Friday, August 28, 2015

Sinar Di Atas Daun Flamboyan

Kakiku bergetar ketika hendak masuk ke ruang ini. Sisa-sisa hidupku serasa diatur kembali setelah hampir sebulan lebih tak bertemu. Kamu tahu, rasanya hampir mati berada dalam negeri orang yang jauh. Di tempat yang kanan kirinya rimba. Aku pikir aku akan diculik orang utan atau habis darahku digigit pacet atau dimakan orang-orang ot atau hipotermia di puncak atau kepleset ke jurang.

Rasanya aku hampir tak percaya bisa kembali ke kota ini. Kota yang mengutukku menjadi gadis fiksi yang berbianglala dalam ranjau wahana apa saja. Bosan dengan doktrin sakral, rindu dengan kenakalan profan. Hari ini, hari aku bertemu kamu kembali, aku hanya ingin jujur ke kamu, ini yang aku rasakan:

Dalam kediaman, sebenarnya aku berantakan melihatmu datang, tapi aku lihat kamu biasa-biasa saja. Kamu tak segera menemuiku untuk halal bihalal lebaran atau sekedar basa-basi selamat (untuk apa?). Aku pun melakukan hal sama, pura-pura asyik sendiri. Kamu serasa mengulur diriku panjang dengan duduk di depan dengan apapun aktivitas yang kamu lakukan. Melihat kedatanganmu, melihat kamu saja, sebenarnya aku sudah senang. Aku tak mengharap lebih. Namun hatiku berkata: Tuhan, kenapa dia di sini? Adakah yang lebih membahagiakan selain pertemuan bagi orang yang sekarat rindu?

Aku seperti menunggumu setua umurku hingga salah satu di antara kita bicara. Aku gemetar ketika kamu masuk dan kamu hanya bertanya: Kapan balik Is? Dan aku hanya menjawab: Selasa. Suaramu, ya, itu saja yang kuinginkan.

Oya, aku mau cerita, semalam dalam bunga tidur aku melihatmu menjadi dosen matematikaku. Sepertinya kamu beralih profesi menjadi asdos dan aku mahasiswanya. Aku duduk di paling depan dengan rasa seperti yang kurasakan sekarang ketika kamu ada. Dingin. Kamu sangat serius dengan rumus di depan papan, seperti guru matematika yang aku sayangi saat aku SMA. Aku hanya memandangimu, meski di kelas itu kamu tak sedikit pun menggubrisku. Rasanya begitu nyata.

Sekarang aku juga ingin berkomentar tentang pendapat temanku yang berasumsi jika pria tertarik dengan wanita karena dua hal: visual dan kepribadian. Pertama, pria kata pria dikutuk untuk tertarik pada fisik yang cantik, seksi, dan indah. Aku selalu merasa aku terpuruk dalam hal ini, inferiorku di sini, aku merasa kecil dan tak pantas untuk siapa-siapa.Namun aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih menghargaidan mengolah kepribadian dengan apa pun usahaku.

Aku juga ingin bilang, aku tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang seremeh, sedebu apa pun dia. Karena setiap orang memberi energinya sendiri. Jika aku pernah ditemani, aku pun ingin menemani.

Dan sampai aku mengetik ini, aku masih mencari damai dari bayang-bayangmu yang pergi terlalu cepat. Yang tak pernah kamu memberi kesempatan untuk kuusaikan rinduku. Dan selalu begitu.


Selalu biasa dan terus biasa.

P.s.: Sudah, jangan pedulikan aku. Selalu hiduplah dengan gaya dan caramu, aku pun begitu.

#IS, dua puluh delapan agustus dua ribu lima belas.

1 comment: