Friday, August 29, 2014

Review Film The Way

The Way, Sebuah Perjalanan
Film ini berkisah tentang seorang bapak asal Amerika bernama Thomas Avery (Tom), berumur enam puluh tahunan lebih. Ia berkeja sebagai dokter mata. Suatu hari saat tengah asyik main golf bersama teman-temannya, ia mendapat kabar dari telepon, mengabari jika anaknya yang bernama Daniel meninggal di sebuah ekspedisi di perjalanan menuju Camino de Santiago, terkena badai.

Tom shock mendengar anak semata wayangnya itu meninggal. Ia teringat dahulu saat Daniel menentangnya dan memilih menjadi adventurer sejati yang menikmati hidup dengan jalan-jalan. Bagi Daniel hidup itu memilih bukan menjalani. Sedang hidup ayahnya adalah menjalani (jadwal).

Saat melihat langsung jasad anaknya, di tengah kesedihan, Tom menyuruh seseorang untuk mengkremasi abu Daniel. Lalu abunya ditaruh di sebuah kotak kecil. Saat ia pulang, ia membuka-buka lagi tas perjalanan Daniel. Menemukan peta, paspor, dan buku perjalanan Daniel. Tom lalu memutuskan untuk berkelana seperti anaknya Daniel. Membawa tas Daniel dan kotak abu anaknya itu. Tujuannya adalah Santiago De Conmpostella, Spanyol (sebuah katedral . Tempat para peziarah, khusunya Katolik). Di titik-titik tempat tertentu, Tom selalu menebar abu anaknya.

Perjalanan dimulai... Tas Tom yang berisi abu kremasi Daniel terjatuh ke sungai. Dengan sekuat daya ia menyelamatkan tas itu. Ia bertemu dengan seorang pezirah lain dari Amsterdam, Belanda bernama Joost. Fisik Joost tinggi besar, perut buncit, dan sedikit gemuk. Mereka sempat berpisah, tapi dalam perjalanannya mereka bersatu lagi. Ditambah Tom bertemu dengan seorang wanita dari Kanada bernama Sarah. Wanita yang mungkin patah hati atau gimana ya?

Tom, Joost, dan Sarah berpetualang bersama menuju Santiago. Sikap Tom sangat dingin, cuek, dan acuh pada Joost apalagi Sarah. Di tengah perjalanan, tiga orang ini bertemu dengan peziarah lain dari Irlandia bernama Jack.

Jack adalah seorang penulis. Jack bermimpi menjadi penulis besar seperta W. B. Yeats atau James Joice. Ia melakukan perjalanannya ini untuk membuat sebuah tulisan perjalanan yang nanti akan dibuat buku. Jack mensurvei setiap peziarah dengan pertanyaan: Apa tujuanmu melakukan perjalanan ini? Awalnya ia bertanya pada Tom, Tom menunjukkan rasa tidak sukanya. Yang bersedia menjawab hanya Joost, ia beralasan karena kesehatan. Joost ingin menurunkan berat badannya (sebetulnya, ini karena tuntutan istri Joost yang tidak suka melihat suaminya gemuk dan tidak mau satu ranjang lagi).

Sikap Tom yang cuek mengundang rasa penasaran Jack. Joost lalu bercerita sedikit tentang Tom, tentang anaknya yang meninggal. Jack mengkofirmasi ini pada Tom. Tom terlihat sangat marah dan mendiamkan Joost. Tom juga mencaci Jack sebagai penulis, Tom kehilangan kontrol hingga ia ditangkap polisi dan Jack dengan kartu kreditnya menyelamatkan si gaek Tom.

Sarah sendiri pergi berziarah karena mungkin ia ingin menenangan diri. Sebelumnya, Sarah mengandung seorang anak, tapi anak itu digugurkan karena suaminya yang jahat kepadanya. Ia menceritakan ini pada Tom.

Suatu waktu di sebuah tempat, ada pemuda yang mencuri tas Tom (di daerahnya orang-orang gipsi). Tom mengejar pemuda tadi. Tom bilang: ambil apa saja, asal jangan kotak kecil abu anaknya itu. Naas, pemuda tadi tak ditemukan. Lalu seorang bapak datang membawa pemuda tadi (yang ternyata bapak itu adalah ayah si pemuda). Bapak pemuda minta maaf pada Tom dkk, bapak pemuda mengajak Tom dkk untuk makan bersama (pesta) orang-orang gipsi. Wih, menarik pestanya.

Esoknya, bapak pemuda menyarankan Tom untuk pergi ke sebuah tempat bernama Muxia. Sebuah laut, disana ada kuil (lupa nama kuilnya). Bapak pemuda menyuruh Tom utnuk menabur abu Daniel di laut tersebut.

Sampailah empat sahabat ini di pusat Santiago de Compostella. Mereka berdoa. Lalu melanjutkan perjalanan ke Muxia. Tom menabur abu Daniel di laut tersebut. Selesai.

Film ini menarik secara visual. Film khas perjalanan banget. Anda akan terpukau melihat pemandangan, bangunan, budaya, dan tradisi di tempat-tempat yang dihadirkan dalam cerita. Meski plotnya minim ketegangan dan kesannya datar.

Untuk nilai yang dikandungnya sendiri. Tentang cinta seorang ayah pada anaknya. Sebuah arti persahabatan, makna relejiusitas, dll.

Cocok bagi Anda yang suka jalan-jalan, peziarah, para relijius, pendeta, penulis, dan Anda yang suka berpetualangan.

Jogja Lagi Reading Naskah, 29 Agustus 2014

Is

No comments:

Post a Comment