Minggu, 20 Agustus 2023

Mopey

Kata Mas Noel, hari ini adalah hari terakhir Kris di EF. Tentu aku merasa sangat sedih. Dan aku tetap saja menjadi anak yang pemalu, yang gak bisa ngungkapin hay atau bye ke Kris dengan cara yang benar. Ya, entah, aku begitu takut. Even untuk kumpul sama mereka. Aku merasa diriku tertolak, aku takut, mungkin sangat ketakutan kalau diriku ditolak. Ya, padal aku udah biasa ditolak. Dan aku merasa sedih. Kadang aku juga merasa tak ada orang yang bisa menerimaku. Aku begitu penyendiri, kesepian, suram, sedih, dan tak tahu apa yang harusnya baik untuk kulakukan. Oh my God. Namun, ya, begitulah hidup. Aku gak bisa maksa, meski aku merasa sangat sedih. Sangat-sangat sedih.

Kris bagiku telah mengajarkan banyak kedewasaan untukku. Dia kaku memang, tapi dia baik dan pintar tentu saja, kualitasnya yang tak bisa tertolak. Aku takut setelah Kris pergi, EF akan dapat teacher native lain yang tak lebih baik daripada dia. Aku mengenal Kris tak hanya di EF, tapi juga di Rame-Rame Jakarta (RRJ). Di sinilah hidupku dan lingkaranku yang lain dimulai, di Jakarta. Kenal orang-orang lain juga: Mas Andesh, Barda, dll.  

My other teacher asked me: "Isma, you don't join it?" And I just nodded. I am shy, this is my other complexity.

Lalu, berada dan duduk di sini seperti melihat diriku yang lama, dan aku merasa sangat kasihan pada diriku. Barangkali, sebentar lagi air mataku udah gak bisa untuk aku tampung. Perlahan aku akan menangis, dan selalu, aku akan menangis sendiri. 

Ditambah tadi pas telepon sama ibu, sakit ibu seperti tak bisa dia tahan lagi. Aku merasa bisa merasakan kesakitan yang dialami oleh ibu. Aku yang sehari saja sakit tak kuat, berbaring sehari sakit saja aku tak kuat, dan ibu udah berbaring sudah mau dua tahun. Apakah ini riil? Iya. Lalu ibu pengen bunuh diri. Aku menasehati seperti angin lalu yang perlahan akan hilang. Aku sendiri tak sekuat ibu, sedangkan ibu selalu mengingat kata-kata menyakitkan dari Bapak. Bapak yang sepertinya lebih sakit daripada ibu secara batin dan luka. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa. 

Dari hubungan pernikahan ibu-bapak, kalau kupikir lebih dalam, aku membenci pernikahan. Aku membenci rumah tangga yang seperti neraka. Aku tak mau tinggal satu rumah dengan orang yang tak mencintai dan menyayangiku. Dan untuk apa aku tergesa-gesa dengan utopia pernikahan? Aku bisa hidup sendiri, dan gak papa. Aku tak perlu mengemis-ngemis perhatian dari orang yang tak memiliki perasaan sebaliknya pula padaku. Kupikir usaha-usaha seperti itu cukup. Sebab aku cukup lelah. Komitmenku sudah cukup benar: "Jangan berharap pada pria, siapa pun. Jangan berharap pada manusia, siapa pun."

Dan aku juga membenci ilusi kesempurnaan yang dipancarkan manusia, siapa pun itu. Mulai detik ini, aku lebih menghargai empati orang alih-alih kesempurnaannya akan penampilan, kekayaan, kecerdasan, wajah tanpa cela, perilaku baik, almamater, skill yang gak ada batas, dlsb. Orang baik belum tentu punya empati, tapi orang yang empati sudah pasti baik. Meski orang-orang yang punya empati juga memiliki problem mereka sendiri, tetapi menurutku mereka adalah orang-orang yang paling bisa untuk diandalkan.

Pertanyaannya kemudian: Apakah aku sudah berempati pada diriku sendiri?  

Where is my self-emphaty?

Catatan Tontonan Film Agustus 2023 Part II

Whiplash (2014)

Nonton film ini atas rekomendasi Quoran, rekomendasi film beliau menurutku cukup menarik. Kemudian saya cari film berbau teror psikologis ini di Netflix, Alhamdulillah ada, haha, karena rekomendasi film lain dari Quoran itu belum ada. Film ini nyeritain kisah rumit hubungan antara guru musik bernama Terence Fletcher (J.K. Simmons) dan muridnya Andrew (Miles Teller). Aku sepakat film ini adalah paket komplit dari akting, musik, sinematografi, fashion, yang bagus! Apalagi akting si gurunya Fletcher, masuk banget, kayak botol ketemu tutupnya. Film yang aku gak ragu untuk ngrekomendasiin juga ke yang lain.

Ini akan menjadi salah satu film yang membuatku merasa telingaku kayak disekolahin. Ada guru yang ternyata bisa se-psikopat itu pas ngajar musik, dan untuk mencapai kesempurnaan dalam seni, dalam konteks ini musik itu, gak pernah ada. Tapi anehnya, selalu ada murid-murid loyal yang malah tertantang untuk naklukin ego kesempurnaan yang distandarkan oleh si guru, meski dia hampir mati pas latihan, atau udah tahu ketabrak truk parah, tapi masih dipaksakan ikut rehearsal. Si murid gak meduliin diri dia lagi. Relasi ini bisa diganti sama pola hubungan lain juga sih. Manusia emang separadoks itu.

Kalau aku jadi Andrew, well, barangkali aku tak akan sekuat itu punya guru seperti Fletcher. Di hari pertama mungkin aku akan cabut, don't say, what a wimp! Haha. Karena bagiku dalam belajar itu guru jadi orang yang sentral. Kalau gurunya baik, aku akan nurut, kalau gak, itu udah tanda aku gak perlu ngikuti pelajarannya lebih lanjut. Bayangin kamu jadi Andrew, dia punya bakat nge-drum sejak kecil, terus SMA dapat guru ya, hebat sih, tapi gila. Andrew ini ibunya udah meninggal, dia cuma punya ayah satu-satunya yang sayang banget sama dia. Tapi gara-gara obsesinya untuk jadi penabuh drum jazz terkenal sebagaimana standar Fletcher, dia jadi gila sendiri. Gak hanya itu, Andrew juga memusuhi keluarga ayahnya, sampai memusuhi gebetannya sendiri sampai si cewek kemudian punya pacar baru. Ini film dark yang keren banget.

Her (2013)

Kesepian akan jadi bahasan yang menarik kapanpun manusia hidup. Dari zaman Plato sampai Elon Musk, ini perasaan yang abadi. Dan film ini mencoba memberi jawaban kesepian manusia dengan menghadirkan teknologi AI manusia bayangan yang diciptakan melalui OS (operating system), komputer. Di film juga bertebaran berbagai teknologi masa depan yang kayaknya dalam 100 tahun ke depan bisa jadi akan terwujud. Dari teknologi yang bisa baca email sendiri, ngatur jadwal sendiri, nulis cuma dari cocot doang, TV yang bisa digerakkin pakai tangan, dlsb. Namun lubang besar dan efek dari semua itu adalah KESEPIAN.

Melihat tokoh utama yang bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) seperti melihat diriku yang lain: tertutup, tertekan, suram, dan tentu, kesepian. Tokoh yang bekerja sebagai content writer untuk balas surat-surat romantis kali ya--yang mungkin juga salah satu jenis bullshit job yang lain--ini memiliki masalah dengan istrinya, mereka cerai. Perspektif menariknya, Theo bilang cerai itu hanya masalah kertas! Waw. Ya juga sih, haha. Namun kenangan di balik itu yang lebih berarti. Dia punya anak satu perempuan yang lucu juga. Theo punya pacar bayangan yang dioperasikan OS tadi bernama Samantha. Kenapa namanya itu? Jadi kalau baca-baca ulang konsep AI, dia kan akan terus belajar, si Samantaha selama seper sekian second waktu baca jutaaan nama di direktorinya dan memilih nama Samantha. 

Film yang disutradarai oleh Spike Jonze ini sejujurnya berjalan dengan tempo yang lambat, sama kayak hidup kalau lagi bosen-bosennya. Justru menurutku di situ poin susahnya buat bisa ngikutin film ini sampai akhir. Tentu kamu bisa menebak akhir dari film ini yang juga berakhir dengan kesepian-kesepian pula. Si Theo kecewa karena perlakuan spesial Samantha bukan untuk dirinya saja, tapi juga untuk ribuan bahkan ratusan pengguna OS lainnya. Rasa egonya membuncah, Theo seperti dikhianati lebih dari pengkhianatan yang dilakukan oleh Catherine mantan istrinya. Meski Samantha melakukan hal mengejutkan pula, ketika dia mengumpulkan surat-surat romantis Theo untuk kliennya, kemudian Samantha kumpulkan, dikirimkan ke penerbit, dan menjadi buku. Ya, kupikir manusia adalah kesepian tanpa akhir.

Guy Ritchie's The Covenant (2023)

Film bergenre pertempuran ini menonjolkan sisi yang cukup menggigit dibanding film perang kebanyakan. Terinspirasi dari kisah nyata, menampilkan tokoh utama John Kinley (Jake Gyllenhaal), sersan AD USA yang ditugaskan di Afghanistan dalam rangka melumpuhkan gerakan Taliban di negara tersebut. Di sana, Kinley bertemu dengan penerjemah sekaligus intrepreter asli Afghanistan yang juga mantan anggota Taliban bernama Ahmed (Dar Salim). Ahmed dendam dengan Taliban karena membunuh anak laki-lakinya. Saat hendak mengepung markas Taliban yang menyimpan banyak bom dan senjata, adu bedil kemudian terjadi. Masing-masing tentara di dua kubu meninggal hingga menyisakan Kinley dan Ahmed. Keduanya berjuang bersama untuk terus hidup.

Dalam kondisi itu, Kinley terkena tembak serius beberapa kali yang menyebabkannya lumpuh. Ahmed kemudian berusaha menyelamatkannya hingga sampai di markas USA. Menggunakan peralatan seadanya, juga alat dorong dari bambu, Ahmed menyeret dan menggotong Kinley. Ketegangan terjadi sepanjang film, Ahmed dengan jiwa kemanusiaanya menaiki dan menuruni area terjan dan gurun khas Afghanistan. Mereka juga bertemu warga setempat, dari penjual makanan, hingga penjual karpet yang juga membenci Taliban. Untuk meredakan rasa sakit Kinley, akhirnya Ahmed memberinya semacam ganja. Pertarungan tak terhindarkan, dan nasib baik memihak Kinley, dia terselamatkan dan kembali ke rumahnya yang damai bersama istri dan anaknya di USA.

Namun, sekembalinya dari perang, hidup Kinley tak sama lagi. Psikologinya terganggu, mudah marah, mengutuk, dan punya keingingan kuat untuk menyelamatkan sahabat yang telah membantunya untuk hidup kedua kali, Ahmed. Apa yang dirasakan Kinley semacam komitmen (the covenant) antara dirinya dan Ahmed. Bagaimana bisa dia hidup nyaman bersama keluarga tapi sahabatnya dikejar-kejar untuk dibunuh tentara Taliban. Apalagi kepalanya dibayar mahal. Akhirnya, Kinley kembali ke Afghanistan untuk mencari Ahmed, Kinley juga mengurus passport dan visa tinggal Ahmed di USA, hal yang sangat susah dan birokratis untuk didapatkan. Dengan scoring yang apik, dua jam gak kerasa buat membuktikan janji Kinley tersebut. Bahwa kemanusiaan itu melampaui apapun: bahasa, budaya, geografi, darah, ras, kelas, dlsb.

Jumat, 18 Agustus 2023

Catatan Film yang Kutonton Periode Agustus 2023

Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023)

Ini film remake buat memperingati artis horor Indonesia, Suzzanna. Secara keseluruhan jujur, meski film ini horor, tapi malah tak cukup horor untukku. Entah, mungkin karena latarnya yang dekat, diambil dari budaya khas Jawa Timuran. Gimana seorang gadis dijadikan materi untuk membayar utang orang tua pada tuan wilayah di masa itu. Film ini asyik buat ditonton bareng keluarga, karena unsur keluarganya cukup kuat, kebetulan aku nonton ini di Cinepolis Gadjah Mada Plaza yang juga cocok buat keluarga.

Lainnya, acting Luna Maya yang secara wajah mayan mirip, tak begitu mengandung aura horor. Yang menarik justru si Surya (Achmad Megantara), gak tahu, ini orang saking bucin atau gilanya, karakternya masuk aja gitu. Dia bersekutu sama iblis buat menghidupkan Suzzanna, terus kekasihnya itu balas dendam sama Raden Aryo (Tyo Pakusadewo) dan istrinya yang nyantet Suzzanna, Minati (Sally Marcellina).

Dari film ini, aku jadi sadar asal-usul legenda kuntilanak, hantu yang selalu menginginkan bayinya karena lahir tak normal di punggung. Itu kenapa punggungnya bolong, rumahnya di pohon-pohon besar, dan suka makan bakso wkwk. Acting Rojali (Opie Kumis) dan Japra (Adi Bing Slamet), meski aktor pinggiran tapi kena sih humornya, haha. Ya, pada akhirnya, dendam itu terbalaskan, dan film ini berakhir bahagia. Anak Suzzanna dirawat oleh Surya. Suzzana mati untuk kedua kalinya setelah ubun-ubunnya ditusuk paku.

