Sabtu, 24 Oktober 2020

Straight Edge dalam Subkultur Skena Bandung

Gerakan lurus (straight edge/sXe) merupakan gaya hidup dan identitas subkultur yang berhubungan dengan musik punk hardcore—dalam konteks yang lebih luas suatu gerakan tanpa narkoba, minum-minuman keras, seks bebas, hingga tanpa rokok dan makanan berdaging. Dalam konteks skena hardcore Bandung lebih dikenal dengan sebutan Do-It-Yourself (DIY).

Dalam artikelnya ini, Sean meneliti terkait diskursus straigt edge dari konsep ‘revolusi diri; dan ‘pilihan personal’. Dia menyelidiki peran straight edge sebagai kode praktik, identitas subkultur, dan seperangkat teknik diskursif yang berpusat pada pantangan, transformasi, dan autensitas. Hasil penelitian menunjukkan, identitas straight edge dinegosiasikan secara kolektif, bahkan ketika hal itu diartikulasikan dalam terma transformasi diri dan pilihan personal.

Awalnya gerakan straight edge berkembang dalam skena punk hardcore di Timur Utara Amerika dan menyebar luas ke seluruh dunia, sampai ke Bandung yang memiliki peran signifikan secara identitas dan praktik. Interpretasi Sean terhadap gerakan straight edge di Bandung menggunakan teori subkultur. Khususnya diskursus dan analisis yang dipakai oleh Widdicombe dan Wooffitt (1995) bahwa individu subkulturis mengkonstruksi identitas, dan mengusulkan bahwa punk tidak memiliki arti yang tunggal, hanya pengeritan individu dan posisional.

Sedangkan Muggleton (2000) bersandar pada narasi subkulturis dalam budaya posmodern, terpecah dan bergerak cair dalam gaya hidup subkultur. Wood (2003) menganggap pula jika straight edge merupakan identitas idiosinkratik dalam suatu gelombang yang konstan. Meski begitu menurut Sean identitas straight edge tak lepas dari proses kolektif.

Penelitian ini berjenis penelitian lapangan tekait skena musik bawah tanah di Bandung. Dilakukan dari Maret 2004 hingga Februari 2005. Partisipannya kounitas punk hardcore DIY yang terorganisir dalam Kolektif Balai Kota (BalKot) yang berfokus pada produksi dan performance non-laba. Peneliti berkunjung ke BalKot rata-rata setiap minggu untuk mengorganisir pertemuan, event sosial, penampilan musik, dan aktivitas komunitas lainnya.

Penelitian dilakukan dengan wawancara semi-struktural terhadap 22 orang dari komunitas DIY dan 10 orang dari skena bawah tanah yang lebih luas. Wawancara tidak dipilih secara random, tapi menggunakan snowball sampling. Kolektif Balkit ini umumnya terdiri dari sekitar 20-30an anggota, rata-rata berpendidikan baik, Muslim, dan beretnis Sunda. Di mana 2/3 anggota secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai straight edge. Sedang lainnya mengadopsi straight edge tapi tanpa label, anggota lebih membicarakan straight edge ini sebagai pilihan personal.

Di Bandung pula, sebagian besar straight edgers adalah vegetarian dan mendukung aktivisme hak asasi binatang. Adanya dorongan untuk hidup bersih dengan adanya kontrol diri. Nilai anti-konsumerisme juga diterapkan dalam komunitas straight edge di Bandung ini dengan etos mereko akan otonomi Do-It-Yourself. Menurut Krogstad (1989) gerakan straight edge merupakan manifestasi dari ajakan eksternal yang masuk ke dalam moralisme internal di dunia punk. Dan Sean menekankan pada proses kolektifnya alih-alih individunya.

Martin-Iverson, S. 2006. ‘Revolusi diri’ (self-revolution): personal choice, collective identity and subcultural in the Bandung straight edge scene. TASA Conference, University of Western Australia & Murdoch University, 4-7 December 2006.

Selengkapnya: https://www.semanticscholar.org/paper/%27Revolusi-diri%27-(self-revolution)%3A-personal-choice%2C-Martin-Iverson/d24b2e9bd7a3c7d1fa89c501d12e888b342cdf5f

Kredit foto: https://www.anthropologicalforum.net/homepage/editors  dan https://uwa.academia.edu/SeanMartinIverson

Tidak ada komentar:

Posting Komentar