Friday, July 4, 2014

Review Buku “Madre” Dee (Dewi Lestari)


Madre, buku ke-dua Dee yang aku baca (setelah Filosofi Kopi). Butuh waktu kurang lebih dua jam nyelesain buku ini. Kuambil dari banyaknya tumpukan buku sastra, filsafat, dan gender koleksinya mbak Ichus. Berikut review-nya:

Madre-Dee
Madre, bercerita tentang seorang anak muda bebas bernama Tansen Roy Wuisan yang diwarisi kedai kopi oleh kakeknya yang bernama Tan sin Gie. Awalnya, Tansen bingung saat tiba-tiba dia ada di pemakaman lalu datang seorang pengacara yang memberinya amplop yang berisi alamat. Lalu dia datangi alamat itu, sebuah toko tua di Jakarta kota. Saat ia pencet bel datanglah seorang kakek-kakek tua bernama pak Hadi. Lalu pak Hadi ini menceritakan tentang silsilah-silsilah keluarga Tansen, dari kakeknya Tan yang menikah dengan Lakshmi (neneknya Tansen). Dari pernikahan Tan dan Lakshmi lahirrlah Kartika, dan dari Kartika lahirlah Tansen. Pak Hadi juga bercerita tentang sebuah tempat yang mereka duduki sekarang. Sebuah toko roti bersejarah yang dulu bernama Tan de Bakker lalu berubah nama menjadi Toko Roti Tan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan munculnya toko roti modern, Toko Roti Tan tidak mampu bertahan. Untungnya sedikit dan tak mampu lagi membiayai karyawannya lalu toko ditutup. Pak Hadi juga bercerita tentang Madre. Tansen bertanya-tanya apa itu Madre? Madre yang dalam bahasa Spanyol berarti ibu ini adalah semacam resep rahasia roti Tan, dan itulah yang diwariskan pada Tansen. Lalu, pak Hadi juga mengajari Tansen membuat ulenan roti Tan, dan hanya dengan sekali coba, Tansen bisa membuat roti serupa enaknya dengan roti Tan, bakat yang hanya dipunyai oleh neneknya, Lakshmi.
Tansen bingung dengan perubahan hidup yang terjadi padanya. Dari pemuda bebas dengan pekerjaan serabutan di Bali kini diwarisi sebuah toko roti. Karena kegelisahannya ini tempat satu-satunya pelarian dia adalah menulis di blog. Ia ceritakan perubahan hidupnya di blog pribadinya dia. Esoknya, ada yang komen di blogya itu. Ia bernama Mei, lalu hubungannya itu berlanjut pada pertemuan di toko roti.
Mei ini seorang bos di Fairy Bread yang memiliki banyak gerai roti di Bogor dan Jakarta. Ia ingin membuat menu baru berupa roti klasik, dan saat mencoba roti buatan Tansen, Mei langsung tertarik dan berniat ingin membeli Madre seharga 100 juta.
Awalnya, tanpa berpikir panjang Tansen mau menjual itu. Namun, ia melihat kesedihan di mata pak Hadi yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di toko itu. Pak Hadi lalu membuat semacam reuni karyawan toko roti tan yang umurnya sudah pada uzur, 70-an tahun. Ada Bu Dedeh (yang dulu menjabat sebagai kasir), Pak Joko, Bu Sum, dan Bu Cory yang membantu pak Tan memasak di dapur. Mereka para artisan (orang yang skill-nya jago dalam mebuat roti) saling melepas rindu dan bersama lagi membuat roti. Saat itu Tansen tersadarkan jika dia tidak ingin menjual toko itu. Ia memutuskan hanya menerima orderan saja dari Mei.
Lalu, hiduplah toko roti itu. Namun, lama kelamaan Tansen gelisah karena ia tak tega membiarkan pak Hadi dkk yang sudah tua bekerja sekeras itu di umur mereka yang tua, kekuatan fisik mereka telah melemah. Tansen menceritakan masalahnya ini pada Mei. Lalu, terjalinlah hubungan yang intens antara Mei dan Tansen, diam-diam Tansen suka sama Mei dan pak Hadi dkk berkonspirasi mendekatkan Mei dan Tansen. Mei juga cerita tentang kesedihannya karena saat ia kecil, waktu ia main sepeda ia menjatuhkan resep rahasia kue klasik buatan Yeye (kakeknya) dari atas meja. Lalu, Mei membuat penawaran, Tan de Bekker dijual pada dia, tapi Madre tetap menjadi milik Tansen. Dan konsep kuno dari Tan de Bekker dibuat lebih modern, pekerjanya direkrut orang yang lebih muda, tapi pak Hadi dkk tetap bisa bekerja sesuai dengan shift mereka. Namanya juga diganti menjadi Tansen de Bekker. Toko roti ini pun berkembang. Dan seperti halnya Fairy Bread yang menjadi peri bagi penikmatnya, Mei jadi peri untuk Tansen. 
Kutipan yang saya suka: “Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan”.
 
Rimba Amniotik. Saya menduga ini dibuat Dee saat mau melahirkan bayi mungilnya bernama Atisha. Di cerpen singat itu ia bercerita, bahwa sebenarnya bayinya lah yang mengandungnya. Ia berada dalam sebuah rimba amniotik, ia ditempa disana, melalui perjalanannya disana. Seperti yang Dee katakan, “Proses yang tak selalu mudah, tapi selalu indah”

Perempuan dan Rahasia. Bercerita tentang burung, kupu-kupu, bunga yang tidak pernah bertanya papa diri mereka apakah saya merdu, indah, dan wangi? Seperti halnya perempuan yang menyimpan rahasia dalam keanggunannya. Seperti puisi , membuat teka-teki baru bagi lelaki.

Ingatan tentang Kalian. Semacam ulasan kembali memorabilia tentang sahabat, teman, kawan, ya, yang bersemayam dalam ranah kehidupan, meng-abadi dalam ingatan.

Have you ever? Jujur, cerpen ini membingungkan untuk diri saya pribadi. Saya belum menangkap isi utuhnya seperti apa? Ada dua orang teman bernama Darma dan sosok Aku yang berlibur di Baron Bay yang letaknya di utara benua Australia. Mereka datang kesana gara-gara sepucuk surat dari tokoh misterius bernama Intan Cahaya. Mereka mengejar teka-teki dari isi surat itu tentang pantai, mecusuar, dan Bintang Selatan. Berkisah tentang sejoli yang berpisah lalu berjumpa lagi dalam reinkarnasinya. Hingga tokoh Aku dan Darma datang ke sebuah mercusuar yang dalam perjalananya mereka diserang badai. Saat tiba di mercusuar pengelolanya tak membiarkan mereka masuk karena waktu berkunjung telah habis. Mereka tetap ngotot ingin masuk karena ingin mencari jawaban atas teka-teki surat Cahaya. Disana, saat badai dan hujan reda, dilihatlah awan di langit, tokoh Aku menemukan Bintang Selatan, lalu mereka saling tertawa seperti menemukan keajaiban. Tapi keajaiban apa?

Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan. Sebenarnya bagi saya agak konyol tapi filosofis mencari jawaban dalam bawang merah utuh yang dikupas satu-satu pakai tangan sampai inti terkecil untuk menjawab pertanyaan: Apa itu cinta? Apa itu Tuhan? Intinya saja, Dee berkata, “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban”. Seperti halnya pengalaman mengelupas bawang merah yang baunya menyengat, mata berair, tapi kita tidak menggenggam apa-apa (?) analogi ini kok terasa ganjil ya? Mainstreamnya, cinta dan Tuhan itu seperti udara, tak terlihat tapi bisa dirasakan (ah, ini malah ngawur lagi).

Wajah Telaga. Hm, yang saya bisa petik dari prosa ini, Dee seolah menggambarkan dia pengen punya kepribadian yang dianalogikan seperti telaga. Yang jujur, sabar, ikhlas, dll. Di sisi lain saya menilainya sebagai sebuah kepasrahan dari telaga itu sendiri. Seperti pada larik, Wajah telaga tak pernah menyangkal II Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran Kristal putih II Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih II Ia bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati.

Tanyaku pada Bambu. Seperti mencari epistemologi pribadi. Tentang kelahiran yang dipertanyakan, lalu ke perubahan, kematian yang saling bergantian. Siklus kehidupan yang dianalogikan dalam diri sebuah “Bambu”. Bambu juga bagi saya adalah sebuah kebulatan tekad dan kesetiaan, karena tak pernah saya temukan bambu itu dalam satu pohon punya cabang.

33. Simpel banget judulnya, next time  saya pengen judulnya 21, ha ha ha. Yap, sebuah kado ulang tahun ke-33 mungkin untuk seseorang yang berarti bagi Dee. 33 itu lambang kebenaran, refleksi yang saling mengisi dan melengkapi, usia dimana Yesus mencapai kesadaran kristus, punya energi penyembuh, ya, layaknya mutiara dan pualam. Romantisnya, bagi Dee, 33 itu saat aku bersamamu sayang #ea.

Geruji. Tak jauh berbeda temanya menurutku seperti Have You Ever? Dan belum saya mengerti. Berkisah tentang dua orang yang sama-sama bernama Ari (entah saudara kembar atau bukan), satunya cowok, satunya cewek. Yang cowok itu kayak menjalani ilmu kebatinan Budha gitu, namanya Geruji. Mereka berbeda jauh sifatnya seperti putih dan hitam. Terjadilah pertentangan-pertentangan diantara mereka berdua. Hingga ending-nya aku menduga, mereka berdua ini satu tokoh (?)

Percakapan di Sebuah Jembatan. Seperti memutar lagi roda waktu, dan emmm… saya menyebutnya kemerdekaan. Hidup layaknya di atas jembatan panjang yang (titik-titik)…….

Menunggu Layang-layang. Ini cerpen yang paling saya suka dari semua cerita di Madre. Entahlah, ada pengalaman pribadi saya yang mendasari ini. Dari judulnya, dari tokoh bernama Che, atau gaya-gaya penceritaan cerpen yang saya rindu tiba-tiba hadir. Jadi ada tokoh bernama Christian (Che) yang hidupnya normatif, dan seorang perempuan bernama Starla yang dalam tanda petik ‘liar’. Permainan asmara dari masing-masing mereka unik. Starla ini sering gonta-ganti pasangan semudah dia gonta-ganti kaos kaki. Dia tidak suka dengan ikatan atau komitmen, dia bebas. Berbeda dengan Che yang betah dengan kesendirian, dan Che adalah ‘tempat sampah’ bagi Starla untuk memuntahkan segala uneg-unegnya. Suatu hari, sahabat Che bernama Rako tertarik sama Starla dan berniat ingin melamar Starla. Tapi apa yang terjadi? Malah terjadi tragedi kebakaran, Che meminta Starla untuk berhenti memainkan Rako. Suatu hari saat mereka bercakap-cakap, Starla menceritakan semua apa yang dirasakannya. Dialog berikut ini yang menurut saya menarik (laksana Starla jadi layang-layang, sedangkan Che yang megang talinya di atas tanah):

”Hidup kayak robot adalah satu-satunya cara yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan Cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.”
“Kamu memang terjun ke air. Tapi kamu pakai baju selam”
“Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

Hingga akhirnya, Che dan Starla saling mencintai, karena ketakutan dan ketidaksiapan dari Che sendiri terhadap Starla, Che memutuskan untuk menjalin hubungan seperti teman biasa saja. Namun, cinta tak bisa ditolak, akhirnya mereka pun bertemu di sebuah bioskop dan Starla berjanji untuk tidak menjadi layang-layang lagi. Tetapi jadi ikan lele, ha ha.

 Anggap aja kamu ikan lele. Bisa berkembang biak di septic tank. Dia hidup bahagia di tempat sampahnya”.
“Kamu orang paling gila, Che”
“Satu-satunya orang yang bisa mendampingi manusia nggak waras kayak kamu”
Dialog ini terbaca romantis di mata saya.

Prosa terakhir, ke-tiga belas, Barangkali Cinta. Sebuah perasaan, suasana, atau apalah yang dialami saat orang jatuh cinta. Barangkali cinta II Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa II dan aku dapati rumah yang kucari.

Jogja, 3 Juli 204 (10.53 WIB)

Di kamar kos Mbak Ichus yang dipenuhi buku,
ditemani sayup-sayup musik penyejuk pikiran.
Kosmu sebentar lagi jadi surga buku, Mbak.
Jangan bosan-bosan mengajakku kesini lagi, ya.

2 comments:

  1. Dee selalu melahirkan novelet yang selalu melekat di benak saya, setelah Filosofi Kopi kemudian Madre ini, Dee selalu hadir dengan tema yang tak biasa dan gaya bahasanya yang aduhai indah.
    http://willy-akhdes.blogspot.co.id

    ReplyDelete