Oppenheimer (2023)

Jujur, fillm Oppenheimer bagiku lebih horror daripada film Suzzanna. Gimana gak horror, dampak dari bom yang diciptakan sama Oppie dan kawan-kawannya ngebunuh ratusan ribu masyarakat Jepang saat Perang Dunia II. Buat pecinta ilmu sains, fisikawan, kimiawan, matematikawan, ini film rekomendasi banget sih. Semangat belajar dan kecerdasan para tokohnya terlihat banget, dan bakal membuatmu merasa jika upaya kamu dalam belajar selama ini biasa-biasa aja. Nama-nama saintis beken macam: Niels Bohr, Albert Einstein, Richard Feynman, Klaus Fuchs, Ernest Lawrence, Robert Serber, Hans Bethe, dll, bertebaran!

Cillian Murphy yang meranin Oppenheimer ini cocok sih. Orangnya cukup tenang tapi ambisius. Dari awal film, penonton diserbu dan dikagumkan oleh kecerdasan Oppenheimer yang ngambil S1 dan S2 di Harvard dan Cambridge, bingo! Dia sempat mau bunuh dosennya lewat racun yang disuntik ke apel karena merasa terdiskriminasi. Lalu pertemuan Oppie dengan Einstein yang sangat ideologis dan revolusioner juga, sebab penemuan mereka bisa menciptakan bom pembunuh massal di dunia. Namun obrolan ini disalahkanartikan oleh Lewis Strauss (Robert Downey Jr) secara ad honimem, dianggap obrolan itu menyinggung dirinya secara pribadi, karena Einstein kemudian gak negur Strauss. Padal si Einstein saat itu lagi bad mood dan kacau emosinya gara-gara niat Oppenheimer terkait teori kuantum yang bisa menghancurkan dunia. Einstein did it too, tho'.

Ya, hari berlanjut, saat perang memanas, Oppie kemudian direkrut oleh militer Amerika lulusan MIT untuk proyek pembuatan bom. Akhirnya dia buat laboratorium sendiri di tanah kaum Indian yang gersang, daerah mati yang coba dihidupkan. Di situ ilmuwan dikumpulkan dan percobaan bom dilakukan. Hingga akhirnya, bom itu meledak! Duammm! Djakarta Theatre ikut bergetar! Ratusan ribu orang di Nagasaki dan Hiroshima mati mengerikan. Sedangkan si Presiden US kala itu dianggap bertanggungjawab. Yang cukup mengganggu sebenarnya di akhir-akhir film, sebuah sidang buatan yang dirancang oleh Strauss untuk menghakimi dan menghukum Oppenheimer karena dendam pribadinya. Part itu bagiku melelahkan dan pengen ku-skip aja. Ditambah latar hitam-putih membuatku lebih frustrasi.

Barbie (2023)

Ini film lucu! Sebagai perempuan yang gak asing dengan mainan barbie, film ini mencoba memberi perspektif lain dalam melihat dunia mainan, kesempurnaan manusia, cita-cita, dan ide-ide kesetaraan. Latarnya bener-bener dibuat khas mainan, di mana tokohnya makan gak ada makanannya, minum gak ada airnya. Mereka bisa ganti pakaian cantik setiap hari, dengan mobil, rumah, dan aneka infrastruktur yang keren. Semua perempuan di dunia Barbieland bernama Barbie, dan semua laki-lakinya bernama Ken. Barbie bisa jadi apa saja, dari presiden, peraih nobel, arsitek, desainer, dll. Hei! Perempuan bisa melakukan apa saja dengan mimpinya! Perempuan itu sangat mandiri, dan (maaf) sebenarnya bisa hidup tanpa Ken, wkwk. Aku yang nonton di CGV GI ketawa-tawa.

Dunia berubah saat Barbie utama, ya sebut saja begitu, yang dibintangi oleh Margot Robbie memikirkan terkait kematian, dan strech di pupunya membuat dia insecure, apalagi kakinya bisa menapak, tak seperti Barbie kebanyakan yang njinjit atau Barbie autentik (duh lupa istilahnya), oya, Barbie stereoptical. Akhirnya dia pergi ke weird Barbie, hingga dipertemukan dan tinggal di dunia manusia. Barbie mau tak mau pun jatuh ke bumi, dan Ken utama (Ryan Gosling) mengikutinya. Barbie pun kaget dengan dunia manusia bumi, dia sadar dunia yang ada di Barbieland ternyata tak terjadi di bumi. Dia bukan ratu, bahkan dia juga tak punya kelamin, meski memiliki sisi-sisi kemanusiaan yang dimiliki manusia bumi. Barbie menangis saat dia tahu ide-ide kesetaraan itu utopia belaka dari anak kecil di dunia masa lalu yang mengadopsinya.

Isu lain terkait kapitalisme, wekeke, bagaimana si bos perusahaan Mattel yang memproduksi Barbie dan Ken memperkuat bisnisnya. Si CEO, Will Ferrell, dan anak-anak buahnya harus mendatangi Barbieland untuk menangkap si Barbie yang turun di dunia karena dianggap mengancam bisnisnya. Namun pas Barbie kembali, Barbieland telah berubah jadi Kenland yang menerapkan teori-teori patriarki secara kaffah. Ini unik sih, lalu bagaimana para Barbie memperoleh legitimasinya kembali untuk menguasai dunia mereka yang asli. Hm, bukan tontonan anak-anak, tapi idenya sangat menarik. Ya, everybody's tend to be like Barbie and Ken.

Cobweb (2023)

Kayaknya ini film horornya US pertama yang kutonton secara sadar deh, haha. Aku nonton ini di Atrium XXI pas hari Sabtu. Meski kurang begitu suka sama genre horror, tapi kalau karakternya menarik, akhirnya aku ngikut sih haha. Dan tokohnya si Peter (Woody Norman), ini anak so cute! Dia tinggal di rumah tua sama orang tuanya, Mark (Antony Starr) dan Carol (Lizzy Caplan), yang seperti menderita gangguan jiwa setelah ada anak perempuan yang mati mendadak di malam Halloween. Lalu ortu itu overprotective sama Peter.

Tiap malam si Peter digangguin sama suara-suara yang timbul di balik dinding. Si hantu mencoba jalin obrolan sama di Peter. Peter pun menanggapinya karena dia sedih, bagaimana gak sedih, anak yang superpendiam ini di sekolah gak punya teman. Dia ketakutan saat jam istirahat. Lalu, ada anak lain yang mem-bully Peter, namanya Brian (Luke Busey). Si hantu kemudian bujuk Peter untuk ngebalas, lalu pas di sekolah ngedorong Brian dari tangga hingga membuat kakinya cacat harus pakai alat bantu jalan. Untungnya dia punya guru yang perhatian bernama Ms. Devine (Cleopatra Coleman).

Plot twist-nya ternyata yang anak perempuan yang mati itu kakaknya Peter, yang dibunuh sama mamahnya sendiri kemudian dikubur di belakang rumah. Tapi anehnya juga, di belakang jam besar horor si kakak berambut seram ini tinggal dan dikunci. Saat terjadi malam Halloween, tragedi terjadi, Peter seperti meracuni makanan mamah-papahnya hingga mereka meninggal. Peter akhirnya dapat kunci untuk melepas si hantu di belakang jam. Lalu, malam berdarah terjadi, Brian dan para sepupunya datang untuk balas dendam, eh, akhirnya ikut terbunuh juga. Akhir filmnya agak kurang jelas sih, Ms. Devine nolong, dan hantunya kekurung lagi.

Meg 2: The Trench (2023)

Nonton film ini saat kamu lagi stress akan nurunin tingkat stress sih, haha. Ya, itu aku rasakan saat merasa beban kerja lagi banyak-banyaknya. Nonton Meg 2 seperti diajak ke dunia lain, dunia di bawah laut yang belum banyak diakses oleh banyak orang. Aneka akulturasi budaya antara Barat dan China juga membuat film ini menarik. Aku pribadi suka dengan karakter Meiying (Shuya Sophia Cai) dan pamannya Jiumming (Wu Jing). Mereka kaya, punya laboratorium bawah laut beserta konservasinya, sampai macam ternak ikan hiu jelek purba yang diberi nama Haiqing.

Pernah bayangin gak sih hidup di bawah laut? Imajinasi terjauhku masih di seputaran serial animasi Spongebob Squarepants sih. Di film ini seperti nyata, membayangkan sekitar ribuan meter dari permukaan laut, makai pakaian khusus, dan mengamati berbagai spesies kedalaman yang menakjubkan. Meski di bawah laut ini tak lepas dari eksploitasi juga. Konflik film ini adalah pertarungan antara timnya Jiumming dengan laboratorium yang merusak alam bawah laut. Menjualnya dengan harga miliaran rupiah. Juga berbagai sabotase yang terjadi di lingkup internal.

Pertarungan itu membawa mereka ke pulau impian, Fun Island, yang menurutku malah mirip Barbieland di dunia nyata, haha. Sayangnya pulau ini bukan untuk liburan, tapi untuk perang khas film action USA yang aktornya gak mati-mati. Apalagi tokoh si Jonas (Jason Statham) yang punya nyawa puluhan). Di pulau ini ditemukan juga makhluk purba seperti komodo yang menyerang manusia, terus octopus raksasa juga, sampai ular raksasa, dll. Berakhir dengan kemengangan si protagonis, film ini seperti membawa perasaan lega sejenak. Ya, macam bisa keluar dari palung lautan (the trench) dan menghirup udara daratan.

Love in Perth (2010)

Sengaja nonton film ini karena pengen merasakan suasana gimana sekolah di luar negeri itu dari tokoh utamanya Lola (Gita Gutawa) dan lawan mainnya Dhani (Derby Romero). Sebagai film, ini ringan banget, cheesy, dan you don't need extra brain to understand. Si Lola dapat beasiswa sekolah level SMA gitu di Perth, Australia. Lalu ketemu cowok songong dan sombong si Dhani, singkat kata mereka kemudian jatuh cinta dan saling mencintai.

Namun sebelum jadian, mereka ada di hubungan yang up-down gitu karena karakter Dhani yang naik-turun. Sebagai anak metrpolitan yang suka clubbing, karakter Dhani ini gambarin karakter anak muda sekarang sih kalau menurutku. Tapi ya mungkin masih di lingkup masa-masa remaja dia. Kalau kayak gitu di umur 30 yang kebangetan sih. Bertolak belakang sekali sama si Lola, anaknya konservatif, moody, dan menjaga sopan-santun. Dia juga relegius, tak meninggalkan solat meski tinggal di negara liberal. Kebalikan sama si Tiwi (Michella Putri), roomate Lola, anaknya udah bebas banget party dan hangover tiap malam.

Tokoh lain ada si Ari (Petra Sihombing) yang diam-diam suka sama si Lola. Sebenarnya tokoh Ari ini kalau mau realistis lebih cocok sama si Lola. Dia perhatian, romantis, selalu ada, dan yah, baik banget gitulah. Tapi ya namanya cinta, gak bisa dipastiin nancapnya hati kemana. Lalu, kelebihan film ini lebih ke pemandangan Perth itu sendiri, pengen deh suatu hari ada di kursi Ari dan Lola itu sambil melihat danau, pemandangan urban, dan bawahnya rerumputan yang hijau. Damai.

Ode to My Father (2014)

Film sedih dari Korea Selatan yang gak ngebosenin dari awal sampai akhir. Genrenya drama dan perang, ngisahin suatu keluarga yang hidup saat masa perang antara Korsel dan Korut, mereka ngungsi tapi si ayah (Jung Jin-young) dan adik dari tokoh utama Yoon Deok-soo (Hwang Jung-min) yang bernama Mak-soon memisahkan diri. Deok-soo adalah anak pertama, dia punya tiga adik, yang satu hilang, yang satu pinternya bukan main dan masuk universitas negeri di Korea, dan satunya agak centil/glamor, pengen ada pernikahan mewah.

Seiring waktu, Deok-soo pun ingin merubah nasib dengan cara pergi ke Jerman sebagai seorang penambang. Dia pergi bersama sahabat sejatinya sejak kecil bernama Dal-goo (Oh Dal-su). Banyak hal lucu dan tragis terjadi di hidup keduanya. Dari terkubur di tambang, sampai kisah percintaan. Di Jerman, Deok-soo bertemu dengan perempuan yang menjadi istrinya, Young-ja (Yunjim Kim). Young-ja bekerja sebagai perawat di Jerman, pertemuan mereka sangat unik. Yang lucu tentu di Dal-su, berniat ingin mencari perempuan ala Barat yang berpikiran terbuka dan berbeda dengan perempuan Asia. Si Dal-su malah ketakutan saat kehilangan keperjakaannya dan diajak ML sama perempuan Jerman asli, terbuka dan agresif, haha. Di luar ekspektasi sih ini.

Sepulang dari Jerman, Deok-soo bisa membeli rumah sendiri, tapi ada satu yang sangat ingin dia beli, yaitu toko bibinya. Di toko inilah ayahnya ketika berpisah berjanji, jika dia masih hidup, dia akan datang ke toko itu. Sebab membutuhkan uang, akhirnya dia pergi ke Vietnam, sebagai imigran peran tentunya. Di sanalah dia mengalami masa-masa perang antara Vietnam-USA. Apa dikata, dia kena bom dan kakinya kena tembak pas mau nyelamatin anak ngungsi di sebuha sungai. Kecelakaan itu membuatnya berjalan agak pincang. Sisi sedihnya pas moment ada acara reality show yang mempertemukan korban perang dengan saudaranya, higga akhirnya si Mak-soon ketemu. Dia diadopsi oleh keluarga di Amerika Serikat. Yah, mbrebes mili, huhu. Keluarga emang nomor satu.

