Sabtu, 14 Desember 2019

Cina: Narasi Sebuah Raksasa

One-Belt-One-Road-infographic-excerpt
Sumber ilustrasi: SciVal with data from Scopus
Umar Kayam pernah membuat cerpen berjudul “Istriku, Madame Schiltz, dan Sang Raksasa” yang mengulas tentang kultur masyarakat Amerika kota lewat kacamata orang Timur. Kota dalam cerpen itu digambarkan bisa memakan segalanya, gedung-gedungnya sampai manusia-manusianya. Tidak peduli halal atau haram. Mengingat itu, saya jadi kepikiran mengganti judul yang dibuat Umar Kayam menjadi “Xi Jinping, Cina, dan Negara-Negara Kurcaci”—ya, dengan kisah nyata yang tentu saja berbeda. 

Saat ini tengah tumbuh dengan sehatnya raksasa dunia, sang pemodal besar yang membekengi banyak negara dunia miskin/berkembang. Membawa negara-negara bawah/menengah itu kian patuh pada “bos besar”. Meski secara tak sadar mereka tertindas, juga bungkam terhadap persoalan-persoalan HAM yang dilakukan bos besar. Kenyataan ini semacam mimpi buruk Marxian, frustasi Orwellian, dan kamar pengantin Leviathan. Raksasa itu bernama Cina. Negara yang berpotensi memakan apa saja.
Di tulisan ini saya hendak mengungkapkan pada era sekarang sudah sejauh mana raksasa itu tumbuh dan apa dampak pertumbuhan itu bagi beberapa negara di dunia. Begini saya akan memulai ... 
Pada awal tahun 2019 tepatnya tanggal 3 Januari, biro Administrasi Antariksa Nasional Cina (CNSA) menggebrak dunia dengan mendaratnya wahana ruang angkasa Chang’e 4 ke tempat terjauh bulan. Menggunakan bajak angkasa yang dijuluki Yutu-2 atau Jade Rabbit-2 Cina telah berhasil menjelajah sisi misterius bulan di Kawah Von Karman dalam Cekungan Kutub Aitken-Selatan, zona tumbukan tertua di bulan.[1] Di sana, Chang’e 4 menanam kehidupan Bumi ke Bulan. Membawa materi eskperimentasi yang ditaruh di dalam tabung kecil berisi benih kentang, tumbuhan bunga Arabidophis thaliana, dan telur ulat sutra.[2] Penjelajahan ini juga akan membantu memahami sejarah kuno Bumi dengan lebih baik. Ilmuwan kemungkinan dapat mengintip 50 juta hingga 100 juta tahun setelah Big Bang.
Pencapaian Cina tersebut meramaikan lagi eksplorasi ruang angkasa yang mulai meredup, sebab proyek ini lebih dari sekedar proyek ambisius. Ada hal lain selain akademis yang ingin disampaikan: Cina mulai menyaingi Amerika Serikat dan Rusia dalam eksplorasi ruang angkasa. Kabar itu terjadi saat perkembangan penelitian angkasa AS dan Rusia mengalami stagnasi. Anggaran Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah turun dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin sibuk membiayai operasi militernya di luar negeri.
Pada awal 2000-an, sedikit orang yang percaya Cina akan mampu menjadi pemain ruang angkasa. Beberapa usaha Cina seperti mengirim astronot pada tahun 2003, pengamat Barat menilai itu sebagai hal yang sia-sia dalam mengejar ketertinggalan.[3] Johnson-Freese peneliti teknologi luar angakasa di Naval War College menyebut memang teknologi antariksa AS jauh lebih unggul daripada Cina tapi Cina punya koentji yang sulit dilawan AS: kemauan politik. NASA memiliki program naik turun tergantung siapa yang memerintah negara. Di masa Barack Obama, NASA fokus mengeksplorasi asteroid dekat bumi. Di masa Donald Trump jadi target utama lagi. NASA akan kembali menargertkan pergi ke bulan pada tahun 2020-an.
Misi luar angkasa Cina sulit ditebak. Meski ada yang memberi kisi-kisi Cina bersiap membawa sampel tanah Bulan ke Bumi menggunakan Chang’e 5 TI—tentu ingin mengejek Uni Soviet yang pada tahun 1976 menggunakan misi Luna 24-nya hanya pulang membawa debu Bulan. Baiknya pula, Cina tak terburu-buru hanya demi menyaingi AS. Cina memiliki visi-misi jangka panjang yang salah satunya tertuang dalam Buku Putih Pertahanan Cina. Alih-alih mengirim antariksawan lalu pulang, Cina lebih memberi perhatian pada program antariksa berbasis infrastruktur.
Sebenarnya Cina dan AS bisa bekerja sama dalam misinya menjelajah luar angkasa. Namun tak semudah itu Ferguso, parlemen AS melarang proyek kerjasama dengan badan antariksa Cina karena dugaan spionase. Di sisi lain pada situasi perang dingin yang disebabkan ekonomi dan politik kedua negara membuat kerja sama ini suram terwujud.
Lalu saya bertanya, transformasi apa yang sebenarnya terjadi di Cina?
Negara yang memiliki penduduk hampir 1,4 miliar tersebut di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping menerapkan reformasi di banyak bidang termasuk di bidang sains, teknologi, ekonomi, politik, dan lainnya. Chang’e 4 menjadi bukti berhasilnya Xi menjadikan Cina sebagai salah satu pusat sains dan referensi inovasi dunia.
Xi dikenal sebagai sosok reformis, dia sadar cara lama yang kaku tak punya masa depan. Baginya, reformasi adalah sebuah keharusan. Xi tak akan melakukan reformasi hanya untuk menyenangkan negara lain. Kalau diperibahasakan: hanya pemakai sepatu yang tahu sepatu yang dipakainya pas atau tidak, jangan dikte Cina. Motto Xi: reformasi atau bubar! Tak boleh ada jeda alih-alih mundur.[4]
Sisi penting reformasi ini: meningkatnya kepercayaan diri masyarakat Cina di hadapan dunia. Sekaligus mengilhami negara Timur dan Selatan untuk berjalan ke arah yang berbeda dengan Barat dan Utara. Membuat poros yang unipolar menjadi multipolar.[5] Meruntuhkan superioritas negara maju serta meningkatkan mentalitas sejarah negara miskin/berkembang. Cina tengah membuktikan kemampuan diri dan kebanggaan terhadap budaya bangsa dengan terus membebaskan kekuatan produktif sosial. Berkomitmen pada jalan kemakmuran bersama.
Reformasi Cina juga memberi berkah dunia. Menurut Biro Statistik Nasional, dalam 40 tahun terakhir Cina berkontribusi terhadap pertumbuhan global rata-rata sebesar 18,4 persen per tahun. Terbesar kedua setelah AS. Pada 2017 lalu, bahkan Cina menyumbang 27,8 persen total pertumbuhan global. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan angka kontribusi AS dan Jepang jika disatukan. [6]
Tujuan reformasi Xi ialah menciptakan sistem sosialisme berkarakteristik Cina. Sesuai dengan amanat Deng Xiaoping yang menerapkan reformasi ekonomi terbuka pada tahun 1978, untuk mengentaskan kelaparan massal yang diekseskan Revolusi Kebudayaan era Mao Zedong. Sosialisme wajah baru yang berintegrasi dengan kapitalisme berkembang membentuk sosialisme pasar. Suatu sistem yang mengkombinasikan sosialisme dengan kebijakan ekonomi pragmatis, seperti ramah dengan investasi asing dan aktif dalam perdagangan global. Sebagai jawaban atas eksprerimentasi sosialis menjawab kapitalis yang ekstra-lentur.
Nama lain dari pembangunan ini dinamakan sosialisme ilmiah guna beradaptasi terhadap kondisi objektif yang ada. Cina dianggap telah membawa keoptimisan bagi politik sosialisme yang diragukan, dianggap usang, dan sempat tenggelam pasca runtuhnya Uni Soviet. Meski sosialisme pro Marxis tersebut mencurigakan dan agenda-agenda perjuangan kelas, politik protelatariat masih perlu dipertanyakan ulang.[7]
Xi menyerukan era ekonomi baru bagi Cina. Bahwa sudah saatnya bangsa Cina mengubah diri menjadi kekuatan.[8] Cina bukan hanya salah satu negara yang menjadi pusat kekuatan di Asia Timur, tapi juga seluruh dunia. Tak hanya menyasar Asia, investasi Cina di sejumlah negara Afrika juga mengalami kenaikan yang pesat.
Salah satu proyek tendensius Cina adalah One Belt One Road (OBOR). Merupakan proyek integrasi ekonomi Eurasia melalui perdagangan, telekomunikasi, dan infrastruktur. Strategi pembangunan ekonomi yang mengajak banyak negara terlibat dalam konektivitas jalur darat dan maritim yang menghubungkan Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Proyek ini banyak menjanjikan keuntungan bagi negara-negara yang terlibat. Proyek ini memakan banyak sekali biaya hingga Cina membuat bank khusus bernama Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Bank ini terdiri dari banyak negara di dunia, termasuk Indonesia untuk mendukung pertumbuhan infrastruktur di wilayah Asia-Pasifik. OBOR menjadi kendaraan Cina mengendalikan dunia dengan cara menciptakan hukum-hukum baru dan membangun institusi/aparatus yang mencerminkan kepentingan Cina.[9]
Cina juga aktif dalam berbagai organisasi internasional. Cina menjadi anggota tetap pemegang hak veto dalam Dewan Keamanan PBB yang berhasil menciptakan dilema keamanan bagi negara-negara tetangga seperti Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. AS dan Cina memberi sanki PPB terhadap perdagangan energi, kelautan, tekstil Korea Utara untuk mengekang senjata nuklir Pyongyang. Kim Jong-un setengah mati melakuan perundingan dengan Xi terkait sanksi tersebut. Pertemuan terakhir mereka dilakukan pada 7-10 Januari lalu di Balai Besar Rakyat, Beijing. Sekaligus membicarakan tentang kebijakan-kebijakan Trump.[10]
Di bidang militer Cina memiliki jumlah militer salah satu terbesar di dunia. Pada tahun 2018 terdiri dari 2.183.000 personel aktif dan 510.000 personel cadangan. Personel-personel itu dibagi ke dalam tiga kekuatan: darat, laut, dan. Di mana kekutan darat terbesar dengan dibantu 7.716 tank dan 8.246 artileri.[11] Cina juga menjadi negara pertama yang berhasil mendirikan pangkalan militer pertamanya di luar negeri, yakni di Djibouti. Rencana pembangunan selanjutnya di Pakistan. Kekuatan militer ini digunakan Cina untuk petahananan dari serangan internasional sewaktu-waktu, juga membereskan negara-negara yang tak patuh. Salah satunya Taiwan.
Sekarang ini Taiwan tengah diambang kehancurannya.[12] Sebab tidak mempunyai kedaulatan di dunia internasional dan kurangnya pengakuan dan hubungan diplomatik. Satu-satunya negara Afrika yang setia berhubungan diplomatik dengan Taiwan hanya Eswatini.[13] Xi tengah mengancam Taiwan dari cara halus hingga kasar jika negara itu tetap bandel menolak kebijakan reunifikasi (Tong Yi). Tsai Ing-wen, presiden Taiwan jelas menolak, sebab 23 juta rakyat Taiwan dibangun atas dasar konstitusi, ideologi, dan kultur yang berbeda dengan Cina.
Tsai menyebut tantangan besar yang negaranya hadapi adalah intervensi Cina pada perkembangan politik dan sosial Taiwan. Cina masih menganggap Taiwan sebagai salah satu provinsi yang membangkang. Cina berusahan mengontrol Taiwan dengan kebijakan halus “Satu Negara Dua Sistem”. Jika tetap tak mau, Xi tidak segan-segan mengirimkan militernya.[14] Xi menegaskan tidak ada kemerdekaan untuk Taiwan. Dengan kekuatan militer yang disebutkan di atas, sangat mudah memporakporandakan Taiwan dari tendangan kaki Xi saja.
Kini Tsai tengah meminta bantuan internasional untuk membela demokrasi dan cara hidup di Taiwan. Tsai menyebut jika dunia internasional tidak membantu, akan ada negara-negara lain yang menjadi korban serupa. “Kita mungkin harus bertanya negara mana berikutnya itu?” kata Tsai.[15]
Apa dampak menyakitkan dari fakta-fakta di atas?
Pertama, Xi membatasi ekspresi kebebasan berbicara termasuk di negaranya sendiri. Cina memberantas musuh-musuh pemerintah dan pengkhianat dalam masyarakat adalah jalan untuk memulihkan hukum dan ketertiban. Juga sebagai cara untuk “merapikan negara”. Xi menolak demokrasi terbuka dan konsep kebebasan berbicara ala Barat. Sikap ini secara otomatis pemberlakuan kontrol penuh terhadap masyarakat Cina—dan dunia. Xi melanjutkan kediktatoran sebelum-sebelumnya. Diperkuat dengan isu Xi yang tak mau jabatannya dibatasi dan amandemen konstitusi terkait aturan itu telah dibuat.[16]
Kedua, bungkamnya pemimpin-pemimpin dunia—khususnya pemimpin negara Islam—dalam menyikapi persoalan HAM yang terjadi. Kasus yang santer sekarang adalah menyoal Xinjiang. PBB mengatakan ada sekitar satu juta Muslim berbagai etnis di Xinjiang—termasuk Uighur[17], Hui, Kazakh, Kirgistan, Uzbekistan, dan lain-lainnya—ditahan di kamp tahanan pemeritah Cina.  Juga nasib-nasib perempuan di kamp-kamp itu. Mereka disiksa, disuntik dengan cairan yang tak dikenal, berdiri lama di dinding, kaki dibebani beban berkilo-kilo, hingga mereka dibuat tidak bisa menstruasi karena obat aneh itu.[18] Meski itu mulai diredakan dengan jalan memperbolehkan PBB mengunjungi Muslim Uighur di Xinjiang.[19]
Cina banyak membungkam pemimpin Muslim yang lalim dan melanggengkan penindasan karena struktur kekuasaan ekonomi-politiknya. Dengan gertak memalukan ala Orba seolah ingin menyampaikan kepada semua negara yang bergantung padanya: berhenti mengkritik Cina akan kekerasan HAM.  Pakistan yang dikenal getol membela negara Islam juga keder di hadapan Cina. Pakistan yang pernah mengkritik habis-habisan pembuatan kartun Nabi Muhammad dan protes terkait fatwa Ayatollah Ruhollah Khomeini dari Iran terhadap buku The Satanic Verse karya Salman Rushdie, menyikapi kasus Muslim di Xinjiang seperti kehilangan pita suaranya. Faktor ekonomi-politik menjadi faktor utamanya. Dua negara ini telah membentuk proyek prestisius Koridor Ekonomi Cina-Pakistan (CPEC) yang menjadi jalan sutra yang menghubungkan Cina ke seluruh pelosok Asia. Cina telah membangun proyek seharga 75 miliar dolar untuk itu. Pakistan takut kehilangan investasi besar dari Cina.
Kazakhstan juga sebelas-dua belas dengan Pakistan menjadi mitra penting dalam perdagangan dan infrastruktur. Padahal ada sekitar 1,5 juta etnis Kazakh tinggal di Xinjiang.[20] Kondisi pembebasan etnis ini sangat tergantung kemurahan ekonomi Cina. Negara Asia Tengah yang kaya minyak itu berada di posisi yang buruk untuk mengajukan tuntutan pada Cina. Dilepaskannya 2000 etnis Kazakh tak lain hanya upaya Cina meredakan ketegangan.[21]  
Tidak habis pikir kemudian adalah Turki yang katanya negeri maju pun bersikap pengecut. Padahal Uighur adalah saudara sepupu jauh etnis Turki. Ankara yang dikenal sebagai pembela utama perjuangan Uighur pun tak berkutik dan tampak menyerah.[22] Sebab Cina membantu Turki mengamankan stabilitas ekonomi negara tersebut, tapi dengan syarat kantor berita Ankara berhenti membuat pernyataan yang tidak bertanggungjawab soal Xinjiang.
Hasnet Lais, pakar Politik Islam dalam tulisan bernasnya di The Independent berjudul China’s brutal crackdown on Uighurs shows no sign of slowing down – so why aren’t Muslim leader stepping in?, menyebut tindakan para pemimpin Muslim sebagai pengkhianatan: “Keheningan memalukan politisi Muslim terkait kejahatan Cina terhadap Uighur lebih dari sekedar kisah pengkhianatan. Ini adalah kisah tragis tentang bagaimana globalisasi lebih diagungkan daripada hak asasi manusia.”[23]
Deretan ini bisa diperpanjang lagi dengan menyebut Malaysia, Bangladesh, juga Indonesia. Butuh kalkulasi serius bagi pemerintah Indonesia saat ingin memberikan respon pada kasus Uighur. Di mana Indonesia masih memiliki ketergantungan investasi dengan Cina. Beberapa di antara yang terlihat ialah proyek-proyek tol, kereta api cepat, pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Apakah Indonesia berani? Saya skeptis, meski bukan tidak mungkin.
 Dan pelan-pelan, raksasa itu memang hendak memakan segalanya.***


[2] SKH KOMPAS edisi Selasa, 8 Januari 2019, hlm. 10.


[4] Lihat lebih lanjut buku A Study of Xi Jinping Thought on Reform and Opening-up.


[6] SKH KOMPAS edisi Minggu, 30 Desember 2018, hlm. 7.


[8] Lihat lebih lanjut buku China Shakes The World: The Rise of a Hungry Nation karya James Kynge.







[15] SKH KOMPAS edisi Minggu, 6 Januarai 2018, hlm. 4.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar