Ketika akan menulis ini tiba-tiba pikiran saya kosong. Apa
saja yang masih saya ingat selama setahun ini? Tonggak apa saja yang telah
menyulut transformasi hidup saya? Namun saya merasa tahun 2020 begitu padat
makna. Baik secara spiritual, fisik, dan psikologi. Banyak pihak yang tak
pernah saya rencanakan datang ke hidup saya dan mengubah banyak pandangan. Jika
di LPJ 2019 lalu hidup saya terasa sangat api, 2020 ini hidup saya lebih
seperti air.
2019 lalu saya melewati tahun baru di kos Mak’e yang terletak
di Jalan Dewi Sartika Semarang dengan kegiatan begadang menulis. Waktu itu saya sudah
lebih menikmati Semarang, meski kondisi masih sama: jauh dari kesejahteraan,
haha. Dan kalau saya pikir-pikir sebenarnya yang saya cari dalam hidup bukan
uang yang merujuk kesejahteraan (itu kenapa saya sulit banget cari uang untuk
kemudian ditabung dan kaya raya), tapi lebih ke menstabilkan diri saya baik di
luar dan di dalam. Saya banyak perang dengan diri sendiri terkait tindakan dan
pikiran yang saya ambil, terlalu overthinking,
dan terlalu rendah melihat diri sendiri.
 |
Bianglala yang ada di sekitar Puri Maerokoco
|
Tahun 2020 berjalan dengan selow. Di awal-awal bulan masih
menjalani liputan gembira di
Inibaru.id, menjelajahi aneka kuliner, wisata, dan
komunitas di Semarang. Serta perayaan-perayaan umat Tri Dharma yang bagi saya
baru dan meriah di Pecinan. Lebih sering juga pergi ke Perpustakaan Daerah di
dekat Taman Budaya Raden Saleh sebelum pandemi Covid-19 meluas di sekitar bulan
Maret. Setelah itu kehidupan rasanya berubah total hingga akhir tahun.
Pertengahan bulan Juni saya kena dampak Covid-19 karena
dirumahkan entah sampai kapan—bahasa luar negerinya layoff. Sehingga 100% kerja saya jadi WFK, Work From Kost dengan ritme yang bisa dibilang suka-suka asal
beres. Saya mengerjakan terjemahan, content
writer, notulensi, bikin annotated
bibliography, dan spent too much
times to explore the research world in the international university.
 |
Self consent
|
Saya juga pernah sampai di titik kulminasi jadi
journal hoarder dan tukang
download Libgen dan Sci-Hub yang
freak sampai webnya nggak bisa diakses
saking
over-download, wkwk. Sehingga
saya beralih ke
booksc.xyz; dan
dicueki Sci-Hub saat itu lebih berat rasanya dibanding nggak
namaste karena dengerin lagu-lagunya
Akeboshi dan Pink Floyd, sumpah! Rasanya pengen nangis di depan Mbak Alexandra
Elbakyan aja biar koding Sci-Hub di laptop saya dibenerin. Belakangan saya
sadar itu nggak baik, intinya jangan jadi
hoarder.
Jawanya,
nyusoh tok.
Bisa dibilang minat dan cita-cita saya berubah dari reporter
berita ke peneliti dan penulis jurnal. Banyak pertimbangan kenapa sampai ke
titik ini. Beberapa di antaranya efek dari ikut pelatihan Prakerti dulu,
melihat pola kerja saya yang lebih cocok di belakang layar, lebih suka dalami
satu hal daripada tahu banyak hal, dan dunia jurnal ilmiah sepertinya lebih
banyak membutuhkan orang yang serius daripada dunia jurnalistik—wartawan keren
di Indonesia sudah turah-turah, tapi scholar
Indonesia yang keren nggak sounding sama
sekali; masak iya Vedi R. Hadiz lagi, Ariel Heryanto lagi, yang muda-muda dong,
haha. Saya senang dengan kemunculan scholar
muda baru kayak Mas Iqra Anugrah dan Mas Geger Riyanto.
 |
Nasihat Kim Jung-hwan
|
Ya, saya mengamati ada perbedaan yang jauh antara jurnal
Indonesia dan luar negeri, scholar Indonesia
dengan scholar luar negeri, akademisi
Indonesia dengan akademisi luar negeri, dosen Indonesia dengan dosen luar negeri,
peneliti Indonesia dengan peneliti luar negeri. Luar negeri di sini yang saya maksud negara-negara yang risetnya maju seperti di Eropa Barat dan Amerika
Serikat.
Pertama, jurnal
luar negeri dibuat dengan serius dan selalu mengejar kebaruan. Keseriusan paling
mencolok mata terlihat dari jumlah halaman dan pemakaian daftar pustaka.
Kebaruan yang ditawarkan juga dinamis-berkembang, berbeda dengan jurnal
Indonesia yang terkesan reproduksi isu lama, suka mbebek isu sampai teori, dengan referensi bacaan yang masih sedikit
dan analisis yang nggak dalam.
Kedua, penelitian
dan nulis jurnal di luar negeri itu kayak ghiroh,
tapi di Indonesia kayak tuntutan. Itu kenapa perkembangan ilmu pengetahuan
di luar negeri lebih cepat. Jadi Indonesia itu kayak ketinggalan peradaban.
Ketiga, karir
akademisi dimulai sejak mahasiswa S1 tingkat awal, hingga dia linier ke S2 dan
S3 sampai postdoc; kalau di Indonesia, yah, kuliah ya kuliah aja. Misal ntar akhirnya jadi
akademisi atau dosen kayak untung-untungan. Maksud saya, karier sebagai dosen jarang
ada yang dipersiapkan dari awal. Itu dampaknya besar ketika si orang ini jadi
dosen, akan gagap. Dan masih banyak lagi sih, lain kali kalau sempat saya buat
tulisan tersendiri deh. Sekarang fokus ke cerita perjalanan hidup saya dulu setahun ini, hehe.
 |
Gendhis lagi main
|
Nah, di kos, redaktur saya Mbak Zum satu kos dengan saya di
kos Mak’e. Mbak Zum punya satu anak perempuan cantik dan manis bernama Gendhis
Najwa Putri (5 tahun). Saya dan Gendhis sering main, hahaha. Main apa aja, dari
masak-masakan, pasir-pasiran, bola-bola, dan lain-lain. Salah satu hal paling
sedih di Semarang adalah ketika berpisah dengan Gendhis saat saya memutuskan
untuk pindah ke Yogyakarta lagi. Pagi itu, Sabtu, 5 Desember 2020, Gendhis dan
Mbak Zum ngantar saya ke halte bus Trans Semarang Dewi Sartka. Jabatan tangan
Gendhis sangat erat, Ya Allah… Semoga Gendhis punya teman yang banyak dan
selalu ceria.
Spiritual
Pandemi Covid-19 mengajari saya untuk banyak merenung dan
kontemplasi lebih dari biasanya. Ada dua tempat di Semarang yang sering sekali
saya kunjungi untuk menenangkan hati: Gua Maria Dewi Sartika dan Makam
Soegijapranata di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Keduanya tempat berdoa
umat Katolik dan saya selalu merasakan kedamaian tiap kali berkunjung ke sana.
Di Gua Maria, saya sering menikmati Semarang dari ketinggian, di sana
suasananya sangat tenang, teduh, dan beban hidup saya terasa hilang setiap kali
berkunjung.
Di makam Rm. Soegija, beliau sudah saya anggap sebagaimana
kakek saya sendiri. Saya membaca kisah beliau dari buku Ayu Utami berjudul Soegija: 100% Indonesia. Buku ini salah
satu buku profil terbaik yang pernah saya baca. Menceritakan bagaimana
perjalanan Rm. Soegija masuk ke Katolik, ikut sekolah pastur, mendapat
pendidikan Belanda, hingga menjadi uskup peribumi pertama Indonesia. Bagaimana
Rm. Soegija menjadi “penggembala” umat. Beliau “meninggalkan kemewahan duniawi
dan menjadi pelayan Kristus.”
 |
Main ke makam Rm. Soegija
|
Sebagaimana yang dikatakan Ayu Utami, Rm. Soegija memutuskan
mengambil perjalanan menjadi manusia baru (novis). Beliau imam yang ditempa secara
matang dan terpelajar, yang menguasai bahasa Latin, Perancis, Belanda, Italia,
dan Inggris. Dia membawa hawa yang mengubah dunia, dengan mata, senyum, dan
sikap yang tak senaif dulu ketika dia masih kecil. Rm. Soegija setia akan kaul
prasetya Serikat Jesuit: hidup miskin, murni, dan taat dengan nasihat injil.
Imam yang mampu berdiplomasi untuk mempertahankan sesuatu yang baik. Rm.
Soegija mengingatkan saya dengan Romo-Romo lain yang saya kenali dengan baik:
Rm. Driyarkara (alm.), Rm. Mangun (alm.), dan Rm. Benny Juliawan.
 |
Everald Candi Semarang
|
Meski begitu, saya tetaplah Islam. Tradisi dan pelajaran
dari umat Katolik memperkaya cakrawala pengetahuan saya terkait agama di luar
saya dengan lebih komprehensif. Sebagaimana saya juga dekat dengan agama Tri
Dharma ketika saya lihat mereka dari dekat di kelenteng-kelenteng. Bagaimana
mereka beribadah, siapa saja Dewa dan Kong Co mereka, seperti apa ajaran
kebaikan mereka. Lalu saya berkenalan lebih dalam dengan Dewi Kwan Im, Toisme
lebih dekat, Buddhisme lebih dekat, dan kisah dewa-dewa.
 |
Mausoleum Thio Sing Liong yang adem
|
Pikiran saya jadi lebih terbuka dengan agama di luar saya. Tempat spiritual lain
yang saya datangi seperti Makam Sunan Pandanaran, Masjid Baiturrahman, Masjid
Agung Jawa Tengah (MAJT), Gereja Gedhangan, Kelenteng Hoo Hok Bio, Kelenteng
Tek Hay Bio, Kelenteng Grajen, dan lain-lain.
 |
Kelenteng Grajen
|
Selama pandemi pula, saya mendengarkan Ngaji Filsafat dari
Pak Fahrudin Faiz di Youtube lebih banyak dari biasanya. Saya menyukai cara
penyampaian Pak Faiz yang adem, tulus, dan menthes.
Banyak tema-tema dan tokoh-tokoh yang membuat parasut otak saya terbuka
lebih lebar, bersama Pak Faiz saya diajak berkelana pikiran para filsuf dan
tokoh sehingga lebih mendekatkan saya dengan Allah SWT. Yang masih saya ingat tentang
Al Ghazali dengan metode analitikanya yang terdiri dari 6 tingkat dari
tertinggi hingga terendah: ilmu, itiqad,
zann, syak, wahm, dan jahl.
Semakin menjauhi ilmu mending nggak usah direken.
 |
Doa pada Kong Co
|
Asmara
Umur 27 tahun cukup mengganggu saya tiap ada tanda dari
orang-orang dekat yang seolah ingin bilang: saya perempuan dan harus cepat
nikah. Dikira nyari dan milih jodoh semudah nyari dan milih ayam goreng di
warung apa ya. Apalagi pengalaman saya soal percintaan sangat minim. Saya
sebetulnya itu orangnya setia; sulit jatuh cinta; dan sulit membuka
diri-perasaan. Saya ketutup banget bahas ini, tapi kalau udah ketemu, saya
cenderung langsung ngungkapinnya langsung ke orang itu. Dan, well, saya ditolak and it was okay. Nolaknya emang nggak secara langsung, tapi dengan
alasan-alasan yang coba bilang: Is,
sadar, dia nggak suka sama lu! Dari situ saya banyak belajar terkait
kebodohan-kebodohan saya dalam mencintai seseorang, dan saya janji kebodohan
itu nggak akan saya ulangi lagi.
 |
| Bener Bu Lee Il-hwa |
Pandemi ini dalam konteks percintaan membawa saya ke
aplikasi Tinder. Kalau pernah nonton film
DOA:
Cari Jodoh; Tinder diplesetkan jadi Minder dengan motto: cari jodoh jangan
minder. Di sini saya banyak bertemu
stranger
dan banyak obrolan yang bisa saya ambil hikmahnya. Saya lumayan intensif
main Tinder selama kurang lebih dua bulan, sekitar Agustus dan September. Dari
akun nama alias
hingga nama asli.
Yang profil asli perasaan kisahnya lurus-lurus aja, yang alias
dengan nama dan foto yang misterius,
saya banyak
match dengan laki-laki
berbagai model. Dari yang baik-baik, yang kontemplatif, yang rajin olahraga,
yang peneliti, yang buaya, yang bapak-bapak, yang tukang selingkuh, hingga yang
mesum dan predator. Tinder bener-bener dunia yang brutal. Banyak sebenarnya
yang masih berhubungan sampai sekarang entah lewat WA atau Instagram. Saya akan
coba ceritakan yang meninggalkan kesan khusus, mungkin satu saja ya, lainnya
biar kisah mereka saya
save di
memory khusus
.
 |
Well said dari Mbak Velove Vexia
|
Pernah nggak sih kamu ketemu dengan orang untuk pertama
kali, tapi kamu merasa kamu dan dia pernah bertemu sebelumnya? Ya, itu yang
saya rasakan dengan pria ini. Intuisi saya yang entah tajam atau tidak coba
mengatakan bahwa dia orang yang jujur dan baik. Dia menceritakan pada saya
terkait kisah hidupnya, ya sedih sih bisa dibilang. Tapi entah saya menemukan
chesmistry yang membuat saya nyaman dan
cocok sama dia—entah dia. Di
chatting
pertama kali, dia merekomendasikan lagu yang seperti mengangkat kesedihan saya
kala itu. Saya sering dengar lagu itu, dan saya suka dengan lagu itu. Tiap kali
dengar lagu itu anehnya saya ingatnya dia. Tahulah. Lagu itu sempat jadi lagu
yang paling sering saya putar selama empat bulan terakhir ini, sempat jadi
nomor satu juga di Spotify saya.
 |
Lagu-lagu yang enak didengar
|
Terus saya coba jalin komunikasi dengan dia dengan cara yang nggak
lebai-lebai amat lah ya. Saya juga sadar kok ini cuma Tinder dan saya juga
nggak berharap-harap banyak. Suatu hari saya dan dia saling berbicara di
telepon, dan obrolan dengan dia mengajarkan saya banyak hal. Saya jadi paham
diri saya macam apa dalam hidup dan dalam menyukai orang. Kami sama-sama
berkepribadian INTJ (MBTI Personality), tapi sekilas saya perhatikan dia lebih
jaga privasi dia dengan membatasi diri pada sosial media. Saya pikir dia
orangnya tertutup, setelah teleponan nggak juga, haha.
Tapi bener sih kata-kata dia kalau saya
pikir-pikir:
“Kamu udah kebanyakan
rem. Kamu perlu jalan. Kamu terlalu banyak yang dibakukan dan diteorikan … Cara
nglatihnya dilakukan, nggak ditanyakan … Susah hidup text book. Nanti nggak
fleksibel … Enjoy aja … Jalanin, nglakuin … Kalau perlu tabrak. Kamu kurang
nabrak, kurang nge-gas … Kamu kurang keluar dari ceruk yang kamu buat dan kamu
tangisi sendiri …” Jleb.
This was my big note,
abundantly thanks for him. Thank you for his times and caring, may he has his
truly life and love. And I hope success for him.
 |
Kayaknya ini obrolan malam hujan-hujan di Reply 1988
|
Lalu salah seorang sahabat baik saya memberikan
nasihat-nasihatnya pula terkait pengalaman percintaan. Sahabat saya ini beda
jauh dengan saya. Dia sudah lebih 22 kali pacaran, pernah menggunakan Tinder
pula selama sekitar 2 tahun dan dia ceritakan semua kebusukan-kebusukan orang
di Tinder. Sejak saat itu, saya punya prinsip saya sendiri dalam mencintai
seseorang (apalagi memilih pasangan).
Intinya, jangan bodoh dalam mencintai, “cowok suka dengan tantangan. Jangan mudah ngasih cinta ke cowok. Cowok
yang sungguh-sungguh sama kamu akan merjuangin dan jaga kamu, bukan kamu yang
merjuangin dan jaga dia. Ntar berat di belakang.” Sahabat saya menambahkan aturan lagi kalau mau
cari jodoh, “Lihat juga bibit, bebet, bobot
dia.” Jadi ladies, kalau dalam diri cowok tidak ada ciri-ciri atau kapasitas
itu, mending mundur aja, berat di belakangnya entar, berattt—and I do that. Cinta bisa diusahakan,
tapi kecerendungan, komitmen, dan kepribadian susah. Jangan mau dibodohin cinta
doang—palagi sampai bucin, hedeh.
Di sisi lain, saya hanya teringat pesan dari app The Pattern yang dikenalkan oleh salah
seorang teman Tinder pula, kata aplikasi itu:
“If you’re constantly drained and exhaust, it’s a sign, you’re offering your
love to the wrong person or using your gifts in unhealthy ways.” Big-hell-yes.
Saya juga percaya, sebagaimana janji Tuhan, bahwa jodoh, rejeki,
dan mati telah ditentukan; jodoh tak perlu dicari. Nanti dia akan datang
sendiri kalau kamu sudah “siap” (setidaknya untuk ukuranmu). Kalau dicari
takutnya orang itu akan manfaatin kamu. Entah psikologi, emosi, material,
tenaga, fisik, dll. Kalau bahasanya Radiohead: True Love Waits.
Dari pengalaman ini saya sudah mengikhlaskan semua beban
cinta yang memberati batin saya. Dari kisah cinta saya semasa kuliah hingga
saat ini. Dari cinta yang keras kepala, hampir 7 tahun saya masih memelihara
rasa padahal saya tahu dia nggak peduli, ya sudah let it go that feeling. Juga pernah ada perasaan sama
adik tingkat saya di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tapi ini udah clear sih, soalnya dia udah punya pacar
juga. Ngapain coba ganggu? Cari penyakit aja. Mesti tegas lah soal gini-ginian. Hidup ini keras dan bajingan, Bung!
 |
Haha, terampil menderita
|
Benar kata Koh @keisavourie, “Prinsip penting: jangan membuang waktu, tenaga dan perasaan untuk
mendekati orang yang tidak memberikan respon positif.”
Kesehatan
Perubahan lain yang saya sadari pada 2020, saya lebih banyak
olahraga jalan pagi tipis-tipis keliling kompleks perumahan Dewi Sartika,
sepedahan sekitaran Sampangan dan Sam Poo Kong, dan sepanjang tahun ini saya
bersyukur tidak ada masalah fisik serius yang menimpa saya. Paling ya kadang
lapar karena nggak ada uang untuk beli makan, itu aja, haha. 2020 ini saya
bersyukur juga bisa lebih banyak puasa daripada tahun kemarin, semoga berlanjut
di tahun 2021. Puasa bisa ngendaliin diri saya agar nggak terlalu overthinking dan ngontrol ego agar
jinak.
 |
Pohon paan sih itu?
|
Dari olahraga, terutama jalan-jalan pagi itu memberikan
energi besar buat psikologi saya. Satu jam jalan kaki bisa menjaga mood saya tetap baik sepanjang hari.
Dari jalan-jalan itu saya lebih banyak nglepas
dan detox hal-hal yang menurut saya penting ternyata nggak penting-penting
amat. Saya seperti ada jeda antara diri saya dan masalah saya. Bisa melihat lingkungan
sekitar dengan lebih menghayati, melihat bagaimana roda relasi berputar, hingga
jadi pengamat arsitektur dari jalan. Ya, saya punya ketertarikan lebih juga
sama dunia arsitektur. Saya suka ngamati fasad rumah seseorang, modelnya,
bentuknya, penataan ruang, warna, juga tanaman-tanaman mereka. Saya juga sudah
punya rencana model rumah seperti apa yang saya inginkan. Tinggal memprogram
diri jadi kaya, haha. Ini susaaahh.
 |
Dengerin nih ayahnya Taek
|
Tahun 2020 ini saya sedikit-sedikit juga mengalami kemajuan
dalam merawat diri sendiri—nggak freak-freak
amat merawat tulisan dan bacaan. Setidaknya saya tahu handbody, parfum, bedak,
sabun cuci muka yang cocok untuk saya. Meski dengan eksperimen-eksperimen ini
jerawat saya ternak banyak. Terima kasih juga untuk sahabat-sahabat perempuan yang
peduli pada saya. Berkomunikasi dengan mereka secara tak langsung menjaga saya
pula untuk tetap waras. Ada beberapa nama yang akan saya kenang.
Karier
Saya mengakui sepanjang 2020 ini ada beberapa pihak yang
telah saya kecewakan. Saya minta maaf dari lubuk hati terdalam. Terlebih pada
project membuat buku terkait Petrokimia Gresik bersama Pak Nasir Tamara yang
berhenti di tengah jalan. Jujur saat itu mental dan kejiwaan saya tak siap;
bulan yang memukul karier saya, dan saya masih merasa tak pede dengan kemampuan
saya sendiri. Kedua, pada institusi les di Semarang yang tiba-tiba saya keluar
padahal sudah diterima jadi guru les Fisika. Lagi-lagi saya terlalu inferior
akan skill sendiri yang bahkan belum
saya coba. Saya terima penghakimannya sebagai hukuman untuk saya pribadi. Beberapa
seleksi kerja saya juga gagal, termasuk di media Kontan, Harian Jogja, salah
satu start up teknologi, Wikimedia, dan lain-lain.
 |
Sebelum pengemuman gagal menyerang
|
Namun saya bersyukur dan senang dengan beberapa capaian yang
saya lakukan di tahun 2020. Di antaranya:
1. Membuat buku kumpulan liputan selama di Inibaru berjudul
“Semarang dan Sahabat Baik”.
2. Menyelesaikan novel Kaki
Lima yang sudah bertahun-tahun tak saya pegang.
3. Membuat 48 review jurnal akademik yang saya share di Instagram @ideopraksis dalam rentang 18
September-28 November 2020. Saya ingin melanjutkan pembumian jurnal ini lagi
agar tak stuck di menara gading.
4. Bisa ikut berproses bersama kawan-kawan di web Islam Bergerak (bersama Mbak Riski
Amalia Afiat, Mbak Rasela Malinda, Bung Azka Fahriza, Bung Ahmad Thariq, Bung Sutami,
Bung Muhtar Habibi, Bung Azhar Irfansyah, Bung Khalid Syaifullah, Gus Roy, dll).
Kawan-kawan yang selalu membuat saya terus ingin belajar dan melecut semangat
keilmuan saya dengan metode dan kritikan yang ketat—sometime pedes, haha.
5. Menulis satu artikel tentang pandemi berjudul “Melawan Teater Pandemi Post-covid” bersama
Satupena yang diterbitkan Balai Pustaka. Buku ini dapat penghargaan MURI yang
ditujukan pada Satupena sebagai “Penyusun Kitab Pertama tentang Pandemi
Covid-19 yang ditulis oleh 110 Ahli Lintas Disiplin” pada 17 Desember 2020.
6. Diterima jadi peserta Sekolah Penelitian Sosial yang
diadakan oleh Rumah Baca Komunitas. Di sini saya banyak mengenal guru-guru lagi,
terlebih dari UMY, UIN, UGM, dll: Cak David Efendi, Mas Fauzan, Mas Ahmad, Mas
Herdin, Mbak Mia, Mbak Sanny, dkk para peneliti-peniliti sosial muda. Untuk
alasan ini saya ke Yogyakarta kembali. Sebagaimana tekat saya dari awal, saya
ingin menyeriusi dunia penelitian. Karier saya ke depan ingin saya fokuskan ke
dunia penelitian.
 |
Wankawan Sekolah Penelitian Sosial #3 RBK
|
7. Rezeki yang tak pernah saya duga-duga bisa menjadi
bagian dari penelitian etnografi digital
bersama pakarnya langsung: Prof. Ward Barenschot (University of Amsterdam,
KITLV), Doktor Yatun Sastramidjaja (University of Amsterdam, ISEAS), Mas Wijayanto
(LP3ES), Prof. Peter Burger (Leiden University). Makasih banyak pada Mbak
Fatimah Azzahra (Asean Youth Forum) dan Mas Rizal (LP3ES) yang telah memberi
saya jalan untuk belajar. Saya ingin belajar banyak
dari penelitian yang sangat baru ini.
Untuk ukuran karier, secara materi saya memang masih jauh jika
dikatakan telah sejahtera. Doa saya di tahun 2021 adalah semoga saya lebih
syukur, sabar, dan lapang dada. Semoga Tuhan memberi saya kestabilan finansial,
serta saya ingin lebih banyak ngobrol dan membuka diri saya dengan orang lain
tanpa perasaan takut, tertekan, dihakimi, dan merasa inferior. Mungkin sudah
cukup saya mengisolasi diri dari sejak kecil hingga sekarang. Saya juga lebih
ingin menikmati perjalanan hidup apapun kondisinya dan mencintai seseorang
dengan lebih dewasa. Semoga ini cukup realistis untuk saya wujudkan. Aamiin.
 |
Apa yaa?
|
Penutup
Renungan mendalam yang mungkin saya dapat selama tahun 2020
adalah saya menemukan inti ajaran Stoa (Stoikisme). Filsafat sebagai laku hidup
dan menerima segala hal dengan apa adanya. Memberi batas yang jelas antara apa yang tergantung pada kita dan apa yang tidak tergantung pada kita.
“Di mata kaum Stoik, kira-kira apa yang menjadi penyakit
jiwa kita? Penyakit utama jiwa adalah emosi negatif (nafsu-nafsu atau hasrat
berlebihan menginginkan atau menghindari sesuatu); dan emosi adalah cara menilai yang tidak tepat (faulty
judgement). Menurut diagnosis kaum Stoik, emosi-emosi tak teratur menjadi
petunjuk adanya “mental disturbance,
gangguan mental” yang lebih dalam: yaitu cara berpikir dan cara menilai
yang salah.
Filsafat sebagai terapi-jiwa ditujukan terutama untuk
menyembuhkan jiwa kita sendiri. Itu makanya, filsafat sebagai praktik bahannya
adalah diri kita sendiri.” (A. Setyo Wibowo dalam buku Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme, 2019, hlm. 36-37).
Suatu ajaran yang tanpa saya sadari telah diterapkan oleh
orang-orang yang menginspirasi saya ketika kuliah. Yang kuncinya secara nggak
sadar diberikan kepada saya oleh bantuan orang lain pula beberapa waktu yang
lalu. Terima kasih.
Godean, 31 Desember 2020-1 Januari 2021