Friday, January 31, 2014

Review Buku: Filosofi Kopi (Dewi Lestari)


Buku ini hasil pinjaman dari medanku LPM Arena :D Dan ini buku pertama Dee yang aku baca, menarik sekali. Buku ini terdiri dari  kumpulan cerpen dan prosa berjumlah 18 biji. Udah 5 hari yang lalu aku baca, daripada ntar lupa.. mending sebagai pengingat aku tulis saja isinya (karena kebiasaan, habis baca buku itu banyak yang terselip trus gak bisa balik). Oke, cukup segitu prolognya.. langsung saja…
Filosofi Kopi
Cerpen pertama (sesuai judul buku) “Filosofi Kopi” bercerita tentang seorang barista (peramu kopi yang ahli beud) bernama Ben yang mendirikan sebuah kedai kopi bersama temannya Jody. Ben sangat berdidikasi sekali menjadi seorang barista. Bermacam-macam ramuan kopi dalam menunya ia racik sendiri. Keunikan lain dari kedai ini, Ben memberikan kartu kecil yang diberikan pada pengunjung bertulis nama kopi yang diminum berserta filosofinya. Suatu hari ada orang kaya berusia 30 tahun yang menginginkan rasa kopi yang sempurna. “…kopi yang punya arti: kesuksesan adalah wujud kesempurnaan hidup!” (hal 9). Pengunjung kaya itu menantang Ben, ia berani membeli kopi itu seharga 50 juta jika Ben berhasil menyuguhkan kopi sempurna itu untuknya. Ben merasa tertantang.. sebagai the mad barista, kedai ia tutup, ia buat racikan itu siang dan malam.. hingga akhirnya kopi paling enak se-dunia hadir dan dinamai “Ben’s Perfecto”. Dan bapak pengunjung kaya itu pun memberikan cek 50 juta kepada Ben. Suatu hari lagi, ada seorang pria setengah baya yang datang ke kedai Ben. Ia memesan kopi apa pun yang penting enak. Maka, disuguhkanlah Ben’s Perfecto. Ben bercakap-cakap pada pria itu mengenai rasanya. Pria itu ngomong: rasanya lumayan. Ben panik dan berpikir: apa ada kopi yang lebih enak dari ini? Ben mengintrogasi pria itu dan bertanya: dimana bapak menemukan rasa kopi lebih enak dari ini?! Next, kedai ditutup. Ben dan Jody pergi ke sebuah pedesaan di Jawa Tengah (di daerah klaten gitu). Disana Ben dan Jody bertandang ke sebuah warung reyot milik pak Seno yang kata orang-orang menjual kopi enak bernama: KOPI TIWUS. Setelah mencoba kopi itu, Ben kalut dan merasa kalah.
“Pak Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku barista terburuk. Bukan Cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. bodoh! Bodoooh!” (Hal 23)
Lalu ia ingin memberikan cek 5o juta itu kepada pak Seno, tapi Jody melarangnya. Terjadilah ketegangan antara Ben dan Jody hingga kedai kopi mereka ditutup. Hingga akhirnya, Jody memahami Ben, ia pergi ke warung pak Seno dan memberikan cek itu. Jody mendekati Ben yang masih kalut. Jody membuatkan secangkir kopi tiwus dan mendekatinya. “bahwa uang puluhan juta sekalipun tidak akan membeli semua yang sudah kita lewati. Kesempurnaan itu memang palsu…”—“orang-orang ini tidak menuntut kesempurnaan seperti Ben’s Perfecto. Mereka mencintaimu dan Filososfi Kopi, apa adanya”. Ben kembali bangkit dan kedai itu pun kembali mengepul. Di tempat yang jauh dari Jakarta sana, pak Seno bingung cek itu buat apa.

Cerpen kedua berjudul “Mencari Herman”. Singkatnya, cerpen ini berkisah entang Hera yang berambisi mencari sosok bernama “Herman”, sebuah nama yang dilontarkan dari seorang pria yang diam-diam mencintainya. Bertahun-tahun ia mencari. Bahkan kefanatikannya akan “Herman” ini mengakibatkan hidupnya hancur, dari drop out kuliah, hamil di luar nikah, aborsi, hingga akhirnya ia meninggal tersangkut di tengah jurang karena pria tak dikenal bernama Herman Suherman. “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan” (Hal 31).

Cepern ketiga berjudul “Surat yang Tak Pernah Sampai”. Belum bisa ku pahami seutuhnya, sekilas menceritakan tentang seorang yang memendam cinta tapi tak pernah tersampai. Ia menulis surat untuk orang yang dicintainya itu tapi kembali dikonsumsi sendiri. (Ada yang mau menambahi??)

Prosa keempat berjudul “Salju Gurun”. Menurutku lebih mirip puisi :) bagus banget nilai moralnya. Kasarannya jangan jadi “orang kebanyakan”.. jadilah berbeda dan istimewa. Seperti kaktus dalam gurun yang serba serupa. Seperti oase di lanskap gurun yang serba luas. Seperti salju di tengah gurun (jadi ingat lagunya Anggun :D). “Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda” (Hal 49).

Prosa kelima (yang kembali mirip puisi-puisinya Kahlil Gibran) berjudul “Kunci Hati”. Tentang sebuah ruang yang hanya bisa kita isi sendiri dan kita yang memegang kuncinya. Ruang itu bernama inti hati. Orang lain hanya berhak ada di terasnya.

Cerpen keenam berjudul “Selagi kau Lelap”.Bercerita tentang seorang yang jatuh cinta selama tiga tahun. Suatu malam saat orang yang dicintainya itu tidur, ia ekspresikan cintanya itu ke dalam sebuah lamunan: “Terkadang, benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing denganya. aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling…” (Hal 54). Haha, kisah ini mengingatkanku dengan pengalaman pribadiku, aku iri pada sandal yang dipakai orang yang aku sukai, sampai ku ajak dia ngomong, “Sandal, andai aku jadi kamu”.

Cerpen ketujuh berjudul “Sikat Gigi”. Mengisahkan tentang seorang Tio yang mencintai gadis filsuf eksentrik bernama Egi. Namun, cinta Tio bertepuk sebelah tangan. Egi mencintai pria lain, dan pria yang dicintainya itu tidak mencintai Egi. Egi mempunyai hobi menyikat gigi, hanya dengan menyikat gigi ia bisa lupa sejenak dengan dunia dan pria yang dicintainya itu. “Waktu saya menyikat gigi, saya tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Dunia saya mendadak sempit… Cuma gigi, busa, dan sikat. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tio, tapi berarti banyak” (Hal 59).

Prosa kedelapan berjudul “Jembatan Zaman”. Kasarannya bercerita tentang umur. Waktu kita kecil sampai kita tua semua memiliki masanya sendiri-sendiri. Yang kadang saat kita menua, kita tak mampu mendengar bahasa-bahasa anak kecil . “Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama, bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu” (Hal 69). Tercipta kutub-kutub pemahaman yang berbeda, yang tak akan bersua jika tidak dijembatani. Jembatan itu adalah RENDAH HATI bukan KESOMBONGAN DIRI.

Prosa kesembilan berjudul “Kuda Liar”. Intinya, mari kita belajar arti kebebasan pada kuda liar :) “Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Hari ini ke padang, esok ke gunung, tak ada yang bingung. Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingin. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi” (Hal 71). Yaa, seperti kata Dee, melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu.

Cerepn kesepuluh berjudul “Sepotong Kue Kuning”. Tentang Indi (seorang guru musik biola) dan selingkuhannya bernama Lei yang sudah beristri. Dan aku masih belum mengeri, metafor apa yang tersembunyi dalam diksi “kue kuning” itu?

Prosa kesebelas berjudul “Diam”. Tarik nafas. Mungkin tentang seorang yang berduka, ia ada di ruang berukuran 4 x 6 neter. Ia berkata-kata dalam diamnya. “Diammu menginfeksi udara…” -_-

Prosa ke-dua belas berjudul “Cuaca”. Yang ku tangkap… ini bercerita tentang satir keadaan kita. Biasanya, kalau sedih itu selalu ditutupi. Kenapa? “…karena awan mendung tak pantas jadi pajangan” (hal 87)

Cerpen ke-tiga belas berjudul “Lara Lana”. Berkisah tentang Lana manusia unik yang mempunyai kacung intelektual (seseorang yang sekaligus dicintai Lana). Namun, seseorang itu menikah dengan orang lain.

Prosa ke-empat belas berjudul “Lilin Merah”. Tentang ulang tahun yang dirayakan melalui kesunyian. “Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari” (Hal 97)
Prosa ke-lima belas (menarik sekali menurutku) berjudul “Spasi”. Tentang sesuaatu yang bernama “jeda”. Bahwa manusia akan bergerak jika ada jarak. Tulisan akan mampu dibaca jika ada jeda. So, mari… berkelana tapi tidak dibebat dan berjalan secara beriringan.

Prosa ke-enam belas berjudul “Cetak Biru”. Mungkin (pandanganku) berkisah tentang nasib dan usaha seseorang. Bahwa sejak lahir kita diciptakan dengan cetak birunya masing-masing, yang memiliki rancangan dan bangunan yang berbeda-beda. Saat kita gagal, pondasi kita tidak hancur, hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan rancangan cetak biru. Rancangan cetak biru disini apa berarti sebuah tulisan atau planning gitu yaa????

Cerpen ke-tujuh belas berjudul “Buddha Bar”. Jujur, sekali membaca aku nggak dong. Berkisah tentang lima sahabat: Nelly, Probo, Omen, Jack, Bejo. Dengan karakter dan sikap mereka masing masing. Dan Nelly menjadi satu-satunya anggota wanita. Probo dalam mitologi Yunani itu kayak dewa Hermes. Omen, seorang lesbi yang tenang tapi nggak nyambungan. Jack, seorang humoris yang hidup penuh dengan keceriaan dan positivitas. Bejo, orang lugu yang menstabilkan teman-temannya yang lain, tapi Bejo tanpa teman-temannya seperti sebatang kayu.

Dannn.. cerpen terakhir berjudul “Rico de Coro”. Banyak ketawanya aku membaca ini cerpen :D Ada saja imajinasi Dee. Tentang kecoak yang bernama Rico de Coro yang mencintai gadis bernama Sarah. Namun, Sarah memiliki kakak-kakak nakal bernama David dan Natalia yang sering memburu para kecoak untuk disiksa atau sebagai santapan ikan arwana mereka yang bernama Michael dan Meil. Suatu hari Natalia membawa binatang eksperimen sekolah yang nggak jadi untuk memburu para kecoak, ia mirip monster kecoak yang nggak jadi bernama Tuan Absurdo. Ia mengandung racun, niatnya…. kerajaan kecoak ingin memanfaatkan tuan Absurdo untuk membalas David dan Natalia karena mereka telah membunuh saudara-saudara kecoak. Tapi, tuan absurdo membidik orang yang salah bernama Sarah. Namun, Rico datang sebagai pahlawan bagi Sarah. Ia rela kena racun tuan absurdo dan rela mati untuk melindungi Sarah. So sweet banget nih kecoak, haha. Jangan-jangan, di dunia lain sana ada semut kecil bernama Kevin de Ant  yang naksir sama aku, hahaha :D

Yogyakarta, 30 Januari 2014 jam 11:11 pm.

8 comments: