Sabtu, 31 Juli 2021

Ocean

Jika ada vibe atau mood tulisan yang bagaimana yang kusuka, aku suka tulisan-tulisan Ocean Vuong.

Ya, honestly, aku ingin belajar darinya. Berikut ku-repost tulisan Ocean:

"Someday I'll Love Ocean Vuong"

Ocean, don't be afraid
The end of the road is so far ahead
it is already behind us.
Don't worry. Your father is only your father
until one of you forgets. Like how the spine
won't remember its wings
no matter how many times our knees
kiss the pavement. Ocean,
are you listening? The most beautiful part
of your body is wherever
your mother's shadow falls.
Here's the house with childhood
whittled down to a single red tip wire.
Don't know. Just call it horizon
& you'll never reach it.
Here's today. Jump. I promise it's not
a lifeboat. Here's the man
whose arms are wide enough to gather
your leaving & here the moment,
just after the lights go out, when you can still see
the faint torch between his legs.
How you use it again & again
to find your own hands.
You asked for a second chance
& are given a mouth to empty out of.
Don't be afraid, the gunfire
is only the sound people
trying to live a little longer
& failing, Ocean. Ocean -
get up. The most beautiful part of your body
is where it's headed. & remember,
loneliness is still time spent
with the world. Here's
the room with everyone in it.
Your dead friends passing
through you like wind
through a wind chime. Here's a desk
with the gimp leg & a brick
to make it last. Yes, here's a room
so warm and blood-close,
I swear, you will make -
& mistake these walls
for skin.

Sumber: Buku "Night Sky With Exit Wounds" karya Ocean Vuong

Kamis, 29 Juli 2021

Pesan Guruku

"Pe neruske ning ndi Ma? Neruske Ma, meski hanya D1, kamu punya potensi. Gini Ma, pokoknya kamu berjalan terus, mboh piye carane jalan terus, liyane piye gak usah dipikirno, berdirilah sendiri, jangan membebani orangtua, carane aku kudhu wani rekoso." Cepu, 21 Januari 2011

Rabu, 28 Juli 2021

Mencari Timur dengan Konservatif

Beberapa hari ini, aku mendengarkan lagu-lagu The Adams. Lagu-lagu mereka seperti meminangku dengan cara yang sangat sopan. Ia masuk ke telingaku dan membuatku bahagia, entah karena liriknya atau karena melodinya. Lima lagu teratas yang kusuka: "Timur"; "Konservatif"; "Hanya Kau"; "Pelantur"; dan "Masa-Masa". Ntahlah, tiga lagu pertama ini seperti mewakili keadaan dan fase hidupku sekarang. Bahwa: Aku sedang mencari Timur dengan cara yang konservatif, karena dia memberiku jalan bagaimana menjadikan hidup lebih indah.

Kalau boleh jujur, fase hidupku adalah fase yang lelah dengan pola-pola yang kujalani sekarang. Dan sudah tak menggebu-gebu lagi menjadi barisan anak-anak subversif yang ingin mencoba dan melawan ini-itu. Justru tahap menjadi konservatif mungkin jadi pilihan paling stabil dan riil. Konservatif dalam artian KBBI: "bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku" dan bisa jadi "kolot" untuk sikap dan prinsip tertentu saat ini.

Lagu "Konservatif" The Adams begitu indah menurutku. Segala kesederhanaan lagu itu membumikan sukmaku yang ndakik-ndakik. Sungguh, kau yang mengenaliku akan paham kalau aku ini sebenarnya hobi dengan yang ndakik-ndakik, suka yang tinggi-tinggi, senang yang sulit-sulit; kalau ada yang lebih sulit, mengapa harus yang mudah? Kadang begitu cara pandangku.

Dan ketika kumendengar lagu "Konservatif" rasa terharu itu tak bisa kutahan, dan aku tak keberatan menjadi medioker; meluruhkan kedakikanku; dan menjadi biasa-biasa saja. Aku ingin ngobrol dengan Timurku, menyuguhkannya gelas berisi air putih, dan kita berbicara tentang apa saja di Jogjakarta. Lalu jam sembilan malam dia akan pulang. Prosesi apel yang suam bukan?

Oh, sungguh indah kata itu, "Berbicara tentang apa saja!" Aku kadang mengatakan pada diri sendiri, "Kalau ada orang yang mau dan tahan mengajakku ngobrol tentang apa saja, aku ingin menjadikan orang itu sebagai Timurku." Dan ketika nanti kami menikah, aku akan menyetel lagu "Timur" The Adams ini untuknya. Aku ingin mengatakannya dengan sungguh-sungguh bahwa: aku tak bisa menjanjikan surga, atau bahagia untuk selamanya, tetapi jika Timur percaya, pasti ada jalan.

Hingga saat ini aku ingin menangis ketika mendengar lagu "Hanya Kau"... Aku tak bisa berkata-kata lagi. Lagu yang lebih cocok diperuntukkan untuk diriku sendiri daripada untuk Timur. Ya, terima kasih untuk diriku yang sampai saat ini masih sanggup diajak berjuang meski rasa telah mati. Dan tetap mencari yang terbaik di dalam hati ini. Dengan ketemu siapa, ketemu siapa, ketemu siapa, dari situ aku akan berkembang.

Dan kau melihat kan Timur, aku mulai melantur seperti kritik The Adams di lagu "Pelantur". Timur, mataku sudah lelah memandangi layar sehari-hari hanya demi memastikan kantongku tak kosong seperti biasanya terjadi berkali-kali. Masa depan begitu menakutkan Timur, dan akan percuma jika aku selesai di tengah jalan.

Namun tiap kudengar namamu, makin terbayang masa depanku...

Semakin jelas tujuan dan yang harus aku lakukan...

Rabu, 21 Juli 2021

Full House (2004): Aja-Aja Fighting!

Jika ada kehidupan lain di muka bumi, kisah di mana hidup ingin kujalani, aku ingin menggantikan tokoh Han Ji-eun. Seorang perempuan yang selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya jadi gembira, seorang penulis yang tidak mudah menyerah meski dibilang beberapa kali ceritanya payah, dan dengan segenap keluguan-kenaifan, dia begitu menghargai dunia ini. Dia memiliki jiwa resiliensi yang sebegitu kokohnya untuk bisa memaafkan kejadian-kejadian yang merugikannya atau membuatnya menderita. "Dia adalah wanita yang selalu memiliki harapan dan kebahagiaan bahkan pada hal kecil."

Kekecewaan terhadap sabahat yang rela menjual rumah satu-satunya Han Ji-eun (Song Hye Kyo) dari orangtuanya, membebani Han Ji-eun dengan tarikan kartu kredit, dan menguras semua uang Han Ji-eun; bisa dikomedikan dengan sebegitu manisnya di film ini. Hingga kita melupakan kejahatan orang-orang terdekat dan masih berhubungan baik dengan mereka.

Hal yang menurutku paling menarik, selain karakter dari Han Ji-eun juga plot yang begitu simple dalam film ini. Simplicity is the best choice tergambar dari adegan yang terjadi di situ-situ saja (ruang-ruang rumah (ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur, dapur, halaman, gazebo), kafe, kantor, taman); tidak ada penambahan karakter lain seiring perubahan kejiwaan; dan komedi yang dibangun dengan memanfaatkan rasa bersitegang antara mau-tidak mau begitu menarik diikuti. 

Dan harus kuakui, kedua pasangan di drakor ini mampu membangun chemistry dengan baik; tak salah jika keduanya mendapat penghargaan Pasangan Terbaik di ajang KBS Drama Awards 2004. Lee Young-jae (Rain) dengan karakter tengilnya, keras kepalanya, sensitifnya, kepeduliannya, kakunya, sifat cool-nya, dan cerdasnya benar-benar akan mencuri atensimu ketika melihatnya. Di lain itu, Lee Young-jae sangat menyukai kebersihan, rajin berolahraga setiap hari untuk kesehatan, dan tekun membaca buku. Kau lihat kan, betapa berhamburannya adegan membaca buku di Full House yang dilakukan Lee Young-jae.

