Wednesday, July 31, 2013

Sepuluh Kutipan #5

1. No matter how gifted you are, you alone cannot change the world.

2. You can never quit. Winners never quit, and quitters never win.

3. Jika kau tidak bisa jadi si Jenius sejati, maka jadilah si Jenius dalam kerja keras (Maito Guy)

4. Orang yang jenius hanya mampu dikalahkan oleh orang bodoh yang pantang menyerah! -Obito (Naruto)

5. "Apa yang kalian Fikirkan
Apa yang membuat marah
Apa yang kalian suka
apa yang kalian cari
ke mana kalian berkelana
dan siapa kalian berjumpa
pengalaman apa yang di dapatkan
Semuanya itu akan membentuk masa depan kalian dan bersamaan dengan itu akan membentuk dan menuju gaya balik yang akan di dapat oleh kalian
Temukanlah itu kuasailah
kesemua hal itu akan membimbing kalian ke masa depan yg akan lebih baik"
(Wing_Hunter X Hunter)

6. Uciha Itachi ~ perlu kepedihan yg mendalam untuk menjadi seorang yang kuat

7. ~ Uchiha Itachi - Naruto :"Bisa memaafkan diri sendiri dan mampu menerima kenyataan akan dirinya, itulah yang dinamakan kuat !"

8. Manusia tidak akan pernah bisa menang dari rasa kesepian - Gaara

9. Kemampuan ada batasnya.., tapi usaha tidak ada batasnya..,  -Hiruma (eyeshield 21)

10. Lebih mudah mengatakan..,dari pada melakukan.., -uzumaki naruto (naruto)

Dari berbagai sumber :)

