Sunday, February 28, 2016

Solo Repertoire


Pasir, aku lelah mengukir, ku terusir tersingkir 
Pasir, tak terukur, kau gugur teratur 
Aku terkubur, tersungkur 

Entah kenapa, rintik hujan di luar seperti rakitan memori otak saya. Seperti pasir di lirik lagu Tigapagi ini. Delapan belas hari yang lalu saya ingin menulis perjalanan saya.  Ini tentang kisah perjalanan bersepeda saya, Jogja - Solo. Sebelum ingatan layu…
Senin, 8 Februari 2016
Saya tiba di Kartasura kira-kia jam 11 malam. Saya berhenti di depan sebuah puskesmas di Pabelan. Saya istriahat di sana.

Selasa, 9 Februari 2016
Dini hari jam dua-an malam, ada seorang bapak yang menemui saya. Dia mengajak saya ngobrol sampai subuh. Bapak ini penuh teka-teki, dia tak mau menyebutkan nama, dia hanya bilang nama dia dengan enigma: hewan, burung, warnanya hitam, dan ada dalam Al Quran. Perkataannya seperti paranormal.

Bapak itu bertanya tentang hal-hal yang bagi saya privasi, dari keluarga, kuliah, masalah, dan lainnya. Saya tak nyaman. Dia seperti investigator yang seumur-umur baru pertama kali ini dia ketemu anak bengal perempuan yang sepedahan sendirian malam-malam dan tidur di emperen puskesmas. Pakai kerudung lagi. Ah, brengsek.

Inti pelajaran yang saya dapatkan dari bapak itu ada tiga: 1) Apa yang menurut kita baik dan benar, belum tentu baik dan benar juga untuk orang lain. 2) Keinginan tanpa perhitungan adalah nafsu--atau boleh saya bilang konyol. 3) Setiap melakukan apapun, bedakan mana yang nurani, nafsu, problem, dan galau. Kalau ia nurani, ia bersih. Memang moralis. Dia berpesan pada saya banyak… dan selebihnya biar saya pendam sendiri…

Usai ngobrol dengan bapak tua berkaca mata itu (dari fisiknya agak mirip sama guru agama pas SMA kelas XII), subuh, saya langsung solat subuh di masjid depan puskesmas. Jamaah di masjid itu dari golongan Islam apa gitu, yang dari pakainnya panjang-panjang. Bapak itu juga sebelumnya bilang tentang kasus yang lagi ramai di berita tentang Gafatar, daerah ini masuk zonanya. Perjalanan ini jadi menebalkan iman saya.

Setelah solat subuh saya melanjutkan perjalanan dengan semangat yang lemas. Saya menuju daerah UMS dan sepedahan di sana sampai ke sebuah pasar. Saya keliling pasar, melihat aktivitas manusia di sana. Lalu saya lanjut ke taman Sriwedari. Di sini saya baru tahu kalau Solo ternyata jadi kota keroncong. Trus juga baca isu-isu kebudayaan yang mengkhawatirkan lewat poster di sebuah tembok, tentang #SaveSriwedari. Ada yang menarik di poster itu: menjual tanah budaya sama dengan menjual harga diri!
Lalu saya berlanjut ke Museum Radya Pustaka Surakarta. Di sana ada banyak koleksi pustaka-pustaka lama, kanon-kanon besar. Sayangnya saat saya kesana ditutup sampai tanggal yang ditetapkan, dikarenakan buku-bukunya sedang dibersihkan.

Trus saya lanjut ke Pura Pakualaman. Sayangnya saya kepagian. Pura masih tutup, buka jam delapan pagi. Di depan pura ketemu sama bapak-bapak yang menceritai saya tentang kisah sukses empat anaknya.
 Di sini ada semacam perkampungan kavaleri.
 Trus lanjut ke Keraton Solo, dan gak sengaja lewat Pasar Klewer
Di keraton saya duduk di semacam pura kecil. Ketemu orang Jakarta yang juga mau liburan. Berhubung perut lapar, saya cari sarapan di sekitar keraton: Dapat nasi liwet khas Solo. Harganya lima ribu.
Nasi Liwet Solo
Lalu saya ngubungi teman yang saya kenal di dunia maya. Mas Sidiq namanya. Sedikit cerita, kenal dia lewat komen-komenan di blog, kami sama-sama suka dengan Sisir Tanah. Saya add FB-nya dan sebelum ke Solo saya udah kontak dia lewat fesbuk. Janjian ketemuan di Stadion Manahan. Karena saya nggak tahu jalan ke stadion, saya SMS buat ketemuan di keraton. Beruntung juga orangnya sedang libur (jadi bisa nemeni saya, haha). Karena kayaknya keraton luas, biar spesifik saya ngajak ketemuan di masjid. Saya nunggu Mas Sidiq di selasar Masjid Agung. Nunggu sekitar setengah jam, sambil nulis. Trus sekitar jam 9.40 Mas Sidiq datang. Kami kenalan.
Mas Sidiq gowes pakai sepeda gunung warna putih, serasi sama warna kaosnya. Kami bersepakat untuk masuk ke Keraton Solo. Ternyata Mas Sidiq juga belum pernah masuk, haha. Tiketnya sepuluh ribu. Yah, foto bareng penjaga gerbang dulu:
 
Sepertinya masuk keraton harus sopan. Melepas sandal. Kesan pertama, ada suasana masa lalu yang mengelus kuduk saya. Ada semacam pendapa yang anehnya dikelilingi patung-patung Romawi. Sungguh sangat kontras. Saya dan Mas Sidiq ngrasani ini. Kami seolah berasa di pertunjukan budaya yang tak jelas. Meski itu kado dari Romawi atau apa, bukankah lebih bijak ditaruh di bagian museum saja?

Sayang juga, pengunjung tak boleh masuk keraton. Ada pagar pembatas. Alasannya keraton luas, kalau lantainya diinjak-injak nggak ada yang ngepel. Shit-nya para abdi yang kerja di sana sebulan hanya dibayar (seingat saya) 50 ribu!  God. Saya jadi membayangkan bagaimana mereka makan. Pantas juga, lampu-lampu juga pada diselimuti kain warna kuning.

Keraton Solo
Dari area keraton, kami langsung ke area museum. Museumnya mirip kayak di Vredeburg Jogja. Ada foto-foto raja, peralatan perang masa dulu, replika permainan anak-anak, kuda, alat-alat masak dan mainan Jaman Doeloe, wayang, porselen, patung-patung seni, dan lain-lain. Sambil nglihat-nglihatin itu, saya sama Mas Sidiq ngobrol tentang banyak hal. Tentang tokoh, fenomena, buku, dan cerita-cerita.

Usai puas di kawasan keraton. Mas Sidiq ngajak saya ke Rumah Baca Teratai (RBT) di daerah Sangkrah, Solo. Pertama masuk di gang daerah itu,  mata saya sudah disuguhi mural-mural keren ajakan untuk membaca. Kami lalu masuk ke dalam sebuah rumah lumayan besar. Dari dalam ada kerumunan orang yang sedang duduk melingkar membahas sesuatu. Sepertinya rapat. Kami masuk, kenalan lagi sama orang-orang baru. Di sana saya kenal sosok keren pemberdaya masyarakat namanya Mas Danny. Kami ngobrol-ngobrol sebentar di sana. Di siang itu kata yang masih melekat dari Mas Danny: simpel, iso dilakoni. Prinsip segala hal. Dimulai dari sesuatu yang sederhana dan bisa dilakukan.

Siang itu Mas Sidiq ngajak saya ke perpustakaan RBT. Keren dah ini perpus. Dengan ruang sesempit itu bisa menghadirkan manfaat buat sekitar.
Usai nglihat perpus, trus solat dzuhur. Habis itu, Mas Sidiq ngajak saya ke daerah pecinan, Pasar Gede. Kemarin (8/2) baru imlek, daerah ini banyak lampionnya. Pas malam pasti keren banget ini.
Saya dan Nuun Junior (sepeda saya)
Sayangnya, saat itu hujan dan hati tetap happy. Dalam gerimis, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Triwindu, pasarnya barang antik dan klithikan. Puas banget lihat koleksi-koleksinya... Benar-benar susah ditemukan dan unik...
Siang masih gerimis. Dan semangat menjelajah masih menggebu. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Museum Pers Nasional Surakarta. Tempat yang direkomendasikan teman jurusan komunikasi saya di Jogja.
koran-koran dahulu
TAS yang revolusioner
Di museum ini ada beberapa ruang. Ruang dekat satpam ada koleksi mesin tik, di ruang sebelahnya ada tokoh-tokoh pers dan koran-koran jaman dulu.
Next, gowes ke tujuan utama datang ke Solo: ziarah ke makam maestro keroncong Inonesia, Gesang! Dan Mas Sidiq baik banget mau ngantar. Yeaaa....

Perjalanan lumayan juga dari pusat kota. Hehe. Sekalian keliling Solo sampai pelosoknya. Alam mengiring kami dengan gerimis yang bagi saya terasa romantis, haha. Setelah mencari dan mencari, kami sampai di sebuah kompleks pemakaman yang begitu luas. Di kompleks makam juga ada semacam monumen Tirta Gesang. Kami masuk ke makam, nyari makam Gesang yang ada tarup (atap)nya. Nanya sama adek-adek, tapi salah. Trus nanya sama ibu-ibu, ternyata masih beberapa meter lagi. Makam ini benar-benar luas, sampai kami nanya lagi sama bapak-bapak dan diantar ke makamnya langsung.
Makam Gesang sama seperti makam-makam lainnya, dia tak mencolok. Dikebumikan di pemakaman keluarga Martodihardjo bersama 14 orang sanak Gesang yang lain. Waktu itu makam ditutup, lalu bapak yang mengantar kami memanggil juru kunci dan dibukakan. Kami masuk ke dalam. Saya mengucapkan salam. Saya ingin bilang ke Gesang: hari ini saya berbahagia..
RIP Gesang
Kami berdoa. Di luar langit gelap, sangat mendung, dan hujan deras jatuh. Entah, saya merasa saat itu saya seperti ada di tempat yang saya sangat kenal. Saya dan Mas Sidiq berteduh di makam beliau, saya putar dua lagu beliau dari HP. Gesang saya anggap seperti kakek saya sendiri, karena mengingatkan saya dengan Mbah Kung dan bapak.

Sore yang syahdu di kuburan. Berdua, kami merenung dan berbicara tentang hidup. Tentang apa yang akan kami tinggalkan ketika nanti mati? Warisan abadikah seperti cita-cita Gesang?.

Sekali kuhidup, sekali kumati
Aku  dibesarkan di bumi pertiwi
Akan kutinggalkan, warisan abadi
Semasa hidupku, sebelum aku mati
--Gesang

Hujan reda dengan sisa gerimis gripis. Lalu memberikan salam perpisahan pulang pada Gesang. Kami melanjutkan perjalanan lagi. Di pinggir jalan kami makan siang sama makanan khas Solo juga, nasi timlo. Semacam sup yang isinya gado-gado. Wenak. Sambil makan, kami cerita tentang pengalaman perjalanan dan sastra. Lain kali saya juga pengen ke Rinjani seperti Mas Sidiq. Amin.
Nasi Timlo
Usai makan, karena waktu juga sudah mulai sore, kami lanjut pulang. Ternyata hujan tak lagi gripis lagi, deras, semakin deras. Saya tak membawa mantol. Mas Sidiq minjami saya, dan dia malah yang basah. Duh Is, kamu ini! Dan semakin deras, akhirnya bernaung juga di gedung apa gitu. Lanjut solat ashar di sebuah masjid yang konsepnya mirip banget rumah.

Hujan sepertinya bakal awet. Lalu kami menerjang hujan. Tujuan selanjutnya ke RBT. Saya berniat nginap di basecamp sana. Kawan-kawan di sini memang baik-baik, pas sampai dibuatkan teh, dikasi roti, diajak nonton film dokumenter. Jan asik tenan.

Malamnya, Mas Sidiq ngajak saya ke Rumah Baca Edelweis, rumah baca di desanya. Ini pemuda memang progresif, jadi dia makai ruang tamu rumah buat bikin perpustakaan umum. Dia mendirikan dan mengelola rumah baca ini sama teman-temannya. Kegiatan-kegiatannya juga membangun. Koleksi bukunya pun keren-keren. Di sana, diajak makan malam juga. Jadi merasa enak. Dan rasanya belum puas main sebentar ke rumah baca ini, tapi sudah larut malam. Mesthi ke RBT. Sampai sana, capek. Tidur.  Zzzz....

Di jalan ada moment kenangan indah yang lindap di memori saya: Di malam hari ada burung-burung yang membariskan diri di kabel-kabel lampu di jalan raya yang sedang berisik dan padat. Saat gerimis-gerimis burung-burung itu bercengkerama.

Rabu, 10 Februari 2016
Esoknya, bangun pagi. Solat subuh. Trus berbincang sama Mas Danny dan Mas Sidiq. Diceritain banyak. Mas Danny ini hidupnya termasuk out the box. Jadi dia pernah pas sekolah itu konsisten bolos. Sejak SMP udah mandiri ekonomi dari orang tua. Dulu pernah juga rutin setiap hari Sabtu-Minggu ke alam, konsisten, ada dan gak ada teman. Ke hutan sendirian, katanya: Ning kutho awake dhewe ijek iso kemaki, jajal ning alas? Banyak pelajaran hidup yang saya dapat. Mas Danny juga cerdas, dia belajar wacana dan keahlian bukan dari bangku kuliah, tapi secara otodidak. Orang yang cerdas baginya itu orang yang "rasa"-nya kuat.
sama Mas Danny, stay rock and roll
Setelah sarapan, saya pamit pulang. Sebelum pulang liputan ke Museum Pers dulu tentang Hari Pers. Usai itu, Mas Sidiq ngajak saya ke Stadion Manahan. Dia memberikan saya buku antologi puisinya: Sebuah Pencarian (Catatan Kaum Kusam).. Fakkk, udah buat buku. Iri saya, haha.
Sebuah Pencarian - Sidiq Bachtiar
Namun emang puisi-puisinya Mas Sidiq ini kebanyakan kritik sosial, kegelisahan-kegelisahannya yang puitis. Saya suka. Jam sepuluh tepat, pamit sama Mas Sidiq dan meninggalkan Solo. Will be miss this town... Thanks for everything comrade Sidiq Bachtiar... Always be progressive okay!!!

Best Wishes: Isma.

Saturday, February 27, 2016

Kosku di Jalan Bimasakti

Kosku terletak di lantai dua di Jalan Bimasakti No. 7 Demangan. Saat kawan hendak memuju kosku, dua anjing lucu bernama Mio dan Moli akan menyapa dengan gonggongannya. Moli anjing laki-laki berbulu lebat warna putih perpaduan hitam, dia jago menggonggong. Mio anjing perempuan warna coklat mulus, dia sangat usil.

Mari masuk ke dalam…

Pintu kosku berwarna hijau. Di dekat pintu ada jendela kaca bertingkat-tingkat yang tak dapat dibuka. Selambu bepola garis warna hitam dan putih tergantung sekenanya dari tali rapia. Lantai kosku berdasar kayu dengan alas perlak warna coklat berpola bambu. Di atapnya duduk terbalik lampu Philips yang memberikanku penerangan kala gelap.

Ukuran kamarku sekitar 3.5 X 3.5 meter, lumayan besar untukku. Dindingnya berwarna putih. Di dinding sebelah barat, aku tempeli dengan tanggalan dari Bina Desa yang aku gosop dari Arena—karena Arena punya dua (jangan bilang-bilang ya). Di samping tanggalan ada stereofoam warna putih bertulis kalimat-kalimat semangat seperti: Keliling Dunia! Ya, semua tulisan di stereofam putih itu adalah manifestasi mimpiku. 

Di samping stereofoam putih ada stereofoam orange berisi foto-foto saat aku naik ke puncak Gunung Lawu sama Mas Juju, Mas Hari, dan Faksi. Foto kala aku baca puisi di sekitar nol km Jogja pas Hari Buruh. Foto ketika pentas teater pertama kali, juga foto dua seniorku di Arena: Mas Opik dan Mas Folly. Di stereofoam itu ada pula dua bunga mawar dari kertas klobot yang layu. Di samping bunga ada pesan dari seseorang yang aku tulis besar. Kalimat tentang kasih yang belum sampai: lebih baik cari rival Is, daripada cari pacar.

Di bawah tanggalan dan stereofoam ada potongan foto-foto berlatar Inggris. Juga gambar mimpi tentang rumah yang aku inginkan di masa depan. Lalu ada papan tulis kecil yang aku tempeli tak jauh juga dari foto teman-teman filsufku, foto dua macan tutul, dan tulisan dua kota, satu negara. Di depan papan tulis ada sebuah globe kecil hadiah ulang tahun yang berdiri di atas meja kecil yang tingginya tak lebih tinggi dari dengkulku. Meja ini kufungsikan sebagai meja belajar.

Di samping kiri meja belajar ada tas berpergian, di atas tas itu berdiri dengan cantik Melodi (gitar adikku yang kesepian, aku bodoh tak bisa memainkan, di sini aku kerap sedih, karena punya alat tapi gak bisa memanfaatkan itu sebodoh-bodohnya bodoh), lalu di samping tas berjejer dua kardus berisi buku-buku. Di sebelah kanan meja belajar tergelar kasur dengan tiga bantal, satu guling, dua selimut. Seprainya warna merah, hasil dari sarung yang kupotong. Di sini aku biasanya merebahkan tubuh lelahku. 

Di tembok sekitar kasur aku isi tembok-tembok dengan kertas-kertas berpesan dari Pramoedya, Soe Hok Gie, Soekarno, pesan dari diri sendiri, sampai slogan All Is Well dari Three Idiots. Juga terhias pula gambar-gambar dan foto-foto hasil kreativitas dari koran yang kugunting dan kutaruh di stereofoam yang besarnya meyesuaikan gambar. Ada gambar ilustrasi seorang perempuan memegang payung merah di bawah hujan, ada ilustrasi sebuah keluarga, sawah, cover Arena lama, pamphlet studi pentas pertama, sampai sertifikat menang lomba esai bahasa inggris dari fakultas. 

Di dinding sebelah timur, terpampang dengan nyentriknya poster Einstein yang sedang menjulurkan lidah. Dasar! Kadang aku sering mengajak dia ngobrol, bukan tentang fisika, tentang hidup. Sayang, aku belum begitu dekat dengannya. Aku kerap cuek. Di bawah Einstein ada puluhan buku hasil beli dari pameran buku murah, shoping, dan beberapa pinjaman. Belum kuselesaikan semua. Dekat dengan pintu ada tempat sampah, ember nyuci, gayung isi perlengkapan mandi, gantungan-gantungan. 

Dekat dengan jendela di sebelah utara, ada dua sepatu warna hitam, ada galon, ada kursi yang di atasnya ada magic jar, dan sebuah almari tua yang dari fisiknya menyembunyikan banyak cerita. Lemari itu mengingatkanku dengan rumah di Cepu, rumah ketika mbah nang dan mbah dok ada. Dulu mereka seperti pernah memiliki lemari itu. Tingginya seleherku. Satu pintu degan tiga ruang di dalamnya. Warnanya coklat tua.

Ini kosku yang kedua selama di Jogja. Kos pertama di rumah eyang di Jalan Kusbini No. 23 Demangan. Di sana sejuk karena banyak pohon. Bangunannnya bangunan tua, ala Holland gitu. Kadang aku kangen kos pertama, karena di sana suasana dan orang-orangnya lebih tenang dan lebih normal daripada di kos Bimasakti ini. Ciri khas tetap sama: dinding-dindingnya aku buat berisik. Ini sebagai balas dendam dari mimpiku sejak kecil yang bercita-cita ingin punya kamar sendiri tapi nggak kesampaian. Haha.

Ya. Beginilah kosku. Silahkan main.

Thursday, February 25, 2016

Butuhkah Petani Bicara LGBT?

Tentu ini pertanyaan aneh, seaneh isu-isu publik yang berkembang pada saat ini. Dimulai dati terorisme di Sarinah, merembet ke Gafatar, beralih wajah lagi ke kopi sianida, LGBT, atau Kalijodo. Isu remah-remah sepah ini menutup isu yang lebih besar sebelumnya tentang Freeport!

Sebagai orang yang kebetulan di fisika, saya teringat dengan Hukum II Termodinamika. Kira-kira bunyinya: kalor mengalir dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. Dan tidak mungkin mengalirkan suhu rendah ke suhu tinggi secara spontan. Kita anggap saja isu-isu sianida, LGBT, dll-nya sebagai isu suhu rendah yang menutup isu tinggi bersuhu tinggi misal Freeport. 

Dari dua pergeseran isu ini menghasilkan entropi (derajat ketidakaturan) yang berkembang dan menjamur di media-media, baik TV, koran, khususnya media sosial. Entropi ini memancing situasi di mana kita dibelok-belokkan isu dan konsentrasi mudah pecah. 

Bodohnya sekarang kegalauan menjadi komoditi yang laris manis. Dan kegalauan ini menyerang para intelektual-inteletual yang fokusnya malah ikut latah ke isu remah-remah sepah. Sikap dirinya seolah dibeli. Isu ekopol sengaja ditenggelamkan menjadi isu legalitas, premanisme, sampai spiritualisme.
Menarik ke diri sendiri, kita seolah dininabobokan oleh suatu grand design besar politik. Efeknya semakin ambigu, linglung, dan sering galau (dan galau selemah-lemahnya iman). Parahnya dari linglungnya diri ini merambat ke psikologi masyarakat. Sedangkan masyarakat sumber dari media yang memproduksi wacana-wacana publik.

Lebih kritis lagi, di media sekarang ada dua agenda besar yang berkembang. Pertama, agenda setting yang diatur siapa pemodal (kapital). Agenda ini mengusung realitas palsu yang menutupi hal-hal besar. Kedua, agenda publik tentang sesuatu yang mengatur orang banyak. Di sini media mempunyai peran besar mempropaganda. Propaganda ABCD. 

Indonesia yang mayoritas masyarakatnya masih latah, yang kagetan, sedikit-sedikit sudah geger menganggap media sebagai realitas sesungguhnya. Masing-masing media saling menyerobot ideologi, lalu lewat alat media itu dalam tiap diri individu sangat mudah dibuat kosong—karena memang ada sesuatu yang membuat kosong. Kekosongan sangat terlihat ketika membaca status-status di medsos. Sekarang baik yang intelek dan tidak, kesadaran hampir sama saja, bahasanya saja beda. 

Lalu kembali ke pertanyaan dalam judul ini. Mungkin saya sengaja memberi judul tulisan ini sangat atomis-reduksionis. Ini hanya puzzle kecil merespon isu yang saat ini ada tentang LGBT. Coba renungkan: perlukan petani bicara LGBT? Perlukah nelayan bicara kopi sianida? Perlukah buruh berkoar tentang Gafatar? Yang semua itu hanya menyoal masalah privat? Ah, konyol isu-isu sekarang! Rakyat tak dipedulikan! Jadi ingat Pram, yang digaruk-garuk hanya pinggir borok, bukan pusat borok. Ngeri.

Ya, jangan sampai linglung. Jangan sampai kosong. Kita bukan kita apa adanya. Kita hasil konstruksi. Bergerak maju. Revolusi. Hidup rakyat!

Revolusi Hawa

:buat Anis N. Nadhiroh

perempuan akan selalu kalah
jika kesadarannya hanya sebatas jeritan pada laki-laki
jika yang diurusi hanya salon dan kecantikan
jika tempat yang dikunjungi selalu rumah
jika yang dibicarakan hanya seputar gosip
jika tontonannya hanya telenovela
jika yang dibaca buku-buku teenlit
jika tulisannya hanya bicara cinta
jika yang dicari cuma yang mudah
jika yang diisi cuma perut
dan otaknya ciut
lalu larut

galakkan revolusi perempuan
tolak nilai lama, hadirkan nilai baru
makan dan minum ilmu
bergerak berani, tanpa malu, maju


Friday, February 12, 2016

Ritus Tiga Candi

Senin, 8 Februari 2016
Candi Sambisari

Bagi saya, tak ada hal yang lebih membosankan daripada mengulang-ulang pola yang sudah ada. Dan yang paling substil dalam memori ketika sendirian menikmati perasaan. Setelah seminggu yang lalu saya mencium bau pemakaman, rasanya saya ingin pergi. Kemanapun... Menghilangkan kerinduan atau mungkin kesedihan..

Dan kesempatan itu datang, lama sudah roda sepeda saya tak bergerak ke tapak yang jauh. Usai menzikiri tuts leptop, sekitar jam satu siang saya nekat juga ala kadarnya. Sesederhana-sesederhananya. Seringan-ringannya. Ya, saya ingin ke Solo.

Perjalanan, selalu begitu: mengantar ke tempat cabang lain yang saya tidak tahu. Sepeda saya mengajak saya ke Candi Sambisari lagi. Dulu juga pernah dengan kawan-kawan KMPD, pagi, sepedahan juga. Hari ini Sambisari sedang ramai, maklum hari liburan. Saya pandang candi itu, hijau lalu di tengahnya Sambisari berdiri. Kebanyakan orang yang berkunjung hanya ingin berfoto saja rasanya. Saya tak menemukan setitik kesakralan tertentu.
Saya turun ke rumah Sambisari, memastikan candi itu masih sama. Memang, masih sama. Saya menyalami lagi relief gajah itu, ratu bertangan delapan itu, dan kakek tua berjanggut kesepian itu. Mereka masih diam. Di bilik dalam pun sama.
Saya hanya mencoba mengajak bercakap mereka lewat mata. Dipayungi kelabu batu. Masih tua.
Hari ini, entah apa radar yang mempertemukan saya dengan mereka... Teman-teman Fisika 2013: Risky, Irsyad, Andi, Lisa, Miftah, Hanun, dan Ila. Salam ya kawan-kawan, senang bertemu kalian... Dan roda menggelinding lagi...

Candi Sari

Sepanjang saya hidup, mungkin candi ini candi pertama yang reliefnya membius saya dengan detail-detailnya. Sari memang cantik, tak saya ragukan.
Saya masuk dan berdecak. Serasa saya ada di kerajaan tertentu entah di mana. Yang mungkin hancur roh-rohnya tapi tidak peninggalannya. Saya berkeliling sambil tersenyum-senyum, kagum. Masuk ke dalam tiga biliknya sendirian. Saya merinding, entah siapa saja yang ada di sana, saya hanya yakin saya tak sendiri.
Saya turun dan berbincang dengan seorang satpam bernama Pak Sugiman. Bapak yang mungkin letih dengan suasana sepi itu pun banyak bercerita pada saya. Konon yang nunggu si Sari seorang raksasa yang menghuni bilik tengah, besar, lengannya seukuran jendela candi. Lalu bilik kidul (selatan) ada kakek-kakek tua dengan janggut sampai pusarnya. Di bilik lor (utara) yang nunggu segala macam jenis hewan. Saya pun mafhum, pantas saja bisa membuat candi setinggi ini jika tinggi penunggunya saja segitu.
Pak Sugiman dulunya pernah berjaga di Candi Kalasan. Di sana katanya penunggunya lebih banyak. Di banyak titik ada. Ada siluman ular, wanita cantik, dan lainnya. Pernah juga suatu hari ada bus pariwisata yang terjungkal sendiri, pas hari naas, seingat saya Selasa Kliwon. Saya jadi tertarik kesana, dan saya kesana. Menuruti keingintahuan saya.

Candi Kalasan

Memang, candi ini sekilas pandang terlihat berantakan di sebelah sisi. Suasananya agak lain juga, masih hijau juga. Saya juga ketemu beringin yang diceritakan Pak Sugiman. Dan setiap kali saya ingin memotret, cahayanya gelap sendiri. Harus benar-benar menemukan moment yang tepat rasanya, serupa adik kecil yang malu-malu ketika difoto.
Mungkin apa karena bahayanya, biliknya pun tak boleh dimasuki...
Saya kembali bercakap dengan relief-relief. Ada hubungan yang entah bagi saya antara Sari dan Kalasan di beberapa reliefnya.
Saya tak diganggu apa-apa. Hanya tawa anak-anak di sana yang terlihat bermain-main yang riang saya perhatikan. Saya bergumam: kaya sekali negeri ini memiliki kebudayaan yang seperti candi-candi ini... Pas duduk istirahat, saya jadi bersedih kenapa saya datang sendiri? Sahabat saya harusnya juga melihat ini...
Belum usai, gelap makin melarut, kehidupan berlanjut.

-=is=-