Friday, July 1, 2016

Alen

GUYUR hujan mengenai genteng-genteng berwarna coklat. Hujan masih deras. Saya masih sendirian menggigil di pinggir jalan menanti angkot yang hendak mengantar saya ke kampus.  Dengan gigi gemeletuk, saya ingat Bapa di Wamena pernah bilang bangunan dan pohon-pohon hanya mandi ketika hujan. Bapa juga pernah bercerita tentang kesetiaan halilintar yang tak pernah mendahului kilat. 
 
Angkot warna abu-abu melintas, saya naik. Angkot hari itu lumayan penuh, hanya tersisa satu tempat duduk di pojok. Saya duduk di sana berdekatan dengan seorang perempuan berkulit putih yang dari penampilannya mirip iklan handbody di TV. Perempuan itu nampak tak nyaman di dekat saya. Ia mengambil tissue dalam tas dan menutup hidungnya. Kejadian ini sudah sering saya alami semenjak kedatangann saya di Yogyakarta sebulan yang lalu. Saat sampai di sini tiga kos-kosan menolak saya. Bahkan di beberapa tempat, jika mereka melihat manusia keriting dan berkulit hitam, mereka akan menghindar. Padahal saya tak pernah mengganggu mereka.

Beberapa menit kemudian dua orang yang duduk berhadapan dengan saya melakukan hal serupa perempuan putih itu, dengan tangan dan lengan bajunya. Lalu saya membaui diri saya sendiri, tak ada yang salah dengan bau saya. Saya pun hanya menunduk sambil memegang rambut gimbal saya yang sengaja saya potong cepak. 

Sampai di kelas, saya sering memilih duduk paling depan. Saya sudah janji pada Bapa akan jadi anak pintar dan pulang membangun sekolah di Papua. Saya ingin buktikan kalau tong tidak bodoh, tidak dungu. Di dekat saya duduk teman saya dari Bantul namaya Salistya, tapi saya panggil dia Sali. Dia kawan saya yang tak cerewet, tak seperti teman sekelas saya yang lain. Saya suka karena Sali baik, suka membantu saya, dan mau satu kelompok sama saya. Di antara banyak orang Jawa yang sering milih-milih dalam kerja kelompok. Yang pintar dengan yang pintar, yang putih sama yang putih.

Di kelas, saya satu-satunya manusia dari ras Melanesia. Ras yang memanjang dari Maluku sampai samudra pasifik bagian barat. Saya satu-satunya yang hitam. Dan siang ini saya senang, dosen Sejarah saya mirip Bapa di Wamena, nama dia Pak Samono. Tapi saya sedih ketika Pak Samono tak ramah pada saya. Saat itu di kelas saya bertanya pada Pak Sam:

“Bapa Sam, sa pu[1] daerah di Wamena. Di Papua kami tak butuh teori muluk-muluk Bapa. Merdeka dalam kehidupan sehari-hari bagi kitorang ialah Mama bebas menjual hasil pekarangan dan Papa bebas menangkap ikan. Bagi Bapa yang di Jawa bagaimana ei?” tanya saya.

“Pemuda, kau belajar Bahasa Indonesia yang benar dulu, baru kau ngomong!” Jawab Pak Sam kasar. Lalu, teman saya yang duduk di belakang saya dari Jawa menirukan kata-kata saya dengan logat yang saya punya dan seluruh kelas tertawa. 

BULAN kikuk di luar. Tadi siang adalah hari pertamaku mengajar sebagai dosen, setelah minggu yang lalu aku membiarkan kelas kosong. Serasa mengunyah lagi kenangan masa silam, aku begitu menggigil ketika di kelasku ada anak timur itu. Sudah ingin kulipat rapat-rapat kenangan yang silam, ia membongkar lagi lemari yang berdebu itu. Kenangan di tempat itu dan semua kompleksitas tentangnya. Wajahnya begitu mirip. Dendamku membuka, aku begitu takut, tapi aku juga begitu marah. Aku sering ingin menangis sendiri.

Aku berharap ayah sudah terbaring tenang. Ayahku seorang nasionalis yang dengan segenap hatinya menjaga tanah airnya sendiri. Ayahku yang nasionalismenya lebih kuat dari Soekarno. Namun, ayah menjadi korban saat perang pemekaran Provinsi Irian Jaya Tengah di Timika tahun 2003 silam. Kejadian itu begitu menyakitkan untukku. Mereka melakukan upacara bakar batu seratus kali pun tak akan menghapus lokus menyakitkan yang berbaris tertib di ingatan. Kejam, mendendam.

Ayah seorang intelejen. Waktu umurku enam tahun, aku sekeluarga dari Surabaya datang ke Sorong. Kami hidup di sana selama lima tahun. Ayah bekerja secara sembunyi-sembunyi laiknya orang biasa, yang paling biasa. Ia pergi ke sudut-sudut Papua yang jauh dari Sorong. Ayah memegang kuat apa yang diajarkan atasan: gagal dicaci maki, mati tak ada yang mencari. Setiap pulang yang ayah lakukan katanya riset, paginya melakukan apa yang menjadi catatannya semalam di buku kecil. Tak pulang berbulan-bulan. Kerap ayah berpesan: No, Samono, arek sinau sing sregep.

Saat dewasa, aku mulai paham apa yang dilakukan ayah. Aku juga sadar sepenuhnya politik sparatis yang terjadi di Papua tak hanya sekedar soal badut-badut Jakarta yang melakukan kekerasan struktural, tapi juga soal grand design AS, Inggris, Australia, Belanda, dan negara-negara NATO untuk menguasai Papua. Bangsat-bangsat itu melalui intelejennya melakukan operasi yang taktis, diplomatis, dan tertutup menguasai bumi emas itu.

Aku masih merasakan benar politik adu domba itu dengan mempolarisasi konflik-konflik Papua bersama ayah. Tindakan sparatis diruncingkan menjadi konflik sipil VS TNI. Penangkapan dan pembunuhan elite OPM dihiperbola sebagai tindakan represif pemerintah. 

Semakin jelas ketika aku membaca sebuah wacana ada 1500-an LSM dari Amerika Latin memberi dukungan Papua merdeka. Terlebih bangsat Melanesian Spherical Groove (MSG) yang benar-benar meracun Indonesia dalam suksesi pemisahan Papua dari Indonesia. Mereka mengumbar isu ras dimana orang-orang Papua mulai punah di tanah airnya sendiri. Dengan menghiperbola isu HIV/AIDS, para transmigran, dan lainnya.

Saat aku melanjutkan S3 di Amerika di sekitar tahun 2000-an USA membuat Rancangan Undang-undang tentang Foreign Relation Authorized Act (FRAA) yang di sana mengatur khusus tentang Papua yang nantinya digunakan sebagai landasan USA megintervensi kedaulatan Papua dari NKRI. Dan Freeport termasuk antek-anteknya. 

Ah, Alen, hidupmu Nak. Bapak tadi tak bermaksud kasar padamu. Bapak janji esok hari bapak akan mendidikmu jadi orang cerdas, melatihmu jadi pemimpin, dan mengembangkan semua bakatmu. Bukan karena bapak hendak menolongmu, tidak Nak, menolong hanya satu irama dengan kasihan. Tapi karena bapak manusia, sama sepertimu.  

BERSAMA Alen aku belajar menyemarakkan kata-kata baik. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Alen, tuan cendrawasih itu. Masih kuingat, Alen beberapa kali mengajakku ke padang ilalang dekat Bel Rusak (Belakang Rumah Sakit), bersama menikmati kemegahan waktu. Di sana, Alen sering membuatkanku rok sedengkul dari ilalang.

“Sali ini sali,” kata Alen dengan suara bass-nya selalu menyebut namaku dua kali setelah membuat rok ilalang tersebut. Hanya dia yang memanggilku Sali, mirip nama orang modern, Sally. Padahal sejak orok, emakku memanggil Salis. Aku menjawab dengan suara tenorku, “terima kasih.” Ya, hanya dua kata itu. Aku tak mau banyak bicara. Bagiku bicara itu cukup seperlunya. 

Di setiap perjumpaan kita, selalu yang banyak bicara adalah Alen. Dia yang mengisi kediamanku. Alen sering bercerita padaku di kampungnya sana ia tinggal di rumah yang tingginya satu setengah kali tinggi rata-rata orang Indonesia. Atapnya seperti mangkuk kebalik berwarna coklat tua dari jerami/ilalang. Pintunya hanya satu, alasnya rumput, dan setiap malam yang menerangi sedikit api unggun di tengah-tengah. 

Kotanya dikelilingi puncak-puncak besar, dari Puncak Trikora, lalu Puncak Jaya, Puncak Yamin, dan Puncak Mandala. Bahkan kadang sering terjadi hujan es. Len, hujan es itu seperti apa? Aku membayangkan dalam hati.

“Rumah itu kitorang kasi nama hanoi untuk papa, ebei untuk mama, dan wamai untuk babi,” Alen menjelaskan. Mendengar babi aku merinding, agamaku melarang memakannya. Dalam bayanganku babi itu lucu, seperti di boneka-boneka imporan China yang tak sanggup aku beli di etalase-etalase.

Di tanggal 29 Februari, Alen bercerita tentang peperangan di Papua. Lalu suara bass-nya tiba-tiba bertambah berat. Aku dapat merasa jika dia sedang sedih. Setahun menjalin hubungan persahabatan tanpa status, aku mulai menghafal bagaimana dia berjalan, bagaimana dia bahagia, bagaimana dia berduka.

“Sali, aku hendak pergi.” Aku terkejut.
Menjawab dengan lemah. “Ko hendak kemana Len?”
“Kemanapun Sali, yang alamnya liar.”

Sejenak kita saling diam. Badanku menggigil, kosong. Dendrit di tubuhku tiba-tiba lemas. Kami terdiam agak lama, aku mencoba mengurai arti liar yang ia maksudkan. Bodohku pun kumat, aku pun mengalihkan suasana dengan meletuskan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggguku tentang orang Papua.

“Len, aku sering dengar di Papua sana sering perang. Benarkah?”
“Satu pembunuhan di satu suku, bisa mengakibatkan 100 kematian lain. Hingga kedua korban dari suku yang bertikai seimbang. Sali, di Jawa tenang ya?” Aku mengangguk. Tak seperti yang kau pikirkan, Len.
“Sali, sa akan ajak Sali ke Danau Sentani nanti,” katanya dengan mata berkaca-kaca senja saga itu. Ia menatapku, mata bintangnya berdenyar seperti hendak menangis, aku tak kuasa beradu pandang dengan matanya. Butir linangan pun menggelinding di pipinya, kurasakan beban berat yang menggelayut yang bagiku begitu gelap. Esoknya ia pulang ke Papua, dan setelah kalimat terakhirnya itu, aku tak menjumpainya lagi. 

Hujan yang jatuh di pucuk-pucuk ilalang telah berhenti dan menyisakan gerimis yang gripis. Len, aku berkunjung lagi ke taman kita seperti biasa. Berharap kau di sini dan ingin kusandarkan kepalaku yang lelah di bahumu. Aku diam dan kau menceritaiku lagi tentang apapun. Biarkan aku bahagia di tamanmu bersama sosokmu yang membatu. Di sini sepuluh tahun sudah aku menantimu tiap sore di Bel Rusak: Len, ko kemana ei? []

NB: [1] Sa pu = Saya punya.

Isma Swastiningrum, mahasiswi Fisika angkatan 2013, UIN Jogja. Pernah bercita-cita jadi guru di Papua.
Post Script: Cerpen ini pertama diterbitkan di Slilit Arena Edisi April 2016. Saya post ulang untuk kepentingan dokumentasi.

3 comments: