Wednesday, April 13, 2016

Senyap Tanpa Lenyap

Di malam yang berkunjung terlalu dini dan kita sama-sama menjadi Sisifus di esok hari. Aku telah menanam pohon di tanah yang mengantuk. Aku telah ikhlas, apakah akan kamu rawat atau kamu tebang. Apa pun jawabanmu, aku telah mengunduh cinta dari tangan Tuhan.

Kuharapkan hidupku pada debu-debu. Di sisa waktu yang tak pernah merenta. Pada mayat-mayat hening, dan di depan jenazah tawa-tawa. Di reuni cita-cita.

Ada hal besar dalam diri kita yang sama-sama dikerdilkan. Nilai kemanusiaan kita, dan yang paling basis adalah cinta. Dari mencintaimu aku mengenal kemanusiaanku. Mencoba mengurai arti hidupku lewat hadirmu.

"Iso Nyawang, Rung Iso Nyanding," kata angin menyindir.

Ini hanya lelucon. Yang pasti aku bahagia kalau lihat kamu bahagia. Mungkin kamu mengambil nilai lebih dariku terlalu banyak. Tenaga kerjaku, sarana produksiku, bahan bakuku. Tanpa sadar, kamu membuatku ikut dalam pusaran kapitalis. Membuatku mengubah diri: cantik itu putih, cantik itu wangi, cantik itu fashionable. Tapi aku tetap beranggapan cantik itu cerdas. Dan pria ganteng adalah pria cerdas.

Tak apa. Aku hanya mau menjadi pendamping(mu) yang revolusioner--itupun kalau kamu menerimaku. Membuka pintumu untuk kumasuki. Ada hal yang aku perjuangkan. Bukan kamu, tapi rakyat. Hatiku takkan pernah sepenuhnya untukmu. Ketika secara berjaamaah manusia menjadi egois dan utopis. Kita sama-sama tahu, pekerjaan kita sesungguhnya bukan soal mengurus diri kita sendiri.

Jogja. Belum reda. 13 April 2016.