Monday, January 18, 2016

41 Tahun Arena

Na, kamu bagiku tak sekedar ruang yang orang keluar masuk di dalamnya. Lebih berat dari itu, kamu bagiku menyembunyikan arti hidupku, perasaanku, sakitku, perjuanganku, cintaku, juga riwayatku. Kamu ruangku yang membuatku nyaman lahir di dunia. Di saat semua telah pergi dan hanya tinggal aku dan kamu sendirian, Na, kamu mewakili sudut-sudut hatiku yang paling sunyi. Menemani tangisku. Di sana kita bercakap tentang apa saja. Tentang wakil rektor yang sulit diwawancara, tentang bapak, tentang fisika, tentang anak magang, tentang teori, tentang mas A, mbak B, dik C, sampai si Z, dan selalu kamu menjadi pendengar yang paling setia.

Na, di ruangmu sekarang dinding-dinding masih ditebari kata-kata nakal, Mas Sabiq masih sering mutar Pidi Baiq, Rouf dan Miftah masih sering main PES, diskusi masih lanjut, anak magang 2015 berdatangan, sesekali masih ngadain quality time, pentas hura-hura, dan kekacauan lainnya. Yang berganti setahun ini hanya komputer jadi pindah arah ke timur. Fa'i tambah gondrong, Mas Jamal jadi dimisioner, dan almarimu yang makin hari makin tua. Juga umurku, umurmu yang kian meninggi.

Na, tiga kali sudah kutemani engkau menyalakan lilin di hari perulangan. Kelak, riwayatku di ruangmu akan membeku, kata membisu, dan ingatan membatu. Masihkan aku menjadi letih dan lemahmu Na?

Na, kata-kata abadi manusia hadir dari tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Aku akan menceritakan mimpiku untuk menjadi seorang 'lavrengo' penguasa kata-kata sebagaimana orang-orang zigana. Bahwa, kata-kata sebesar apapun selalu dimulai dari kata-kata sederhana. Berlatih memakai kata-kata kecil dengan cara besar.

Na, aku selalu bermimpi bagaimana jika tiap pemikir (siapapun) bisa merdeka berpikir, untuk berhenti memungut pikiran lain, yang tak percaya pada gagasan dadakan. Yang itu lahir dari inisiatif, bukan intelejensi. Dari pengalaman, dari analogi-analogi, dari asosiasi bebas, dari dialog, dan lainnya.

Na, sejak membaca Pram, aku memutuskan diri untuk menjadi a bitter sosialist. Aku menolak kelas. Aku menolak segala penindasan atas manusia. Tak ada tingkatan manusia, yang ada hanya manusia-manusia individual, manusia eksklusif, manusia yang mengkhususkan diri.

Na, joy 41th years old. Terima kasih sejauh ini telah menatar hidupku yang gripis, menjagang lututku ketika jiwaku ingin tersandung, mematonkan pikiranku, dan menikmati rasa waktu-ruang bersama. Terus hidup, harus hidup...

Aku sayang kamu. --Is

Puisi untukmu: 41th LPM Arena.

No comments:

Post a Comment