Sunday, September 13, 2015

The Imitation Game: Kisah Si Sombong yang Rapuh

Film ini berkisah tentang Alan Turing dan Enigma. Begitu dalam, mengena, dan menyentuh alam bawah sadar saya. Kisah tentang manusia yang berbeda dari yang lain.

Namanya Alan, seorang Yahudi. Anak yang cerdas, tapi dijauhi teman-temannya. Saat sekolah dia di-bully, dia sempat dikubur di sebuah lantai hingga hampir tak bisa bernafas. Seorang temannya bernama Christoper menyelamatkan Alan. Dua anak ini menjadi sahabat karib. Christoper adalah teman satu-satunya Alan. Mereka saling berdiskusi akan ilmu pengetahuan dan Alan mengenal kriptografi (ilmu membaca sandi rahasia) dari Christoper. Mereka sempat menciptakan sandi bersama.
Perkariban ini menimbulkan kesan yang mendalam bagi Alan. Ia jatuh cinta pada Christoper. Iya, Alan menderita homoseksual. Sampai sekarang saya masih bingung, apa penyebab dari penyakit semacam ini? Suatu hari Alan dipanggil ke ruang guru, di sana ia mendapat kabar yang meremukan hatinya: Christoper meninggal karena TBC. Namun, seperti wataknya, di depan gurunya itu Alan berpura-pura tak mengenal Christoper dengan sikap angkuhnya.

Hingga saat ia dewasa, Alan melamar kerja di sebuah badan intelejen pemerintah Inggris. Kondisi saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia II. Di mana Jerman melawan Inggris. Di badan intelejen ini tugasnya adalah memecahkan candi bernama "enigma", sandi paling sulit dengan kemungkinan penemuan pemecahannya sampai berjuta-juta-juta-juta kemungkinan. Yang setiap menitnya diganti kodenya. Mesin ini dipakai oleh tentara Jerman sebagai strategi rahasia. Untuk transportasi darat, laut, sampai udara.
Saya tertarik dengan gaya Alan dalam wawancara kerjanya. Di sana Alan begitu percaya diri. Dia menjadi profesor saat umurnya 24 tahun, tak beda jauh dengan Newton dan Einstein yang menemukan penemuannya pada usia muda. Alan juga tak gengsi bilang dia tak bisa berbahasa Jerman, meski itu mesin Jerman. Dia hanya mengaku sangat suka mengisi teka-teki silang. Yang paling gila dari semua itu, Alan bilang pada si pewawancara seperti pada gambar berikut:
Akhirnya Alan diterima. Ia bekerja dengan orang-orang jenius yang lain: Hugh Alexander, John Cairncross, dll. Siang-malam para jenius ini dibantu dengan staf badan intelejen memecahkan enigma. Para staf ini kalau saya lihat menggunakan cara analisis matematika manual, sedangkan Alan berpikiran lain: ia ingin menciptkan mesin yang bisa memecahkan ini yang cerdas dan bekerja secara digital. Mesin dilawan mesin.

Alan merintis mesin yang dinamainya "Christoper" (nama sahabat terdalamnya dulu) dengan kerja keras. Biaya yang dibutuhkan sekitar 100.000 pound, ia sempat ditertawakan. Alan lalu mengirin sura pada Winston Churchill si boss (perdana menteri Inggris) dan malah Alan diangkat sebagai ketua tim. Alan menggunakan kekuasaannya untuk memecat dua orang yang dianggapnya tak layak. Kadang teman-temannya muak pada Alan yang bersifat individual. Dia tidak disenangi teman setimnya.

Karena kekurangan staf, Alan pun mencari orang baru. Idenya cukup menarik: membuat soal teka-teki silang sulit yang kemudian diterbitkan di media. Orang yang bisa mengisi itu bukan orang sembarangan. Pas tesnya saja, hanya beberapa orang saja yang lolos. Parahnya, hanya ada satu wanita yang ikut dalam tes itu, wanita jenius bernama: Joan Clarke yang datang terlambat tapi Alan membolehknya masuk. Joan adalah ahli matematika, dia orang pertama yang menyelesaikan soal di tes itu dengan cepat. Lelaki-lelaki di sana kalah. Salut dengan dia dan prinsipnya.
Joan
Dari Joan, Alan belajar bagaimana berinteraksi dengan timnya. Alan membuat keanehan dengan membelikan temannya apel, sambil bercerita tentang dua orang (A dan B) yang tersesat di kandang beruang. Ada dua perbedaan sikap, si A berdoa memohon pada Tuhan akan kondisinya, si B merapatkan tali sepatunya. Terjadi dialog:
A: Seberapa kuat pun kamu berlari, kamu tak akan bisa melebihi beruang itu.
B: Aku tak perlu melebihi beruang, aku hanya perlu lebih cepat dari kamu.
Mendengar kisah ini dalam hati saya benar-benar mengumpat.

Sekian lama berjalan, Christoper belum menghasilkan konstribusi apa-apa. Hingga suatu hari mesin kesayangannya itu mau dihancurkan. Bersama Joan, diam-diam kedua orang ini melakukan pengembangan bersama. Saya sempat geleng-geleng kepala dengan kecerdasan Joan.
Hingga, cinta itu tumbuh di hati Joan pada Alan. Pelamaran yang romantis pun terjadi, Alan memberikan cincin yang terbuat dari kabel lunak dan dipasangkan di jari Joan. Namun, Alan tak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia homoseksual. Alan menceritakan rahasisa besarnya ini pada Cairncross.

Suatu hari di sebuah kafe di acara minum dan dansa, Alan bertemu dengan teman wanita Joan yang kerjanya juga memecahkan sandi. Ia bercerita tentang seorang pria Jerman yang mengirim kode yang sama pada waktu tertentu. Entah bagaiman jalan pikiran Alan, dari info wanita itu ia langsung berlari menemui Christoper seperti orang kesetanan. Teman-teman tim mengikutinya. Akhirnya enigma berhasil dipecahkan, ya, sandi itu hanya gara-gara satu orang brengsek: daulat Hitler.

Setelah ditemukan, tim memasang strategi lagi  bagaimana "memenangkan perang". Ini tidak mudah karena menyangkut banyak nyawa yang salah satunya adalah kakak dari Peter (salah satu tim jenius intelejen). Terjadi pecekcokan yang sengit di sini. Yang berbicara tak lagi logika, tapi perasaan.

Badan intelejen mendapat masalah besar. Ada mata-mata dari Uni Soviet yang menyusup. Tak dinyana penyusup itu adalah Cairncross, Alan mengetahui itu dari bibel Matius 7:7 yang ada di meja John Cairn. Bibel itu menjadi penanda sang spy yang sebelumnya diterjemahkan dengan sandi beale. Alan sangat terpukul dengan ini, ditambah, orang yang dipercayainya di intelejen pun (yang tahu bahwa sandi enigma telah ditemukan) juga seorang mata-mata!

Saat perang usai, Alan tak henti mengembangkan Christoper. Dia sempat ditangkap karena homoseksualnya itu. Namanya tercemar di koran. Dia juga menjalani terapi hormonal untuk penyembuhan. Di sana masa-masa terberat Alan. Ya, saya senang dan terharu saat Joan menemani Alan menghadapi penyakitnya itu. Bagaimana besar hati dan perhatiannya Joan meski pernah dikhianati dan dibohongi Alan.
The damn was reality that Alan suicide in his age 41th. And his machine that he called "the imitation game" or Turing Machine be seed of computer now. Loph your sacrifice Turing!

No comments:

Post a Comment