Jumat, 22 Desember 2023

22 Desember 2023

Ikan-ikan berenangan dalam kolam yang bening-bening

Tak terpecik niat meloncat menerjang langit luas membentang

(Kolam - Ajip Rosidi)

Senin, 18 Desember 2023

18 Desember 2023

I

Ku masih ingat di suatu perpus kala itu pas baca tulisan Pak Ignas Kleden dan kengototanku yang keras kepala. Tak banyak pemikir Indonesia sepertinya yang berani berpikir dengan argumennya sendiri. Tak afdol kalau gak pakai meminjam kata ... Ya macam kata Lady Marguerite Blessington ini, "Borrowed thoughts, like borrowed money, only show the poverty of the borrower." Wkwk (masih ada unsur meminjam, miskin!)

II

Saat kamu meyakinkan dirimu sendiri,  kamu baik-baik saja,  kamu sehat,  kamu cerdas, kamu sabar, kamu ikhlas. Di saat yang sama realitas bawah sadarmu bilang jika kamu bukanlah itu. Seseorang yang yakin tak perlu membuktikan jika dirinya yakin.

III

Aku pagi ini belajar: tak ada satu hal pun yang tak bisa kamu pelajari dengan mudah. Asal ada referensi dan kamu tekun dan jelas, mantap. Akselerasi akan tiba.

IV

Ya, aku paham aku terlalu rumit dan kompleks. Karena kerumitanku ini aku banyak dijauhi. Aku bisa memikirkan hal terlalu di luar jangkauan. Tapi tak apa, aku bangga jadi diriku sendiri.

V

 "Sampai di titik ini aku berpikir, menghidupkan orang di sekitarmu lebih penting ketimbang apapun."

 

Entah

Tiba-tiba semua terasa menua dan tidak menarik lagi. Facebook menua, Instagram menua, blog menua, twitter udah kumatikan (jarang kubuka), meski status WA berisik setiap menit. Di luar sana paranoid maya menyebar luas, dari privatisasi data ataupun privatisasi kapital dan sumber daya secara lebih canggih. Semua hal jadi bisa terpetakan hingga detail-detailnya. Termasuk makanan favoritmu, tempat nongkrongmu, barang hits yang suka kau konsumsi, hingga tipe orang-orang yang kamu sukai. Burukkah? Aku tak bisa menjawabnya dengan pasti.

Jumat, 01 Desember 2023

Catatan Film #2-3: "Gadis Kretek" (2023) dan "Ice Cold" (2023)

Satu serial dan satu film dokumenter Netflix ini punya benang merah yang sama: membicarakan perempuan dan stigmatisasi yang dihadapinya...

Gadis Kretek (2023)

Dari banyak segi apa pun, film ini kurasa perlu mendapatkan tepuk tangan. Saking bagusnya, saya langsung memesan di Shopee dan membaca langsung buku karya dari Ratih Kumala yang juga istri Eka Kurniawan itu. Membandingkan keduanya, aku merasa filmnya lebih hidup, lebih fokus, lebih padat, dan mampu menggambarkan nyawa asli melebihi apa yang ditulis oleh Ratih Kumala. Novel dan serial film tentu saja berbeda, dan itu hal yang tak perlu disalahkan. Secara kesan, aku tak bosen nonton film ini dari awal sampai akhir, sementara ketika baca novelnya, tiga hari udah selesai di tengah kesibukan.

Serial ini terdiri dari 5 episode. Tiap episode-nya sebagaimana khas-khas film serial Korea, membuatmu terus ingin menontonnya--dan harus kukatakan secara alur Gadis Kretek lebih bermutu daripada serial Korea yang pernah kutonton. Bercerita bagaimana Dasiyah atau Jeng Yah ingin menjadi seorang peracik saus rokok, di mana profesi dan privilege ini hanya didominasi oleh laki-laki. Lalu dengan bantuan Raya (Ario Bayu) yang juga cinta pertama Jeng Yah, mimpi itu berhasil diwujudkan. 

Kisah asmara berlatar sejarah tahun 65 ini kemudian berlanjut dengan ending yang boleh dibilang tak begitu menyenangkan. Bahkan kau akan iklas untuk memaki beberapa tokoh utamanya sebagai orang yang pria bajingan, Raya (red). Dia menurutku tipe orang yang tak tahu diri, oportunistik, dan seperti itulah kebanyakan karakter orang kalau diamat-amati. Lalu dia dihukum karena karmanya sendiri.

Yang aku salut dari film ini adalah bagaimana Ratih Kumala bisa menghidupkan arsip yang mati di Museum Kretek di Kudus menjadi suatu tayangan yang hidup. Ini beneran membutuhkan kerja keras dan ketelitian yang tidak sedikit. Banyak sekali museum-museum di Indonesia, jika arsipnya dihidupkan seperti halnya yang dilakukan Ratih pasti akan menarik. Tak heran dengan prestasi tersebut, Gadis Kretek jadi serial dari Indonesia pertama yang bisa nangkring sepuluh besar di Netflix internasional.

Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso (2023)

Film ini salah satu cabang film biografi yang berani dan mencuri perhatian publik saat peluncurannya. Ini sebagaimana kisah dari kasus kopi sianida Jessica Wongso yang heboh kala itu. Film ini digarap dengan teknik jurnalisme investigasi yang baik dan tentu, berani. Setelah nonton film ini, aku jadi mencari tahu lebih lanjut terkait kisah Jessica Wongso, segelintir kisah pribadinya di sosial media, dan bagaimana perjuangannya yang seolah menjadi "kambing hitam" permainan para werewolf.  Kisahnya memang sudah tujuh tahun lalu, tapi aktualisasinya diangkat kembali.

Aku sampai bayangin jadi Jessica, dia perempuan, mengidap depresi, dan publik menyalahkannya dengan berbagai tuduhan yang tak masuk akal. Dia mungkin punya privilege sebagai orang berpunya dan berpendidikan, namun privilge lain yang lebih tinggi dari dia memakannya. Wajah Jessica yang mengingatkanku dengan wajah temanku yang lain, yang bernama Tamara, juga membuatku merasa jika sosok-sosok yang jadi kambing itu perlu dibela. Bagaimana para tokoh didatangkan ke pengadilan, membeberkan analisis sesuai bidangnya masing-masing, bagaimana pihak kejaksaan yang harusnya jadi katalisator berjalan, serta berbagai bukti-bukti yang dimentahkan dengan bukti-bukti lain. Keluar-masuknya narasi ini menjadi investigasi yang susah untuk dicerna.

Jika ada kategori serial drama yang bener-bener drama, barangkali ini film puncaknya drama di Indonesia di dekade dia. Catatan harian milik Jessica kupikir juga bisa menjadi pengakuan yang cukup autentik dari mood dia yang sering berubah-ubah. Sutradara Rob Sixsmith bersama produsernya Jessica Lee Chu En ini jadi counter budaya yang cukup sukses dalam membentuk persepsi publik pasca-kasus. Bahkan, keluarga dekat korban, Mirna Salihin, seperti ayah Mirna, bisa dicurigai sebagai dalang dari pembunuhan anaknya sendiri. Sebab dari omongan-omongan liar, ayah Mirna membunuh anaknya karena Mirna punya asuransi senilai miliaran. Tentu bola es asumsi-asumsi itu bisa dikembangkan lagi.

Catatan Film #1: "Budi Pekerti" (2023)

Secara waktu, tempat, dan kesempatan, sepertinya ini film paling effort saat kutonton. Pasalnya, editorku meminta untuk buat tulisan terkait ini dari perspektif cancel culture. Yaudah, karena sekitaran tanggal 10 November 2023 jadwalku padat merayap, langsung hari Jumat abis pulang kerja aku ke langsung ke Grand Paragon XXI di sekitar area Glodok. Sore itu yungalah, macet pol, sampai aku sebel sama driver ojol yang mayan lambat, padal kan bukan salah dia. Tapi untungnya si driver kooperatif nyari jalur-jalur ilegal buat cepat. Ngapunten. Aku harus cepat karena jadwal yang kupilih tinggal beberapa menit lagi.

Setelah sampai di Grand Paragon, drama terjadi lagi. Ini baru pertama aku datang ke mal ini meski sering banget lewat di depannya, dengan kekhasan gerai Excelso di depannya. Tanya sama satpam di mana lift, arahan dia gak jelas, ya udah aku ngeloyor sendiri, gak ketemu aku langsung naik eskalator karena si satpam bilang XXI-nya ada di lantai 3. Anjaaaas, pas aku naik eskalator, tangga versi si satpam ternyata riilnya ada di lantai 8/9! Ini mal cuma fungsi dari lantai 1-3 yang ramai orang, lalu lantai 4-8/9 eskalator gak nyala, dan lantainya sepi. 

Alhasil, aku naik eskalator yang terasa panjang dan tinggi itu. Ini diperparah aku harus ngejar waktu tayang film. Aku lari-lari, nafasku terasa habis, belum lagi horor, bayangin lantai mal yang sepi dan mayan gelap di sudut-sudutnya, lalu kamu lari-lari ngatur energi kayak orang dikejar serdadu pas perang, kalau kamu gak cepat, kamu kena tembak, eh, enggak ding, kamu telat nonton. Ya, setelah sampai di XXI-nya, yang ada di lantai paling atas, akhirnya aku bisa ngatur nafas. Udah gak karuan nadiku, harusnya aku gak minum dulu biar gak mendadak koit. Aku seperti kehilangan sedetik nyawaku kala itu.

Untung, setelah nonton selama 1 jam 50 menit, filmnya bagus, kalau gak, nyesel aku bela-belain datang, wkwk. Meski telat beberapa menit, aku gak kelewatan adegan penting saat Bu Prani Siswoyo (Sha Ine Febriyanti) ngedamprat bapak-bapak main serobot pas beli puthu di mbah-mbah, di sebuah pasar tradisional di Jogja. Bu Prani bilang, "ah suwi," tapi dianggap misuh, "Asu i". Ya begitu lah bahasa Jawa, kalau gak hati-hati bisa gawat. Maknanya bisa beda. Adegan Bu Prani mempertahankan hak dan kedisiplinannya itu divideokan dan viral di media sosial. Ramai, sampai Bu Prani kena kasus di sekolah, padal dia mau nyalon jadi wakil kepsek.

Wregas si sutradara kupikir pandai mempermainkan tanda, dia menyeragami para guru dengan fashion serupa orang-orang tahanan, kuning menyala, dan semua sama. Kasus jadi pelik karena suaminya, Pak Didit Wibowo (Dwi Sasono) mengalami gejala ODGJ, macam stres dan depresi gitu. Dua anaknya, Muklas "Animalia" Waseso (Angga Aldi Yuwana) si jamet kreator konten yang hobi memproduksi konten-konten yang berhubungan dengan produk khas hewan-hewan; dan Tita Sulastri (Prilly Latuconsina) si mbak-mbak indie, progresif, dan calon musisi terkena dampaknya pula dari video viral Bu Prani. Sampai Muklas tak mengakui Bu Prani ibunya, dan Tita dikeluarkan dari grup band indie-nya.

Banyak detail-detail di film ini yang menurutku menarik, sesederhana motor cuma satu tapi harus dibagi-bagi pemakaiannya oleh empat orang dalam satu rumah. Entah buat latihan nari Bu Prani, ke markas band Tita, atau buat pergi ke pihak yang mroduksi konten oleh Muklas. Trus cara uniknya Bu Prani sebagai guru BK ketika memberikan hukuman-hukuman yang nyeleneh. Misal ada muridnya yang bandel disuruh ikut orang gali kuburan, buat lukisan, sampai si murid ini mengaku bisa menemukan jati diri dia sendiri. Jati diri yang kadang orang gak boleh tahu, semisal Gora yang suka ndekem di tempat yang kecil, sampai dia tidur di kolam sekolah ditemani Bu Prani.

Untuk situasi hari ini, semua yang dialami tokoh kupikir related banget dengan kehidupan sekarang. Ketika viral, yang terdampak bukan cuma satu orang, bisa jadi satu keluarga. Trus kritik-kritiknya Tita di ranah per-indie-an juga menarik, Tita ngritik pembuat konten yang seolah berpihak korban tapi nyatanya cari untung dan klik; dia diserang balik sama pembuat konten, isinya kira-kira, "gak ada bedanya juga sama elu, lu ngritik pemodal, kuasa, kapitalisme, and what the hell, tapi lu hidup dengan jualan dari baju-baju trifting yang lu modifikasi, trus lu jual lagi dengan harga yang tinggi. Itu apa?" Njay, ini kena banget. Trus kritik Tita juga kalau ingat pas dia lagi embung ikan sama keluarganya, terkait konten-konten di medsos yang cuma buat ajang flexing dan menuhin ego orang lain gitulah. Aslinya sih untuk kepentingan dia sendiri.

Trus nilai lain yang kental di sini itu, pertama, kekeluargaan. Bagaimana sebuah keluarga meskipun tak sempurna mau saling melindungi. Pas keluarga Bu Prani pindah rumah, adegan di rambu lalu lintas saat hujan deras, trus Tita beli bakso dan diberikan ke masing-masing anggota keluarganya itu haru banget sih. Kedua, aksi solidaritas dari guru ke murid yang melintasi angkatan. Bagaimana murid-murid yang lintas umur bantu kasus guru mereka. Ketiga, nilai-nilai permedsosan yang semakin tidak jelas. Cancel culture yang mau disampaikan film ini tuh menurutku, apa pun yang ada di dunia maya itu perlu disaring dan diverifikasi biar gak jadi bencana buat orang banyak! Itu kenapa, budi pekerti (literal) sangat dibutuhkan. Ini tuh bahasan etika sebenarnya.

Ada juga yang baca film ini dari perspektif unintended consequences. Argumennya, dalam hidup itu ada namanya konsekuensi yang gak bisa kita prediksi, gak bisa kita rencanakan, dan gak kita duga dari tindakan kita. Ini pernah dijelasin sama Marx, Engels, John Locke dan Adam Smith, jelas Okki Sutanto. Ada selalu faktor Z atau kejadian Y yang terjadi meski kita udah secara sadar dan rasional, selalu ada yang suka dan tidak suka, yang seneng dan tersinggung, jadi ya meski gitu, jangan lelah berbuat baik.