Kamis, 25 Februari 2016

Butuhkah Petani Bicara LGBT?

Tentu ini pertanyaan aneh, seaneh isu-isu publik yang berkembang pada saat ini. Dimulai dati terorisme di Sarinah, merembet ke Gafatar, beralih wajah lagi ke kopi sianida, LGBT, atau Kalijodo. Isu remah-remah sepah ini menutup isu yang lebih besar sebelumnya tentang Freeport!

Sebagai orang yang kebetulan di fisika, saya teringat dengan Hukum II Termodinamika. Kira-kira bunyinya: kalor mengalir dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. Dan tidak mungkin mengalirkan suhu rendah ke suhu tinggi secara spontan. Kita anggap saja isu-isu sianida, LGBT, dll-nya sebagai isu suhu rendah yang menutup isu tinggi bersuhu tinggi misal Freeport. 

Dari dua pergeseran isu ini menghasilkan entropi (derajat ketidakaturan) yang berkembang dan menjamur di media-media, baik TV, koran, khususnya media sosial. Entropi ini memancing situasi di mana kita dibelok-belokkan isu dan konsentrasi mudah pecah. 

Bodohnya sekarang kegalauan menjadi komoditi yang laris manis. Dan kegalauan ini menyerang para intelektual-inteletual yang fokusnya malah ikut latah ke isu remah-remah sepah. Sikap dirinya seolah dibeli. Isu ekopol sengaja ditenggelamkan menjadi isu legalitas, premanisme, sampai spiritualisme.
Menarik ke diri sendiri, kita seolah dininabobokan oleh suatu grand design besar politik. Efeknya semakin ambigu, linglung, dan sering galau (dan galau selemah-lemahnya iman). Parahnya dari linglungnya diri ini merambat ke psikologi masyarakat. Sedangkan masyarakat sumber dari media yang memproduksi wacana-wacana publik.

Lebih kritis lagi, di media sekarang ada dua agenda besar yang berkembang. Pertama, agenda setting yang diatur siapa pemodal (kapital). Agenda ini mengusung realitas palsu yang menutupi hal-hal besar. Kedua, agenda publik tentang sesuatu yang mengatur orang banyak. Di sini media mempunyai peran besar mempropaganda. Propaganda ABCD. 

Indonesia yang mayoritas masyarakatnya masih latah, yang kagetan, sedikit-sedikit sudah geger menganggap media sebagai realitas sesungguhnya. Masing-masing media saling menyerobot ideologi, lalu lewat alat media itu dalam tiap diri individu sangat mudah dibuat kosong—karena memang ada sesuatu yang membuat kosong. Kekosongan sangat terlihat ketika membaca status-status di medsos. Sekarang baik yang intelek dan tidak, kesadaran hampir sama saja, bahasanya saja beda. 

Lalu kembali ke pertanyaan dalam judul ini. Mungkin saya sengaja memberi judul tulisan ini sangat atomis-reduksionis. Ini hanya puzzle kecil merespon isu yang saat ini ada tentang LGBT. Coba renungkan: perlukan petani bicara LGBT? Perlukah nelayan bicara kopi sianida? Perlukah buruh berkoar tentang Gafatar? Yang semua itu hanya menyoal masalah privat? Ah, konyol isu-isu sekarang! Rakyat tak dipedulikan! Jadi ingat Pram, yang digaruk-garuk hanya pinggir borok, bukan pusat borok. Ngeri.

Ya, jangan sampai linglung. Jangan sampai kosong. Kita bukan kita apa adanya. Kita hasil konstruksi. Bergerak maju. Revolusi. Hidup rakyat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar