Selasa, 27 Desember 2022

Obituari untuk Najila Tihurua

Ila yang berkerudung putih
Aku perlu menulis ini untuk mengenang kepergian Ila....

Aku masih ingat tahun 2013 lalu, saat pertama Ospek Fisika di UIN Jogja, Ila adalah sahabat sekaligus kenalan pertamaku. Dalam pandanganku saat itu yang masih belum mengenal banyak hal, Ila bagiku masih seperti orang asing, wajahnya berbeda, warna kulitnya berbeda, dan suaranya pun juga. Ila adalah prototype aku mengenal (dalam konsep Levinas) “the other” yang lain di luar diriku.

Saat itu kami berkenalan, Ila bilang dia dari Ambon, Maluku, tapi lebih tepatnya dari Sepa, Amahai, Maluku Tengah. Tak butuh waktu lama, kami dekat karena Ila adalah sosok orang yang bersahabat, dan dia bersahabat dengan siapa saja. Berbeda denganku yang lebih banyak diam dan hanya teman-teman tertentu saja yang sepertinya bisa dekat, Ila tidak, Ila bisa berteman nyaris dengan semua karakter teman-teman di kelas, bahkan dia juga dekat dengan kakak-kakak kelas dan adik-adik kelas angkatan kami.

Faktor yang mendekatkan kami yang lain adalah umur. Kami berdua sadar, kami termasuk generasi yang telat kuliah. Ila kelahiran 92 dan aku 93, sedangkan rata-rata angkatan kami kelahiran 95. Dia berulang tahun pada 21 Agustus (rasi bintang Leo). Salah satu teman lain yang juga umurnya tak jauh adalah Paryanti yang juga kelahiran 92. Jika aku dan Par sering dipanggil Mbak oleh teman-teman yang lain (seolah kami sangat tua, wkwk), Ila tidak, bagiku itu adalah privelege dan keberhasilan dia dalam bergaul dan melebur dengan teman lain sehingga tak ada batas yang dia ciptakan. Secara tidak langsung dia juga ingin bilang jika “kami sebaya.”

Kami sering bermain bersama, tentu gerombolan kami: aku, Ila, Yuli, Mifta, Andri, Huda, dll. Tak jarang, dari beberapa kali Ila pindah kos, aku beberapa kali main ke tempat kosnya dan kadang menginap. Kuberi tahu, kos Ila bersih, rapi, dan tertata. Aku betah di kos Ila, dia juga kadang menyimpan amunisi jajan dan cemilan yang dia bagikan. Dia tipe sahabat yang mudah disukai siapa saja.

Pertemananku dengan Ila juga dekat karena kami satu penjurusan di Geofisika. Beberapa kali juga, bahkan sering, kami satu kelompok dan mengerjakan project geofisika lapangan bersama. Kami juga pernah naik Merbabu bersama, atau panas-panasan, hujan-hujanan ngambil data geolistrik di Gunungkidul dan Piyungan, atau ngamatin batu-batu di Bayat, dll, bersama. Ila adalah teman seperlajalanan yang baik. Dia juga tak pernah mengeluh, seberat apa pun mungkin beban yang dia pikul, tapi dia jarang menunjukkan kesedihannya. Atau mungkin juga kalau dia sakit, dia jarang menunjukkan jika dia sakit.

Ila juga meski tak menonjol di bidang akademik (sama sepertiku), dia rajin. Entah sepertinya Tuhan juga telah mengatur, aku dan Ila menjalani wisuda bersama pada bulan September 2018 lalu. Saat itu di angkatan kami yang diwisuda ada empat: Ila, Sismi, Samsul, dan aku. Meski kami bukan mahasiswa teladan secara akademik, IP kami masih mayanlah wkwk.

Ila adalah sosok pekerja keras. Di sela-sela kuliahnya pada semester akhir, dia bekerja sebagai penjaga booth pakaian di Lippo Plaza Mal (Mal yang letaknya bertetanggaan dengan UIN). Aku perhatikan, semenjak bekerja di sana, Ila berubah menjadi anak yang lebih stylist dan modis. Hobi Ila yang lain adalah mengabadikan moment, ya, selfie dan wefie. Di banyak kesempatan, Ila jadi promotor pemersatu dalam urusan potret memotret. Seolah hobi Ila ini juga menjadi tanda, dia ingin dikenang kawan-kawannya melalui arsip foto. Setelah kepergian Ila, aku barus sadar foto-foto itu punya arti banyak pula dalam mengingat sebuah moment.

Hari ini, Selasa, 27 Desember 2022, usai bangun tidur yang sangat pagi, kabar sedih itu kuterima di WAG Fisika 2013. Lisa memberi kabar melalui status Mbak Maghfirah, jika Ila telah berpulang ke Allah SWT. Ila meninggal pada Minggu, 25 Desember 2022 lalu di umur yang ke 30 tahun. Tidak ada keterangan Ila meninggal karena apa, barangkali sakit, tapi sakitnya pun kami tak ketahui, karena sepengetahuanku Ila tak pernah mengalami penyakit yang serius. 

Kabar itu membuat rasa kehilangan langsung menyelimuti kami.

Dari Ila aku belajar, persahabatan bukanlah satu hal yang besar, tapi kumpulan dari jutaan hal-hal kecil. Dari Ila aku belajar, meski kondisi hidup tak selalu baik, tapi tetaplah tersenyum dan berpikir positif. Dari Ila aku belajar, hal pokok dalam hidup adalah menjaga tali persaudaraan.

Selamat jalan Ila, semoga husnul khatimah. Aku bersaksi jika Ila adalah orang baik.

Selamat berjumpa di lain alam dan kesempatan.

Isma S.

Senin, 26 Desember 2022

Opsi-Opsi

Catatanku dalam relasi dan aku cukup kenyang dengan ini: Jika laki-laki tak sungguh-sungguh denganmu, dia tak akan sebegitu berusahanya, atau kamu memang hanya jadi opsi-opsi. Jadi merdekalah dengan ketegasanmu sendiri. Tak usah berharap dan tinggalkan. Kamu layak dicintai dengan lebih baik, setidaknya oleh dirimu sendiri.

Minggu, 25 Desember 2022

A Little Thing Called Love (2010), You Are The Apple of My Eye (2011), Architecture 101 (2012)

Review Film Thailand: A Little Thing Called Love (2010)

Entah berapa kali nonton film ini sudah, drama antara Shone (Mario Maurer) dan Nam (Pimchanok Leuvisadpaibul) ini kek everlasting gitu. Plotnya klasik, menceritakan tentang anak culun di sebuah sekolah SMP, yang suka dengan kakak kelasnya yang hobi bola dan fotografi.

Si Nam punya gank juga, gank culun, isinya empat orang termasuk dia. Gank Nam ini kocak-kocak. Mereka kek punya dunia mereka sendiri. Kemasan konflik dalam film ini tuh ringan banget. Kek masalah terbesar mereka selain pelajaran Bahasa Inggris, ya kek saing-saingan antar teman, gimana nunjukin rasa suka, ya, gitu-gitu. Almost gak ada masalah yang serius di film ini. Trus guru-guru dan tokoh-tokohnya juga padha gokil.

Ya, kita tahu Nam punya kelebihan bahasa Inggris sehingga dia bisa lanjut sekolah di USA ikut bareng bapaknya trus jadi desainer terkenal sekembalinya di Thailand. Yang unik kok ya si Shone bisa nunggu selama itu ke Nam. Yang sweet lagi si Shone buat buku khusus isinya foto-foto yang nunjukin usaha dia, kalau dia sebenarnya juga suka sama Nam--gak cuman sahabatnya Top (Acharanat Ariyaritwikol) aja yang suka.

Usaha Shone tuh juga sweet,  dari nanam bunga mawar putih, ambil foto-foto Nam diam-diam, kasi mangga dan mengagetkan Nam di jalan. Itu simple tapi ngena.

Sinematografi dan DOP film ini sumpah bagus. Kostum-kostumnya juga sumpah saya suka! Banyak motif-motif baju dalam film ini yang pengen rasanya saya koleksi di lemari, wkwk. Terutama baju-baju yang dipakai sama ibunya Nam dan baju-baju santai Nam sendiri. Rasanya pengen lebih banyak nonton film-film yang kek gini :D

Review Film Taiwan: You Are The Apple of My Eye (2011)

Film yang diangkat dari kisah nyata dan telah dibukukan. Judulnya diambil dari peribahasa Inggris yang kurang lebih artinya seseorang yang berharga. Premisnya lebih ke perseteruan antara anak terpandai di kelas versus anak terbodoh di kelas. Ini masa-masa SMA gitu, dengan adanya drama-drama gank, club, dan guru yang killer.

Anak perempuan pandai itu bernama Shen Chia-yi (Michelle Chen) yang sekelas sama gank anak-anak bodoh dengan si bodoh utama bernama Ko Ching-Theng (Ko Chen-tung). Suatu hari Ching-Teng buat aneka kasus, terus gurunya minta Chia-yi buat jaga Cing-Teng. Gone bygone, akhirnya keduanya naksir gitu. Si cowok sebenarnya yang naksir, tapi akhirnya pas kelulusan sekolah, kuliah mereka mencar-mencar.

