Wednesday, January 28, 2015

Haha

silahkan teriak
aku masih baik-baik saja

tak perlu kata-kata tinggi
aku capek itu hanya obat mabuk sementara

keluarlah, bebaslah, seperti kamu yang biasanya
aku dan kamu akan masih baik-baik saja
dan kita akan tertawa "haha" lagi bersama

Musyawarah Majelis Syura (MMS) Sanggar Nuun 2015


Setelah sekitar jam 9-an siap-siap, pergi ke PKSI buat kumpul. Karena waktu itu saya jadi seksi konsumsi, saya di-sms Havid (ketua MMS) buat datang jam segitu. Di sana ketemu Madam, Mita yang lagi KRS-an, Mila, dll. Dapat kabar gak enak karena Meli dan Havid pas mau ngambil sesuatu dari kontrakan, mereka jatuh dari motor dan dibawa ke RS Bethesda. Untunglah tak apa-apa.
Teman-teman belum banyak yang datang, sampai siang nunggu di PKSI. Sorenya berangkat ke Pondok Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul lokasi MMS naik motor bareng-bareng.

Malamnya (23/1), acara pembukaan, dilanjutkan pembacaan tata tertib dan laporan pertanggungjawaban, LPJ. Ngeh saat pembacaan LPJ terakhir. Saat Mas Mumun bicara tentang faktor penghambat kinerja sanggar, seperti di fakultas kita tak punya wacana teater yang bagus, terbatasnya ruang, kita tidak lepas dari sistem kampus yang seperti itu, sifat acuh tak acuh. Trus saat debat tentang divisi sastra juga yang kata Gudel dan Diyanto belum terwadahi. Yang menarik mungkin respon dari Pak Munir:

"Coba kita renungkan kembali Sanggar Nuun itu wadah. Tentunya awak di dalamnya, keaktifasnya. Misal kuliah di sastra memunculkan sastra. Apakah sudah bertanggungjwab dengan sastra? Coba kembangkan. Yang luar dibawa masuk, yang masuk dibawa keluar. Seberapa kuat merealisasikannya, seberapa besar susah payahnya? Apakah tekat kita sudah yes atau hanya lacur di mulut kita? Penting untuk saling menopang sebenarnya. Itu dibangun dari teks. Sastra tidak hanya cenderung puisi atau cerpen, yo hola holo. Niate kalau mau dibikin bagus ya tinggal tekat kita."

Dari Pak Tain sendiri menjelaskan angkatan saya proses yang dilalui sekitar setahunan, sedang yang di-LPJ-kan dua tahunan. Laku prosesnya sudah beda, tak hanya tanggung jawab formal, tapi juga etis. Dari historiografi ada kelemahan-kelemahan juga bagi yang tidak ikut. Kalau diibaratkan roda sebenanrya Nuun menggelinding terus. Di satu sisi, kita tak bisa menghitung ruji roda jika kita bergerak terus, kita bisa ngitung kalau sudah berhenti dan mempertanyakan pertanyaan krusial: sebenarnya kita lagi ngopo sih? 

 "Tak sekedar berkumpul, tapi juga soal penciptaan dan nilai-nilai yang kita perjuangkan."

Kalau kata Mas Mumun, proses individu sebagai proses pengayaan bersama. Ya, di hari pertama itu LPJ diterima namun secara bersyarat. Saat saya membaca LPJ-nya sendiri yang seperti buku diktat tebal, gila ini Nuun membahasnya detail banget, dokumentasi rapi, sampai pertemuan-pertemuan kecil itupun dimasukkan. Wohhh tenan...
Bolo Kurowo Pasca LPJ (Doc. Sanggar Nuun)
***
Di hari kedua (24/1), usai sarapan telo godog dan teh anget kita membentuk anggota komisi untuk membahas tentang Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Sanggar Nuun.
Yang selalu membuat kangen, makan bareng! (Doc. Sanggar Nuun)
Saya masuk anggota komisi AD, anggota membahas, mendebat, merombak apa-apa saja yang perlu diubah. Ada yang alot soal diksi, sampai esensi. Lalu siangnya AD dan ART ini diplenokan di pendopo. Pemimpin sidangnya si Madam Jemprit sama sekretarisnya Mas Penyok Kholis Lembayung. Dan perdebatan sengit memang ada di sidang pleno ini sampai lamaa banget. Dari siang sampai bakda magrib baru selesai.

Membahas GBHSN (Doc. Sanggar Nuun)
Malamnya membahas tentang Garis-garis Besar Haluan Sanggar Nuun (GBHSN). Semacam ideologi, pegangan, landasan baik struktural maupun kultural.

Pak Munir: "Kaitannya di agama,  general kita pahami. Sepengetahuan dan sepembacaan saya, kita memiliki titik sadar kesenian yang wilayahnya ideologis bukan idealis. Ketika pentas, disana memberi rambu-rambu. Aturan itu bukan belenggu, kita mentransformasikannya dalam nilai-nilai. Akan sangat beda bobotnya jika kita punya plot atau alur yang jelas."

GBHSN ini setelah dikomisikan lalu diplenokan. Cukup lama sampai larut malam, sebagai proses memahami aku adalah manusia. Karena ketika jadi sesuatu tapi 'gak ngerti' itu lucu.

Mas Mumun: "Konsep keseluruhan Sanggar Nuun itu ya Nglaras Natas. Bagaimana kita sampai pada keseimbangan dari carut marut nilai yang ada. Doa kita di ultah bagaimana bisa seimbang (equiblirium)? Kenapa sih kita ngedan? Intinya pemantik diri sendiri. Bagaimana saya? Bagaimana kekuatan saya? Bagaimana memahami teks? Itu sangat tercermin dalam proses. Tidak hanya membaca ini, tapi juga membaca apa yang terjadi, apa yang saya lakukan? Beda lho mentalnya orang yang proses di sanggar itu penuh dan yang tidak.Proses tergantung individu masing-masing. Pengaruhnya buat aku apa? Tanggung jawab dengan diri sendiri, dengan tugas sendiri untuk besok berarti."

Ada yang pernah bilang pada saya bahwa kalau ikut proses, menyetubuhlah dengan proses itu. Mungkin itu yang diinginkan mas Mumun. Dan GBHSN yang dipimpin oleh Fuad dan disekretarisi Mas Dimpil Adib Hasubullah ini usai jam 12-an malam. Dengan semua kelakar warga saat membahasnya, dari kosa kata sensitifitas, kepekaan, hingga humor "harap disantaikan", haha.

***
Di hari ketiga (25/1), pembentukan tim formatur. Terpilihlah lima orang yang menjadi tim formatur melalui voting dengan sedikitnya lima suara, yaitu: Pak Munir (ketua), Kak Icha, Mas Zulfan, Mas Perek 'bitch' Okta, dan Mas Mon Mumun. Dari tim formatur terbentuklah tiga kandidat calon ketua Sanggar Nuun: Wahyu M. Firdaus, Havid Anshori, dan Sohibul Hidayat. Dilakukan pemilihan putaran pertama, dan Wahyu Cempe gugur. Dua masuk final, Dayat dan Havid (John Keple). Koalisi dua kandidat cukup sengit, hahaha. Ada tim kampenya juga.

Setelah pembacaan visi-misi dan debat calur (calon lurah) kita voting lagi. Dan terpilihlah (jreng-jreng-jreng)..........  

Damn! They choose the mother of fuckers Sohibul Hidayat!
Serah terima lurah lama Mumun (kanan) ke lurah baru Dayat (kiri) - Doc. Sanggar Nuun
Dayat menang mutlak 22 suara mengalahkan Havid 8 suara. Setelah terbentuk ketua, lalu pembentukan struktur kepengurusan, dari pelindung, penasehat, pembina, pendamping, ketua, sekretaris, bendahara, dll. Setelah itu foto-foto bareng. Dan pulang. Alhamdulillahhirobiil alamin.
Pengurus Baru dan Pendamping (Doc. Sanggar Nuun)
Bersama (Doc. Sanggar Nuun)
Cheer!! (Doc. Sanggar Nuun)
 Is-2015

Tuesday, January 27, 2015

Pak'e Tain Tentang Tradisi Sanggar Nuun

(Disampaikan oleh Mustain Ahmad/Pak’e di acara Musyawarah Majelis Syura Sanggar Nuun 23-25 Januari 2015 di PP Kaliopak Piyungan Bantul)


"Selamat bagi pengurus dimensioner yang purna tugas, selamat bagi pengurus baru yang akan melaksanakan kepengurusan baru. Tahun 2001, 2002, 2003 periode paling sunyi karena orangnya dikit, akhir 2002 yang dikatakan aktif enam orang, datang pergi 16 orang sudah bagus. Tahun 2001 ada 16 orang yang berangkat ke Surabaya-Semarang. (Pentas) Sinbad kemarin meningkat drastis sampai 42 orang. 

Periode yang paling semarak periode tahun 2008-sekaranglah. 2009 ke Bandung 50 orang saat Kidung Matahari. Kru paling lumayan. Alhamdulillah hingga saat ini masih ada 33 orang yang ada disini. Militansi Sanggar Nuun luar biasa. Sedikit atau banyaknya orang tidak menjadi masalah bagi orang yang berkesenian. Kalau sedikit ya piye carane membuat orang terbuka, tetap santai. Mengatur banyak kepala kan sulit tapi punya banyak pilihan atau alternatif yang bisa dikerjakan. 

Teman-teman baru mewarisi tradisi panjang. Tradisi pertama adalah keluarga yang paling penting adalah kerukunan. Tradisi kedua adalah tradisi gotong royong, berat sama dipikul, ringan santé wae. Tradisi ketiga tradisi keras kepala tradisi kekuatan berkata tidak atau iya pada apa yang kita yakini. Kalau benar-benar “iya” ya “iya”, tidak ya tidak. Salah satu karakternya kita tidak mungkin mengingkari GBHSN untuk sekedar mencari uang. 

Tradisi paling lekat adalah ini sebenarnya bukan tradisi atau sifatnya umum saja. Bahasa yang paling tepat mungkin itu bisa dipelajari sambil berjalan dan berproses. Di satu sisi orang mengatakan bahwa yang di depan dihormati, belakang disayangi. Itu tidak berlaku di Sanggar Nuun. Ketika mulai proses bersama semua orang equal, kita tidak memandang semua senior yang harus didewakan. Tapi kita juga tidak mengingkari sejarah teman yang lebih dulu proses lebih punya sesuatu. Itu tak berlaku bagi sanggar umumnya, kecuali berkesenian untuk profit. Orang film meski senior kalau nggak becus ya dipekok-pekokan

Selain berproses tentu berkarakter. Kalau karakter bunga itu wangi, api ya panas. Sabar, bersungguh-sungguh, karakter manusia tidak sekonyong-konyong hadir, okelah kita tak bisa mengajari api menjadi panas, tapi manusia bisa. Kalau tidak dipelajari ya tidak bisa. Satu karakter yang semua sepakat “santai”. Tidak dalam arti berleha-leha.

Yang harus dikritik berat adalah tradisi “baca buku”. Tradisi kita melompat dari tradisi lisan ke tradisi informasi. Tiba-tiba revolusi industri sudah terlompati, sudah masuk sedemikian cepat. Masih ada orang yang belum lewat tradisi bacanya. Kalau orang kerja satu minggu liburan satu hari, kalau orang informasi kerja plus liburan. Padahal tidak seperti itu. Kita kembalikan lagi pada yang punya. Selamat mengurusi Sanggar Nuun. 

Sanggar yang hebat buat saya. Banyak hikmah. Saya yakin di sanggar ini kita lebih dewasa dan lebih menjadi manusia."
Tengah: Pak'e Tain (Doc. Nanisa)

Friday, January 23, 2015

Mata Kata Matamu

Di antara rasa gemetarku saat menemui tadi malam
Dengan keberanian yang setengah mati aku kumpulkan
Di antara lagu-lagu aneh
Di antara anomalimu
Di antara kata-katamu
Di antara suara-suara gitarmu
Dan aku tetap diam tak mengulasnya lagi
Dan kamu pun pasti mengerti, aku mengerti
Di matamu ada mata-mata-mata-mata
Di suaramu, tatapanmu
Dan seperti katamu: semua akan kembali juga pada pilihan
Aku pun paham

Tuesday, January 20, 2015

Eyang: Autisme Anak Kos dan Ketika Kamu Tua

Sekitar jam delapan pagi Mbak Arik (perawat eyang sang pemilik kos) memanggilku dari pintu. Aku yang tengah asyik membaca bukunya Garth Stein keluar. Mbak Arik memintaku untuk menemani eyang yang sedang sakit. Dia sendirian, sedang Mbak Arik sendiri mau pergi ke pasar untuk belanja dengan Arga dan suaminya. Ditambah satu-satunya anak kos yang masih tersisa hanya aku. Lainnya pada pulang kampung, liburan semester. Aku pun mengangguk.
Nama eyang adalah Bu Supeno, tapi aku tak yakin ini nama aslinya, mungkin nama sauaminya. Ia berasal dari Madiun, Jatim. Umurnya sekarang 74 tahun. Rambutnya putih, kulitnya berkerut, tinggi, dan bicaranya sangat halus. Suaminya meninggal ketika anak keempatnya masih kecil. Single parent yang luar biasa, mewisudakan anak-anaknya hingga mencapai sukses.
Sisi Rumah Eyang di Jl. Kusbini Pengok
Aku masuk ke dalam kamar eyang yang kelihatan klasik di mataku. Kamar itu bercat putih dengan perabotan-perabotan tua zaman dahulu. Ada lemari tua berjajar dengan baju-baju yang rapi digantung terlihat dari luar. Lalu sejenis meja hias dengan kaca besar dan di samping tempat tidur eyang ada meja lagi berisi buku-buku kesehatan, keislaman, dan alat-alat tulis. Di sudut dekat jendela ada TV 14 inch. Dan eyang berbaring lemah di spring bed warna putih dengan selimut dua lapis. Aku duduk di sebelahnya. Pandanganku jatuh ke foto-foto di dinding sekitar spring bed eyang. Ada foto almarhum suaminya, eyang ketika muda, dan empat foto anak-anaknya.
Aku menyapa eyang... dalam hati kecilku aku kikuk tiap kali dekat dengan eyang. Mungkin karena sifatku yang tak banyak bicara. Hatiku sebenarnya nangis karena di dekat eyang aku tak bisa membuatnya tertawa atau menceritakan sesuatu untuknya seperti halnya Mbak Susi (mbak kosku yang ceria, mudah akrab, dan banyak bicara tapi dia udah menikah dan pindah kos ikut suaminya). Eyang menyuruhku bercerita tapi aku bingung mau cerita apa. "Cerita-cerita mbak, tentang SD, SMP, SMA, atau kuliah..." begitu kata eyang. Aku hanya tersenyum pahit karena aku sebenarnya tipe orang yang sulit bercerita secara oral. Ada perasaan tidak nyaman di antara kami. Entah. Aku menceritakan tentang hal-hal klise, tentang sifatku. Cerita tentang temanku masa SMP dan SMA tak lebih dari sepuluh kata. Saat kami sama-sama diam, aku sedih, aku sedih.
Eyang memintaku juga untuk mengukur tensi darahnya dengan tensimeter digital gitu. Dilekatkan ditangan dan dipencet tombolnya dan keluar hasilnya. Alat sekarang emang canggih-canggih.
Lalu yang bercerita lagi-lagi eyang lagi. Dia bertanya padaku apakah aku sudah kenal dengan adik-adik kos yang baru? Aku menjawab: beberapa aja eyang... beberapa udah pernah saling ngobrol. tapi beberapa cuma sekedar senyum kalau lewat.
Di lingkungan kosku ada empat anak baru, semuanya mahasiswa AA YKPN. Jujur, aku selama hampir satu semester ini tak begitu dekat dengan mereka. Meski tetangga seperti ada gap yang jauh dan serasa tak saling kenal. Ini konyol sekali. Kita tak pernah saling bermain ke kamar kos satu sama lain. Tak saling berbicara, saling individualis seperti kompleks perumahan yang saling tak kenal antar tembok. Kita seperti hidup sendiri-sendiri. Bahkan dengan senior kos yang lebih lama dari aku, dua orang (anak YKPN juga) pun demikian. 
Eyang cerita kalau anak kos sekarang dan dulu sangat beda. Eyang tak menyalahkan anak-anak itu, ia melihat zaman sekarang itu berbeda dengan yang dulu. Dulu itu rukun, saling kenal, sering masak, bersihin kamar mandi sendiri. Kalau eyang sakit sering nemenin eyang di kamar, tidur bareng di ruang eyang, nonton TV bareng, malah kalau mau nganterin eyang pergi saling berlomba. Anak sekarang acuh-acuh (nggak nyapa kalau nggak disapa), lebih kotor (bersihin sesuatu mesthi nunggu pembantu), dan individualis. Sungguh, humanismeku dan eksistensialismeku benar-benar dihakimi detik itu dengan cerita-cerita eyang. Aku benar-benar takut apa yang aku rasakan tidak hanya terjadi di lingkungan kosku, tapi juga di kos-kos yang lain. Afin di KEM pernah cerita, dia mau nyapa mbak kosnya aja ragu dan dia pernah ngasi jajan gitu dari ibu kos ke mbak kos, tapi ditolak, Afin bilang rasanya sakit.
Apa yang membuat kita menjadi seperti itu? Semakin autis sendiri, semakin egois, semakin kronis. Apa karena dunia gadget itu?! Wadehel. Di kuliah pun kadang gitu, di organisasi kadang juga gitu! Payah.
Balik tentang eyang, ia beberapa kali menelepon sesorang. Lalu teman eyang yang sesama lansia bernama Bu Edy (tetangga sebelah eyang) berumur 75 tahun berkunjung ke kamar eyang. Dari logat bicaranya, aku kenal sekali dia pasti orang Jawa Barat. Dan benar, pas kutanya darimana? Dia orang Sunda, asal Serang, Banten. Mereka saling bercengkerema mengenai masa tua mereka yang timik-timik. Aku menjadi pendengar setia. Eyang Edy merasa bingung kegiatan apa yang cocok dengan mereka. Mau baca buku sudah lelah, mau nulis gemeteran dan tak jelas. Tua, beruban, sakit-sakitan. Makan ini tak boleh, rasa asem asin manis dibatasi dokter. Maka puas-puaskanlah polah dan icip sebanyak mungkin rasa sebelum kamu tua.
Apalagi aku tak bisa membayangkan jika nanti aku seperti eyang. Di hari tuanya sendirian ditemani pembantu/perawat, sedang anak-anak dengan kehidupan mereka sendiri teresebar di kota-kota besar dan hanya sebulan/2 bulan sekali menjenguk sehari. Kesepian, sendirian. Ah, imajinasiku terlalu jauh ya. Aku jadi teringat novel terjemahan Belanda zaman SMA dulu, aku lupa judulnya apa, kalau tak salah "Wisma Manula". Tentang sebuah panti jompo, orang-orang tua disana kasian sekali karena sebagian besar anak-anaknya tak mau mengurusi mereka lagi. Aku kadang marah sama anak-anak eyang, kenapa tak ada yang menemani satupun eyang disini? Jadi ingat orang tua di rumah. Seperti apa nanti aku akan memperlakukan ibuk dan bapak di masa tuanya?

Is-2015

Tuesday, January 13, 2015

Happy 21th Tias Dwiana Putri

Adikku pertama, namanya Tias Dwiana Putri. Hari ini dia ulang tahun yang ke-21. Agak kaget karena hari ini dia ulang tahun dan untunglah yang mengingatkanku kalau dia ulang tahun bukan fesbuk, tapi kesadaranku sendiri saat tak sengaja menulis tanggal dengan pena pagi itu. Syukur, radarku masih peka untuk hal yang berbau sentimentil seperti ini. Aku bisa merasakan bagaimana hatinya sekarang. Perkara ulang tahun itu perkara perasaan. Biasa untuk orang lain, tapi tidak untuk yang merayakan.

Mungkin aku akan menceritakan tentang dia sekilas. Dia lahir tanggal 13 Januari dua puluh satu tahun yang lalu. Ia lahir di kamar mandi saat ibuk sedang mandi. Kata ibuk melahirkan Tias sungguh sangat gampang, ibuk tak perlu ngeden seperti melahirkan anaknya yang lain. Melahirkan Tias sama seperti halnya ibuk beol, soalnya Tias lahir prematur, belum waktunya, "Pas lahir dia kayak botol," begitu kata Ibuk. Badannya kecil dan sering sakit-sakitan. Saat bayi dia menderita step tingkat akut. Sehari dia bisa kambuh sampai 12 kali. Menurut dukun urut tetanggaku yang bernama Mbah Dami, dia tidak menyangka kalau Tias masih hidup hingga sekarang. Ibuk selalu tidak pernah tidur merawat Tias, pernah suatu waktu Tias jatuh dari atas amben, tubuhnya kontal-kantul, dan ibuk baru menyadarinya ketika bangun. Tak jarang juga ibuk juga membawa adikku itu ke orang pintar seperti Mbah Kendar saat stepnya kambuh.
Umur dan keajaiban memang selalu milik yang kuasa. Adikku berumur panjang dan penyakit stepnya saat ia dewasa sembuh total. Entahlah, ibuk memberinya obat apa?
Memang, kemampuan berpikir adikku ini tak terlalu tinggi. Tak jarang aku sering mendengar Tias dilabeli goblok dan bodoh oleh keluargaku sendiri, tapi dia tak sebodoh itu kok.
Pas SD, kita satu SD, beda satu kelas karena kita beda satu tahun. Pas SMP aku mendaftarkannya ke SMP favorit di kotaku, sekolahku dulu, SMP 2 Cepu. Sungguh kejam sekali, belum apa-apa Tias sudah ditolak sama seorang guru yang jaga di gerbang, disuruh daftar ke SMP lain karena rata-rata nilai UAN-nya lima. Lalu bapak memasukkan adikku ke sebuah SMP swasta Islam: SMP Al Muhammad Cepu. Letak SMP ini jauh, mesthi naik tanjakkkan curam dan tinggi Wonorejo yang di kanan-kirinya ada kuburan. Dia naik sepeda tiap hari. Sering ia bercerita tentang kisah konyolnya pas SMP. Salah satunya, dia pernah telat, dan dia tak berani masuk. Lalu ia mengurung dirinya sendiri di kamar mandi (aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritanya ini, ngapain coba? Bolos kok bolos di kamar mandi?)
Saat telat juga, Tias pernah sepedahan sedirian kemana pun, suatu waktu bapak memergokinya, dan Tias hanya cengar-cengir.
Namun, di SMP ini adikku terlihat sangat bahagia karena dikaruniai sahabat-sahabat yang baik. Tias sangat menyanyangi teman-temannya saat SMP. Tias merasa menyatu dengan mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Dia sering cerita tentang teman-teman SMP-nya yang sama-sama lucu dan konyol seperti dia. Itu berbeda jauh denganku saat aku duduk di SMP favorit itu, hahaha. Sudahlah, SMP bagiku sangat sakit kadang. Terkucilkan, sendirian, ya sudahlah....
Lulus dari SMP bapak rencananya ingin memasukkan Tias ke SMA. Awalnya bapak berharap Tias masuk SMA favorit juga, SMA 1 Cepu (SMA-ku), tapi lagi-lagi dia ditolak karena nilainya tak mencukupi. Didaftarkanlah Tias ke SMK 1 Cepu (SMK favorit) jurusan Tata Niaga. Dan dia masuk di daftar "cadangan", jika ada yang mengundurkan diri dia diterima, jika tidak ya tidak.
Tuhan akhirnya memberi restu pada Tias untuk masuk SMK itu. Sungguh kelas yang menyebalkan bagiku, di jurusan itu seluruh siswanya kata Tias perempuan semua! Awalnya ada dua cowok, tapi keluar semua. Disini Tias pernah jualan di rumah, beli jajan di pasar, juga magang di Toko Demangan Cepu. Namun, aku melihat dia tak begitu lihai juga berjualan.
Lulus SMK, bapak mendaftarkan Tias di STAN tapi tidak lolos. Saat ditanya 'apakah ingin kuliah?' Tias menjawa lebih senang bekerja. Dia tidak ingin ketemu dengan pelajaran-pelajaran lagi. Aku sangat sedih sekali, Tias lagi-lagi beda denganku yang rakus dengan buku-buku.
Pas aku kuliah di Jogja, Tias pernah ikut aku setengah tahun satu kos. Ia kerja di toko awul-awul Sandang Murah depan Jl. Gejayan. Dia tak betah dan kembali ke Cepu. Di Cepu ia kerja di toko buku bekas aku bekerja dulu. Dia lagi-lagi tak betah karena tacik pemilik toko cerewet dan sering ngomel, kalau sudah ngomel orang China gaek itu nusuk sekali katanya sampai hati, sampai bawa keluarga segala. Pernah dulu pas aku kerja, dari toko buka sampai toko tutup, dia ngoceh marah-marah.
Pas SBMPTN 2014 kemarin, aku kembali mendorong Tias untuk daftar, tapi lagi-lagi jawabannya tak yakin. Lamaaa sekali dia membalas SMS-ku. Aku menghargai pilihanmu Yas, tapi mbakmu ini berharap kau mau suatu hari sekolah lagi.
Tias, adikku yang dermawan, adik yang paling tidak pelit. Bapak pernah bilang sambil marah saat itu (yang ini pernah membuatku nangis): "meski Tias tak sepandai kamu Is, tapi Tias jauh lebih bisa merasakan daripada kamu. Tias itu ngerti dan kamu tidak." Aku tak lupa. Ya, mungkin secara IQ aku tinggi, tapi EQ adikku lebih menang.
Tias adalah cucu kesayangan Mbah Nang, juga ibuk.
Dek, selamat ulang tahun yang ke-21 ya. Mbak berdoa, semoga kamu sukses, dapat jodoh yang baik, sholeh, dan kaya (yang bisa menghidupi kamu, tak hanya mencintai kamu), dan selalu rajin dalam hal apapun.

Mbakyumu: Isma

Saturday, January 10, 2015

Ruang Arena 40th

Dear Lpm Arena...
Ruang yang kotor dan berantakan, itu tandanya ruang itu hidup. Kamu menyebutnya war zone-lah, rebellion zone, ruang hula-hula, atau gubug derita bersama. Aku hanya menyebut ini sebagai rumah. Rumah dimana diri ini memang hobi untuk selalu dikontruksi dan didekonstruksi melalui otak-otak penghuninya. Dinding, buku, jendela, pintu, papan tulis, hingga perabot tak penting sudah pasti merekam. Mereka juga menjadi tua sepertimu, Na. Penghuninya pun juga, lama-lama hilang dan berganti.
Usiamu 40th sudah. Jangan mau dibilang kamu "mulai lelah", pelupa, sakit-sakitan, dan beruban. Seperti kata Gie, kita harus lebih banyak nonton film, naik gunung, pergi ke pantai, diskusi, bakar-bakar, main-main, tapi juga tak lupa menghajar pemerintah/rektorat yang hipokrit. Kita have fun kayak lagu-lagu Pidi Baiq, tapi juga serius kayak lagu Sisir Tanah yang sering diputar Mas Sabiq itu. Kita gembira seperti wajah Mbak Iim, juga serius kayak Mas Jamal.Haha.


Happy 40th, Na. Aku sayang kamu.

Friday, January 9, 2015

Film "The Words" Review

The Old Man Family
This film is telling about story in a story. Writer in a writer. Telling about a writer named Clay Hammond that wrote bestselling novel "The Words". This novel is telling about writer named Rory Jansen, he's not popular writer but always making effort to write everyday. He go to write when city sleep. He lived with Dora, his wife.
Someday, when Rory done his novel... he sent to big publisher. But, his manuscript is refused.
And story flashback when Rory and Dora enjoyed their honeymoon in Paris. In there in antique shop, they buy antique bag. When Rory fustrate about his manuscript, he found pieces old notes on the bag. So he start to read it. The notes is so amaze for Rory, then with blind heart Rory copied it and he won't change it maybe just one letter.
Tomorrow, Rory gave the manuscript to editor in publiseher that ever refused him. One day the editor called Rory with grateful face. This novel is good fiction with good plot. Not long day, manuscript that gave title: The Window Tears are published. The novel be bestselling book and Rory become a fame writer. Much award awarded to him.
Rory Award
One day there was a oldman that always pay attention to Rory. The oldman is a real writer from The Window Tears. The oldman followed Rory, in river a pool in a park they ware talking.
The oldman told about his live and his fate until The Window Tears was borned. So sad story from the oldman. He was a soldier that lived in war period in France. He felt his life is so flat and bore until he had one bestfriend that a bookworm and knowing much thing about world, social, and phylosophy. He studied from his friend. He started to read and writing. He want his life is useful, but it's so difficult to writing. He crawled doing that. Until one day in cafe, he met with waitress that chaged his live and love.
He and the waitress married. The happily live coming. Then they had a beautiful baby, until disaster doing in their live. Their daughter was sick and die.
His wife was so desperate and frustate, she went to her parent and left her husband alone. Same condition attacked them, very desperate. So, the husband started to writing. The words were fluently coming. The young man wrote like rainfall down, it's done just two weeks! Then, the story was sent to his wife. It made his wife back again to him, unfurnately the manuscript left in the train when his wife went to him. So sad, the young man was so angry and household never be same, they seperating.
Back again in front of story, the old man said: "...my tragedy was that I loved words more than I loved the woman."
Rory and The Old Man
The ending story is the old man die and Rory Jansen didn't admit his plagiat to the mass. Yeah, so fuck off. He lived with liar. The teribble fate. Maybe just fiction was so sick for I am, how pity the old man.

It's Be valueable lesson for every writer...
--
Ps: Still with broken grammar.

Thursday, January 8, 2015

Shopkeeper Memory

Time is passed away so fast. I just want find myself like before: at someday I am ambisious with number and formula, with mathematic, physics, etc. Study something that it looks terrible for people. You never know me, you never know my physics (never said dissimulationly: physics is easy). And my focus now separates with much thing. I like literature, I like all art (music, painting, theatre), I still like going to new place, and the new that make me like a cute barbie is I like him.

Yesterday, I met him as ussually... but now I don't want to tell him (sometime I feel so sick loves someone that he's so high to yours). I want tell my story before I can be university student. When I am be shopkeeper. When I must work at 8 am - 2 pm. Then break time three hours, I am back at 5 pm - 9 pm. You must wait owner shop: spinster (old lady) that never married from Chinese family in front of shop. When she come from pedicab (becak) we stand up said welcome to her with no words.  When shop closed, we must deliver spinster go at her home.

You work, work, and work. When it do, I just want be profesional worker. And I pray to God: Ya Allah, if I work, someday I want work something that I love doing it. More better than I am now.
When I remember that, when I go shop or see a worker like I do it before, I be maudlin (sentiment). So now, I don't want be fools man that wasted my education! It feels too painful!

Sunday, January 4, 2015

I Notice You

Hai, what you do now there? Here, I just want to read my feeling. It's like a long journey with memorable treasure or something suck off. Sometime I feel this so tire to continue about life, live, and love. I just believe in there 'you don't want I am stopping'.
When I am go back, I am saying to myself: I don't hope you love me, I don't care about your feeling to me. I just care that I care you. I notice you.

Saturday, January 3, 2015

Single Fighter

3 January 2015

Hai, this is my first note in this year, 2015. About my story and everything that I dream and God do for me. Maybe this notes is for my lecturer in there.
Sir, between 1 pm, there is  spoken test in 1st door of Saintek. There are interesting something that I get from our interview. Firstly, I entered at that room and sit in the chair, in front of you. Then you asked to me:
MFZ: "Hai, Isma Swastiningrum. I called you Isma yeah? How are you?"
IS: "Fine"
MFZ: "Do you come from?"
IS: "I am from Cepu, Blora."
MFZ: "Oh, Cepu, yeah, I see..." (then I told you about the exact of my village. My home is near with cemetery. In back of PT Pertamina Cepu)

Then sir, you explained me about this conversation. I am free choose everything language, can english, Indonesia, Jawa, Ngapak, or campur aduk language. But you told me that you will use english, because you said that in geophysics everything is using english. From book, from papper, from looking for job, etc. I knew that english is so important from your words. Do I ready? Yeah, I am ready sir. I will try spoke with english. And what you said sir? You said I am the first student that used it. I think you lied sir, because I felt much student that can more than I am. But no problem, I like that, it make me flying for a few second. Then, you asked me again:

MFZ: "You will use english right?"
IS: "Yes, I will try. Because I have a dream, one day I can become a international writer."
MFZ: "Wow, great, nothing imposible. Do it that, make real. Dream will always be dream if we don't move to make it real. So you must fighting."
IS: "Right."
MFZ: "I have experience, I never follow tuition of english, I study english alone. I am S1 in UGM Jogja, then S2 in ITB Bandung. There is different culture about people in Jogja and people in Bandung, student in here and student in there. It's about 'Self Confidence'. In Jogja, the people is less in self confidence, in here is very low profile, but in Bandung they are very confidence. I ever followed the field trip with different background, sometime the lecturer asked about 'what is the gravity?' I am, that come from physics I more know that, but it's for what? And there is student from mathematic answered that question with 'asal nyeplos'. He very confidence said that, although is wrong. I learn from that. So, never afraid to speak up! Be confidence. If there is someone mock or bully you are, it's no problem."
MFZ: "Why you choose geophysics?"
IS: "Because I want build my town Cepu."
MFZ: "Oh great. So you studied geophysics, then you come back to your town and built that?"
IS: "Yes, because mining in Cepu is so unfair. 'Saham' in there is save with Exxon, then a little for Pertamina and very-very little for citizen."
MFZ: "Oh, is so bad. Ok Isma, we entered at course. What the meaning of geophysics?"
IS: "Knowledge that learn about earth and the part of earth from up, middle, and core, with approach of physics lesson."
MFZ: "So, how about climate and cloud, are they geophysics?"
IS: "I think yes. Because I ever hear that from your class sir.."
MFZ: "No, this is not geophysics. Geophysics is about the surface of earth."
IS: "Oh, yes surface."

Then you asked me about the last papper in Bayat, Klaten about gravity GPS? What that Isma? What is densitas? What parameter that you get from exercise? How about geolistrik? What do you know? What resistensi? What does it come from? What the formula? What the meaning of rho? and what does cessar?
I answered that with all that I know, you said that my knowledge is 'moderate'. Oh, not sir, very little that I know, not all.
For I am the important of this section is I can take very much lesson that I will always remember for my spirit in next tommorow, more and more. Thank you Sir Ical...