Friday, January 24, 2014

Resital Teater Kemah Seni V Sanggar Nuun Tahap 2

Aku kagak nyangka ini pentas teater akhirnya terjadi juga. Perasaan baru kemarin latihan...

Bertempat di Museum alam dan ekologi pesisir pantai parangtritis, malam itu selasa (21/1) pentas teater dilaksanakan. Para tokoh dalam resital ini adalah anak-anak baru sanggar nuun di kemah seni V. Ada empat kelompok. Dan inilah penampilan kami...

Pertama: Kompleks Pasar Beringharjo
Yu Djum dan Penjual Asongan
Kelompok yang dibimbing oleh pak Munir ini bercerita tentang kehidupan sosial para penghuni pasar. Settingnya di komplek pasar Beringharjo. Bercerita tentang seorang pemulung (Mila) yang dihina oleh Yu Djum (diperankan Richa seorang penjual kue), penjual emas, dan penjual baju, yang pada hobi gossip dan ngrasani orang. Nah, pas yu djum mau pergi dompetnya jatuh. Pemulung memungut dompet itu. Pas dia kembali, pasar ribut, siapa yang ngambil dompet Yu Djum? Pemulung tua ini dituduh mencuri dompet itu. Pemulung dihakimi, tapi ada seorang pembeli baik hati yang menjelaskan kronologi kejadian sebenarnya. Akhirnya Yu Djum sadar dan penjual di kompleks pasar beringharjo sadar dan mau berbaik hati menerima dan menolong si pemulung. Selesai.
Kritik dari sudut pandang aku pribadi. Pertama, kenapa pemulungnya lama banget megang dompetnya? Logisnya kalau nemu dompet kan kalo nggak disembunyiin, yaa koar koar “ini dompet siapa?”, ada jeda yang lama sampai dompet itu diketauhi siapa pemiliknya. Kedua, seperti yang dikatakan Mas Rendra Narendra, konflik yang dibangun terlalu cepat dan terburu-buru. Bahasa yang dipakai menurutku juga banyak sarkas :D
Kedua: Bunga Kehidupan
Satria dan Juwita
Bismillah… ini kelompokku, haha. Pembimbingnya Mas Okta dan Mas Ilham. We are Okta Negara’s Childs YUHUU. Kalau ngomongin proses, panjang banget. Dari pertama observasi, penggabungan ide menjadi pesan moral yang ingin disampaikan. Dari ide ke plot cerita trus ke naskah trus ke peng-adeganan sampai ke pentas. Naskah ini berawal dari ide cerita-cerita anak-anak kelompok kita yang dikolaborasi. Berkisah tentang Satria (Ilham) yang menaruh hati pada Flow (Melia) sejak di SMA, berkali-kali menyatakan cinta tetap di tolak. Suatu hari Satria melanjutkan sekolah di Syria, karena konflik hebat ia kembali ke Indonesia dan kini Satria satu kampus dengan Flow. Dari sahabatnya Flow yang beernama Juwita (Madam), Satria mengetahui bahwa Flow sekarang sakit keras, umurnya tak dapat bertahan lebih lama lagi. Ditambah pacar Flow yang sering menduakan Flow dari belakang bersama selingkuhan pacar Flow (Arum). Dan, Cuma satu cara agar Flow bisa sembuh: bunga kehidupan. Bunga itu akan menjadi obat yang bisa menyembuhkan Flow. Namun, tidak mudah mendapatkan bunga itu.. Satria harus naik ke puncak gunung Kamulyan, disana ia bertemu dengan seorang kakek tua (Sofyan) yang memberinya tongkat dan bertemu pendaki yang terluka (Isma). Ia juga bertemu juru kunci (Irfan) yang melarangnya mengambil bunga sakral itu, tapi Satria tetap mengambilnya dengan syarat ia harus menerima risiko setelah ia pulang nanti. Akhirnya, Flow bisa disembuhkan, namun Satria menjadi gila (sebagai risiko ia mengambil bunga kehidupan) di RSJ. Yaa, semua demi Flow.
Silahkan dikritik teman-teman. Mungkin terkesan film Ind*si*r banget. Inilah karya kami, yang meski belum maksimal dan banyak kesalahan, semoga bisa diterima. Secara lebai, aku ingin bercerita.. pagi, siang, malam kita latihan. Dari pembacaan, simulasi, musik, kostum, sampai penyiapan property.  Nggak peduli hujan, ujian, capek kita terus melakukan persiapan. Hingga puncaknya yang kau lihat itu…
Terima kasih yang sangat khusus dan besar, secara pribadi (dan kelompok) aku ucapkan kepada pembimbing kami Mas Okta Firmansyah dan Mas Ilham Mauilidin. Makasih untuk waktunya, tenaganya, ilmu-ilmunya. Maafkan kami juga kalau kami masih kayak anak kecil, nggak disiplin, nggak serius, ndableg, dll-nya (pengen nangis rasanya). Makasih Mas Okta. Makasih Mas Ilham. Makasih teman-teman. Makasih.
Oya, kelompok kami dapat kejutan juga pas dengan kehadiran Mas Abdi pas di panggung, yang kemudian menjadi polemik dan debat saat pembahasan usai pementasan. Aku tahu niatnnya baik, tapi waktu dan caranya saja yang belum tepat. Tapi ra popo...:D

Ketiga: Jimin
Emak dan Jimin
Hmm, kisah yang kompleks dan menarik menurutku :D
Bercerita tentang anak buta bernama Jimin (Andy). Ia dikeluarkan dari sekolah. Bapak (Dayat) dan adiknya Jajang (Chandra) yang pintar merasa malu punya anak dan kakak seperti Jimin yang gobloknya minta ampun, tapi ia punya ibu (Isti) yang baik, yang selalu membela dan menyayangi Jimin. Karena sang bapak merasa malu, akhirnya ia menaruh Jimin di dinas sosial gitu. Disana ia disambut oleh bapak-bapak pegawai panti (diperankan Coy). Nah, di panti ini Jimin menemukan bakatnya dalam bernanyi, ia kenal dengan guru musik yang letoy, Bokir, dan teman-temannya yang lain. Ada yang lucu nih, masak dialog dalam kelompok Bunga kehidupan diapakai: “Bokirrr, kau menuntut ilmu disini juga?” wkwkwk. Nah, suatu hari karena bakatnya ini, Jimin jadi penyanyi terkenal. Ia masuk Koran. Tetangga orang tua Jimin (Ninik) memberi tahu bapak dan ibu Jimin, mereka sangat bangga sekali pada Jimin. Kemudian, Jimin pulang dan orang tua mereka menyambut Jimin dengan perasaan bangga dan bahagia. Sedangkan adiknya jajang, jadi anak nakal, liar, yang suka mabuk-mabukan… yang nggak jelas nasibnya.

Ditutup dengan menyanyi bareng, lagu D’cinamons gitu :D
Jujur, idenya aku suka dan logis. Kritiknya… mengulang apa yang dikatakan Mbah Tohir, responnya belum dapat. Pas ada yang bilang “Assalamu alaikum” gak direspon, aktor sibuk dengan perannya sendiri. Sang ibu bukan kepanasan adegan yang diperankan tapi kepanasan karena panggung. Property belum digunakan secara maksimal.
Oya, menurutku lagi lebih kenak banget kalo si Jimin itu masuk TV bukan masuk koran (seperti di glady resik itu, tai kenapa konsepnya diganti?) kalo lewat TV lebih WOW gimana gitu :D
Keempat: Pondok Indah Mertua

Mertua dan Menantu
Teater ini berkisah tentang seorang menantu bernama Intan yang mempunyai suami bernama Roni, anak bernama Nisa dan mertua yang sudah tua. Keluarga Roni kaya raya, namun ibunya cerewet pada menantunya si Intan, dan konfliknya juga Roni suka mabuk-mabukan, dan Nisa tipe anak apatis yang gaul geto. Suatu hari, Intan pulang dari bekerja, mertua marah-marah (mencereweti Intan), trus si Roni pulang dalam keadaan mabuk, Intan nangis, trus Nisa pulang dari klayapan-nya. Sang ibu menasehati Nisa, eh.. Nisa nutup kuping, dan pas selesai dia bilang: “udah ceramahnya?” -_- Trus, tiba-tiba seorang polisi datang menangkap si Roni. Ia didakwa telah menggunakan narkotika dan harus ditangkap. Ibu Roni shock saat melihat anaknya ditangkap. Penyakit jantungnya kambuh dan ia meninggal dunia.

Dan… (jeng, jeng, jeng…) ternyata si Intan menantu yang kurang ajar. Ia yang melaporkan suaminya sendiri ke polisi dan ia yang menaruh bubuk pencepat jantung ke mertuanya. Kini, rumah mertuanya sekarang dikuasainya… Selesai :D

Yaa, kurang lebih seperti itu teman-teman :) Kritikku… Mertua (nenek) suaranya kurang ke-nenek2an.. Trus, kalo aku amati yang jadi Pak Roni mabuknya kok lebih keluar pas latihannya yak? :D  Then, blokingnya juga. Lebih bagus kalo neneknya pas kejang-kejang itu lebih ke tengah. Menurut aku pribadi gitu sih :D

Overall, terlepas dari segala kekurangan dan keterbatasan, kalian keren teman-teman.

Mari kita lanjutkan perahu kita lagi…

BIMILLAHI MAJREHA WA MURSAHAA…

Parangtritis, 21 Januari 2014

No comments:

Post a Comment