Ching-Teng belajar keras sampai dia jadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Tapi Ching-Teng terus pedekate sama Chia-Yi. Hingga akhirnya Chia-yi jadian sama teman baik Ching-Teng. Film ini berakhir sedih, karena Ching-Teng pada akhirnya kek jagain jodoh orang lain.

Film yang lucu, karena based on a true story jadi jujur banget sampai hal-hal yang tabu buat dibicarakan kek karakter yang suka ngaceng, galer, coli, dan nudist di rumah ditampilkan, dan mereka menampilkan itu dengan fun, tanpa beban, itu juga sih yang bikin orang yang lihat kek so what? Sebab kalau dipikir-pikir ya begitulah kenyataan.

Review Film Korea: Architecture 101 (2012)

Pertimbangan saya menonton film ini adalah (1) saya suka arsitektur, (2) saya suka film drama, (3) saya suka semenit pertama pas nonton trailernya, ada laut, rumah, musik, dlsb. Nonton film ini serasa nostalgia sama mimpi-mimpi sendiri. Yah, mimpi terbesar pribadi yang terwakilkan adalah ingin bangun rumah yang banyak jendelanya, di dekat laut dan pantai, ada rootof-nya, dan masih di kawasan penduduk. Film ini membangkitkan mimpi saya akan hal-hal itu.

Secara Seo-Yeon muda (Bae Suzy) agak berbeda dengan Seo-Yeon dewasa (Han Ga-In). Meski begitu, dua-duanya, baik muda maupun dewasa memiliki kesedihan yang sama akan kehidupan yang sepi, single parent, dan list kehampaan hidup lain yang akan menyakitkan. Begitu juga dengan Seung-Min muda (Lee Je-Hoon) yang kegelisahannya tak jauh ketika dia telah menjadi Seung-Min (Uhm Tae-Woong) dewasa. 

Secara tema, plotnya berkisah tentang cinta yang belum kelar. Mereka berdua bertemu saat kuliah, Seung-Min anak jurusan Arsitektur dan Seo-Yeon anak jurusan musik. Keduanya punya jalur menuju rumah yang sama. Keduanya saling jatuh cinta meski tak saling mengungkapkan. Hingga akhirnya keduanya berpisah dan bertemu ketika dewasa dalam keadaan berbeda. Seo-Yeon telah menikah dan bercerai, sedangkan Seung-Min akan menikah.

Film ini bukan film yang menyenangkan kalau mencari happy ending. Tapi menarik dinikmati untuk para jiwa melankolis, haha. Satu pelajaran yang kupetik setelah nonton film ini: Setiap orang memiliki tabungan kesedihan masing-masing.

Dan ini kalimat oke dari dosen arsitektur: "Tour around the area you live in. The alleys and buildings, you walked past without you notice. Closely examine them, and take pictures. Liking your neighborhoods and understanding it. That's where architecture starts."

Sabtu, 24 Desember 2022

24 Desember 2022

"Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (QS al-Muzammil [73]: 8)


"Maka Kami singkapkan dari padamu tutup yang menutupi matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS Qaf [50]: 22)

Selasa, 13 Desember 2022

13 Desember 2022

"Being friends with people is just way better than not. In the grand scheme of things, art just means nothing, and people who take it seriously have really lost the plot, more fun to just make things." (Aaron Rose)

Minggu, 11 Desember 2022

Rabu, 07 Desember 2022

7 Desember 2022

Aku kangen melebur bersama kota, bersama-sama tempat-tempat yang kupijak, bersama-sama bangunan-bangunan dan merasakan suasana urban yang sejati. Ditambah gerimis itu akan sangat syahdu.

Aku kangen mata takjubku melihat sesuatu. Yang sekarang berganti menjadi biasa-biasa saja. Atau aku teringat pada penghakiman seorang teman yang menganggapku kagetan. Yang kurasakan itu lebih seperti cemoohan daripada lontaran kata semata. Setelah aku sadar dengan perjalanan ini, ya, tak apa. Aku bukan temanku itu. Aku punya keajaibanku sendiri.

Aku rindu mendengar lagu-lagu yang mewakili rilisnya hidup. Seperti "Dalam Doaku" musikalisasi puisi Sapardi, "Lembayung Bali" dari Saras Dewi, "Malaikat Juga Tahu" dari Dewi Lestari, "Pulau Laut" - "Rumah Dijual" - "Kartu Pos dari Moskow" dari Jalan Pulang, "Romansa ke Masa Depan" dari Glenn Fredly, "System" dari Komunitas Fragmen, "Firasat" dari Marcell Siahaan.... 

Ya, seliris ini sebenarnya, dan aku menikmatinya.