SPK

Aku masih ingat, di sekolahku dulu ada tukang bersih-bersih yang bagiku sangat rajin. Datang paling pagi, kalau nyapu niat, dan pas mau pulang pun blio masih nyapu pelataran kelas. Mengingatnya, salah satu sejarah penting hari ini adalah berdirinya Serikat Pekerja Kampus (SPK). Wadah yang menyuarakan berbagai kegelisahan para pekerja akademik, tak cuma dosen, tapi juga para OB, security, pekerja kopma, tukang parkir kampus, sampai anak magang. 

Ya, siapa lagi yang akan memperjuangkan selain kerjasama dalam bentuk serikat. Apalagi dunia pendidikan tinggi tengah menghadapi berbagai masalah penting, paling dasar adalah komersialisasi pendidikan yang kian lama kian mahal. Belum lagi tentang kurikulum, gagasan merdeka belajar belumlah sama sebagaimana yang dinyanyikan Pink Floyd dalam lagu Another Brick in The Wall. Yang membahagiakan lagi, serikat ini disokong penuh oleh kaum perempuan dari tingkat kepanitiaan hingga ketua dan sekjen terpilih juga perempuan, Ibu Diah dari UB dan Ibu Hariyati dari UI. 

Persma Balairum UGM juga baru saja  meluncurkan majalah yang temanya sangat menarik: "Buruh Perguruan Tinggi Didesak Sekak". Membaca laporan-laporannya yang diberi judul berima bisa jadi jembatan buat mahami kondisi dosen dan buruh akademik lain. Great job ini sih.

Panjang umur SPK dan pekerja kampus!

Minggu, 13 Agustus 2023

Labour - Guido Starosta

Setelah 3 minggu absen diskusi, malam minggu kemarin kami kembali membahas part I bab ketujuh buku The SAGE Handbook of Marxism. Kami membahas tulisan berjudul "Labour" dari Guido Starosta. Dia adalah penulis dan profesor di jurusan Ekonomi dan Administrasi di Universidad Nacional de Quilmes (UNQ) di Argentina. Dia mendapat gelar Ph.D dari Universitas Warwick, Inggris Raya. Dia menulis buku "Marx’s Capital, Method and Revolutionary Subjectivity" dan co-editor di buku "In Marx’s Laboratory. Critical Interpretations of theGrundrisse".

Labour (kerja) dari pandangan umum diartikan sebagai jumlah usaha dari fisik, mental, dan sosial yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa dalam sirkulasi perekonomian. Namun, kerja yang dimaksud Guido merujuk pada aktivitas produktif manusia secara umum atau aktivitas yang berhubungan dengan suatu pertumbuhan manusia terhadap alam. Terminologi "kerja" di sini berbeda artinya dengan "kerja" sebagaimana yang ada dalam tulisan Marx di "1844 Paris Manuscripts" atau "German Ideology", yang terkadang disamakan dengan aktivitas produktif yang teralienasi di bawah kekuasaan kapital.

Kerja di sini cenderung diartikan sebagai "aktivitas diri" atau "aktivitas manusia yang praktis", yang menunjukkan bagaimana manusia mentransformasikan alam. Dalam pandangan saya, lebih mengelaborasi konsep “filsafat kerja” dari Marx.

Debat Marx terhadap kerja ini banyak diungkapkan dalam masa Marx muda daripada Marx tua. Dalam German Ideology, Marx mengartikan, kerja sebagai proses antara manusia dan alam, yang melalui tindakannya dia menggerakkan kekuatan alam, termasuk tubuh, kaki, kepala, dan tangannya untuk menyesuaikan bahan-bahan alam dalam bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhannya sendiri.

Melalui aktivitas kesadarannya, manusia yang hidup memiliki kekuatan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan mengatur tindakan tubuh mereka yang bersifat eksternal. Dalam dinamikanya, manusia tak hanya memperluas wilayah alam sebagai konsekuensi logis dari bentuk konkret dan aktivitas mereka, tapi manusia juga memperumit mediasi yang terlibat sebagai produk alam yang memberikan nilai guna untuk memenuhi kebutuhan manusia. Baik yang munculnya dari perut maupun imajinasi.

Gagasan terkait "kerja" menjadi salah satu sentral dalam teori sosial kritisnya Marx. Yang paling sederhana itu bagaimana manusia bisa mentransformasi alam yang ada di luar dirinya secara "sadar" dan "sukarela" dalam rangka memenuhi kebutuhan. Tujuan dari tulisan ini adalah memberikan rekonstruksi sistematis tentang "kerja" dari banyaknya perbedaan pengertian yang ada dalam tulisan-tulisan Marx.

Guido menjelaskan, manusia itu makhluk alam, sebagai makhluk alam yang hidup dan dilengkapi dengan kekuatan alam, dia aktif. Kekuatan ini sebagai dorongan dalam melalukan sesuatu. Meski di sisi lain, dengan adanya jasmani, inderawi, menjadi manusia sebagai makhluk yang menderita, terkondisi, dan terbatas, sebagaimana hewan dan tumbuhan. Sebagai peneguhan akan eksistensinya, maka objek-objek di luar diri menjadi kebutuhan. "Marx identifies labour or productive activity as the specific form in which humanity reproduces its existence as part of nature." (hlm. 119)

Berkembangnya zaman, muncullah kritik-kritik. Kritik terhadap Marx ini muncul pada paruh kedua abad ke-20, yang diungkapkan oleh Habermas. Dia mengatakan, konsepsi Marx terkait kerja ini cenderung sepihak, monologis, atau sekadar aktivitas instrumental saja, dan gagal dalam menjelaskan interaksi yang bersifat timbal balik (konstitutif) atau dimensi 'komunikatif' dari tindakan manusia.

Arendt (1998) juga menganggap Marx membingungkan atau mencampuradukkan tiga perbedaan yang membentuk vita activa manusia:
a. Labour (kerja): aktivitas metabolisme biologis dengan alam yang mirip binatang
b. Work (karya) sebagai aktivitas yang bertujuan untuk memanusiakan alam dengan cara yang bertahan lama dan tidak fana
c. Action (tindakan): aktivitas diri yang radikal, yang memprakarsai, yang bersifat kolektif dan publik.

Tapi Guido berpendapat, justru para penulis-penulis tadilah yang mereduksi makna kerja, karena memisahkan kerja dari alam. Konsekuensinya, mereka memunculkan dimensi-dimensi lain dari tindakan manusia, yang secara 'otonom' justru memisahkan manusia dari kesatuan secara utuh (dengan alam). 

Kalau dari bacaan Ofek, labour di sini dikembalikan di moda produksi manusia dalam mengolah alam, dan bagaimana itu menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti di masa primitif, mengolah tumbuhan jadi sayur yang bisa dimakan, mengubah kayu jadi rumah, dll. Lebih kompleks lagi, skema sekarang berubah menjadi rente. Tidak sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tapi ada kebutuhan sekunder dan tersier lain.

Diskusi kali ini merefleksikan berbagai hal menarik. Salah satunya terkait perkembangan kerja atau labour ini di kapitalisme lanjut. Misalnya yang digelisahkan oleh Lina, Sulkhan, dan Zain terkait sharing economy. Dari yang dekat, semisal menjadi pekerja di media. Meski secara praksis memiliki moda produksi dan knowledge yang mencukupi, tapi kita seperti dikerdilkan di bawah terma-terma seperti fleksibilitas, algoritma, platform, dan "mitra".

Gamifikasi berkembang di sana yang menimbulkan eksploitasi jenis baru. Misal driver harus patuh dengan ketentuan yang ada di aplikasi, content writer harus patuh pada algoritma. Gamifikasi ini makin hari makin kompleks, sharing economy, seakan-akan kembali ke diri kita secara integral, tetapi tidak juga. Dengan adanya gamifikasi, mereka sering mendapat pinalti.

Kemudian, Aziz juga mengelaborasi pertanyaan menarik terkait apa perbedaan kerja profesional dan tidak profesional (amatir)? Ofek menjawab, pekerja profesional ini mempunyai kontrak, pembayaran, dan target yang  jelas. Sementara amatir karena si pekerja senang melakukannya. Sulkhan menambahkan, kerja profesional ini mempunyai standarisasi yang dibuat oleh rezim pengetahuan.

Refleksi akhir, kami membicarakan terkait bagaimana menjadi labour yang berdaya? Ada beberapa cara yang diutarakan oleh teman-teman, seperti Aziz yang ngutip Heidegger dan didukung oleh Marx, kalau mau berdaya yang kerja itu sendiri. Dengan menjadi pekerja yang benar kerja sebagai bentuk eksistensi. Lalu, Sifa dan Ofek sepakat dengan pendapat Marxian lain untuk membentuk serikat dan koperasi meski masih banyak PR dan tantangan. Sementara menurut Habermas, ya ciptakan komunikasi yang baik.

#guidostarosta #labour #kerja #work #action #habermas #hannaharendt #alam #kebutuhanhidup #survive

13 Agustus 2023

A discernment sentence: We don't have a profit motive.

Kamis, 03 Agustus 2023

3 Agustus 2023

I don't care how long it takesAs long as I'm with youI've got a smile on my face

-D4vd 

Bagai mimpiTerwujud tak disadari

-Float