Tuesday, July 23, 2013

Warung Mbah Tumbu


Bangunan itu kini tak seperti dulu lagi. Bangunan yang dulu bekas warung kopi dan makan tempat orang kecil dan pegawai nakal serta pengangguran biasa mangkal, kini menjadi restaurant yang ramai.
            Ku ingat delapan tahun yang lalu…
            Saat SD dulu, saat aku berangkat atau pulang sekolah selalu lewat warung itu. Di sampingnya berdiri kokoh bangunan gedung pemerintah yang tak boleh seorang gembel pun masuk. Di depan warung itu ada pipa-pipa panjang berdiameter 20-30 cm. Di bawahnya ada selokan berair jernih yang banyak ikan mliunnya. Dulu, aku dan temanku sering lewat di atas pipa-pipa itu untuk menguji keberanian, kadang pula saat pipa itu bocor, air keluar menyumbar ke atas. Kami bermain-main dengan air itu, tak jarang kami sampai jatuh ke selokan berjarak satu meter di atas kami. Mbah Tumbu pemilik warung itu dengan suara yang cempreng dan keras sering memarahi kami, tak jarang Mbah Tumbu membentak nama orang tua kami di depan pelanggannya yang seolah menunjukkan orang tua kami tak becus mendidik kami. Sampai di rumah pun ibu memukul pantatku dan menjewer kupingku sambil berceramah yang tak ku tahu ibu bicara apa.
            Mbah Tumbu tinggal dan bekerja sekaligus di warung kecil itu, bersama seorang pegawai bernama Raminah, tetangga dekat rumahku. Mbah Tumbu hidup sendirian di warung itu, tak bersuami dan beranak lagi. Pernah suatu hari ku tanya pada ibu dimana keluarganya? Ibu bilang suaminya meninggal karena lumpuh 15 tahun yang lalu saat aku belum lahir. Ia punya anak satu yang sekarang minggat entah kemana meninggalkan Mbah Tumbu yang saat itu hidup serba kekurangan. Ia membangun dari nol rumah kecilnya itu menjadi sebuah warung. Kondisi Mbah Tumbu sendiri juga tidak sehat, obesitas yang dideritanya membuatnya sedikit melakukan pekerjaan dan menggantungkan semua pekerjaannya pada Raminah. Suami Raminah kerja serabutan dan parahnya suaminya sering judi, togel, dan mabuk, saat ia dapat uang dari hasil kerjanya sebagai pemain ludruk. Anak pertama Raminah pun minggat entah kemana karena terjadi percekcokan dengan anak dan suaminya itu. Dan kini dia tinggal dengan anak bungsunya teman sebayaku dan teman mainku bernama Sularsih. Saat kelas satu SD dulu kami mendaftar bareng, tapi dia terpaksa tidak naik ke kelas empat karena tak masuk sekolah terlalu lama disebabkan saat naik sepeda motor dengan ibunya kakinya terjebak dalam jeruji roda sepeda motor yang membuatnya kehilangan jempol kaki bagian kiri dan sedikit berjalan pincang hingga sekarang.
Aku ingat saat aku kelas lima SD dulu ibu menyuruhku membeli sayur dan lauk di warung Mbah Tumbu, karena waktu itu ibu sakit dan tidak masak. Di depan warung itu ada empat orang bermain karambol, di samping pojok dekat mencuci piring dan tempat sampah ku lihat 23 orang sedang berjudi, dan di sebelahnya berserakan kulit kacang dan beberapa botol arak. Aku sangat takut masuk ke warung, tapi ku beranikan diri.
“Kopi satu Mbah,” seorang pegawai kantor saat masih jam kerja memesan kopi, ia keluarkan rokok dari sakunya, ia naikkan kaki ke kursi, dan mulai menyalakan rokok. Asapnya menyembur bau ke mukaku. Aku batuk-batuk, diam memandang Mbah Tumbu.
Golek opo Nduk (Cari apa Nak),” suaranya yang keras menggetarkan tubuhku.
Jangan lodeh kaleh tempe goreng sekawan (Sayur lodeh dan tempe goreng empat),” kataku pelan.
Entheni sidhiluk yo Nduk, jangane durung mateng (Tunggu sebentar ya Nak, sayurnya belum matang)”
Inggih (iya),” aku menunggu di bangku dekat tukang becak yang sedang makan. Ku perhatikan kondisi warung itu. Kepalaku tiba-tiba pening. Raminah datang membawakan kopi untuk pegawai kantor tadi, perhiasan imitasi melekat dengan jelas di telinga, leher, tangan, dan jarinya. Wanita paruh baya itu dikenal orang yang glamour dan suka bergosip.
Niki Mas (Ini Mas),” katanya dengan lembut, Raminah duduk sebentar dan bercakap-cakap. Setelah itu kembali ke dapur. Di luar kata-kata kotor dan hujatan karena kalah judi terdengar berisik di telingaku yang seolah tidak aku dengar. Di seberangku duduk buruh bangunan dan tukang dokar tengah mengeluh karena tiap hari kebutuhan pokok mengangkasa dan sialnya togel yang dipasang tadi malam tidak tembus.
Tiba-tiba aku terkejut saat rambutku yang panjang dibelai seseorang, aku refleks memukul tangannya.
Iki anak’e sopo toh Mbah, ayu tenan (Ini anaknya siapa Mbah, cantik sekali),” wajahnya yang berewok penuh bulu tersenyum manis di depanku.
Wis, ojo diganggu, mundhak nangis engko. Iku anak’e Mihardjo (Sudah, jangan diganggu. Membuatnya menangis nanti. Itu anaknya Mihardjo),” kata Mbah Tumbu menyebutkan nama ayahku.
Woalah, pemborong ko Solo iku yo. Cah ayu sopo jenengmu? (Oh, pemborong dari Jogja itu ya? Anak cantik, siapa namamu?)”
“Gal.. Galuh..” kataku gemetar, dia senyum lagi.
Lek cah iki wis gedhe, tak pek bojo mengko Mbah, hahaha.. (Kalau anak ini sudah besar, aku jadikan istri nanti Mbah, hahaha..),” katanya sambil tertawa pada Mbah Tumbu, aku semakin tambah takut, aku ingin menangis.
Bojomu iku lho diurusi ndisik, ora usah nambah manih. Cah ayu ngene ki gak pantes karo kowe. Karo anakku ae yo Luh,” kata Mbah Tumbu manis padaku, aku semakin tak mengerti.
Pria berewokan itu mendekati Mbah Tumbu, ku perhatikan gerak-gerik mereka yang tengah mengobrol hal serius.
“Anakku..” sayup ku dengar suara Mbah Tumbu dengan wajah berseri.
Nang ndi Yo?? (Dimana Yo??)” ku dengar suara Mbah Tumbu lagi. Tiba-tiba di luar terdengar jeritan keras.
“POLISI!! POLISI!!! BUBAR!!! BUBAR!!!”
Semua orang kalang kabut melarikan diri. Aku meringkuk sembunyi di bawah meja memeluk lututku, sambil ku alirkan air mata tak bersuara. Bau arak, bau rokok, bau sampah busuk di kolong meja sudah tak ku rasakan lagi. Semua sibuk mencari perlindungan. Suara sirine raungan mobil polsi jelas semakin jelas terdengar di telingaku. Suara itu berhenti, ku dengar derap sepatu pantofel memasuki warung Mbah Tumbu. Aku semakin meringkuk ketakutan, tiba-tiba sepatu itu ada di depanku. Ku menahan nafas, sepatu pantofel itu pergi, suara raungan terdengar lagi, tenggelam, tenggelam, dan hilang. Aku menangis terisak-isak, tiba-tiba seseorang menemukanku dan memapahku ke atas kursi.
Wis Nduk gak usah nagis (Sudah Nak, tak usah menangis),” tangannya yang besar mengusap air mataku. Refleks aku memeluknya. Tiba-tiba Raminah datang dengan nafas terengah-engah.
“Mbah Tumbu. Mbah! Waluyo mati ditembak polisi!”
Mbah Tumbu kaget dan berteriak, “OPO!! Waluyo mati!!” nafas Mbah Tumbu tersenggal-senggal.
Mbah.. Mbah.. kenek opo? Luh, tulong ewangi nggowo Mbah Tumbu ning kamar (Mbah.. Mbah.. kenapa? Luh, tolong bantu bawa Mbah Tumbu ke kamar),” Raminah dan aku memapah Mbah Tumbu membawanya ke kamar.
Raminah meminumkan air putih ke Mbah Tumbu.
“Anakku.. anakku.. anakku..” kata Mabah Tumbu
Anakmu kenek opo Mbah? (Anakmu kenapa mbah?)”
Anakku Nah, mau Waluyo ngerti anakku nang endi (Anakku Nah, tadi Waluyo tahu anakku ada dimana)”
Ternyata selama sepuluh tahun, Mbah Tumbu menyuruh Waluyo untuk mencari dimana keberadaan anaknya. Raminah langsung menangis, mungkin saat itu ia ingat masa lalunya. Tiba-tiba Raminah langsung kejang, aku berteriak keluar mencari pertolongan. Raminah pun dibawa ke rumah sakit.
***
Aku dan Sularsih sering berangkat dan pulang sekolah bersama, dia selalu ceria, meski terkadang ada teman yang mengejeknya. Aku kadang ingin menangis sendiri saat kakak-kakak kelasku mengejeknya dari belakang sambil mengatakan Sularsih “anak pincang”, tapi entah kenapa ia malah tersenyum saat dihina begitu.
Seminggu sudah ibunya terbaring lemah di rumah sakit. Raminah menderita penyakit stroke. Setiap malam Sularsih selalu pergi ke rumah sakit menemani ibunya sambil mengayuh sepeda yang jaraknya hampir sepuluh kilometer sendirian.
Luh, pipane ono sing bocor, dolanan yok (Luh, pipanya ada yang bocor main yuk),” ajaknya.
“Ayo, ayo,” kataku bersemangat, aku paling senang bermain air.
Dari jauh ku perhatikan warung Mbah Tumbu, warung kebanggaan beliau. Warungnya kini sepi. Mbah Tumbu menutup warung sampai Raminah kembali sembuh.
Kami saling menciprat-cipratkan air. Setelah wajah basah, baju basah, aku berjalan di atas pipa. Ku rentangkan tanganku menjaga keseimbangan. Sularsih tersenyum melihatku. Aku tak sadar kalau saat itu aku telah melukai perasaannya. Sularsih tak berani berdiri di atas pipa-pipa itu. Kemudian Sularsih mengajakku memancing ikan mliun menggunakan gelas minuman yang diberi tali raffia. Masih terekam jelas kenangan itu. Kemudian kami pulang bersama-sama, tiba-tiba di rumah Sularsih banyak sekali orang berdatangan.
Sih, kowe ulang tahun yo? (Sih, kamu ulang tahun ya?),” kataku sambil tersenyum, tertawa.
Mosok ulang tahunku kowe gak eleng (Masak ulang tahunku kamu gak ingat),”
“Hahaha..” kami tetawa. Sularsih ulang tahunnya Mei, sekarang Desember.
Aku mengikuti Sularsih masuk rumah. Suara tangis tiba-tiba menyeruak. Raminah telah tiada.
“MAKKK!!! MAK’E…!!!,” Sularsih berlari menangis memeluk jenasah ibunya yang terbujur kaku. Bom seolah meledak di depanku, tiba-tiba semua menjadi gelap.
***
Tiga bulan kemudian… Mbah Tumbu menyusul kepergian Raminah. Setelah kejadiaan itu orang tuaku pindah ke Surakarta. Kini warung bersejarah itu pun bermetamorfosis, dibangun menjadi warung baru yang sangat bagus. Tidak tampak warung lagi, tapi sudah seperti restaurant, tempat makan orang-orang cilik, orang Pertamina dan orang-orang berduit.. semuanya bisa makan disini.
Delapan tahun sudah kejadian itu berlalu. Warung ini tetap menjadi warung kebanggaan dengan berbeda wajah. Pipa-pia itu sudah tak ada lagi, diganti dengan sebuah taman dan tempat parkir. Sekarang aku telah menjadi mahasiswi, aku berkunjung ke warung itu, seorang anak laki-laki lucu menyambutku, kemudian berlari memeluk ibundanya.
“Galuh,” sambutnya kaget, ternyata dia tak pernah lupa dengan wajahku.
“Sularsih”
Kami berpelukan melepas rindu, setelah sekian lamanya tak bertemu. Sularsih menikah dengan anak Mbah Tumbu yang menghilang itu dan dikaruniai seorang malaikat kecil yang lucu.
Selesai.


ISMA SWASTININGRUM

Monday, July 15, 2013

Lirik Lagu (OST) Moga Bunda Disayang Allah

Wahai kegelapan kenalilah aku
Wahai kebisuan kawanilah aku
Setidaknya aku tak sendiri
Tatapku nanar ke depan
Mengasuh hati kelabu

Bagaimana wajah pagi, siang, malam
Bagaimana suara tawa dan tangisan
Bagaimana caranya bersujud, bagaimana ku berdoa
Bagaimana menyebut DIA

Ajari aku mengenal Tuhanku
Setidaknya nafasku masih ada gunanya
Biar halilintar gaduh bersahutan
Bagiku tetap saja hening dan sepi
Ajari aku mengenal semua
Seterang-terangnya dunia bagiku gerhana
Aku meyakini hanya Tuhan yang bisa
Membuat yang tak mungkin menjadi mungkin

Terima kasih Tuhan Maha Esa
Kau menguji aku alangkah indahnya
Walau begini hatiku bercahaya dan bisa melihat
Yang mereka tak lihat

Ajari aku mengenal Tuhanku
Setidaknya nafasku masih ada gunanya
Biar halilintar gaduh bersahutan
Bagiku tetap saja hening dan sepi
Ajari aku mengenal semua
Seterang-terangnya dunia bagiku gerhana
Aku meyakini hanya Tuhan yang bisa
Membuat yang tak mungkin menjadi mungkin

Nanti bila kelak ku bisa berdoa
Moga bunda disayang Allah

By: Melly Goeslaw

Saturday, July 6, 2013

Review Film Habibie dan Ainun

Jujur aja sih, film ini udah lama banget pengen aku tonton :) Dan sekarang kesampaian :D Kawan, buat kalian yang belum nonton (mau pun yang udah nonton), aku akan bahas lagi ceritanya.
Alur dimulai saat Ainun remaja, ia bermain kasti, trus Habibie digeret gurunya masuk kelas. Sampai kelas, gurunya nyari Ainun, tiba-tiba Ainun datang. Kemudian gurunya bertanya ke Ainun "Kenapa langit warnanya biru?" Ainun menjawab, kira-kira gini.. "cahaya itu gelombang, warnanya merah, kuning, hijau yang merupakan gelombang berfrekuensi panjang, dan warna biru yang frekuensinya pendek. Karena langit dan cahaya biru itu berfrekuensi sama, maka warna biru dibiaskan ke langit. Jadi, langit warnanya biru". Setelah itu gurunya tiba-tiba bilang, "Memang kalian ini jodoh" :)

Setting berubah di Aacher, Jerman tahun 1959. Habibie ada di sebuah gedung, dia ada di tempat yang banyak bukunya dan ngomong sama orang di sana pakai bahasa Jerman (tulisan artinya di TV kecil-kecil, aku nggak ngerti maksudnya) kemudian Habibie presentasi di depan bule Jerman tentang pesawat. Tiba-tiba Habibie jatuh ke lantai dan dibawa ke rumah sakit.

Kali ini layar berganti tempat di Bandung (saat ramadhan). Habibie dan seorang saudaranya pergi ke rumah Ainun. Trus flashback ke masa sekolah. Saat Habibie ngejek Ainun. Waktu itu Ainun lagi ngobrol sama teman-temannya, Habibie datang dan bilang..
"Hei, Ainun, kamu hitam, jelek, kayak gula Jawa.."
Nah, saat dewasa, Habibie masuk ke rumah Ainun (setelah lama tak berjumpa). Waktu itu Ainun sedang menjahit, Habibie memanggilnya. Ainun menengokkan kepala, Habibie bilang, "Cantiknya kamu, gila, kok sudah berubah jadi gula pasir" haha :D Di sini pak Habibie dipanggil Rudy. Kemudian mereka buka puasa bersama, di sini ayahnya Ainun ingin mendengar cerita Rudy tentang Jerman. Di sini juga Rudy cerita tentang penyakit TBC-nya. Saat selesai makan, Ainun dan Rudy ngobrol.. ternyata Ainun sudah menjadi seorang dokter dan akan mengambil program spesialis beberapa bulan lagi. Kemudian Ainun dan Rudy jalan-jalan. Sampai rumah, Ainun menulis surat untuk sahabatnya namanya Lis (gak tau nama jelasnya), bahwa dia telah jatuh hati sama seseorang bernama Rudy Habibie.

Suatu hari lima orang pria mapan (ada yang pejabat, tentara, jaksa, dll) datang sekaligus ke rumah Ainun (niatnya ntah mau melamar atau apa, hehe), mereka kesana menggunakan mobil, dan anehnya si Habibie orang keenam yang hadir naik becak. Seseorang menegurnya, : "Loh, Pak, pakai becak Pak?". Habibie menjawab dengan santai, "Kenapa? ada masalah? biarin saja.. haha.." sambil bercanda, dijawab sama seseorang itu, "Wo, MISKIN" :D Pas nyampai pintu, ayah Ainun memanggil Ainun, ayahnya menyuruh Habibie dan Ainun untuk berdua jalan-jalan. Kasian lima pria itu, hehe..

Pas jalan-jalan Ainun cerita, kenapa dia pengen jadi dokter. Trus Habibie nanya, apakah Ainun sudah punya teman dekat? Ainun menjawab, "Kenapa memangnya?", trus Habibie meresponnya dengan ekspresi malu-malu. Trus mereka pergi ke acara dansa. Di sana Ainun bertemu dengan sahabatnya yang bernama Lis dan suaminya Lis.Sahabatnya ini memanggil Ainun dengan panggilan Cempluk.. Lis bilang ke Habibie, kenapa dia bisa naklukin Cempluk yang kritis dan susah orangnya.. mereka bercanda-canda. Trus, ganti scene di dalam becak. Habibie cerita tentang janjinya membangun Indonesia. Saat dia sakit di Jerman dan berfikir hampir mati, Habibie membuat sumpah. Dan dialog romantis pun terjadi, seperti ini...
H: "Ainun, Ainun mau ikut saya ke Jerman?"
A: "Maksudnya ikut ke Jerman?"
H: "Ikut sama saya, kawanin saya, mendampingi, menjadi istri, lalu kita bangun keluarga, hanya boleh kita berdua.. tanpa campur tangan dari keluarga besar. Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Ntah kamu bisa menjadi dokter atau tidak, ntah kita bisa hidup mudah disana, tapi yang jelas saya akan menjadi suami yang baik untuk Ainun.."
A: "Aku tak bisa janji.. Aku tidak bisa janji menjadi istri yang baik, tapi aku janji akan selalu menemani kamu"
(#so sweet)
Kemudian mereka menikah dengan adat Jawa. Setelah itu naik pesawat ke Jerman. Scene di pesawat, Ainun gelisah karena pesawat berguncang.
H: "Tenang, kalau pesawat berguncang, itu tandanya bagus, tidak ada yang retak dalam pesawat"
A: "Kalau ada yang retak?"
H: " Ya jelas. JLEGG!!" (Habibie, mempraktekkan pesawat dengan tangan, dan tangannya nlungsep ke bawah. Mereka tertawa, Ainun diohongi kayaknya, haha.. :D)
 Kata Habibie..
"Nanti, aku buatkan truk terbang paling aman buat kamu.."
Kehidupan di Jerman, Ainun hamil. Habibie bekerja di perusahaan kereta api, merancang mesin gitu :)) Ada kejadian nyeseknya juga nih, saat lagi musim dingin, hujan salju, Habibie pulang kerja. Dia lihat dompet.. uangnya receh nggak cukup buat naik angkutan kota, akhirnya malam-malam dia putuskan jalan kaki menuju rumah, dan naasnya lagi sepatunya bolong, dia mengambil kertas dari tas kerjanya, kertas ditekuk-tekuk dan disumbatkan sepat yang bolong tadi. Ainun gelisah di rumah menunggu Habibie, dia sudah membuatkan sayur sop untuk Habibie. Sampai rumah kaki Habibie lecet, Ainun mengompresnya sambil mengutarakan isi hatinya, kalau dia ingin pulang ke Indonesia saja. "Hidupku di Indonesia, hidupmu yang di sini.." kata Ainun. Habibie menjawab..
"Kita ini ada di dalam gerbang, ada di terowongan yang gelap dan panjang, tapi kita tahu terowongan ini mengarah kemana. Setiap cobaan pasti memiliki tujuan. Ada cahaya. Saya janji, saya akan membawa kamu ke cahaya itu. saya janji.. Oke.."
Ainun mengangguk kecil dan menjawab, "Jangan lupa untuk terbang.."

Scene berikutnya Habibie sedang menangani proyek kereta api dan dia sukses. Tahun 1965 di Hamburg, setelah menyelesaikan studi S3-nya di sekolah penerbangan, Habibie mengirim surat resmi ke pemerintahan RI, dia ingin membuat pesawat terbang untuk Indonesia. Dan kabar gembira lagi kalau Ainun mengandung anak kedua.

Kemudian, Ainun sakit dan priksa kesehatan. Ada masalah di ususnya, dan kemudian Ainun dioperasi. Setelah itu, Ainun menjadi dokter spesialis anak di Jerman. Sedangkan Habibie ke Indonesia meninggalkan Ainun dan anak-anaknya di Jerman, meski berat tapi Ainun selalu mendukung, kata Ainun, "Indonesia memanggilmu, bersyukurlah.." Di Indonesia Habibie mengungkapkan jika industri pesawat, kereta api, kapal, bisa mendongkrak potensi anak muda.. dan hasilnya untuk rakyat Indonesia. Di tengah rencananya itu ada juga pihak-pihak yang mencoba membujuk Habibie untuk bergabung ke tender tertentu, dan Habibie menolaknya dengan sopan.

Sesekali Habibie menelepon Ainun di Jerman, Ainun sedih... anaknya sekarang sakit. Dia dokter yang mengobati banyak anak sakit, tapi kenapa saat mau mengobati anaknya sendiri dia tidak bisa, anak jadi tidak terurus. Akhirnya, Ainun memutuskan untuk pindah ke Bandung.. mendampingi Habibie lagi.

Rencana pembuatan pesawat terus berlanjut, Habibie menjalin kerja sama dengan banyak negara untuk proyeknya ini, seperti negara Kanada, Jepang, Spanyol, dll. Tapi ternyata ada piha-pihak yang gak baik juga, sampai nyogok jam tangan buat nyetujui kerja sama dengan pihak gak waras itu. Tapi Habibie mengembalikan jam mahal itu.. katanya, "Ajukan proposal saja ke saya, tidak seperti itu!" Tapi orang itu gak nyerah buat nyogok Pak Habibie, dia ajukan proposal yang sama (yang sudah ditolak) tapi yang nganterin wanita (maaf) pelacur gitu kayaknya. Trus penjaga gedung itu langsung membawa wanita itu keluar. Di rumah, Ainun mendengar kabar itu, mereka bercanda dan Habibie berkata, "Kamu yang paling cantik, serius!". Orang jahat yang mau nyogok pak Habibie tak berhenti hanya di situ, kini dengan cara terang-terangan, dia menyogok dengan cek dan uang tunai. Pak Habibie langsung mengusirnya, "KLUAR!!"

Di IPTN Bandung tahun 1995, dua orang wartawan Indonesia sedang mewawancarai Pak Habibie dan memotretnya.
Wartawan: "Jadi Indonesia bisa membuat pesawat sendiri?"
Habibie: "Tidak hanya bisa, tapi kita sudah mampu. Ini buktinya" (Habibie menunjuk pesawat rancangan yang hampir jadi).
Nahh, ada kejadian lucu nih antara dua orang wartawan itu dengan pak Habibie, kejadiannya di kamar mandi...
Wartawan (ngobrol dengan teman di sebelahnya): "Pernah dengar cerita tentang pesawat Kuwait?? Pesawat Kuwait perang dengan pesawat Amerika, orang Amerika bilang, 'tembak!' di tembak pesawat Kuwait 'duor, dor, dor!!' pesawatnya jatuh, haha. Nahh, ini sama. Pesawat Indonesia. Sama kejadiannya dengan Kuwait, perang. Pesawat Indonesia lewat juga di depan pesawat Amerika, ngapain ditembak, ntar juga jatuh sendiri!! Hahahaha..."
Mereka tertawa lebar, tragis yaa, gak bisa hargai buatan sendiri. Namun mereka gak sadar kalau di ruangan itu ada Pak Habibie, dan beliau mendengarnya. Beliau keluar dan lewat belakang dua wartawan itu, dua wartawan itu malu, skak mat!

Tanggal 10 Agustus 1995, penerbangan perdana pesawat N250 buatan Indonesia dilaksanakan. Media TV menayangkan penayangan dan disaksikan sampai warung kopi. Presiden Soeharto dan istrinya Bu Tien serta wapres Tri Sutrisno menghadiri acara ini, MENYAKSIKAN PENERBANGAN N250. YEEE!! Pesawatnya terbang dengan gagah!! :) Sekarang bangsa Indonesia bisa membuat pesawat sendiri.

Beberapa waktu kemudian, Habibie diambil sumpah sebagai seorang wakil presiden. Pas krisis moneter yang begitu parah, rupiah terpuruk, inflasi 80%, terjadilah REFORMASI. Lautan mahasiswa menuntut dan Soeharto mundur menjadi presiden dan digantikan Habibie.

Berbagai konflik pun terjadi di pemerintahan Habibie. Orang yang dulu nyogok Pak Habibie dengan tak tahu malu itu tiba-tiba ngomong di TV kalau pemerintahan sekarang adalah pemerintahan boneka. Banyak pihak yang nyalahin. Habibie usaha keras bangun bangsa ini. Berkutat dengan banyak buku, tidur satu jam doang, buat analisa penting. Sampai Ainun bilang dengan sedih dan marah-marah: "Kamu bukan superman! Kamu itu pemimpin negara. Kalau kamu nggak bisa mimpin tubuh kamu sendiri. Bagaimana kamu bisa pimpin 200 juta orang!!"--"istirahatlah"--"Kamu itu orang paling keras kepala dan orang yang paling solid yang pernah aku kenal!"

Dan ceita selanjutnya, di media diberitakan, pertanggungjawaban Habibie ditolak, dan berita-berita sentimen lainnya. Dan Habibie berkata kepada Ainun dan dua anaknya yang telah dewasa, "Papa tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden". Scene berikutnya Habibie pergi ke tempat pembuatan pesawat sendirian. Dia mengelus tulisan "krincingwesi" bergambar wayang di pesawat itu. Dari tadi Ainun mengikutinya dan berdiri di dekat Habibie. Dengan sedih Habibie berkata..
"Tujuh belas ribu (pulau), banyak infrastruktur yang bisa dikembangkan, tapi mereka tak pernah percaya!"
Ainun: "Ada banyak cara mencintai negeri ini"
Kemudian Ainun mengambil artikel tentangnya yang dulu digunting dan ditempel di kulkas oleh anaknya.
Ainun: "Kemana kita setelah ini?"
Habibie: (di hatimu)
Dan Habibie menangis dipeluk istrinya, Ainun.

Tahun 2000, mereka pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa berdua...

Kemudian Ainun sakit dan dibawa langsung ke Jerman untuk berobat, dengan teknologi canggih. Ainun sholat sambil tidur, ditemani dua anaknya dan diimami Habibie.
Ainun sakit parah, tapi dia bilang ke sahabatnya, "Lis, aku ingin pulang saja". Habibie, dua anaknya, dan sahabatnya setia menemani. Ainun sesekali bilang dengan terbata-bata ke Habibie, "Kau sudah minum obat?". Habibie menjawab, "Yang penting kamu sehat, sembuh, kamu harus kuat"... "Maafkan papah". Ainun berkata, "Jangan minta maaf, kamu sudah menepati janji. Kamu suami terbaik untukku". Kemudian Ainun dioperasi...
Saat hari ulang tahun pernikahan...
Habibie: "Saya berjanji, akan terus di samping Ainun"
Ainun tersenyum, terpejam, beliau meninggal dunia di Jerman. Ditemani suami, anak-anak, dan sahabatnya.

Cerita di akhiri dengan menghadirkan bapak B.J. Habibie asli di taman makam pahlawan, sambil cerita dan berpuisi.


Cinta mereka sejati :)

Sepuluh Kutipan #4

1. Sebagai makhluk yang diberkahi akal sebagai dasar intelektualitas diri manusia, kita hanya mempunyai 2 pilihan sikap.. "DIAM TERTINDAS atau BANGKIT MELAWAN. Karena membiarkan kesalahan adalah KEJAHATAN !"
(Soe Hok Gie)

2. “… kadang-kadang, kata-kata yang kamu ucapkan emang nggak sesuai sama mukamu.” (Nathan, hal 206. Novel: Let It Go)

3. Life is like pop songs, we may forget the lyrics, but we'll always remember the rhythm

4. "Menangis. Menurut mu menangis dengan air mata itu benar-benar menangis?" - 49 Days 


5. "Berkaryalah seolah kau tidak akan pernah berhenti berkarya" Bapak Wikan Danar Sunindyo

6. "Ternyata seseorang itu lebih mudah MENGGALI POTENSINYA daripada merubah karakternya ..." Pak Embas

7. "Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude." Zig Ziglar

8. "It's not what you've got, it's what you use that makes a difference"

9. "Just play. Have fun. Enjoy the game"

10. "I've never been afraid to fail" Michael Jordan

NB: Dari berbagai orang, dari berbagai sumber :)


“Aku akan memberitahumu: tidak ada yang bisa membujukku untuk menyerah! Karena aku tidak akan pernah menyerah !“- Jang Geum

Original Post at: http://minozone.blogspot.com/2012/01/kutipan-kata-kata-dari-drama-korea.html
“Aku akan memberitahumu: tidak ada yang bisa membujukku untuk menyerah! Karena aku tidak akan pernah menyerah !“- Jang Geum

Original Post at: http://minozone.blogspot.com/2012/01/kutipan-kata-kata-dari-drama-korea.html