Thursday, March 23, 2017

Aku Elemen Paling Tidak Penting


Kadang aku ingin pergi ke tempat yang jauh. 
Sebab hidup tak memikat lagi.
Melenyapkan diri dalam pasir kecil di sebuah pantai, 
atau debu-debu mikro yang terapung-apung di dalam septic tank. 
Hidup di antara tai-tai.

Aku masih berpikir bagaimana caranya menjadi elemen paling tidak penting di bumi. 
Agar sekalian saja aku tak bermakna.  
Aku selalu gagal. Selalu jalan buntu yang aku temui.
Menyuruhku kembali.

Sampai aku lelah sendiri akan ketidakbermaknaan.
Sadarnya aku ditakdirkan bermakna.
Sebab aku 'Manusia'

(im exist, 23032017)

Tuesday, March 21, 2017

24 Years: Wish, Utopia, and Reality

I/
Hari itu tanggal 2 Januari 2017. Sore terpanjang selama 24 tahun aku hidup. Sore terlama aku diam dalam kondisi sadar. Lalu aku menanyaimu tentang pertanyaan-pertanyaan esensial terkait hidup. Setelah itu, pikiranku berubah untuk selamanya.

II/
Hutan berkabut. Hitam kayu, hijau daun, lembab tanah, pada Maret yang untuk siapa. Kawanku mengatakan dengan bahasa Inggris yang intinya: Pohon-pohon adalah hasil lukisan bumi. Dia melukisnya dari atas langit.

III/
Di 24 tahun usia mata. Aku tadi telah bangun dengan segar setelah semalaman suntuk berdiskusi tentang Hikayat Kebo, tujuan, visi, misi, target, metode, dan output bersama tim majalah. Jatah nokturnal menyenangkan bagi pembangkang semacam kita.

Akan kita rintis formulasinya: selesai, menampar, alternatif, menyejarah, wacanais; membaca, menulis, diskusi, berjejaring, saling kritik; cetak, teori dan teknis seimbang, mendunia, diskursus, pelopor.

IV/
Orang-orang banyak yang berdatangan ke Jogja. Saling jepret entah sampai berapa kali. Mereka tak ubahnya serigala yang mengencingi daerah taklukannya. Untuk kenang-kenangan, atau agar semua orang tahu.

V/
 Max Perkins dalam film Genius:

 Aku pikir: Jumlah usia tidak penting, untuk menyampaikan hidup yang penting.

VI/
Ruang kerja. Sungguh aku butuh ruang kerja.
Lebih dalam dari itu, aku mau rumah untuk menyimpan buku-bukuku yang banyak.
Aku pusing meletakkannya di mana.


VII/
Tuhan, sekarang aku sudah Semester Delapan.
Aku mau cepat-cepat Kerja Praktek, KKN, skripsi, munaqosah, dan wisuda.
Biar hidupku tak memberatkan prodi dan orang tua. Lancarkan ya tuhan, amin.

Atau, tuhan... berikan aku kerja yang sesuai bakatku.
Biar aku bisa mengatur hidupku sendiri.

VIII/
Aku sebenarnya masih sangat mencintainya.
Tapi aku lebih mementingkan kebebasannya.
Semoga dia selalu bahagia ya tuhan...
Dengan siapapun dia hidup

IX/
Ini namanya Akeboshi.
Penyanyi favoritku.
His music unlike other.
Bersamanya aku teduh.

X/
Suatu hari aku akan ada di taman yang sepi. Tamannya indah, banyak bunga dan pohonnya. Mataharinya berwarna seperti air, bulannya berwarna kuning, dan hujannya berwarna ungu.

XI/
24 tahun. aku belum bisa memberi apa-apa.
terlebih untuk orang tua dan adik-adik.
aku masih terlena dengan kesenangan sekunder.
aku selalu saja merepotkan.
entah sampai kapan?

XII/
aku hanya ingin berguna bagi Rakyat.
itu saja.

XIII/
Brengsek! Ngapain aku umbar sih ini!
Ah, persetan!


Yogyakarta, 21 Maret 2017

Saturday, March 18, 2017

Alegori Kebodohan

"Of Mice and Men", masih sama efeknya ketika saya membaca buku ini, atau filmya kemarin. Begitu melekat, sangat intim, dan mungkin mewakili hidup purba saya. Hanya saja, imajinasi ketika baca dan nonton, saya bandingkan sangat berbeda. Di film, Lennie kurang babon dan George kurang licik. Saya sangat suka dengan karakter Lennie... seorang bayi besar yang polos, bodoh, sederhana, kadang tak berotak, dan memiliki satu junjungan: George. George yang cerdas, normal, tampan, pendongeng ulung, yang melindungi Lennie, tapi bagi saya dia tak memiliki karakter kuat.


I Don't Need Thanks and Sorry

Butuh usaha yang sangat payah untuk meringkas ingatan. Sudah terlalu banyak logika manusia berhamburan mengkonstruksi logikaku. Membentuk diri dan lakuku yang an-otentik. Diri terbelah yang selalu berhasrat untuk memenuhi yang lain. Ini permainan yang sungguh membuat capek.

Terlalu banyak kata 'terima kasih' dan 'maaf' beramburan untuk mewajarkan kenyamanan. Sedang aku tak pernah dididik bagaimana melawan musuh dengan benar. Malah lingkungan memintaku untuk mendoakan mereka. Tidak bagaimana melawan dengan tindakan? Musuh menang dan aku masih berusaha bagaimana menyusun metode perlawanan. Atau sekedar bagaimana agar tidak keterlaluan mengkasihani diri sendiri--ini benar-benar menjijikkan.

Ya, ada 'bayaran yang tak tampak' di balik kata terima kasih. Dan ada 'apologi' di balik maaf. Aku tak mau mewajarkannya. Sebagai manusia yang sebenarnya tak punya apa-apa, secara natural aku telah memutuskan: aku tak butuh 'terima kasih' dan 'maaf' dari siapapun. Semua hal aku kembalikan pada diriku.

Aku tak melarang orang mengatakan 'terima kasih' dan 'maaf'. Aku hanya melarang ketidaktulusan dan ketidaksungguhan. Aku tahu, 'terima kasih' dan 'maaf' yang benar dapat mengubah orang. Pun jika aku mengatakan itu, aku harus bekerja keras, agar 'maaf' dan 'terima kasih' ku tak sia-sia.

Wednesday, March 8, 2017

Buku Kumpulan Resensi RIUH


Mengantar…

Buku saku sederhana ini berisi kumpulan resensi yang berjumlah sepuluh. Resensi tidak hanya mengupas tentang buku atau film saja, tetapi juga pameran lukisan, album musik, pentas musik, dan yang belum kesampaian adalah teater. Semua resensi telah diterbitkan di website lpmarena.com sebagai bentuk apresiasi, kritik, dan celoteh saya pada karya-karya yang saya temui, yang rasanya begitu kompleks. Akan pesan, rasa, pikiran, dan semiotika yang terkandung. Semoga bermanfaat.

Daftar Isi:

1. Papua: Yang Berdaya dalam Ratapan
2. RIUH. Pesta Pora Khaos.
3. Simulacra di Tengah Kedangkalan Hyperkonsumerisme
4. Renovasi Tragis di “Balada Joni dan Susi” Melancholic Bitch
5. Tergantung Bunyi, Tergantung Harik
6. Proyek Abadi Lapar
7. Sastra dan Kemanusiaan ala Pramis
8. Pemberontakan Kaum Budak di Negeri Budak
9. Reklame Tanah Surga
10. Girl Rising: Narasi Ketertindasan Perempuan di Sembilan Negara



Link download: