Sabtu, 02 Mei 2015

Malam Sastra V LPM Arena: Sastra dan Realitas (Buruh - Pendidikan)



#melawan jinak
Penulis tidak akan tinggal di menara emas, ia akan melebur dengan realitas yang brutal. Budi Darma mengatakan bahwa pengarang yang baik harus mampu mengendapkan dan merenungkan realitas di sekitar hidupnya. Ia butuh pengendapan panjang. Sastra yang hanya menyalin, ia tak bertahan lama. Sastra jenis ini lahir secara menggebu-gebu kemudian tenggelam dan dilupakan.

Melalui diskursus anggota ARENA pada Minggu, 26 April 2015 mengenai sastra dan realitas, didiskusikan bahwa sastra adalah cerminan dari realitas itu sendiri. Menurut idealisme Marx sendiri realitaslah yang membentuk kesadaran, dalam artian keadaanlah yang membuat sadar. Bedanya, realitas dalam sastra menggunakan rasa. Ia tak sekedar foto kopi, tak hanya kesadaran utopia. 

Realitas merupakan dasar dari bentuk ekspresi sastra. Di sana ada imajinasi, agar dalam perenungannya digunakanlah simbol-simbol. Realitas juga hanya sekali terjadi. Ada proses rekontruksi, tak bisa disamakan yang sesungguhnya dan dengan yang sastrawan gambarkan. Misalkan anologi bagaimana seorang koki membuat sup. Bahan dasar membuat sup jika diibaratkan adalah realitas, koki butuh kemapuan yang mumpuni untuk membuat bahan dasar itu menjadi enak dimasak. Jika bahan dasar membuat sup dimasukkan secara membabi buat ke panci semua, ia akan chaos pun dalam bersastra.

Realitas sendiri begitu luas. Karena pelaksanaan malam sastra V ini jatuh pada bulan Mei dan di bulan ini ada dua hari besar: Pertama, Hari Buruh Internasional 1 Mei. Kedua, Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Realitas kita batasi temanya mengenai buruh dan pendidikan.

Berbicara buruh seperti yang telah ARENA diskusikan bersama pada Selasa, 28 April 2015 bersama Sabiq Ghidafian Hafidz. Waktu itu ada pendeskripsian: apa sih yang disebut buruh? Apakah petani Indonesia yang mempunyai alat produksi sendiri bisa disebut buruh? Melihat ini tentu berbeda realitasnya. Jika petani konfliknya lebih banyak ke lahan, sedangkan buruh lebih kepada hak dia dan majikan.

Ditarik ke realitas yang lebih panjang yakni tentang sejarah mayday sendiri. Bermula pada 1 Mei 1886 di Amerika sekitar 400 ribu buruh melakukan demo besar-besaran menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam. Demo ini berlangsung selama empat hari dan banyak korban yang dijadikan martir. Dari situasi itu kita tarik ke Indonesia, bagaimana kontekstualisasinya?

Kita digiring membaca itu lewat kacamata ‘basis’ dan ‘struktur’ Marx. Basis buruh menekankan pada produksinya ia terdiri dari modal (kapital) dan pekerja (proletar). Dua basis ini menghasilkan produk (sebagai alat) yang memilki nilai yang sifatnya fungsional, simbolik, dan imajiner. Dari basis menuju ke suprastruktur, di sana lahir hukum, pendidikan, seni, dan lain-lainnya. Dari sana bisa dilihat kepemerintahan suatu negara lewat hasil produksinya.

Penindasan real yang terjadi pada buruh Indonesia bisa kita lihat salah satunya lewat film The New Rules of The World. Malam itu ARENA nonton bareng-bareng pakai satu komputer, tiga leptop dengan lampu dimatikan (semoga kenangan ini terus teringat). Di film itu kita melihat bagaimana mirisnya kehidupan buruh. Di film itu juga disinggung tentang jurnalis dan beritanya. 

Tema spesifik berikutnya adalah tentang pendidikan. Tema laten yang mungkin akan terus didialektikakan hingga pohon masih terus berakar. Pendidikan telah ARENA diskusikan secara seru pada Rabu, 29 April 2015 di sekret kita tercinta bersama Januardi Husain (Juju). 

Pembacaan tentang pendidikan dimulai dari pembacaan terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Kita sekarang mengupasnya melalui kacamata Althusserian. Lewat ideology state apparatus (ISA) pendidikan berada di aparatus yang sifatnya ideologi. Produk lulusan pendidikan Indonesia saat itu dibahas ia melanggengkan tirani dan melanjutkan sistem yang telah ada. Menurut Althusser, kita dididik untuk reproduksi kondisi produksi.

Paulo Freire juga merumuskan tentang epistemologi mengajar. Masalah besar pendidikan menurut Freire adalah pendidikan gaya bank. Di mana peserta didik tak berangkat dari realitas nyatanya. Guru dalam sistem ini menjadi sosok yang superior, materi semuanya dari guru. Pendidikan ideal, ia berbasis masalah. Siswa harus memodelkan sendiri pendidikannya.

Tak usah jauh-jauh, kita tarik saja ke kurikulum yang dipelajari di ARENA. Samakah dengan pendidikan model bank? Bagaimana teman-teman magang disodori materi yang ke-ARENA-an dan bisakah teman-teman magang (atau pengurus bahkan) membentuk pola pikir mereka sendiri? Ini tentu menjadi renungan bersama.

Hal yang sulit adalah melawan kewajaran. Sebagaimana yang dicontohkan Opik pada diskusi itu: adakah orang yang bercita-cita menjadi bodoh dan ia dengan penuh usaha mewujudkan cita-citanya itu? Tanpa disadari kita pun terjebak ideologi yang sifatnya interpelatif dan mematerikan idea. Ya, pada akhirnya, Akarnya adalah tahu akan posisi kita dengan begitu kita bisa membaca yang di luar.

Malam sastra ini sebenarnya sebagai salah satu wujud bentuk kesadaran kritis menjawab pertanyaan Faksi yang berat: apakah malam sastra ini hanya sekedar wacana yang cuma dipresentasikan. Beramai-ramai hanya dalam pikiran setelah itu selesai? Ya, seperti yang dikatakan Jamal: “Bersastra adalah berkarya. Berkarya adalah bekerja!”
 

Konsep

Buat party dekat kali, juga upaya merayakan bangunan yang mati agar dia hidup lagi. Kita melakukan pembacaan terhadap realitas buruh dan pendidikan saat ini, dari sana kita merenungkan secara dalam, kita analisis dengan teori-teori sosial yang kita terima. Dari perenungan itu bisa dihasilkan karya untuk dipresentasikan. Bentuknya bisa puisi, dongeng, stand up comedy, monolog, drama, musik, tari, dan lain-lain. Kalau mentok tidak bisa membuat karya ciptaan sendiri, bisa mengambil dari referensi lain semisal buku/internet dengan dibacakan dengan jelas penciptanya.

Tempat

Laboratorium Biologi (utara Student Center, pinggir Kali Gajah Wong) UIN Sunan Kalijaga.

Waktu

Minggu, 3 Mei 2015. Pukul 7 pm s.d. game over.

MC

Olie

Rundown & Pengisi

13.00 Bersih-bersih, dekor tempat, siap-siap.
19.00 Pembukaan
19.15 Pembacaan Al Quran (Faksi)
19.30 Sambutan (Jamal)
19.45 Arena 2014 Choir (Ida dkk)
20.00 Drama I (Kurnia, Agus, Rouf, Ifa, Kartika)
20.10 Pantun I (Dewi, Laila, Fatih)
20.20 Dongeng I (Zidni, Lisa)
20.30 Monolog (Lugas)
20.15 Puisi I (Ilmi, Rohim)
20.30 Musik Dangdutan (Anis)
20.45 Tari (Agus dkk—Uniq dkk)
21.00 Dongeng II (Isma, Rifki)
21.30 Puisi II (Masodi, Najib, Kimbo)
21.45 Pantun Berbalas (Iim, Fai, Nisa)
22.00 Stand up comedy (Muja, Agus)
22.15 Drama II (Amri, Ekmil, Muti)
22.30 Musik II (Sabiq, Juju, Bayu, Rimba)

(IS PSDM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar