Kamis, 29 Juni 2023

Buku Seperti Air - Kumpulan Tulisan di Tirto.id

Buku ini saya beri judul “Seperti Air”, merupakan kumpulan tulisan yang pernah saya buat selama bekerja di Tirto.id periode 11 Desember 2018 hingga 27 Januari 2019. Usia yang seumur jagung dan tak banyak yang saya tulis, kalau dihitung-hitung ada 73 tulisan. Meski hanya sebentar, tentu setiap pengalaman kerja seberapa pun singkatnya selalu memberi saya pengalaman yang berarti.

Judul buku ini terinspirasi dari nama Tirto atau air, saya suka dengan filosofi air: lembut, lentur, fleksibel, damai, sejuk, dan menghidupi. Kadang saya berpikir, hidup sebagaimana “air putih” menjadi salah satu seni terpuncak dalam menjalani hidup. Dia tak seistimewa anggur, tapi selalu ada dan dibutuhkan.

Selain itu, refleksi penting yang terjadi pada saya dulu adalah, di tengah segala keterbatasan yang saya miliki, sebisa mungkin saya menolak untuk menjadi lemah dan bodoh. Di masa ini, saya paham jika hidup saya tak stabil, pun saya harus membiasakan diri dengan hidup yang tidak adil. Dan di antara ketidakstabilan itu, saya dengan tertatih-tatih mencoba untuk tidak lemah dan tidak bodoh.

Di Tirto.id ini, saya mengucapkan terima kasih banyak pada Yantina Debora, editor sekaligus guru yang mengajari saya jaringan dan aneka jenis website luar negeri. Ternyata dunia media dan berita bisa seluas itu. Juga terima kasih pada rekan-rekan di Tirto.id cabang Jogja: Mbak Yula, Mbak Dhita, Mas Iswara, Mbak Dipna, Mas Taher, Mas Irwan, Mas Agung, Mas Aziz, Mas Yandri, juga untuk Ayun, Anggit, Mas Windu, Mbak Maya, dll.

 File bisa diunduh di: https://www.academia.edu/104037279/Seperti_Air_Kumpulan_Tulisan_di_Tirto_id

Sabtu, 24 Juni 2023

Refleksi dari Merauke ke Lhokseumawe

Minatku untuk berkelana ke suatu tempat sudah meluntur drastis sejak perjalanan dari Lhokseumawe dan Banda Aceh. Tak kusangka, mimpi untuk sampai ke Papua terwujud juga, hingga ke ujung pulau di Merauke. Perjalanan yang memberiku perubahan besar. Aku tak lagi ingin membenamkan diri pada perjalanan per se, bandara ke bandara, stasiun ke stasiun, atau terminal ke terminal. Aku lebih ingin ke pengembaraan ide, ilmu pengetahuan, dan sejauh mana imajinasiku bisa berkelana. Berikutnya, aku akan lebih pada pengembaraan ide, gagasan, dan mendalami kedalaman hidup manusia.

Selasa, 20 Juni 2023

20 Juni 2023

Tiap kali kamu sedih, coba tullis apa kebutuhanmu, dan cari solusi untuk menyelesaikannya, gak papa, pelan-pelan, asal berkah.

Senin, 19 Juni 2023

Social Reproduction Feminisms

Diskusi Part III The SAGE Handbook of Marxism kali membahas tulisan Tithi Bhattacharya (Professor Kajian Asia Selatan), Sara R. Farris (Dosen Sosilogi), dan Sue Ferguson (Associate Professor Emerita, Digital Media and Journalism) berjudul "Social Reproduction Feminisms". Diskusi ini dipantik oleh Lina (@hiu_nangis).

Dari bacaan Lina, "reproduksi sosial mengacu para proses-proses yang memastikan kelangsungan struktur sosial dari waktu ke waktu." Selain itu juga menjaga reproduksi biologis untuk suatu populasi. Pandemi Covid-19 menunjukkan bagaimana kerja-kerja domestik berperan penting dalam berjalannya reproduksi sosial.

Kita bisa melihat praktik reproduksi sosial dalam peran-peran rumah tangga dan pekerjaan domestik yang menyediakan pasokan tenaga kerja. Perempuan kelas pekerja menanggung beban ini. Mariarosa Dalla Costa, Silvia Federici, Brigitte Galtier, dan Selma James pada 1972 telah menyuarakan kampanye tuntutan upah bagi PRT (WfH), feminis WfH melihat eksploitasi perempuan kelas pekerja sebagai penindasan gender untuk menghasilkan tenaga kerja.

Sementara, penelitian-penelitian sebelumnya telah menjelaskan bagaimana opresi terhadap perempuan di ranah domestik ini terjadi. Mary Inman tentang "In Woman's Defense" juga melawan terkait penindasan kelas pekerja. Dia menolak PRT sebagai bentuk konsumsi alih-alih kerja produktif.

Selain itu, gagasan Benston terkait jenis pekerjaan yang tak digaji, atau perdebatan apakah pekerjaan rumah dapat menghasilkan nilai tukar/nilai guna. Ada pun debat Lise Vogel yang menemukan sudut pandang modal, reproduksi sosial tenaga kerja, secara bersamaan diperlukan dan dianggap sebagai penghalang akumulasi.

"That is, women’s oppression in capitalist society is grounded in a socio-material or structural logic of capitalist reproduction that limits the possibilities for women’s freedom and equality."

Beberapa strategi feminis reproduksi sosial untuk menjawab surplus nilai dari kerja-kerja reproduksi sosial itu sendiri yaitu dengan: (1) pemberian universal basic income/UBI; (2) pemogokan kerja; (3) menciptakan reproduksi sosial queer.

Diskusi kali ini menyisakan pertanyaan yang belum selesai: (1) apakah pekerjaan reproduksi sosial layak untuk memiliki nilai?; (2) Bagaimana regulasi yang pas untuk mengatur secara ketat terkait kerja reproduksi sosial ini?; (3) Bagaimana hubungannya dengan Rancangan Undang-Undang/RUU Pekerja Rumah Tangga/PRT di Indonesia?

Dan...

Salah satu pertanyaan yang mengganjal dari diskusi Jumat lalu, ada dua pandangan dalam melihat peran Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan semua peran yang diembannya.

Pandangan pertama melihat IRT sebagai bentuk opresi, karena kerjaan rumah yang tak ada habisnya.

Kedua, IRT sebagai bentuk liberasi, karena dia punya privilese untuk merawat anak dan peran-peran gentle lain di rumah.

Meski dari bacaan lain yang saya baca, reproduksi sosial secara analisis didominasi oleh gagasan teori privilese dan interseksionalitas, sehingga analisis kelasnya jadi terkubur.

Di sini reproduksi sosial merasuk pada reproduksi dari cara kerja kapitalis, baik di ruang publik maupun ruang pribadi (mental, emosional, spiritual, dll); yang membuat pekerja kuat/bisa bekerja setiap hari.

Setiap proses produksi sisal pada saat yang sama juga akan melakukan proses reproduksi.

19 Juni 2023

Aku memilihmu, karena aku yakin, kamu gak akan nyakiti aku, dan itu lebih dari cukup.

Minggu, 11 Juni 2023

John Haldon - Mode of Productions

 

Profesor Sejarah dari Universitas Princeton, John Haldon dalam tulisannya ini me-rekonseptualisasi dan memproblematisir terkait mode of production atau kalau dialihbahasakan moda produksi atau corak produksi.

Dalam teori Marxis terkait materialisme sejarah, corak produksi merupakan kombinasi spesifik dari kekuatan produktif yang di dalamnya termasuk kekuatan kerja manusia dan alat produksi; serta relasi produksi sosial dan teknis (seperti relasi properti, kekuasaan, dan kontrol).

Salah satu kritik Haldon dengan melihat "moda produksi" yang menjadi penggerak dalam perubahan sosial, menjadikan manusia sebagai makhluk sosial dapat direduksi terlalu mudah menjadi "ekonomi" dalam arti yang paling kasar.

Padahal di lapangan, masalah, konsep, dan praktik dari corak produksi ini kompleks dan chaos. Tidak mungkin melokalisasikan perubahan sosial ke dalam faktor tunggal, tapi lebih ke kontingensi (ketidakpastian) dan saling ketergantungan dari berbagai variabel.

Sebagaimana yang Sulkhan (pemantik diskusi) jelaskan, Haldon mengkritisi para akademisi yang dalam diskusi materialisme historis maupun praktik sosial-historis lupa dengan alasan mengapa Marx mengembangkan konsep "mode of productions" ini. Moda produksi ini terdiri dari (1) kekuatan produksi: semua elemen dalam proses produksi seperti teknologi, alat, mesin, tenaga kerja; (2) relasi produksi: kerangka institusional relasi kepemilikan.

Moda produksi ini bisa dilihat coraknya dari komunal primitif, ancient mode of production, feodalisme, kapitalisme, sosialisme. Haldon mengkritik, Marx cenderung mengabaikan variasi historis serta dinamika internal moda produksi di masyarakat yang kompleks.

Moda produksi merupakan penggerak utama spesifik dalam "perubahan sosial" dan bisa memperlihatkan relasi ekonomi fundamental dalam suatu struktur sosial tertentu. Menurut Haldon, "[d]ifferential and contradictory or conflicting relationships to the means of production of distinct socio-economic groups can generate social change..." (hubungan yang berbeda dan kontradiktif atau bertentangan dengan alat produksi kelompok sosial-ekonomi yang berbeda, dapat menghasilkan perubahan sosial).

Moda produksi menentukan jalan koordinasi produksi, dan menggunakan moda produksi sebagai metode untuk membaca karakter spesifik dari produksi dan relasi produksi kapitalis di suatu masa. Dengan melihat moda produksi maka terlihat juga bagaimana eksploitasi yang terjadi, relasi kelasnya, hingga produksi kapitalis itu sendiri.

Haldon membagi tiga hubungan dimensional dalam sejarah yang menentukan moda produksi: (1) agensi dan struktur, (2) kemungkinan dan konteks, (3) persepsi/kepercayaan dan praktik. Dengan melihat tiga hal ini, kita bisa memberi kerangka heuristik terkait moda produksi yang sering dikerjakan secara berbeda, seperti dalam mode domestik, mode peasant, mode nomadic, dll.

Moda produksi dengan perspektif demikian akan menyesuaikan dengan bentuk sejarah sosial yang aktual, sehingga dapat memahami transformasi dari mode of production itu sendiri.

#johnhaldon #modeofproductions #corakproduksi #princetonuniversity #SAGE #scholar #karlmarx

Kutipan:

"Neither slavery nor serfdom, as ways of exploiting labour and extracting surplus, for example, along with the systems of property rights with which they may be associated, must necessarily indicate a mode of production, since by themselves they do not describe the totality of the relations of production, appropriation, and distribution of social wealth, nor how the production, accumulation, distribution, and redistribution of surplus wealth is integrated into a process of social reproduction of the society in question as a totality."

Sabtu, 03 Juni 2023

Kapitalisme Merchant

 

Ya, karena akhir-akhir ini saya malas nulis dan baca (entah kenapa semakin kesini, saya jadi kehilangan banyak minat, makin pesimis tiap hari tapi hidup harus tetap berjalan, halah)... semalam seperti dapat pantikan buat terus sinau lagi. 

Ofek, Sulkhan, dkk, buat semacam diskusi baca buku "The SAGE Handbook of Marxism" yang diedit oleh Beverly Skeggs, Sara R. Farris, Alberto Toscano, dan Svenja Bromberg. Dengan jumlah halaman hampir 1.700, buku ini terdiri dari 3 volume, 7 bagian, dan 87 bab.

Lumayan lah ya kalau habis, kek bisa melampaui kemalasan baca buku-buku tebal dengan cara yang lebih kolektif--bahasa Inggris lagi, double2 belajar dan mahaminya, susah sih, tapi asyik.

Jumat (2/6/2023) malam (ya, diskusinya tiap Jumat pukul 21.00 WIB, kalau mau join, feel free bisa ngubungi Ofek, Sulkhan, kawan2 Ofek yang tergabung, atau aku juga bisa), bersama secara Zoom, kami bahas tulisan scholar Marxist dari India namanya Jairus Banaji. Blio lulusan SOAS, bisa cari ceramahnya di YouTube.

Kenapa Marxisme lagi? Ya, seksi aja kata Ofek, wkwk. Atau kata Sulkhan: belajar ini biar bisa jadi pedagang yang sukses :D Hahaha, ya, karena ini tuh sebenarnya berhubungan sama kita tiap hari, dari struktur dasar sampai struktur-supra.

Tulisan Banaji yang kami bahas judulnya "Merchant Capitalism", kalau di-Indonesia-in apa ya, kapitalisme niaga, kapitalisme saudagar, kapitalisme pedagang, kapitalisme komersial. Ya itu lah, intinya trading capital.

Inti tulisan Banaji yang kutangkap setelah diskusi (ya, karena sebelumnya saya di luar kota, belum selesai baca, dan aktif dengerin aja), yang saya tangkap, di awal Banaji bahas konsep merchant dari Marx di Capital Vol. III. 

Merchant yang dimaksud Banaji adalah sekelompok pedagang yang kuat, yang berhubungan dengan perdagangan impor/ekspor, pasar uang, dan bukan untuk pedagang massa (yang terdiri dari bisnis ritel kecil dan pedagang kecil) yang mengangkangi kelas menengah dan massa pekerja upahan.

Merchant di sini bagian dari spesies kapitalis, bagian dari agensi industri kapital. Merchant besar tidak hanya menjual dan membeli, tapi dia juga berperan dalam sirkulasi dengan cara mentransportasikan barang dan mengorganisir distribusi/pekerja. Di term lain barangkali khas gaya-gaya tengkulak.

Banaji mengkritik Marx yang seolah meng-underestimated peran dari merchant ini (khususnya dalam konteks di Lyons), padal perannya sangat penting. Banaji mengatakan: "The merchant class was ‘dynamic’ and ‘entrepreneurial’ but only once is it described as capitalist (as far as I can see), and the expression ‘commercial capitalism’ is entirely missing."

Lewat tulisan ini, Banaji menekankan terkait peran merchant tadi. Dia membuat taksonomi dari kapitalisme merchant ini jadi 4:

1. Sistem Verlags (bagaimana merchant kapitalis ini mencerai beraikan kelas pekerja dengan cara mengontrol sarana pekerjaan subkontrak, nama lainnya sistem bengkel/sistem domestik, di mana agen merchant mengontrak pekerja dengan menyelesaikan proyek jarak jauh)

2. Pasar uang internasional (yang tidak lagi berurusan dengan komoditas, tetapi dalam uang dan pertukaran, ya, kek broker saham dan dunia persahaman gitu)

3. Usaha perkebunan (perdagangan kolonial, mirip2 sistem VOC)

4. Hasil perdagangan (salah satu poinnya berurusan dengan prodeusen rumah tangga, yang agregat tenaga-kerjanya diekspolitasi melalui dominasi harga)

Refleksi dari teman-teman yaitu, contoh yang diberikan Banaji masih kebanyakan dalam konteks luar negeri, bagaimana dengan di Indonesia? Dan bagaimana dengan sekarang? Misal kayak abang-abang go-food, TikTok affilate, Shopee, dll, di mana "merchant" ini beroperasi, berperan, dan memberi dampak?

Quote:

"‘merchant’ in this chapter of the Handbook stands for the more powerful groups of merchants connected with the import/export trades and the money-markets, and not for the mass of traders, which, in most countries even today, consists of the smaller retail businesses and petty traders straddling the middle class and the mass of wage-labourers."