Wednesday, June 3, 2015

Cioran dan Ionesco

E. M. Cioran: Saya tidak pernah bisa menulis dalam keadaan normal. Bahkan hal-hal yang banal, saya tak pernah mampu mengatakan: "Saya sekarang menulis". Saya selalu berada dalam keadaan tertekan atau marah, geram, muak, atau jijik, dan tidak pernah dalam keadaan normal. Dan saya lebih suka menulis dalam keadaan semi depresi. Seakan-akan di sana ada sesuatu yang tidak beres, tidak benar. Karena saya berpendapat jika kita berada dalam keadaan netral, mengapa harus menulis? Mengapa mengumumkan atau melaporkan sesuatu? Demikianlah, barangkali seperti yang mereka katakan, ada sedikit aspek yang tidak sehat, abnormal, untuk ditulis. Dan ini benar, saya telah meneliti bahwa orang-orang yang menderita neuosis, orang-orang setengah gila, mereka yang bertindak karena nafsunya saja.

Bagiamana dengan yang begini:
 
Eugene Ionesco: Saya selalu berpendapat bahwa mimpi-mimpi itu bukanlah sesuatu yang konyol. Dalam mimpi terdapat kesunyian dan kontemplasi. Kita dapat membayangkan dengan lebih nyata ketimbang dalam kehidupan yang real. Terdapat kejelasan dalam mimpi, yaitu kita tidak dapat mengatakan kita superior atau inferior, tapi lebih bersifat penetrasi, merasuk, menembus.
Saya bangkit dari mimpi saat saya menulis, dengan demikian karya itu tampak segar dengan percikan air mimpi, jika saya diperbolehkan mengatakan begitu. Bercampur dengan realitas. Realitas. Realitas selalu mengejutkan saya, dan terenggut dengan segera.
 =================
E. M. Cioran: Bagi saya, tragedi seorang penulis adalah menjadi terkenal tatkala masih remaja; sesuatu yang benar-benar jelek. Ketenaran itu mendesak apa saja, karena kebanyakan penulis bila mereka terkenal dalam usia muda mereka menulis untuk publik mereka. Menurut pendapat saya, sesuatu harus ditulis tanpa memikirkan orang lain. Anda tidak harus menulis untuk atau ditujukan pada siapa pun, hanya untuk diri anda sendiri. Dan kita tidak akan pernah menulis buku hanya untuk menulis buku, karena buku tersebut tidak mengemban realitas, buku adalah sebuah buku. Segala sesuatu yang sya tulis merupakan pelarian dari rasa tertekan, dari mati lemas, kekurangan nafas. Semua itu bukanlah dari inspirasi seperti yang mereka katakan. Semua itu semacam pemanasan agar mampu bernafas.

Bertolak belakang dengan:

Eugene Ionesco: Saya memang ingin terkenal. Saya ingin lari dari anominitas, dari tidak bernama itu. Eksistensi dalam anonim tampaknya tak dapat saya terima. Saya tidak ingin hidup dalam anominitas ini, karena seperti yang saya katakan pada diri saya sendiri, bahwa bila saya tak dapat hidup dalam Tuhan, artinya hidup dalam kesunyian dan keheningan, dalam kehidupan monastik, maka saya harus hidup paling tidak sedikit bersinar di antara orang-orang. Saya tahu itu adalah sebuah kesalahan, tapi saya tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya.


Sumber--Writing at risk: interview with the uncommon writers: Julio Cortazar, Gunter Grass, EM Cioran, Eugene Ionesco, Carlos Fuentes, Milan Kundera, Octavio Paz

2 comments: