Senin, 31 Mei 2021

Paradoks Ideologi dalam Film "When My Love Blooms"

Kemarin aku masih sempat melakukannya, menonton episode-episode film Korea ganjil yang membuatku merasa bersalah. Ya, seolah ada isi kedondong di tenggorokanku. Dua tokoh utama hidup dengan kelas sosial yang berbeda ketika mereka berumur 40 tahun. Meski ketika masih mahasiswa, si Yoon Ji Soo dari kalangan atas daripada Han Jae Hyun, saat di pinggir jalan Jae Hyun gerah dengan tingkah Ji Soo yang sering mengejarnya, "Aku ingin menyingkirkan borjuis sepertimu."

Hidup berjalan, dua tokoh berpisah hidup dan kelas. Ji Soo memiliki anak yang cerdas, tapi dia miskin, dan selalu: kesalahan selalu dilakukan oleh orang-orang miskin. Sebrutal apa pun orang miskin membuat tingkah; yang bahkan menyakiti lalat saja tak berani apalagi manusia, si miskin tetaplah salah. Berapa penghasilan orang miskin? Sulitkah mencari nafkah? Cocokkah menggantungkan nasib mereka dengan pernyataan: "Tergantung pekerjanya!" (?)

Watch: GOT7's Jinyoung Enjoys Teasing Jeon So Nee And Byung Hun On “When My  Love Blooms” Set | Soompi

Dan si ibu, Ji Soo sebagaimana yang diwarisi oleh aktivisme mahasiswa Jae Hyun bekerja sebagai pekerja swalayan. Dia sering membantu memberi minuman bagi para ibu permrotes ketidakadilan perusahaan. Ji Soo sering mengunjungi surga: Surga Paruh Waktu dan Surga Gimbap. Dia menikmati ketika terlibat di Perkumpulan Gotong Royong bersama kaum papa. Meski di titik yang lain, ketika Ji Soo berkumpul dengan para ibu sosialita orangtua murid anaknya (yang mendapat beasiswa di sekolah internasional), dia merasa kira-kira begini:

"Kurasa aku ingin muntah, di suatu waktu aku bersama para pemrotes memberikan air untuk mereka, tapi di lain waktu, aku duduk bersama ibu-ibu, yang harga tasnya seharga satu bulan biaya hidup para pemrotes itu. Sembari sarapan siang di hotel dan mengobrol."

Sedang Jae Hyun kehilangan idealismenya ketika dewasa. Jika di masa mahasiswa dia membela buruh, membaca Karl Marx, bersyair The End of That Summer-nya Lee Seong Bok, menjadi kepala aktivis perkumpulan, dengan kos yang dindingnya tertempel poster Che Guevara, meski gembeng karena sering nonton Love Letter; dewasa dia memecat banyak orang, bekerja untuk perusahaan bonafid, bekerja untuk Kementerian Tenaga Kerja, panjat sosial dengan menikahi anak konglomerat, dan bermitra bisnis dengan bank. 

Jae Hyun ketika mahasiswa dan Jae Hyun ketika paruh baya 180 derajat berbeda. Paradoks ideologi film itu tidak ada dalam skenario yang aku pikirkan. Aku seolah tersadar, niat baik sering dikalahkan oleh kenyataan. Sebagaimana Jae Hyun ketika di usia muda dia berdiri pada pihak yang kalah, ketika paruh baya jadi berubah: "Untuk apa kau berdiri di sisi itu? Untuk kawan atau keadilan? Hal-hal seperti itu tak memberimu uang." Pernyataan ini membuat kepalaku seperti kepala tauge yang sudah layu.

Namun Ji Soo di usia paruh baya masih bersetia dengan apa yang diyakini Jae Hyun ketika mahasiswa: berdiri di pihak kalah. (Dan ya, aku teringat dengan kutipan: kalau ingin dihargai Tuhan, maka hargailah orang yang tidak dihargai manusia). Sebagaimana para buruh yang disabotase haknya oleh perusahaan, para pekerja kecil, para pekerja yang tak dianggap manusia.

Sampai episode empat, ketika link nonton film tak bisa kuakses lagi, rasanya aku tak mau melanjutkan  menontonnya, karena beberapa pola film Korea hampir sama: masa depan-masa lalu yang lebai, detail yang kadang menjijikkan karena menonjolah segala keperfekan wajah-busana-dll, kadang alurnya mbulet gitu-gitu aja. Yang menarik adalah lebih pada konflik yang kadang memang di luar prediksi, landscape yang menyejukkan mata, dan muatan-muatan filsafatnya--terdengar sombong memang.

Meski begitu, film ini memberiku pertanyaan besar:  Apakah ada yang namanya kesetiaan pada ideologi? Membandingkan Jae Hyun mahasiswa dan Jae Hyun paruh baya membuatku frustrasi sendiri ketika itu kurefleksikan pada diriku. Apakah aku juga akan merasa jijik dan ingin muntah sebagaimana Ji Soo membandingkan antara dia di jalanan protes dan ketika dia berada di tengah para sosialita di tempat elite?

Kos Vidagarin, Depok, 31 Mei 2021

Sabtu, 29 Mei 2021

Tuan Tanah Desa dan Musuh-Musuhnya

Usai krisis ekonomi tahun 1998 dengan diterapkannya peraturan neoliberal, pemerintah Indonesia lebih menggantungkan pada sektor tambang dan ekspor terhadap komoditi pertanian seperti kelapa sawit, ketimbang sektor manufaktur guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Awal abad 21, dinamika perubahan agraria ditandai dengan ekspansi kelapa sawit.

Ekspansi kelapa sawit ini khususnya di Asia Tenggara dikenal dengan "serbuan tanah global (global land rush)". Yang mana hal ini meningkatkan konflik agraria di luar pulau. Dengan latar belakang seperti itu, lalu literatur yang berkembang kemudian mencurahkan perhatiannya terhadap perampaasan tanah dan konflik agraria yang terkait dengan sektor tersebut. Dengan naiknya kelapa sawit di pulau-pulau terluar, di sisi lain perhatian terhadap budidaya padi kontemporer di Jawa sebagian besar mengalami pengabaian. Kontras dengan yang terjadi seperempat abad terakhir di abad 20, di mana fokus lebih diarahkan pada perubahan agraria kapitalis di pedesaan Jawa.

Di pedesaan Jawa kontemporer sendiri, kebutuhan akan beras secara politik tetap lebih penting dibandingkan dengan kelapa sawit, karena padi menjadi makanan pokok orang Indonesia. Di mana ketersediannya menjadi mata uang utama dalam menjaga stabilitas sosial. Inilah yang melatarbelakangi mengapa pemerintah tetap menyediakan subsidi bagi petani padi meskipun di bawah rezim neoliberal. Menurut data BPS 2019, hingga saat ini lebih dari setengah total produksi padi domestik tumbuh di Jawa. Pulau kecil yang kurang dari 10 persen total ukuran negara bisa mengakomodasi lebih dari setengah total kebutuhan penduduk Indonesia.

Meski di sisi lain, dalam beberapa dekade terakhir akibat dari konversi lahan untuk sektor industri dan properti di Jawa, pangsanya jadi menurun. Konversi cepat di bidang non-pertanian ini terkhusus di sektor konstruksi dalam dua dekade terakhir, menciptakan konteks perubahan agraria yang baru di Jawa.

Njomplang adalah sebuah nama desa di Purworejo (Jateng), nama yang unik karena ketika dibahasa Indonesiakan artinya timpang, ketimpangan. Di desa inilah, Muhtar Habibi melakukan penelitianya terkait dinamika kelas dari perubahan agraria di pedesaan di Jawa, melalui wawancara dan literatur dari perubahan agraria terbaru pada abad 21.

Purworejo sendiri merupakan daerah dengan produksi padi yang besar, sebagaimana Jateng menjadi salah satu area produksi padi tertinggi di Indonesia. Tiga perempat lahan padi menggunakan sistem irigasi yang layak di mana panen dilakukan dua kali dalam setahun. Ini didukung dengan adanya teknik produksi modern seperti sistem irigasi, alat-alat modern, bahan-bahan kimia, hiingga mekanisasi.

Purworejo mengalami revolusi hijau pada 1970an. Hampir seluruh area tanah di Desa Njomplang digunakan sebagai lahan padi (112 ha), dan 15 ha digunakan untuk perumahan dan fasilitas publik. Desa ini terdiri dari 314 rumah tangga, dengan jumlah penduduk 1115 orang, di mana 60% penduduknya memiliki penghasilan dari bidang ekonomi padi, bekerja di sektor pertanian. Lainnya di sektor non-pertanian seperti guru, perawat, pegawai bank, pedagang, birokrat, dll.

Habibi melakukan penelitian di desa tersebut sendirian, dan dia tinggal di sana dengan waktu yang ditentukan (bulan September-Desember 2017). Dia melakukan wawancara semi terstruktur dengan 80 partisipan untuk mendapat informasi kualitatif terkait pertanyaan penelitian. Pertanyaan yang ingin diangkat dalam jurnal ini adalah bagaimana karakter relasi kelas dalam penanaman padi di pedesaan Jawa pada abad ke-21 di bawah perkembangan kapitalis kontemporer? Serta apa perbedaannya dengan karakternya di masa lalu?

Studi ini menunjukkan bagaimana para kelas penguasa agraria yang terdiri dari para petani kapitalis dan tuan tanah dan para kelas buruh di pedesaan Jawa kontemporer bernegosiasi terhadap upah dan kondisi kerja mereka. Negosiasi ini dimediasi oleh institusi lokal setempat yang dikenal dengan nama "rembug desa". Terkait rembug desa, dahulu pada 1960an, di Njomplang, PKI merupakan partai politis terbesar, hanya beberapa yang bergabug pada Partai Nasionalis Indonesia (PNI). PKI yang berafiliasi dengan Pemuda Rakyat, BTI, dan Lekra sering mengadakan pertemuan di Njomplang. Untuk mempromosikan program-prorgam seperti redistribusi.

Terlepas dari lanskap dominasi agraria, para petani kapitalis dan tuan tanah ini memiliki posisi yang kuat dalam atmosfer non-agraria di pedesaan. Posisi mereka disebut sebagai tuan/raja (master) di desa. Diskusi terkait tuan tanah desa dan musuh mereka dalam kelas buruh menawarkan pemahaman baru terkait bagaimana upah pertanian dan kondisi kerja disesuaikan di Jawa.

Studi terkait pedesaan di Jawa ini juga menyoroti pentingnya mengeksplorasi kompleksitas lokasi kelas, guna memahami karakter relasi kelas yang terjadi. Dengan melihat lokasi kelas keduanya dan bagaimana relasi kelas berjalan menawarkan pemahaman yang lebih lengkap terkait dinamika kelas dari perubahan agraria.

Relasi kelas tak hanya kategori: secara volunter atau idealis. Relasi produksi membentuk formasi kelas. Relasi kelas berjalin dengan bentuk-bentuk relasi sosial seperti ras, gender, etnis, identitas nasional, dll. Sifat hubungan kelas atanra petani kapitalis dan kelas pekerja pedesaan perlu melihat dalam kerangka situasi kelas yang kompleks. Dan bagaimana itu berdampak pada hubungan kelas dari waktu ke waktu.

Habibi, M. (2021). Masters of the countryside and their enemies: Class dynamic of agrarian changes in rural Java. Journal of Agrarian Change, 1-27.

Sumber: https://doi.org/10.1111/joac.12433

#muhtarhabibi #agrarianchange #classdynamics #classlocation #rural #java #journal #wiley

Quote:

"Identifying agrarian class location, based not only on their position in property relations and production relations but also on their engagement in non-agricultural activities, is crucial to grasping the complex nature of agrarian class location."

"In Njomplang, we have seen three main agrarian class locations: capitalist farmers, PCP, and classes of labour. We have observed the complex nature of each class location. For capitalist farmers in Njomplang, we identify three different subgroups, namely, the “typical capitalist farmer,” “politico-bureaucrat capitalist farmer,” and “professional-capitalist farmer.” Apart from capitalist farmers, there is also a group of “landlord-capitalists.” Different types of capitalist farmer have different takes on the production process. We have also seen the different groups within PCP in the two villages. “Substantial PCP” owning their land and having no relationship with patrons separates them from “formal PCP,” who only control the land and are generally bound to their patrons."

"While “semiproletariat farmers,” “proletariat farmers,” and the “fully-fledged proletariat” share similar class locations, they occupy different positions in land, labour, or output relations."

"A worker, who is also one of the former members of Pemuda Marhaen (PNI) in Njomplang, offers an ambiguous compliment: “I admit that PKI's members were smart, but they were too radical.”"

"The rembug desa is the most important moment when class contradiction rises to the surface above the subtler forms of daily class relations in the village. Our discussion on rembug desa, though exceptional to our knowledge, offers a new understanding of how agricultural wages in rural Java are adjusted and how the relations between employers and workers shape the wage rates."

"Politically, at least in Java, the main enemies of “the masters of the countryside” are only “proletariat farmers” and the “fully-fledged proletariat.” “Semi-proletariat farmers” are barely vocal in the meetings since they have “something to lose,” and most of them are tied to patron landlord-capitalists."

29 Mei 2021

I.

Halo langit, semoga aku memiliki kesabaran dan kekuatan seluas dirimu.

II.

Meski terlihat sama, setiap helai daun dalam setiap dahan dan pohon memiliki bentuk dan arsitektur yang tak pernah sama.

III.

Kupikir, tanaman lebih baik daripada binatang, karena tumbuhan tak menghasilkan kotoran sebagaimana binatang. Kalau pun tumbuhan menghasilkan kotoran, bentuknya lebih bisa diterima. Namun kupikir lagi, menjadi binatang lebih baik daripada menjadi manusia, karena binatang naluri merusak dan melukainya tak semengerikan manusia. Tapi entahlah. Bukannya aku manusia, ha-ha.

Jumat, 28 Mei 2021

28 Mei 2021

 I.

Sebagai calon ibu, kewajibanku adalah memilihkan Bapak yang baik untuk anak-anakku nanti. Memiliki Bapak yang baik adalah hak bagi setiap anakku kelak.

II.

Sebagai orang yang nantinya akan mati, kewajibanku adalah mempersiapkan rumah yang baik di dunia abadi nanti.

III.

Pepatah, "Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" kupikir bisa kuterapkan juga. Pada waktu yang sama tapi dengan niat yang berbeda.

Rabu, 26 Mei 2021

Nyari Sumber di Internet

Sengaja ngulas buku lama tahun 1998 ini dari Book Reviews-nya Research on Social Work Practice, buat ningkatin semangat nulis lagi, ha-ha. Sebab si Gary Holden ngulas ini secara pendek dan to the point.

Intinya, menulis dari bahan internet itu tantangannya sama kayak misal kamu moto. Ketika kamu akam memotret Jogja semisal, akankah kamu akan momotretnya dari matamu sendiri ketika berdiri di dekat tugu, atau dari mata burung yang terbang di langit senja titik Nol KM, atau dari lensa mata ikan yang ada di Tamansari. Pertanyaannya, bagaimana meng-capture sesuatu yang besar, dengan fenomena yang bergerak konstan tersebut jadi suatu foto yang menarik.


Nah, mengapa pekerja sosial ini peduli dengan bahan-bahan yang ada di internet untuk penelitiannya? Jawabannya, sebagaimana kita tahu, anak bernama WWW telah tumbuh sedemikian rupa menjadi ensiklopedi dunia, semua pertanyaan hampir dapat dijawabnya. Dan saat ini internet menjadi bagian kehidupan sosial, budaya, pekerja sosial, dan lingkungan.

Internet berfungsi sebagai perpustakaan virtual yang berguna bagi para pekerja sosial untuk pengembangan profesional, jaringan, menemukan sumber, advokasi, penggalangan dana, hingga berhubungan dengan klien.

Meski begitu, yang kurang di internet adalah terkait mekanisme peer dan editorial review, makanya ketika menggunakan sebuah sumber di internet mesti yakin dulu informasi tersebut didapat darimana, bagaimana, dll; kalau enggak, mending gunakan usaha dan pendekatan tradisional. Gitu sih.

Holden, G. (1999). Book Review: The Social Worker’s Internet Handbook. Research on Social Work Practice, 9(3), 383–384.

doi: 10.1177/104973159900900311

Link: https://ur.booksc.org/book/38122422/58109e

26 Mei 2021

 "Profesi editormu diragukan kalau membenarkan kalimat dan paragraf saja masih salah."

Senin, 24 Mei 2021

Cita-Cita Pagi

I.

Hidup Mulia, Mati Mulia

II.

Prof. Isma Swastiningrum, Ph.D semoga tak terlalu tinggi kucita-citakan

III.

Pada sebuah makam tertulis: "Menolong itu tanpa tapi."

 

Sawitsari, 24 Mei 2021

Minggu, 23 Mei 2021

23 Mei 2021

"Nah kan, kamu sendiri belum bisa beresin dirimu sendiri, jangan ngarep orang nerima kamu. Sebenarnya gak sulit. Kalau kamu ngerasa sulit berarti kamu belum benar-benar menyesal. Kamu masih mikir bahwa apa yang kamu lakukan itu benar."

Jumat, 21 Mei 2021

Upaya Menyemangati Diri Sendiri

Dari Mbak Nas agar hidupku lebih disiplin:

1. ku sll buat list sblm tidur untuk apa aja yg harus ku kerjakan besok

2. ku sll bangun tahajud dan sebelum nya mandi pkl 3.50
Scr kesehatan itu baik dan ku terasa refresh

3. Stlh subuh (stlh ibadah), ku biasakan 1 jam buat aktivitas nyuci nyetrika beberes

4. Pukul 5.00 setelah menyetrika, biasanya kugunakan buat cek agenda kegiatan sekolah kembali, balas pesan wa ortu yg ngga terbalas semalam (kami PNY kesepakatan bersama ortu di awal semester, komunikasi hgga pkl 20.30 selebihnya slow respon), dengerin musik sekalian ngrehatin badan hingga menuju mandi pkl 6.

5. Pkl 6.30-15.00 waktunya kerja dg to do list yg udah dibuat malam harinya,
dan kegiatan sekolah ku jgn dibayangkan spt sekolah negeri

6. Sepulang sekolah, ku sll harus punya me time. Ku sll ogah menjawab wa/telpon kalo ngga darurat kalo terkait pekerjaan. Me time ku 1 jam. Itu wajib. Abis itu mandi, ibadah etc
Maghrib adalah waktu sakralku. Ku punya 2 waktu sakral ibadah Maghrib dan tahajud-subuh. 

Jd Maghrib-Isya, aku ngga akan keluar kos, ngga mau ngurusi pekerjaan, untuk ku fokus ibadah,
Dzikir petang, ngaji, sholat
Kalo semua udah baru ku akan melakukan lain

Seperti baca halaman Al Quran lebih banyak, hafalan, dan dzikir jg lebih banyak dr waktu yg lain

Ya itu harus khatam maks 2 bulan sekali karena ku pengen setahun bisa khatam bbrp kali,
Hmm ku pengen pny bekal dik, belum punya sangu kalo sewaktu ² harus pulang

Mengaji dan sholat cara yg murah ketimbang sedekah karena ku ngga berpunya 😄

#dan hidayah itu ttp harus dijaga kalo ngga hilang cahaya buat diri, itu aku sih

7. Stlh isya, ku buat makan
Makan malam skrg wajib buatku,
Karena aku sdg program berat badan

Oia saat menyetrika ku ketat dg diriku sendiri, karena ku termasuk lamban dlm menyetrika (karena ku ngga tll suka), ku sll memaksa diriku dlm sekian menit ku harus bisa menyetrika sekian baju,
ngga setiap jg menyetrika, 2/3hari sekali, tp kalo nyuci wajib tiap hari, kalo ngga gunung

8.Setelah isya biasanya ku gunakan untuk untuk gawean, balas chat ortu tmn, kerjaan de el el 

Sampai pkl 9.00 abis itu ku slow respon, tp ngga saklek jg sih, kalo ada event buat besok pagi, 24 jam balas chat
nah, tp ku harus pny waktu buatku stlh pkl 21, yaitu belajar atau apapun yg sedang ku pgen nambah skil
dan ku pny target sampai tahap mn jg berapa lama ku bisa menguasai, karena ku merasa semakin tua, otak harus diajak belajar biar ngga lumpuh dini

Belajar itu me time buatku 😄 jd ku seperti manusia yg mengkotak²an tp mmg harus ada batas Misal nih Ku skrg lg hobi ningkatin skill desain grafis,
Saat ku belajar ya ku belajar dg desain yg bukan desain permintaan untuk kegiatan sekolah

Kalo bikin desain untuk pekerjaan sekolah,ku bermain waktu bukan belajar, tp waktu/durasi kerja

Kalo saat belajar ku bisa 2jam untuk bbrp teknik editing baru, kalo bekerja 1jam untuk skill yg sudah ada

Kalau gak gitu: km ngga menikmati dan akhirnya stress karena semua rasanya "bekerja"

Others Ps:

-aku 2/3 hari sekali, tp kalo pakaian sudah 3 potong ku bisa nyetrika di hari stlh cuci kalo udah kering. Aku ngga suka barang yg berjubel di luar lemari, km tahu sendiri gmn kosku di Bantul/Semarang sll rapikan baju nya?  biar kamarku bisa luang hihi

-Yukk..dirawat hidayah jg Inayah yg ada, yg hinggap di Isma 🤗
Mulai hal yg kecil, hal sederhana, tp konsisten

Allah lebih suka itu ☺️

-"Allah akan merubah kita (hidup kita) dimulai dr sholat"

Ku ngrasain bgt, ketika sholat ku berantakan, harianku berantakan

-Ku skrg ikuti cara main mereka dg ttp memegang prinsip diri

Di sini ku belajar lg bekerja profesional dan belajar yg namanya lillahi ta'ala
Ku bekerja bukan buat mereka

-saat semua pekerjaan dmn isma bnyk ambil peran dan sedikit yg terlibat justru menjadi motor yg kuat untuk Isma melaju kencang. jd Isma yukk bisa lah atur dan ambil peran dr waktu pekerjaan yg km pny

Dan juga pesan dari kawan lagi:

"Haha bisa2 ayoo, pentingin mana yg perlu didulukan."

Rabu, 05 Mei 2021

5 Mei 2021

Sedang kepikiran, saya tak ingin meletakkan diri saya dalam tiga kondisi:
1. Saling mencari di dalam gelap
2. Diajak menaiki perahu bocor
3. Ketika pintu saya ketuk, tapi seseorang menutupnya, dan saya sekalian menguncinya

Prinsipku, aku akan mengikuti mana yang lebih terang dan menuju cahaya, tak peduli seberat apa pun aku mencapainya.

Minggu, 02 Mei 2021

Repost: Perpisahan Baik-Baik oleh AS Laksana

 Yesterday, Mas Irfan Jalan Pulang talked about this short story, that inspired him to write the song "Kepada Ytc". It's about how can the couple that love each other to seperate with a good way. But, every lyric has their different interpretation, Mas Danto Sisir Tanah interpreted "Kepada Ytc" song related with Papuan conflict. Although as literal from the lyric talked egoist side from person who fall in love, "Bagaimana mungkin dua orang yang saling mencintai bisa mengakhiri cerita dengan baik-baik? bagaimana mungkin aku mendoakanmu agar kau temukan seorang yang lebih baik dariku? dan bahagia selamanya?" Then, I read this short story, in personal ways, this is the best short story from AS Laksana that I've ever read.

https://pekanbaca.blogspot.com/2015/02/perpisahan-baik-baik.html

Perpisahan Baik-Baik oleh AS Laksana

RUMAH makan langganan kami terlalu riuh sore itu dan kami hanya berdiri di ambang pintunya mengamati keriuhan di dalam rumah makan. Seorang pelayan mendatangi kami, mengatakan ada dua orang merayakan ulang tahun dan salah satu membawa anak-anak panti asuhan.

"Semua orang berulang tahun hari ini," kata Robi. "Untung Mama di Semarang. Kalau ia di sini, pasti dibawanya juga anak-anak panti asuhan kemari."

"Mama berulang tahun hari ini?" tanyaku.

"Ya."

Sebenarnya masih ada tempat duduk kosong yang bisa kami tempati, tetapi Robi menginginkan suasana yang lebih tenang untuk bercakap-cakap. Maka, kami beralih ke rumah makan lain di seberang jalan yang lebih sepi pengunjung dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Kami duduk berhadap-hadapan di meja untuk dua orang dan aku menghindari bertatap mata dengannya. Aku tahu apa yang ia ingin bicarakan. Kami sudah berkali-kali membicarakannya setahun belakangan dan topik itu terasa kian menyakitkan dalam tiga bulan menjelang ia berangkat.

Pelayan rumah makan datang ke meja kami, menyodorkan daftar menu, dan kemudian berdiri di samping meja menunggui kami memutuskan pilihan.

"Ada ikan hiu, Ratri, mau coba?" tanya Robi. Suaranya terdengar sedih.

Aku menggeleng.

"Konon penting mencoba hal-hal baru, termasuk dalam soal makanan."

"Maaf, Pak," kata pelayan, "Hiunya kosong. Itu menu pesanan."

"Maksudnya?" tanya Robi.

"Kalau mau, Bapak bisa pesan sehari atau dua hari sebelumnya."

Robi kembali menekuni daftar menu, lama sekali, kubayangkan seperti malaikat meneliti daftar kesalahan orang yang baru mati.

"Kau pernah melihat film ikan hiu, Rob?" tanyaku. "Bayi-bayi ikan hiu sudah harus bertarung dan saling memangsa sejak di dalam rahim induknya."

"Menarik, aku malah baru dengar itu sekarang," kata Robi. Matanya tetap di daftar menu.

"Sebetulnya menyedihkan," kataku.

"Kupikir telur-telur hiu menetas di luar rahim induknya."

"Itu telur itik."

"Maksudku seperti ikan badut di film Nemo. Induknya menaruh telur di semak-semak dasar laut dan mereka menetas di luar."

"Hiu tidak begitu. Jadi, dari sekian bayi di dalam rahim, yang keluar hanya yang berhasil memenangi pertarungan. Kau tega memakannya setelah ia berhasil mempertahankan nyawa dan selamat dari pertarungan?"

Robi mengeluarkan gumam, seperti hendak menjawab tetapi tidak jadi, dan, setelah diam sebentar, ia lantas menyebutkan menu yang ia pilih. Aku memesan menu yang sama agar mudah saja. Pelayan mencatat dan kemudian meninggalkan kami dan aku mengarahkan mataku ke jalanan. Dua remaja lelaki dan perempuan melintas di trotoar, bergandeng tangan, seperti dua figuran numpang lewat di layar film. Di belakang mereka segerombol remaja berjambul, persis kawanan kasuari.

Beberapa tahun lalu, saat kami belum lama berpacaran, pernah kami melihat serombongan anak muda dengan penampilan seperti itu di alun-alun, berjambul juga, dan Robi tiba-tiba mengajukan pertanyaan iseng, "Kau bisa menebak apa cita-cita mereka?" dan aku menjawab sekenanya, "Menjadi ustad, mungkin. Ada pelawak yang rambutnya persis mereka, tidak lucu sebagai pelawak, dan sekarang ia menjadi ustad."

Sekarang kami kehilangan kelakar dan mungkin tampak sebagai dua orang yang sama-sama tertekan. Kucabut beberapa lembar kertas tisu dari tempatnya. Permukaan meja terasa agak basah dan lengket dan aku mengelapnya dengan kertas tisu itu. Telingaku menangkap suara jalanan, dengung kipas di langit-langit, bunyi peluit dan aba-aba tukang parkir, dan akhirnya suara Robi. Ia terdengar lebih murung ketimbang saat menawarkan menu ikan hiu, seolah-olah ini hari terakhir kami hidup di muka bumi.

"Jadi kita tak akan pernah menjadi suami istri, Ratri?" tanyanya.

Aku tahu ia akan membicarakan hal ini dan aku tidak ingin membicarakannya.

"Bisa kita membicarakan hal lain, Rob?" kataku. Mataku tetap melihat jalanan.

"Tentang apa misalnya?"

"Apa saja, tapi kumohon jangan bicarakan urusan itu sekarang."

"Baiklah, tapi aku tak punya topik lain. Kau saja yang memilih topik pembicaraan."

"Rob...."

"Ya?"

"Apakah kita tidak bisa selamanya menjadi sepasang kekasih?"

"Maksudmu?"

"Apakah kita harus menjadi suami istri?"

"Tidak, jika kau tak menghendakinya."

"Tapi kau menghendakinya."

"Ya."

"Dan kau sudah tahu apa yang kupikirkan."

"Ya, tapi aku tak paham."

"Karena kau tidak mau paham."

"Mungkin. Tapi kau juga tidak mau memahamiku, bukan?"

"Aku hanya tidak ingin membicarakan hal itu sekarang"

"Dan kapan kau ingin membicarakannya?"

"Pada saatnya, tapi tidak sekarang."

"Kita sudah berhubungan tujuh tahun, Ratri, dan lusa aku harus pergi."

"Aku tahu."

"Tahun lalu, ketika aku tahu bakal ditempatkan di Venezuela, kubayangkan kita akan berangkat bersama-sama. Ternyata tidak bisa. Lalu kupikir aku akan berangkat lebih dulu dan kau menyusul bulan berikutnya."

"Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku, Rob, kau tahu."

"O, jadi karena urusan pekerjaan?"

"Rob...."

"Ya?"

"Kenapa kau tidak meninggalkan aku sejak waktu itu?"

"Sejak waktu itu?"

"Ya, sejak—'*

"Sejak kau masuk rumah sakit? Aku tak pernah memikirkan hal itu."

"Aku tak akan sakit hati jika kau melakukannya. Maksudku, aku tak akan menyalahkanmu."

"Baiklah."

"Apa maksudmu baiklah?"

"Mencoba memahamimu."

"Terima kasih."

"Jadi, sekarang aku tak akan mengajukan permintaan apa-apa lagi kepadamu. Dan itu berarti hubungan kita berakhir."

"Berarti kita tidak bisa hanya menjadi sepasang kekasih?"

"Tentu bisa, Ratri. Bisa sekali. Dan sepasang kekasih bisa menikah dan tetap menjadi sepasang kekasih selamanya"

Aku melihat sesuatu yang berbeda di dalam benakku dan kepalaku menggeleng-geleng begitu saja, cukup lama.

"Kau hanya melihat hal yang menakutkan tentang pernikahan, Ratri, dan kau memelihara ketakutanmu, dan kau tidak mempercayai aku. Kau juga tak mau percaya bahwa Mama bisa menerimamu."

"Aku minta maaf, Rob."

"Lucu juga bahwa kita harus berakhir seperti ini, pada hari ini, pada tanggal ini. Kau tahu sekarang tanggal berapa?"

"Dua belas."

"Dua belas Mei, hari kita jadian."

"Oya? Kau mencatatnya?"

"Aku mengingatnya, sebab sama dengan hari ulang tahun Mama."

"Kau tak pernah memberi tahu itu."

"Barusan sudah kuberi tahu."

"Sebelum ini maksudku."

"Mungkin karena aku malu. Atau sungkan dianggap anak mami, apa-apa harus selalu dikaitkan dengan Mama. Tapi sekarang kau sudah tahu bahwa sejak hari ini aku punya tiga hal yang kukenang pada tiap dua belas Mei: ulang tahun Mama, hari kita jadian, dan hari kita bubaran."

"Kau marah padaku?"

"Tidak"

"Aku minta maaf."

"Tak ada masalah. Setidaknya ada kepastian tentang akhir hubungan kita."

"Aku..." suaraku tersendat. "Kau tahu betul apa yang selalu mengganggu pikiranku."

"Bisa kita bicara topik lain saja, Ratri? Sekarang aku yang minta."

"Rob...."

"Ya?"

"Boleh kutelepon Mama?"

la diam beberapa saat. Aku mendengar tarikan napasnya.

"Kupikir tak usah" katanya, "Biar aku saja yang menyampaikan soal kita."

"Aku mau mengucapkan selamat ulang tahun," kataku.

"Tak usah, lah."

"Oh, oke! Oke!"

"Atau nanti saja setelah kita di rumah masing-masing."

"Tak usah, lah."

Sunyi lagi. Robi mengangkat ponselnya dan menekan-nekan tombol dan kemudian menempelkannya ke telinga kanan.

"Halo, Ma... Sedang apa? ... Ya, ya, sudah, semuanya sudah beres. Besok pagi aku pulang dulu, pesawat paling pagi, lumayan ada waktu sebelum lusa. Sebentar, Ma, sebentar, ada yang mau bicara."

Ia menyodorkan ponselnya kepadaku; tanganku agak tersendat menerimanya, juga suaraku:

"Halo, Ma. Ini Ratri. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, selalu sehat, selalu cantik, dan semakin dicintai oleh Papa."

Ia menanyakan apakah persiapan Robi benar-benar sudah beres semua. "Sering teledor anak itu," katanya. Dan seterusnya dan seterusnya dan pikiranku buyar.

"Ya, Ma, ini Robi mau bicara lagi."

***

TERAKHIR aku pulang ke Semarang tiga bulan lalu, mengambil cuti hari Jumat karena Kamis tanggal merah. Mama sedang duduk di teras membaca buku cerita dan anak bungsu Mbak Warni duduk menyimak di sebelahnya. Anak itu, usianya hamper lima tahun, berlari menyongsongku saat aku turun dari taksi, meraih tanganku dan menciumnya. Kukatakan kepadanya aku membawa oleh-oleh special untuknya dan untuk kedua kakaknya. "Mau tahu?" tanyaku.

Ia memandangiku.

"Kukira baru besokkau datang, Robi," kata Mama. "Kau bilang Kamis, bukan?"

"Sekarang ini Kamis, Ma," kataku.

"Benarkah? Bukannya Rabu sekarang?"

"Ragil," kataku pada si bocah, "coba kasih tahu Eyang sekarang hari Kamis, bukan Rabu."

"Sekarang hari Kamis, Eyang. Bukan Rabu!" teriaknya.

"He, sudah pintar kau. Sudah pantas punya adik," kata Mama. "Robi, kau sudah tahu empat bulan lagi Ragil akan punya adik?"

Mbak Warni sudah bekerja di rumah ini sejak aku kanak-kanak, menggantikan pembantu sebelumnya yang berhenti bekerja karena menikah. Kurasa umurnya tak beda jauh dari umurku. Aku kelas empat ketika Mbak Warni mulai bekerja; rambutnya panjang dan tubuhnya sebesar anak kelas enam, namun ia tidak bersekolah. Aku menyukainya, sama seperti aku menyukai Nuning, teman sekelasku yang rumahnya berseberangan dengan gedung sekolah dan aku suka bersepeda melintasi depan rumahnya. Kadang Nuning ada di depan rumah, sedang menyapu pekarangan, dan aku ingin menghentikan sepedaku dan menyapanya dan mengajaknya bercakap-cakap. Namun aku tidak melakukannya dan aku akan menyesal kenapa tidak melakukannya. Pada malam harinya, ketika sulit memejamkan mata karena perasaan menyesal itu, aku berjanji pada diri sendiri bahwa besok, jika aku bersepeda di depan rumahnya dan Nuning sedang menyapu pekarangan, aku akan berhenti dan bercakap-cakap dengannya. Dan aku tak pernah berhenti di depan rumahnya. Sampai kami lulus, dan aku sudah berulang kali naik sepeda di depan rumahnya, tak pernah satu kali pun aku melakukan apa yang kupikir seharusnya kulakukan.

Sesekali, saat aku merasa tidak mengantuk sampai larut malam, Mbak Warni menemaniku di kamar sampai aku tidur. Ia kenal semua jenis hantu yang ada di kampungnya dan tahu apa saja yang telah dilakukan oleh hantu-hantu itu terhadap para tetangganya. Ia menikah dengan pengantar susu langganan kami pada saat aku mulai masuk kuliah dan meminta izin kepada Mama untuk berhenti bekerja dan Mama menolak permintaannya. "Biar suamimu tinggal di sini," kata Mama. "Jadi kalian tak perlu keluar biaya sewa rumah."

Mereka pasangan yang subur. Anak pertama mereka lahir dua tahun setelah hari pernikahan, dua tahun berikutnya anak kedua, dua tahun berikutnya lagi si Ragil, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara, yang ternyata bukan anak bungsu meskipun telanjur diberi nama Ragil. Mama menyayangi mereka dan malam itu, ketika aku membawa secangkir kopi dari dapur menuju teras, kulihat ia sedang duduk di ruang tengah bersama Ragil dan kedua kakaknya, membacakan salah satu dari lima buku cerita yang baru saja kubawa untuk mereka.

Kopi di cangkirku sudah dingin ketika Mama mendatangiku di teras dan duduk di sebelahku.

"Sudah selesai mendongengnya, Ma?" tanyaku.

"Sudah tidur mereka," katanya.

"Papa belum pulang?"

"Bertemu teman-teman lamanya. Kalau mereka sudah bertemu, pasti sampai larut malam."

Tak ada lagi yang terlintas di kepalaku untuk ditanyakan. Lalu aku hanya menunggu ia memulai percakapan tentang Ratri. Aku tahu itu yang ia ingin bicarakan denganku.

"Kau sudah memikirkan risikonya, Robi?" tanyanya.

"Ya. kami tidak akan punya anak. Itu yang Mama maksudkan risiko?" tanyaku.

"Keluarga ini tidak bakalan punya penerus."

"Lalu?"

"Aku hanya mengingatkan, kau anak tunggal di rumah ini. Jika kau menikah dan istrimu tidak bisa melahirkan anak, maka putus sudah riwayat keluarga kita."

"Aku tidak meminta jadi anak tunggal, Mama."

"Sama, Robi. Aku juga tidak meminta jadi anak tunggal. Papamu juga tidak meminta jadi anak tunggal. Tapi kenyataannya kita semua anak tunggal."

"Mama tidak setuju aku menikahi Ratri?"

Mama seperti tidak mendengar pertanyaanku. Ia terus bicara dan suaranya terdengar seperti orang melamun.

"Dulu, ketika kami baru menikah, papamu pernah berkhayal punya anak sepuluh. Kubilang kepadanya, "Kau pikir kau menikahi kucing? Aku mau tiga saja. Kalau kau mau sepuluh, sisanya kau yang harus melahirkan." Ia bilang, "Baiklah, nanti anak keempat dan seterusnya aku yang melahirkan. Asal kau tak malu ke mana-mana menggandeng suami yang hamil tua"

"Tidak," kataku. "Aku tidak akan malu. Aku akan menyampaikan kepada siapa saja bahwa aku mempunyai suami teladan, ia bisa menangani segala urusan termasuk hamil dan melahirkan."

"Dan ia tetap tidak mau kalah. Katanya, "Kalau aku bisa melahirkan sendiri, aku mau melahirkan dua puluh anak."

"Ma.."

"Robi, bagaimanapun, nanti kau akan merindukan kehadiran bayi di dalam rumah tanggamu, yang akan kalian asuh sampai dewasa, sampai kelak ia membangun rumah tangganya sendiri, dan pada saatnya ia juga punya anak, dan seterusnya seperti itu, dan begitulah riwayat keluarga dilanjutkan oleh anak cucu yang lahir nanti."

"Mama, sekarang ini urusannya antara aku dan Ratri. Aku mencintainya dan memutuskan menikah dengannya"

"Baiklah kalau begitu. Jika keluarga ini ditakdirkan berakhir, aku akan menerimanya dengan lapang hati. Paling-paling aku hanya perlu minta maaf kepada leluhur bahwa garis keturunan kita berakhir."

"Kenapa berkata begitu, Mama?"

"Tidak apa-apa, Robi. Ini salahku juga. Aku hanya bisa melahirkan satu anak."

"Katakan saja Mama tidak setuju aku menikah dengan Ratri, aku akan menuruti kemauan Mama."

Tidak, Rob. Kau menikah dengan pilihanmu. Mungkin rumah tanggamu nanti bahagia, mungkin tidak bahagia, tetapi kau menikah dengan pilihanmu. Aku tidak mau seumur hidup disalahkan karena kau mengikuti kemauanku dan rumah tanggamu tidak bahagia."

Kami mengakhiri percakapan sekitar pukul setengah sebelas, setelah mulut kami masing-masing menjadi bisu. Pukul dua dinihari aku keluar dari kamar menuju dapur, mengambil cangkir di rak piring dekat wastafel, menuang air putih ke cangkir tersebut dan meneguknya sampai habis. Mama juga keluar dari kamarnya, melakukan hal yang sama denganku, mengambil cangkir dan menuang air putih di cangkir tersebut, menelan sebutir obat sakit kepala, dan mendorongnya dengan air putih di cangkirnya.

"Mama tidak bisa menerima Ratri?" tanyaku.

Mama menggeleng.

"Aku tidak punya masalah dengannya. Ratri gadis yang menyenangkan, aku menyayanginya dan kau mencintainya."

"Kalau Mama tidak setuju...."

"Aku setuju."

Dadaku sesak sekali. Pagi itu aku ingin menjadi kanak-kanak yang menangis di dadanya dan menemukan kedamaian pada degup jantungnya.

***

LANGIT berwarna jingga di luar, tetapi di dalam rumah makan aku merasa semuanya berwarna kelabu. Kami berpacaran tujuh tahun dan ia akan berangkat ke Venezuela dan kami mengakhiri hubungan dua hari sebelum ia berangkat.

"Rob."

"Ya?"

"Tlidak apa-apa jika lusa aku tidak mengantarmu ke bandara?"

"Tidak apa-apa."

"Aku ada acara di kantor."

"Tidak apa-apa, Ratri. Dan kau tidak memerlukan alasan apa pun untuk itu."

"Kau tahu aku tidak menginginkan seperti ini."

"Aku tahu."

Kuteguk habis sisa minuman di gelasku.

"Mau pesan minuman lagi?" tanyanya.

Aku menggeleng.

Robi memanggil pelayan. "Tolong dihitung, Mbak," katanya. Pelayan itu balik ke kasir dan datang lagi ke meja kami membawa secarik kertas dalam nampan kecil. Robi mengambil kertas itu dan menarik dompet dari saku celana dan menaruh kembali kertas itu di nampan kecil bersama beberapa lembar uang kertas yang ia ambil dari dompetnya.

Kami tidak banyak bicara sepanjang jalan pulang, sampai mobilnya berhenti di depan pintu pagar rumahku. Aku turun dan memberinya lambaian tangan. Kami menyelesaikan tujuh tahun cinta kami hanya dengan lambaian tangan. Aku bahkan lupa untuk sekadar berbasa-basi menawarinya mampir dulu. Ia melanjutkan jalan. Aku masuk ke dalam rumah dengan kepala rusuh, dengan kenyataan bahwa hubungan kami berakhir baik-baik. Itu tidak masuk akal: bagaimana mungkin dua orang yang saling mencintai bisa mengakhiri hubungan secara baik-baik?

Kenangan demi kenangan bermunculan tak terbendung dan menyiksaku hingga dinihari. Tujuh tahun begitu singkat dan hal-hal yang menyenangkan di masa lalu berubah menjadi ingatan yang memedihkan.

"Coba kau berdiri sebentar, Ratri," katanya suatu hari.

Aku berdiri dan ia meletakkan tangannya pada kursi yang kududuki.

"Panas," katanya. "Itu berarti kau akan punya banyak anak."

"Sok tahu," kataku.

"Menurut penelitian begitu. Dan itu berarti kita berjodoh. Aku ingin punya anak dua puluh biji dan mamaku juga menginginkan cucu dua puluh biji."

"Kalau begitu kau harus menikah dengan ayam. Dalam dua tahun kau bisa melahirkan Kurawa."

Itu percakapan ketika kami baru berpacaran beberapa bulan. Aku tak ingin mengingat percakapan itu, tetapi ia muncul begitu saja di kepalaku. Aku tak ingin memikirkan Robi, sebab aku bahkan tidak tahu apa doaku untuknya setelah kami berpisah. Aku tahu bahwa mestinya aku berharap ia bisa menemukan perempuan yang lebih baik dariku. Namun itu harapan yang akan menyakiti perasaanku sendiri. Aku telah menolak ajakannya dan kami berpisah, tetapi aku ingin ia tahu bahwa tak ada perempuan yang mencintainya lebih dari aku mencintainya. ***

 

2 Mei 2021

Personal is a political. 

I believe it. 

All I posted most of is a my personal taste. 

And its mean political.

Sabtu, 01 Mei 2021

1 Mei 2021

"... Berandai saja. Jika km trus gini, apa yg akan km peroleh. Itu aja seh simpelnya." Is