Monday, May 25, 2015

Film Gula-gula Usia: Romantika Cinta yang Seksi

Tadi malam (24/5) sama Anis dan Madam nonton bareng tiga film persembahan Jamaah Cinema Mahasiswa (JCM) UIN Suka di gelanggang. Film terakhir bagiku paling menarik. Judulnya: Gula-gula Usia.
Doc: Festival Film Solo
Film ini berkisah tentang seorang wanita yang usianya udah nenek-nenek. Dia hidup sendirian. Aktivitasnya menjahit. Seiring tuanya usia, barang-barang di rumahnya pun telah tua. Banyak barangnya yang rusak dan minta untuk direparasi. Dimulai dari jam tuanya yang mati, lalu wanita tua ini pergi naik becak ke tukang reparasi. Nah, tukang reparasinya ini juga kakek-kakek, dia sudah tua, nada bicaranya mbah nang banget, haha.

Setelah wanita pulang, ada lagi yang rusak setrikanya nggak panas. Dibawa lagi ke tempat reparasi kakek itu. Obrolan-obrolan terjadi. Sampai-sampai si kakek ini mengantarkan barang reparasi nenek ke rumah nenek langsung pakai onthel.

Si nenek kan suka mendengarkan radio, radionya sudah tua dan rusak lagi, dibawa lagi ke tempat reparasi kakek. Setelah usai diperbaiki, diantar langsung ke rumah nenek. Nenek menyambutnya di ruang tamu, trus tiba-tiba hujan turun dan lampunya mati. Mereka saling berdua di rumah, haha... lucu banget, serasa muda lagi, penonton pada berisik ciye-ciyein.

Nah, suatu hari si nenek gelisah. Dia rindu kakek tukang reparasi. Nenek keliling rumah, siapa ahu ada perabotan yang rusak. Dia meriksa alat elektroniknya dari kipas angin dan lampu yang masih sehat semua. Nenek kecewa, haha, cinta kadang aneh ya. Puncaknya si nenek ini ngrusak kipas anginnya sendiri coba, nenek mbanting kipas angin ke lantai sambil ketawa. Penonton di gelanggang pada ikut ketawa. Yah, seperti hutang kan, rindu harus dibayar dengan tuntas. Haha...

Trus si nenek bawa itu kipas angin ke tempat reparasi kakek naik becak. Namun, pas sampai sana tempat reparasi kakek tutup. Nenek duduk sendirian di depan toko kakek. Tamat. Ending terbuka. Uh, kasian.

Film ini menggelikan sekali. Idenya sederhana, konyol, tapi menarik dan baru. Aku setuju dengan pendapatnya si Surya (anak Teater Eska) dia bilang: "Ia memandang terbalik. Cinta yang kadang cuma monopoli anak-anak dan remaja, sekarang dibalik.  Itu sangat seksi. Mahasiswa berkaryanya lebih seperti itu."

Bagiku sendiri melihat film itu sebagai subaltern yang coba diangkat oleh sutradanya Ninndi Raras. Nggak mainstream, dan menggelikan tadi. Ninndi nglepas hegemoni cinta ala remaja picisan. Pemuda memang berkaryanya harus seperti ini. Kritiknnya mungkin pas awal-awal temponya lambat (mungkin karena subjeknya manula kali ya) dan di awal juga kerasa membosankan, karena spot yang di-shoot itu-itu aja. Ending-nya juga menurutku kurang menohok, datar, nggak surprise, kayak orang di-PHP-in.

Last, manusia itu ibaratnya juga bagai perabot-perabot usia yang lambat laun ia akan ada pada titik menjadi "tua". Manusia kadang butuh direparasi untuk membuatnya sehat kembali. Mungkin begitu. Tentang cinta, tema yang digali tak ada habisnya. Mungkin ember jika diakatakan jatuh cinta tidak mengenal usia, bagiku cinta adalah bahasa kesunyian antara kakek dan nenek.

No comments:

Post a Comment