Lalu perhatikan kebiasaan Han Ji-eun yang seorang penulis. Dari episode 1 s.d. 16, tak pernah kuperhatikan Han Ji-eun literally membaca buku seintensif Lee Young-jae membaca buku. Padahal Han Ji-eun ini kan penulis! Lebih sering adegan Han Ji-eun duduk di depan komputer, mengerjakan naskah untuk film yang diproduseri Yoo Min-hyuk (Kim Sung Soo), atau yang relevan terkait karier menulisnya adalah ketika Han Ji-eun pergi ke Shanghai kemudian dia melakukan potret-potret seorang diri, juga melakuan observasi kemudian menulisnya dalam notes kecil. Sungguh part itu aku sekali!

Di sisi diriku yang lain, aku merasa Han Ji-eun ini tokoh yang ambivert. Dia bisa jadi orang yang sangat penyendiri, tapi juga bisa bergaul dengan orang lain seperti keluarga Lee Young-jae dengan mudah. Dia bisa terlantar dan tersesat seorang diri di luar negeri, tapi punya inisiatif untuk merepotkan orang lain guna menyelamatkan diri sendiri secara konyol (tapi cukup manjur). Trik dan tips Han Ji-eun kapan-kapan jika sangat kepepet bisa untuk ditiru, hahaha. 

Ah tentu, secara kekayaan dan kecerdasan, dibanding Han Ji-eun yang dipanggilnya Unggas, atau Ayam, atau Kukuk bertolak belakang. Han Ji-eun sebelum Lee Young-jae datang adalah gadis yang berantakan, agak bodoh, eskpresif, dan tentu lucu. Han Ji-eun lucu bukan hanya karena dia suka menyanyikan lagu Tiga Beruang, tapi juga sifat konyolnya yang begitu naif--dan kau melihatnya juga, jika Lee Young-jae ikut-ikutan naif: dia pergi ke Taman Safari, dia memakan makanan yang serupa makanan anjing, hingga puncaknya Lee Young-jae memutuskan ke daratan tinggi Korea untuk meditasi, untuk meneladani Buddha.

Bagian spiritual lainnya menurutku adalah ketika berseda. Plis, ini moment yang paling aku suka tiap kali mereka beradegan menggunakan sepeda. Saat Lee Young-jae mengajari Han Ji-eun naik sepeda, saat Han Ji-eun dibonceng sama Lee Young-jae pas mereka bulan madu, saat Han Ji-eun dan Lee Young-jae bersatu kembali. Moment sakral lainnya adalah ketika bersih-bersih, memasak, dan sikat gigi bareng. Duh, itu moment sejuta umat yang terasa bedaaaa jika mereka yang melakukan.

Tentu kegiatan bersih-bersih menjadi hal paling membosankan di rumah, tapi kenapa Lee Young-jae sebegitu terobsesinya dengan kebersihan (juga ketenangan) membikin adegan menyapu, mengepel, mengelap kaca, mencuci baju, membersihkan WC, membersihkan meja, mengelap instalasi, mengelap foto, jadi sebegitu berkesan? Juga terkait kegiatan menulis. Argh! Aku tak kebayang kalau memiliki tape recorder itu penting banget bagi seorang penulis karena bisa menjadi penunjang dan alat produksi dalam berkarya.  Dan sepertinya, agar bisa "sedikit sukses" aku mesti bekerja sekeras Han Ji-eun sampai dia tertidur di depan komputer berhari-hari. Ah, aku belum sekeras itu.

Terkait mencintai, duh Tuhan, apa manusia memang begitu ya. Dia menginginkan apa yang tidak bisa dia dapatkan. Sebagaimana Kang Hye-won (Han Eun Jung) pada Yoo Min-hyuk, sebagaimana Yoo Min-hyuk pada Han Ji-eun, sebagaimana Lee Young-jae pada Kang Hye-won, dan sebelum bersama sebagaimana Han Ji-eun pada Lee Young-jae. Tentu menunggi seseorang adalah hal yang melelahkan. Meski begitu, semua mantranya sama kan: AJA-AJA FIGHTING!

Harus kukatakan, jika Full House adalah drama Korea terbaik yang pernah kutonton, mengalahkan semua drakor yang pernah kusaksikan. Aku merasa engage secara personal di film ini. Sebab rumah itu, sebab profesi menulis itu, sebab sepeda itu, sebab kekonyolan itu, sebab kebersihan itu, dan rasa aneh yang tak bisa ditarikan oleh kata-kata.

Selasa, 20 Juli 2021

Critical Eleven (2017): Drama Cinta-cintaan yang Kemanisan

Cukup capek saya memaksakan untuk menonton film ini hingga akhir. Saya menjedanya hingga tiga waktu. Dan sensasi kedalaman yang saya temukan di film Kapan Kawin (2015) berbeda dengan pesan yang ingin disampaikan film ini, meski sama-sama dibintangi oleh Reza Rahardian (Ale) dan Adinia Wirasti (Anya). Sepanjang yang saya rasakan, isinya lebih seputaran suami over-protektif dan kisah cinta-cintaan lebai kemanisan dan bikin mual.

Wajah Suntuk Kelas Pekerja @ Critical Eleven (2017)
Dan latar belakang kota New York, Manhattan, dlsb, tak sanggup membayar kebosanan saya di 40 menitan awal film ini saya putar. Harapan saya ketika menonton adalah saya akan belajar terkait kehidupan suami-istri yang lebih dewasa; meski nyatanya bukan pendewasaan, tapi saya justru drained dengan emosi-emosi yang dihadirkan dan cukup hectic dengan konflik bertele-tele yang dimunculkan. Saya juga tak begitu mempedulikan dengan taburan bintang yang bermain dalam film ini, atau siapa sutradaranya, atau diangkat dari novel siapa; yang pasti saya merasa guilty  pleasure.

Dalam ingatan saya, konflik dalam film ini benar-benar baru dimulai ketika Anya mendapati bahwa Aidan bayi yang dikandungnya sudah tidak bergerak lagi. Ternyata, bayi tersebut meninggal di dalam perut. Sungguh itu perjuangan yang luar biasa menjadi seorang ibu. Ya, di titik itu saya bisa berefleksi bagaimana menata emosi. Juga pelibatan keluarga dalam proses rekonsiliasai antara Ale dan Anya di sini cukup penting juga, sebagaimana kata si ibu, "Jika kamu punya keluarga, ngapain sendiri?"

Membaca review dari Rio di Medium ini, menurut saya juga menarik. Saya jadi punya sudut pandang berbeda bagaimana jika tokoh-tokohnya memang dari kelas sosial yang berbeda. Beban yang dialami Ale dan Anya lebih banyak ke beban psikologi daripada ekonomi, bagaimana jika dua pasangan ini sama-sama buruh dan jangankan di New York, bisa nyewa rumah sederhana saja sudah bersyukur. 

Ya, film ini adalah tentang orang kaya dengan masalah-masalah universalnya. Dengan tempat-tempat super sibuk dan high class.  Juga kritik saya terhadap Anya dan Ale yang cenderung bersikap drama queen dan drama king. Melebih-lebihkan apa yang terjadi: ingin jadi sosok yang utama, kesedihan yang didramatisir, dan lainnya. Dan begitu mudahnya perekonomian bagi mereka: bisa cuti tanpa sanksi karena kinerja buruk, bisa kembali bekerja di tempat yang sama meski hamil, bisa membatalkan penerbangan sesukanya, bisa pindah dengan mudah dari New York ke Jakarta kek pindah dari Prambanan ke Sleman, dsb-dsb.

