Wednesday, September 23, 2015

Doa Murid karya Umberto Maturana


Jangan paksakan kepadaku apa yang kauketahui
                                Aku ingin menyelami apa yang tidak kuketahi
                dan menjadi sumber dari penemuanku sendiri
Biarkan yang diketahui mejadi pembebasanku, bukan penghambaanku.

Dunia kebenaranmu dapat menjadi pembatasan bagiku;
                                kearifanmu menjadi sangkalanku.
                Jangan menyuruh-nyuruh aku, mari kita berjalan bersama
Biarkan kekayaanku dimulai di tempat kekayaanmu berakhir.

Tunjukkan kepadaku agar aku dapat berdiri
                di atas bahumu.
Ungkapkan dirimu agar kau dapat menggali
                sesuatu yang berbeda.

Kau percaya bahwa setiap manusia
                                dapat mecintai dan mencipta.
                Maka aku pun memahami rasa takutmu
ketika aku memintamu hidup sesuai dengan kearifanmu.

Kau tidak akan tahu siapa aku
                                dengan hanya mendengarkan dirimu sendiri.
                Jangan menyuruh-nyuruh aku; biarkan saja aku begini.
Kegagalanmu adalah jika aku identik denganmu.

#“Caring” oleh Marcial Losada, diilhami karya Umberto Maturana “The Student’s Prayer”. Tidak diterbitkan sebelumnya.

Monday, September 14, 2015

Aku Tak Tertarik



Aku tak tertarik apa mata pencarianmu.
Aku ingin tahu apa yang kaudambakan, dan apakah kau berani mengimpikan
                bertemu dengan
pujaan hatimu.
Aku tak tertarik berapa usiamu.
Aku ingin tahu apakah kau mau mengambil risiko terlihat bodoh demi cinta, demi
                cita-cita,
demi petualangan hidup sepenuhnya.
Aku ingin tahu apakah kau telah menyentuh pusat dukamu sendiri, jika
kau telah dibukakan oleh pengkhianatan hidup atau telah menjadi layu dan tertutup
karena takut disakiti lagi! Aku ingin tahu apakah kau bisa duduk bersama rasa
                sakit, sakitku atau,
sakitmu, tanpa mencoba menyembunyikannya, atau memudarkannya atau
                memperbaikinya. Aku ingin tahu apakah kau bisa berada bersama sukacita,
                sukaku atau sukamu;
jika kau bisa menari dengan alam liar dan
membiarkan keriangan mengisimu hingga ujung jemari kaki dan tanganmu tanpa
                mengingatkan kita untuk berhati-hati, bersikap realistis, atau mengingat
keterbatasan manusia.
Aku tak tertarik apakah cerita yang kusaksikan ini benar.
Aku ingin tahu apakah kau bisa mengecewakan orang lain agar jujur pada dirimu;
                jika kau
dapat menanggung tuduhan pengkhianatan dan tidak mengkhianati dirimu sendiri.
Aku ingin tahu apakah kau bisa setia dan karenanya dapat dipercaya. Aku ingin
                tahu apakah kau dapat melihat keindahan meskipun tidak setiap hari itu
                elok, dan jika kau dapat
menyumberkan hidupmu dari kehadiran Tuhan. Aku ingin tahu apakah kau bisa
                hidup
dengan kegagalan, gagalmu dan gagalku, dan tetap berdiri pada sisi
danau dan berteriak kepada bulan keperakan: “Ya!”
Aku tak tertarik pada tempat tinggalmu atau seberapa banyak uang yang kau miliki.
Aku ingin tahu apakah kau bisa bangkit setelah semalam berduka dan merana,
lelah, babak belur, dan melakukan apa yang perlu dilakukan demi anak-anak.
Aku tidak tertarik siapa dirimu, atau bagaimana kau tiba di sini.
Aku ingin tahu apakah kau mau berdiri di tengah api bersamaku
dan tidak mundur teratur.
Aku tidak tertarik di mana atau apa atau dengan siapa kau belajar.
Aku ingin tahu apa yang menjagamu dari dalam, saat segala hal berjatuhan.
Aku ingin tahu apakah kau bisa sendirin bersama dirimu; dan apakah kau benar
                benar
menyukai temanmu di saat-saat hampa.

“Undangan” terilhami oleh Pemimpi Gunung Oriah,
Tetua kaum Amerika asli, Mei 1994. 

Saya kutip dari buku SQ karya Danah Zohar dan Ian Marshall.
SQ mengutipnya dalam A Passion for the Possible karya Jean Houston.

Ps: Puisi ini buat teman sepermainan Omi Ajeng Cahyanti, hepi besdei, udah 21th hoi, haha. Juga buat orang yang pernah bilang ke saya “Jangan terlalu berhati-hati Is.”

Sunday, September 13, 2015

The Imitation Game: Kisah Si Sombong yang Rapuh

Film ini berkisah tentang Alan Turing dan Enigma. Begitu dalam, mengena, dan menyentuh alam bawah sadar saya. Kisah tentang manusia yang berbeda dari yang lain.

Namanya Alan, seorang Yahudi. Anak yang cerdas, tapi dijauhi teman-temannya. Saat sekolah dia di-bully, dia sempat dikubur di sebuah lantai hingga hampir tak bisa bernafas. Seorang temannya bernama Christoper menyelamatkan Alan. Dua anak ini menjadi sahabat karib. Christoper adalah teman satu-satunya Alan. Mereka saling berdiskusi akan ilmu pengetahuan dan Alan mengenal kriptografi (ilmu membaca sandi rahasia) dari Christoper. Mereka sempat menciptakan sandi bersama.
Perkariban ini menimbulkan kesan yang mendalam bagi Alan. Ia jatuh cinta pada Christoper. Iya, Alan menderita homoseksual. Sampai sekarang saya masih bingung, apa penyebab dari penyakit semacam ini? Suatu hari Alan dipanggil ke ruang guru, di sana ia mendapat kabar yang meremukan hatinya: Christoper meninggal karena TBC. Namun, seperti wataknya, di depan gurunya itu Alan berpura-pura tak mengenal Christoper dengan sikap angkuhnya.

Hingga saat ia dewasa, Alan melamar kerja di sebuah badan intelejen pemerintah Inggris. Kondisi saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia II. Di mana Jerman melawan Inggris. Di badan intelejen ini tugasnya adalah memecahkan candi bernama "enigma", sandi paling sulit dengan kemungkinan penemuan pemecahannya sampai berjuta-juta-juta-juta kemungkinan. Yang setiap menitnya diganti kodenya. Mesin ini dipakai oleh tentara Jerman sebagai strategi rahasia. Untuk transportasi darat, laut, sampai udara.
Saya tertarik dengan gaya Alan dalam wawancara kerjanya. Di sana Alan begitu percaya diri. Dia menjadi profesor saat umurnya 24 tahun, tak beda jauh dengan Newton dan Einstein yang menemukan penemuannya pada usia muda. Alan juga tak gengsi bilang dia tak bisa berbahasa Jerman, meski itu mesin Jerman. Dia hanya mengaku sangat suka mengisi teka-teki silang. Yang paling gila dari semua itu, Alan bilang pada si pewawancara seperti pada gambar berikut:
Akhirnya Alan diterima. Ia bekerja dengan orang-orang jenius yang lain: Hugh Alexander, John Cairncross, dll. Siang-malam para jenius ini dibantu dengan staf badan intelejen memecahkan enigma. Para staf ini kalau saya lihat menggunakan cara analisis matematika manual, sedangkan Alan berpikiran lain: ia ingin menciptkan mesin yang bisa memecahkan ini yang cerdas dan bekerja secara digital. Mesin dilawan mesin.

Alan merintis mesin yang dinamainya "Christoper" (nama sahabat terdalamnya dulu) dengan kerja keras. Biaya yang dibutuhkan sekitar 100.000 pound, ia sempat ditertawakan. Alan lalu mengirin sura pada Winston Churchill si boss (perdana menteri Inggris) dan malah Alan diangkat sebagai ketua tim. Alan menggunakan kekuasaannya untuk memecat dua orang yang dianggapnya tak layak. Kadang teman-temannya muak pada Alan yang bersifat individual. Dia tidak disenangi teman setimnya.

Karena kekurangan staf, Alan pun mencari orang baru. Idenya cukup menarik: membuat soal teka-teki silang sulit yang kemudian diterbitkan di media. Orang yang bisa mengisi itu bukan orang sembarangan. Pas tesnya saja, hanya beberapa orang saja yang lolos. Parahnya, hanya ada satu wanita yang ikut dalam tes itu, wanita jenius bernama: Joan Clarke yang datang terlambat tapi Alan membolehknya masuk. Joan adalah ahli matematika, dia orang pertama yang menyelesaikan soal di tes itu dengan cepat. Lelaki-lelaki di sana kalah. Salut dengan dia dan prinsipnya.
Joan
Dari Joan, Alan belajar bagaimana berinteraksi dengan timnya. Alan membuat keanehan dengan membelikan temannya apel, sambil bercerita tentang dua orang (A dan B) yang tersesat di kandang beruang. Ada dua perbedaan sikap, si A berdoa memohon pada Tuhan akan kondisinya, si B merapatkan tali sepatunya. Terjadi dialog:
A: Seberapa kuat pun kamu berlari, kamu tak akan bisa melebihi beruang itu.
B: Aku tak perlu melebihi beruang, aku hanya perlu lebih cepat dari kamu.
Mendengar kisah ini dalam hati saya benar-benar mengumpat.

Sekian lama berjalan, Christoper belum menghasilkan konstribusi apa-apa. Hingga suatu hari mesin kesayangannya itu mau dihancurkan. Bersama Joan, diam-diam kedua orang ini melakukan pengembangan bersama. Saya sempat geleng-geleng kepala dengan kecerdasan Joan.
Hingga, cinta itu tumbuh di hati Joan pada Alan. Pelamaran yang romantis pun terjadi, Alan memberikan cincin yang terbuat dari kabel lunak dan dipasangkan di jari Joan. Namun, Alan tak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia homoseksual. Alan menceritakan rahasisa besarnya ini pada Cairncross.

Suatu hari di sebuah kafe di acara minum dan dansa, Alan bertemu dengan teman wanita Joan yang kerjanya juga memecahkan sandi. Ia bercerita tentang seorang pria Jerman yang mengirim kode yang sama pada waktu tertentu. Entah bagaiman jalan pikiran Alan, dari info wanita itu ia langsung berlari menemui Christoper seperti orang kesetanan. Teman-teman tim mengikutinya. Akhirnya enigma berhasil dipecahkan, ya, sandi itu hanya gara-gara satu orang brengsek: daulat Hitler.

Setelah ditemukan, tim memasang strategi lagi  bagaimana "memenangkan perang". Ini tidak mudah karena menyangkut banyak nyawa yang salah satunya adalah kakak dari Peter (salah satu tim jenius intelejen). Terjadi pecekcokan yang sengit di sini. Yang berbicara tak lagi logika, tapi perasaan.

Badan intelejen mendapat masalah besar. Ada mata-mata dari Uni Soviet yang menyusup. Tak dinyana penyusup itu adalah Cairncross, Alan mengetahui itu dari bibel Matius 7:7 yang ada di meja John Cairn. Bibel itu menjadi penanda sang spy yang sebelumnya diterjemahkan dengan sandi beale. Alan sangat terpukul dengan ini, ditambah, orang yang dipercayainya di intelejen pun (yang tahu bahwa sandi enigma telah ditemukan) juga seorang mata-mata!

Saat perang usai, Alan tak henti mengembangkan Christoper. Dia sempat ditangkap karena homoseksualnya itu. Namanya tercemar di koran. Dia juga menjalani terapi hormonal untuk penyembuhan. Di sana masa-masa terberat Alan. Ya, saya senang dan terharu saat Joan menemani Alan menghadapi penyakitnya itu. Bagaimana besar hati dan perhatiannya Joan meski pernah dikhianati dan dibohongi Alan.
The damn was reality that Alan suicide in his age 41th. And his machine that he called "the imitation game" or Turing Machine be seed of computer now. Loph your sacrifice Turing!

Friday, September 11, 2015

Lirik Lagu Biru (Pasar Bisa Diciptakan) – Efek Rumah Kaca

ERK
Kami mau yang lebih indah
Bukan hanya remah-remah sepah
Sudahlah…

Kami hanya akan mencipta
Segala apa yang kami cinta
Bahagia…

*Kami bawa dan membara
Di dasar jiwa. Di dasar jiwa.

Reff:
Menembus rimba dan belantara sendiri
Pasar bisa diciptakan
Membangun kota dan peradaban sendiri
Pasar bisa diciptakan                           
Menembus rimba dan belantara sendiri
Pasar bisa diciptakan
Membangun kota dan peradaban sendiri

Kami ingin lebih bergizi
Bukan hanya yang malnutrisi
Substansi…

(Back to *)
Reff 2x

Pasar bisa diciptakan (5x)
Wohohoho... Pasar bisa diciptakan (5x)

Dari kegelisahan dipadatkan dengan cinta.
Bergemuruh di dada. Jauh dari mereda.
Fantasi yang menggila bercampur rasa kecewa.
Pelan-pelan kilaunya. Jadi sepercik cahaya.

Oh, cahaya
Akhirnya kita sampai juga, temukannya
Pijarnya pun dibagi rata
Berbinar-binar hidup bergelora
Oh cahaya... Lalalala…

Imajinasi rasa, takut larut di dalamnya
Tak terkira siksanya, hingga capai bahagia
Amarah angan-angan, berhamburan berkejaran
Akan terus mendera hingga titik terangnya

(Kegelapan masih membayang
Menyelimuti... menolak henti
Mencari ruang terangi terhentak
Dan menjadi ironi) 2x

Oh… cahaya

Monday, September 7, 2015

Candi Abang, The Losing Temple

Minggu, 6 September 2015

Di antara candi-candi yang pernah saya datangi, ini candi paling abnormal. Sore itu, saya dan teman-teman Fisika UIN Suka 2013 mengadakan jalan-jalan dan silaturahmi bareng pasca liburan ke Candi Abang. Letaknya di sekitaran Berbah, Sleman. Tidak begitu jauh dari Bandara Adisutjipto.

Pas sampai di parkiran, kita musti naik sekitar 80 mdpp (meter di atas permukaan parkiran) untuk menuju ke candi. Meski tak setinggi Merbabu, lumayan ngluarin nafas juga. Sampai sana saya heran dan bertanya: ini candinya yang mana ya? Yang terlihat sejauh mata memandang hanya gundukan tanah yang tinggi menyerupai rumah telletubies. Celetukannya si Farros sih bilang candinya ada di bawah gundukan itu: eh, di bawahnya ada candi lho! Haha, aneh.

Usai makan-makan sore bersama, saya sama Lina naik lagi. Kami membaca informasi singkat dari poster dalam kaca yang menceritakan tentang candi itu. Jadi, candi ini disebut candi abang karena terbuat dari batu bata merah (merah dalam bahasa Jawa itu abang), beda dengan candi lainnya yang rata-rata terbuat dari batu andesit. Di tempat ini juga merupakan dataran tinggi tempat nongkrongnya para orang suci dari kerajaan Mataram Kuno semedi. Di sana ada patung Siwanya juga katanya, tapi saya tak melihat.

Pas naik ke rumah telletubies, ada semacam kawah yang isinya reruntuhan batu bata merah. Dan di puncaknya kita bisa melihat pemandangan alam yang sangat indah di lingkungan sekitar. Hamparan sawah yang hijau, perbukitan, awan, pesawat naik, dan (jika beruntung tanpa ketutup mendung) kita bisa melihat senja. Saya sempat gombalin Adil sore itu pas dia lihat jingganya matahari dengan bilang: Dil, ada senja di matamu. Dia tertawa dan bilang: aku langsung dapat ide. (Ide apa Dil??)

Teman-teman saya sebagian besar pada foto-foto, saya duduk merenung di puncak dengan melihat pemandangan yang saya rasa seperti dejavu di depan saya. Pas kecil dulu saya pernah punya poster yang isinya gambar pedesaan, saya teringat itu. Di bawah, semua terlihat kecil. Fokus okuler mata saya memperhatikan satu rumah bercat putih yang di depannya ada pohon-pohon rindang dan sekililingnya sawah. Detik itu hati saya bilang: ingin rasanya tinggal di sana, damai. Saya juga memperhatikan bangunan yang lain. Saya punya satu asumsi: yang baik terlihat seberapa jauh apa pun akan terlihat indah dan yang buruk terlihat mengecewakan. Sungguh sore itu, di sana, apa yang ada di depan mata saya seperti lukisan yang indah untuk dipandang.

Di tempat ini banyak dipakai untuk tempat pacaran juga. Yang romantis itu ada pohon daunnya jarang tapi bunga yang warnanya ungu, kecil-kecil banyak. Serupa sakura di Jepang. Akan lebih romantis lagi kalau rumput di sini hijau semua. Saya baca dari wiki, di sini juga ada guanya juga, tapi urung kami singgahi (mungkin kami tidak tahu).

Pulangnya, saya mengambil sedikit daun tanaman yang indah. Saya selipkan di sekitar telinga kerudung untuk asesoris. Biar cantik. Ya, ini quality time untuk kesekian kalinya sama teman-teman fisika, semoga terus kompak ya, selalu saling mendukung dalam kebaikan :)

di belakang empat teman saya ini ada rumah telletubiesnya lho (foto: FB Ila)
_Is

Umbul Pajangan Quality Time

Sabtu, 5 September 2015

"Quality Time" ini diksi dari anak PSDM ARENA untuk menamai kegiatan jalan-jalan dan senang-senang bareng. Setelah diskusi lumayan ngluarin asap dari kepala membahas kepanitiaan Rapat Tahunan Anggota (RTA), Rouf membahas tentang Quality Time ini. Jadi hari Sabtu kita kumpul depan MP jam tujuh pagi, kita swimming-swimming di Sendang Umbul Pajangan.

Esoknya, budaya ngaret entah kenapa masih selestari daun yang warnanya hijau. Molor 2 jam (kebiasaan buruk!), sampai Umbul Pajangan jam 10-an. Tempatnya terletak di antara pematang sawah yang hijau. Ada sekotak kolam renang yang airnya langsung dari sendang. Dingin dan cukup menyejukkan mata. Lalu para kamerad ARENA mengambil posisinya masing-masing. Ternyata, anak-anak ARENA jago renang semua, kecuali saya, Syntia, Agus, dan Fa'i. Si Jamal, Sabiq, Rouf, Miftah, Kurnia, Andy, Muza, Dewi, Faksi, Masodi udah kayak ikan saja.

Waktu itu semua pada njegur kolam kecuali saya dan Rohim. Tidak ada alasan kenapa saya tidak ikut. Kalau si Rohim kerjanya motrat motret para kamerad. Saya cuma kecek saja, megang-megang air pakai tangan selebihnya hanya melihat kegembiraan mereka. Jujur, saat itu saya iri melihat mereka yang bisa renang.

Saat Wulan datang membawa lauk untuk makan bersama. Semua pada mentas mengambil posisi. Kita berada di puncak acara Quality Time, makan-makan di pinggir (anggap saja) sungai kecil yang jernih, di atas rerumputan hijau, di bawah pohon-pohon teduh. Karena bantingan kemarin lima ribu, maka lauknya berbau "amis-amis". Jadi menunya: nasi + cap cay (yang ada telur dan sosisnya) + lele goreng + perkedel + tempe + sambel, uhh, lezat. Amis banget dah. Haha. Minumnya rika-rika pepaya buatan Kurnia. Segar. Pas makan-makan udah usai, kasihan pemred kami Lugas Subarkah ketinggalan Quality Time makan-makan. Dibercandain dia cuma senyum datar seperti Lugas biasanya.

Lalu kita renang-renang lagi. Dari atas saya memperhatikan mereka yang renang, ada seninya juga. Yang menghayati renangnya, mereka seperti menari-nari dalam air. Ada juga anak kecil TK-an, cowok, yang renang sama bapaknya. Anak itu sering loncat dari atas kayak nggak ada beban. Pose loncatan begitu sukses dieksekusi oleh Jamal. Kalau apologi si Sabiq loncatan kayak gitu itu ngabisin energi.

Ada juga guyonan gini: yang nggak bisa renang di samping ada penyewaan ban, atau pas Fa'i mau renang dia nyuruh yang lain jadi tim sar, atau tentang Agus yang  dikerjai ditaruh di tengah kolam trus ditinggal, atau tentang banyolan bikini party (tapi kagak ada yang mbentuk), haha. Trus ditutup mandi-mandi di sumur. Selebihnya quality time....
"Mungkin hanya dengan seperti ini keragu-raguan diantara kita bisa hilang," kata Rohim.

Thursday, September 3, 2015

Tentang lpmarena.com

Oleh Taufiqurrahman Sn
 
Portal milik Lembaga Pers Mahasiswa ARENA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah memberikan warna bagi sebagian hidup saya. sebagai seorang yang pernah mengelola, rasa cinta dan loyalitas terhadap lembaga ini sangat tinggi, bahkan sampai sekarang saya selalu membukanya, untuk melihat progres sekarang atau sekedar update informasi kampus.

Di sini saya tidak akan membahas tentang ARENA masa lalu, saat pertama kali digagas oleh kang Slamet Effendy Yusuf atau yang sering dikenal SEY. Seorang tokoh nasional yang keberadaannya hari ini telah memberikan warna bagi bangsa ini. Tapi saya ingin sedikit cerita soal kemunculan portal lpmarena.com yang sampai sekarang masih bisa update. Yang artinya masih ada dinamika dan dealektika didalamnya.

Saya masih ingat betul pada tahun 2010, saat pertama kali bersinggungan dengan lembaga ini. Saat itu ARENA sudah memiliki portal lpmarena.com, sebuah terobosan yang cukup maju, karena saat itu masih banyak lembaga pers mahasiswa yang belum mempunyai portal resmi, tapi kebanyakan masih memakai blogspot atau wordpress dan saat itu banyak yang masih konsentrasi pada penerbitan cetak, seperti buletin dan majalah.

ARENA pun pada tahun 2009 sempat memiliki portal gratisan arenasukijo.wordpress.com saat Pemimpin Umumnya Erick Tanjung yang sekarang menjadi jurnalis suara.co. Namun setahun kemudian pada masa Ulpha San , seorang pengusaha sekaligus calon ibu rumah tangga itu, portal ARENA di rubah menjadi lpmarena.com dengan koordinator portal saat itu Habiburrahman, seorang aktor dan pekerja seni yang tak diragukan lagi karya karyanya.

Di akhir tahun 2010 inilah, pengurus saat itu mulai membenahi manajemen redaksi dan cukup intens melakukan pembenahan dibidang produksi media online. Saat itu yang menjadi garda depan portal lpmarena.com adalah senior saya Uha Muhaimin, yang sekarang sedang menggagas sebuah gerakan kerakyatan di Cilacap sana.

Portal lpmarena.com bertahan selama kurang satu tahun lebih. Nah, tepat pada tahun Februari 2012, masa aktif portal lpmarena.com habis. Saat itu, saya tiba-tiba dipasrahi (diberi tanggungjawab) oleh Pemimpin Umum Ulpha San untuk mengurusi lpmarena.com. Saya yang saat itu tidak tahu menahu soal bidang ini, tetap tak bisa menolak, karena saking hormatnya saya pada beliau. Saya harus bisa, pikir saya saat itu.

Dengan usaha dan kerja keras kesana kemari akhirnya saya ketemu dengan Eko Budiono, seorang jenius dibidang teknologi informatika. dia adalah perancang portal lpmpendapa.com. Saya berguru dengan dia, bahkan sempat beberapa kali bermalam di sekre Lpm Pendapa Tamansiswa agar saya bisa mencuri ilmunya mas Eko ini. Setelah bertukar pikiran sama dia, akhirnya aku mendapatkan pencerahan. Bahwa hosting lpmarena.com harus diganti. Sebab apa, sebab hosting dan domain lpmarena.com yang dulu tagihan tahunannya sangat mahal. Sekitar 600 ribu lebih.

Padahal di web hosting yang satu ini saya bisa membuat portal lpmarena.com hanya sekitar 200 ribu pertahunnya. fix. Akhirnya setelah saya diskusikan dengan pengurus transformasi hosting ini direstui. sampai disini ternyata tugas saya belum selesai. Ternyata ada tugas baru yang menunggu.

Saya sekaligus ditugaskan untuk membuat template lpmarena,com. Meski saya tidak bisa, tapi berkat usaha dan belajar saya bisa menampilkan perwajahan baru lpmarena.com. Saya kira setelah lpmarena.com jadi tugas saya sudah selesai.

Ternyata belum. Sekitar akhir 2012 saya dipercaya untuk mengelola portal lpmarena.com. Saya menjadi koordinator portal yang tugasnya selain mengisi konten juga mengedit setiap naskah yang masuk dan menguploadnya. Hal ini berjalan berbulan-bulan sampai akhirnya tanggungjawab ini saya limpahkan kepada kawan Folly Akbar yang sekarang menjadi jurnalis di koran nasional Jawa Pos Jakarta.

Di tangan pemuda asal Cirebon tersebut, portal lpmarena.com semakin maju pesat, berbagai inovasi digalakkan agar tradisi menulis di portal semakin lancar dan produktif. Sebab, saat itu tren menulis di buletin SLiLiT itu lebih bergensi dari pada nulis di lpmarena.com sangat terasa. Lantas saya sama Folly ingin mematahkan sugesti itu, dengan membuat daftar penulis yang ditempel di dinding kantor ARENA. Selain itu, setiap saya mengobrol dengan kawan-kawan ARENA selalu saya singgung tentang tulisan di lpmarena.com. Dengan tujuan agar kawan-kawan terbiasa dan merasa dekat dengan lpmaena.com.

Sementara untuk promosi dan sosialisasi lpmarena.com ke publik terus kita galakkan. Dengan cara membuat poster dan stiker lpmarena.com dalam setiap event dan memasang nama lpmarena.com dalam setiap produk buletin maupun majalah. Bahkan dalam sebuah jaket dan kaos. Prestasinya portal lpmarena.com sempat dikunjungi sekitar 1.600 views dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. yakni saat kampus merayakan pesta Pemilwa 2013.

Minggu ke empat bulan Februari 2014, portal lpmarena.com berakhir, Folly yang bertanggungjawab soal ini telah memperpanjang hosting dan domain dengan baik. Saat itu kuota bandwithd dan disk lpmarena.com juga ditambah, karena sudah mendekat full. Setelah itu, saya terbesit untuk mengubah tampilan lpmarena.com dengan yang lebih baru, simple dan lebih fresh. Akhirnya ketemulah template yang sekarang bisa aku, kamu dan kita nikmati saat ini.

Tahun 2014, saya sudah tidak masuk kepengurusan ARENA setelah bersama sama menerbitkan Majalah ARENA 2014 dengan judul "Wong Cilik dipusaran Konflik" dengan Pimpinan Redaksi saat itu Robi Kurniawan, sekarangpun dia masih menjadi pimred dengan media yang berbeda. Saat ini tampuk kepemimpinan ARENA dipegang oleh Jamaludin Ahmd, seorang ahli fikir dan penikmat buku-buku berbau filsafat.

Di bawah kepemimpinan Jamal ini, portal lpmarena.com dimandatkan kepada Ulfatul Fikriyah, seorang calon guru dari kota Cilacap. Di tangan terampil Ulfa dan dibantu oleh Isma Swastiningrum, si multitalent asal Blora itu, portal lpmarena.com terus update sampai detik ini. Kedua orang inilah yang mengatur lalu lintas naskah di lpmarena.com. Jadi berbaik hatilah kepada mereka berdua, agar naskah kamu lolos koreksi mereka.

Yang ingin saya katakan dalam tulisan ini adalah, tadi malam saya iseng membuka cpanel http://lpmarena.com/. Sungguh saya terkejut karena ada warning yang menunjukkan bahwa bandwihtd dan disk hosting mendekati limit. Jika dalam waktu sekitar 4 hari tidak segera ditambah, maka lpmarena.com tidak akan bisa diakses.

Oleh karena itu, saya berharap kepada Ulfa untuk segera merespon ini dan segera membelikan paket hosting dalam kurung waktu kurang dari 96 jam mulai sekarang.

Ingat apa L P M A R E N A dot C O M