Klenik Studies hari ini, 23 Mei 2025, mengadakan
pertemuan perdana. Pada malam Jum'at Kliwon ini kami membahas obrolan yang
menyenangkan tentang "Tempat-Tempat Pamali" yang kita temui di
sekitar kita. Perbincangan merentang dari mitos Cepu dan Gunung Lawu, Kampung
Pitu Jogja, mitos Jalan Karanggetas di Cirebon, jenazah yang bisa jalan sendiri
di Toraja, pohon beringin, jembatan, sampai obrolan terkait mengapa tempat
"Tusuk Sate" itu angker? Tak kalah menariknya, bagaimana fenomena ini
dianalisis dari sudut pandang arketipe Jungian, bagaimana melindungi alam,
trauma dan memori, hingga teori ambang batas tempat dan waktu. Di pertemuan
berikutnya, kami akan membahas tentang "Hantu, Ruang, dan Teknologi".
.jpeg)
Kami membicarakan tempat-tempat terlarang. Kita bahas
perspektif satu-satu. Menurut Khumaid Akhyat Sulkhan, banyak masyarakat dunia yang tradisional
punya mitos-mitos tertentu. Yang itu bisa dikatakan juga sebagai kearifan
lokal, seperti Alas Roban, lalu Kampung Pitu (7 KK) di Jogja, banyak cerita
tentang tempat terlarang lainnya. Di sini banyak diskusi, dari psikologi
klinis, wartawan, akademisi, dan jurnalis. Sulkhan bertanya: Dimulai dari apa
sih tempat terlarang? Ini fenomena apa sih?
Mi'rajul Akbar bercerita, tempat-tempat pamali di semua tempat ada. Di Jawa sendiri,
terutama Jogja, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sementara
tempat-tempat pamali di Kalimantan tak banyak yang mempercayai dan tak
mengetahui. Di sini juga mitosnya sifatnya lebih membahagiakan, misal minum air
Sungai Mahakam akan bahagia. Kalau yang seram biasanya terkait hutan. Mitos di
tempat Akbar, bagaimana mensugesti orang untuk melindungi alam. Dia bertanya:
Kenapa mitos-mitos di Jawa lebih riil? Seperti tempat pamali yang didatangi
pemimpin, presiden datang kesana lengser. Unik karena, pemimpin negara dianggap
berpikir rasional, tapi malah mengikuti panduan klenik. Ini membuat yang
rasional saja gini, apalagi kita. Untuk mitos di Jawa, auranya juga lebih tangible,
nyata, apalagi kalau ada tempat-tempat yang harus dihindari. ”Nasib negara
ditentukan oleh tempat-tempat seperti ini.” Di balik ini semua apakah ada
Jawasentris? Bahkan secara spiritual pun daerah di Jawa. Bahkan secara
spiritual, Jawa menentukan negara.
Dari bacaan Akbar terhadap buku Carl Gustav Jung,
intinya, alam bawah sadarlah yang menjadi dasarnya. Yang membuat Jung terkenal,
dia percaya mistis. Karena di memoirnya, dia punya dan mengalami astral. Ada
konsep Namanya arketipe, kalau membaca mitos-mitos, di mitos-mitos ada raja,
ada orang bijaksana. Raja disebut sebagai arketipe. Pola yang muncul terus di
cerita. Di buku Jung, arketipe yang harusnya muncul di cerita, ada di dunia
nyata. Dia mendekati tempat-tempat kesadaran manusia bertemu. Misalnya banyak
yang mempercayai, adanya Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan. Ini perwujudan alam
bawah sadar banyak orang, yang memberikan energi, sehingga legenda ini,
arketipe ini muncul sebagai kenyataan dan mempengaruhi orang. Ini menyebabkan
keadaan mistis yang dialami orang. Ini kenyataan yang cukup panjang. Inti
pemikiran yang tadi. Arketipe ini jadi pola imajinasi. Dia hal yang selalu ada,
misal, orang yang sakti, Nyi Roro Kidul. Kalau ditarik lebih jauh, pola-pola
ini sudah ada.
Selanjutnya, Nurul Diva Kausar bercerita, tiap tempat punya sisi
mistik khasnya. Di tempat Isma, ada mitos Gunung Lawu, mitos banyak orang,
dilambangkan sering identik dengan ilmu hitam. Ilmu yang gak kita sadari ini
jadi stigma di kalangan pejabat. Di tempat Nurul, ada mitos terkait Jalan
Karanggetas di Cirebon dan dekat keraton. Dekat sama tempat peribadatan wihara,
zaman dulu, sampai sekarang dipercaya banyak orang punya nuansa mistis. Ketika
punya keilmuan, punya kesaktian tak bisa ditebas tebang, punya jabatan penting,
kenegaraan, presiden, saat lewat situ ilmunya luntur. Ini ada kaitannya dengan
dakwah Islam, Cirebon kuat soal Islam. Ada Syeh Magelung, ada kekuatan tak bisa
ditembus pedang, dan dia bisa mempengaruhi orang. Suatu Ketika Syeh Magelung
lewat situ dan kesaktiannya hilang. Tempat itu jadi salah satu mitos, dia akan
luntur ilmunya. Bisa dibilang, ada kaitannya dengan pola penyebaran Islam.
Salah satunya lewat situ. Banyak hal unik di Cirebon, di keraton, orang-orang
bisa mendengarkan suara gamelan tapi tak ada wujudnya. Kalau mau lihat
wujudnya, orang harus baca syahadat. Sisi mitos selalu berkaitan dengan agama
Islam. Untuk mengajak orang dekat dengan agama Islam.
Arketipe dan Scandinavia
Sulkhan juga membaca book chapter yang oke, bahasannya
khusus menjawab tentang mitologisasi tempat. Tulisan Steven tentang orang
Scandinavia, di era tradisional atau primitif. Yang menarik, tentang
tempat-tempat terlarang atau tempat sakral. Sudut pandang tulisan itu, pertama,
kekuatan alam sebagai sesuatu yang sakral atau pra-agama. Di Scandinavia,
orang-orang pagannya menganggap alam sebagai sesuatu yang sakral. Dari awal,
memang dianggap sebagai sesuatu sakral. Kesakralan suatu tempat tak lepas dari
daerahnya dan menjadi identitas mereka. Lokasi dengan alam di sana. Ketika
Kristen datang, terjadi pergeseran, kesakralan dari alam ke kreasi manusia.
Dimanifestasikan lewat altar, gereja, Yesus, muncul dikotomi antara sakral dan
profan. Cenderung mengganggu kesucian, setelah modernisasi ada, situasi lebih
parah, karena alam tak lagi punya suara. Alam tak bisa mengikat dalam
sakralitas, sehingga alam bisa pindah kemana-mana. Ini yang membuat orang di
Scandinavia tak mengenali alam di sekitar kita.
Kalau di Jawa sendiri kurang lebih sama sebelum
kedatangan Islam, mitos ini masih bertahan, ada orang puritan yang menganggap
kasi sesajen disebut sirik. Di Scandinavia juga ada itu, tapi di Jawa masih
bertahan. Misi misionaris lebih banyak menang Islam daripada Kristen, ini tak
menggeser animisme.
Akbar menanggapi, bahasan Sulkhan ini menarik,
pertanyaan kita, walaupun ada Kristianiti? Intinya agama samawi, menghapus
pagan dan animisme, kalaupun terhapuskan, tapi kenapa kepercayaan itu masih
bertahan dan akhirnya menjadi mitos? Mitos ini adalah mayat-mayat kepercayaan
yang sudah lampau, tapi saking kuatnya berakar, tak bisa dipisahkan semudah dan
segampang itu. Dia muncul sebagai mitos di berbagai tempat. Kalau dilacak, ada
keterhubungan manusia dengan alam. Bahasan arketipe, di dalam pikiran kita ada
dunia sendiri, alam bawah sadar. Ada tokoh-tokoh, ada makhluk-makhluknya, ada
sosok ayah, ibu, raja, dunia seperti itu orang strukturnya sama. Kita
mendambakan sosok ayah, sosok penyihir, di pihak manusia strukturnya sama. Yang
jahat selalu penyihir, karena “cetakan” di otak kita, dia menakutkan, sementara
Bapak melindungi. Di mana arketipe, default ini berinteraksi. Hubungan
manusia dan alam ini masuk arketipe, meskipun dibunuh dengan modernisasi. Dia
tak bisa dibunuh dan berakhir menjadi mitos.
Sulkhan menambahkan, arketipe mirip idea, sebelum buat
kursi ada kursi di kepala kita. Dari idea-nya Plato, di pemikiran Jung,
arketipe lebih powerful dari itu. Tak hanya ide, tapi juga bisa
berinteraksi dengan dunia kita. Sumber penampakan makhluk gaib.
Apakah arketipe dari pemikiran kita, hanya kita yang
bisa merasakan? Bisa dibilang begitu, tapi bukan halusinasi, tapi cetakan utama
di manusia. Ini diisi oleh mitologi, warnanya jadi berbeda-beda. Belakangan,
Akbar menambahkan, kalau teman-teman semua mengikuti Instagram @gen_alfarizi,
ada kakak beradik ke tempat-tempat angker, dan mereka bilang, di lokasi itu gak
ada apa-apa. Ada patung menari sendiri, dan mereka membuktikan itu tak ada. Gen
Alfarizi menyimpulkan, hal-hal yang dianggap mistis, yang dianggap sebagai
mistis, itu berasal dari alam pikiran sendiri. Mereka menafsirkan apa yang
dipikirkan, tandanya begini dan begini. Dan itu dibicarakan secara logis.
Sebenarnya hantu-hantu ini tak ada.
Dari segi saintis itu ngaruh banget, sensitivitas
lebih tinggi. Timbul rekaan-rekaan tadi, itu tervisualisasi jadi hantu, yang
itu bisa muncul sendiri. Misal di Embung UII ada hantu, misal Nurul kesana tak
ada apa-apa. Mitos-mitos itu semuanya arketipe.
Akbar menjelaskan, arketipe ini semacam Gambaran ide
yang sifatnya universal. Apa benar itu arketipe? Itu Gambaran yang bersifat
universal. Lebih enak disebut cetakan pikiran. Kalau Gen Alfarizi pendekatannya
lebih liberal dan bebas nilai, mereka menjauhkan semua penjelasan lain. Ketika
ide universal ini dipercayai banyak orang, dia bisa mempengaruhi kita balik.
Ini lebih rumit dari itu, ini bagian dari kenyataan. Dia bagian dari kenyataan,
yang bisa diakses oleh kita. Berbeda dengan penafsiran ini hanya produk
pikiran, arketipe ini yang membentuk pikiran kita. Ada teori yang menjelaskan,
secara genetik, otak kita diturunkan, arketipe ini diwariskan turun temurun
sejak manusia pertama. Membentuk cara kita berinteraksi. Bisa gak kita lepas
dari arketipe?
Arketipe bisa bersumber dari generasi sebelum kita.
Misal bentuk kuntilanak begini, genderuwo begini, ini dipercaya dan disepakati
oleh banyak orang. Orang-orang menganggap itu sama. “Benar bisa diwariskan
berarti ya?” Sumber universal bisa datang dari nenek moyang. Walaupun tidak
dituturkan, kenapa kita takut sama hantu pakai baju putih, kenapa itu
menakutkan. Kenapa ada sosok kebapakan kita cenderung mendekat? Meskipun tak
dituturkan secara tradisi, kita akan cenderung mendekat ke yang begini.
Arketipe ini mempengaruhi cara kita berinteraksi. Ketakutan kita sudah kita
miliki sudah sejak dulu.
Ketahanan Sosial
Sulkhan menambahkan, konsep idea Plato,
sifatnya spiritual, dia ada di alam idea. Kita bahkan sebelum ada gambaran
kuda, di pikiran kita sudah ada kuda dulu. Orang-orang konstruktif mungkin
kurang setuju, karena apa yang ada di kepala kita hasil dari konstruksi sosial.
Ngomong struktur, karena dia bertahan, di satu sisi
itu membantu kita untuk mempertahankan ketahanan sosial. Misal di tempat
keramat ada juru kunci, tatanan sosial tetap terpelihara. Kalau di Jawa, ada
satu prestasi tertentu ketika bisa menaklukkan tempat-tempat terlarang. Misal
di Alas Roban, folklore-nya, ini tempat terlarang, kalau kesini nanti
diculik demit. Lalu ada bahurekso yang menaklukan tempat itu, dia
mendirikan perkampungan, jadi semacam kyai atau ketua, raja, pemimpin,
penguasa, tempat-tempat terlarang ini. Kalau kita bisa menggeser, ini ada
prestasi tertentu. Ini yang menurut Sulkhan menarik di pulau Jawa, yang selalu
tentang ekspansi. Di tempat Sulkhan, orang tidak ekspansif tapi kulonuwun,
intinya, menanamkan yang ada di situ. Seakan-akan yang tak bisa kita capai.
Ketika baca karya Joseph Campbell, yang mengembangkan
Jung, mengkhususkan mitos-mitos di dunia. Seperti sastra, cerita itu ada
siklusnya dan strukturnya. Semua mengikuti struktur yang sama. Kata Joseph, itu
tak hanya di dongeng dan sastra, perjalanan manusia juga gitu. Ketika
mempelajari tentang mitos, aku memiripkan harus terbang ke langit. Semacam diri
manusia, juga ada pertanyaan kita di tahap yang mana dalam hidup ini. Dengan
memahami ini, kita dalam arus perjalanan dunia. Dalam sudut pandang yang tinggi,
kita berperan sebagai apa di dunia. Kalau mempelajari mitos, bukan mempelajari
hal primitif, tapi juga cara mempelajari dirinya sendiri. Tujuan akhir, untuk
memahami sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri atau lebih luas dari
dirinya sendiri.
Tafsiran Romantis Keambrukan
Sulkhan menambahkan, orang cultural studies
lebih ke Jung daripada Freud. Ini membantu kita mengidentifikasi diri.
Kemudian, kita dapat banyak hal, tapi mengapa di Kudus ada tugu tak bisa
dilewati, tapi kenapa tetap ziarah kesana? Bahkan ketika itu mengancam, kenapa
mereka tetap mendatangi tempat itu? Karena itu legend, dari
kekuasaannya.
Akbar menanggapi, tafsiran lebih romantis, Gus Dur
sudah tahu akan turun, dia menggunakan itu untuk menimbulkan efek yang lebih
simbolis. Ini jadi legend, jadi lengser, kalau dipikir secara rasional,
masalah lengser itu sistemik. Kelengseran itu jadi simbol, itu yang jadi
pemimpin. Walaupun tahu akan lengser, dia tahu akan dilengserkan, dan dia
karena tahu lengser, di akan lengser dengan gaya. Terbukti nama Gus Dur masih
dikenal, gak cuma di ajaran Islam, sampai sekarang terbukti, Namanya Gus Dur
ini ada di kalangan penghayat. Gus Dur jadi true hero. Ketika bisa
menaklukkan tempat itu dia jadi tawaran. Ada dua sisi meromantisasi keambrukan.
Di satu sisi pendekatan mereka lebih legend dan
citra agung, dibanding tak melakukan spiritual. Tempat mistis jadi peringatan
manusia, untuk membuat fungsi dan makna, di semua tempat hampir sama dan
serupa. Di Banten punya hutan larangan. Hutan itu tak boleh dilarang, hutannya
meninggal. Itu Kembali lagi, ketika penuturan logika tak bisa difasilitasi, itu
bisa untuk melindungi alam. Mitos kebanyakan untuk mencegah kerusakan.
Di Kalimantan, ada artikel di Pontianak tempat
asal-usul kuntilanak, ada cerita orang membangun kota tapi pamalinya jangan menyentuh
hutan itu. Ada sosok perempuan berbaju putih. Pontianak juga dari Ponti+anak
itu. Untuk mencegah agar tak mencegah alam. Kenapa Jawa selalu berhubungan
dengan ekspansi dan negosiasi? Darimana sebenarnya narasi menaklukkan alam dan
spiritual?
Ambang Batas
Akbar merasa, mitos-mitos itu untuk menjaga alam.
Menarik ke yang lain, berbicara ruang, kenapa kemudian banyak tempat-tempat
mistis yang secara struktur dia adalah tempat ambang batas. Yang sering angker2
seperti Pantai, ambang batas daratan dan lautan, lalu kuburan antara yang mati
dan hidup. Juga di jembatan yang menghubungkan antara tempat satu dan lain?
