Minggu, 01 Juni 2014

Membaca Pentas “Labirin Retakan Bayang-bayangmu” Teater Eska


Bahkan saat aku tak menyapa-Mu, kita sudah bercakap dalam diam.
 Habis rapat redaksi di Arena, sekitar jam 19.35 WIB, saya keluar menuju gelanggang untuk nonton produksi Teater Eska ke XXXII. Kamis kemarin saya sudah pesan 2 tiket sama Mas Zulfan (anak Sanggar Nuun) tapi tidak ketemu dia lagi. Beruntungnya, dapat tiket gratis dari Mas Robi Arena (terima kasih Mas Sabiq, loh?). 

Seperti hawa-hawa pementasan. Ngisi daftar tamu trus nulis nama disana. Saya masuk sendirian (sebenarnya tadi bareng Jevi, entah dia kemana). Setelah masuk gelanggang, saya memilih duduk di tangga ke dua dari belakang. Disitu saya menikmati peran saya sebagai “penonton”. Saya sengaja tidak membuka-buka bookleaf yang dibagikan panitia. Alasan pertama, kalau saya tahu nama para aktornya dan saya kenal, saya bisa menelanjangi kelemahan mereka satu-per satu sekaligus mengurangi keobjektifan saya. Kedua, saya sengaja tidak ingin membaca sinopsis (yang mungkin dihadirkan dalam bookleaf itu), biar surprise

Setelah menunggu sambil observasi keadaan. Akhirnya, Kang Amin sang MC keluar. Setelah menjelaskan gambaran proses dan ucapan terima kasih, lampu mati. Cerita dimulai…….

Seorang kakek berpakaian putih berjanggut lebat berdiri di tengah panggung. Ia berada dalam kurungan (yang dalam konteks ini mungkin itu labirinnya) dan bermonolog, yang saya tangkap ia sedang gelisah menanyakan Tuhannya. Di luar kurungan, banyak orang ber-riwa-riwi berjalan membawa mawar merah. Pakaiaan mereka beragam, mungkin ini simbol kemajemukan hamba Tuhan yang mereka sama-sama bingung mencari bolak-balik Tuhanku dimana? Tentang Mawar merah, bukankah itu simbol cinta?

Lalu, seorang aktor wanita berkerudung biru (sebut wanita satu) sambil membawa payung ia bertanya tentang Tuhannya. Ada beberapa dialog yang saya ingat kira-kira begini: Sejak dalam kandungan aku mengenal-Mu, sejak kecil orang tuaku mengajariku menyebut-nyebut nama-Mu, belajar kitab-Mu, mengenalkan makhluk suci tanpa nafsu bernama malaikat,  dan menyembah-Mu. Lalu Kau dimana?

Pertanyaan yang sama dilontarkan dengan tiga aktor lain yang habis melakukan simbol solat, wirid, dll (yang juga membawa payung dan tas panjat gunung), lalu mereka melalui perjalanan spiritualnya masing-masing mereka melakukan perjalanan. Kenapa mereka bawa payung? Asumsi saya, payung adalah simbol rumah. Nah, di tengah perjalanan itu panggung diisi dengan banyak adegan. Pemetaan saya seperti ini:

Adegan seorang mencuri komputer, lalu bentrokan terjadi. Berganti dengan aktivitas manusia sehari-hari dengan alatnya masing-masing seperti panci, bak sampah, boneka yang digantung-gantung sambil kutangkap satu nilai: manusia-manusia ini sama-sama bingung. Seorang aktor wanita berpakaiaan merah (sebut wanita dua), ia datang bermonolog dan membersihkan barang-barang yang ditinggalkan manusia-manusia bingung tadi.

Lalu, sebuah suku primitif gitu dihadirkan di atas panggung. Sang pencari Tuhan bermonolog, siapa Tuhan mereka? Ada satu pertanyaan yang membuatku mengganjal: Tuhan, pernahkah Kau cemas?

Lalu adegan perang. Antara dua kerajaan gitu, sebut kerajaan putih dan merah (karena pakaian mereka putih dan merah). Dari kerajaan merah senjatanya bambu runcing dan kerajaan putih pedang yang gedhe banget. Dua kerajaan ini perang, lalu satu persatu aktor pencari Tuhan bermonolog, dan aktor yang menjadi latar bergerak statis. Disini seolah waktu berhenti berputar, lalu manusia dari dunia lain datang dengan kegelisahannya. Saya jadi berfikir tentang mati. Saya membayangkan, latar-latar itu adalah masa lalu saya dan aktor yang bermonolog adalah saya yang sadar bahwa ‘dulu aku begini ya?’.

Lalu hal yang paling menarik dan paling saya suka dari semua setting adalah saat panggung dilempari banyak botol/kaleng dari arah kedua sayap dan atas panggung. Di tengahnya kalau ada orang bilang will you marry me pada kekasihnya? Romantis sekali #LOL. Lalu datang aktor pencari Tuhan dan aktor latar yang berjalan mundur.  Saya duga ini pemutar balikan waktu. Aktor pencari Tuhan bertanya-tanya lagi.

Masuklah dua orang penari gitu. Lalu tiba-tiba dengan lucu dan kontrasnya seorang penyanyi religi (wanita) datang dengan single religinya “Tuhan Yang Maha Keren” konser dengan pemain musik dan penonton-penonton yang membawa bendera. Lalu keluarlah semacam satpol PP mengamankan penonton, terjadilah bentrok. Penyanyinya memaksakan diri menyanyi, lalu semua pergi. Hebat, bisa menghadirkan ironi yang dibungkus keren kayak gini, haha. Menurut saya ini realitas sekaligus kritik terhadap musik di Indonesia dan sikap penonton yang tidak dewasa dalam pertunjukan konser. Nilai poin-nya adalah “religi’nya itu lho.

Diteruskan dengan masuknya para buruh yang menggendong karungan goni berisi beras ntah apa di dalamnya lalu dikumpulkan di sisi kiri panggung, lalu ada orang mati dalam tumpukannya (mungkin ibarat tikus mati di lumbung padi). Datanglah aktor lagi, dia tinggi dan berbicara lagi mengenai kebobrokan sekarang. Aku nggak ingat bagaimana dialog persisnya, aktor itu bilang: …….. adalah gabungan dari kesalahan-kesalahan. Ia juga mengatakan kalimat yang ditulis di tiket, leaflet, pementasan…

 Yang pasti bukan permainan kartu atau dadu.
Melainkan permainan yang ada dalam dirimu sendiri.
berani hidup ialah kesediaan bermain.”

Lalu sang kakek tua dalam kurungan yang muncul di depan datang lagi. Ia bebas lalu kurungan dari atas mengurungnya lagi. Lampu mati. Pentas pertama usai.
Para Aktor dan Tim Kerja
Episode satu ini masih menggantung menurut saya. Yang ingin saya analisa tentang kelemahan, kelebihan, dan pesan kesan yang saya dapatkan dari sudut pandang saya pribadi. Kelebihannya, pementasan ini menurut saya digarap dengan ‘rapi’. Itu  saya lihat dari keluar masuk aktor yang enak dilihat, tidak saling menutupi, titik foskus tidak saling mengaburkan, move-move-nya juga keren. Hebatnya, ini adalah pentas pertama yang saya tonton tanpa blackout. Eska bisa mensiasati itu dengan sangat menarik. Musiknya sendiri, saya suka pas bagian perang. Gila, menghentak banget dan membuat takut. Apalagi pas di awal perang, rasanya kayak kamu sedang tidur trus drum yang besar jatuh tepat di kupingmu. Untuk keaktoran, saya sih yes.

Kelemahannya mungkin, kostum (di aktor tertentu) terlalu dipaksakan. Apalagi dua wanita pencari Tuhan itu. Nyambung nggak sih bawa tas gunung (carrier) yang segedhe itu tapi bajunya kayak mau pergi ke pesta? Sandalnya jinjit? Kerudung hijaber seperti itu? Mengalahkan penyanyi religi yang menurutku nggak begitu glamor? Catatan juga, set panggungnya kok menurut saya kurang ya? Akan lebih menarik kalau di bagian-bagian tertentu setting-nya dibuat jelas, ini sedang dimana sih? Kadang-kadang (di bagian tertentu) saya membaca, tidak jelas latarnya dimana. Apa karena efek dari non blackout? Juga di bagian-bagian tertentu musik belum menimbulkan kesan mistis. Ini saran saja (bisa diterima/ditolak/disanggah)…

Mengenai pesan kesan. Pesan yang  saya dapat setelah pulang, sesuatu apa pun itu akan terjawab “karena aku mencari, karena aku melintasi”. Pun juga, Tuhan itu kalau dalam bahasa jurnalistik bukan 5W+1H, bukan siapa? apa? kapan? dimana? Mengapa? Bagaimana? Dia tidak dapat kita jangkau meski dengan pikiran kita yang memukau sekalipun. Saya jadi teringat pertanyaan teman sekelas saya yang bertanya: “Tuhan itu demokratis atau otoriter?” Lalu guru itu menjawab, “Tuhan  bukan kedua-duanya. Karena bahasa Tuhan tidak sama dengan bahasa kita, manusia”. Kita adalah pecahan-pecahan yang menunggu dan mencari, bergerak kesana-kemari. Manusia akan terus memburu-Nya. Terus memburu-Nya.

Ya, setiap pentas teater memberikan kesan tersendiri, yang menjadi alternatif lain di tengah benturan budaya elektronik. Meski amat disayangkan teater hanya ada di kota-kota besar saja. Tidak saya temui teater di desa saya, pun di kota saya.

Baiklah, kita saksikan episode kedua “Labirin Retakan Bayang-bayangmu” malam ini 1 Juni 2014 bertepatan dengan hari kelahiran pancasila jam 19.30 di gelanggang teater eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar