Wednesday, July 31, 2019

Crowdfunding dan Blockchain Sebagai Model Distribusi Pendanaan Seni

Model pendanaan seni menjadi bahasan yang cukup rumit di kalangan seniman. Salah satu  model pendanaan seni yang marak di Amerika Serikat adalah model pendanaan crowdfunding (penggalangan dana). Plaftorm seperti Kickstarter, Indiegogo, RocketHub, merupakan salah tiga dari penyedia layanan penggalangan dana. Di Indonesia platform yang dikenal seperti Kitabisa dan Kolase. Cara ini marak dilakukan di jagat maya dan iklim budaya industri. 

Model ini dianggap menjadi jalan para seniman untuk mendapatkan sumber dana secara cepat melalui jejaring mereka. Penggalangan dana “memanfaatkan nilai lebih” dari beberapa patron utama untuk memberikan keuntungan pada yang lain. Namun penggalangan dana ini memiliki tantangan dan masalahnya sendiri, seperti penggalangan dana membutuhkan konektifitas yang intens antara penerima dana dan para donaturnya; mereka kadang juga harus mengikhlaskan emosi dan psikologi yang lebih.

Survei yang dilakukan oleh Davidson dan Poor terhadap 73 responden di Amerika yang penggalangan dananya dibagi menjadi empat kelompok: film dan video, penerbitan, musik, dan gim. Secara simbollik empat kategori ini mewakili budaya industri dan berpotensi menimbulkan distribusi massa. Penelitian menunjukkan penggalangan dana tergantung jaringan sosial terdekat seperti keluarga, teman dekat, dan kenalan profesional yang memberikan sinyal positif. Kebanyakan penyokong dana adalah kawan-kawan dekat. Meski ada yang di luar itu. Tergantung jaringan.

Model pendanaan lainnya, semisal melansir penelitian dari A. Whitaker berjudul Artist as Owner Not Guarantor: The Art Market from the Artist’s Point of View mengimajinasikan apa yang akan terjadi jika seniman menguasai 10% atas karya mereka di dalam pasar bebas? Sistem ini mensyaratkan berdirinya pasar yang baik sebelum sebuah karya seni terjual, penyediaan perlindungan kepada seniman, dan lebih menganekaragamkan struktur dana seni. Ide-ide tentang seniman sebagai pemilik fraksional dapat diperluas untuk menggambarkan semua pekerja kreatif sebagai pemilik hasil mereka sendiri. Ide besar demokratisasi pendanaan ini yang dikenal sebagai Blockchain. 

Blockchain memungkinkan menegaskan hak properti atas kreasi seniman sendiri. Menyediakan akuntansi yang murah dan sumber otomatis. Pendistribusian pendaftaran dengan struktur mata uang digital yang dinamakan Bitcoin. Blockchain sendiri sederhananya sebuah struktur partikular yang mendistribusikan buku besar yang dibagikan sepanjang jarigan komputer, setiap komputer memiliki salinan yang serupa. Distribusi sistem menghapus kebutuhan kepercayaan pada otoritas sentral, contohnya seperti bank dan lembaga keuangan. Sejumlah perusahaan blockchain dalam seni telah dibangun, termasuk Ascribe dan Monegraph. Kedunya membantu seniman untuk mendaftar dan menjual edisi seni digital.

Platform crowdfunding dan Blockchain yang telah berkembang di Amerika Serikat tersebut bisa menjadi contoh menarik bagi model pendanaan seni di Indonesia. Sebab model tersebut sangat membantu bagi seniman. Masalah yang kerap terjadi model pendanaan seni di Indonesia masih individu. Kebanyakan didanai sendiri. Tapi pas dipamerkan ke publik, buat senimannya sendiri secara ekonomi juga tidak memberi sumbangsih besar kadang. Kecuali seniman pelukis yang mempunyai nama besar, kemudian dibeli oleh koletor dengan harga mahal. Atau di bidang seni lainnya. Dalam praktiknya seniman dapat memilih untuk mengekar strategi diversifikasi seperti memperdagangkan saham dalam seni satu sama lain atau lindung nilai dari paparan terhadap karya mereka sendiri.

