Rabu, 22 Oktober 2014

Tentang Sesuatu yang Kau Sebut Luka

: untuk seorang anak yang menangis di depan pintu kelas tujuh tahun yang lalu.
1.
Aku tahu, kau begitu tertarik jika berbicara tentang luka.  
Seolah diksi itu dengan intim sengaja kau pelihara untuk menemani hari-harimu.
Diammu membuat kau tak memiliki teman.
Kau dijauhi. Kau tak diajak bicara.
Kau selalu merasa sendiri.
Di kelas. Di rumah. Dimana pun.
Bahkan di dirimu sendiri.
Aku mengenalmu sudah lama, sudah sejak dari kecil. 
2.
Kini kau sudah besar.
Kau sudah mengenal buku-buku filsafat, sejarah, sastra, dan sains-sains.
Kau juga ada kemajuan dengan mengenal banyak orang-orang
Tapi wajahmu yang diliputi minder akut itu tak berubah.
Wajah yang membuatku sering merasa kasihan. 
Aku tahu kau teman yang paling tidak PD diatara temanku yang lain. 
“Gaya hidup saya adalah konsekuensi dari luka-luka saya,” kutipmu.
Dan kau begitu mengamini perkataan Jose Mujica, presiden rombeng asal Uruguay itu.
Atau  kau selalu menempatkan dirimu dalam suasana Les Miserables bualan Victor Hugo.
Tentang orang-orang yang malang, ceritamu.
3.
Sungguh aku ingin menarikmu.
Ke padang dimana kau merasa dianggap.
Ke suasana dimana kau berhenti mengerdilkan dirimu sendiri.
Namun semakin kutarik engkau.
Aku bagaikan menggenggam air.
Lagi-lagi kau jatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar