Wednesday, August 26, 2015

Tiwah Massal, Kembali pada Hattala

"Hidup tak selamanya linier. Tubuh tak seharusnya tersier.
......kau terbang, dari ketinggian mencari yang paling sunyi." ERK

Ya, mungkin itu lagu yang saya rasakan dalam jelajah wisata hari pertama di desa Tewang Rangas, Katingan, Kalteng dalam acara tiwah massal. Sebuah upacara pengangkatan tulang-tulang (simbol roh) dari dalam kubur oleh suku Dayak Kaharingan.

Kesana rombongan diantar naik avanza, jadi avanzanya banyak banget. Kelompok kami berdelapan: bapak sopir, Bunda Olie (UI), Dinda (Suaka), Putri (IKJ), Nuri (Boven/Borneo Andventure), Mbak Diah (LPM Akademika Universitas Udayana Bali), Ummi Yana (Samarinda), dan saya (Arena).

Pemberangkatan sekitar jam sembilan pagi, perjalanan ke Tewang Rangas ditempuh dengan menyeberang sungai, di daerah Pendara (seingat saya). Di mobil, saya memperhatikan apa yang bisa saya lihat lewat jendela. Saya menemukan beberapa hal menarik, seperti mode rumah panggung orang-orang Kalimantan yang terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Atap-atap mereka yang di pucuk di pinggirnya itu bentuknya seperti dua pedang bergerigi yang saling disilangkan—saya dengar itu rumah khas dayak. 

Selain mensakralkan hutan sebagai tempat tinggal, sungai memiliki arti yang penting juga bagi masyarakat di sini. Malahan, di pinggiran sungai itu lebih banyak penduduknya, lebih ramai, lebih ada kehidupan daripada di kotanya sendiri. Nah, pas nunggu Avanzanya nyeberang, peserta pada mencar. Sebagian ada yang bergerombol, sebagian juga ada yang berinteraksi dengan masyarakat sekitar, salah satunya saya. Terlibat dialog-dialog yang banyak memberi saya informasi, seperti suku dayak itu ternyata macamnya banyak sekali. Dari dayak ngaju (suku dayak Kalteng) sampai dayak ot, suku dayak kanibal yang memakan daging manusia. Mereka hidup di hulu sungai. 

Seorang ibu bermata belo dengan gestur orang yang hobi bicara, dengan ekspresif bercerita ke saya tentang orang dayak, juga tentang tiwah. Kata ibu itu, tiwah itu memakan korban tapi kita tak bisa menerka korbannya siapa. Ada lagi satu ibu berkerudung, ibu ini seorang guru agama Islam yang ngajar di sekolah di daerah pinggiran sungai yang akan kami seberangi. Di sini meski agamanya bhineka, bahkan dalam satu keluarga bisa tiga agama (Islam, Nasrani, Kaharingan) tetapi toleransi di sini kuat. Hal ini diceritakan pula oleh seorang bapak paruh baya, dia seorang aktivis NU gitu di sini—tapi saya baca dari komunikasinya tak seprogesif mereka yang tinggal di Jawa.

Yang berkesan itu saat saya dan Imam (dari Ekspresi UNY) ikut main-main sama tiga orang adik-adik SD—anak ibu-ibu itu. Mereka sedang main rujak jambu biji. Anak-anak itu memberi saya jambu satu biji, saya coba, rasanya lumayan, haha. Dan bumbunya sangat unik: kecap + royco. Itu bumbu rujak terabsurd yang pernah saya coba. Aduh, menyenangkan sekali bermain dengan mereka.
sedap
Imam kayaknya pengen
Selain itu, saya juga melihat sebuah rumah yang di depannya ada tiga anjing yang tengah bersantai. Saya belum menemukan alasan kenapa di sini banyak sekali orang yang memelihara anjing? Alasannya saya temukan nanti ketika kunjungan ke Tumbang Manggu. Oya, tentang anjing: di Dayak, orang yang menabrak anjing, babi, dll kena denda berpuluh-puluh juta atau tanah berhektar-hektar. Dihitungnya per puting, karena anjing dan babi akhirnya juga akan berketurunan tak berhenti. Sebanyak itu kerugian yang harus dibayar.
kupunya anjing, kuberi nama kucing (pidi)
Setelah nunggu satu per satu mobil diseberangkan, kami pun ikut disebrangkan dengan semacam getek yang lapang. Merasakan sungai dan ikut euforia foto-foto. Lalu tadabur lagi, dari atas sungai saya melihat beberapa meter di daratan saya ada gereja yang berdiri bersampingan dengan masjid dan dengan pura umat Kaharingan. Sebuah potret yang susah saya temui di Jawa. Di sini keaneka ragaman seperti berkah.
Jalan menuju Tewang Rangas tak begitu mulus. Tanahnya warna orange, ya, tanah gambutnya Kalimantan. Debu-debu berterbangan dimana-mana, jarak pandang kadang tertutup. Di kiri-kanan yang saya lihat tanah rerumputan yang tak terurus. Hingga kita memasuki kawasan desanya yang lagi-lagi ada di pinggiran sungai yang luas. Di perjalanan juga saya melihat sebuah ladang yang indah. Begitu tertata dengan cahaya-cahaya yang sepertinya sangat diatur dalam pagar, pohon, dan rerumputan yang hijau. Sejuk saya memandang, rasanya tak ingin pergi kemana-mana.

Sedikit mengulang, tiwah merupakan adat upacara pengangkatan roh bagi masyarakat Dayak Kaharingan yang hidup di Kalimantan. Jadi, tulang leluhur yang sudah terkubur bertahun-tahun diangkat, diupacarakan dan dipindah ke sandong. Acara tiwah memang hajat besar. Banyak tenda-tenda yang dipasang di depan rumah seperti orang mau menikah.

Upacara umat kaharingan ini hanya dilakukan bagi keluarga-keluarga yang secara finansial mampu. Menurut berita, tiwah terakhir dilakukan pada tahun 1954, dan tahun 2015 ini setelah 61 tahun, upacara dilakukan lagi dari tangggal 6-9 Agustus. Tahun ini dilakukan secara massal, sehingga dinamakan tiwah massal.
sama hantu bertopeng dan Bastian
Pengangkatan roh dilakukan dengan menggali tulang-tulang. Proses ini mempunyai filosofi pengangkatan jasad dari alam kubur untuk disampaikan pada sang khalik, pada Hattala (Tuhan). Yang melakukan tiwah adalah pihak keluarga, dari leluhur ke leluhur kaharingan. Tiwah menganut dua sistem, yakni sistem pisau dan pasir. Dalam melakukan upacara ini juga banyak sekali pantangan-pantangannya. Banyak pula istilah-istilah tiwah dalam bahasa dayak yang saya kenal, seperti pisur (tokoh adat, orang yang mengangkat tulang-tulang), pambak, sandong, dan kawan-kawan.
boneka yang menunggu roh-roh
sakarya: lambang kaharingan, tiwah
wadah tulang-tulang
sisa jasad-jasad
pambak
sandong: tempat tulang-tulang
Saya bilang ke Imam, berat sekali ya Mam upacaranya, kata saya. Dia jawab: berat karena kita tidak terbiasa, coba kalau sudah terbiasa? Islam itu bagi mereka juga berat. Mau sholat mesthi wudlu dulu, ini itu dulu. Imam ngomong gitu saya seperti dapat pencerahan.
sapunduk: tempat mengikat hewan
nyepetik, memberi makan roh
persembahan: kepala sapi, kerbau, babi, dll
melewati kinting (tali pembatas pintu dengan daun-daun berisi simbol)
Usai, keliling Tewang Rangas lihat tiwah yang ramai, kita makan di sebuah rumah panggung dengan makanan Kalimantan. Rasa masakannya meninggalkan cap tersendiri di lidah saya. Sorenya kita pulang dengan nyeberang getek lagi. Waktu itu sore, boleh dibilang senja dengan matahari yang keemasan di ufuk barat.

Waktu itu saya memilih keluar dari mobil dan duduk di pinggiran rakit menghadap arah matahari. Saya meresapi senja sore yang rasanya begitu romantis. Warnanya tak menyilaukan mata, sejauh mata memandang hijau pohon, air mengalir, dan awan. Saya ingat Mas Opik dan Mas Taufiq, dua pemuda kehilangan arah. Saya juga ingat dengan orang yang saya cintai. Tiba-tiba saya rindu mereka. Kakak-kakak saya. Kami bertiga beberapa kali melakukan tradisi diskusi dan menikmati senja bersama di kawasan UIN. Ah, andai mereka ada di sini… Sore dan hari yang manis di Kalimantan…

Dan yang terlupakan lagi, di pinggir jalan dalam perjalanan menuju rujab, Bunda Olie beli semangka di pinggir jalan. Penjualnya mirip Budi Anduk. Kami berdelapan turun bersama-sama, semangka dipecah dan dimakan di sana. Harga di sini memang agak mahal sih. Beli sawo juga. Wah.. seger…

IS - Tewang Rangas, Agustus 8, 2015

No comments:

Post a Comment