Sunday, August 24, 2014

Little Story For Sisir Tanah, First I Meet

Kumencari kau di pusat raga. Kumencari kau di pusat rasa.

Pas kecil saya pernah (istilahnya) ngefans dengan sebuah band. Cukup lama jadi penikmat band tersebut dari kelas VI SD (2003) sampai II SMA (2009). Saya juga cukup fanatik seperti anak-anak ababil lainnya yang bermimpi ingin ketemu, foto, dan melihat konsernya langsung. Band ini beraliran romantis-melankolis. Satu-satunya artis paling lama yang saya suka, ya band itu.

Seiring waktu dan kedewasaan, saya mulai beralih memfanatiki buku daripada sekedar manusia. Perlahan saya mulai  mengikis kadar emosi saya pada band yang saya kagumi itu. Akhir SMA (2011), kecintaan saya berubah. Saya ingin bertemu dengan seorang penulis saja.

Lalu, dalam masa transisi saya selama dua tahun antara nganggur, buku, nulis, dan kerja. Rasa kefanatikkan akan band bahkan penulis itu pudar. Saat jadi mahasiswa (2013) sudah lengser idola-idola yang bersemayam di otak (dalam arti fanatik). Saya lebih obyektif dalam menilai mereka. Suka sih suka, saat ini pun saya masih kagum dengan band masa kecil saya itu dan penulis idola saya itu, tapi dalam porsi  yang wajar dan tidak berlebihan.

Suatu hari di tahun 2014, ada orang yang mengajari saya metik-metik gitar. Dia mengajari saya tiga lagu ber-chord mudah milik Pink Floyd dan Radiohead. Lalu orang itu memberi saya beberapa lagu berlirik mudah juga (katanya dia), bandnya saya tidak kenal. Namanya Sisir Tanah.

Nah, di kos… Iseng-iseng ndengerin kan. Pertama dengar vokal penyanyinya, imajinasi saya membayangkan kayaknya penyanyinya ini sudah matang usianya seperti Iwan Fals atau Ebiet. Kedua, musiknya sederhana banget, dari lagu satu ke lagu lainya hanya iringan gitar saja yang saya dengar. Ketiga, liriknya kalau menurut bahasa di sanggar yang saya ikuti ‘wohhh’. Saya mendengarkan kira-kira lebih dari dua kali.

Suatu hari, orang yang ngajari saya sedikit main gitar bernyanyi , dan saya kok ngrasa ini nada sama liriknya pernah dengar. Soalnya jleb  banget dengan suasana hati waktu itu. Orang itu nyanyi gini:

                “…Seumpama suka, kau ambillah jantungku saja….”

Entah kenapa di lirik itu rasanya saya seolah mengikhlaskan semua beban yang memberatkan hati saya. Di kos langsung saya buka lagu-lagu Sisir Tanah. Baru sadar isinya ternyata ‘kritik sosial’ semua. Dan satirnya kalau dalam bahasa rock ‘cadas’ banget. Keren.

Sejak saat itu lagu Sisir Tanah yang judulnya Lagu Baik, saya dengarkan berulang-ulang sampai liriknya hafal. Suatu malam juga iseng-iseng googling tentang Sisir Tanah, hm, sedikit kecewa karena di google juga minim banget info tentang Sisir Tanah. 

Ternyata Sisir Tanah berasal dari Jogja. Ada beberapa tulisan keren sih, kayak ulasan Aris Setyawan di jakartabeat.net juga blog si vokalinya langsung (sayangnya juga minim tulisan). Pas searching gambar juga, ternyata prejengan-nya tak se’matang’ vokalnya (lebih muda). Teduh. 

Pencarian malam itu membawa saya akan musik alternatif mereka. Sungguh, saya mencintai kesederhanaan yang berisi tetapi tanpa keberisikan. Seolah mengantar saya pada keabadian. Saya suka konsep luka mereka. Adalah luka… Adalah luka… Adalah luka… (Lagu Wajib). Bahwa hidup tak semulus kuliah moral para motivator, yang menurut bahasa Marx “Candu Masyarakat” tempat dimana mereka meng-aleniasi diri. Saya belum menemukan analogi yang tepat untuk ini.

Sejak saat itu saya semacam menemukan role model baru: Sisir Tanah. Dalam artian, saya tidak memfanatiki orang-orang dalam Sisir Tanah, tetapi saya suka pada karya-karya mereka (kefanatikan pada ‘seorang  manusia’ luntur sejak saya banyak ikut acara-acara yang dihadiri orang-orang hebat di Jogja. Teman saya bilang: kita sama-sama makan nasi. Kesimpulan saya: you can do more than him/her). 

Lirik Sisir Tanah mulai saya hafal dan saya tulis ulang di blog. Terbesit juga dalam hati, suatu saat saya ingin nonton Sisir Tanah langsung.

Kamis kemarin (20/8) kebetulan lagi nongkrong di sekret LPM Arena, ada yang memberi undangan. Acara pameran tentang Forest Project gitu. Pas undangannya sampai di tangan, saya senang banget (bisa dibilang sedikit ‘histeris’) ada Sisir Tanah sebagai salah satu yang mengisi acara.

Saya lalu cari teman buat nonton bareng. Awalnya mau ngajak Ria (naik sepeda), tapi kata teman dekatnya Cakson, Ria balik lagi ke kampung halaman. Yaudah, saya ngajak teman sealiran Ria, Cakson. Dia menyetujui, kita janjian naik pit. Eh, iseng nyebar info, Mas Jamal juga mau ikut, orientasinya sekarang naik motor.

Pas hari H (23/8), setelah olah tubuh sanggar. Jam tujuh malam saya sudah stay di Arena. Yang ikut ternyata empat orang: Saya, Cakson, Mas Jamal, dan Mas Sabiq. Kami naik motor, saya sama Cakson, Mas Jamal sama Mas Sabiq. Acara dimulai jam delapan, kita berangkat pukul setengah delapan. Di jalan macet euy, maklum, lagi banyak event (FKY, Pasar Kangen, Festival Dodolan, dll).  Dan sampailah kita di Jogja Nasional Museum tempat acara (letaknya dekat SMA Negeri 1 Yogyakarta).

Pas sampai panggung, ternyata eh ternyata Sisir Tanah lagi main. Yaph, disana vokalis Bagus Dwi Danto yang mengenakan kemeja dan topi memetik gitar bolongnya seorang diri, menyanyi dengan suara khasnya. Kita berempat langsung duduk di bangku agak depan. Sepertinya kita datang agak telat karena acara sudah dimulai. Saat itu Mas Danto nyanyi lagu judulnya Bebal

                “...jika hutan adalah ibu. Kita manusia memperkosa ibunya.
                Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik…”

Bergetar banget pas dengar itu. Apalagi pas suaranya ditinggikan, nusuk banget. Diksi memperkosa ibu ngeri sekali, refleksi akan kerusakan alam Indonesia khususnya hutan. Apalagi tadi siang saya melihat pohon depan Rumah Sakit Bethesda yang pinggir jalan ditebangi. Ah, payah. Benar kata Mas Danto, ada dan tak ada manusia itu harusnya pohon-pohon tetap tumbuh. 

Acara pembukaan pameran lalu dibuka. Ada tujuh seniman yang berpartisipasi dalam acara ini.  Wujud karyanya ada lukisan, instalasi, video grafis, foto-foto, dll. Senimannya pun banyak yang datang langsung.

Yang menarik, pas saya masuk di ruang instalasi karya Hiroshi Mehata, orangnya masih muda, salah satu seniman yang berasal dari Jepang. Nah, kan lagi lihat gambar Hiroshi semacam lukisan naga-naga gitu kan. Seperti kolase  gambar sih menurut saya. Entah kenapa, setiap ada event itu di otak saya selalu kepikiran buat meliput acara. Dan… Mas Bagus Dwi Danto juga sedang melihat-lihat lukisan itu ada disana. Kebetulan di tangan saya sudah pegang note. Saya dengan PD-nya mendekati dia, salaman, kenalan. Kira-kira gini:

“Mas Danto ya?”
“Iya…”
“Boleh wawancara? Saya Isma dari UIN, dari pers mahasiswa UIN, LPM Arena.”
“Oh UIN… Arena.” Katanya seperti mengingat, aku sempat mendengar dia berkata Arena terkenal.

Dengan diringi canda-canda gitu, Mas Dantonya mau diwawancarai. Setelah bertanya beberapa pertanyaan, datanglah Mas Sabiq. Dia dan Mas Danto seperti sahabat lama yang seabad tak ketemu, haha, langsung salaman, ngomong-ngomong, canda-candaan, ketawa-ketawa. Ternyata mereka sudah kenal lama saat di Bandung, Mas Danto cerita pernah makan gorengan bareng.

“Oh, kamu temannya mbak ini… Ini ada selebaran tinggal dibaca… Aku bukan aktor utama, tapi aktor figuran…” Katanya dengan nada bercanda dan tertawa bareng gitu. Mas Sabiq bilang, “Satu komplotan, LPM Arena.” Makin keras tawa kita waktu saya nanya tentang isu kehutanan di Indonesia saat ini? Haha. Mas Danto bilang, “Bobrok, sudah jadi rahasia umum. Indonesia kaya dengan hutan. Banyak hutan dalam tanda kutip ‘lepas’,” katanya.

Terus, saya juga bilang: lagu-lagunya keren, saya suka. Mas Dantonya ketawa lagi, tersipu mungkin. Saya lalu minta tanda tangannya diakan. Dia awalnya nolak, terus mau juga. Terus saya minta foto bareng, Mas Dantonya bilang apa coba? “Wawancaranya modus ini, hahaha…” celotehnya ketawa, dalam hati ngakak banget, rasanya kayak mimpi.

Memakai kamera HP Mas Jamal (sekaligus Mas Jamal fotografernya), Mas Danto mau diajak foto, senangnya lagi Mas Sabiq juga ikut foto, duuhhh… lengkap!

Bertiga: Dibilang “modus” sama Mas Danto, haha.


Tanda Tangan: Bagus Dwi Danto/Sisir Tanah

Habis foto bareng, saya mewawancarai ketua acara, mbak Ope’e Wardany yang juga seorang penulis. Trus lihat-lihat pamerannya lagi. Keren pokoknya. Recommended buat datang kesini, penutupan sampai 29 Agustus 2014 di Jogja Nasional Museum.

Senang, Mas Danto nyanyi lagi. Dia menyanyikan lagu favorit saya Lagu Baik (tiap dengar lagu ini tuh jadi semangat lagi), lalu nyanyi lagu Konservasi Konflik, nendang banget ini lagu, haha. Dan ditutup dengan Lagu Wajib. Dalam hati saya juga ingin bilang sesuatu untuk seseorang: Yang wajib dari aku adalah kamu. Hahaha *apaan sih Is?*

Pas mau pulang, Mas Sabiq pamit sama Mas Danto, kita ngikut. Berlima sama Mas Danto ngobrol-ngobrol lagi di pinggir panggung. Mas Danto cerita tentang event-event Sisir Tanah ke depan. Ngasi contack person juga ke Mas Sabiq. Katanya mau main ke UIN *asyik!!*

Nanya juga ke saya darimana dapat lagu Sisir Tanah? Saya nunjuk Mas Sabiq. Soalnya di internet sedikit, kalau dari soundcloud (kasian) nggak begitu jelas. Di stafa lagu Sisir Tanah bisa juga di-download meski tak semua. Terus ngomong tentang album juga. Mas Danto cerita, ada yang bertanyakan pada Sisir Tanah, “Kapan buat album?” Dijawab tahun 2020, waktu itu dia jawab sebenarnya bercanda tapi ditulis beneran. Namun kali ini di mata dan suaranya saya melihat ada keseriusan mau buat album di tahun 2020.

“Mungkin tahun 2020, tepat sepuluh tahun Sisir Tanah. Kalau tahun ini 2014, usia empat tahun, diibaratkan manusia masih anak-anak…” katanya. Aplause banget, bertolak belakang sekali dengan band-band sekarang yang maunya instan. Sisir Tanah dengan konsep, lirik, spirit, kesederhanaan, dan kritik telah memberikan sesuatu yang luar biasa untuk saya pribadi. Sukses.

Yogyakarta Yang Wajib, 24 Agustus 2014
Is

2 comments:

  1. bagi-bagi contacnya mas danto dong mbak....

    ReplyDelete
  2. bagi-bagi contacnya mas danto dong mbak....

    ReplyDelete