Tuesday, July 23, 2013

Warung Mbah Tumbu


Bangunan itu kini tak seperti dulu lagi. Bangunan yang dulu bekas warung kopi dan makan tempat orang kecil dan pegawai nakal serta pengangguran biasa mangkal, kini menjadi restaurant yang ramai.
            Ku ingat delapan tahun yang lalu…
            Saat SD dulu, saat aku berangkat atau pulang sekolah selalu lewat warung itu. Di sampingnya berdiri kokoh bangunan gedung pemerintah yang tak boleh seorang gembel pun masuk. Di depan warung itu ada pipa-pipa panjang berdiameter 20-30 cm. Di bawahnya ada selokan berair jernih yang banyak ikan mliunnya. Dulu, aku dan temanku sering lewat di atas pipa-pipa itu untuk menguji keberanian, kadang pula saat pipa itu bocor, air keluar menyumbar ke atas. Kami bermain-main dengan air itu, tak jarang kami sampai jatuh ke selokan berjarak satu meter di atas kami. Mbah Tumbu pemilik warung itu dengan suara yang cempreng dan keras sering memarahi kami, tak jarang Mbah Tumbu membentak nama orang tua kami di depan pelanggannya yang seolah menunjukkan orang tua kami tak becus mendidik kami. Sampai di rumah pun ibu memukul pantatku dan menjewer kupingku sambil berceramah yang tak ku tahu ibu bicara apa.
            Mbah Tumbu tinggal dan bekerja sekaligus di warung kecil itu, bersama seorang pegawai bernama Raminah, tetangga dekat rumahku. Mbah Tumbu hidup sendirian di warung itu, tak bersuami dan beranak lagi. Pernah suatu hari ku tanya pada ibu dimana keluarganya? Ibu bilang suaminya meninggal karena lumpuh 15 tahun yang lalu saat aku belum lahir. Ia punya anak satu yang sekarang minggat entah kemana meninggalkan Mbah Tumbu yang saat itu hidup serba kekurangan. Ia membangun dari nol rumah kecilnya itu menjadi sebuah warung. Kondisi Mbah Tumbu sendiri juga tidak sehat, obesitas yang dideritanya membuatnya sedikit melakukan pekerjaan dan menggantungkan semua pekerjaannya pada Raminah. Suami Raminah kerja serabutan dan parahnya suaminya sering judi, togel, dan mabuk, saat ia dapat uang dari hasil kerjanya sebagai pemain ludruk. Anak pertama Raminah pun minggat entah kemana karena terjadi percekcokan dengan anak dan suaminya itu. Dan kini dia tinggal dengan anak bungsunya teman sebayaku dan teman mainku bernama Sularsih. Saat kelas satu SD dulu kami mendaftar bareng, tapi dia terpaksa tidak naik ke kelas empat karena tak masuk sekolah terlalu lama disebabkan saat naik sepeda motor dengan ibunya kakinya terjebak dalam jeruji roda sepeda motor yang membuatnya kehilangan jempol kaki bagian kiri dan sedikit berjalan pincang hingga sekarang.
Aku ingat saat aku kelas lima SD dulu ibu menyuruhku membeli sayur dan lauk di warung Mbah Tumbu, karena waktu itu ibu sakit dan tidak masak. Di depan warung itu ada empat orang bermain karambol, di samping pojok dekat mencuci piring dan tempat sampah ku lihat 23 orang sedang berjudi, dan di sebelahnya berserakan kulit kacang dan beberapa botol arak. Aku sangat takut masuk ke warung, tapi ku beranikan diri.
“Kopi satu Mbah,” seorang pegawai kantor saat masih jam kerja memesan kopi, ia keluarkan rokok dari sakunya, ia naikkan kaki ke kursi, dan mulai menyalakan rokok. Asapnya menyembur bau ke mukaku. Aku batuk-batuk, diam memandang Mbah Tumbu.
Golek opo Nduk (Cari apa Nak),” suaranya yang keras menggetarkan tubuhku.
Jangan lodeh kaleh tempe goreng sekawan (Sayur lodeh dan tempe goreng empat),” kataku pelan.
Entheni sidhiluk yo Nduk, jangane durung mateng (Tunggu sebentar ya Nak, sayurnya belum matang)”
Inggih (iya),” aku menunggu di bangku dekat tukang becak yang sedang makan. Ku perhatikan kondisi warung itu. Kepalaku tiba-tiba pening. Raminah datang membawakan kopi untuk pegawai kantor tadi, perhiasan imitasi melekat dengan jelas di telinga, leher, tangan, dan jarinya. Wanita paruh baya itu dikenal orang yang glamour dan suka bergosip.
Niki Mas (Ini Mas),” katanya dengan lembut, Raminah duduk sebentar dan bercakap-cakap. Setelah itu kembali ke dapur. Di luar kata-kata kotor dan hujatan karena kalah judi terdengar berisik di telingaku yang seolah tidak aku dengar. Di seberangku duduk buruh bangunan dan tukang dokar tengah mengeluh karena tiap hari kebutuhan pokok mengangkasa dan sialnya togel yang dipasang tadi malam tidak tembus.
Tiba-tiba aku terkejut saat rambutku yang panjang dibelai seseorang, aku refleks memukul tangannya.
Iki anak’e sopo toh Mbah, ayu tenan (Ini anaknya siapa Mbah, cantik sekali),” wajahnya yang berewok penuh bulu tersenyum manis di depanku.
Wis, ojo diganggu, mundhak nangis engko. Iku anak’e Mihardjo (Sudah, jangan diganggu. Membuatnya menangis nanti. Itu anaknya Mihardjo),” kata Mbah Tumbu menyebutkan nama ayahku.
Woalah, pemborong ko Solo iku yo. Cah ayu sopo jenengmu? (Oh, pemborong dari Jogja itu ya? Anak cantik, siapa namamu?)”
“Gal.. Galuh..” kataku gemetar, dia senyum lagi.
Lek cah iki wis gedhe, tak pek bojo mengko Mbah, hahaha.. (Kalau anak ini sudah besar, aku jadikan istri nanti Mbah, hahaha..),” katanya sambil tertawa pada Mbah Tumbu, aku semakin tambah takut, aku ingin menangis.
Bojomu iku lho diurusi ndisik, ora usah nambah manih. Cah ayu ngene ki gak pantes karo kowe. Karo anakku ae yo Luh,” kata Mbah Tumbu manis padaku, aku semakin tak mengerti.
Pria berewokan itu mendekati Mbah Tumbu, ku perhatikan gerak-gerik mereka yang tengah mengobrol hal serius.
“Anakku..” sayup ku dengar suara Mbah Tumbu dengan wajah berseri.
Nang ndi Yo?? (Dimana Yo??)” ku dengar suara Mbah Tumbu lagi. Tiba-tiba di luar terdengar jeritan keras.
“POLISI!! POLISI!!! BUBAR!!! BUBAR!!!”
Semua orang kalang kabut melarikan diri. Aku meringkuk sembunyi di bawah meja memeluk lututku, sambil ku alirkan air mata tak bersuara. Bau arak, bau rokok, bau sampah busuk di kolong meja sudah tak ku rasakan lagi. Semua sibuk mencari perlindungan. Suara sirine raungan mobil polsi jelas semakin jelas terdengar di telingaku. Suara itu berhenti, ku dengar derap sepatu pantofel memasuki warung Mbah Tumbu. Aku semakin meringkuk ketakutan, tiba-tiba sepatu itu ada di depanku. Ku menahan nafas, sepatu pantofel itu pergi, suara raungan terdengar lagi, tenggelam, tenggelam, dan hilang. Aku menangis terisak-isak, tiba-tiba seseorang menemukanku dan memapahku ke atas kursi.
Wis Nduk gak usah nagis (Sudah Nak, tak usah menangis),” tangannya yang besar mengusap air mataku. Refleks aku memeluknya. Tiba-tiba Raminah datang dengan nafas terengah-engah.
“Mbah Tumbu. Mbah! Waluyo mati ditembak polisi!”
Mbah Tumbu kaget dan berteriak, “OPO!! Waluyo mati!!” nafas Mbah Tumbu tersenggal-senggal.
Mbah.. Mbah.. kenek opo? Luh, tulong ewangi nggowo Mbah Tumbu ning kamar (Mbah.. Mbah.. kenapa? Luh, tolong bantu bawa Mbah Tumbu ke kamar),” Raminah dan aku memapah Mbah Tumbu membawanya ke kamar.
Raminah meminumkan air putih ke Mbah Tumbu.
“Anakku.. anakku.. anakku..” kata Mabah Tumbu
Anakmu kenek opo Mbah? (Anakmu kenapa mbah?)”
Anakku Nah, mau Waluyo ngerti anakku nang endi (Anakku Nah, tadi Waluyo tahu anakku ada dimana)”
Ternyata selama sepuluh tahun, Mbah Tumbu menyuruh Waluyo untuk mencari dimana keberadaan anaknya. Raminah langsung menangis, mungkin saat itu ia ingat masa lalunya. Tiba-tiba Raminah langsung kejang, aku berteriak keluar mencari pertolongan. Raminah pun dibawa ke rumah sakit.
***
Aku dan Sularsih sering berangkat dan pulang sekolah bersama, dia selalu ceria, meski terkadang ada teman yang mengejeknya. Aku kadang ingin menangis sendiri saat kakak-kakak kelasku mengejeknya dari belakang sambil mengatakan Sularsih “anak pincang”, tapi entah kenapa ia malah tersenyum saat dihina begitu.
Seminggu sudah ibunya terbaring lemah di rumah sakit. Raminah menderita penyakit stroke. Setiap malam Sularsih selalu pergi ke rumah sakit menemani ibunya sambil mengayuh sepeda yang jaraknya hampir sepuluh kilometer sendirian.
Luh, pipane ono sing bocor, dolanan yok (Luh, pipanya ada yang bocor main yuk),” ajaknya.
“Ayo, ayo,” kataku bersemangat, aku paling senang bermain air.
Dari jauh ku perhatikan warung Mbah Tumbu, warung kebanggaan beliau. Warungnya kini sepi. Mbah Tumbu menutup warung sampai Raminah kembali sembuh.
Kami saling menciprat-cipratkan air. Setelah wajah basah, baju basah, aku berjalan di atas pipa. Ku rentangkan tanganku menjaga keseimbangan. Sularsih tersenyum melihatku. Aku tak sadar kalau saat itu aku telah melukai perasaannya. Sularsih tak berani berdiri di atas pipa-pipa itu. Kemudian Sularsih mengajakku memancing ikan mliun menggunakan gelas minuman yang diberi tali raffia. Masih terekam jelas kenangan itu. Kemudian kami pulang bersama-sama, tiba-tiba di rumah Sularsih banyak sekali orang berdatangan.
Sih, kowe ulang tahun yo? (Sih, kamu ulang tahun ya?),” kataku sambil tersenyum, tertawa.
Mosok ulang tahunku kowe gak eleng (Masak ulang tahunku kamu gak ingat),”
“Hahaha..” kami tetawa. Sularsih ulang tahunnya Mei, sekarang Desember.
Aku mengikuti Sularsih masuk rumah. Suara tangis tiba-tiba menyeruak. Raminah telah tiada.
“MAKKK!!! MAK’E…!!!,” Sularsih berlari menangis memeluk jenasah ibunya yang terbujur kaku. Bom seolah meledak di depanku, tiba-tiba semua menjadi gelap.
***
Tiga bulan kemudian… Mbah Tumbu menyusul kepergian Raminah. Setelah kejadiaan itu orang tuaku pindah ke Surakarta. Kini warung bersejarah itu pun bermetamorfosis, dibangun menjadi warung baru yang sangat bagus. Tidak tampak warung lagi, tapi sudah seperti restaurant, tempat makan orang-orang cilik, orang Pertamina dan orang-orang berduit.. semuanya bisa makan disini.
Delapan tahun sudah kejadian itu berlalu. Warung ini tetap menjadi warung kebanggaan dengan berbeda wajah. Pipa-pia itu sudah tak ada lagi, diganti dengan sebuah taman dan tempat parkir. Sekarang aku telah menjadi mahasiswi, aku berkunjung ke warung itu, seorang anak laki-laki lucu menyambutku, kemudian berlari memeluk ibundanya.
“Galuh,” sambutnya kaget, ternyata dia tak pernah lupa dengan wajahku.
“Sularsih”
Kami berpelukan melepas rindu, setelah sekian lamanya tak bertemu. Sularsih menikah dengan anak Mbah Tumbu yang menghilang itu dan dikaruniai seorang malaikat kecil yang lucu.
Selesai.


ISMA SWASTININGRUM

No comments:

Post a Comment