Sunday, February 28, 2016

Solo Repertoire


Pasir, aku lelah mengukir, ku terusir tersingkir 
Pasir, tak terukur, kau gugur teratur 
Aku terkubur, tersungkur 

Entah kenapa, rintik hujan di luar seperti rakitan memori otak saya. Seperti pasir di lirik lagu Tigapagi ini. Delapan belas hari yang lalu saya ingin menulis perjalanan saya.  Ini tentang kisah perjalanan bersepeda saya, Jogja - Solo. Sebelum ingatan layu…
Senin, 8 Februari 2016
Saya tiba di Kartasura kira-kia jam 11 malam. Saya berhenti di depan sebuah puskesmas di Pabelan. Saya istriahat di sana.

Selasa, 9 Februari 2016
Dini hari jam dua-an malam, ada seorang bapak yang menemui saya. Dia mengajak saya ngobrol sampai subuh. Bapak ini penuh teka-teki, dia tak mau menyebutkan nama, dia hanya bilang nama dia dengan enigma: hewan, burung, warnanya hitam, dan ada dalam Al Quran. Perkataannya seperti paranormal.

Bapak itu bertanya tentang hal-hal yang bagi saya privasi, dari keluarga, kuliah, masalah, dan lainnya. Saya tak nyaman. Dia seperti investigator yang seumur-umur baru pertama kali ini dia ketemu anak bengal perempuan yang sepedahan sendirian malam-malam dan tidur di emperen puskesmas. Pakai kerudung lagi. Ah, brengsek.

Inti pelajaran yang saya dapatkan dari bapak itu ada tiga: 1) Apa yang menurut kita baik dan benar, belum tentu baik dan benar juga untuk orang lain. 2) Keinginan tanpa perhitungan adalah nafsu--atau boleh saya bilang konyol. 3) Setiap melakukan apapun, bedakan mana yang nurani, nafsu, problem, dan galau. Kalau ia nurani, ia bersih. Memang moralis. Dia berpesan pada saya banyak… dan selebihnya biar saya pendam sendiri…

Usai ngobrol dengan bapak tua berkaca mata itu (dari fisiknya agak mirip sama guru agama pas SMA kelas XII), subuh, saya langsung solat subuh di masjid depan puskesmas. Jamaah di masjid itu dari golongan Islam apa gitu, yang dari pakainnya panjang-panjang. Bapak itu juga sebelumnya bilang tentang kasus yang lagi ramai di berita tentang Gafatar, daerah ini masuk zonanya. Perjalanan ini jadi menebalkan iman saya.

Setelah solat subuh saya melanjutkan perjalanan dengan semangat yang lemas. Saya menuju daerah UMS dan sepedahan di sana sampai ke sebuah pasar. Saya keliling pasar, melihat aktivitas manusia di sana. Lalu saya lanjut ke taman Sriwedari. Di sini saya baru tahu kalau Solo ternyata jadi kota keroncong. Trus juga baca isu-isu kebudayaan yang mengkhawatirkan lewat poster di sebuah tembok, tentang #SaveSriwedari. Ada yang menarik di poster itu: menjual tanah budaya sama dengan menjual harga diri!
Lalu saya berlanjut ke Museum Radya Pustaka Surakarta. Di sana ada banyak koleksi pustaka-pustaka lama, kanon-kanon besar. Sayangnya saat saya kesana ditutup sampai tanggal yang ditetapkan, dikarenakan buku-bukunya sedang dibersihkan.

Trus saya lanjut ke Pura Pakualaman. Sayangnya saya kepagian. Pura masih tutup, buka jam delapan pagi. Di depan pura ketemu sama bapak-bapak yang menceritai saya tentang kisah sukses empat anaknya.
 Di sini ada semacam perkampungan kavaleri.
 Trus lanjut ke Keraton Solo, dan gak sengaja lewat Pasar Klewer
Di keraton saya duduk di semacam pura kecil. Ketemu orang Jakarta yang juga mau liburan. Berhubung perut lapar, saya cari sarapan di sekitar keraton: Dapat nasi liwet khas Solo. Harganya lima ribu.
Nasi Liwet Solo
Lalu saya ngubungi teman yang saya kenal di dunia maya. Mas Sidiq namanya. Sedikit cerita, kenal dia lewat komen-komenan di blog, kami sama-sama suka dengan Sisir Tanah. Saya add FB-nya dan sebelum ke Solo saya udah kontak dia lewat fesbuk. Janjian ketemuan di Stadion Manahan. Karena saya nggak tahu jalan ke stadion, saya SMS buat ketemuan di keraton. Beruntung juga orangnya sedang libur (jadi bisa nemeni saya, haha). Karena kayaknya keraton luas, biar spesifik saya ngajak ketemuan di masjid. Saya nunggu Mas Sidiq di selasar Masjid Agung. Nunggu sekitar setengah jam, sambil nulis. Trus sekitar jam 9.40 Mas Sidiq datang. Kami kenalan.
Mas Sidiq gowes pakai sepeda gunung warna putih, serasi sama warna kaosnya. Kami bersepakat untuk masuk ke Keraton Solo. Ternyata Mas Sidiq juga belum pernah masuk, haha. Tiketnya sepuluh ribu. Yah, foto bareng penjaga gerbang dulu:
 
Sepertinya masuk keraton harus sopan. Melepas sandal. Kesan pertama, ada suasana masa lalu yang mengelus kuduk saya. Ada semacam pendapa yang anehnya dikelilingi patung-patung Romawi. Sungguh sangat kontras. Saya dan Mas Sidiq ngrasani ini. Kami seolah berasa di pertunjukan budaya yang tak jelas. Meski itu kado dari Romawi atau apa, bukankah lebih bijak ditaruh di bagian museum saja?

Sayang juga, pengunjung tak boleh masuk keraton. Ada pagar pembatas. Alasannya keraton luas, kalau lantainya diinjak-injak nggak ada yang ngepel. Shit-nya para abdi yang kerja di sana sebulan hanya dibayar (seingat saya) 50 ribu!  God. Saya jadi membayangkan bagaimana mereka makan. Pantas juga, lampu-lampu juga pada diselimuti kain warna kuning.

Keraton Solo
Dari area keraton, kami langsung ke area museum. Museumnya mirip kayak di Vredeburg Jogja. Ada foto-foto raja, peralatan perang masa dulu, replika permainan anak-anak, kuda, alat-alat masak dan mainan Jaman Doeloe, wayang, porselen, patung-patung seni, dan lain-lain. Sambil nglihat-nglihatin itu, saya sama Mas Sidiq ngobrol tentang banyak hal. Tentang tokoh, fenomena, buku, dan cerita-cerita.

Usai puas di kawasan keraton. Mas Sidiq ngajak saya ke Rumah Baca Teratai (RBT) di daerah Sangkrah, Solo. Pertama masuk di gang daerah itu,  mata saya sudah disuguhi mural-mural keren ajakan untuk membaca. Kami lalu masuk ke dalam sebuah rumah lumayan besar. Dari dalam ada kerumunan orang yang sedang duduk melingkar membahas sesuatu. Sepertinya rapat. Kami masuk, kenalan lagi sama orang-orang baru. Di sana saya kenal sosok keren pemberdaya masyarakat namanya Mas Danny. Kami ngobrol-ngobrol sebentar di sana. Di siang itu kata yang masih melekat dari Mas Danny: simpel, iso dilakoni. Prinsip segala hal. Dimulai dari sesuatu yang sederhana dan bisa dilakukan.

Siang itu Mas Sidiq ngajak saya ke perpustakaan RBT. Keren dah ini perpus. Dengan ruang sesempit itu bisa menghadirkan manfaat buat sekitar.
Usai nglihat perpus, trus solat dzuhur. Habis itu, Mas Sidiq ngajak saya ke daerah pecinan, Pasar Gede. Kemarin (8/2) baru imlek, daerah ini banyak lampionnya. Pas malam pasti keren banget ini.
Saya dan Nuun Junior (sepeda saya)
Sayangnya, saat itu hujan dan hati tetap happy. Dalam gerimis, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Triwindu, pasarnya barang antik dan klithikan. Puas banget lihat koleksi-koleksinya... Benar-benar susah ditemukan dan unik...
Siang masih gerimis. Dan semangat menjelajah masih menggebu. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Museum Pers Nasional Surakarta. Tempat yang direkomendasikan teman jurusan komunikasi saya di Jogja.
koran-koran dahulu
TAS yang revolusioner
Di museum ini ada beberapa ruang. Ruang dekat satpam ada koleksi mesin tik, di ruang sebelahnya ada tokoh-tokoh pers dan koran-koran jaman dulu.
Next, gowes ke tujuan utama datang ke Solo: ziarah ke makam maestro keroncong Inonesia, Gesang! Dan Mas Sidiq baik banget mau ngantar. Yeaaa....

Perjalanan lumayan juga dari pusat kota. Hehe. Sekalian keliling Solo sampai pelosoknya. Alam mengiring kami dengan gerimis yang bagi saya terasa romantis, haha. Setelah mencari dan mencari, kami sampai di sebuah kompleks pemakaman yang begitu luas. Di kompleks makam juga ada semacam monumen Tirta Gesang. Kami masuk ke makam, nyari makam Gesang yang ada tarup (atap)nya. Nanya sama adek-adek, tapi salah. Trus nanya sama ibu-ibu, ternyata masih beberapa meter lagi. Makam ini benar-benar luas, sampai kami nanya lagi sama bapak-bapak dan diantar ke makamnya langsung.
Makam Gesang sama seperti makam-makam lainnya, dia tak mencolok. Dikebumikan di pemakaman keluarga Martodihardjo bersama 14 orang sanak Gesang yang lain. Waktu itu makam ditutup, lalu bapak yang mengantar kami memanggil juru kunci dan dibukakan. Kami masuk ke dalam. Saya mengucapkan salam. Saya ingin bilang ke Gesang: hari ini saya berbahagia..
RIP Gesang
Kami berdoa. Di luar langit gelap, sangat mendung, dan hujan deras jatuh. Entah, saya merasa saat itu saya seperti ada di tempat yang saya sangat kenal. Saya dan Mas Sidiq berteduh di makam beliau, saya putar dua lagu beliau dari HP. Gesang saya anggap seperti kakek saya sendiri, karena mengingatkan saya dengan Mbah Kung dan bapak.

Sore yang syahdu di kuburan. Berdua, kami merenung dan berbicara tentang hidup. Tentang apa yang akan kami tinggalkan ketika nanti mati? Warisan abadikah seperti cita-cita Gesang?.

Sekali kuhidup, sekali kumati
Aku  dibesarkan di bumi pertiwi
Akan kutinggalkan, warisan abadi
Semasa hidupku, sebelum aku mati
--Gesang

Hujan reda dengan sisa gerimis gripis. Lalu memberikan salam perpisahan pulang pada Gesang. Kami melanjutkan perjalanan lagi. Di pinggir jalan kami makan siang sama makanan khas Solo juga, nasi timlo. Semacam sup yang isinya gado-gado. Wenak. Sambil makan, kami cerita tentang pengalaman perjalanan dan sastra. Lain kali saya juga pengen ke Rinjani seperti Mas Sidiq. Amin.
Nasi Timlo
Usai makan, karena waktu juga sudah mulai sore, kami lanjut pulang. Ternyata hujan tak lagi gripis lagi, deras, semakin deras. Saya tak membawa mantol. Mas Sidiq minjami saya, dan dia malah yang basah. Duh Is, kamu ini! Dan semakin deras, akhirnya bernaung juga di gedung apa gitu. Lanjut solat ashar di sebuah masjid yang konsepnya mirip banget rumah.

Hujan sepertinya bakal awet. Lalu kami menerjang hujan. Tujuan selanjutnya ke RBT. Saya berniat nginap di basecamp sana. Kawan-kawan di sini memang baik-baik, pas sampai dibuatkan teh, dikasi roti, diajak nonton film dokumenter. Jan asik tenan.

Malamnya, Mas Sidiq ngajak saya ke Rumah Baca Edelweis, rumah baca di desanya. Ini pemuda memang progresif, jadi dia makai ruang tamu rumah buat bikin perpustakaan umum. Dia mendirikan dan mengelola rumah baca ini sama teman-temannya. Kegiatan-kegiatannya juga membangun. Koleksi bukunya pun keren-keren. Di sana, diajak makan malam juga. Jadi merasa enak. Dan rasanya belum puas main sebentar ke rumah baca ini, tapi sudah larut malam. Mesthi ke RBT. Sampai sana, capek. Tidur.  Zzzz....

Di jalan ada moment kenangan indah yang lindap di memori saya: Di malam hari ada burung-burung yang membariskan diri di kabel-kabel lampu di jalan raya yang sedang berisik dan padat. Saat gerimis-gerimis burung-burung itu bercengkerama.

Rabu, 10 Februari 2016
Esoknya, bangun pagi. Solat subuh. Trus berbincang sama Mas Danny dan Mas Sidiq. Diceritain banyak. Mas Danny ini hidupnya termasuk out the box. Jadi dia pernah pas sekolah itu konsisten bolos. Sejak SMP udah mandiri ekonomi dari orang tua. Dulu pernah juga rutin setiap hari Sabtu-Minggu ke alam, konsisten, ada dan gak ada teman. Ke hutan sendirian, katanya: Ning kutho awake dhewe ijek iso kemaki, jajal ning alas? Banyak pelajaran hidup yang saya dapat. Mas Danny juga cerdas, dia belajar wacana dan keahlian bukan dari bangku kuliah, tapi secara otodidak. Orang yang cerdas baginya itu orang yang "rasa"-nya kuat.
sama Mas Danny, stay rock and roll
Setelah sarapan, saya pamit pulang. Sebelum pulang liputan ke Museum Pers dulu tentang Hari Pers. Usai itu, Mas Sidiq ngajak saya ke Stadion Manahan. Dia memberikan saya buku antologi puisinya: Sebuah Pencarian (Catatan Kaum Kusam).. Fakkk, udah buat buku. Iri saya, haha.
Sebuah Pencarian - Sidiq Bachtiar
Namun emang puisi-puisinya Mas Sidiq ini kebanyakan kritik sosial, kegelisahan-kegelisahannya yang puitis. Saya suka. Jam sepuluh tepat, pamit sama Mas Sidiq dan meninggalkan Solo. Will be miss this town... Thanks for everything comrade Sidiq Bachtiar... Always be progressive okay!!!

Best Wishes: Isma.

3 comments:

  1. haha...semoga kelak bisa ke rinjani

    dan jangan lupa untuk kembali ke solo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Siap. Saat saya kembali, Edelweis harus lebih keren lho ya...

      Delete
  2. semoga...semoga...semoga...
    aamiin...

    ReplyDelete