Thursday, August 14, 2014

Lelucon Pembukaan Puisi Aziz Manna dan Jokpin

Sore ini (13/8) jadwal Arena sama Sanggar bentrok. Yang satu rapat redaksi, yang satu bersih-bersih trus malamnya mbahas naskah. Setelah melakukan pertimbangan matang, aku putuskan ke Arena dulu. Malamnya, seribu sayang buat Sanggar, aku nggak bisa ikut karena ada pamflet bertulis Diskusi Sastra PKKH UGM #EdisiKhusus dengan tiga penyair dan pembaca puisi: Joko Pinurbo (Jokpin), Ahmad Yulden Erwin, dan F. Aziz Manna dengan pembahasnya Retno Darsi Iswandari.

Sore itu Arena juga kedatangan tamu alumni yang sekarang kerja di Tribun Batam. Aku udah janjian sama teman sealiran Ria buat datang bareng ke acara diskusi itu. Kita pedahan berdua bareng pit kita masing-masing kesana. Setelah kita menemukan gedung PKKH yang mirip gedung teater, kita ngisi daftar hadir, juga beli buku kumpulan puisi tiga penyair itu seharga lima ribu.

Kita duduk di urutan kedua dari depan. Sekitar jam delapan malam acara dimulai, telat setengah jam. Sebelumnya mau say congrats buat pak Jokpin karena cerpennya yang berjudul  Jalan Asu dimuat di koran Kompas Minggu (10/8). Aku suka kalimat pembukanya: Hari ini adalah hari rindu. Hari untuk pulang. Hari untuk bertemu. Setelah mandi dan menunaikan ibadah puisi………(dst)

Oke, tak mau berpanjang lebar. Yang menarik buat aku saja yang aku tulis.
Kiri: Aziz, Yulden, Jokpin saat Membacakan Puisi
Iya, tentang analisis Ria untuk tiga penyair malam ini.

Ria, anak filsafat ini emang gila. Coba perhatikan kalimat pembuka puisi-puisi Aziz Manna berikut:
//selamat tinggal langit,
//hujan apakah ini, ibu,
//lambung kapal ini telah pecah,
//laut memudar, delta pecah,

Ini aku ambil dari judul-judul pembuka puisi Aziz yang berbeda-beda. Tiap pembukanya itu seolah konsisten dengan hidupnya yang mungkin miris. Tiap pembukanya menggambarkan sebuah kondisi yang mengerikan:

//menyusun kembali tubuhmu,
//candi-candi beruntuhan,
//mayat yang dibasahi lumpur,
//minyak menelan rumah kami,
//kesendirian yang aneh,
//kau akan mati,

Pengantar dikit, F. Aziz Manna lahir di Sidoarjo, 8 Desember 1978. You know that, about Sidoarjo, Lapindo and etc. Ria penasaran sama si Aziz Manna, psikologinya kayak apa sih nih orang? Dari wajahnya aja udah serius banget, seperti menyimpan beban yang tak terselesaikan. Dan pas pak Jokpin dan pak Yulden baca puisi, Ria merhatiin dia (Aziz) memegang kepala dengan tangan sambil mikir. Mungkin hobi dia mikir. Wajahnya serius.

Coba bandingkan pembuka judul-judul puisi Aziz dengan pembuka puisi-puisi Jokpin (seri surat) berikut:
//Aku mengarang surat ini di hadapan cermin
//Maaf, baru sekarang aku membalas surat
//Lima menit menjelang minum kopi
//Kau tak ada di kakiku
//Tenanglah. Aku tak pernah mengharap

Dibayanganku ini seperti penggambaran adem ayem, santai, nggak ada beban seserius puisi pembuka Aziz. Ria berkomentar, andai Aziz dan Jokpin ini umurnya sama, si Aziz pasti udah mati duluan gara-gara beban psikologis daripada Jokpin, haha #LOL. (Aziz kelahiran ’78; Jokpin ’62; Yulden ’72. Aziz termuda.) Apa benar yang dikatakan mbak Retno bahwa dalam puisi Aziz kita “Melihat arsitektur luka yang begitu menyakitkan.” Tentang luka yang ditelanjangi dengan detail. Juga tema lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai? Entah.

Puisi Aziz lebih realis daripada puisi Jokpin yang penuh imajinasi. Perbedaannya lagi, puisi Aziz sekilas aku melihat dari morfologinya yang memanjang mirip paragraf cerpen. Setuju dengan si pembahas Retno: melelahkan. Tapi dari segi substansi dan kebaruan, dia puisi banget dan mendobrak tatanan nyaman puisi-puisi mainstream.

Jokpin kenapa imajinatif? Coba perhatikan larik-larik puisinya berikut:
“Sebagian rambutku sudah jadi rambut salju.
Jangan sedih. Aku belum lupa cara berbahagia.
Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala.”

Atau yang ini:

“Akhirnya batumu hamil. Dari Rahim batumu
lahir air mancur kecil yang menggemaskan.
Air mancur itu sekarang sudah besar,
sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan”

Mungkin juga karena cerita dari Jokpin langsung yang bilang dia tidak rutin mebuat karya itu satu hari satu karya. Dia perlu waktu panjang untuk mikir. Sekali nulis, itu langsung banyak, kau bisa menyebutnya jurus “mak droll”.
 
Terlepas dari dua penyair di atas, pak Yulden ada di tengah-tengah Aziz dan Jokpin. Bentuknya pun juga, ada di tengah-tengah. Dia sebagai katalisator. Substansinya pun antara realis dan imajinatif. Fiktif dan faktual. Coba perhatikan puisi Pak Yulden berikut:

//Sedikit aneh, sedikit terlambat, buah-buah mangga matang Terlalu cepat,
jejak kemarau menapak langkan rumah tua. Pagi-pagi seorang tukang pos
mengantar sepucuk surat, Seolah semacam isyarat: satu keluarga
mesti pergi, sebelum…..

Puisi ini lebih realis, tidak imajinatif seperti Jokpin yang mengubah rambut hitam menjadi rambut salju. Puisi Yulden di atas judulnya Hantu-hantu Halaman Rumah, tentang penolakan lupa terhadap mayat-mayat PKI. Lalu bandingakan dengan puisi pak Yulden yang lain (yang imajinatif):

//Di Portland yang dingin, sepasang gagak
                menolak menjadi angin. Matamu tersedak
mencari langit yang lin. Fajar musim semi

Terlepas dari perbedaan itu semua. Ya, kembali ke selera masing-masing. Ria bilang lebih suka puisi Jokpin dengan keindahan diksi-diksinya, daripada Aziz yang nelangsa. Yang menjadi catatan adalah apa yang dikatakan pak Yulden. Bahwa sastra akan menyentuh hati Anda. Merampas jantung Anda. Sastra menganggu ingatan agar kita tidak lupa. Sastrawan membuat jarak menjadi dekat. Teknik bisa bermacam-macam, tapi substansi itu yang perlu diraih. Sastra merebut hati Anda hingga Anda bergetar.

Jogja Belum Mandi, 14 Agustus 2014
Is

4 comments:

  1. Terima kasih Ria atas apresiasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas... Entar tak sampaikan :) Anda keren...

      Delete
  2. Tapi kadang apa yang dikatakan seseorang tak pernah sampai dengan kelakuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang menjadi jurang, seolah antara "apa yang terkata" dengan "realita" menjadi dunia tersendiri. Saya hanya teringat bahwa: people respect about our show, not our say. (Means action speaks louder).

      Delete