Monday, January 6, 2014

My Story for Lintang Samudra Basara


Aku ingin bercerita tentang kejadian yang ku alami tanggal 4 Januari 2014. Waktu itu sekitar jam 20.00 WIB sanggar lagi mbahas tentang “Psikologi dan Teater”. Pemateri yang bernama ibu Miftah menyuruh kita memerankan pertunjukan tentang tokoh yang memiliki karakter yang paling dekat dengan kita. Selama lima menit kita beradegan seperti tokoh itu. Dari kognitif, afektif, sampai psikomoriknya. Dari cara dia ngomong, jalan, bergaya, berpikir, merasa sampai perilaku-perilaku lainnya.

Bu Mifta memberi waktu kita 5 menit untuk mencari dan merenung siapa tokoh itu. Bisa dari artis film, pahlawan, atau orang-orang terdekat kita ibu atau bapak kita sendiri. Trus dikasi waktu 10 menit untuk mempraktekan tokoh itu. Silahkan teriak, silahkan berekspresi, ruang milik kalian :D

Aku bingung mau meranin siapa? Aku bertanya ulang, siapa yaa tokoh yang dekat dengan aku? Yang mencerminkan aku gini? Tak ada tokoh mana pun yang kurasa mendekati aku selain Lintang. Ia, Lintang Laskar Pelangi. Bukan sok-sok’an atau apa sih, haha. Yang pasti aku belum secerdas dia, itu aja.

Aku penampil ke-sepuluh. Setelah pertunjukkan dari teman-temanku sanggar yang luar biasa :D Mbak Rosi (yang meranin guru sosiologi dia pas di MAN), Ardi (meranin mas-mas stand up comedy gitu), Ilham (meranin kabayan entah siapa ya? Pakai bahasa sunda, hehe.. gak mudeng), Mbak Isti (meranin gurunya juga), Fahmi (meranin dosennya dia), Madam (meranin teman kuliahnya yang polos bernama Hanafi), Hafidz (meranin tokoh guru entah siapa, pakai bahasa Inggris), Mita (meranin dosennya yang suka ngomong “ia toh? Ia toh?”), Doni (meranin dosen dari luar negerinya yang pas dia tampil itu aku ngerti kalau dosennya keren dan banyak ilmu, haha), trussss Doni nunjuk aku… *musik ilustrasi: Jeng, jeng, jenggg

Aku maju. Pertama aku memberi monolog dulu:

“Pernah nonton film Laskar Pelangi semua kan? Pasti kenal dengan yang namanya Lintang. Nah, mala mini saya ingin meranin dia. Mungkin karena dia pendiam, nggak banyak ngomong  dan suka buku seperti saya” terdengar sorakan #eaa

“Baiklah, saya akan memerankan adegan yang pertama: Lintang itu dari pesisir. Tiap hari dia pergi ke sekolah naik sepeda, tiap hari ada buaya yang menghadangnya. Saat itu pertma kali dia masuk sekolah, dia sendirian, sedang yang lain pada ditemani orang tuanya”  Trus aku duduk meranin Lintang sambil bawa buku dan pensil.

“Adegan kedua. Saat Lintang nyampe ke sekolah saat sekolah mau tutup, dan dia hanya sempat meyanyikan lagu Indonesia raya.. dia nyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati” Aku nyanyi Indonesia Raya bagian reff :D

“Adegan ketiga. Pas Lintang, Ikal, dan Mahar ikut lomba. Saya akan memerankan juri dan Lintangnya sekaligus”. Aku duduk an ngasi pertanyaan yang aku karang, dari pertanyaan fisika, matematika, sampai yang paling narsis “sebutkan tiga pelatih sanggar nuun??” wkwk

“Adegan ke-empat. Sebenarnya dialog ini ada di film Sang Pemimpi, tapi nggak apa-apa yaa.. saya meranin disini. Saat Lintang marah sama Ikal”

Trus aku buat dialog yang seolah Ikal ada di depanku. Masihkah kau ingat Arai ngomong gini boi:
“Apa yang terjadi dengamu Kal? Kemana semangat itu.. mimpi-mimpi itu?!
Tanpa mimpi orang seperti kita akan mati.
Mungkin setelah lulus kita hanya akan jadi buruh, tukang, atau pembantu.
Tapi di sini Kal!! Di sekolah ini!!
Kita tak akan pernah mendahului nasib kita”

Hehe, maaf pak cik Andrea, naskah aslinya aku ganti :p

“Adegan kelima. Saat perpisahan, saat ayah Lintang meningeal, dan dia putus sekolah. Misalkan saya berperan sebagai ibu Muslimah, ada tukang pos yang memberi surat ke saya”

Trus, aku membaca surat Lintang yang juga aku karang:
“Ibunda guru.. Maaf, aku tak berangkat sekolah hari ini.
Ayahku meninggal. Aku akan berhenti sekolah.
Salamku untuk ibunda dan teman-teman.”

Trus, adegan yang terakhir. Saat aku jadi Ikal, saat Lintang pamit dan ninggalin sekolah..
AKU TERIAK KERAS DAN PLONG SEKALI BOIII..
“LINTAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG”
Pertunjukanku usai dan mereka bertepuk tangan, dilanjutkan penampilan teman-teman sanggar lain yang nggak kalah gilanya. Habis itu aku berkaca-kaca :') Akhirnya teriakanku nyebut nama LINTANG kesampaian juga, di depan orang-orang lagi, melebihi ekspektasiku yang pengen teriak di depan laut. Aku pernah nangis terisak-isak nyebut-nyebut nama Lintang. Aku gampang nangis kalau ingat Lintang. Dia anak yang ngajari aku banyak hal, aku mencintai dia dari lubuk hatiku terdalam.

Yogyakarta, 4 Januari 2014

No comments:

Post a Comment