pembalap? Ayahnya jadi antagonis sekaligus protagonis sekaligus, yang menentang tapi juga mendukung keputusan Jann. Jann ini tipe anak yang kalau udah niat, ribuan jam bahkan mampu dia berikan untuk berlatih dan bermain game GT. Apalagi game ini diciptakan oleh orang Jepang menyerupai aslinya. Barangkali, Tuhan memilihnya untuk melaju bersama 10 orang di dunia untuk mengikuti GT Academy. Ajang membuat gamer jadi pembalap sesungguhnya, ini aksi underdog yang cukup menarik, karena membentuk simulakra baru yang agaknya berhasil ditaklukan tokoh utama. Berbagai latihan yang memakan tenaga tak cuma fisik, tapi juga mental pun dilakoni.

Ya, dunia ini tak lepas dari hukum karma ala Darwin, peserta yang memiliki track rendah otomotasi keluar hingga menyisakan lima dan tiga. Lalu, sudah ditebak siapa pemenangnya. Si pemenang kemudian melakukan berbagai tour laga balap dunia, dari Jepang, Jerman, hingga Prancis. Semua berlangsung seolah tanpa hambatan bagi si bintang, meski di track Jerman, kecelakaan parah yang menyebabkan salah seorang penonton meninggal karena mobil terbang ke atas akibat angin terjadi. Namun, hidup harus bangkit, dan Jann harus menyelesaikan laga paling menantang yang juga menjadi trauma bagi sang guru, Jack Salter (David Harbour), untuk main di Le Mans, Prancis. Balapan yang berlangsung selama 24 jam! Tentu kita juga bisa menebak siapa pemenangnya.

Membaca beberapa ulasan dari film GT, ada yang mengganggap film ini adalah film iklan, karena banyaknya label, sponsor, dan nama-nama (brand-brand) gigantik di sana. Tanpa sensor, tanpa anonim. Kritik lain menganggap jika pemeran Jann kaku dan sulit membangun sosialisasi yang baik dengan aktor lainnya. Selain itu, entah mengapa sebagaimana film US lainnya, tendensi untuk menjadi inspiratif, dengan banyak bumbu motivasi juga dikandung oleh film ini. Juga bumbu-bumbu cinta Jann dengan Audrey, hubungannya dengan saudara kandung juga meski sekilas tapi menarik. Ada adegan yang membuatku menangis, saat sang ayah datang ke Le Mans untuk memberi dukungan pada Jann secara langsung, itu kerasa banget deep-nya.

Bagian yang bagiku menarik adalah saat Jann berhasil masuk ke dunia simulakrum yang diciptakannya sendiri. Aku jadi belajar, apa yang dekat dengan kita, menjadi pikiran kita, cepat atau lambat juga mendekati kita. Seimajinatif apa pun hal tersebut, pasti ada jalan buat kita sampai, atau mimpi itu yang justru mendekati kita. Dan itu yang terjadi pada hidup Jann.

Kamis, 24 Agustus 2023

Castle on The Sky (1986): Harta Karun yang Sesungguhnya Itu Tak Terlihat

Sampai di film Ghibli yang ini, aku jadi macam punya pola beberapa, Ghibli ini suka banget ya masangin tokoh utama laki-laki dan perempuan. Seperti di tokoh ini itu si Sheeta (Anna Paquin) dan Pazu (James Van Der Beek). Film yang dibuat Studio Ghibli pas awal-awal ini emang khas, ceritanya imajinatif banget. Mereka bikin dongeng dan narasi baru terkait Laputa, negeri di atas awan yang menyimpan banyak harta karun. 

Cerita itu juga disebutkan di beberapa buku dongeng klasik lainnya. Jadi si Sheeta ini anak keturunan ratu/raja Laputa, dan dia juga pewaris Laputa. Namun banyak orang yang tak terima, salah duanya si nenek sihir dan orang serupa intel yang dibekengi militer bernama Muska (Mark Hamill), yang tak lain juga adalah anggota Laputa.

Sheeta ini mewarisi kalung biru lazuardi antik yang disebut volucite, yang menyimpan kekuatan penyembuhan dan kehancuran luar biasa bagi semesta. Sebab alasan itu, akhirnya Sitha jadi buronan, dan Pazulah yang membantunya untuk selamat dari ancaman tersebut. Anak yang berumur sekira 14 tahun ini pun memulai petulangan mereka ke berbagai negeri. 

Pazu dan Sheeta sama-sama yatim piatu. Bedanya, kalau Sheeta dari kelas berada, si Pazu dari kalangan kelas pekerja. Dia dikaruniai gubuh reyot dengan ingon-ingon burung merpati putih yang terbang tiap fajar. Kerjaan Pazu sehari-hari adalah sebagai buruh penambang, yang membantu bosnya menambang batu-batu di bawah tanah dengan alat-alatnya yang berat. Saat membantu Sheeta, otomatis si Pazu udah tahu apa yang akan dia lakukan. 

Yang lucu tentu saat Sheeta dan Puza melawan nenek sihir bernama Dola (Cloris Leachman) beserta komplotannya. Si Dola meskipun di awal dikisahkan jahat, ternyata dia baik hati, cuma dia agak rakus saja sama harta dan perhiasan yang bisa memperkaya dia. Namun di balik itu, ternyata si Dola sayang sama Sheeta. Para anak buah Dola yang bekerja secara kasar dan impulsif pun menyukai Sheeta karena dia sangat cantik dan anggun. 

Adegan puncaknya ketika masing-masing tokoh, baik yang antagonis dan protagonis menemukan Laputa, dan terjadi kekacauan di sana. Perkelahian dan tembak-tembakan tak terhindarkan, hingga membuat para robot di Laputa terbangun. Namun akhirnya, berkat kerjasama dan chemistry yang baik, Sheeta dan Pazu dapat melewati semuanya. Ya, good job!

Adegan luar biasa menurutku saat Pazu dan Sheeta bertemu seorang kakek yang suka hidup di gowa. Dia memperlihatkan begitu cantiknya gua, saat berbagai sinar yang dipancarkan dari batu terlihat, bergoyang, seperti melihat bintang di langit.

Ocean Waves (1993): Ada Alasan di Balik Manipulatifnya Seseorang

Film anime besutan Ghibli ini bagiku cukup dark, tapi sangat realistis dibandingkan dengan film-film Ghibli yang lain, yang melibatkan imajinasi-imajinasi unik. Aku tentu memihak pada tokoh perempuan utamanya, Rikako Muto (Yoko Sakamoto) yang mengalami home broken karena orantuanya bercerai. Ibunya tinggal di desa sedangkan ayahnya tinggal di Tokyo bersama perempuan baru lainnya. Rikoko adalah tokoh yang sangat moody, sombong, pinter, sensitif, penyendiri, dan suka memanipulasi. 

Tokoh seperti Rikoko sangat cocok dengan tokoh laki-laki seperti Taku Morisaki (Nobuo Tobita), yang easy going, simple, fleksibel, pekerja keras, bertanggung jawab, dan hidup seperti tak ada beban. Mereka hidup saling menyeimbangkan. Toku emang gak sepinter cowok lainnya, seperti sahabat dekatnya Yutaka Matsuno (Toshihiko Seki) yang suka duluan sama Rikoko. Matsuno ini anaknya serius, kritis, pinter banget, ketua kelas, dan diam-diam kagum sama pemikiran Toku. Terlebih soal penolakan Taku pada pihak sekolah yang memundurkan studi wisata dan digabungkan dengan anak-anak SMP. Padal dia nabung lama untuk itu, dia juga janji tak akan melupakan kejadian itu seumur hidup. Sedangkan Matsuno menganggap keputusan sekolah itu win-win solution.

Rikoko ini tipe-tipe anak yang nekat, dan gampang buat kehilangan kontrol sama diri sendiri kalau dalam keadaan tertekan. Misal dia tega memanipulasi Taku untuk meminjam uang sebanyak 60 ribu Yen, banyak banget kan zaman itu, dengan alasan uangnya hilang, padahal itu uang untuk pergi ke Tokyo nemui ayahnya. Dia pinjem Taku karena tahu kalau si Taku ini pekerja keras, dan kerja paruh waktu di semacam restauran gitu. Saat Rikoko ngajak teman satu-satunya di sekolah yang karakternya pendiam bernama Yumi Kohama (Kae Araki) untuk pergi ke Tokyo nemui ayah Rikoko. Tapi si Taku berusaha mencegah karena jelas Yumi gak akan diperbolehkan oleh orangtuanya, akhirnya Takulah yang nemeni Rikoko. 

Taku tahu sebenarnya dimanfaatkan tapi dia juga kasihan melihat Rikoko. Akhirnya Rikoko memperkenalkan Taku sebagai pacarnya pada si ayah, ayahnya minta maaf pada Taku karena tahu anaknya telah merepotkan. Kemudian ayahnya memesankan kamar untuk Taku, dan Rikoko ikut sekamar dengannya. Ini bukan film porno ya, jadi gak terjadi apa-apa. Si Taku lebih milih tidur di bathup kamar mandi agar Rikoko bisa nyaman tidur di bed. Akhirnya kejadian drama lain terjadi karena perbuatan Rikoko, dari aktingnya sama si mantan, dan pura-pura bahagia.

Ya, sikap Taku yang seperti tak punya beban hidup itu membuatnya selow aja menjalani hidup. Even saat dia terlibat cinta segitiga dengan sahabatnya Matsuno. Taku juga sempat kena tampar sampai si Matsuno gak negur dia sampai lulus kuliah. Namun, dasarnya si Matsuno ini tipe orang yang serius dan dewasa, dia sadar, kalau si Rikoko emang lebih baik sama Taku, bukan sama dia. Kejadian itu pun menjadi kenyataan saat reuni sekolah, saat masing-masing anak mengungkapkan isi terdalam hati mereka. Tara, mereka berdua bertemu kembali di stasiun kereta api.

From Up on Poppy Hill (2011): Memaknai Kehidupan Baru Setelah Perang

Film ini mengambil latar Yokohama, Jepang, yang barangkali menjadi kota favoritku di Jepang. Sebab dari Yokohama-lah, penyanyi favoritku Akeboshi berasal. Kemudian aku tak bisa menulis apa-apa lagi. Barangkali aku begitu kelu bercerita, aku kecapaian. Yang paling kusukai dari film ini adalah dua tokoh utamanya, Umi Matsuzaki (Masami Nagasawa) dan Shun Kazama (Junichi Okada). Mereka adalah generasi kedua para korban perang yang terjadi di Jepang, terutama perang dengan korea. 

Latar lainnya terjadi saat persiapan Olimpiade Jepang sekitar tahun 1963-64. Umi adalah anak pertama yang rajin, pintar memasak, pandai, bertanggung jawab, dan baik. Sementara Kazama adalah anak yatim piatu yang dirawat oleh kelurga yang baik hati karena anak orangtua angkatnya meninggal saat perang; Kazama adalah anak organisasi pers di sekolah, dia lucu, baik, dan pintar berdebat. Latar film ini sangat cantik, aku suka latar Yokohama, rumah-rumah di tepi pelabuhan yang berundak-undak. 

Sebagaimana khas film Ghibli yang memberikan kedamaian kepadamu, konflik film ini pun sebenarnya sederhana. Dia mengambil salah satu peristiwa sejarah tertentu, katakanlah perang Jepang dengan Korea, serta Olimpiade Jepang. Kemudian masyarakat di tahun itu menghadapi sisa-sisa trauma dengan mengerek bendera untuk ayahnya setiap hari sambil menantikannya pulang, hal itu yang dialami Umi. Sedangkan ibu Umi memilih untuk pergi ke USA, melanjutkan cita-citanya sekolah kedokteran. Namun di sini, ibu Umi kuat sekali ya ninggalin anaknya? Si Umi, dan dua adiknya, Sora Matsuzaki (Haruka Shirishi) dan adik laki-laki yang masih kecil. 

Persoalan lain adalah ketika Umi dan Shun saling menyukai, setelah insiden jatuhnya Shun dari gedung ke kolam, saat Umi bantuin nulis untuk kemudian digandakan menajdi selebaran, hingga inisiatif Umi untuk membangun ulang Gedung Latin. Gedung ini sejeni student center mahasiswa, gedung yang isinya masing-masing ruang untuk ekstrakurikuler tertentu dari filsafat, arkeologi, kimia, drama, hingga macam pers yang digeluti Shun. Yang lucu tentu ekskul filsafat yang anggotanya cuma satu, orang satu-satunya itu bilang kira-kira, "Bagi filsuf, hidup di tong tikus saja kuat," haha. Ya, macam pemikiran yang pernah dikatakan Diogenes.

Konflik memuncak saat Gedung Latin yang telah bersih berkat revolusi anak-anak yang mau membersihkan, malah hendak dirubuhkan dan diganti gedung baru oleh ketua yayasan. Akhirnya ketua kelas, katakanlah begitu, bernama Shiro Mizunuma (Shunsuke Kazama), bersama Shun dan Umi pergi ke kota untuk meneumui ketua yayasan yang katanya sulit ditemui. Mereka nunggu berjam-jam sampai dipersilahkan masuk. Akhirnya tersepekati si ketua yayasan akan melakukan inspeksi ke gedung latin, dan akhirnya tak jadi kegusur karena nilai budaya yang dimilikinya. Saat pulang ke kota, Shun dan Umi tinggal berdua karena Shiro akan menemui saudaranya. 

Oiya, keloncat, Shun dan Umi mempunyai foto sama yang ditinggalkan masing-masing orangtua mereka. Dan Shun menyangka Umi adalah adiknya karena nama ayah mereka sama. Ternyata mereka tak sedarah, karena ayahnya sesungguhnya adalah sahabat dekatnya ayah Shun. Hal itu juga yang dicerikan ibu Shun ketika dia pulang ke Jepang. Saat Shun dan Umi berdua, dalam kondisi yang kaku dan tak enak, Umi bilang: "Mau kamu kakakku atau bukan, perasaanku ke kamu takkan berubah." Duh, sweet banget.

Ya, saking berartinya mimpi ini, salah satu adegannya masuk ke dalam mimpiku, dan itu rasanya sangat aneh. Adegan lain yang epik saat melewati Hotel New Grand di tepi Kota Yokohama, dengan Taman Yamashita di depannya. Suatu hari, aku pengen ke sana, nginep di sana sama keluarga intiku, lihat Kapal Koyo Maru Yokohama, dan bisa naik kapal sekitar. Melihat laut dan langit bersama orang-orang yang aku sayangi, juga bertemu Akeboshi!

Rabu, 23 Agustus 2023

Kiki's Delivery Service (1989): Belajar Mandiri dan Berhati Besar Sejak Kecil

Lama juga ya film animasi ini, dan zaman itu Ghibli udah bisa nyiptain sejenis karya yang seapik dan se-colorful itu. Barangkali, untuk memulai tulisan tentang film ini, alih-alih menjereng alur atau plot, aku ingin memberikan pandanganku pribadi. Sebab alur jereng-menjereng itu kupikir melelahkanku, dan aku merasa tak hidup dalam menulis selain untuk mencukupi standar kuantitas. Aku paham, hal itu bukan diriku sekali. Kebetulan, beberapa minggu yang lalu, aku bertemu dengan jurnalis China, namanya Kiki. 

Kami berkenalan lewat Mbak Tita Salina. Kami bertemu di Upnormal Raden Saleh, dia mewawancaraiku terkait kereta cepat Jakarta-Bandung dengan menggunakan bahasa Inggris. Itu wawancara resmi pertamaku pakai bahasa asing. Haha. Kiki di dunia nyata agaknya memang mirip dengan Kiki-nya Ghibli, mereka putih, cantik, berambut pendek, manis, dan pantang menyerah. Mandiri dan menggambarkan keadaan millenial yang harus menyeimbangkan antara kehidupan kerja dan passion.

Alur film ini lagi-lagi sederhana, aku kagum dengan Ghibli yang bisa mengungkap kesederhanaan menjadi sebuah karya. Bercerita terkait Kiki (Minami Takayama), anak dari keluarga penyihir. Di usia 13 tahun, Kiki ingin memulai petualangannya sendiri dan berada di negeri asing yang belum pernah dia kunjungi. Kiki ditemani oleh kucingnya Jiji (Phil Hartman) pergi ke sebuah kota yang mirip Eropa, seperti perpaduang antara Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol, ya barangkali negeri serupa itu. 

Lucunya, film ini tak mengumbar mantra-mantra sihir sebagaimana film sihir pada umumnya. Gak sama sekali. Komponen sihirnya hanya sebatas pada sapu terbang dan tak lebih, wkwk. Atau kucing yang bisa bicara dan elemen artifisial lain seperti baju warna hitam. Aku gak tahu motifnya apa, tapi film ini justru ingin menjungkirbalikkan makna sihir yang sesuai dengan termanya orang-orang Ghibli. Ya, lakukan saja hal yang menjadi bagianmu.

Keterampilan terbang itu Kiki gunakan untuk membantu orang mengantarkan barang-barang: dot bayi, barang berat, surat, hingga kue-kue. Di kota, Kiki bertemu dengan gerai kue yang pemiliknya seorang ibu hamil bernama Osono (Keiko Toda), dengan suaminya bakery worker (Koichi Yamadera). Kiki awalnya bekerja dengan mereka hingga dia membuka toko rotinya sendiri, yang meski sepi, setidaknya dia dan Jiji bisa melanjutkan hidup. 

Saat Kiki mulai kehilangan kemampuan sihir untuk terbang dengan sapu, dia bertemu dengan temanya yang lain, Ursula, anak yang pandai melukis dan tinggal di hutan. Bersama Ursula, Kiki mendapat pencerahan terkait makna sihir menurutnya. Kemampuan sihir itu juga untuk membantu menyelamatkan nyawa anak laki-laki lokal di sini bernama Tombo (Matthew Lawrance). Tombo terjebak di bola udara atau macam rudal terbang yang gagal. Kiki berhasil menyelamatkan Tombo, seorang anak yang sangat kreatif, dia membuat pesawat jenis baru dengan bantuan sepeda! 

Scene menyentuh lainnya, saat seorang nenek ingin membuatkan kue untuk cucunya yang bahkan tak menghargai hasil buatan si nenek. Sampai si Jiji bilang, "Anak itu gak cocok jadi cucunya nenek." Bagian ini mengingatkanku, kita selalu baik di mata yang tepat.

Selasa, 22 Agustus 2023

Catatan Tontonan Film Agustus 2023 Part IV

When Marnie Was There (2014)

Tokoh Anna Sasaki (Hailee Steinfeld) merupakan tokoh yang diciptakan oleh studio Ghibli dengan karakter tidak bisa mencintai dirinya sendiri. Anna memiliki self worth yang buruk, merasa orang lain tak ada yang mempedulikannya, dia selalu sendiri, dan tak punya teman. Dia membayangkan dunia ini serupa lingkaran, ada lingkaran dalam yang diisi oleh kebanyakan orang, sedangkan dia merasa ada di luar lingkaran. Anna juga tak ragu untuk mengatakan kata-kata kasarnya pada orang lain jika dia kesal, seperti "merengek seperti kambing" pada ibu angkatnya yang menangis mengkhawatirkannya. Atau juga menyebut teman perempuannya yang gempal dengan bully "babi gendut", haha, anak perempuan mana yang tak menangis mendengar itu lalu diceritakan kepada ibunya dan Anna kena marah.

Sebab karakternya itu, pertemuan Anna dengan Marnie (Kasumi Arimura) memberi kesejukan lain bagi Anna. Pertemuan ini terjadi saat Anna dipindahkan ibu angkatnya ke rumah bibi dan pamannya yang memiliki lingkungan dengan indeks udara yang baik--ya, gak kayak Jakarta lah ya, wkwk. Marnie barangkali adalah tokoh bayangan yang diciptakan Anna. Marnie tinggal di sebuah rumah besar mewah seperti istana, dia sangat cantik, anggun, berambut pirang, tapi kesepian di rumah bersama tiga pembantu salah satunya seorang nenek. Istana itu lama tak ditinggali, rumah itu banyak menyimpan kenangan masa kecil Marnie, dan Anna diajak melintasi mesin waktu ke masa lalu, ke hidup Marnie. Selama di desa tersebut, Anna ditemani buku sketsanya menjalin persahabatan dan permainan dengan Marnie. Mereka piknik, ke Silo, dan ke berbagai tempat di desa bersama.

Plot twist yang terjadi, ternyata Marnie adalah nenekya si Anna. Hal ini dia ketahui lewat cerita seorang pelukis yang suka melukis terkait rumah istana di seberang rawa. Dia menceritakan bagaimana kronologi kehidupan Marnie dari kecil, hingga menikah, hingga punya anak, dan hingga dia meninggal. Marnie yang kesepian, sering ditinggal pergi orangtuanya karena kesibukan. Pas ibu angkat Anna ke desa, dia memberi Anna foto dari neneknya, dan ternyata itu foro istana rumah milik Marnie. Anna langsung terkejut dan melihat orang-orang di sekitarnya secara berbeda. Dia mengalami suatu hal yang kuanggap sebagai "transformasi kesadaran". Anna jadi sayang kemudian sama ibu angkatnya. Poin menarik lain adalah pemandangan yang dihadirkan film ini, rawa, sungai, bunga-bunga, suasana desa, khas Ghibli sekali. Ternyata, film ini juga terinspirasi dari novel When Marnie Was There karya Joan G. Robinson.

Whisper of The Heart (1995)

Menonton film ini seperti mengajak ke dalam kedalaman diriku. Segala latar dalam film ini bagiku sangat dekat, dengan tokoh yang mempunyai karakter kurang lebih sama, hobi yang sama, dan juga ambisi yang sama. Aku bisa membayangkan diriku akan tinggal di Jepang suatu hari, tinggal di rumah di atas bukit di pinggiran kota, tapi masih bisa melihat kota dari ketinggian. Tempat itu rasanya persis sama dengan suasana yang kurasakan di Semarang, di beberapa titiknya. Yang membedakan karakterku dengan karakter tokoh perempuan utama bernama Shizuku Tsukishima (Yoko Hanna) adalah, Shizuku cukup ekstrovert dan blak-blakkan, sedangkan aku tidak. Namun karakternya yang barangkali tidak peka, suka ke perpustakaan, suka meminjam buku, bercita-cita jadi penulis hebat, menyukai hal-hal unik, juga adalah hal-hal lain yang rasanya begitu dekat. Ditambah kucing yang bernama Moon/Muta/Yahoo membuatnya begitu lucu dan keseharian.

Alur film ini sederhana, tapi animasi garapan Ghibli beserta musiknya bagiku tak pernah gagal untuk memanjakan mata dan telinga. Aku jadi memiliki kesadaran lain ketika melihat film, kesadaran akan empati, kesadaran akan apa yang kutonton benar-benar kunikmati selama apa pun durasi film itu. Sebab yang penting dari sebuah film bukan durasinya, tapi apakah kita bisa menikmati film tersebut? Bersama film dari Ghibli, aku merasa nyaman dan tak memedulikan durasi. Sebagaimana di film Whisper of The Heart, aku juga masih ingat lagu Tetsuko Yamashita dengan pop city-nya memasuki telingaku. Tokoh laki-lakinya Seiji Amasawa (Issey Takahashi) dan kakeknya Shiro Nishi (Keiju Kobayashi) juga merupakan tokoh yang setia, baik, dan sangat seniman. Amasawa juga gentle, membawa Shizuku dengan sepedanya untuk melihat matahari terbit, dan berjanji suatu hari nanti akan menikahi Shizuku.

Membayangkan ketetapan hati Amasawa yang bercita-cita menjadi pengrajin biola berbakat merupakan cita-cita yang tak biasa. Cita-cita yang membuat Shizuku sadar akan mimpi dan berliannya sendiri: dia pandai menulis dan membuat cerita. Lalu selama tiga minggu, Shizuku membuktikan diri jika ia bisa. Dia tak keluar kamar untuk menulis cerita terkait The Baron, patung si kakek yang dibeli ketika tinggal di Eropa. Kakek yang memiliki toko barang antik bernama Toko Nishi, kakek berjanji akan menjadi pembaca pertama Shizuku untuk bukunya. Ya Allah, apa yang dilakukan Shizuku benar-benar ingin aku tiru. Namun, Shizuku sebagaimana Amasawa, mereka tak percaya diri, dan tak yakin dengan skill (berlian) yang dimilikinya. Kakek bilang, pengrajin di mana pun, tak akan mendapatkan hasil yang sempurna pada percobaan pertama. Hampir tiga dekade film ini, dan tak lekang waktu.

Only Yesterday (1991)

Ya Allah, ini film related banget sama hidupku sekarang. Tokohnya Taeko Okajima versi dewasa kegelisahan dan psikologinya ngena banget. Dia berumur 27 tahun, belum menikah, dan dipaksa menikah oleh orangtuanya, karena kakak-kakaknya telah menikah. Dia juga bosan dengan pekerjaannya di Kota Tokyo yang dijalaninya tidak sepenuh hati, dia seperti tidak menjadi dirinya. Dia diibaratkan seperti kupu-kupu yang hanya mengepakkan sayap tanpa tujuan, "Aku tak hidup dalam pekerjaan." Lalu dia ambil cuti selama 10 hari gitu untuk pergi ke desa, belajar terkait pertanian di desa dengan saudara dari orangtuanya. Kemudian, dia bertemu dengan Toshio yang di akhir film akan menjadi jodoh Taeko. Umur Toshio di bawah Taeko, Toshio adalah petani muda yang sangat idealis. Dia lebih memilih pertanian organik daripada pertanian yang menggunakan pestisida dan kimia. Dia memberi banyak perspektif kepada Taekko untuk memikirkan jati diri, pekerjaan, dan makna kemakmuran. "Ayo pikirkan kembali makna kemakmuran sesungguhnya," katanya.

Mereka berdua menurutku sangat manis. Taeko yang tak berhenti memikirkan masa kecilnya dan kejadian masa kecil itu selalu dihubungkan dengan kehidupannya sekarang. Dari ceritanya terkait haid pertama perempuan dan betapa santainya Rie-chan temannya yang mengalami itu. Rie-chan telah mendapatkan pendidikan terkait haid dari ibunya. Namun Taeko tidak, dia ketakutan, hubungan dia dengan ibu, ayah, dan kedua kakaknya (Yaeko dan Nanako) bisa dibilang tidak terlalu dekat. Hubungan yang biasa saja. Hal lain juga terkait Abe-kun yang tak mau bersalaman dengan Taeko, Abe anak orang miskin yang tangannya sering buat ngupil dan ngelap umbel. Juga kisah cinta monyet Taeko yang disalamkan sama kakak kelasnya pemain base ball. Taeko juga tak jago matematika, dia payah dalam hal pecahan, mengimajinasikan hal itu dengan apel pun tak jalan. Taeko di masa dewasa terus berdamai dengan inner child yang dimilikinya.

Empati terbesarkau saat Taeko ditampar oleh ayahnya karena si ayah menganggap Taeko terlalu drama dan keterlaluan bilang mau ikut tapi gak ikut, trus ikut lagi. Dia juga gak mau nerima barang lungsuran dari kakaknya. Taeko cukup keras kepala juga melawan kakaknya terutana Yaeko (kakak kedua). Sebagai anak terakhir,  Taeko tak ingin kalah. Saat ikut drama sekolah pun, guru menyalahkannya karena tak seusai dengan skrip yang telah dibuat. Namun anehnya, dia diajak ke pementasan yang lain, kesempatan yang bisa membuat Taeko jadi artis cilik. Namun si ayah menentang keras, karena kehidupan di bisnis hiburan dipenuhi orang-orang yang tak baik. Taeko pun terpaksa memenggal cita-citanya. Lalu, jadilah Taeko sebagai pekerja kantor, dan bertemu Toshio serta dunia perdesaan yang mengubah hidup. Di akhir film aku berdoa: Ya Allah, pengen punya nasib yang seperti Taeko dan Toshio juga, yang udah ketemu jati diri dan mencintai pekerjaannya. Film yang bersahaja dan membumi!

Senin, 21 Agustus 2023

Catatan Tontonan Film Agustus 2023 Part III

Strays (2023)

Nonton film ini di XXI Plaza Indonesia, Sabtu (20/8/2023). Pelajaran pentingnya, menunggu itu gak papa, tak ada yang salah dengan menunggu sampai tayangan dimulai. Daripada kamu pergi ke restauran mahal tak jelas, sedangkan makanannya tak kamu suka, bukan lidahmu, dan itu bukan kamu banget. Dasar coba-coba atau lebih buruk lagi, ikut-ikutan life style orang lain ini emang tak perlu untuk diperpanjang. Kau tak harus mencoba sesuatu yang memang bukan kelasmu, bukan dirimu. Kembali ke film, jujur ini menghibur dan membuatku beberapa kali tertawa karena tingkah laku empat anjing lucu. Di awal, penonton disuguhi bagaimana pemikiran toksik itu dimulai? Yakni dengan menganggap perilaku-perilaku abusif itu sebagai sebuah kebaikan, kebenaran, dan lebih parah lagi cinta. Ya, for a toxic person, let's give them a fuck-shit!

Relasi toksik itu yang dialami oleh anjing ras border terrier bernama Reggie (Will Ferrel). Dia mengalami penganiayaan tak hanya verbal dan fisik, tapi juga mental oleh majikannya bernama Doug (Will Forte). Majikan yang hobi merancap ini menganggap Reggie membawa sial dalam hidupnya. Oleh karena itu, Doug ingin menyingkirkan Reggie dengan membuangnya menggunakan umpan bola yang dilempar. Setelah banyak kali percobaan pembuangan itu, ternyata Reggie bisa menemukan jalan pulang. Kemudian, Doug membawanya ke tempat yang lebih jauh, melewati berbagai jalan dan tempat yang jaraknya sekitar 3 jam dari rumah. Percobaan itu sukses dan Reggie dipertemukan oleh anjing-anjing liar yang lain: Bug (Jamie Foxx), Maggie (Isla Fisher), dan Hunter (Randall Park). Masing-masing anjing bermarga boston terrier, australian sheperd, dan great dane. Masing-masing punya karakter khas. Mereka dulunya juga punya mantan majikan yang menimbulkan kenangan hingga traumanya sendiri.

Ketiga teman baru Reggie inilah yang membuka matanya terkait hubungan toksik dengan Doug. Hingga akhirnya tercipta ide, Reggie ingin membalas dendam pada Doug dengan cara menggigit kemaluan Doug yang sering digunakan untuk merancap sampai putus. Empat sekawan itu kemudian melakukan perjalanan panjang, melewati jalan, pasar malam, hutan, dlsb. Mereka juga memakan apa saja, dari muntahan sampai tinja. Yang aneh pas makan jamur yang mengakibatkan halusinasi, hingga mereka membunuh para kawanan kelinci secara tercabik-cabik. Lalu revolusi tai di dalam penjara, haha, ya, karena mereka bisa kabur setelah mengeluarkan tai yang mengelabui sipir penjaga. Film ini secara implisit memberi tahu terkait berbagai karakter khas dari spesies anjing, hewan yang setia. Pada akhirnya, Reggie tentu bisa kembali pulang, dan dendam itu terbalas dengan tuntas. Ngeri juga pertarungannya, setimpallah buat bayar karma buruk dia. Lalu, Reggie memilih merdeka dengan menjadi anjing liar, mengajari anjing liar lainnya dengan tiga peraturan: (1) jika mau menguasai tempat, kencingi; (2) anjing bisa bercinta dengan siapa saja; (3) anjing tak pernah sendiri. 

Ave Maryam (2018)

Entahlah, latar film yang diambil di Semarang, dengan gereja Blenduk, Spiegel, beserta tempat kesusteran di sana membuatku terasa terlempar pada suatu masa. Dulu pas tinggal di Semarang pernah liputan ke gereja, ketemu Romo sepuh dan sering main ke makam Romo Soegija. Dan, film "Ave Maryam" ini menurutku cukup berani. Mengungkap sisi sepi, kelam, dan gelap orang-orang yang memilih hidup selibat, seperti para biarawati dan para romo. Suster bernama Maryam (Maudy Koesnaedi) dan romo Katolik di sebuah gereja di Semarang bernama Yosef (Chicco Jerikho) terlibat pertarungan perasaan, keduanya saling jatuh cinta hingga melanggar batas suci yang ditetapkan oleh Tuhan, Yesus Kristus. Joko Anwar juga turut bermain di sini sebagai Romo Martin.

Dalam film ini, acting Maryam sangat cocok dan begitu menghayati. Dia digambarkan sebagai orang yang polos, pasrah, dan memiliki jiwa yang kosong. Umurnya 40 tahun, tapi masih cantik, anggun, dan elegan. Dia merawat Suster Monic (Tutie Kirana) yang sakit-sakitan, suster ini entah ada hubungan apa dengan Rm. Yosef, entah dia anaknya entah siapa, tapi perilakunya aneh dan sering mengawasi Yosef. Oh, setelah kubaca baru ngeh, dia ibu angkatnya. Suster Monic juga suka memata-matai Maryam, dari apa yang dia lakukan sampai buku-buku bacaannya, salah duanya tentang majalah rohani dan buku yang sepertinya terkait seksualitas, hingga novel Madame Bovary dari Flaubert. Film ini juga menhadirkan replikasi surga dunia yang lain, hidup yang damai, tenang, menjadi pelayan Tuhan.

Yang tak habis pikir tentu si Yosef sendiri, ada juga ya model-model Romo kayak beliau ini, yang menurutku dalam tanda kutip "barbar". Jiwa seninya tinggi, ngajar musik juga, merokok, dengan gaya yang anak muda banget. Dia secara diam-diam membuntuti Maryam, memperhatikannya, mengirimi surat, mengajaknya kencan, hingga kencan itu kebablasan. Mereka pergi ke pantai untuk merayakan ulang tahun Maryam, lalu terjadilah. Saat pulang, Maryam menangis, dia pergi/pulang, dan mengucapkan pengakuan dosa di dekat altar, yang kok ya Romonya sama si Yosef sendiri. Hal menarik lain, film ini gak banyak dialog, dalam artian, dialognya lebih kepada mimik, suasana, musik, dan tindakan-tindakan tokoh. Cerdas menurutku.

A Whisker Away (2020)

Anime orisinal dari Netflix yang bercerita tentang Miyo Sasaki (Mirai Shida), anak SMP yang hidup dalam kelurga broken. Dia hidup sama ibu tirinya, dan untungnya si ibu tiri ini baik. Miyo yang juga dipanggail Muge ini jatuh cinta dengan teman sekelasnya, Kento Hinode (Natsuki Hanae). Karakter mereka berbeda 170 derajat. Jika Muge sangat ekstrover dan dijuluki sebagai orang ganjil penuh enigma, maka Hinode anak yang introvert. 

Saking sayangnya Muge sama Hinode, dia bekerja sama dengan penjual topeng kucing gaib untuk bisa merubah diri menjadi kucing. Akhirnya terwujud, Muge berubah menjadi kucing lucu berbulu putih, bermata biru, dan menarik bernama Taro. Dengan menjadi kucing, Taro bisa berkomunikasi banyak dengan Hinode, berduaan dengannya, dipeluk, dan mengetahui berbagai isi hati Hinode. Namun, konflik terjadi ketika Muge terancam tak bisa berubah lagi menjadi manusia. Akhirnya mereka harus berada di negeri atau dunia kerajaan kucing. Yang isinya dulu adalah manusia yang berubah jadi kucing.

Dalam perjalanan itu, ternyata si penjual topeng ingin mengambil soul Muge untuk memperpanjang usia dan membuatnya lebih muda. Namun upaya itu digagalkan sama Hinode yang diam-diam juga mencintai Muge. Bagiku mereka pasangan yang manis. Hidup Muge sangat kompleks dan sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Akhir film ini menarik, mereka berdua bisa kembali bersama, sekolah bersama lagi. Muge juga lebih bisa memahami kondisi ibu tirinya, juga ayahnya.

Minggu, 20 Agustus 2023

Automation - Jason E. Smith

Part I bab kedelapan buku The SAGE Handbook of Marxism selanjutnya yaitu tulisan Jason E. Smith berjudul "Automation" atau otomasi. Smith ngajar di Art Center College of Design di Pasadena, CA. Dia nulis terkait filsafat kontemporer, seni, dan politik. Bukunya terkait otomasi yaitu "Smart Machines and Service Work: Automation in an Age of Stagnation" (2019).

Diskusi yang dipandu sama Aziz Faozi terkait "automation" dari Jason E. Smith ini menerangkan bagaimana teknologi menggantikan proses kerja manusia. Dalam perkembangannya, teknologi ini memengaruhi pergeseran dalam pembagian kerja (division of labor), yang tentu juga mempengaruhi standar upah yang ditetapkan oleh kapitalis.

Otomasi ini menjadi salah satu jantung dari perkembangan kapitalisme. Sistem ini berupaya untuk mengambil bentuk karja produktif dan reproduktif dari pekerja untuk kepentingan profit semata. Tentu alienasi jadi ganda dan tak terhindarkan, karena manusia tidak memiliki produk yang dia ciptakan, manusia semakin terlempar.

Dalam subbab ini, Marx lebih gamblang melihat pekerja ini titik sentral dalam melihat perkembangan teknologi. Bagaimana kesadaran manusia sebagai labor (subjek) hanya diarahin untuk mesin. Otomasi membuat kerja jadi mudah, komoditas jadi murah dan berlimpah, meningkatkan kuantitas dan kualitas, serta meringankan gaji.

Fenomena otomasi ini di zamannya Marx ada pas munculnya mesin pemintal kapas di pabriknya Engels. Jika hanya dengan tenaga manusia misal hanya bisa meminta 100 benang, tapi dengan bantuan mesin bisa memintal sampai 1.000 benang. Atau misal, alih-alih pergi ke kantor pakai kuda, orang sekarang lebih memilih pakai motor atau mobil yang lebih cepat.

Otomasi juga memendekkan waktu, misal pekerjaan yang ketika dilakukan secara manual membutuhkan 8 jam, dengan mesin bisa jadi hanya 4 jam. Sehingga menimbulkan "waktu luang" yang banyak, sehingga gaji pekerja pun bisa dikurangi.

Dampaknya? Krisis. Krisis dari otomasi ini beberapa di antaranya adalah pekerja tidak produktif (unproductive labor) jadi semakin banyak, surplus pekerja menjadi meningkat, juga adanya redundant labor, kerja-kerja meaningless, kerja-kerja yang tak membuat nilai (value) meski seolah-olah memiliki value. Contohnya: ghost worker, clique worker, informal worker, atau dalam terma Graeber, bullshit-bullshit jobs yang lain.

Penulis mencatat: Tenaga kerja baru yang mubazir ini akan membengkakkan jumlah pengangguran, atau diserap ke dalam sektor 'layanan pribadi' berupah rendah dan berketerampilan rendah.

Sayangnya, artikel ini penjelasannya masih dalam sudut pandang kejadian masa dulu di kapitalisme lawas. Belum memberikan jalan keluar bagi pekerja dalam menghadapi agenda otomasi. Seperti hari ini, orang berlomba-lomba menyelesaikan masalah dengan aplikasi. Aplikasi yang punya daya tampung dan daya dukung. Namun di sisi lain, hal itu juga antara diperlukan dan tidak diperlukan.

Jika dulu pekerja bisa dengan jelas demo ke pabrik yang beralamat jelas dan ada gedungnya, saat ini bahkan pabriknya saja tak ada. Lalu apa yang akan dilawan? Atau belum lagi yang ngelola itu aplikasi teman sendiri, kita kerja padanya. Belum lagi fenomena AI, ChatGTP, hingga jodoh saja bisa diklik.

Refleksi menarik dari diskusi kali ini, ketika otomasi ini udah gak terhindarkan, juga menciptakan banyaknya pekerja yang tidak produktif dan redundant, dalam kondisi yang berkebalikan: Bagaimana kita bisa membayangkan masyarakat "pasca-kerja" atau kiamat kerja?

Kondisi pasca-kerja kelihatannya menarik bukan? Dengan adanya mesin atau otomasi ini, orang yang bekerja semakin sedikit, komoditas semakin banyak, dan manusia bisa saja tak bekerja atau mengerjakan hal lain sesuai nilai-nilai yang dianut. Sebab itu kelihatannya masih sekadar utopia, kami saling bersepakat jika agenda otomasi harus direbut dan berpihak kepada kelas pekerja.

Di sisi lain, otomasi ini sebagai bentuk dari efisiensi dari kerja-kerja yang dilakukan secara manual. Otomasi membuat orang mempunya keistimewaan (lux) untuk memikirkan hal lainnya. Mesin diciptakan sedemikian rupa untuk inovasi dan efisiensi.

"The automatic factory is the mode of production most capable of serving the needs of capital: the production of surplus value or, more precisely, an ever higher rate of exploitation (expressed in the ratio of necessary to surplus labor)." (p. 140)

#automation #jasonesmith #otomasi #AI #robot #mesin #machine #labor #redundantlabor

Mopey

Kata Mas Noel, hari ini adalah hari terakhir Kris di EF. Tentu aku merasa sangat sedih. Dan aku tetap saja menjadi anak yang pemalu, yang gak bisa ngungkapin hay atau bye ke Kris dengan cara yang benar. Ya, entah, aku begitu takut. Even untuk kumpul sama mereka. Aku merasa diriku tertolak, aku takut, mungkin sangat ketakutan kalau diriku ditolak. Ya, padal aku udah biasa ditolak. Dan aku merasa sedih. Kadang aku juga merasa tak ada orang yang bisa menerimaku. Aku begitu penyendiri, kesepian, suram, sedih, dan tak tahu apa yang harusnya baik untuk kulakukan. Oh my God. Namun, ya, begitulah hidup. Aku gak bisa maksa, meski aku merasa sangat sedih. Sangat-sangat sedih.

Kris bagiku telah mengajarkan banyak kedewasaan untukku. Dia kaku memang, tapi dia baik dan pintar tentu saja, kualitasnya yang tak bisa tertolak. Aku takut setelah Kris pergi, EF akan dapat teacher native lain yang tak lebih baik daripada dia. Aku mengenal Kris tak hanya di EF, tapi juga di Rame-Rame Jakarta (RRJ). Di sinilah hidupku dan lingkaranku yang lain dimulai, di Jakarta. Kenal orang-orang lain juga: Mas Andesh, Barda, dll.  

My other teacher asked me: "Isma, you don't join it?" And I just nodded. I am shy, this is my other complexity.

Lalu, berada dan duduk di sini seperti melihat diriku yang lama, dan aku merasa sangat kasihan pada diriku. Barangkali, sebentar lagi air mataku udah gak bisa untuk aku tampung. Perlahan aku akan menangis, dan selalu, aku akan menangis sendiri. 

Ditambah tadi pas telepon sama ibu, sakit ibu seperti tak bisa dia tahan lagi. Aku merasa bisa merasakan kesakitan yang dialami oleh ibu. Aku yang sehari saja sakit tak kuat, berbaring sehari sakit saja aku tak kuat, dan ibu udah berbaring sudah mau dua tahun. Apakah ini riil? Iya. Lalu ibu pengen bunuh diri. Aku menasehati seperti angin lalu yang perlahan akan hilang. Aku sendiri tak sekuat ibu, sedangkan ibu selalu mengingat kata-kata menyakitkan dari Bapak. Bapak yang sepertinya lebih sakit daripada ibu secara batin dan luka. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa. 

Dari hubungan pernikahan ibu-bapak, kalau kupikir lebih dalam, aku membenci pernikahan. Aku membenci rumah tangga yang seperti neraka. Aku tak mau tinggal satu rumah dengan orang yang tak mencintai dan menyayangiku. Dan untuk apa aku tergesa-gesa dengan utopia pernikahan? Aku bisa hidup sendiri, dan gak papa. Aku tak perlu mengemis-ngemis perhatian dari orang yang tak memiliki perasaan sebaliknya pula padaku. Kupikir usaha-usaha seperti itu cukup. Sebab aku cukup lelah. Komitmenku sudah cukup benar: "Jangan berharap pada pria, siapa pun. Jangan berharap pada manusia, siapa pun."

Dan aku juga membenci ilusi kesempurnaan yang dipancarkan manusia, siapa pun itu. Mulai detik ini, aku lebih menghargai empati orang alih-alih kesempurnaannya akan penampilan, kekayaan, kecerdasan, wajah tanpa cela, perilaku baik, almamater, skill yang gak ada batas, dlsb. Orang baik belum tentu punya empati, tapi orang yang empati sudah pasti baik. Meski orang-orang yang punya empati juga memiliki problem mereka sendiri, tetapi menurutku mereka adalah orang-orang yang paling bisa untuk diandalkan.

Pertanyaannya kemudian: Apakah aku sudah berempati pada diriku sendiri?  

Where is my self-emphaty?

Catatan Tontonan Film Agustus 2023 Part II

Whiplash (2014)

Nonton film ini atas rekomendasi Quoran, rekomendasi film beliau menurutku cukup menarik. Kemudian saya cari film berbau teror psikologis ini di Netflix, Alhamdulillah ada, haha, karena rekomendasi film lain dari Quoran itu belum ada. Film ini nyeritain kisah rumit hubungan antara guru musik bernama Terence Fletcher (J.K. Simmons) dan muridnya Andrew (Miles Teller). Aku sepakat film ini adalah paket komplit dari akting, musik, sinematografi, fashion, yang bagus! Apalagi akting si gurunya Fletcher, masuk banget, kayak botol ketemu tutupnya. Film yang aku gak ragu untuk ngrekomendasiin juga ke yang lain.

Ini akan menjadi salah satu film yang membuatku merasa telingaku kayak disekolahin. Ada guru yang ternyata bisa se-psikopat itu pas ngajar musik, dan untuk mencapai kesempurnaan dalam seni, dalam konteks ini musik itu, gak pernah ada. Tapi anehnya, selalu ada murid-murid loyal yang malah tertantang untuk naklukin ego kesempurnaan yang distandarkan oleh si guru, meski dia hampir mati pas latihan, atau udah tahu ketabrak truk parah, tapi masih dipaksakan ikut rehearsal. Si murid gak meduliin diri dia lagi. Relasi ini bisa diganti sama pola hubungan lain juga sih. Manusia emang separadoks itu.

Kalau aku jadi Andrew, well, barangkali aku tak akan sekuat itu punya guru seperti Fletcher. Di hari pertama mungkin aku akan cabut, don't say, what a wimp! Haha. Karena bagiku dalam belajar itu guru jadi orang yang sentral. Kalau gurunya baik, aku akan nurut, kalau gak, itu udah tanda aku gak perlu ngikuti pelajarannya lebih lanjut. Bayangin kamu jadi Andrew, dia punya bakat nge-drum sejak kecil, terus SMA dapat guru ya, hebat sih, tapi gila. Andrew ini ibunya udah meninggal, dia cuma punya ayah satu-satunya yang sayang banget sama dia. Tapi gara-gara obsesinya untuk jadi penabuh drum jazz terkenal sebagaimana standar Fletcher, dia jadi gila sendiri. Gak hanya itu, Andrew juga memusuhi keluarga ayahnya, sampai memusuhi gebetannya sendiri sampai si cewek kemudian punya pacar baru. Ini film dark yang keren banget.

Her (2013)

Kesepian akan jadi bahasan yang menarik kapanpun manusia hidup. Dari zaman Plato sampai Elon Musk, ini perasaan yang abadi. Dan film ini mencoba memberi jawaban kesepian manusia dengan menghadirkan teknologi AI manusia bayangan yang diciptakan melalui OS (operating system), komputer. Di film juga bertebaran berbagai teknologi masa depan yang kayaknya dalam 100 tahun ke depan bisa jadi akan terwujud. Dari teknologi yang bisa baca email sendiri, ngatur jadwal sendiri, nulis cuma dari cocot doang, TV yang bisa digerakkin pakai tangan, dlsb. Namun lubang besar dan efek dari semua itu adalah KESEPIAN.

Melihat tokoh utama yang bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) seperti melihat diriku yang lain: tertutup, tertekan, suram, dan tentu, kesepian. Tokoh yang bekerja sebagai content writer untuk balas surat-surat romantis kali ya--yang mungkin juga salah satu jenis bullshit job yang lain--ini memiliki masalah dengan istrinya, mereka cerai. Perspektif menariknya, Theo bilang cerai itu hanya masalah kertas! Waw. Ya juga sih, haha. Namun kenangan di balik itu yang lebih berarti. Dia punya anak satu perempuan yang lucu juga. Theo punya pacar bayangan yang dioperasikan OS tadi bernama Samantha. Kenapa namanya itu? Jadi kalau baca-baca ulang konsep AI, dia kan akan terus belajar, si Samantaha selama seper sekian second waktu baca jutaaan nama di direktorinya dan memilih nama Samantha. 

Film yang disutradarai oleh Spike Jonze ini sejujurnya berjalan dengan tempo yang lambat, sama kayak hidup kalau lagi bosen-bosennya. Justru menurutku di situ poin susahnya buat bisa ngikutin film ini sampai akhir. Tentu kamu bisa menebak akhir dari film ini yang juga berakhir dengan kesepian-kesepian pula. Si Theo kecewa karena perlakuan spesial Samantha bukan untuk dirinya saja, tapi juga untuk ribuan bahkan ratusan pengguna OS lainnya. Rasa egonya membuncah, Theo seperti dikhianati lebih dari pengkhianatan yang dilakukan oleh Catherine mantan istrinya. Meski Samantha melakukan hal mengejutkan pula, ketika dia mengumpulkan surat-surat romantis Theo untuk kliennya, kemudian Samantha kumpulkan, dikirimkan ke penerbit, dan menjadi buku. Ya, kupikir manusia adalah kesepian tanpa akhir.

Guy Ritchie's The Covenant (2023)

Film bergenre pertempuran ini menonjolkan sisi yang cukup menggigit dibanding film perang kebanyakan. Terinspirasi dari kisah nyata, menampilkan tokoh utama John Kinley (Jake Gyllenhaal), sersan AD USA yang ditugaskan di Afghanistan dalam rangka melumpuhkan gerakan Taliban di negara tersebut. Di sana, Kinley bertemu dengan penerjemah sekaligus intrepreter asli Afghanistan yang juga mantan anggota Taliban bernama Ahmed (Dar Salim). Ahmed dendam dengan Taliban karena membunuh anak laki-lakinya. Saat hendak mengepung markas Taliban yang menyimpan banyak bom dan senjata, adu bedil kemudian terjadi. Masing-masing tentara di dua kubu meninggal hingga menyisakan Kinley dan Ahmed. Keduanya berjuang bersama untuk terus hidup.

Dalam kondisi itu, Kinley terkena tembak serius beberapa kali yang menyebabkannya lumpuh. Ahmed kemudian berusaha menyelamatkannya hingga sampai di markas USA. Menggunakan peralatan seadanya, juga alat dorong dari bambu, Ahmed menyeret dan menggotong Kinley. Ketegangan terjadi sepanjang film, Ahmed dengan jiwa kemanusiaanya menaiki dan menuruni area terjan dan gurun khas Afghanistan. Mereka juga bertemu warga setempat, dari penjual makanan, hingga penjual karpet yang juga membenci Taliban. Untuk meredakan rasa sakit Kinley, akhirnya Ahmed memberinya semacam ganja. Pertarungan tak terhindarkan, dan nasib baik memihak Kinley, dia terselamatkan dan kembali ke rumahnya yang damai bersama istri dan anaknya di USA.

Namun, sekembalinya dari perang, hidup Kinley tak sama lagi. Psikologinya terganggu, mudah marah, mengutuk, dan punya keingingan kuat untuk menyelamatkan sahabat yang telah membantunya untuk hidup kedua kali, Ahmed. Apa yang dirasakan Kinley semacam komitmen (the covenant) antara dirinya dan Ahmed. Bagaimana bisa dia hidup nyaman bersama keluarga tapi sahabatnya dikejar-kejar untuk dibunuh tentara Taliban. Apalagi kepalanya dibayar mahal. Akhirnya, Kinley kembali ke Afghanistan untuk mencari Ahmed, Kinley juga mengurus passport dan visa tinggal Ahmed di USA, hal yang sangat susah dan birokratis untuk didapatkan. Dengan scoring yang apik, dua jam gak kerasa buat membuktikan janji Kinley tersebut. Bahwa kemanusiaan itu melampaui apapun: bahasa, budaya, geografi, darah, ras, kelas, dlsb.

Jumat, 18 Agustus 2023

Catatan Film yang Kutonton Periode Agustus 2023

Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023)

Ini film remake buat memperingati artis horor Indonesia, Suzzanna. Secara keseluruhan jujur, meski film ini horor, tapi malah tak cukup horor untukku. Entah, mungkin karena latarnya yang dekat, diambil dari budaya khas Jawa Timuran. Gimana seorang gadis dijadikan materi untuk membayar utang orang tua pada tuan wilayah di masa itu. Film ini asyik buat ditonton bareng keluarga, karena unsur keluarganya cukup kuat, kebetulan aku nonton ini di Cinepolis Gadjah Mada Plaza yang juga cocok buat keluarga.

Lainnya, acting Luna Maya yang secara wajah mayan mirip, tak begitu mengandung aura horor. Yang menarik justru si Surya (Achmad Megantara), gak tahu, ini orang saking bucin atau gilanya, karakternya masuk aja gitu. Dia bersekutu sama iblis buat menghidupkan Suzzanna, terus kekasihnya itu balas dendam sama Raden Aryo (Tyo Pakusadewo) dan istrinya yang nyantet Suzzanna, Minati (Sally Marcellina).

Dari film ini, aku jadi sadar asal-usul legenda kuntilanak, hantu yang selalu menginginkan bayinya karena lahir tak normal di punggung. Itu kenapa punggungnya bolong, rumahnya di pohon-pohon besar, dan suka makan bakso wkwk. Acting Rojali (Opie Kumis) dan Japra (Adi Bing Slamet), meski aktor pinggiran tapi kena sih humornya, haha. Ya, pada akhirnya, dendam itu terbalaskan, dan film ini berakhir bahagia. Anak Suzzanna dirawat oleh Surya. Suzzana mati untuk kedua kalinya setelah ubun-ubunnya ditusuk paku.

Oppenheimer (2023)

Jujur, fillm Oppenheimer bagiku lebih horror daripada film Suzzanna. Gimana gak horror, dampak dari bom yang diciptakan sama Oppie dan kawan-kawannya ngebunuh ratusan ribu masyarakat Jepang saat Perang Dunia II. Buat pecinta ilmu sains, fisikawan, kimiawan, matematikawan, ini film rekomendasi banget sih. Semangat belajar dan kecerdasan para tokohnya terlihat banget, dan bakal membuatmu merasa jika upaya kamu dalam belajar selama ini biasa-biasa aja. Nama-nama saintis beken macam: Niels Bohr, Albert Einstein, Richard Feynman, Klaus Fuchs, Ernest Lawrence, Robert Serber, Hans Bethe, dll, bertebaran!

Cillian Murphy yang meranin Oppenheimer ini cocok sih. Orangnya cukup tenang tapi ambisius. Dari awal film, penonton diserbu dan dikagumkan oleh kecerdasan Oppenheimer yang ngambil S1 dan S2 di Harvard dan Cambridge, bingo! Dia sempat mau bunuh dosennya lewat racun yang disuntik ke apel karena merasa terdiskriminasi. Lalu pertemuan Oppie dengan Einstein yang sangat ideologis dan revolusioner juga, sebab penemuan mereka bisa menciptakan bom pembunuh massal di dunia. Namun obrolan ini disalahkanartikan oleh Lewis Strauss (Robert Downey Jr) secara ad honimem, dianggap obrolan itu menyinggung dirinya secara pribadi, karena Einstein kemudian gak negur Strauss. Padal si Einstein saat itu lagi bad mood dan kacau emosinya gara-gara niat Oppenheimer terkait teori kuantum yang bisa menghancurkan dunia. Einstein did it too, tho'.

Ya, hari berlanjut, saat perang memanas, Oppie kemudian direkrut oleh militer Amerika lulusan MIT untuk proyek pembuatan bom. Akhirnya dia buat laboratorium sendiri di tanah kaum Indian yang gersang, daerah mati yang coba dihidupkan. Di situ ilmuwan dikumpulkan dan percobaan bom dilakukan. Hingga akhirnya, bom itu meledak! Duammm! Djakarta Theatre ikut bergetar! Ratusan ribu orang di Nagasaki dan Hiroshima mati mengerikan. Sedangkan si Presiden US kala itu dianggap bertanggungjawab. Yang cukup mengganggu sebenarnya di akhir-akhir film, sebuah sidang buatan yang dirancang oleh Strauss untuk menghakimi dan menghukum Oppenheimer karena dendam pribadinya. Part itu bagiku melelahkan dan pengen ku-skip aja. Ditambah latar hitam-putih membuatku lebih frustrasi.

Barbie (2023)

Ini film lucu! Sebagai perempuan yang gak asing dengan mainan barbie, film ini mencoba memberi perspektif lain dalam melihat dunia mainan, kesempurnaan manusia, cita-cita, dan ide-ide kesetaraan. Latarnya bener-bener dibuat khas mainan, di mana tokohnya makan gak ada makanannya, minum gak ada airnya. Mereka bisa ganti pakaian cantik setiap hari, dengan mobil, rumah, dan aneka infrastruktur yang keren. Semua perempuan di dunia Barbieland bernama Barbie, dan semua laki-lakinya bernama Ken. Barbie bisa jadi apa saja, dari presiden, peraih nobel, arsitek, desainer, dll. Hei! Perempuan bisa melakukan apa saja dengan mimpinya! Perempuan itu sangat mandiri, dan (maaf) sebenarnya bisa hidup tanpa Ken, wkwk. Aku yang nonton di CGV GI ketawa-tawa.