Sulkhan menambahkan, ketika baca ke sepertiga Bermuda,
bertemunya dingin dan panas, tempatnya iblis. Mungkin karena, di referensi
pribadinya, batas itu antara tempat kita dan yang lain yang belum kita ketahui.
Potensi kekuatan yang seperti apa? Ketika di pantai, mungkin akan gentar,
karena kita gak tahu potensi dalamnya seperti apa? Meskipun jaraknya cukup
jauh. Di batas dengan hutan, angker karena tak mengenali struktur itu, kita tak
mengenali itu untuk survive. Ketakutan-ketakutan itu karena kita tak punya kontrol.
Ketika dia familiar, dia sudah mengenal, jadi bisa memastikan itu tak bisa
mengenalinya. Kita tak bisa mengenal tempat itu, setidaknya ekspektasi kita.
Sama juga Ketika, recall pengalaman sekolah, yang banyak mitos
keangkeran. Ketika malam juga angker. Ketika kemah di situ, sekolah malam hari
jadi gak angker lagi. Jadi mengenal itu di malam hari. Hal-hal yang tadinya
hanya diketahui di siang hari, di malam hari mendapatkan itu. Tempat-tempat
yang angker lebih ke reaksi kita pada yang unknown. Pantai yang lebih angker
itu Selatan, tapi Labuan Bajo tidak. Ini menarik juga.
Nurul menambahkan, kalau melewati ambang batas,
merasakan hal biasa karena tak mengenali medan. Karena tak mengenali, jadi
takut. Kita gak tahu apa yang terjadi. Jadi jatuh, ambang batas ada cara kita
menghormati tempat lain, karena tak tahu kondisi yang tak kita kenali, kita
minimal was-was dan jaga diri.
Sulkhan, pas kecil, ada Sungai yang angker banget. Ada
hantu sungai, yang dideskripsikan kepala doang dan rambut saja, tapi bukan
jenglot, dia suka narik anak-anak tenggelam. Tempat itu sangat mengerikan. Kita
termakan hal-hal yang horor. Ketika kemarau sungai itu surut, ternyata tak
sedalam itu. Karena ternyata tempat ini tak sedalam itu. Ini lebih karena
berenang di saat yang tak tepat. Selebihnya aman-aman.
Bahasan berikutnya terkait ambang batas waktu, semisal
saatu surup atau magrib. Sandikala, ada mitos, kalau kamu keluar Magrib, bukan
ke rumah tapi ke hutan, dan bertemu orang dia tinggi besar. Orangtua melarang,
boleh ke masjid tapi jangan main. Setelah dewasa ini, biasa aktivitas sampai
Magrib. Kenapa melarang kita untuk keluar Magrib? Logis dan dampaknya seperti
apa? Sekarang buktinya gak papa kita keluar magrib. Kenapa? Apakah sudah
capek.
Kalau terkait waktu, lebih ke orang sejak dulu itu
takut gelap. Serigala keluar malam. Dalam gelap lebih banyak hal yang susah
kita kenali. Kalau kita ini kan suka lupa waktu, kamu batasnya sampai sini,
waktu ini, dan waktu ini. Orang-orang gak menciptakan sistem itu karena mau
istirahat, bisa mengontrol anak kecil agar tidak aktif. Relatif gak ada ambang
waktu malam ke pagi. Nurul pernah dengar di medsos, setelah jam 12 tidak tidur.
Di tempat KKN, di atas jam 12 gak boleh lewat pohon beringin di antara dua
Sungai. Lalu juga jangan lihat spion. Di atas jam 12 itu.
Rumah Tusuk Sate dan Hantu di Jepang
Pertanyaan berikutnya: Kenapa rumah tusuk sate sering
dianggap angker?
Nurul dapat cerita dari tetangganya, jualan emas,
karena rumahnya di persinggahan pedagangnya jadi bangkrut. Ada faktor apa?
Tusuk sate lebih ke primbon. Ini jenis larangannya. Tusuk sate itu dia tempat
bertemunya unsur dari banyak arah, melting pot. Ketika subjek itu gak
bisa memompa banyak unsur, akhirnya kalah. Ini yang jadi faktor penentu. Dia
juga tempat ramai, juga bukan.
Sulkhan lalu bercerita terkait video documenter di
Netflix, hantu pasca-tsunami di Jepang, UFO, pembunuhan, penampakan hantu
setelah tsunami. Jepang itu dibahas dari kajian trauma atau post-trauma. Dikaitkan
dengan tata ruang, banyak orang yang berpindah rumah. Hantu itu nyasar, dan
hantu itu tak mengenali ruang geografisnya. Sama kayak Merapi, banyak kampung
harus pindah. Dari narasumber, psikologi, sebagai semacam trauma dan merespons
perubahan ruang.
Mitos itu lama dan berkembang juga, cerita begini juga
lama. Zaman dulu misal di kasus Bokir, naik delman, film-film Suzana, pas ada
adegan Bokir bawa delman, dicegat Perempuan, tahu-tahu hilang. Jalan Di Atas
Pangeran, Sumedang, jalannya membelah. Sopir-sopir didatangi Perempuan. Hantu
itu belum tahu, rumahnya hilang.
Ada medium teknologi-teknologi terbaru. Dia bisa
membonceng orang, kalau hantu seperti itu. Bagaimana hantu beradaptasi dengan
teknologi. Tsunami menghancurkan ruang, trauma kolektif di Indonesia lalu yang
seperti apa terkait perpindahan tata ruang ini? Akan dijawab di malam Jumat
Kliwon berikutnya tanggal 26 Juni 2025, dengan tema: “Hantu, Ruang, dan
Teknologi”.
***
Catatan dari Nurul Diva Kausar:
Rangkuman hari ini:
Isma: fenomena tempat terlarang telah lama
menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat di berbagai daerah. Tempat-tempat
ini biasanya dianggap sakral, dikeramatkan, dan dikaitkan dengan tokoh-tokoh
besar seperti raja, orang suci, atau leluhur yang memiliki kekuatan spiritual
tinggi.
Di Cepu, misalnya, masyarakat meyakini
adanya larangan untuk naik ke Gunung Lawu. Mitos di sana menyebutkan bahwa
siapa pun orang Cepu yang naik ke sana akan tersesat atau meninggal.
Kepercayaan ini diyakini berasal dari sumpah Prabu Brawijaya V yang konon
mengasingkan diri ke Lawu dan pernah berperang dengan Adipati Cepu. Dalam mitos
itu, sumpah sang raja menyatakan bahwa keturunan atau warga Cepu yang naik ke
Lawu akan binasa.
Kemudian, di Cepu juga ada legenda Gagak Rimang,
kuda hitam milik Arya Penangsang. Patung kuda ini ada di dekat Taman 1000
Lampu, dengan salah satu kakinya diangkat seolah siap berlari. Konon, kuda ini
memiliki kekuatan magis (bisa berjalan sendiri). Senjata Arya Penangsang yang
disebut-sebut menancap di pahanya juga menjadi bagian dari mitos lokal (Cepu:
nancep ning pupu). Kisah ini membentuk sugesti kolektif masyarakat. Ketika
dipercaya secara turun-temurun, mitos bisa membentuk kesadaran hingga dijadikan
sebagai daya tarik spiritual.
Pendekatan Psikologi
Akbar: dari sudut pandang psikologi, hampir
semua daerah memiliki mitos serupa. Namun, penerimaannya berbeda. Di Yogyakarta
atau Jawa misalnya, mitos menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sementara
di Kalimantan, kepercayaan seperti itu tidak terlalu mengakar. Misalnya, ada
kepercayaan bahwa siapa yang meminum air Sungai Mahakam akan kembali ke sana
(lepas begitu saja). Ini, jadi sebuah bentuk mitos yang berfungsi menyatukan
manusia dengan alam.
Menurut, Carl Gustav Jung. Hal ini bisa
dijelaskan lewat konsep “arketipe” yang merupakan gambaran simbolik di alam
bawah sadar manusia dan terus muncul dalam bentuk tokoh-tokoh mitos seperti
raja, orang sakti, atau Nyi Roro Kidul. Kehadiran mitos seperti Nyi Roro Kidul
dianggap sebagai perwujudan kesadaran universal di kalangan masyarakat.
Akibatnya, legenda ini seolah menjadi nyata dan mempengaruhi perilaku sosial,
termasuk pengalaman mistis hingga berwujud (penampakan).
Pergeseran Makna Alam dan Spiritual
Sulkhan: Fenomena pergeseran makna antara
yang sakral dan yang profan juga tercermin di berbagai wilayah dunia. Di
Skandinavia, kekuatan alam dulunya dianggap suci. Namun saat agama Kristen
masuk, kesakralan berpindah ke simbol-simbol keagamaan (gereja, kitab, altar).
Alam pun dianggap tidak lagi memiliki kekuatan. Kondisi ini menyebabkan
keterasingan masyarakat dari alam, yang kini hanya dianggap entitas profan.
Hal serupa juga terjadi di Jawa. Meskipun
Islam (misi puritan) masuk, tradisi seperti sesajen dan penghormatan terhadap
alam tetap bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa misi religius tidak sepenuhnya
menghapus sistem kepercayaan (animisme) yang telah mengakar.
Mitos, Kematian, dan Kelas Sosial
Isma: ada juga cerita dari Toraja, di mana
terdapat tradisi memakamkan jenazah di pohon tarra yang menggambarkan kelas
sosial dalam kematian. Jika seseorang meninggal di tempat jauh dan tidak bisa
dibawa ke pemakaman, keluarga memanggil dukun untuk memanggil arwah, agar
jenazah berjalan sendiri ke pohon tempat dikuburkan. Namun, nama almarhum tak
boleh disebut karena bisa menyebabkan rohnya hilang hingga mayat tersebut jatuh
dan tidak bisa kembali berjalan. Tradisi ini juga menunjukkan bahwa alam (pohon
tarra) dijadikan medium spiritual.
Ambang Batas dan Kekuasaan
Sulkhan: tempat terlarang biasanya diasosiasikan
dengan ambang batas atau wilayah yang tidak bisa diprediksi dan berpotensi
membahayakan. Ambang batas adalah, kondisi transisi saat manusia tidak bisa
mengendalikan situasi secara rasional, lalu menyerah pada kekuatan spiritual. Bagaimana
pemimpin zaman dahulu seperti Gus Dur pernah mendatangi tempat yang dipercaya
membawa kutukan, seperti Menara Kudus. Meskipun konon orang yang melewati
tempat itu akan luntur, Gus Dur tetap melintasinya. Tindakan ini bisa dibaca
sebagai strategi untuk menantang mitos dan menunjukkan bahwa dirinya memiliki
“ilmu lebih”, yang secara politis dapat meningkatkan kharisma dan daya jual
sebagai tokoh publik.
Isma: mitos sering dikemas dalam sastra dan
digunakan sebagai medium untuk menarik wisatawan atau peneliti budaya. Di
Malang, terdapat kisah Eyang Sapu Jagad yang diyakini mampu menyembuhkan
penyakit. Tempat ini dikunjungi oleh dua jenis pengunjung.
a. Pilgrimis - mereka yang memiliki tujuan spiritual atau harapan tertentu.
b. Generalis - tidak punya ketertarikan tempat atau mitos dan hanya datang untuk sekedar berkunjung.
Pengalaman spiritual di tempat ini menggambarkan
hasrat manusia untuk mencari sesuatu yang lebih dari bayangannya.
Perjalanan Mitos dan Diri
Akbar: konsep perjalanan pahlawan seperti
dalam teori hero’s journey, Joseph Campbell menunjukkan bahwa mitos adalah
cermin dari perjalanan manusia. Dengan memahami mitos, manusia juga memahami
posisi dan makna hidupnya dalam dunia yang lebih luas. Mitos adalah cara
manusia merefleksikan diri dalam dunia.
Sulkhan: mitos bukan hanya cerita
turun-temurun, tetapi juga instrumen untuk membentuk identitas, memperkuat
kekuasaan, dan menyatukan masyarakat. Di tangan pemimpin atau tokoh spiritual,
mitos bisa menjadi alat politik maupun simbol kekuatan spiritual. Ketika mitos
berhasil ditaklukkan, orang yang melakukannya akan dianggap memiliki
keistimewaan, baik sebagai kiai, tetua, maupun tokoh sakral sehingga keduanya
bertaut dalam kesadaran kolektif manusia.