Jumat, 30 September 2022

Mika Nakashima – Yuki No Hana

 のびた人陰(かげ)を舗道にならべ
夕闇のなかを君と歩いてる
手をつないでいつまでもずっと
そばにいれたなら
泣けちゃうくらい

風が冷たくなって
冬の匂いがした
そろそろこの街に
君と近付ける季節がくる

 今年、最初の雪の華を
ふたり寄り添って
眺めているこの瞬間(とき)に
幸せがあふれだす

 甘えとか弱さじゃない
ただ、君を愛してる
心からそう思った

君がいるとどんなことでも
乗りきれるような気持ちになってる
こんな日々がいつまでもきっと
続いてくことを祈っているよ

風が窓を揺らした
夜は揺り起こして
どんな悲しいことも
僕が笑顔へと変えてあげる

舞い落ちてきた雪の華が
窓の外ずっと
降りやむことを知らずに
僕らの街を染める
誰かのために何かを
したいと思えるのが
愛ということを知った

もし、君を失ったとしたなら
星になって君を照らすだろう
笑顔も涙に濡れてる夜も
いつもいつでもそばにいるよ

今年、最初の雪の華を
ふたり寄り添って
眺めているこの瞬間(とき)に
幸せがあふれだす

甘えとか弱さじゃない
ただ、君とずっと
このまま一緒にいたい
素直にそう思える

この街に降り積もってく
真っ白な雪の華
ふたりの胸にそっと想い出を描くよ
これからも君とずっと…

Minggu, 25 September 2022

25 September 2022

Aku bahagia Bandung selalu ada orang-orang baik untuk dikunjungi, yang mengajari tak hanya soal sekadar hidup, tapi juga bagaimana menikmati hidup. Kehangatan-kehangatan personal yang tak kutemukan di kota-kota lain. Kebersamaan yang tulus dan melibatkan perasaan yang bersahabat. Sebagaimana syair Kang Mukti-Mukti: "Aku tak ingin memberimu kesedihan, sebab gerimis kini terlalu manis untuk sebuah tangis."

Rabu, 21 September 2022

21 September 2022

"Please practice more often and focus on forming the advanced sentence structures and using the target language without errors. Go through your materials as often as possible to avoid any common mistakes. Practice more." Bhargavi K.

Senin, 19 September 2022

19 September 2022

"Thanks for giving me the opportunity to be your teacher. You’re doing a great job!". -John

Sabtu, 17 September 2022

David Graeber tentang Konsumsi

 Dalam tulisan ini, David Graeber curiga, mengapa sejak tahun 1980-an, para Antropolog dibombardir dengan nasihat yang tak berujung (yang seringkali moralistik) terkait pentingnya "konsumsi". Dalam 2 dekade terakhir, nasihat itu efektif dan menjadi pokok wacana teoritis, meski begitu jarang para antropolog memeriksanya atau bertanya pada diri sendiri: Mengapa hampir semua bentuk ekspresi diri atau kesenangan manusia dianalogikan sebagai “makanan”? 

Graeber tak ingin menawarkan kritik atau praktik konsumsi, dia hanya ingin bertanya, mengapa manusia mengonsumsi? Bagaimana istilah konsumsi berasal dan mengapa kita menggunakannya. Esai ini berusaha menyelidiki, mengapa hal itu terjadi.

Literatur yang disebut Graeber seperti penelitian Etnografer Dick Hebdige (1979) yang meneliti perilaku konsumsi pada pemuda yang menjadi agen aktif konsumsi. Kemudian Arjun Appadurai (1986) tentang “The Social Life of Things: Commodities in Cultural Perspective”, Jonathan Friedman (1994) dalam “Cultural Identity and Global Process Theory”, Colin Campbell (1987) dalam " The Romantic Ethic and the Spirit of Modern Consumerism", serta yang dianggap Graeber penting pula, Daniel Miller dalam “Material Culture and Mass Consumption” (1992). Masing-masing memiliki versi ceritanya sendiri.

Konsumsi berasal dari kata kerja Latin "con sumere" yang berarti "merebut atau mengambil alih sepenuhnya", dan artinya meluas menjadi "memakan, melahap, menghabiskan". Konotasi konsumsi selalu negatif, kata ini muncul di Inggris abad 14. Apa yang diciptakan di suatu bidang tertentu akan dihancurkan atau digunakan di bidang lain.

Seperti petani memproduksi padi dan konsumen memesan dan memakannya, pabrik kimia memproduksi tinta dan konsumen memakainya, dll. Untuk memberi jalan bagi produk baru, maka yang ketinggalan zaman dan tidak relevan dibersihkan, dihancurkan, dibuang. Ini menjadi ciri dari "masyarakat konsumen".

Pencapaian unik dari konsumerisme modern telah membantu penciptaan bentuk hedonisme yang besar. Ini menjadi kompas destruktif , Graeber menjelaskan beberapa komplikasi dalam konsumsi: (1) invividualisasi, (2) pergeseran kelas dan gender.

Lebih lanjut, Graeber menghubungkan konsumsi dengan dorongan kuat akan “keinginan”. Orang yang bekerja menemukan sebagian besar kesenangan hidup dalam konsumsi. Mereka tidak menelan begitu saja seperti robot tanpa pikiran, tapi memilih identitas mode untuk mereka sendiri. Terlihat dari makanan apa yang dimakan, pakaian apa yang dikenakan, musik apa yang didengar, video apa yang ditonton, dlsb.

Secara intuitif, manusia menginginkan apa yang tidak dia miliki. Seseorang merasakan ketidakhadiran, lalu menginginkan bagaimana seseorang mengisinya, tindakan pikiran ini yang disebut sebagai "keinginan". Keinginan sebagai kerinduan akan suatu objek yang tidak ada, tapi juga hal lain yang lebih mendasar: pelestarian diri dan keinginan untuk terus eksis. Keinginan dalam bentuk narsistik ini kadang muncul lebih norak; kita ingin menjadi objek keinginan orang lain.

Keinginan akan uang membuat seorang bekerja. Keinginan tanda kehormatan membuat dia berperilaku terhormat. Keinginan tanda cinta mengilhami perilaku romantis.

Keinginan adalah 'gagasan tentang selera', konstruksi asli imaji yang diletakkan seseorang pada beberapa ketertarikan. Keinginan manusia menyiratkan pengakuan timbal balik. Keinginan (a) selalu berakar pada imajinasi dan (b) cenderung mengarahkan dirinya pada hubungan sosial, baik nyata ataupun imajiner. Keinginan dan kurangnya kepuasan terus menerus inilah yang mendorong konsumsi dan memungkinkan ekspansi produksi tanpa akhir.

Kesimpulan Graeber dari esainya ini:

1/ Keinginan manusia pada dasarnya bukan masalah hubungan antara dia dan orang di luar dia, tapi hubungan antara dia dengan fantasinya.

2/ Hubungan kita dengan individu lain adalah perjuangan tanpa akhir untuk menegakkan kedaulatan dan otonomi, dengan memasukkan dan menghancurkan aspek-aspek di sekitar kita.

3/ Hubungan ‘genuine’ dengan orang lain adalah problematik (karena masalah "The Others")

4/ Masyarakat dilihat sebagai mesin produksi dan penghancuran raksasa, di mana satu-satunya aktivitas manusia yang signifikan adalah membuat barang-barang terlibat dalam penghancuran seremonial, untuk memberi jalan barang lain untuk lebih banyak masuk.

Graeber, D. (2011). Consumption. Current anthropology, 52(4), 489-511.

Link: https://www.journals.uchicago.edu/doi/abs/10.1086/660166

#davidgraeber #consumption #currentanthropoly #konsumsi

Jumat, 16 September 2022

16 September 2022

Beberapa pekan ini (12-25 Sep) Jogja akan ramai dengan event FKY 2022. Lalu kenangan menyelip di selah-selah siang yang murung. Menyaksikan gambar-gambar kesepian yang memanjang. Dan menghirup udara yang pucat pasi dan hampir menyerah. Kaki mengantarku membelah sudut gang, terdiam melihat tulisan di depan plang bertulis "Rumah Dijual". Dalam benakku, tiba-tiba aku rindu Jogja, aku rindu Jalan Pulang, sembunyi dari kejaran waktu yang tak sepenuhnya mampu kuikuti, atau memensiunkan romansa yang lebih beku dari dinginnya perang. Berlayar ke Pulau Laut dan bernyanyi, "Kutahu pasti kau kan lelah dan terluka, tapi bukankah kita semua begitu?"


 

Senin, 12 September 2022

12 September 2022

Selesaikan satu per satu. Sesedikit mungkin hal yang kamu kerjakan tapi membuat hatimu senang, lebih baik daripada menumpuk banyak kerjaan tapi tak kamu selesaikan dan membuatmu stress.

Minggu, 11 September 2022

Kebiasan Buruk Teori Kritis - Mari Ruti

The Comparist terbitan The University of North Carolina (UNC) Press adalah salah satu jurnal rekomendasi saya kalau mau baca jurnal yang isinya perbandingan beberapa teori tokoh. Masing-masing perspektif tersebut kemudian 'diadu' dalam satu tema/tulisan utuh. 

Seperti kali ini, saya baca tulisan Mari Ruti berjudul "The Bad Habits of Critical Theory", yang saya temukan di JSTOR. Mari Ruti adalah seorang profesor teori kritis dan studi gender di Universitas Toronto.

Dalam artikel ini Ruti akan menjelaskan dua kebiasaan buruk yang bisa diprediksi dari teori kritis kontemporer.

Pertama, tendensi untuk melompat dari dari kritik yang otonom ke kritik lainnya, dan hal yang berkaitan dengan pandangan subjektif harus dihindari, semakin menghancurkan subjek dirasa semakin "etis".

Kedua, hasil logis dari penghancuran subjek ini adalah gagasan “antinormativitas radikal" (penolakan datar terhadap jenis etika normatif yang bergantung pada seperangkat objek apriori tentang benar dan salah), yang dianggap suatu sikap etis yang memadai. Atau singkatnya, kebiasaan buruk teori kritis meremehkan penilaian normatif.

Berpijak dari dua kritik itu, Ruti kemudian menguji argumennya dengan beberapa tokoh psikoanalis, gender, studi budaya, hingga teori individu/eksistensial. Teori-teori yang dibabarkan Ruti seperti: Lacan, Freud, Judith Butler, Alan Badiou, Slavoj Žižek, sembari mengunyah kue Kantian juga.

Dari banyak tokoh yang dikomparasikan itu, Ruti lebih condong dan berpihak pada Badiou. Badiou mengakui, dia memotong kebiasaan buruk teori kritis dalam menolak gagasan etika normatif, sebagai suatu warisan metafisika humanis yang tidak dapat diterima. Pertama, etika tanpa konten normatif tidak dapat dipertahankan. Kedua, memikirkan kembali normativitas di luar fondasi metafisiknya.

 Lebih jauh lagi...

Teori kritis dengan cermat mempertanyakan semua bentuk makna, tindakan, dan penilaian yang diterima begitu saja. Teori kritis curiga terhadap kecenderungan gagasan untuk membeku menjadi konfigurasi yang kaku dan tak bernyawa. 

Ia menolak segala yang sistematis dan terpusat, yang berbau kebiasaan. Ini didukung dengan sikap skeptis yang menghasilkan karya kritis, yang menginterogasi dasar-dasar subjektivitas, agensi, makna, dan etika.

Teori kritis progresif didefinisikan secara longgar di jurnal ini, seperti, psikoanalisis, Marxism, feminis dekonstruktif, teori queer.

Telah secara terus menerus mengabaikan kebiasaan buruknya. Dua kritik terhadap teori kritis yang disuarakan Ruti: penghancuran subjek dan antinormativitas radikal.

Teori sebagai perusahaan pembuat makna, menggambarkan dunia yang tidak sepenuhnya ada, bukan dunia yang kita huni. Dia hasil dari kekecewaan pada keteraturan yang mematikan pikiran. Ini berkelindan dengan moralitas Pencerahan yang telah menghabiskan sepanjang kariernya dengan mengkritik. Dan bagi sebagian, berperang melawan etos kapitalisme neoliberal.

Kebiasaan buruk teori kritis untuk melarikan diri dari etika normatif mungkin secara tidak sengaja bermain tepat di tangan kapitalisme neoliberal. Bukankah kapitalisme sebagaimana antinormativitas membenci batasan? Lagipula individu neoliberal yang mementingkan diri sendiri, yang terbiasa dengan kemungkinan eksistensial yang tak ada habisnya, yang tidak menyukai batasan kebebasannya; mungkin sangat senang dengan gagasan bahwa dia tidak boleh terikat pada norma-norma yang dengan cara tertentu menghalangi kemampuannya untuk bergerak di dunia tanpa batasan.

Teori kritis perlu mengembangkan kewaspadaan yang sebanding mengenai perbedaan antara kebiasaan berpikir yang stagnan dan kecenderungan kritis yang berguna (memelihara vitalitas). Teori kritis tidak kebal terhadap kebiasaan buruk.

Ruti, M. (2016). The bad habits of critical theory. The Comparatist, 40, 5-27.

Link: https://www.jstor.org/stable/26254752

#mariruti #criticaltheory #thecomparist #jstor #uncpress #selfcutting

Senin, 05 September 2022

5 September 2022

Nada lagu yang menghiburku hari-hari ini:

Rui sou sou si dou si la

Sou la si si si si la si la sou

Sabtu, 03 September 2022

Bojack: Hidup Tak Seestetik Itu

Sekitar sebulan yang lalu akhirnya saya usai menamatkan animasi percampuran manusia dan binatang, "Bojack Horseman". Serial ini tayang di Netflix sebanyak 77 episode dan menampilkan karakter yang berkarakter Bojack Horseman, Diane Nyugen, Todd Chavez, Princess Caroline, Mr. Peanutbutter, dll, di tanah Hollywoo. 

Serial ini saya tonton karena dapat rekomendasi dari kawan, dan saya juga akan merekomendasikan ke kamu juga jika kamu tertarik sama bab-bab: psikologi, filsafat, depresi, kesehatan mental, feminisme, eksistensialisme, nihilisme, PTSD, post-power syndrome, LBGTQ-to-asexual issue, trust issue, parent issue, and last but not least #me-too-movement. Bojack jadi serial lengkap ngupas hal-hal itu dengan caranya yang unik.

Di Google Scholar saya banyak mengunduh beberapa paper yang menganalisis Bojack, rata-rata skripsi yang berisi kritik sosial, isu personal, sisi kreatif, dan yang terbanyak terkait kesehatan mental.

Di sini saya akan bahas beberapa paper terkait Bojack yang menurut saya menarik:

1. Existentialism as Portrayed in the Netflix Series Bojack Horseman

Paper ini bahas konsep eksistensialisme dalam animasi buatan Raphael Bob-Waksberg ini dari perspektif filsuf eksistensialis, seperti Soren Kierkegaard and Friedrich Nietzsche. Singkatnya, bagaimana seorang individu bisa bebas dan bertanggungjawab akan dirinya sendiri dalam kehidupan, terhadap pilihannya, hasratnya, dan diikuti dengan konsekuensi penderitaan akan eksistensi itu. Dari segi Sartre, Bojack adalah penganut kebebasan radikal di setiap pilihan yang dia buat meski selalu bermasalah bagi orang lain.

Juga dari sudut pandang Blaise Pascal yang menganggap seseorang yang stuck hidupnya begitu lama, tanpa tujuan atau hal lain yang dia inginkan, ini akan berakhir dengan suatu kontemplasi terkait tidak berharga/signifikannya mereka, dan akhirnya hal itu membakar diri mereka sendiri. Jalan keluar untuk mengakhiri perangkap ini dengan mendistrak diri sendiri, hal ini yang terjadi pada tokoh-tokoh yang ada di serial Bojack.

2. Bojack Horseman, or The Exhaustion of Postmodernism and The Envisioning of A Creative Way Out

Paper ini semacam mengomel bagaimana serial Bojack ditampilkan dalam wajah postmodern yang lelah akan rencana dan kecenderungan. Juga capek memahami cara-cara kreatif. Seri Bojack dengan karakter-karakter yang anti-hero, serial ini menggugat keoptimisan teknologi dan demobilisasi budaya mainstream yang proper. Menurut pandangan paper ini, serial Bojack tidak hanya mengkritisi masyarakat kontemporer yang superfisial, tapi juga problem tanpa arti.

3. From Real Housewives to The Brady Bunch: Bojack Horseman Finds Its Place

Dalam artikel ini, serial Bojack disandingkan dengan serial lain "The Real Housewives" dan "The Brady Bunch". Dari sisi plot, Bojack membawa kebaharuan dibanding plot tradisional, konflik yang dihadirkan lebih bersifat suka-suka, arbiter, ambigu, dll.

4. Animals and Social Critique in BoJack Horseman

Bojack yang menderita krisis eksistensial, baginya eksistensi kehidupannya tidak berarti lagi. Bojack menderita dari alhkohol, obat-obatan terlarang, dlsb. Persepsi Bojack akan kehidupan dipengaruhi oleh nilai yang dipopulerkan oleh hiburan massa atau yang disebut dengan "Disneyfikasi". Ide itu seperti, relationship adalah tujuan puncak kehidupan seseorang. Konsep ini seperti halnya kita temukan dalam plot Disney, di mana tokoh utamanya menikah, sukses, dan berakhir bahagia.

Paper ini membahas Bojack dari teori posmodern Baudrillard (tentang hiperrealitas) dan Georg Simmel (tentang hiperindividualisme dan ‘total reserve’). Bojack adalah representasi dari masyarakat posmo yang penuh ironi dan skeptisisme, yang gak perfek, suka-suka, dan yah tak bermoral.

5. Personal Issues and Struggles in Life: A Thematic analysis of Bojack Horseman

Tema ini memperlihatkan pentingnya individu untuk dikenal dan diterima oleh orang lainnya, sebagai suatu ‘personal issue’ yang bisa terjadi pada siapa saja. Masa kecil Bojack yang sulit membuatnya kesulitan membentuk kehidupan personalnya. Paper ini menganalisis Bojack dari pendekatan "close reading". Sitkom yang penuh dark humor dan drama ini membawa penonton pada karakter, pemikiran, dan aksi mereka. Bojack menderita depresi yang dalam, kegelisahan, citra yang negatif pada diri sendiri, dan perjuangan dengan perasaan tak bermakna tanpa akhir.

Kritik saya pribadi: Film ini sangat keakuan sekali, ya hiperindividualisme-nya tinggi. Apa pun akan dilakukan untuk mewujudkan tujuan dan kepentingan personal.

#bojackhorseman #dianenguyen #mrpeanutsbutter #anthropomorphic #horsinaround