Bitcoin merupakana mata uang yang sangat alternatif dan membahayakan penguasa di masa depan. Itu kenapa kehadirannya dilokalisasikan pada image transaksi “pasar gelap”. Ini kenapa perkembangannya sangat lambat di Indonesia karena membahayakan para pihak ketiga, middle man, tengkulak, dan sejenisnya. Termasuk perusahaan start up seperti Gojek dan Grab yang memiliki akses konsumen terpusat. Di Blockchain tidak. Pencatatannya pun transparan, rapi, kekal, dan aman. Model ini sangat cocok bagi para seniman jika ingin berinvesatasi dengan panjang.  Seniman juga dapat mengembangkan imajinasinya sendiri terhadap segala kreasi yang diperjualbelikan dalam model dana seni gaya baru ini. 

Mohon Maaf Karya Sedang Dikonservasi
Referensi:

Davidson, R., & Poor, N. (2014). The barriers facing artists’ use of crowdfunding platforms: Personality, emotional labor, and going to the well one too many times. New Media & Society, 17(2), 289–307.

Whitaker, A. (2018). Artist as Owner Not Guarantor: The Art Market from the Artist’s Point of View. Visual Resources, 34(1-2), 48–64.

Tuesday, July 30, 2019

Sebagai Pengingat, Bunuh Pamer

Tidak adil pamer prestasi pada temanmu yang tak punya prestasi dan merasa hidupnya tak berguna, sama tidak adilnya pamer makanan pada temanmu yang kelaparan dan tak punya uang. Atau pamer kerja pada temanmu yang pengangguran. Pamer sehat dan ketawa setan pada temanmu yang sakit. Jika itu yang terjadi, kau tidak hanya sedang menyebar rasa sakit pada titik intinya, tapi juga srigala kurap tanpa empati. Wujud pamermu bisa dalam berbagai bentuk: ucapan langsung, status-status media sosial, dan terutama sikap yang tidak kamu sadari. 

Ada dua titik ekstrim kalau kamu insaf: merasa lebih tinggi di level rendah, dan merasa rendah di level tinggi. kukira ini adalah penyakit bahaya yang mesthi diselesaikan. Menyelesaikan sampai di titik tengah-tengah: semuanya baik di level tinggi atau level rendah adalah biasa saja.

Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

30 Juli 2019

Sunday, July 28, 2019

Hari Ini Aku Ingin Menemui Diriku Sepuluh Tahun Lagi

Untuk,

Isma Swastiningrum (26 tahun)

Sudahlah Is, buang semua angan-angan dan mimpi-mimpi indah yang sering diumbar banyak orang dalam setiap kesempatan. Tanpa diajari, kamu juga paham, rumus sukses itu kayak apa. Dari racikan sifat 1, 2, 3 atau sikap x, y, z. Tak ada yang berminat untuk menjadi gagal. Tapi ini hidup, hal yang paling mahal hanya ada dua: kesempatan dan pilihan. Itu yang membedakan kenapa hidup setiap orang tak sama, tak pernah sama. Apa yang dihirup, apa yang dimakan, apa yang dipikir, apa yang dirasa, apa yang dilakukan.

Cuma ada dua kondisi, kesempatan menciptakan pilihan atau pilihan menciptakan kesempatan. Dua kondisi ini pun kamu harus memilih lagi. Tidak memilih atau lari dari pilihan juga adalah pilihan. Jadi siapakah dulu yang pra-eksis? Pilihan atau kesempatan? Tanpa kesempatan, mana bisa kamu memilih? Tapi juga kan, kamu bebas memilih sebelum kesempatan itu terjadi atau telah terjadi. Persetanlah, kupikir semuanya arbiter. 

Oke Is, mari kita berdamai saja. Hari ini aku tahu, kamu tengah berada di titik terendahmu. Kamu tengah jatuh. Kamu terpuruk hebat. Kamu sekarang memang tidak punya kesempatan untuk menjalani apa yang kamu mau. Tapi kamu harus ingat, kamu punya satu hal berharga lainnya: pilihan. Pilihan inilah yang akan mengantarmu ke kesempatan-kesempatan lainnya. Masalahmu sekarang hanya takut memilih. Benar kan? Tolonglah jangan defensif biar diagnosis masalahmu ini jadi lebih mudah. Aku sungguh ingin berbicara dengan dasar dirimu. Mau ya? Anggap aku adalah dirimu yang berumur 36 tahun, yang tengah berbicara dengan dirimu yang berumur 26 tahun. Aku cuma ingin melihat, seberapa sukses kamu berjuang sepuluh tahun kemudian? 

Is, aku cuma butuh enam bulan aja minimal untuk membentuk mindset dan pola hidup kamu yang baru. Enam bulan adalah batas minimal menumbuhkan rasa memiliki, sehingga ketika kamu tinggal kamu tak akan rela. Kumohon enam bulan saja. Selama enam bulan itu, pilih satu bidang yang benar-benar ingin kamu dalami. Kumohon pula jangan serakah. Tidak semua hal bisa kamu dalami. Satu saja bidang, tema, dan fokus. Seperti Colonel Sanders hanya fokus pada ayam goreng saja, tidak ayam bakar, ayam tumis, atau ayam pepes. Jangan berambisi untuk mendalami, mempelajari, dan melakukan semuanya; bodoh kalau itu ingin kamu lakukan. Satu saja yang kamu benar-benar yakin. Sekali lagi jangan tergoda dengan lapak orang lain yang lebih menggiurkan dan menarik matamu; yakinah di luar fokusmu itu hanya bias dan distraksi saja. Genggamlah satu saja kesetiaan itu, semacam kesetiaan pada kekasih, kesetiaan pada Tuhan. Dan sensitiflah terhadap segala hal yang membuatmu jatuh. Maaf ya kalau sampai di titik ini kamu merasa aku mengguruimu Is. Kamu memang butuh guru, dan gurumu adalah aku, dirimu sendiri. Apakah kamu sudah terbayang akan fokus pada apa semacam Colonel Sanders yang fokus pada ayam goreng? Kalau belum, usahaku akan jauh lebih berat untuk mengupasnya. Dan aku mendengar lirik hatimu yang paling sunyi kamu mengatakan belum.

Baiklah, mari kubantu kamu mencari fokus itu. (Ada baiknya kamu puasa tiga hari dulu minimal untuk berpikir, atau semacam tirakat, sekarang aku hanya akan menunjukkanmu jalan saja.)

Oke, jadilah pilot untuk dirimu sendiri. Itu aturan pertama. Jangan over analisis nanti paralysed. Teori dan praktik harus kamu perlakuan adil. Sebab kuperhatikan akhir-akhir ini kamu terlalu sering menyayangi teori daripada praktik. Setelah jadi pilot, lakukan micro-manage. Mulailah dari mencoba mengatur segala hal yang terlihat kecil dan remeh temeh. Kalau hal kecil saja tidak bisa kamu atur, bagaimana kamu akan mengatur hal yang lebih besar. Levelnya hingga ke mikro. Aturan kedua, dunia ini lapangan udara yang sangat luas, kamu ingin ke arah mana? Tujuanmu. Ukur daya tahan kamu menghadapi risiko yang disebabkan oleh pilihan. Selalu ingat, risiko selalu bisa disimulasi. Baik fisik maupun mental. Pecahkan dengan ilustrasi yang mudah-mudah. Buat diferensiasi dan saringan-saringan jika dibandingkan sistem lainnya. Lalu kunci besarnya adalah kunci D: DISIPLIN. Semua ilmu tidak ada artinya jika kamu tidak disiplin. Seperti cara Colonel Sanders, fokus pada satu sistem, satu produk, dan satu teknik saja. Lakukan berulang kali, berulang kali, berulang kali. Dari sana kamu akan dipeluk oleh sosok yang bernama ciri khas. Sesuatu yang otentik.

You have to be expert in that field. Don't compare yourself with others, there will be pressure. Don't be unique, be original. Don't value it from your dream, it's bias. Based from your track record. It will help you much.

Is. Sekarang aku sudah membuat banyak buku, banyak tulisan, banyak orang juga yang tersadarkan, tercerahkan, dan pikiran-hidupnya berubah karena membaca tulisanmu. Karya, buku, tulisan, dan pemikiranmu tak hanya dibaca oleh orang Indonesia saja. Namun juga banyak negara di seluruh dunia, dari negara-negara di benua Asia, Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan lain-lainnya. Itu kan mimpi besarmu, ayo disiplinlah. Mulailah dari sana. Lakukan pecahan-pecahan kecil hingga menjadi sangat-sangat mudah untuk kamu lakukan--dengan catatan super D, disiplin. 

Dari,

Isma Swastiningrum (36 tahun)

Wednesday, July 10, 2019

Kritik Parsial Tulisan Berat

Sebagian sangat berambisi untuk menjadi serius, berat, atau setidaknya kelihatan menyerupai itu. Sebagian lagi puas dengan yang receh-receh, ringan, dan banal. Keduanya saling memusuhi, saling mengumpat di kandang kelompoknya sendiri.

Problem orang berambisi ingin terlihat serius dan berat dari struktur tulisan:

1. Banyak melupakan fakta, apalagi fakta sekitar, fakta terdekat, fakta masyarakat; lebih suka memakai fakta kadaluarsa ala-ala sejarah yang woh, besar, tonggak. Yang kontekstualisasinya kadang sangat sedikit. Parahnya kadang fakta itu mengaburkan kejernihan tulisan secara keseluruhan.
2. Banyak main jargon. Jargon tokoh besar, jargon moral, jargon motivasi. Beberapa memainkan emosi yang tidak perlu. Membuat lagi-lagi perspektif jadi bias. Mengesampingkan inti isi dan masalah utama.
3. Pembahasan yang terputus-putus dengan sulaman yang tidak rapi. Paragraf satu bahas A, paragraf dua bahas B, paragraf tiga balik ke A, paragraf empat ganti ke C, balik lagi ke A. Yang baca seperti diajak berputar-putar secara tidak efektif dan efisien.
4. Penyeleksian perspektif tokoh yang tidak selektif. Kadang fungsi nama tokoh cuma buat pamer dan numpang "nama besar" si tokoh saja.
5. Analisis, perspektif, contoh yang dikemukanan terlalu "umum", tak ada mata spesialisnya di sana, seumpama pisau ia tak cukup tajam, seumpama bunga ia tak jelas wangi bunga apa.
6. Didukung kata sifat yang tak sesuai penempatan. Hati-hati dengan kata sifat. Kata sifat berarti penghakiman. Rasa untuk personal.

Ini refleksi dari pengalamanku sendiri. Tak harus sepakat. Di luar semua itu, ada satu hal penting yang sering dilupakan: kesederhanaan.

Kalau kuibaratkan sungai, tulisan yang baik itu seperti: air yang dari hulu sampai hilirnya itu jernih, mengalir, sehat, dan enak dinikmati. Jernih karena berdasarkan fakta, realitas, dan asumsi yang bertanggung jawab. Mengalir karena sesuai dengan urutan-urutannya. Sehat karena berintegritas, tidak ada informasi sakit yang masuk ke tulisan. Enak dinikmati karena perspektif, analisis, dan gaya menulisnya yang segar.