Dengan masalah kehilangan anak itu, penyelesaian dan self-healing sebagai orang kaya memang lebih mudah. Pergi ke Melbourne misal, atau konyol nyoba tenggelam di kolam renang, atau haha-hihi cipika-cipiki bareng gank di restoran mahal, dsb-dsb. Kalau butuh support sahabat dan saudara juga ada, kurang apalagi? Saya bilang juga apa, jadilah Anya dan Ale!

Wedding Agreement (2019): Janji Dibuat, Janji Juga Diingkari

Film ini memang khas film-film kelas menengah atas yang "Islamis". Di mana semua tokohnya tak ada masalah seputar finansial dan makanan, serta memiliki rumah yang bisa dikatakan "sangat layak dan ideal". Ya, meski bumbu konfliknya ala sinetron-sinetron: perjodohan dan yang dijodohkan salah satunya berontak.

Jika film ini meniru "Full House", drama percintaan antara Lee Young Jae dan Han Ji Eun, oh, sangat TIDAK. Dengan dalih kearifan lokal pun tidak sama. Sebagaimana narasi film sejenis yang predictable "Wedding Agreement" yang diangkat dari novel berjudul sama karya Mia Chuz ini memang memberi kesan religi pada saya, tapi tak kuat. Cenderung lebih bersifat formalis dan normatif. 

Petuah seputar pernikahan akan berhamburan: "Cerai itu bisikan setan, setan menyukai orang yang bercerai"; "Isri punya kewajiban berbakti pada suami."; yah kecuali guyonan Ami (Ria Ricis), "Mau ditaruh di mana muka gue yang pas-pasan ini Taaar."

Wedding Agreement

Baiklah, Byan (Refal Hady) yang kecelakaan menikahi Tari (Indah Permatasari) karena orangtua ini mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Diceritakan masing-masing orang memiliki karakternya sendiri yang keduanya sama-sama keras kepala, mandiri, dan keukeuh pada keputusannya sendiri. Tari ingin jadi istri sholehah bagi Byan; sedangkan Byan ingin menikahi pacarnya Sarah (Aghiny Haque) yang sudah lima tahun menjalin hubungan.

Dan Tari adalah representasi perempuan sejuta umat yang dimiliki Indonesia. Perempuan yang halus, memiliki niat mulia, berbakti pada orangtua, mengabdi pada Tuhannya, dan sering membaca Al-Qur'an ini tentu jadi sosok yang diidam-idamkan segala mertua dan calon suami. 

Tentu, film ini berakhir sebagaimana telah kita ramalkan di awal, film yang sangat sinetron ini pun niscaya akan membuat haru. Perjanjian pernikahan yang dibuat setelah menikah tidak terlaksana, dan malah dilanggar. Hingga masing-masing suami-istri ini saling mengenal: nonton bersama, makan bersama, jalan bersama, belanjar bersama, dan tentu hidup bersama. 

Bukankah itu akhir yang indah? Akhir yang diinginkan orang-orang? Agar semua sama-sama senang?

Bidadari Mencari Sayap (2020): Pendewasaan Rumah Tangga Berbeda Latar Belakang

"Bidadari Mencari Sayap", ini salah satu film terkait Rumah Tangga yang menurutku lebih riil dibanding dengan tema-tema serupa yang pernah kutonton. Mataku jadi lebih kebuka lagi gimana rumitnya pernikahan, ketika itu berbenturan dengan ego diri, hak prerogratif suami, hubungan dengan orangtua, dan hubungan dengan keluarga besar.

Namun, ada hal paling urgent dalam film ini, yaitu soal prinsip hidup yang dipegang kuat oleh kedua tokoh utamanya yang juga sekaligus suami-istri: Reza (Rizky Hanggono) dan Angela Tan (Leony Vitria Hartanti). Pasangan ini sebelum menikah sama-sama berbeda agama, Reza berasal dari keluarga Islam taat dan Angela dari agama Tiong Hoa (Babah, Cici, Cece apple to apple with Abi, Ummi).

Ciyeee suami
Aku salut dengan tokoh Angela, dia memutuskan untuk pindah Islam karena kesadarannya sendiri, bukan karena Reza atau tuntutan keluarga. Pun ketika keluarga Reza menekan Angela untuk berhijab, terlebih ibu Reza, Angela ribut dengan Reza soal itu. Dan kau tahu apa yang dikatakan Angela, "Aku ingin berhijab karena alasan aku sendiri, bukan karena alergi di kulit kepalaku atau disuruh ibu kamu."

Jleb. Istri yang keren. Dan ketika Reza marah saat itu, Angela juga bilang: "Kamu tahu kenapa aku ikut agama kamu? Karena aku yakin, Islam tak pernah mengajarkan kebohongan, kepalsuan!" Iya, kebohongan atau suatu kemunafikan untuk terlihat baik di depan orang lain. 

Di sisi lain, aku juga suka dengan prinsip yang Reza pegang dalam pekerjaan. Reza bekerja di semacam media jurnalistik online, lalu pemimpin redaksinya lebih bermoral pasar daripada kepentingan khalayak. Akhirnya cek-cok terjadi, karena Reza tak sejalan, akhirnya dia memilih keluar meski itu akan memberatkan dia dan keluarganya. Dan apa yang dikatakan Reza pada bosnya: "Saya tidak suka berhubungan dengan badut sok jenius seperti Anda!"

Akhirnya, Reza memanfaatkan mobilnya untuk menjadi "kaki-kaki yang lain" mencari makan. Dia jadi driver online, dan sebagaimana sifat laki-laki yang seolah semua masalah bisa ditanggung dan diselesaikan sendiri, Reza tak memberi tahu Angela atas dipecatnya dirinya. Ditambah keributan soal latar belakang yang berbeda, yang menjadi penghambat Rumah Tangga, Reza memutuskan untuk tinggal di penginapan temannya.

Di penginapan itu, Reza bertemu dengan Soraya. Mahasiswa S2 Psikologi yang lumayan eksentrik, hedon, dan berani. Untunglah, karakter Soraya ini hanya tempelan saja, yang tak berperan signifikan dalam alur rumah tangga Reza-Angela, meski aku sedikit was-was akan ada konflik cheesy di dalamnya. 

Bom waktu itu pun meledak, ketika Reza pulang dan mendapati istrinya bekerja, Reza jadi sangat merah, murka besar, dan apa pun yang ada dibanting. Dia merasa kuasanya sebagai suami diinjak-injak, dia merasa istrinya Angela tak menghormati keputusannya, dia merasa lebih baik dan istrinya salah, dia merasa benar sendiri. Pertengkaran itu begitu menghanyutkanku, di kenyataan, aku yakin masih banyak lelaki yang seperti itu. Kedewasaan lagi-lagi jadi faktor penentu.

Bidadari itu Angela
Hingga akhirnya orangtua menjadi tempat mencari saran terbaik. Reza datang pada ayahnya dan diberikanlah petuah-petuah rumah tangga bahwa mereka berbeda dan jalan keluarnya adalah saling hormat menghormati. Dan tentu si anak, Rasya, bisa menjadi penghubung semua ini. Juga Babah yang merasa lebih nyaman tinggal bersama Angela, dibanding dua anaknya yang lain, yang kaya raya sundul langit, meski akhirnya, yah... kena OTT, tersandung korupsi.

Jika dibilang ide sutradara Aria Kusumadewa populis dalam film ini, barangkali aku sepakat. Tapi akting Angela dan Reza secara emosi dapat. Apalagi ketika Reza nulis status di WhatsApp, pengen aku bilang: "Brengsek! Sempet-sempetnya! Haha." Karakter mereka dalam film ini juara sih.

Aku suka dengan adegan-adegan simbolik dan percakapan antar perbedaan keyakinan antara Reza dan Angela. Atau dialog-dialog antara Babah, penjual baju koko (Johan-Deddy Mizwar), dan Pak Boro penjual nisan. Begitu paradoks hidup, saat orang sedang dilanda kesedihan, ada pihak-pihak yang justru mendapat rezeki karena itulah sumber pendapatannya, "Belum ada orang mati!" kata Boro. Dan masih terkenang juga apa kata Johan dalam film ini: "Di tempat ini toleran karena para pemuka agamanya memberikan pemahaman yang benar pada umatnya."

Senin, 19 Juli 2021

Soegija (2012): Citra Romo yang Tak Sampai

Begitu besar harapanku kala menonton film ini. Aku berharap ketika nonton film ini akan mengobati rasa kangenku pada Romo Soegija, yang makamnya sering aku kunjungi ketika masih tinggal di Semarang. Ah, rasanya detik ini, ketika aku menulis ini, rasanya begitu sentimentil. Romo Soegija bagiku sudah kuanggap seperti kakekku sendiri, di mana kami terlepas menganut agama apa, agama pemersatu kami adalah agama kemanusiaan. 

Dalam bayanganku sebelum menonton, Nirwan Dewanto tampak cocok memerankan diri sebagai Romo Soegijo, ditambah ada campur tangan besar dari Garin Nugroho, kupikir film ini jadi salah satu master piece. Ternyata, harapan saya berlebihan dan terlalu muluk-muluk. Justru kesan yang saya dapat adalah saya semakin tak mengenal Romo (saya meragukan apa benar karakter Romo seperti itu), film ini juga membosankan hingga saya menjedanya sampai tiga waktu untuk melanjutkan sampai selesai, dan roh Romo seperti tak menghampiri saya. Dan jujur, saya sedih.

Soegija
Film yang saya kira bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan Romo ini gagal dieksekusi. Justru lebih berhasil Ayu Utami dalam bukunya "Soegija: 100% Indonesia", di mana dalam buku itu saya bisa menangis hingga merenung panjang. Buku yang diceritakan dengan indah tentang kehidupan Romo dari dia kecil, merantau ke Magelang, ke Semarang, ke Belanda, ke Jerman, dll, hingga akhirnya menjadi uskup. Buku yang dengan indah menceritakan seorang penggembala Tuhan yang dengan kebesaran hati dan kecerdasannya 

Sosok Romo Sogija dalam film ini lebih ditampilkan kebanyakan dari narasi dan tulisan beliau, tanpa departemen akting yang kuat dan all out dari sosok Nirwan. Justru beberapa scene-nya cenderung menampilkan kebiasaan-kebiasaan maskulin yang saya kurang suka, seperti lawakan yang telalu cheesy, merokok menggunakan cerutu, atau  cara berjalan yang sangat kaku. Kukira Romo tak semenyebalkan itu Tuhan. Dan kata-kata tentu bukan sikap nyata, kata-kata Romo tak begitu kuat menggambarkan diri Romo. 

Justru pesan yang kuat saya tangkap dari kisah tentang Tan Malaka, yang meski diasingkan di luar negeri, otak dan jiwa-raganya di Indonesia.

Apa artinya merdeka jika tak bisa mendidik diri sendiri

Benar Mas Amir yang menyatakan dalam websitenya jika, "Soegija adalah kesalahan pencitraan yang fatal." Dan juga, "Mereka tak tahu apa yang diinginkan dalam film ini" begitu kelihatan. Satu-satunya obat menyenangkan ketika saya menonton film ini adalah ruang dan arsitektur Gereja Gedhangan, tempat di mana saya pernah masuk gereja untuk pertama kali, sekaligus moment di rumah putih dengan ornamen biru ketika saya mewawancarai salah satu pastor sepuhnya dulu. 

Film ini lebih cocok jika judulnya "Mariyem" atau "Semarang Era Revousi", karena lebih banyak bercerita tentang fragmen-fragmen penjajahan Belanda dan Jepang. Juga kisah-kisah orang biasa yang direnggut kebebasan dan haknya, tapi lagi-lagi dengan emosi yang tidak sampai. Scene-scene jadul memang beberapa indah, tapi pembahasaannya kaku.

Soegija: 100% Katolik, 100% Indonesia
Kisah ini lebih cocok memang untuk Mariyem (Annisa Hertami) dengan kisah cintanya pada wartawan Belanda atau kisah dia dengan kakaknya yang akhirnya tewas. Atau cuplikan kisah Ling Ling (Andrea Reva) kehilangan ibunya (Olga Lydia). Atau kisah jenderal Jepang Nobuzuki (Suzuki) yang rindu anaknya. Atau kisah musisi-musisi yang setia pada keluarga. Tapi sekali lagi tak cocok menggambarkan Soegija.

Romo Soegija, Isma rindu Romo. Tapi dalam film ini, Isma tak menemukan Romo. Aku gak papa Romo, kapan-kapan akan kuceritakan pada Romo, cerita yang lebih indah...

Toilet Blues (2014): Ada yang Bisa Saya Bantu?

Melihat film ini saat kamu depresi akan membuatmu tambah depresi. Film ini salah satu film kelam yang pernah saya tonton. Digarap dengan visual tempat-tempat berembun, gloomy, usai turun hujan, atau kala surup; sialnya musiknya pun tak kalah menyayat, meski hanya dengan backsound suara jangkrik, suara angin, suara kereta lewat, hingga yang paling epik adalah suara ayat-ayat suci Al-Qur'an dari toa masjid. Walaupun secara garis besar tokoh utama seorang anak muda yang ingin menjadi pastur Katolik bernama Anggalih (Tim Matindas). Sedangkan sang perempuannya, si Maria Magdalena Anjani yang ingin lari dari kuasa sang "Bapak" pergi tanpa tujuan.

Toilet Blues
Alur dalam film ini acak-acakan. Seolah dibuat suka-suka sutradara. Dengan awal dan akhir film yang absurd. Dimulai dengan kematian orang yang ditutupi daun pisang hingga kaki yang dibasuh air. Pun tidak jelas apakah kejadian itu sebenarnya kenyataan atau khayalan si tokoh saja. Dengan penghubungan antar karakter yang semena-mena, tiba-tiba saja mereka duduk lesehan macam perayaan syukuran desa begitu; atau dalam bahasa Katoliknya "Perjamuan Malam Terakhir". 

Namun, jika kau ingin merasakan perjalanan hanya dengan menontonnya dari layar, film ini cukup kompeten untuk itu. Meski saya menontonnya sambil klemprak-klemprok tanpa minat, tapi desire and curiosity berjalan hebat dalam film ini. Meski temponya sangat lemot menyampaikan pesan,pergerakan-pergerakan tokohnya memang bikin penasaran. Termasuk hasrat purba akan seksualitas yang dipandang "semurah itu". Terlebih ketika Anggalih bermalam di sebuah tempat pelacuran, dan terlibat tidur dengan salah satu Mbak di sana yang sebelumnya digarap oleh tiga orang yang lain hingga kesakitan. 

Atau ketika terlihat betapa obrak-abriknya psikologi Anjani yang begitu needy akan Anggalih, hingga sama teman Bapaknya bernama Ruben (Tio Pakusadewo). Bahkan tanpa malu Anjani berkata pada Anggalih yang ingin menjadi pastur, intinya: "Lih, jadi pacar aku aja, kamu kan nanti bisa cium aku, peluk aku, grepe-grepe aku ... Hamili aku Lih." Anjani dengan karakter yang impulsif-agresif, dengan sisi maskulin yang lebih besar daripada Anggalih. Tak ada gender di sini, tak ada benar dan salah. Semua seolah impas.

Malam dan Rantauan
Karya sutradara Dirmawan Hatta ini menerorkan pesan berulang dari apa yang sering ditanyakan Anggalih: "Ada yang bisa saya bantu? Ada yang bisa saya bantu? Ada yang bisa saya bantu?" Berulang kali pada tiap orang yang ditemuinya. Pada Anjani, pada Mbak pelacur, pada Bapak penjual sepatu. Meski nyatanya, Anggalih tak bisa membantu apa-apa. Sungguh pertanyaan yang menyebalkan, yang harusnya Anggalih tanyakan pada dirinya sendiri.

Tentu yang paling epik adalah jingle ice cream di jalan yang sirinenya akan terus kau ingat hingga liang kubur. Tapi sesungguhnya, apa yang dicari dari semua tokoh yang terlibat dalam film ini. Apakah sebagaimana lukisan "Perjamuan Malam Terakhir" bahwa tiap tokohnya adalah murid-murid Tuhan? Di mana Anggalih berperan sebagai Yesusnya, dan Anjani sebagai Maria-nya? Ataukah benar bahwa film ini tentang pencarian identitas seseorang? Tentang pemaknaan akan menjadi perawan? Ah, film (yang katanya Art House Movie) ini memang berhasil mengangkat sisi minoritas tapi kalah sama mayoritas.

Dan benar, toilet yang sering membuat kita muntah ketika berada di tempat umum, bisa jadi menjadi ruang jujur alih-alih berada di masjid atau di altar pengakuan dosa. Orang sibuk mengurusi orang lain, mencela dosa orang lain, tanpa bisa melakukan apa-apa, dan malah ikut tercebur dalam dosa itu. Oh, manusia.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020): Glorifikasi Keluarga

Ya, saya termasuk orang yang sinis terkait film-film yang begitu mengglorifikasi arti sebuah keluarga. Kesan itu saya temukan di film "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI)" sutradara Angga Dwimas Sasongko. Mungkin karena rasa iri keluarga saya tak sehangat keluarga dalam film itu atau penggambaran perasaan yang lebai atau pengukuhan menjadi anak pertama (Angkasa - Rio Dewanto), anak kedua (Aurora - Sheila Dara Aisha), dan anak bontot (Awan - Rachel Amanda). Di mana sosok ayah (Donny Damara/Okan Antara) dan ibu (Susan Bachtiar/Niken Anjani) menguatkan strukturalisasi kekeluargaan itu.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)
Sebagai anak pertama, orangtua saya tak membebani saya untuk menjaga adik-adik seprotektif Angkasa. Gatau sih, insting itu tanpa diminta pun akan datang sendiri, taken from granted untuk jaga adik-adiknya kalau kenapa-kenapa. Masalahnya ada di eksekusi, tak semua kakak pertama secara langsung melindungi.

Meski kesan menjadi anak tengah yang jarang dipedulikan dan dianggap tak ada tergambar kuat dari sosok Aurora. Anak paling pendiam dengan hobi anehnya seputar seni instalasi. Dia membuat studionya sendiri di bengkel rumahnya, membaca Dali, dan membuat pameran dengan master piece berupa Niskala. Dan lihatlah kemudian si ibu bilang, "Nak, kamu anak paling mandiri di antara semua anak ibu."

Anak terakhir bagi kebanyakan orangtua menjadi sosok yang paling disayang. Apapun keinginannya biasanya akan dituruti, dan kebanyakan akan berakhir dengan manusia yang berkarakter manja dan sulit membuat keputusan bagi dirinya sendiri. Even persoalan pekerjaan sang ayah harus melakukan intervensi. Hingga meminta kakak pertama untuk menjemput adik terakhir setiap hari. Oh Dude, apakah sampai soal Awan ciuman sama Kale (Ardhito Pramono) di konser Arah (Hindia) sekeluarga harus tahu?

Lalu masalah utama orangtua yang pernah kehilangan anak kembarnya satu, menjadi titik trauma yang seolah menghubungkan emosi protektif si ayah; relasi kuasa ayah atas anak-anaknya juga istrinya begitu kental dalam film ini terlebih selesai kejadian itu. Kuasa yang seolah menjadi pembenar sehingga memunculkan bom waktu yang meledak selesai pameran perdananya Aurora. 

Di rumah itu, rumah tempat orangtuanya melakukan candle light dinner saat hujan turun; rumah tempat satu keluarga membantu Awan mengerjakan maket deadline kerjaan di firma arsitektur; juga rumah di mana sekeluarga bertengkar menjadi tempat meletusnya bom waktu. Semua merasa dikekang, semua menyimpan kesedihan dan masalah, semua hamil kecurigaan. After all, berakhir dengan pelukan hangat, juga di rumah itu.

Juga kisah-kisah masa bayi dan masa kecil. Saat Angkasa naik sepeda dan Awan mengejarnya dengan sepeda kaki empat. Atau saat Awan tertabrak motor dan ibunya mengalami trauma tak mau menyetir lagi. Hingga benda kaos kaki yang begitu disakralkan, ya, materia yang disakralkan itu tetap terjadi pada siapa pun, dan tak dinyana sebegitu lebainya mengikat seseorang. 

Yang saya suka dari konstelasi film ini ada di nama-nama yang digunakan: Angkasa, Aurora, dan Awan menjadi imajinasi tersendiri bagi saya yang mendengar. Boleh dibilang, keluarga planet ini coba membangun simbol-simbol kelangitan yang tinggi.

Dua Garis Biru (2019): Orangtua Gagal Nan Ideal

"... responsibility is not about age, but how someone handles their own mistakes."

Untuk remaja SMA yang sebagian besar waktunya digunakan di sekolah untuk belajar, di rumah untuk belajar dan bermain, atau di tempat-tempat membuang keringat lainnya; tapi di film "Dua Garis Biru" aktivitas ini jadi berbeda. "Dua Garis Biru" menjadi film yang lugu dengan pesan yang sangat tidak lugu: menjadi orangtua!

Dua Garis Biru (2019)
Akibat pacaran yang kebablasan, Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Adhisty Zara Sundari Kusumawardhani) harus bertanggungjawab akan kesalahan yang diperbuat. Dara hamil, dan keduanya sepakat akan melakukan aborsi, meski hal itu tak terjadi. Kedua anak ini belum genap merampungkan masa remajanya: Dara masih terobsesi dengan Koreanya dan Bima masih terobsesi dengan games-nya. 

Kedua orangtua masing-masing merasa "gagal menjadi orangtua". Kedua orangtua yang juga berasal dari  kelas sosial berbeda, Dara kaya dan Bima miskin, membuat kisah ini mayan epik. Ditambah kelas IQ Bima dan Dara juga berbeda: Dara pintar dan Bima bodoh. Meski menurut penelitian, kecerdasan anak ditentukan oleh ibu. 

Adegan di UKS menjadi adegan paling horor dalam film ini, ya, horor gak sekadar bicara hantu datang tiba-tiba; tapi juga kondisi mental ketika para aktor variabel utama dikumpulkan menjadi satu menyidang Dara dan Bima. Gempuran dari keluarga, sekolah, anehnya membuat mereka jadi orang yang seolah too good to be true.

Tentu juga orangtua Dara (Dwi Sasono - Lulu Tobing) dan orangtua Bima (Arswendy Bening - Cut Mini), keduanya memang benar-benar orangtua sebagaimana kisah di film-film.  Yang pertama marah, kemudian berubah menjadi baik, membela anak, dan memberikan saran kebaikan ini dan itu, sehingga mereka terarah hidupnya dan tidak sesat. Lalu si tokoh utama mengikuti saran-saran itu. 

Tipe orangtua yang gagal tapi tetap ideal memang berperan besar dalam pertumbuhan karakter utama di film ini yang masih dianggap "anak-anak" dan "tidak tahu apa-apa". Tapi bukankah sebagaimana kutipan poin film ini: "Melahirkan itu tugas sekali saja, tapi menjadi orangtua itu tugas seumur hidup." Melahirkan telah Dara lakukan, meski mimpi-mimpi untuk karier dan pendidikan akan Korea terus dia kejar hingga akhir film ini.

Terlepas dari itu, saya suka cut-cut pengambilan gambar dalam film ini yang bagi saya manis (boleh dibilang sangat manis). Juga detail-detail kostum, serta pernak-pernik: rumah, kamar Dara, kamar Bima, kerang, stroberi, gang-gang sempit Jakarta, goole map, lagu "Jikalau" - Naif, kutek, tespek, ondel-ondel biru, poster alat reproduksi, kakak yang memukuli adik saking kesalnya, marah-marah kemudian lepas kerudung, poster oppa, rujak, obrolan ibu dan anak.

Wa'alaikumussalam Paris (2016): Berdamai dengan Benturan Budaya

"... to be a wife is a way to follow a husband wherever he is, even in the ant's house."

Yang paling berkesan dari film ini menurutku pribadi adalah pemandangan (scenery) pedesaan Prancis yang jarang saya jumpai di film-film lainnya; yang rata-rata dipenuhi pemandangan urban, kota, Eiffel, Sungai Seine, dan sederet toko fashion mahal lainnya. Justru pemandangan desa itu lebih mirip spot-spot yang ada di Indonesia dengan pohon-pohonnya, sungi berlumut, kebun jagung, juga kebun anggur.

Wa'alaikumussalam Paris (2016)
Premis film sebenarnya juga sederhana: dua orang berbeda latar belakang menikah kemudian tinggal di budaya tertentu di mana si istri tidak betah. Bukannya tidak betah, tapi di luar ekspetasinya akan mall, selfie, belanja, dan pamer. Si istri, Itje (Velove Vexia), asal Bojong dengan logat Sunda yang kental (meski kontras dengan wajah Velove) menikah dengan bule Prancis bernama Clement (Nino Fernandez) atau yang di-Sundakan namanya jadi Emen.

Pembukaan film terjadi dengan tiba-tiba, Itje menikah dengan Emen atas persetujuan orangtua Itje yang lucu dan sering bertengkar bab keseharian. Itje juga punya adik bernama Ine (Luthya Sury) yang memiliki pacar dan akhirnya jadi suami Ine bernama Yayat (Boris Bokir). Sedangkan nun di Paris sana, Clement memiliki seorang ayah yang memiliki kebun anggur yang luas; dengan beberapa pekerja setia yang membantu di kebun. Ibu Clement telah meninggal, sang ibu orang Sunda dan seorang Muslim. 

Sebagian besar latar film ini berada di Prancis. Konflik kebanyakan terjadi pada Itje akan pergulatannya menjadi istri, karakternya yang culture shock, suka uring-uringan, dan kekinian. Berbanding terbalik dengan Clement yang alus, tenang, tak mudah marah, dan berusaha menjadi Muslim taat. Dia mempelajari Ensiklopedi Rumah Tangga Samawa, meminta Itje membacanya meski Itje malas. Hingga datanglah Dadang (Tanta Ginting), orang yang relegius-relegius banget tapi ngajari mereka solat.

Di part Dadang ini, ada perkataan Clement yang menurut saya menarik, "Saya tidak peduli dia ustadz atau tidak, selagi dia mengajari saya apa yang dia bisa termasuk solat, saya akan belajar." Terma mengajari apa yang kita bisa ini tak mensyaratkan hal yang muluk-muluk, karena udah lama terinternalisasi sehingga mudah. Jadi lebih berkaca ke diri sendiri, bahwa untuk mengajari seseorang kita harus sempurna, padahal hanya dengan memberikan apa yang kita bisa sudah sangat membantu orang lain.

Scene lain yang menarik, mau di Paris atau mau di Tanah Abang, pencurian tetaplah ada. Seperti kasus Itje yang kehilangan koper di sekitar Eiffel. Atau kasus gelandangan dan orang yang tidur di pinggiran jalan, mau di Jalan Champs-Élysées atau di Jalan Jenderal Sudirman, itu menjadi fakta keseharian yang tak bisa dilepaskan.

Untuk pasangan yang baru saja menikah, saya kira film ini cocok ditonton. Saya menghargai usaha Clement untuk belajar menjadi suami yang baik, menjadi iman bagi istri dan anak-anaknya kelak. Juga bagaimana seseorang berkopromi dengan benturan budaya yang dialaminya, tak ada pilihan lain selain menghadapinya. Sebab yang dihadapi itu suatu hari akan dirindukan.

Jumat, 09 Juli 2021

9 Juli 2021

"And if you don't think it's a crime, you can come along, with me."

--Tame Impala, Yes I'm Changing

Filosofi 3 Wise Monkeys

"See no evil. Hear no evil. Speak no evil."

Not everything has to see

Not everything has to hear

Not everything has to speak

Standing on what Confucius said:

“Look not at what is contrary to propriety; listen not to what is contrary to propriety; speak not what is contrary to propriety; make no movement which is contrary to propriety”

Kamis, 08 Juli 2021

Submarine (2010): A Teenager Complexity Seeing The Relation

I have been long to get information about this film: Submarine (2010). Oh, ya, this is my first review again about a foreign film. When I still lived in Semarang, one of my friends in a dating app recommended this film to see. But, my motivation for seeing this film because I like Alex Turner's song, especially "Stuck on The Puzzle". 

When you are the family man type, I think this good for you. In slow-motion the whole of the story. Talked about Oliver Tate (Craig Roberts), 15 y.o.,  who has a unique parent, his dad Lloyd Tate (Noah Taylor) worked as a sea lecturer, his mom Jill Tate (Sally Hawkins) worked as a social worker. His parent for Oliver perspective has been disharmony. So, Oliver in his teenage time, trying to make his parents peace again. Her parents feel their marriage is tasteless.

Jordana and Oliver, Submarine (2010)

In "Submarine" the red line uniqueness is based on the actor's character. From Oliver to his girlfriend named Jordana Bevan (Yasmin Paige), his classmate. Jordana is a strange student too in the school. She always uses the red jacket, like playing with the fire and matches (pyromania). She has a strange disease in her skin, allergic to a dog but she likes the dog. Oliver is strange too. He has an awkward personality, he ever bullied as gay in school, he has no many friends. And he likes to imagine when he died, or he feels that his life like the film--there is a hidden camera watched him. And of course, he is anti-social man.

If you say that it is a comedy film, I think, it is not. Depressive film? Hm, not really. Also not a story about the bucin teenager who thinks that love will save her/him from the cruel world--oh, this hits me personally, haha. I like Jordana's character as a woman teenager. 

When Oliver invited her to sleep with him, Jordana was giving him the three reasons why they must do that? And Jordana was rejecting the first reason, when Oliver had written that Jordana loved him fatally, haha. I feel laughing enough in the second reason, they should do it together before it's legal. Such as a subversive statement in making love, but naively. Again, Again, I love Jordana's character seeing the relation. She is not an impulsive woman like the other woman. She also doesn't like any kind of the romantic stuff.

The core conflict did when his mom made relation with her first love, Graham (Paddy Considine). At the same time, Jordana has a problem with her parent, her mom has cancer. In real reality, Oliver's character who likes to intervene in others men's business has been problematic. In some phases from prolog to epilogue, the dramatic emotions like a wheel.  The gloomy scenery had been proper with all characters, except Graham maybe.

And if you like reading Salinger, Nietzsche, or Shakespeare, there are good recommendation book titles for you. Oh, this film took from Joe Dunthorne's novel with the same title. You can see, with the high book that Oliver read, he can change Jordana's ethic from the victim to the criminal--hm, someone ever did like that to me, and I like him. And Oliver prefers to write than to say. In this film, Oliver's problem to be a big circle that shaped all the story. In every phase, every actor have found their maturity.

For the others perspective, you can read these reviews also, Review: Submarine (2011) (Sic!) and Submarine: Anakronisme Seorang Anak.

Rabu, 07 Juli 2021

Migrant Female workers Story - Sunday Morning in Victoria Park (2010)

I think Indonesia has some good films, and it is so close to our reality. I have found that in Minggu Pagi di Victoria Park (Sunday Morning in Victoria Park) (2010). This film emerges about migrant female workers in Hong Kong with their complexity problem. 

Told, Sekar (Titi Rajo Bintang) is a favorite daughter to her father. One day, Sekar went to Hong Kong to be a migrant. She came from a local area in East Java and had a different dialect. Sekar's old sister named Mayang (Lola Amaria) was envious of her. Because Sekar more beautiful, more talented, more loved, and she has sent much money to her parent--and Mayang is not. 

Sunday Morning in Victoria Park (2010)
Because there is no news from Sekar, Mayang is asked her father to search Sekar in Hong Kong. So, Mayang to be a migrant worker too, she takes care of a child and becomes a housemaid in Hong Kong. Sekar met with many migrant workers too who have worked there. Every Sunday, they have gathered in Victoria Park with all of their styles. Victoria Park such as a living laboratory, every story lived there. 

The red line conflict was how Mayang searched Sekar. When Sekar had been a big credit to Super Credit (blood leech company), this company has very high interest. To pay the debt, Sekar worked everything, even she sold her body to the prostitute. Mas Gandi (Donny Damara) helped her, but Sekar always escapes. 

Not only Mas Gandi, most of the migrant workers who gathered in Victoria Park also helped her. Also, Vincent likes Mayang. Oh, I felt this scene so sweet, the story between Vincent (Donny Alamsyah) and Mayang. Like the other woman, Mayang has felt inferior and asked herself, is there anyone who wants to be with her? And he becomes her partner?

I have learned about the profession. Sari (Imelda Soraya) (Mayang's friend) said that to be a servant or housemaid or pembantu is the same as the other profession. Don't see this profession as lower than the other profession. This profession is halal, and this statement hit my mind. I looked at the reality, even me, feeling that being a housemaid is humiliated. Not again, and not again. Every profession is the same, every profession is equal. There is no difference, even a president vs a servant. 

Mayang's message to the child remained me too, when bullied, people have to accept their own flawed. So she/he will accept that without the frustration that makes hurting. Showed me too, about the disharmony between a young and old sister, the not sincere feeling, and family dis-mood.

Many issues to in other workers, even about suicide in Yati (Permata Sari Harahap), LGBT, to buy a field for the parent, relationship with parasite boyfriend, etc. Migrant female workers are not strong as the label "Pahlawan Devisa" (Foreign Exchange Hero). They are complicated, for a salary, for a workload, for crimes against humanity.

Salute for this film. And this, a good review too from Mbak Niken, Minggu Pagi di Victoria Park.

Selasa, 06 Juli 2021

The Problem of Local Education in "Crazy Awesome Teachers"

Honestly, sorry not sorry, the half of this film "Guru-Guru Gokil" (2020) is boring. I recommend you to read this badass review from Arya in his web My Dirt Sheet. All of my thought already he had written. 

But, this my own opinion...

The opening from this film can't make you feel interested in what the next happens. And the pictures were so leaden, make you feel moody at the same time. But there are many things that I thought it was good. I love the way when Taat Pribadi (Gading Marten) as a flawed character made his magic with his fingers, then it was showed to Rahayu Paramitha (Faradina Mufti). And the moment between dad, Purnama (Arswendi Nasution), with his son, Taat. It was making me cried. Ha-ha, maudlin.

Guru-Guru Gokil (2020)
Also the moralistic message like when someone has got a pension, he/she must plant a tree at the school, the place where they devote themselves. But for me, all of the teachers in this film are not crazy, but strange. Nirmala (Dian Sastrowardoyo) one of them, as the chemistry teacher, she has an odd habit. And in the red line, not education that makes them united, but a criminal moment (when the money of school had been stolen). And how they cooperated together to fight the thug.

But, in this film, you will see the culture of the agrarian society. The rice field stretched, also a domestic issue in local education which minus of teacher, the minus salary, the bad quality of teachers, corruption in local education, etc. Also the story about a teenager in high school, such as the story of Ipang (Kevin Ardilova) and Shaulina (Shakira Jasmine). 

Also the money in education. Hm, it is conflictual issue.  From the top to the bellow. From the head of school until the teacher who vends stuff at the school.

Unfortunately, I can say this film is not made totally--and the ending so cheesy, right, no debate. All of source I think is good, from actors, the place, etc, but the whole package is half-hearted. And if I sit in the field right now, as Rahayu said, I will shout loudly: boseeeennnnn!!! Pengen tidur!!! Pengen main!!!

Cultural Clash of Urbanist and Ruralist

I ever went to Central Kalimantan in 2015. The film "Tiga Pejantan Tanggung" (2010) has taken my memory with that time. When I came to Borneo, for seven days, with friends, I explore the Borneo forest. I also crossed the stream in there with the local boat. God, I missed the atmosphere. Borneo is a beautiful island, and you can see that in this film.

The story began with three friends (the friendship circle): Harta (Ringgo Agus Rahman), Angga (Deddy Mahendra Desta), and Kris (Dennis Adhiswara). They are hedonist and urbanist men. After they played in the bar, suddenly they lost in Borneo island. They woke up seeing the stream and finding the forest. After that, they met with indigenous people. Like the traditional leader (Piet Pagau) and the people with their own local culture.

From left, Kris, Angga, and Harta in film "Tiga Pejantan Tanggung" (2010)
The main conflict from this film about the cultural clash between modern and traditional. And about the indigenous land which becomes a target from the capitalist, Handoyo (Joe Kla Project as the entrepreneur). Han wants to hold a coal mine (the black gold) in Kalimantan. So, everything way, he did. From cooperating with a local person, burning a traditional home, until kidnapping the daughter's leader, Riana (Siti Anizah). But, Harta, Angga, and Kris helped this local society with their skill; especially the big motivation was coming from Harta. He had loved Riana. 

For me, the urbanist is an urbanist; never be like the ruralist or the localist (indigenous). Three best friends always want to back again to Jakarta. The thesis trial awaits them. Harta has been hate with Angga because separating him from Riana. There is a nice word, "If you hate with your best friend, hit him, taking angry with him, or everything, but don't leave him."

Overall, this comedy film will make you laugh. Your bad mood will be good when you are watching this film. Not only comedy that will you get, also the Borneo panorama and the unique culture from indigenous society. Also the cultural and material problems there. But just making you happy when you are watching. Cause Ringgo, Desta, and Dennis are never failed to make you laugh.

You will hear the traditional music too here.

And, I missed Borneo so much!

Senin, 05 Juli 2021

The Big Issue of Street Children in "Daun di atas Bantal"

For me, the film "Daun di Atas Bantal" (1998) is one of the best Indonesian films that I ever watched. This film can speak many things without too much jargon. The natural feeling in the picture, the breath of the video, and everything that the actors did had told much for you. 

And you know, this film has captured about Yogyakarta society whose full of inequality and injustice. Yogyakarta that looked beautiful in front of the media, has a problematic issue. From poverty, street children, child deviation is not their age, class level, monarchy, feudalism, so on; and I have been crying when I watched this. 

When Sugeng died, Daun di Atas Bantal (1998)
Sugeng, Heru, and Kancil are the victims of this bastard society. From people who are never satisfied with their wealth. And, cause of this film my eyes opened how the assurance company worked. Ant the parallel of crime to street children. How many street children died? They don't have an identity, nor family, or a home. 

Just Asih (Christine Hakim) who cared with them. She is for me the strong woman who lived in a criminal milieu. Every day, she works the clothes or batiks or the flower. She takes care of Sugeng, Heru, and Kancil such as her child. She has a husband or a boyfriend who always hurts her. 

Daun di Atas Bantal (Leaves on The Pillow) is a metaphor, the leaves as the money, and the pillow is the place for money. Kancil died in the up of the train because saved his pillow. Heru died because of the assurance syndicate. Sugeng died because killed by the thug. And who are cared about them? Until Sugeng had not been the place to bury. "Orang kok gak bisa dikubur, binatang aja bisa. Aturan darimana itu?" Asih.

This film shows me the hardships of reality. When a human eats like a dog when a human eats a human, when the dream just like an illusion as Asih said, "If you want to save, don't dream high." And cause that I promise to myself: I don't want to annoy other people. 

And where the government? Where?

Minggu, 04 Juli 2021

Tongue Picnic on "Aruna and Her Palate"

I never thought that the food will give you heaven in your face.  I learn this from the film "Aruna dan Lidahnya" (Aruna and Her Palate) (2018). You know, I lost my weekend seeing this nice film.  I watched this because, for almost four months, I have tried cooking every day. I learn how my tongue feeling.

Aruna (Dian Sastrowardoyo) and Bono (Nicholas Saputra) are friends, they are very like cooking anything. And they have their recipe and theory when cooking. For Aruna, if you are cooking in the right way, your food will be delicious. For Bono, btw, he is a chef in the restaurant, life is such as food. In one plate, you will find too many differences from sweet, bit, neutral, etc. But when it's fixed, it will be the perfect food.

The story begins when Aruna as a clerk in One World went to some areas, from Pamengkasan, Singkawang, until Pontianak. She is checking about the flu burung (bird flu) issue. She invites Bono to join. Then, her friend Nadezhda (Hannah Al Rasyid) joins too, also comes Farish (Oka Antara). Farish is Aruna's crush, Aruna's friend in prior worked. 

Cooking the fried rice together, Aruna dan Lidahnya (2018)
I think that this film so relevant to be watched in this pandemic time. When Aruna and Bono had checked in the field and reality, bird flu just an issue by the government and the company corrupted the money.  Aruna had thought that she and Farish spread the restlessness in local society. They come to the hospitals too, checking this bird flu, but they found that the tools there are not used by nurses or doctors. The tools are useless, they are made by the government and company getting the money down.

The vaccine issue also emerges here. The vaccine fundamentally is for the poultry, not for humans. But there is manipulation so the vaccine has been given to the people. Aruna was feeling the manipulation, and it has been talked to Farish. But Farish then angry with her, he is in denial about what Aruna's found. Farish has felt afraid, because he has made affairs with his boss, Priya (Ayu Azhari). Aruna said that their project is "projek basa-basi" (chit-chat project).

Regardless, this film will give you a big question: what your opinion about the food? Are you feeling if the food such as the life (like Bono)? Or like Nadezhda who believed the food, if the food is universal. And for Aruna, the food will connect us, from the men who we are hate or love.  But for them, "The food is heaven in front of our eyes." Damn's right, some foods never turn the hand (beberapa masakan tidak pernah pindah tangan).

And, when do we have food? I need the new menu and finding the food real figure. To feel lorjuk in Pamekasan, pengkang in Ponianak, choi pan in Singkawang, rujak soto, etc. The food is tempting the stomach. With the person who loves. Honestly, I like this film. 

Yuuuk, kulineraaan, yang sama surganya dengan nglihat pemandangan, hahaha.

Sabtu, 03 Juli 2021

Biyan, Stella, and Kettie Talked Their Virginity

Like Biyan, if there was a condition when I could write well, I will enjoy. But not, the story in a writing is not, the life has a scary, sadness, and conflictual. These the stories of three friends: Biyan (Laudya Cynthia Bella), Stella (Ardina Rasti), and Kettie (Angie) in a film "Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan/When Virginity is Questioned" (2004). I watched this film when I don't have spirit in that time. Full of worked hits me so freak, and my anxiety has come. And I think Indonesian film has helped me; one day I take a deal, I will serious to observe about Indonesia Film than the other film. And this will be my way.

In Virgin, ya, the virginity issue is so strong and become a red line in a whole of film. Stella and Kettie were not virgin anymore. They adhere to free sex since in Senior High School, Stella because her circle and Kettie became a bitch. But, Biyan still virgin, she keeps her virginity; one day she almost loss her virginity to Marix (Mike Muliadro) but it's cancel, because Marix said that his dick is small, and he won't make Biyan dissapointed.

Biyan when launched her book in film "Virgin" (2004)
Biyan had a broken home background, Stella and Kettie too. But Biyan have passion in literature. When she have felt sad, she will come to the school's library and write there. Write about her feelings, write about her close friends (Stella and Kettie), write about her mom who depressed at home, write about everything that made her sad, also write about Marix--the man she loves. Until she becomes a great writer.

Oneday there was an accident. When Stella borrowed a car from the man called Cebol, the car lost. Biyan, Stella, and Kettie have to return the car with money or their body. So they have to work to fulfill it. Kettie become the bitch until she was pregnant (one thing she fear the most), Stella was broken and sold her car (Stella was broken because she trapped to be a porn artist in bath soap). Stella also had an enemy named Luna (Uli Auliani): in the school, in the bar, in the shooting location. And the laughing moment when Luna will shoot in a film, she has not remained her dialogue, and it makes Marix feels angry. This take me to unprofessional memory.

There was a crazy game between Stella and Luna. I never think about this game,  when you rotate a bottle and you must do what the enemy talked. From take of clothes, get a nude, until making love with onesome to threesome. That's so dark society in a teenager life I think. But, the message that I take, in your helpless and down situation, please, to be like Biyan to save your virginity.

Kamis, 01 Juli 2021

The Shocking Culture of Nouveau Riche

The feeling of curiosity have taken me to this film "Orang Kaya Baru" (The Nouveau Riche). I would learn many from this film, the opening such as gives you information that if reality bites you, just turn it; change the failure to success. "That's my tradition in my family," said Tika (Raline Shah). She is a architecture student, the second daughter.

Tika is a daughter from Bapak (Lukman Sardi) and Ibu (Cut Mini Theo). This couple have two sons also, they are Duta (Derby Romero, the first son, he is an theater artist) and Dodi (Fatih Unru, the third son, he is a student in Junior High School). One day, Bapak passed away and he bequeath some billions dollar to his family. Before to be the nouveau riche, this family lived in a poor condition. Lived in flood milieu; Dodi got his bathing in traditional bathtub or in bak mandi.

They just have a modest living, but they are rich because they had had the harmonic family. They could eat everyday together, they could talk everyday without any business in out door. Their father talked to his children:

"The important of life is the family and the friendship. Save these two points, save them. Dad is rich because I have you all. We can eat together, I have good children. Dad is happy when I wake up, I can see your all face. I worked everything so you are all can get the best education. If Dad was talked that I can't educate my children, so I feel offended."

When the life was changing in film "Orang Kaya Baru" (2019)
But one day, the life was changing. Like the social experiment, Orang Kaya Baru for me such as the shocking culture in our class level society. How the class level will influence our all life. But the material can not buy all.

In these some learning that I got from this film:

  • If you want to have easy get the money, please eat the head of everything. The head of fish, the head of chicken, the head of the others. (Bapak)
  • The money if not a lot will enough, but if you get a lot of money, it's never enough. The example like, when Duta's small, he saved his pocket money to buy a cassette. Then the cassette always be heard. But now, when the song is easy to download, he is seldom heard like in the last anymore. (Bapak)
  • Apathetic song, the rebel lyric.
  • Just so you know, Sir, your mentality such as 20 years late ... Your own people you oppressed, but with foreigner you give your respect. It's shit, dog! (Duta)
  • I love my motorcycle because it was bought with my own sweat. (Banyu/Refal Hady, honestly I love this character, he worked everything, he have many of jobs to fulfill his own life)
  • What are you doing, Tik, following useless channels like that.