Dunia berubah saat Barbie utama, ya sebut saja begitu, yang dibintangi oleh Margot Robbie memikirkan terkait kematian, dan strech di pupunya membuat dia insecure, apalagi kakinya bisa menapak, tak seperti Barbie kebanyakan yang njinjit atau Barbie autentik (duh lupa istilahnya), oya, Barbie stereoptical. Akhirnya dia pergi ke weird Barbie, hingga dipertemukan dan tinggal di dunia manusia. Barbie mau tak mau pun jatuh ke bumi, dan Ken utama (Ryan Gosling) mengikutinya. Barbie pun kaget dengan dunia manusia bumi, dia sadar dunia yang ada di Barbieland ternyata tak terjadi di bumi. Dia bukan ratu, bahkan dia juga tak punya kelamin, meski memiliki sisi-sisi kemanusiaan yang dimiliki manusia bumi. Barbie menangis saat dia tahu ide-ide kesetaraan itu utopia belaka dari anak kecil di dunia masa lalu yang mengadopsinya.

Isu lain terkait kapitalisme, wekeke, bagaimana si bos perusahaan Mattel yang memproduksi Barbie dan Ken memperkuat bisnisnya. Si CEO, Will Ferrell, dan anak-anak buahnya harus mendatangi Barbieland untuk menangkap si Barbie yang turun di dunia karena dianggap mengancam bisnisnya. Namun pas Barbie kembali, Barbieland telah berubah jadi Kenland yang menerapkan teori-teori patriarki secara kaffah. Ini unik sih, lalu bagaimana para Barbie memperoleh legitimasinya kembali untuk menguasai dunia mereka yang asli. Hm, bukan tontonan anak-anak, tapi idenya sangat menarik. Ya, everybody's tend to be like Barbie and Ken.

Cobweb (2023)

Kayaknya ini film horornya US pertama yang kutonton secara sadar deh, haha. Aku nonton ini di Atrium XXI pas hari Sabtu. Meski kurang begitu suka sama genre horror, tapi kalau karakternya menarik, akhirnya aku ngikut sih haha. Dan tokohnya si Peter (Woody Norman), ini anak so cute! Dia tinggal di rumah tua sama orang tuanya, Mark (Antony Starr) dan Carol (Lizzy Caplan), yang seperti menderita gangguan jiwa setelah ada anak perempuan yang mati mendadak di malam Halloween. Lalu ortu itu overprotective sama Peter.

Tiap malam si Peter digangguin sama suara-suara yang timbul di balik dinding. Si hantu mencoba jalin obrolan sama di Peter. Peter pun menanggapinya karena dia sedih, bagaimana gak sedih, anak yang superpendiam ini di sekolah gak punya teman. Dia ketakutan saat jam istirahat. Lalu, ada anak lain yang mem-bully Peter, namanya Brian (Luke Busey). Si hantu kemudian bujuk Peter untuk ngebalas, lalu pas di sekolah ngedorong Brian dari tangga hingga membuat kakinya cacat harus pakai alat bantu jalan. Untungnya dia punya guru yang perhatian bernama Ms. Devine (Cleopatra Coleman).

Plot twist-nya ternyata yang anak perempuan yang mati itu kakaknya Peter, yang dibunuh sama mamahnya sendiri kemudian dikubur di belakang rumah. Tapi anehnya juga, di belakang jam besar horor si kakak berambut seram ini tinggal dan dikunci. Saat terjadi malam Halloween, tragedi terjadi, Peter seperti meracuni makanan mamah-papahnya hingga mereka meninggal. Peter akhirnya dapat kunci untuk melepas si hantu di belakang jam. Lalu, malam berdarah terjadi, Brian dan para sepupunya datang untuk balas dendam, eh, akhirnya ikut terbunuh juga. Akhir filmnya agak kurang jelas sih, Ms. Devine nolong, dan hantunya kekurung lagi.

Meg 2: The Trench (2023)

Nonton film ini saat kamu lagi stress akan nurunin tingkat stress sih, haha. Ya, itu aku rasakan saat merasa beban kerja lagi banyak-banyaknya. Nonton Meg 2 seperti diajak ke dunia lain, dunia di bawah laut yang belum banyak diakses oleh banyak orang. Aneka akulturasi budaya antara Barat dan China juga membuat film ini menarik. Aku pribadi suka dengan karakter Meiying (Shuya Sophia Cai) dan pamannya Jiumming (Wu Jing). Mereka kaya, punya laboratorium bawah laut beserta konservasinya, sampai macam ternak ikan hiu jelek purba yang diberi nama Haiqing.

Pernah bayangin gak sih hidup di bawah laut? Imajinasi terjauhku masih di seputaran serial animasi Spongebob Squarepants sih. Di film ini seperti nyata, membayangkan sekitar ribuan meter dari permukaan laut, makai pakaian khusus, dan mengamati berbagai spesies kedalaman yang menakjubkan. Meski di bawah laut ini tak lepas dari eksploitasi juga. Konflik film ini adalah pertarungan antara timnya Jiumming dengan laboratorium yang merusak alam bawah laut. Menjualnya dengan harga miliaran rupiah. Juga berbagai sabotase yang terjadi di lingkup internal.

Pertarungan itu membawa mereka ke pulau impian, Fun Island, yang menurutku malah mirip Barbieland di dunia nyata, haha. Sayangnya pulau ini bukan untuk liburan, tapi untuk perang khas film action USA yang aktornya gak mati-mati. Apalagi tokoh si Jonas (Jason Statham) yang punya nyawa puluhan). Di pulau ini ditemukan juga makhluk purba seperti komodo yang menyerang manusia, terus octopus raksasa juga, sampai ular raksasa, dll. Berakhir dengan kemengangan si protagonis, film ini seperti membawa perasaan lega sejenak. Ya, macam bisa keluar dari palung lautan (the trench) dan menghirup udara daratan.

Love in Perth (2010)

Sengaja nonton film ini karena pengen merasakan suasana gimana sekolah di luar negeri itu dari tokoh utamanya Lola (Gita Gutawa) dan lawan mainnya Dhani (Derby Romero). Sebagai film, ini ringan banget, cheesy, dan you don't need extra brain to understand. Si Lola dapat beasiswa sekolah level SMA gitu di Perth, Australia. Lalu ketemu cowok songong dan sombong si Dhani, singkat kata mereka kemudian jatuh cinta dan saling mencintai.

Namun sebelum jadian, mereka ada di hubungan yang up-down gitu karena karakter Dhani yang naik-turun. Sebagai anak metrpolitan yang suka clubbing, karakter Dhani ini gambarin karakter anak muda sekarang sih kalau menurutku. Tapi ya mungkin masih di lingkup masa-masa remaja dia. Kalau kayak gitu di umur 30 yang kebangetan sih. Bertolak belakang sekali sama si Lola, anaknya konservatif, moody, dan menjaga sopan-santun. Dia juga relegius, tak meninggalkan solat meski tinggal di negara liberal. Kebalikan sama si Tiwi (Michella Putri), roomate Lola, anaknya udah bebas banget party dan hangover tiap malam.

Tokoh lain ada si Ari (Petra Sihombing) yang diam-diam suka sama si Lola. Sebenarnya tokoh Ari ini kalau mau realistis lebih cocok sama si Lola. Dia perhatian, romantis, selalu ada, dan yah, baik banget gitulah. Tapi ya namanya cinta, gak bisa dipastiin nancapnya hati kemana. Lalu, kelebihan film ini lebih ke pemandangan Perth itu sendiri, pengen deh suatu hari ada di kursi Ari dan Lola itu sambil melihat danau, pemandangan urban, dan bawahnya rerumputan yang hijau. Damai.

Ode to My Father (2014)

Film sedih dari Korea Selatan yang gak ngebosenin dari awal sampai akhir. Genrenya drama dan perang, ngisahin suatu keluarga yang hidup saat masa perang antara Korsel dan Korut, mereka ngungsi tapi si ayah (Jung Jin-young) dan adik dari tokoh utama Yoon Deok-soo (Hwang Jung-min) yang bernama Mak-soon memisahkan diri. Deok-soo adalah anak pertama, dia punya tiga adik, yang satu hilang, yang satu pinternya bukan main dan masuk universitas negeri di Korea, dan satunya agak centil/glamor, pengen ada pernikahan mewah.

Seiring waktu, Deok-soo pun ingin merubah nasib dengan cara pergi ke Jerman sebagai seorang penambang. Dia pergi bersama sahabat sejatinya sejak kecil bernama Dal-goo (Oh Dal-su). Banyak hal lucu dan tragis terjadi di hidup keduanya. Dari terkubur di tambang, sampai kisah percintaan. Di Jerman, Deok-soo bertemu dengan perempuan yang menjadi istrinya, Young-ja (Yunjim Kim). Young-ja bekerja sebagai perawat di Jerman, pertemuan mereka sangat unik. Yang lucu tentu di Dal-su, berniat ingin mencari perempuan ala Barat yang berpikiran terbuka dan berbeda dengan perempuan Asia. Si Dal-su malah ketakutan saat kehilangan keperjakaannya dan diajak ML sama perempuan Jerman asli, terbuka dan agresif, haha. Di luar ekspektasi sih ini.

Sepulang dari Jerman, Deok-soo bisa membeli rumah sendiri, tapi ada satu yang sangat ingin dia beli, yaitu toko bibinya. Di toko inilah ayahnya ketika berpisah berjanji, jika dia masih hidup, dia akan datang ke toko itu. Sebab membutuhkan uang, akhirnya dia pergi ke Vietnam, sebagai imigran peran tentunya. Di sanalah dia mengalami masa-masa perang antara Vietnam-USA. Apa dikata, dia kena bom dan kakinya kena tembak pas mau nyelamatin anak ngungsi di sebuha sungai. Kecelakaan itu membuatnya berjalan agak pincang. Sisi sedihnya pas moment ada acara reality show yang mempertemukan korban perang dengan saudaranya, higga akhirnya si Mak-soon ketemu. Dia diadopsi oleh keluarga di Amerika Serikat. Yah, mbrebes mili, huhu. Keluarga emang nomor satu.

SPK

Aku masih ingat, di sekolahku dulu ada tukang bersih-bersih yang bagiku sangat rajin. Datang paling pagi, kalau nyapu niat, dan pas mau pulang pun blio masih nyapu pelataran kelas. Mengingatnya, salah satu sejarah penting hari ini adalah berdirinya Serikat Pekerja Kampus (SPK). Wadah yang menyuarakan berbagai kegelisahan para pekerja akademik, tak cuma dosen, tapi juga para OB, security, pekerja kopma, tukang parkir kampus, sampai anak magang. 

Ya, siapa lagi yang akan memperjuangkan selain kerjasama dalam bentuk serikat. Apalagi dunia pendidikan tinggi tengah menghadapi berbagai masalah penting, paling dasar adalah komersialisasi pendidikan yang kian lama kian mahal. Belum lagi tentang kurikulum, gagasan merdeka belajar belumlah sama sebagaimana yang dinyanyikan Pink Floyd dalam lagu Another Brick in The Wall. Yang membahagiakan lagi, serikat ini disokong penuh oleh kaum perempuan dari tingkat kepanitiaan hingga ketua dan sekjen terpilih juga perempuan, Ibu Diah dari UB dan Ibu Hariyati dari UI. 

Persma Balairum UGM juga baru saja  meluncurkan majalah yang temanya sangat menarik: "Buruh Perguruan Tinggi Didesak Sekak". Membaca laporan-laporannya yang diberi judul berima bisa jadi jembatan buat mahami kondisi dosen dan buruh akademik lain. Great job ini sih.

Panjang umur SPK dan pekerja kampus!

Minggu, 13 Agustus 2023

Labour - Guido Starosta

Setelah 3 minggu absen diskusi, malam minggu kemarin kami kembali membahas part I bab ketujuh buku The SAGE Handbook of Marxism. Kami membahas tulisan berjudul "Labour" dari Guido Starosta. Dia adalah penulis dan profesor di jurusan Ekonomi dan Administrasi di Universidad Nacional de Quilmes (UNQ) di Argentina. Dia mendapat gelar Ph.D dari Universitas Warwick, Inggris Raya. Dia menulis buku "Marx’s Capital, Method and Revolutionary Subjectivity" dan co-editor di buku "In Marx’s Laboratory. Critical Interpretations of theGrundrisse".

Labour (kerja) dari pandangan umum diartikan sebagai jumlah usaha dari fisik, mental, dan sosial yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa dalam sirkulasi perekonomian. Namun, kerja yang dimaksud Guido merujuk pada aktivitas produktif manusia secara umum atau aktivitas yang berhubungan dengan suatu pertumbuhan manusia terhadap alam. Terminologi "kerja" di sini berbeda artinya dengan "kerja" sebagaimana yang ada dalam tulisan Marx di "1844 Paris Manuscripts" atau "German Ideology", yang terkadang disamakan dengan aktivitas produktif yang teralienasi di bawah kekuasaan kapital.

Kerja di sini cenderung diartikan sebagai "aktivitas diri" atau "aktivitas manusia yang praktis", yang menunjukkan bagaimana manusia mentransformasikan alam. Dalam pandangan saya, lebih mengelaborasi konsep “filsafat kerja” dari Marx.

Debat Marx terhadap kerja ini banyak diungkapkan dalam masa Marx muda daripada Marx tua. Dalam German Ideology, Marx mengartikan, kerja sebagai proses antara manusia dan alam, yang melalui tindakannya dia menggerakkan kekuatan alam, termasuk tubuh, kaki, kepala, dan tangannya untuk menyesuaikan bahan-bahan alam dalam bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhannya sendiri.

Melalui aktivitas kesadarannya, manusia yang hidup memiliki kekuatan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan mengatur tindakan tubuh mereka yang bersifat eksternal. Dalam dinamikanya, manusia tak hanya memperluas wilayah alam sebagai konsekuensi logis dari bentuk konkret dan aktivitas mereka, tapi manusia juga memperumit mediasi yang terlibat sebagai produk alam yang memberikan nilai guna untuk memenuhi kebutuhan manusia. Baik yang munculnya dari perut maupun imajinasi.

Gagasan terkait "kerja" menjadi salah satu sentral dalam teori sosial kritisnya Marx. Yang paling sederhana itu bagaimana manusia bisa mentransformasi alam yang ada di luar dirinya secara "sadar" dan "sukarela" dalam rangka memenuhi kebutuhan. Tujuan dari tulisan ini adalah memberikan rekonstruksi sistematis tentang "kerja" dari banyaknya perbedaan pengertian yang ada dalam tulisan-tulisan Marx.

Guido menjelaskan, manusia itu makhluk alam, sebagai makhluk alam yang hidup dan dilengkapi dengan kekuatan alam, dia aktif. Kekuatan ini sebagai dorongan dalam melalukan sesuatu. Meski di sisi lain, dengan adanya jasmani, inderawi, menjadi manusia sebagai makhluk yang menderita, terkondisi, dan terbatas, sebagaimana hewan dan tumbuhan. Sebagai peneguhan akan eksistensinya, maka objek-objek di luar diri menjadi kebutuhan. "Marx identifies labour or productive activity as the specific form in which humanity reproduces its existence as part of nature." (hlm. 119)

Berkembangnya zaman, muncullah kritik-kritik. Kritik terhadap Marx ini muncul pada paruh kedua abad ke-20, yang diungkapkan oleh Habermas. Dia mengatakan, konsepsi Marx terkait kerja ini cenderung sepihak, monologis, atau sekadar aktivitas instrumental saja, dan gagal dalam menjelaskan interaksi yang bersifat timbal balik (konstitutif) atau dimensi 'komunikatif' dari tindakan manusia.

Arendt (1998) juga menganggap Marx membingungkan atau mencampuradukkan tiga perbedaan yang membentuk vita activa manusia:
a. Labour (kerja): aktivitas metabolisme biologis dengan alam yang mirip binatang
b. Work (karya) sebagai aktivitas yang bertujuan untuk memanusiakan alam dengan cara yang bertahan lama dan tidak fana
c. Action (tindakan): aktivitas diri yang radikal, yang memprakarsai, yang bersifat kolektif dan publik.

Tapi Guido berpendapat, justru para penulis-penulis tadilah yang mereduksi makna kerja, karena memisahkan kerja dari alam. Konsekuensinya, mereka memunculkan dimensi-dimensi lain dari tindakan manusia, yang secara 'otonom' justru memisahkan manusia dari kesatuan secara utuh (dengan alam). 

Kalau dari bacaan Ofek, labour di sini dikembalikan di moda produksi manusia dalam mengolah alam, dan bagaimana itu menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti di masa primitif, mengolah tumbuhan jadi sayur yang bisa dimakan, mengubah kayu jadi rumah, dll. Lebih kompleks lagi, skema sekarang berubah menjadi rente. Tidak sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tapi ada kebutuhan sekunder dan tersier lain.

Diskusi kali ini merefleksikan berbagai hal menarik. Salah satunya terkait perkembangan kerja atau labour ini di kapitalisme lanjut. Misalnya yang digelisahkan oleh Lina, Sulkhan, dan Zain terkait sharing economy. Dari yang dekat, semisal menjadi pekerja di media. Meski secara praksis memiliki moda produksi dan knowledge yang mencukupi, tapi kita seperti dikerdilkan di bawah terma-terma seperti fleksibilitas, algoritma, platform, dan "mitra".

Gamifikasi berkembang di sana yang menimbulkan eksploitasi jenis baru. Misal driver harus patuh dengan ketentuan yang ada di aplikasi, content writer harus patuh pada algoritma. Gamifikasi ini makin hari makin kompleks, sharing economy, seakan-akan kembali ke diri kita secara integral, tetapi tidak juga. Dengan adanya gamifikasi, mereka sering mendapat pinalti.

Kemudian, Aziz juga mengelaborasi pertanyaan menarik terkait apa perbedaan kerja profesional dan tidak profesional (amatir)? Ofek menjawab, pekerja profesional ini mempunyai kontrak, pembayaran, dan target yang  jelas. Sementara amatir karena si pekerja senang melakukannya. Sulkhan menambahkan, kerja profesional ini mempunyai standarisasi yang dibuat oleh rezim pengetahuan.

Refleksi akhir, kami membicarakan terkait bagaimana menjadi labour yang berdaya? Ada beberapa cara yang diutarakan oleh teman-teman, seperti Aziz yang ngutip Heidegger dan didukung oleh Marx, kalau mau berdaya yang kerja itu sendiri. Dengan menjadi pekerja yang benar kerja sebagai bentuk eksistensi. Lalu, Sifa dan Ofek sepakat dengan pendapat Marxian lain untuk membentuk serikat dan koperasi meski masih banyak PR dan tantangan. Sementara menurut Habermas, ya ciptakan komunikasi yang baik.

#guidostarosta #labour #kerja #work #action #habermas #hannaharendt #alam #kebutuhanhidup #survive

13 Agustus 2023

A discernment sentence: We don't have a profit motive.

Kamis, 03 Agustus 2023

3 Agustus 2023

I don't care how long it takesAs long as I'm with youI've got a smile on my face

-D4vd 

Bagai mimpiTerwujud tak disadari

-Float