Monday, September 14, 2015

Aku Tak Tertarik



Aku tak tertarik apa mata pencarianmu.
Aku ingin tahu apa yang kaudambakan, dan apakah kau berani mengimpikan
                bertemu dengan
pujaan hatimu.
Aku tak tertarik berapa usiamu.
Aku ingin tahu apakah kau mau mengambil risiko terlihat bodoh demi cinta, demi
                cita-cita,
demi petualangan hidup sepenuhnya.
Aku ingin tahu apakah kau telah menyentuh pusat dukamu sendiri, jika
kau telah dibukakan oleh pengkhianatan hidup atau telah menjadi layu dan tertutup
karena takut disakiti lagi! Aku ingin tahu apakah kau bisa duduk bersama rasa
                sakit, sakitku atau,
sakitmu, tanpa mencoba menyembunyikannya, atau memudarkannya atau
                memperbaikinya. Aku ingin tahu apakah kau bisa berada bersama sukacita,
                sukaku atau sukamu;
jika kau bisa menari dengan alam liar dan
membiarkan keriangan mengisimu hingga ujung jemari kaki dan tanganmu tanpa
                mengingatkan kita untuk berhati-hati, bersikap realistis, atau mengingat
keterbatasan manusia.
Aku tak tertarik apakah cerita yang kusaksikan ini benar.
Aku ingin tahu apakah kau bisa mengecewakan orang lain agar jujur pada dirimu;
                jika kau
dapat menanggung tuduhan pengkhianatan dan tidak mengkhianati dirimu sendiri.
Aku ingin tahu apakah kau bisa setia dan karenanya dapat dipercaya. Aku ingin
                tahu apakah kau dapat melihat keindahan meskipun tidak setiap hari itu
                elok, dan jika kau dapat
menyumberkan hidupmu dari kehadiran Tuhan. Aku ingin tahu apakah kau bisa
                hidup
dengan kegagalan, gagalmu dan gagalku, dan tetap berdiri pada sisi
danau dan berteriak kepada bulan keperakan: “Ya!”
Aku tak tertarik pada tempat tinggalmu atau seberapa banyak uang yang kau miliki.
Aku ingin tahu apakah kau bisa bangkit setelah semalam berduka dan merana,
lelah, babak belur, dan melakukan apa yang perlu dilakukan demi anak-anak.
Aku tidak tertarik siapa dirimu, atau bagaimana kau tiba di sini.
Aku ingin tahu apakah kau mau berdiri di tengah api bersamaku
dan tidak mundur teratur.
Aku tidak tertarik di mana atau apa atau dengan siapa kau belajar.
Aku ingin tahu apa yang menjagamu dari dalam, saat segala hal berjatuhan.
Aku ingin tahu apakah kau bisa sendirin bersama dirimu; dan apakah kau benar
                benar
menyukai temanmu di saat-saat hampa.

“Undangan” terilhami oleh Pemimpi Gunung Oriah,
Tetua kaum Amerika asli, Mei 1994. 

Saya kutip dari buku SQ karya Danah Zohar dan Ian Marshall.
SQ mengutipnya dalam A Passion for the Possible karya Jean Houston.

Ps: Puisi ini buat teman sepermainan Omi Ajeng Cahyanti, hepi besdei, udah 21th hoi, haha. Juga buat orang yang pernah bilang ke saya “Jangan terlalu berhati-hati Is.”

No comments:

Post a Comment