Friday, July 17, 2015

Cerpen Dion

Kado lebaran saya tahun 2015 ini, cerpen "Ketupat Dion untuk Allah" bisa di cek di LPM Arena. Selamat Idul Fitri. Maaf kalau ada salah-salah. Kalian tak perlu minta maaf ya, karena kalian sudah saya maafkan :D Terima kasih.

Wednesday, July 15, 2015

Reuni IV Cah-cah XII IPA 3, 14 Kisah Mereka Sekarang

Ketua kelas jaman SMA dulu, si Febi  ngasi pengumuman di grup SMA FB ada bukber bareng. Ndadak banget. Saya langsung SMS si Kadhung/koordinator untuk ikutan, karena ini acara tahunan yang saya tunggu juga. Silaturahmi yang masih ada :)

Hari ini (15/7) jam 4-an siap-siap, trus kumpul di tempatnya Kadhung. Di sana ada empat orang: Kadhung, Febi, Bram, dan Cicik. Mereka masih seperti dulu. Saling tukar kabar. Si Kadhung udah lulus dan saya yakin IP dia tinggi (dia pernah dapat IP 4,0). Sejak SMA, Kadhung salah satu teman saya yang giat banget merjuangin apa itu "nilai". Si Febi sama kayak saya, mau masuk semester V. Dia mantan mahasiswa UGM jurusan Teknik Nuklir kalau gak salah, dua tahun di UGM, dia pindah ke UPN Jogja ngambil Teknik Kimia. Gak tahu alasan pasti kenapa Febi pindah.

Si Febi jadi satu kampus dan satu jurusan sama si Bram. Si Bram normalnya sekarang udah semester VIII, saat ditanya "kapan lulus?", dia ketawa...Si Cicik juga belum lulus ini. Dia ngambil jurusan Pendidian Fisika di Semarang sana, sembari bisnis hijab.

Datang si Theriz, teman saya yang kuliah di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), dia ngambil kimia juga. kabar dari dia, Theriz sekarang sedang nunggu sidang skripsi. Trus datang si Pipit yang juga baru lulus dari Pendidian Kimia UNESA. Entahlah, angkatanku ini banyak banget yang ngambil Kimia.

Lainnya si Reza Afif yang masih jadi manusia misterius dan pendiam sejak dari dulu (serasa nabok muka sendiri). Datang juga Arisky, Puguh, Cintya, Suminto, dan Fanny.

Kita berangkat ke Baloenk di daerah Kapuan. Tempat makan khas gurami bakar. Di sana turut datang Heri dan Seno. Dari 42 orang, ana IPA 3, baru kumpul 15, yang lainnya? Hm, kemana ya? Setidaknya tahun ini ada kemajuan dari tahun lalu. Lebih ramai saya rasakan.

Kita kumpul dalam satu meja makan besar. Saling ngobrol berbagi cerita. Saya duduk di sampingnya Fanny. Temen saya yang cerdas ini udah lulus dari jurusan Metalurgi ITS dalam waktu VII semester. Dan yang keren lagi, si Fanny keterima di Universitas Manchester Inggris. Udah masuk, tapi katanya belum dapat beasiswanya. Dia ikut beasiswa LPDP, tapi cuma sampai interview. Ah, sayang. Saya tak tahu kelanjutannya seperti apa (Fan)? Hope yu there, Paniii.

Kabar juga, si Cintya juga udah lulus dari Pendidikan Matematika UNNES dan sekarang mengajar di sekolah Al Azhar Semarang. Si Heri kerja di sebuah perusahaan bonafid di Jakarta, kalau gak salah jadi programmer gitu. Si Reza yang sekolah di STSN itu juga saya dengar omongan singkatnya juga udah kerja. Si Arisky sekarang kerja di PT KAI, entah bagian apa (padahal dia jurusan perawat). Si Seno masih nglanjutin kuliahnya yang tinggal 2 semester di jurusan Arsitekstur (Kadhung dengan nakal mempelesetkannya jadi Arti Seks Tur). Dengan guyon-guyonan juga katanya si Puguh jadi ISIS-ISIS gitu. Saya gak ngerti maksudnya, Puguh membalas dengan tawa juga. Ya, Puguh teman saya, mahasiswa Pendidian Bahasa Inggris UNNES.

Setelah saling melepas kangen. Jam tujuhan kita pulang. Yang mengena itu saat saya ditegur sama Suminto karena pas ngobrol sama dia saya bicaranya terus pakai bahasa Indonesia. "Ngomongmu kudhu boso Indonesia po?". Aku ketawa, "ora-ora". Kenak sindrome akulturasi ini kayaknya. Di Jogja hampir setiap hari makainya Bahasa Indonesia, sekarang kebawa. Hanya sama orang-orang tertentu aja di Jogja ngomong Jawa, terutama di KEM. Saya sedih, kebahasaan Jawa saya kok luntur?

Si Sumin masih kocak kayak dulu. Orangnya gak pernah serius. Asumsi saya sejak SMA "dekat Suminto akan selalu merasa muda" masih berlaku. Dia aktivis Mapala, tapi dia gak ngaku. Katanya gambar naik gunungnya yang banyak dan saya lihat di FB hanya halusinasi saya. Denger-denger si Sumin juga mau lulus dari Teknik Sipil, Polines.

"Sum, Semarang itu kayak apa?" tanya saya.
"Podho koyok Cepu."
"Lek ning Jogja rame."
"Iyo, gak ono matine."
"Di Jogja gak pernah kehabisan teman."
(Saya mengucapan ini dengan bahagia).
"Kowe ning kampus aktif opo Sum?"
"Aku ra aktif opo-opo. Aku mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang-kuliah pulang."
"Mbujuki kowe."
"Iyo-yo. Lha kowe aktif opo Ma?"
"Aku ning lembaga pers mahasiswa, jenenge LPM Arena."
"Sing koyok opo iku?"
"Koyok wartawan ngono kuwi."
"Ma, carane nulis tulisan sing apik.i piye?"
"Ya banyak baca. Kalau mau tulisan bagus banyak baca."
Terjadi diam-diaman sebentar. Lalu saya bertanya lagi:
"Sum, kuliahmu lancar?"
"Sing diarani lancar koyok piye?"
"Kamu bisa menikmati kuliah kamu."
"Emm........................................."

---sepertinya ada yang error dalam percakapan ini---

Trus, cangkruk sebentar di tempatnya Kadhung (lebih tepatnya rumah suadaranya Kadhung). Di sana bercanda-canda. Saya ketawa dan khusuk dengar lelucon-lelucon mereka, umpatan-umpatan mereka, dan kisah-kisah mereka.

Satu yang saya rasakan: saat kamu berhasil kawan, itu akan menularkan semangat keberhasilan juga bagi yang lain.

Semoga tahun depan kita bisa kumpul-kupul lagi, reuni lagi. Dengan kisah-kisah yang selalu berubah dari kalian... Dengan kawan-kawan yang lebih lengkap.






Cepu, 15 Juli 2015
Is

Sunday, July 12, 2015

Di Halaman Kota

Menginjakkan kaki di kotaku, seperti menyerkah kenangan dalam sebuah jiwa.

Kota adalah kaset-kaset lama dan baru.
Yang merekam segala kebaikan dan keburukan.
Udaranya seperti makanan yang ingin kumakan diam-diam.

Aku pulang.
Membawa harum keringat.
Dan:
Sebuah cermin.
Sebutir padi.
Sekuku buku.
Sekoral jarum.

Sepercik api.
Setetes dew.

Cepu, 12 Juli 2015

Saturday, July 11, 2015

Thursday, July 9, 2015

Rumah Abu-abu

Jika bahagia bisa diperlihatkan dari wajah, niscaya tawamu yang entah kapan itu akan bersatu dengan udara dan  bau rautmu. Bahagia hanya konstruksi otak kita, setelah ribuan kali mengalami esensial dan binal. Selamat berdingin ria di musim panas. Selamat berterang ria di tempat gelap.

#penghujung 12 malam

Sunday, July 5, 2015

Tiga Bunga

Anak itu terpekur kehilangan hari.
Semalam ia telah berimajinasi akan mengatakan sesuatu pada seseorang. Pergilah ia jam sebelas siang itu. Ia ingsutkan bunga yang tak tahu namanya, ditaruhkan di keranjang, lalu ia mulai menyeberangkan roda.
Di tepi jalan dekat pagar, ia mengambil bunga lagi. Ia memanjat pagar dan menyamun bunga warna kuning.
Sampailah ia di ujana dan memetik lagi bunga bougenvil warna orange.
Ia tata tiga varian kembang itu, berkeliling mencari tali, lalu diikatkannya menjadi satu.
Senyum meriakannya. Turunlah ia.
Tiba-tiba matanya sayu melihat teras yang sepi. Angin berbisik lekat di telinganya: sudah tutup.
Ia datangi pintu memastikan apa benar sudah tutup? Ternyata benar. Kepalanya tertunduk. Setengah dirinya tersisih. Ia berjalan pelan. Ia lepaskan tasnya di sebuah dudukan. Seperti ia lepaskan dukanya.
Dipanjatlah pohon tak terlalu tinggi di depannya itu. Mengembang analekta di kepala.
Matanya mengibaskan sedan.
Menyelesaikan sunyi yang belum usai.
Teduh. Sepi. Sendirian.

Jogja, 5 Juli 2015