Monday, September 7, 2015

Candi Abang, The Losing Temple

Minggu, 6 September 2015

Di antara candi-candi yang pernah saya datangi, ini candi paling abnormal. Sore itu, saya dan teman-teman Fisika UIN Suka 2013 mengadakan jalan-jalan dan silaturahmi bareng pasca liburan ke Candi Abang. Letaknya di sekitaran Berbah, Sleman. Tidak begitu jauh dari Bandara Adisutjipto.

Pas sampai di parkiran, kita musti naik sekitar 80 mdpp (meter di atas permukaan parkiran) untuk menuju ke candi. Meski tak setinggi Merbabu, lumayan ngluarin nafas juga. Sampai sana saya heran dan bertanya: ini candinya yang mana ya? Yang terlihat sejauh mata memandang hanya gundukan tanah yang tinggi menyerupai rumah telletubies. Celetukannya si Farros sih bilang candinya ada di bawah gundukan itu: eh, di bawahnya ada candi lho! Haha, aneh.

Usai makan-makan sore bersama, saya sama Lina naik lagi. Kami membaca informasi singkat dari poster dalam kaca yang menceritakan tentang candi itu. Jadi, candi ini disebut candi abang karena terbuat dari batu bata merah (merah dalam bahasa Jawa itu abang), beda dengan candi lainnya yang rata-rata terbuat dari batu andesit. Di tempat ini juga merupakan dataran tinggi tempat nongkrongnya para orang suci dari kerajaan Mataram Kuno semedi. Di sana ada patung Siwanya juga katanya, tapi saya tak melihat.

Pas naik ke rumah telletubies, ada semacam kawah yang isinya reruntuhan batu bata merah. Dan di puncaknya kita bisa melihat pemandangan alam yang sangat indah di lingkungan sekitar. Hamparan sawah yang hijau, perbukitan, awan, pesawat naik, dan (jika beruntung tanpa ketutup mendung) kita bisa melihat senja. Saya sempat gombalin Adil sore itu pas dia lihat jingganya matahari dengan bilang: Dil, ada senja di matamu. Dia tertawa dan bilang: aku langsung dapat ide. (Ide apa Dil??)

Teman-teman saya sebagian besar pada foto-foto, saya duduk merenung di puncak dengan melihat pemandangan yang saya rasa seperti dejavu di depan saya. Pas kecil dulu saya pernah punya poster yang isinya gambar pedesaan, saya teringat itu. Di bawah, semua terlihat kecil. Fokus okuler mata saya memperhatikan satu rumah bercat putih yang di depannya ada pohon-pohon rindang dan sekililingnya sawah. Detik itu hati saya bilang: ingin rasanya tinggal di sana, damai. Saya juga memperhatikan bangunan yang lain. Saya punya satu asumsi: yang baik terlihat seberapa jauh apa pun akan terlihat indah dan yang buruk terlihat mengecewakan. Sungguh sore itu, di sana, apa yang ada di depan mata saya seperti lukisan yang indah untuk dipandang.

Di tempat ini banyak dipakai untuk tempat pacaran juga. Yang romantis itu ada pohon daunnya jarang tapi bunga yang warnanya ungu, kecil-kecil banyak. Serupa sakura di Jepang. Akan lebih romantis lagi kalau rumput di sini hijau semua. Saya baca dari wiki, di sini juga ada guanya juga, tapi urung kami singgahi (mungkin kami tidak tahu).

Pulangnya, saya mengambil sedikit daun tanaman yang indah. Saya selipkan di sekitar telinga kerudung untuk asesoris. Biar cantik. Ya, ini quality time untuk kesekian kalinya sama teman-teman fisika, semoga terus kompak ya, selalu saling mendukung dalam kebaikan :)

di belakang empat teman saya ini ada rumah telletubiesnya lho (foto: FB Ila)
_Is

No comments:

Post a Comment