Senin, 26 Mei 2025

Kuliah Umum Robertus Robet: Buku, Politik, dan Gejala Antiintelektualisme

Kuliah umum dalam rangka perayaan 20 tahun Marjin Kiri diisi dengan pembahasan terkait "Buku, Politik, dan Gejala Antiintelektualisme" oleh Robertus Robet (Dosen, Sosiolog, & Aktivis HAM dan Demokrasi). Kuliah umum dilaksanakan di Gudkul Ekosistem, Jakarta Selatan, Sabtu, 24 Mei 2025.

Robet membukanya dengan sebuah joke: Malam Minggu ada kuliah umum dan banyak yang datang ini hebat. Ini tanda-tanda bagus. Ronny Agustinus sebenarnya meminta Rocky Gerung, tapi dia gak bisa, lalu dirinya yang bicara. Tema ini datang dari Ronny. Dan banyak yang Robet kenal datang.

Soal antiintelektualisme di Indonesia punya sejarah yang panjang. Isu yang besar ada di dalam, dia ada by default. Di mana pangkalnya? Bisa didiskusikan. Dalam sejarah politik nasionalisme, antiintelektualisme itu by default. Di sini ada pergulatan politik dan ideologi yang kompleks. Di Indonesia ini sekarang, discourse intelektual dibebani stigma ideologi. Dia juga elitis dan dikaitkan dengan liberalisme. Dia bukan sekedar antiintelektualisme itu malas baca, nulis, ke perpustakaan, bukan, tapi sikap politik.

Robet menyampaikan gagasan dari pemikir AS, Richard Hofstadter dalam buku "Anti-intellectualism in American Life", juga buku tentang pidato perubahan di AS, bertanya pada gosth writer. Gagasan mereka juga relevan dengan problem di Indonesia. Antiintelektualisme punya sejarah panjang, dia tumbuh dari puritanisme. Itu dapat ditelusuri di New England, dan menunjukkan kecurigaan yang bisa menyesatkan iman. Antiintelektualisme selalu berkaitan dengan agama, bahkan yang tumbuh di kampus. Seorang akademisi yang pangkat tinggi, gak serta merta dia intelek. Ada perubahan akademisi terutama di AS, yang menyematkan nilai tinggi daripada pengalaman langsung. 

Faktor kedua, Hofstadter melihat pengalaman dari Jackson, Jacksonian demokrasi. Di era itu tumbuh kultus orang biasa. Perlawanan pada elitisme, dengan slogannya "man of the people". Mencurigai orang yang berpendidikan. Mereka bilang pengalaman lebih berharga daripada teori. Antiintelektualisme tumbuh karena pandangan populis tentang demokrasi. Dikontraskan dengan man of the people. Tahun 2014, dalam diakursus politik populis di Indonesia ramai bahwa "Jokowi adalah kita." Model konstruksinya seperti itu. Ini bisa kelihatan, buat apa partai politik? Ini retorik populis, ada antiintelektualisme. 

Ada pandangan berpikir kompleks itu sia-sia, yang penting kerja-kerja. Di balik antiintelektualisme selalu ada anti-elitisme. Robert mencontohkan sosok Mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Hoegeng Iman Santoso, orang yang sederhana dan bersih, tapi sekaligus memelihara elitisme. Ada elitisme dalam kebudayaan. Dia punya selera sendiri, dansa-dansi, tapi sebagai warga biasa dia sederhana. 

Faktor ketiga, fundamentalisme agama. Juga contoh menggila, buruh diadili karena mengajarkan Darwinisme. Yang mengatakan kita punya hak menentang ilmu yang menentang Tuhan.

Faktor keempat, perang dingin dan kecenderungan pada aktivis kiri. Antiintelektualisme itu anti-kiri, yang paling dihancurkan intelektual kiri. Secara konkrit dihantam intelektual kiri dan liberalisme. Kaum liberal dan kaum kiri selalu ada di forum terdepan. Dalam filsafat Jerman, Carl Schmitt (teologis politis), dia mengambil metafora dari kisah bible. Jadilah terang. Dia membelah virtue dan fortuna. Schmitt itu bilang, liberal paling payah dan gak selesai-selesai dalam pengambilan keputusan, gak bisa seseorang berpolitik dengan cara liberal. Dia menolak pertukaran diskursif. Namun dalam kenyataannya, mereka lebih benci pada kaum kiri.

Post-truth ini tenar di negara yang demokrasinya belum mapan. Ini ditulis filosof Italia, dalam konteks populer, dia mencemooh sains, dan dialah akal sehat dan rakyat. Karakter antiintelektualisme itu man of the people, dia terus menempelkan simplifikasi. Ciri khas, ditandai populisme, meremehkan intelektual, bersandar pada agama, nasionalisme, dll. Kalau dilihat struktur antiintelektualisme di AS, ini tak jauh beda dengan Indonesia.

Berikutnya, Robet membahas terkait gagasan Russell Jacoby, kematian intelektual di era kontemporer dalam buku "The Last Intellectuals: American Culture In The Age Of Academe". Jacoby nulis tahun 87. Struktur antiintelektualisme, dia nulis the last intellectual, dia membagi dua. Di awal bukunya, dia mengilustrasikan perbincangan publik di Barat. Dia melihat Prancis, mengungkap hal vulgar di TV. Akademik berubah aneh. Muncul pakar-pakar, tapi campur gak karuan. Selebriti slides show juga marak. Ada gejala lain, kaum intelektual terserap dalam birokrasi kampus: staf, borang, absen, sibuk balas WA mahasiswa. Kehidupan kampus yang terbirokrasi, dari intelektual publik jadi dosen. Berikutnya dosen-dosen sibuk nulis jurnal. Namun kata Robet dosen sekarang gak mau nulis di Prisma karena dia bukan Scopus, gak bisa dijadikan KUM. Sayang waktunya nulis bagus diterbitkan di Prisma.

Dosen sibuk, setiap tahun menghasilkan tulisan di jurnal. Bukan berarti nulis jurnal jelek, tapi dia menggeser dari intelektual publik jadi birokrasi kampus. Dia nulis jurnal bukan dari penelitian yang serius. Ini yang mengubah karakter intelektual di AS, perubahan di dalam ruang. Robet menceritakan, dulu kaum intelektual banyak hidup bersama kelompok progresif di kota. Lalu kampus dipindah di luar kota. Berubah lanskapnya. Ini gerakan progresif lebih susah. Misal UI diletakkan di Depok, susah demonya. Perubahan ruang juga mempengaruhi karakter dari intelektual publik jadi akademisi biasa. Tinggal di Depok adem, lalu apalagi? Beruntung kampus sekarang mengkota. Ini peluang tumbuh cukup besar.

Ini yang dikatakan Jacoby, ada keterputusan antara ilmu dan publik. Kurang pemikir independen yang menjembatani teori dan kenyataan. Juga bagaimana kapitalisme berjalan. Buku berat diganti bestseller. Di budaya yang dikendalikan pasar.

Antiintelektualisme juga ada di Indonesia di tengah Scopus dan Garuda. Krisis intelektual bukan masalah individu tapi ekopol yang tak ramah. Ada perubahan dalam struktur kapitalisme kontemporer. Di Indonesia ada paradoks, Soekarno, Hatta, Syahrir, itu intelektual. Sampai era Soekarno, pemimpin politik ya intelektual, dia satu kesatuan. Intelektual pasti berpolitik. Walaupun di masa Orde Lama, Soekarno sendiri yang membunuh intelektual, anti pemikiran barat, anti ini itu, dekrit presiden seumur hidup.

Lalu tahun 65 antiintelektualisme tumbuh dengan keras. Di sini negara menjadikan intelektual jadi tantangan ideologis. Ketika Orde Baru membangun dirinya, yang dilakukan adalah budaya publik. Dosen di Orla, ada mono loyalitas kepada Golkar. Dilawan pandangan tentang negara yang lebih liberal. Misal ASN tidak berpolitik itu sebenarnya perintah politik. Padahal tidak mungkin apolitis, misal sterilisasi kampus dari politik ini tidak mungkin. Kita dengan sudut pandang ideologi politik tertentu, ada agensi politik yang lain. Empirik dengan kampus, dia selalu mengambil tempat di politik. Di zaman Soeharto, yang anti Soeharto juga sedikit. Sedikit orang yang percaya Soeharto jatuh. Sekalipun pemikiran alternatif, tidak tumbuh dari kampus. Antipati enggak, tapi ngambil jarak. Dulu itu begitu nyari udah kiri, sekarang musuh siapa?

Yang membuat berubah adalah digital. Buku berakhirnya kepakaran, membuat Profesor Fisika top bisa balas-balasan dengan fans Dedi Mulyadi. Meskipun di kasus viralnya sekarang, Dedi awalnya prihatin, tapi lihat dulu daerah dia keluarga miskinnya berapa? Bandingkan dengan populasi, lalu dicek, mengaitkan kemiskinan dengan kesenangan orang. Masak negara mau ngurusin indung telur dan sperma orang.

Robet menekankan ulang, antiintelektualisme bukan tentang jumlah doktor, professor, tapi tak serta merta intelektual muncul. Akademisi steril menunjukkan gejala antiintelektualisme. Dia bukan perkara personal. Kalau melihat struktur antiintelektualisme, bisa dilihat dari politisasi agama, antifeminisme, kebudayaan media sosial, algoritma platform, dengan judul depan yang click bait. Udah diramalkan Sigmund Bowman, "orang kekurangan keterampilan reflektif". Tak dimainkan oleh logika matang. 

Bagaimana jalan keluarnya? 

  1. Menghidupkan tradisi intelektual publik. Menjembatani ilmu dan persoalan kehidupan. 
  2. Intelektualisme tumbuh di ruang yang sehat. Tahun 90 banyak kelompok diskusi di kampus. Didiskusikan di pinggir gang, tapi itu ciri intelektualisme tumbuh di kampus. Di UI di sekitar Margondaraya; di Rawamangun, pengajian penting juga, tapi diskusi juga penting. Diskusikan apa yang jadi basis aksi. Dulu ada Didaktika, ada diskusi, jangan remehkan diskusi kecil di kampus. Tahun 98, yang mimpin aksi itu kelompok diskusi dan studi. Ditambah organ-organ kampus. Organ kecil yang sifatnya informal jangan diremehkan. Ini penting untuk dipelihara, meski norak dengan definisi kacau balau. Atau bukunya fotokopian, tapi baca Kapitalisme Pinggiran udah bangga. Atau paling gak, baca Dawam Rahardjo. Dulu diktat membuat orang dipenjara. Jangan remehkan diktat, dan studi intelektual. Ini punya peran besar "Kelompok Studi".
  3. Membentuk ekosistem pemikiran kritis.

***

Usai kuliah umum Robertus Robet, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ronny Agustinus. Perjuangan melawan antiintelektualisme emang gak mudah. Marjin Kiri salah satu pahlawannya, bukunya emang spesifik, tapi kritis; tadi salah satu editornya dengan pede mengatakan, "Pembaca Marjin Kiri adalah orang-orang yang cerdas." Yah, congratulations buat Marjin Kiri. Oh ya satu lagi, tadi salah satu editornya bilang, mereka lagi hunting penulis perempuan Indonesia.

Ngobrol Buku "Politik Jatah Preman" oleh Ian Wilson

Marjin Kiri merayakan 20 tahun usianya dengan menggelar bincang buku bertajuk "Politik Jatah Preman" di Gudskul Ekosistem, Jakarta Selatan, Sabtu, 24 Mei 2025. Acara ini mendatangkan penulisnya secara langsung, Dr. Ian D Wilson yang juga dosen senior Politik Internasional dan peneliti utama di Indo-Pacific Research Centre, Murdoch University. Acara dimoderatori oleh Penulis dan Pengajar teori sosial, budaya, dan politik Maulida Sri Handayani. 

Ian Wilson menjelaskan, yang terjadi setelah 98, ada fragmentasi organisasi hingga demontrasi. Politik di jalan sangat penting. Mereka yang bisa mengendalikan massa itu yang cukup diinginkan, terutama oleh politisi. Dulu euforia demokrasi menuntut banyak hal, karena dianggap memecah belah. Setelah 98, banyak Ormas muncul untuk menuntut banyak hal.

Yang menarik ada Ormas Betawi, yang tak terfasilitasi oleh Parpol. Dari dulu Ormas jadi broker antara politikus, parpol, dan masyarakat. Dinamika setelah 98 ini terfragmentasi. Ada sentimen mereka tak dapat untung, mereka punya hak menuntut atas itu. "Kami warga asli sini, kami punya hak atas pekerjaan," katanya.

Ini bentuk pemaksaan. Pemilu sebagai proses ada kontestasi untuk menuntut perubahan. Pada awal 98, demokrasi ada, tapi banyak kekerasan. Ada kontestasi juga, tentang hal atau berbagai kelompok: FBR, FPI, Bamus Betawi, dll.

Di Bamus Betawi memang kalangan lower class, yang menarik bagaimana kita bisa menuntut kebaikan. Ormas adalah bentuk untuk menuntut seperti pekerjaan, hak atas wilayah, dan dinamika politik sangat kental. Masyarakat termarjinalisasi berperan.

Juga ada cara baru bagaimana politisi memanfaatkan Ormas. Ormas jadi broker. Misal penelitian di Cakung, 2005-2006, ada kekerasan Ormas Betawi dan Madura. Ada imigran baru, ruang untuk bisa berdagang.

Premanisme juga bisa disebut transaksionalisme. Siapa pun bisa deal dengan siapa pun. Di Indonesia tak ada yang kuat di politik, yang ada transaksionalisme. Yang menarik, selalu Ormas dilirik saat Pemilu, tapi upaya memenangkan suara tak begitu. Yang disebut dengan premanisme tak begitu berhasil. Ini bisa jadi modal politik, tapi mereka confused.

Tapi kenapa dia selalu dibutuhkan premanisme itu? Jawabannya dalam konteks transaksionalisme. Ada modal sosial, deal, untuk bantu meraih kekuasaan. Mereka tidak terbungkus parpol, tapi pengaruh di mana-mana. Logikanya logika preman. Logika atau strategi politik yang lain. Ini juga menggoyang relasi-relasi yang didirikan, tapi ini di konteks yang cukup teratur. Di tingkat politik elite, mereka bilang itu, "benalu" dan menimbulkan potensi konflik, padahal mereka sudah tahu.

Misal kasus Hercules dari Timor Timur, keluarga dia meninggal, dia diangkat jadi perangkat pembantu tentara. Dia dekat dengan militer dan dekat dengan Prabowo. Dia dibawa ke Jakarta, dia ikut di Tanah Abang, dia juga punya relasi dekat dengan tentara. Ini menjadi modal politik dan punya gank dan jaringan yang cukup kuat. Dia menguasai Tanah Abang karena ada backing dari tentara, karena gak mau ada yang mau konflik dengan tentara. Menjaga masyarakat atas nama keamanan.

Bagaimana dengan rezim Prabowo yang diisi oleh militer? Di sisi lain jelas ada keuntungan dekat dengan Prabowo.

Bicara soal Ormas, ada pola yang sama, pemilkiran politik Hercules mencerminkan gaya premanisme. Dia begitu loyal terhadap yang menjadi presiden, tapi dia juga berkorban, beberapa kali dipenjara, tapi Prabowo tak intervensi. Ini cukup unik karena silent politic agak jarang. Semua organisasi yang ada relasi dengan kekuasaan formal, mereka lebih berpengaruh. Ini juga proses, deal yang paling wah. Ketika dekat dengan konstelasi kekuasaan formal, ada pula yang berpindah-pindah. Movement selalu identik dengan kekuasaan.

FPI dan Ormas Islamis agak beda, FPI punya konsep pembelaan Islam yang bertentangan dengan negara. Mereka bisa exist begitu lama, tapi karena masih berguna bisa jadi anggota. Ketika jadi gerakan independen, setelah 212, ini cukup cepat. Ormas tidak cuma mengarahkan diri ke status quo. Sementara, Ormas seperti Pemuda Pancasila bukan bertentangan dengan status quo.

QnA:

Rasyi: Ingatan buku Ian udah agak kabur. Tapi seingatnya, kerangka analisis soal negara menjalankan ketertiban itu absen, negara juga menjadi preman lewat tax. Apakah benar, di saat premanisme itu didefinisikan sebagai masalah, apakah ini tindakan benar? Kekosongan keamanan ini apakah untuk yang menjembatani adanya premanisme? Mengalihkan masalah dalam bentuk premanisme dengan menguatkan militer (polisi)?

Ian: Dalam konteks Indonesia, dan dinamikanya, proses formasi negara tidak sama dengan monopolisasi negara pada rakyat. Negara tantangannya, bagaimana mengatur hal tersebut, untuk mendisiplinkan dan menjaga relasi. Kembali ke Petrus, yang terjadi mendirikan sistem siskampling yang melembagakan sistem keamanan. Lalu ada gale-gale dan centeng, yang menarik, jika melihat konsep menguatkan negara itu seperti bertentangan. Seperti satpam, ini posisi menarik. Mereka bukan private tapi juga bukan formal. Ini jadi pola-pola yang ada di Indonesia. Ini bukan hanya penegakkan hukum, tapi juga menjaga relasi. Bersekutu dengan Ormas dan preman, ini bagian dari konsep keamanan. Ada kontestasi konsep keamanan itu seperti apa. Rasio polisi ini juga rendah. Mereka mengkontrak perampok, untuk mengatur keamanan. Ini bisa jadi obrolan democratic discussion.

Sapta: Apakah hubungan preman dengan elite politik selalu didasari suka sama suka dan loyalitas? Atau salah satu pihak gak sadar, dia telah dimanfaatkan. Misal penelitian Pak Noorhaidi Hasan, gerakan laskar jihad yang dimanfaatkan dan menjauhi elite politik, tapi makin besar. Lalu di Poso menambah kepanikan. Apa ini terjadi juga di preman yang Pak Wilson teliti?

Ian: Laskar jihad kalau disebut preman tak tepat, karena unsur ideologi ada. Juga ada relasi kontestasi politik. Ini jadi tangan ketiga dalam kontestasi politik, yang paling terkenal itu FPI. Ini ada peran untuk mengalihkan tensi sosial ke hal tertentu dalam framing primordial. Meskipun Ormas anggota dari kelas bawah, framing selalu pro status quo. Sentimen yang bisa diideologisasi setelah 65 dianggap sudah selesai. Sebagai masyarakat yang besar, Ormas punya peran untuk kooptasi.

Pak Fadloli El Muhir, pendiri Forum Betawi Rempug (FBR) pernah menyatakan kebanyakan working class untuk ganggu serikat buruh, jawaban tak memuaskan. Logika dasarnya, mendukung status quo dan transaksional. Sama dengan FPI, tahun 2010-an makin besar, sengaja masuk daerah di pinggiran Jakarta. Ada tatanan industri baru. Mereka punya keluhan yang sama karena dibayar murah, tapi sentimen ini entah kenapa bisa dikaitkan dengan kristenisasi. Ormas dalam kerangka oposisional ini tidak ada.

Fiska: Partai politik pasti ada ormasnya, misal partai besar Gerindra dan PDI bersifat seperti preman juga (paramiliter), partai baru seperti PSI dan buruh belum kelihatan. Apakah itu bentuknya akan berubah?

Ian: Kalau Satgas pascareformasi itu besar, bisa dianggap semimilter. Ini menjadi liability dan berkompetisi secara elektoral, dan tetap harus meraih suara. PSI logikanya beralih ke patron. Kalau buat poin optimistis, ini bisa terjadi di medsosnya, misal Gerindra menjawab mereka preman dengan tertawa. Mereka merasa tak bisa memaksa anak-anak muda. Ini tetap jadi tantangan dan dinamikanya makin kompleks. Setiap Ormas selalu punya sejarah yang sama. Ian bertemu Habib Rizieq, yang menyebut FPI terlalu besar, tapi ada pihak yang mendongkel. Mereka buat security sendiri. Mereka juga sadar harus menjaga citra.

Bonnie: Dia merasakan menjadi mahasiswa ketika masih Orba. Kasus Petrus kelihatan sekali dan ada keluarga yang kena, salah satu korban itu bertato. Lalu Moerdani bilang itu perang antar gank, tapi itu dekat pemilu. Menggunakan mereka, ditanya detail. Ketika Golkar menang, dijalankan. Soeharto mengakui itu sebagai terapi. Mereka digunakan untuk memenangkan rakyat dan juga terapi.

Ian: Benar itu Soeharto bilang sebagai shocked terapi, untuk menyingkirkan pihak yang mengganggu. Lalu ada kasus antipreman, selalu menghasilkan peningkatan keanggotaan Ormas. Ada dinamika mendisiplinkan ini, dinamika ini bukan menghapuskan tapi mendisiplinkan. Di politik sekarang digunakan ekses-ekses untuk mempersempit ruang berorganisasi. Bagaimana premanisme bisa digunakan untuk menyerang.

Ilmiah tapi Asyik! Transformasi Naskah Akademik ke Populer

Perayaan 20 Tahun Marjin Kiri mengadakan lokakarya bertajuk "Ilmiah tapi Asyik! Transformasi Naskah Akademik ke Populer". Lokakarya ini mendatangkan narasumber Pradewi Tri Chatami (Editor dan Penerjemah) dan Muhammad Iqbal (Editor dan Penulis). Lokakarya dilaksanakan di Gudskul Ekosistem, Sabtu, 24 Mei 2025. 

Moderator Mia Fiona mengatakan, lokakarya ini bukan hal yang sangat serius. Ketika bertanya, nama, asal, menulis apa. Kita ingin tahu bagaimana cara mentransmisi buku yang ilmiah dan sangat scholar. Tantangan bagaimana ini bisa mudah dibaca. Diskusi ini ingin membongkar bagaimana dia bisa mengolah yang ilmiah jadi mudah dipahami.

Muhammad Iqbal membuka dengan pengalamannya. Buku nonfiksi yang dia edit bukan berarti yang terjemahan lebih baik dari disertasi atau tesis. Seperti kata Ibu, menanam itu butuh waktu. Mengedit itu kesenangan yang bisa dinikmati. Pengalaman dia pernah ngedit, skripsi sejarah, temuan baru, isinya juga bagus, tapi skripsi sangat baku formatnya. Misal skripsi terkait rambut gondrong, ini diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Pertama dia scanning cara nulisnya itu seperti apa. Secara umum penulis Indonesia, dia punya basic pernah membaca fiksi. Dia punya kemampuan mengungkap lebih dari sekedar skripsi. Juga dia punya keterkaitan dengan isu penerbitan. Ketika Nyoto diedit (karya Patrick), untungnya Marjin Kiri nyetok arsip tentang Nyoto. Ketika dicek baik yang pro dan kontra, lalu referensi internet, kemudian editor mengecek bagaimana tafsir penulis buku? Untuk naskah terjemahan, Iqbal mengundurkan diri kalau ada ikatan emosional dengannya. Misal tentang buku Tania Li, karena Iqbal orang Kalimantan.

Menurutnya, baik fiksi maupun nonfiksi perlu pengecekan yang teliti, sekalipun itu catatan kaki. Misal ada penulis, dia nulis tentang Ormas di Makassar, kalau data gak detail, yang tersorot editornya. Dia salah menyebut nama Ormas. Ada juga kasus, menulis tesis diterjemahkan ke Indonesia, dia mengecek edisi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. "Keakuratan itu penting banget," katanya.

Ketika proses membaca juga memosisikan sebagai editor dan penerjemah. Sedetail-detailnya orang juga bisa keliru. Kesenangan menyunting buku itu ketika menulis buku perempuan. Ini berusaha maksimal untuk menemukan penulis perempuan Indonesia. Baik skripsi, tesis, disertasi, kadarnya bukan ilmiah, tapi bisa juga bentuk lain.

Juga buku terkait Sunda itu diedit bertahun-tahun. Sumber primer yang dipakai bahasa Sunda. Walau bagaimana pun harus dicek. Apalagi Iqbal orang Kalimantan. Ini akan membahagiakan kalau keluar penerbit, juga sangat senang kalau ketemu pembaca yang menyenangkan.

Mia (moderator) menambah, di Marjin Kiri, sebelum masuk ke editor, sama Ronny Agustinus juga akan diseleksi. Marjin Kiri juga banyak menolak naskah, sehingga editor lebih bebas bergerak.

Pradewi Tri Chatami (TC) melanjutkan, ngedit di Marjin Kiri lebih banyak di fiksi. Ngedit naskah akademik itu tujuannya untuk melaporkan. Ketika jadi buku, peneliti mau bercerita ini risetnya tentang "apa". Bagaimana laporan ini menjadi cerita. Bagaimana laporan yang sudah memahami isinya diturunkan ke khalayak yang lebih luas. Kalau ngedit fiksi, ditanya kamu baca apa? Di non-fiksi lebih enak, karena bisa dicek di daftar isi, meski editor belum membaca semua. Ketika merasa riset mereka kurang, ada dialog juga sama mereka.

Bisa jadi, skripsi bagus, tapi mereka mengubah dan memperbaharui. Kadang orang di akademia sangat fleksibel dengan penemuan dan pembacaan yang baru. TC beruntung bekerja di Marjin Kiri karena tidak ada naskah yang jelek. Pekerjaan dia diibaratkannya seperti stylish, ini sudah ada model, tinggal dipoles. Beberapa bahasa diubah, kalau terjemahan masih diterjemahkan dengan bahasa asing. Peneliti Indonesia karena banyak baca bahasa Inggris, logikanya banyak yang kebawa juga. Lalu dilempar ke proofreading dan copy editing.

TC juga mengalami dialognya Vincent (buku "Metode Jakarta"), dialog pakai bahasa Indonesia, karena transkripnya tidak ada. Ada pula buku yang banyak pakai terjemahan Alkitab. Ini lebih banyak ke penyesuaian, bahasa pelaporan dan penceritaan beda. Tantangan lebih ke "shifting".

Mia menambah, ilmiah itu informing ke academic people. Ketika diterjemahkan ke publik, shifting-nya yang susah. Bisa jadi tertarik, gak tahu, hingga tidak tertarik. Misal orang gak tahu kalau sawit itu tidak baik-baik saja. Mia bertanya tentang pentingnya story telling. Penulis Marjin Kiri itu kelebihan juga pembaca fiksi. Bagaimana applying fiksi ini? Dalam pengeditan dan penerbitan.

Iqbal menjawab, dia merasa beruntung. Ketika ngedit naskah, dia punya insting. Keberuntungan sebagai editor, penulis biasanya sudah punya keterampilan yang baik, editor hanya mengecek. Sejauh ini hampir 10 tahun di Marjin Kiri menarik. Kalau udah masuk Marjin Kiri, dia adalah pemamah fiksi. "Yang masuk kurasi kita seperti itu," ujarnya. Penulis Indonesia bukan berarti tak bagus. Story telling ini menjadi kekuatan.

Sesi Tanya - Jawab:

Daniel bertanya, ingin mengirimkan naskah terjemahan. Suka baca buku Antropologi dan Etnografi yang perlu dibaca. Dia nerima langsung dari penulisnya atau terjemahan dari Indonesia?

TC menjawab, problem pertama ada di rights-nya. Jika rights tidak beres meski buku bagus, kita gak bisa mencuri. Kalau rights murah, Marjin Kiri bisa menerbitkan. Kadang perlu kontak ke penulis langsung, untuk bantu nego. Apalagi fiksi, agensi memikirkan harga rights, mereka tak tahu literasi Indonesia masih jelek.

Iqbal menambahkan, selama penulis bisa dikontak, penerjemah yang mengkontak penulisnya dulu. Tania Li juga orang yang detail, apalagi mereka bisa bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Marjin Kiri punya base line topik yang perlu. Karena di Marjin Kiri, ada visi progression, ada hal-hal yang perlu masyarakat Indonesia tahu. Misal tentang 65, mana POV yang belum pernah ada dan diterbitkan. Dari sisi manajemen, Marjin Kiri bukan penerbit besar yang menghambur-hamburkan untuk beli rights. Termasuk dalam hal pembuatan daftar isi.

Salsa menanyakan, dia content writer dan junior editor, dia pengen nulis tentang perempuan dan anak. Dalam nyusun script merujuk ke data, dari Marjin Kiri sendiri ada maksimal referensi, misal terbaru lima tahun terbaru. Tapi juga ada data dengan tahun lama yang penting dan kredibel, apakah oke menggunakan data yang lama untuk menekankan ironi?

TC menjawab, dia sangat fokus ke "cerita". Misal dalam 20 tahun, gak ada perubahan tentang kekerasan perempuan anak. Yang penting ceritanya apa, datanya apa. Iqbal juga sebal dibatasi lima tahun terakhir. Yang klasik belum tentu tidak relate. "Jangan pakai paradigma Scopus," tuturnya. Misal gak mungkin sejarah cuma lima tahun. Pertanyaan apa yang ingin dijawab, menentukan data yang dicari.

Dita bertanya, terkait notulen, ada ngedit buku zaman dulu, dan juga zaman dulu. Bagaimana itu berpengaruh ke tulisan?

TC menjawab, ini diedit sesuai buku, sesuai teks misal buku terjemahan. Editor jadi jembatan, jangankan sekarang, dulu juga. "Ini lho ada penulis yang punya teori ini, isinya begini," ungkapnya. Juga dipilih buku klasiknya seperti apa dulu. Ada prinsip-prinsip tertentu yang bisa diterima. Misal buku-buku Geertz, meskipun debatable, dia penulis yang baik dan jadi craftsmanship-nya.

Mia menambah, pertanyaan berikutnya, apakah pernah dapat kritikan dari komunitas?

Iqbal pernah di suatu acara, ada yang bilang terjemahan jelek, tapi setelah itu beli buku itu. Dia punya asumsi dan gak yakin. Di sisi lain ada kebanggaan Marjin Kiri itu komunitas pembacanya sangat spesifik. Bukan meluas melintas. Baik itu buku klasik atau bukan, pilihan ini akan diterbitkan juga ada kekuatannya sampai sekarang. "Pembaca Marjin Kiri Insyallah cerdaslah," jelasnya.

TC juga menjawab ada saja ketidaksukaan orang. Sebagai editor, ini tetap karya orang, editor hanya bisa kasi suggestion. Editor ini stylist, bukan desainernya. Betul ada kesalahan-kesalahan atau tanggung jawab editor, tapi juga itu sepenuhnya milik penulis. Editor bisa memberikan masukan, tapi hasil lewat penulis.

Bayu menayakan, craftsmanship antara penulis Indonesia dan luar negeri berdasarkan riset seperti apa?

TC menjawab, riset yang berkembang di Indonesia, gak banyak orang seperti Iqbal yang mendorong mahasiswa jadi avant garde untuk nulis. Lalu, untuk urusan funding juga. Peneliti Indonesia yang punya desikasi masih mikir besok makan apa. Kalau secara menulis, banyak penulis bagus Indonesia. Misal banyak sejarawan periferal. Misal untuk bilang, kenapa panci ini penting? Harus ditulis dengan bagus. "Bagaimana caranya agar ini dianggap penting," tandasnya.

Iqbal menambahkan, skripsi di Indonesia sudah jadi, entah itu lebih berat dll. Problemnya masalah waktu dan biaya, kalau waktunya terbatas akan terbatas. Misal skripsi nuklir era Soekarno, tapi ada penulis lain yang udah nulis. Mungkin konteksnya belum menjamah naskah itu. Problem bolong-bolong itu, banyak yang menulis bagus, tapi teknis-teknis akademik tadi. "Senang bisa menemukan penulis yang sudah bisa bercerita," ungkapnya.

Mia, yang bekerja di training, kemampuan masih dibatasi ke "pemilihan kata". Sekarang akses lebih luas, ketika ngobrol dengan teman-teman di luar negeri. Mereka juga diminta untuk mensintesis. "Penulis yang baik adalah yang membaca semua buku. Fiksi itu belajar pemilihan kata. Nonfiksi itu belajar logika," tuturnya.

Iqbal, misal di buku "Wali Berandal Tanah Jawa" (George Quinn) dia ikut kelas penulisan nonfiksi. Padahal sudah selevel dia. Tapi karena dia ateis dan pengalamannya peziarah, mereka juga tetap harus belajar. Kalau data gak bisa jadi data, paling gak bisa menulis yang baik.

Juga misal "Tempat Terbaik di Dunia", dia hasil riset tapi tak ada beban data. Dia bisa solid karena punya data bagus dan bisa bercerita. Jadi ada dua hal dasar: data dan cerita.

Iqbal menambahkan, dosennya meminta untuk mahasiswanya buku "Kisah Lima Keluarga" karya Oscar Lewis. Ketika ada struktur tulisan yang bagus, pakai aja.Yang gak ngerti dunia kalian perlu tahu dunia kalian emang penting. Marjin Kiri punya dasar menulis tentang manusia, dan jika boleh penulisnya perempuan. Selalu bayangkan ada pembaca kalian.

Soal menghadapi kejauhan, di fandom gak boleh mengkritik penulisnya. Kamu suka ya dimakan, gak suka ya sudah gak usah dimakan. Itu semacam guilty pleasure.

Sabtu, 24 Mei 2025

Catatan Klenik Studies Vol. I Edisi 23 Mei 2025: "Tempat-Tempat Pamali"

Klenik Studies hari ini, 23 Mei 2025, mengadakan pertemuan perdana. Pada malam Jum'at Kliwon ini kami membahas obrolan yang menyenangkan tentang "Tempat-Tempat Pamali" yang kita temui di sekitar kita. Perbincangan merentang dari mitos Cepu dan Gunung Lawu, Kampung Pitu Jogja, mitos Jalan Karanggetas di Cirebon, jenazah yang bisa jalan sendiri di Toraja, pohon beringin, jembatan, sampai obrolan terkait mengapa tempat "Tusuk Sate" itu angker? Tak kalah menariknya, bagaimana fenomena ini dianalisis dari sudut pandang arketipe Jungian, bagaimana melindungi alam, trauma dan memori, hingga teori ambang batas tempat dan waktu. Di pertemuan berikutnya, kami akan membahas tentang "Hantu, Ruang, dan Teknologi".

Kami membicarakan tempat-tempat terlarang. Kita bahas perspektif satu-satu. Menurut Khumaid Akhyat Sulkhan, banyak masyarakat dunia yang tradisional punya mitos-mitos tertentu. Yang itu bisa dikatakan juga sebagai kearifan lokal, seperti Alas Roban, lalu Kampung Pitu (7 KK) di Jogja, banyak cerita tentang tempat terlarang lainnya. Di sini banyak diskusi, dari psikologi klinis, wartawan, akademisi, dan jurnalis. Sulkhan bertanya: Dimulai dari apa sih tempat terlarang? Ini fenomena apa sih?

Mi'rajul Akbar bercerita, tempat-tempat  pamali di semua tempat ada. Di Jawa sendiri, terutama Jogja, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sementara tempat-tempat pamali di Kalimantan tak banyak yang mempercayai dan tak mengetahui. Di sini juga mitosnya sifatnya lebih membahagiakan, misal minum air Sungai Mahakam akan bahagia. Kalau yang seram biasanya terkait hutan. Mitos di tempat Akbar, bagaimana mensugesti orang untuk melindungi alam. Dia bertanya: Kenapa mitos-mitos di Jawa lebih riil? Seperti tempat pamali yang didatangi pemimpin, presiden datang kesana lengser. Unik karena, pemimpin negara dianggap berpikir rasional, tapi malah mengikuti panduan klenik. Ini membuat yang rasional saja gini, apalagi kita. Untuk mitos di Jawa, auranya juga lebih tangible, nyata, apalagi kalau ada tempat-tempat yang harus dihindari. ”Nasib negara ditentukan oleh tempat-tempat seperti ini.” Di balik ini semua apakah ada Jawasentris? Bahkan secara spiritual pun daerah di Jawa. Bahkan secara spiritual, Jawa menentukan negara.

Dari bacaan Akbar terhadap buku Carl Gustav Jung, intinya, alam bawah sadarlah yang menjadi dasarnya. Yang membuat Jung terkenal, dia percaya mistis. Karena di memoirnya, dia punya dan mengalami astral. Ada konsep Namanya arketipe, kalau membaca mitos-mitos, di mitos-mitos ada raja, ada orang bijaksana. Raja disebut sebagai arketipe. Pola yang muncul terus di cerita. Di buku Jung, arketipe yang harusnya muncul di cerita, ada di dunia nyata. Dia mendekati tempat-tempat kesadaran manusia bertemu. Misalnya banyak yang mempercayai, adanya Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan. Ini perwujudan alam bawah sadar banyak orang, yang memberikan energi, sehingga legenda ini, arketipe ini muncul sebagai kenyataan dan mempengaruhi orang. Ini menyebabkan keadaan mistis yang dialami orang. Ini kenyataan yang cukup panjang. Inti pemikiran yang tadi. Arketipe ini jadi pola imajinasi. Dia hal yang selalu ada, misal, orang yang sakti, Nyi Roro Kidul. Kalau ditarik lebih jauh, pola-pola ini sudah ada.

Selanjutnya, Nurul Diva Kausar bercerita, tiap tempat punya sisi mistik khasnya. Di tempat Isma, ada mitos Gunung Lawu, mitos banyak orang, dilambangkan sering identik dengan ilmu hitam. Ilmu yang gak kita sadari ini jadi stigma di kalangan pejabat. Di tempat Nurul, ada mitos terkait Jalan Karanggetas di Cirebon dan dekat keraton. Dekat sama tempat peribadatan wihara, zaman dulu, sampai sekarang dipercaya banyak orang punya nuansa mistis. Ketika punya keilmuan, punya kesaktian tak bisa ditebas tebang, punya jabatan penting, kenegaraan, presiden, saat lewat situ ilmunya luntur. Ini ada kaitannya dengan dakwah Islam, Cirebon kuat soal Islam. Ada Syeh Magelung, ada kekuatan tak bisa ditembus pedang, dan dia bisa mempengaruhi orang. Suatu Ketika Syeh Magelung lewat situ dan kesaktiannya hilang. Tempat itu jadi salah satu mitos, dia akan luntur ilmunya. Bisa dibilang, ada kaitannya dengan pola penyebaran Islam. Salah satunya lewat situ. Banyak hal unik di Cirebon, di keraton, orang-orang bisa mendengarkan suara gamelan tapi tak ada wujudnya. Kalau mau lihat wujudnya, orang harus baca syahadat. Sisi mitos selalu berkaitan dengan agama Islam. Untuk mengajak orang dekat dengan agama Islam.

Arketipe dan Scandinavia

Sulkhan juga membaca book chapter yang oke, bahasannya khusus menjawab tentang mitologisasi tempat. Tulisan Steven tentang orang Scandinavia, di era tradisional atau primitif. Yang menarik, tentang tempat-tempat terlarang atau tempat sakral. Sudut pandang tulisan itu, pertama, kekuatan alam sebagai sesuatu yang sakral atau pra-agama. Di Scandinavia, orang-orang pagannya menganggap alam sebagai sesuatu yang sakral. Dari awal, memang dianggap sebagai sesuatu sakral. Kesakralan suatu tempat tak lepas dari daerahnya dan menjadi identitas mereka. Lokasi dengan alam di sana. Ketika Kristen datang, terjadi pergeseran, kesakralan dari alam ke kreasi manusia. Dimanifestasikan lewat altar, gereja, Yesus, muncul dikotomi antara sakral dan profan. Cenderung mengganggu kesucian, setelah modernisasi ada, situasi lebih parah, karena alam tak lagi punya suara. Alam tak bisa mengikat dalam sakralitas, sehingga alam bisa pindah kemana-mana. Ini yang membuat orang di Scandinavia tak mengenali alam di sekitar kita.

Kalau di Jawa sendiri kurang lebih sama sebelum kedatangan Islam, mitos ini masih bertahan, ada orang puritan yang menganggap kasi sesajen disebut sirik. Di Scandinavia juga ada itu, tapi di Jawa masih bertahan. Misi misionaris lebih banyak menang Islam daripada Kristen, ini tak menggeser animisme.

Akbar menanggapi, bahasan Sulkhan ini menarik, pertanyaan kita, walaupun ada Kristianiti? Intinya agama samawi, menghapus pagan dan animisme, kalaupun terhapuskan, tapi kenapa kepercayaan itu masih bertahan dan akhirnya menjadi mitos? Mitos ini adalah mayat-mayat kepercayaan yang sudah lampau, tapi saking kuatnya berakar, tak bisa dipisahkan semudah dan segampang itu. Dia muncul sebagai mitos di berbagai tempat. Kalau dilacak, ada keterhubungan manusia dengan alam. Bahasan arketipe, di dalam pikiran kita ada dunia sendiri, alam bawah sadar. Ada tokoh-tokoh, ada makhluk-makhluknya, ada sosok ayah, ibu, raja, dunia seperti itu orang strukturnya sama. Kita mendambakan sosok ayah, sosok penyihir, di pihak manusia strukturnya sama. Yang jahat selalu penyihir, karena “cetakan” di otak kita, dia menakutkan, sementara Bapak melindungi. Di mana arketipe, default ini berinteraksi. Hubungan manusia dan alam ini masuk arketipe, meskipun dibunuh dengan modernisasi. Dia tak bisa dibunuh dan berakhir menjadi mitos.

Sulkhan menambahkan, arketipe mirip idea, sebelum buat kursi ada kursi di kepala kita. Dari idea-nya Plato, di pemikiran Jung, arketipe lebih powerful dari itu. Tak hanya ide, tapi juga bisa berinteraksi dengan dunia kita. Sumber penampakan makhluk gaib.

Apakah arketipe dari pemikiran kita, hanya kita yang bisa merasakan? Bisa dibilang begitu, tapi bukan halusinasi, tapi cetakan utama di manusia. Ini diisi oleh mitologi, warnanya jadi berbeda-beda. Belakangan, Akbar menambahkan, kalau teman-teman semua mengikuti Instagram @gen_alfarizi, ada kakak beradik ke tempat-tempat angker, dan mereka bilang, di lokasi itu gak ada apa-apa. Ada patung menari sendiri, dan mereka membuktikan itu tak ada. Gen Alfarizi menyimpulkan, hal-hal yang dianggap mistis, yang dianggap sebagai mistis, itu berasal dari alam pikiran sendiri. Mereka menafsirkan apa yang dipikirkan, tandanya begini dan begini. Dan itu dibicarakan secara logis. Sebenarnya hantu-hantu ini tak ada.

Dari segi saintis itu ngaruh banget, sensitivitas lebih tinggi. Timbul rekaan-rekaan tadi, itu tervisualisasi jadi hantu, yang itu bisa muncul sendiri. Misal di Embung UII ada hantu, misal Nurul kesana tak ada apa-apa. Mitos-mitos itu semuanya arketipe.

Akbar menjelaskan, arketipe ini semacam Gambaran ide yang sifatnya universal. Apa benar itu arketipe? Itu Gambaran yang bersifat universal. Lebih enak disebut cetakan pikiran. Kalau Gen Alfarizi pendekatannya lebih liberal dan bebas nilai, mereka menjauhkan semua penjelasan lain. Ketika ide universal ini dipercayai banyak orang, dia bisa mempengaruhi kita balik. Ini lebih rumit dari itu, ini bagian dari kenyataan. Dia bagian dari kenyataan, yang bisa diakses oleh kita. Berbeda dengan penafsiran ini hanya produk pikiran, arketipe ini yang membentuk pikiran kita. Ada teori yang menjelaskan, secara genetik, otak kita diturunkan, arketipe ini diwariskan turun temurun sejak manusia pertama. Membentuk cara kita berinteraksi. Bisa gak kita lepas dari arketipe?

Arketipe bisa bersumber dari generasi sebelum kita. Misal bentuk kuntilanak begini, genderuwo begini, ini dipercaya dan disepakati oleh banyak orang. Orang-orang menganggap itu sama. “Benar bisa diwariskan berarti ya?” Sumber universal bisa datang dari nenek moyang. Walaupun tidak dituturkan, kenapa kita takut sama hantu pakai baju putih, kenapa itu menakutkan. Kenapa ada sosok kebapakan kita cenderung mendekat? Meskipun tak dituturkan secara tradisi, kita akan cenderung mendekat ke yang begini. Arketipe ini mempengaruhi cara kita berinteraksi. Ketakutan kita sudah kita miliki sudah sejak dulu.

Ketahanan Sosial

Sulkhan menambahkan, konsep idea Plato, sifatnya spiritual, dia ada di alam idea. Kita bahkan sebelum ada gambaran kuda, di pikiran kita sudah ada kuda dulu. Orang-orang konstruktif mungkin kurang setuju, karena apa yang ada di kepala kita hasil dari konstruksi sosial.

Ngomong struktur, karena dia bertahan, di satu sisi itu membantu kita untuk mempertahankan ketahanan sosial. Misal di tempat keramat ada juru kunci, tatanan sosial tetap terpelihara. Kalau di Jawa, ada satu prestasi tertentu ketika bisa menaklukkan tempat-tempat terlarang. Misal di Alas Roban, folklore-nya, ini tempat terlarang, kalau kesini nanti diculik demit. Lalu ada bahurekso yang menaklukan tempat itu, dia mendirikan perkampungan, jadi semacam kyai atau ketua, raja, pemimpin, penguasa, tempat-tempat terlarang ini. Kalau kita bisa menggeser, ini ada prestasi tertentu. Ini yang menurut Sulkhan menarik di pulau Jawa, yang selalu tentang ekspansi. Di tempat Sulkhan, orang tidak ekspansif tapi kulonuwun, intinya, menanamkan yang ada di situ. Seakan-akan yang tak bisa kita capai.

Ketika baca karya Joseph Campbell, yang mengembangkan Jung, mengkhususkan mitos-mitos di dunia. Seperti sastra, cerita itu ada siklusnya dan strukturnya. Semua mengikuti struktur yang sama. Kata Joseph, itu tak hanya di dongeng dan sastra, perjalanan manusia juga gitu. Ketika mempelajari tentang mitos, aku memiripkan harus terbang ke langit. Semacam diri manusia, juga ada pertanyaan kita di tahap yang mana dalam hidup ini. Dengan memahami ini, kita dalam arus perjalanan dunia. Dalam sudut pandang yang tinggi, kita berperan sebagai apa di dunia. Kalau mempelajari mitos, bukan mempelajari hal primitif, tapi juga cara mempelajari dirinya sendiri. Tujuan akhir, untuk memahami sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri atau lebih luas dari dirinya sendiri.

Tafsiran Romantis Keambrukan

Sulkhan menambahkan, orang cultural studies lebih ke Jung daripada Freud. Ini membantu kita mengidentifikasi diri. Kemudian, kita dapat banyak hal, tapi mengapa di Kudus ada tugu tak bisa dilewati, tapi kenapa tetap ziarah kesana? Bahkan ketika itu mengancam, kenapa mereka tetap mendatangi tempat itu? Karena itu legend, dari kekuasaannya.

Akbar menanggapi, tafsiran lebih romantis, Gus Dur sudah tahu akan turun, dia menggunakan itu untuk menimbulkan efek yang lebih simbolis. Ini jadi legend, jadi lengser, kalau dipikir secara rasional, masalah lengser itu sistemik. Kelengseran itu jadi simbol, itu yang jadi pemimpin. Walaupun tahu akan lengser, dia tahu akan dilengserkan, dan dia karena tahu lengser, di akan lengser dengan gaya. Terbukti nama Gus Dur masih dikenal, gak cuma di ajaran Islam, sampai sekarang terbukti, Namanya Gus Dur ini ada di kalangan penghayat. Gus Dur jadi true hero. Ketika bisa menaklukkan tempat itu dia jadi tawaran. Ada dua sisi meromantisasi keambrukan.

Di satu sisi pendekatan mereka lebih legend dan citra agung, dibanding tak melakukan spiritual. Tempat mistis jadi peringatan manusia, untuk membuat fungsi dan makna, di semua tempat hampir sama dan serupa. Di Banten punya hutan larangan. Hutan itu tak boleh dilarang, hutannya meninggal. Itu Kembali lagi, ketika penuturan logika tak bisa difasilitasi, itu bisa untuk melindungi alam. Mitos kebanyakan untuk mencegah kerusakan.

Di Kalimantan, ada artikel di Pontianak tempat asal-usul kuntilanak, ada cerita orang membangun kota tapi pamalinya jangan menyentuh hutan itu. Ada sosok perempuan berbaju putih. Pontianak juga dari Ponti+anak itu. Untuk mencegah agar tak mencegah alam. Kenapa Jawa selalu berhubungan dengan ekspansi dan negosiasi? Darimana sebenarnya narasi menaklukkan alam dan spiritual?

Ambang Batas

Akbar merasa, mitos-mitos itu untuk menjaga alam. Menarik ke yang lain, berbicara ruang, kenapa kemudian banyak tempat-tempat mistis yang secara struktur dia adalah tempat ambang batas. Yang sering angker2 seperti Pantai, ambang batas daratan dan lautan, lalu kuburan antara yang mati dan hidup. Juga di jembatan yang menghubungkan antara tempat satu dan lain?

Sulkhan menambahkan, ketika baca ke sepertiga Bermuda, bertemunya dingin dan panas, tempatnya iblis. Mungkin karena, di referensi pribadinya, batas itu antara tempat kita dan yang lain yang belum kita ketahui. Potensi kekuatan yang seperti apa? Ketika di pantai, mungkin akan gentar, karena kita gak tahu potensi dalamnya seperti apa? Meskipun jaraknya cukup jauh. Di batas dengan hutan, angker karena tak mengenali struktur itu, kita tak mengenali itu untuk survive. Ketakutan-ketakutan itu karena kita tak punya kontrol. Ketika dia familiar, dia sudah mengenal, jadi bisa memastikan itu tak bisa mengenalinya. Kita tak bisa mengenal tempat itu, setidaknya ekspektasi kita. Sama juga Ketika, recall pengalaman sekolah, yang banyak mitos keangkeran. Ketika malam juga angker. Ketika kemah di situ, sekolah malam hari jadi gak angker lagi. Jadi mengenal itu di malam hari. Hal-hal yang tadinya hanya diketahui di siang hari, di malam hari mendapatkan itu. Tempat-tempat yang angker lebih ke reaksi kita pada yang unknown. Pantai yang lebih angker itu Selatan, tapi Labuan Bajo tidak. Ini menarik juga.

Nurul menambahkan, kalau melewati ambang batas, merasakan hal biasa karena tak mengenali medan. Karena tak mengenali, jadi takut. Kita gak tahu apa yang terjadi. Jadi jatuh, ambang batas ada cara kita menghormati tempat lain, karena tak tahu kondisi yang tak kita kenali, kita minimal was-was dan jaga diri.

Sulkhan, pas kecil, ada Sungai yang angker banget. Ada hantu sungai, yang dideskripsikan kepala doang dan rambut saja, tapi bukan jenglot, dia suka narik anak-anak tenggelam. Tempat itu sangat mengerikan. Kita termakan hal-hal yang horor. Ketika kemarau sungai itu surut, ternyata tak sedalam itu. Karena ternyata tempat ini tak sedalam itu. Ini lebih karena berenang di saat yang tak tepat. Selebihnya aman-aman.

Bahasan berikutnya terkait ambang batas waktu, semisal saatu surup atau magrib. Sandikala, ada mitos, kalau kamu keluar Magrib, bukan ke rumah tapi ke hutan, dan bertemu orang dia tinggi besar. Orangtua melarang, boleh ke masjid tapi jangan main. Setelah dewasa ini, biasa aktivitas sampai Magrib. Kenapa melarang kita untuk keluar Magrib? Logis dan dampaknya seperti apa? Sekarang buktinya gak papa kita keluar magrib. Kenapa? Apakah sudah capek. 

Kalau terkait waktu, lebih ke orang sejak dulu itu takut gelap. Serigala keluar malam. Dalam gelap lebih banyak hal yang susah kita kenali. Kalau kita ini kan suka lupa waktu, kamu batasnya sampai sini, waktu ini, dan waktu ini. Orang-orang gak menciptakan sistem itu karena mau istirahat, bisa mengontrol anak kecil agar tidak aktif. Relatif gak ada ambang waktu malam ke pagi. Nurul pernah dengar di medsos, setelah jam 12 tidak tidur. Di tempat KKN, di atas jam 12 gak boleh lewat pohon beringin di antara dua Sungai. Lalu juga jangan lihat spion. Di atas jam 12 itu.

Rumah Tusuk Sate dan Hantu di Jepang

Pertanyaan berikutnya: Kenapa rumah tusuk sate sering dianggap angker?

Nurul dapat cerita dari tetangganya, jualan emas, karena rumahnya di persinggahan pedagangnya jadi bangkrut. Ada faktor apa? Tusuk sate lebih ke primbon. Ini jenis larangannya. Tusuk sate itu dia tempat bertemunya unsur dari banyak arah, melting pot. Ketika subjek itu gak bisa memompa banyak unsur, akhirnya kalah. Ini yang jadi faktor penentu. Dia juga tempat ramai, juga bukan.

Sulkhan lalu bercerita terkait video documenter di Netflix, hantu pasca-tsunami di Jepang, UFO, pembunuhan, penampakan hantu setelah tsunami. Jepang itu dibahas dari kajian trauma atau post-trauma. Dikaitkan dengan tata ruang, banyak orang yang berpindah rumah. Hantu itu nyasar, dan hantu itu tak mengenali ruang geografisnya. Sama kayak Merapi, banyak kampung harus pindah. Dari narasumber, psikologi, sebagai semacam trauma dan merespons perubahan ruang.

Mitos itu lama dan berkembang juga, cerita begini juga lama. Zaman dulu misal di kasus Bokir, naik delman, film-film Suzana, pas ada adegan Bokir bawa delman, dicegat Perempuan, tahu-tahu hilang. Jalan Di Atas Pangeran, Sumedang, jalannya membelah. Sopir-sopir didatangi Perempuan. Hantu itu belum tahu, rumahnya hilang.

Ada medium teknologi-teknologi terbaru. Dia bisa membonceng orang, kalau hantu seperti itu. Bagaimana hantu beradaptasi dengan teknologi. Tsunami menghancurkan ruang, trauma kolektif di Indonesia lalu yang seperti apa terkait perpindahan tata ruang ini? Akan dijawab di malam Jumat Kliwon berikutnya tanggal 26 Juni 2025, dengan tema: “Hantu, Ruang, dan Teknologi”.

***

Catatan dari Nurul Diva Kausar:

Rangkuman hari ini:

Isma: fenomena tempat terlarang telah lama menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat di berbagai daerah. Tempat-tempat ini biasanya dianggap sakral, dikeramatkan, dan dikaitkan dengan tokoh-tokoh besar seperti raja, orang suci, atau leluhur yang memiliki kekuatan spiritual tinggi.

Di Cepu, misalnya, masyarakat meyakini adanya larangan untuk naik ke Gunung Lawu. Mitos di sana menyebutkan bahwa siapa pun orang Cepu yang naik ke sana akan tersesat atau meninggal. Kepercayaan ini diyakini berasal dari sumpah Prabu Brawijaya V yang konon mengasingkan diri ke Lawu dan pernah berperang dengan Adipati Cepu. Dalam mitos itu, sumpah sang raja menyatakan bahwa keturunan atau warga Cepu yang naik ke Lawu akan binasa.

Kemudian, di Cepu juga ada legenda Gagak Rimang, kuda hitam milik Arya Penangsang. Patung kuda ini ada di dekat Taman 1000 Lampu, dengan salah satu kakinya diangkat seolah siap berlari. Konon, kuda ini memiliki kekuatan magis (bisa berjalan sendiri). Senjata Arya Penangsang yang disebut-sebut menancap di pahanya juga menjadi bagian dari mitos lokal (Cepu: nancep ning pupu). Kisah ini membentuk sugesti kolektif masyarakat. Ketika dipercaya secara turun-temurun, mitos bisa membentuk kesadaran hingga dijadikan sebagai daya tarik spiritual.

Pendekatan Psikologi

Akbar: dari sudut pandang psikologi, hampir semua daerah memiliki mitos serupa. Namun, penerimaannya berbeda. Di Yogyakarta atau Jawa misalnya, mitos menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sementara di Kalimantan, kepercayaan seperti itu tidak terlalu mengakar. Misalnya, ada kepercayaan bahwa siapa yang meminum air Sungai Mahakam akan kembali ke sana (lepas begitu saja). Ini, jadi sebuah bentuk mitos yang berfungsi menyatukan manusia dengan alam.

Menurut, Carl Gustav Jung. Hal ini bisa dijelaskan lewat konsep “arketipe” yang merupakan gambaran simbolik di alam bawah sadar manusia dan terus muncul dalam bentuk tokoh-tokoh mitos seperti raja, orang sakti, atau Nyi Roro Kidul. Kehadiran mitos seperti Nyi Roro Kidul dianggap sebagai perwujudan kesadaran universal di kalangan masyarakat. Akibatnya, legenda ini seolah menjadi nyata dan mempengaruhi perilaku sosial, termasuk pengalaman mistis hingga berwujud (penampakan).

Pergeseran Makna Alam dan Spiritual

Sulkhan: Fenomena pergeseran makna antara yang sakral dan yang profan juga tercermin di berbagai wilayah dunia. Di Skandinavia, kekuatan alam dulunya dianggap suci. Namun saat agama Kristen masuk, kesakralan berpindah ke simbol-simbol keagamaan (gereja, kitab, altar). Alam pun dianggap tidak lagi memiliki kekuatan. Kondisi ini menyebabkan keterasingan masyarakat dari alam, yang kini hanya dianggap entitas profan.

Hal serupa juga terjadi di Jawa. Meskipun Islam (misi puritan) masuk, tradisi seperti sesajen dan penghormatan terhadap alam tetap bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa misi religius tidak sepenuhnya menghapus sistem kepercayaan (animisme) yang telah mengakar.

Mitos, Kematian, dan Kelas Sosial

Isma: ada juga cerita dari Toraja, di mana terdapat tradisi memakamkan jenazah di pohon tarra yang menggambarkan kelas sosial dalam kematian. Jika seseorang meninggal di tempat jauh dan tidak bisa dibawa ke pemakaman, keluarga memanggil dukun untuk memanggil arwah, agar jenazah berjalan sendiri ke pohon tempat dikuburkan. Namun, nama almarhum tak boleh disebut karena bisa menyebabkan rohnya hilang hingga mayat tersebut jatuh dan tidak bisa kembali berjalan. Tradisi ini juga menunjukkan bahwa alam (pohon tarra) dijadikan medium spiritual.

Ambang Batas dan Kekuasaan

Sulkhan: tempat terlarang biasanya diasosiasikan dengan ambang batas atau wilayah yang tidak bisa diprediksi dan berpotensi membahayakan. Ambang batas adalah, kondisi transisi saat manusia tidak bisa mengendalikan situasi secara rasional, lalu menyerah pada kekuatan spiritual. Bagaimana pemimpin zaman dahulu seperti Gus Dur pernah mendatangi tempat yang dipercaya membawa kutukan, seperti Menara Kudus. Meskipun konon orang yang melewati tempat itu akan luntur, Gus Dur tetap melintasinya. Tindakan ini bisa dibaca sebagai strategi untuk menantang mitos dan menunjukkan bahwa dirinya memiliki “ilmu lebih”, yang secara politis dapat meningkatkan kharisma dan daya jual sebagai tokoh publik.

Isma: mitos sering dikemas dalam sastra dan digunakan sebagai medium untuk menarik wisatawan atau peneliti budaya. Di Malang, terdapat kisah Eyang Sapu Jagad yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit. Tempat ini dikunjungi oleh dua jenis pengunjung.

a. Pilgrimis - mereka yang memiliki tujuan spiritual atau harapan tertentu.

b. Generalis - tidak punya ketertarikan tempat atau mitos dan hanya datang untuk sekedar berkunjung.

Pengalaman spiritual di tempat ini menggambarkan hasrat manusia untuk mencari sesuatu yang lebih dari bayangannya.

Perjalanan Mitos dan Diri

Akbar: konsep perjalanan pahlawan seperti dalam teori hero’s journey, Joseph Campbell menunjukkan bahwa mitos adalah cermin dari perjalanan manusia. Dengan memahami mitos, manusia juga memahami posisi dan makna hidupnya dalam dunia yang lebih luas. Mitos adalah cara manusia merefleksikan diri dalam dunia.

Sulkhan: mitos bukan hanya cerita turun-temurun, tetapi juga instrumen untuk membentuk identitas, memperkuat kekuasaan, dan menyatukan masyarakat. Di tangan pemimpin atau tokoh spiritual, mitos bisa menjadi alat politik maupun simbol kekuatan spiritual. Ketika mitos berhasil ditaklukkan, orang yang melakukannya akan dianggap memiliki keistimewaan, baik sebagai kiai, tetua, maupun tokoh sakral sehingga keduanya bertaut dalam kesadaran kolektif manusia.

Kamis, 22 Mei 2025

The Chornicles of Narnia Part 5: The Voyage of The Dawn Treader (Petualangan Dawn Treader)

Buku ini kembali ke arwah Narnia, karena diawali dengan imajinasi-imajinasi yang fresh. Sebagaimana diceritakan di buku sebelumnya, Peter dan Susan tak lagi ikut dalam petualangan selanjutnya. Peter pergi melanjutkan pendidikan, begitu juga Susan, diajak orangtuanya ke Amerika Serikat, sementara Edmund dan Lucy dititipkan ke paman dan bibi mereka, Harold dan Alberta, yang memiliki anak nakal tapi suka menulis diary bernama Eustace. Mereka bertiga masuk ke dalam petualangan Narnia, dan dalam petualangan itu, mereka bertemu Pangeran Caspian X yang bagiku lebih menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang raja, meskipun usianya tak jauh berbeda dengan Edmund. 

Menariknya, aku suka awal-awal buku ini, bagaimana sebuah lukisan bisa menciptakan dunia lain yang bisa kamu masuki. Saat Edmund dan Lucy tinggal di rumah Eustace yang selalu mengganggu dua anak keluarga Pevensie itu agar tidak betah. Di kamar Lucy, ada sebuah lukisan aneh, bergambar sebuah perahu yang perawakannya mirip dengan naga, kapal ini cantik, terdiri dari beberapa dek dan tingkat, dan tiap tingkatnya menjadi ruang khusus bagi Caspian, Edmund, Lucy, dan Eustace. Lukisan itu tak sekadar dua dimensi, tapi juga tiga dimensi, dia bergerak, perahu beserta gelombangnya bergerak. Lukisan itu juga menyeret tiga anak itu ke dunia pelayaran yang tak bisa ditebak dan menantang.

Perahu itu cantik mirip perempuan, dia bernama "Dawn Treader". Perahu itu ternyata dipimpin oleh Caspian X dan seorang pengawalnya yang juga nahkoda, Drinian. Caspian sangat senang mendapati Edmunda dan Lucy kembali, karena itu artinya, perjalanan Caspian tidaklah sendiri. Waktu di dunia Narnia juga berbeda dengan di dunia nyata, seratus tahun di Narnia sama saja dengan jam yang sama di hari yang sama ketika kau kembali ke dunia nyata. Meskipun dia juga kaget ada anak menyebalkan yang tiap detik mengutuk dan merajut bernama Eustace. Nasib Eustace ini secara narasi mirip dengan Edmund di buku satu, dia awalnya nakal dan menjadi beban total bagi tim (atau katakanlah dia pengkhinat), tapi dengan berjalannya cerita, dia mengalami pertumbuhan karakter yang signifikan. Dia mengalami turning point yang mengubah arah hidupnya jadi lebih baik, setelah berbagai kesakitan, kesedihan, dan kesepian yang dialaminya. CS Lewis dengan lihai menggambarkan perkembangan karakter ini dengan rasional.

Petualangan Dawn Treader berawal dari keinginan Caspian yang ingin berjumpa dengan para sahabat/pengikut yang telah berjasa bagi ayahnya (Caspian IX), mereka bertujuh adalah: Lord Bern, Lord Octesian, Lord Revillian, Lord Argoz, Lord Mavramorn, Lord Restimar, dan Lord Rhoop. Caspian ingin menemukan mereka dan membawa kabar bahagia, sehingga berlayarlah mereka ke Timur. Petualangan itu pun dimulai, mereka berlayar menuju Lone Islands, dan terdampar di sebuah pulau. Awalnya mereka ke Felimath tapi pulau ini sepi, dan berbeloklah mereka menuju Pulau Doorn yang banyak ditinggali orang. Mereka berlabuh di Pelabuhan Narrowhaven. Tak jauh dari dua pulau itu, ada juga Pulau Avra.

Isu yang dibawa CS Lewis bagiku cukup berat, yakni perbudakan. Pasalnya, ketika Caspian berada di kawasan Narrowhaven, enam orang pria berfisik besar dan berwajah bengis menangkap keempat anak-anak itu, juga menangkap pemimpin tikus yang jadi pasukan hewan loyal pada Caspian, tentu siapa lagi kalau bukan, Reepicheep. Dia pintar mengoceh dengan cicitannya, tapi juga bijaksana dan bertingkah serupa tikus bangsawan dengan lingkaran emas di kepala dan satu bulu warna merah. Dia juga punya pedang, yang digunakannya untuk melawan Eustace ketika anak itu memeluntir ekor Reepicheep. Mereka berlima ditangkap dan dijual ke dalam suatu lelang manusia, mereka dijadikan budak dengan harga satuan cressent. Semakin tidak ada gigi buruk dalam kepalanya, semakin mahal. Salah satu mucikari itu bernama Pug. Mereka dijual untuk membantu membersihkan rumah, menggarap sawah dan ladang, dan aneka kerja budak lainnya. Ketika anak-anak itu mudah sekali dijual, tapi tidak Eustace yang karena sikap merajuknya, tak ada satu pun orang yang mau membelinya, haha.

Nah, ketika jual beli itu, Caspian dibeli oleh seorang yang pasti terpandang di Narrowhaven. Ketika di perjalanan, Caspian bertanya pada orang itu, kenapa dia membelinya? Orang itu menjawab, wajah Caspian mengingatkan dia pada seseorang yang dikenal, lalu lasan lain karena soal wilayah (aku lupa tepatnya), tapi orang ini menyebut Raja Caspian. Lalu, Caspian kaget dan langsung bilang bahwa dirinyalah yang dia maksud. Dan... orang itu ternyata adalah Lord Bern, salah satu orang yang dicari Caspian. Lord Berg akhirnya merunduk pada Caspian dan menyatakan kesetiaannya. Akhirnya, Lord Bern dan Caspian mencari strategi bagaimana membebaskan Pulau Doorn ini dari perbudakan, di tengah kekuasaan Gubernur Gumpas. Strategi diatur seolah-olah Caspian membawa banyak pasukan dan armada, padahal hanya membawa satu perahu Dawn Treader. Prajurit di daerah itu juga digambarkan: Berpenampilan seperti selayaknya gelandangan, bukan prajurit.

Caspian datang ke gubernur, empat mata dengan Gumpas, dan gubernur itu kalah karena banyak utang dan upeti. "Apa artinya gubernur dibandingkan raja?" Dia juga diminta untuk membebaskan para budak, meskipun perbudakan telah menyumbang ekonomi yang tinggi bagi daerah tersebut. Sementara Gumpas masih melawan, "Tidak ada pertemuan tanpa perjanjian, kecuali antara pukul sembilan dan sepuluh malam pada Sabtu kedua." (P. 83) Setelah melakukan lobi cantik, membebaskan budak dan tiga temannya, Lord Bern juga dijadikan duke menggantikan Gumpas. Bagi Gumpas, ini seperti memutar mundur jam. Gumpas diminta pergi meninggalkan daerah itu. Usai pembebasan budak, mereka melanjutkan perjalanan. 

Usai kejadian di Narrowhaven, Caspian ngobrol dengan para nahkoda senior untuk mencapai pelayaran ke Timur yang masih misteri. Hanya sedikit info yang didapat karena selebihnya hanya kisah-kisah yang tersisa merupakan cerita liar tentang pilaut-pulau yang ditinggali manusia tanpa kepala.... Di tengah perjalanan, mereka dilanda oleh badai besar yang membuat perahu berlayar kesetanan. Badai itu terjadi selama 12 baru, meski Eustace mencatat di diary-nya 13 hari. Dawn Treader pun jadi awut-awutan, layarnya porak poranda, Hingga akhirnya mereka tersesat di sebuah pulau tak bernama dan tak berpenghuni. Di pulau itu, pasukan menata dan memperbaiki ulang Dawn Treader, sambil berburu dan mengisi ulang perbekalan.

Namun, di sini Eustace membuat ulah. Dia diam-diam pergi melarikan diri di pulau tak bernama dan misterius itu. Dia sampai di sebuah lembah dan menemukan naga! Dia juga menemukan harta karun, salah satunya gelang yang dipakainya saat itu juga. Dia kelelahan dan tidur di dekat naga. Saat bangun, Eustace kaget dirinya telah berubah jadi naga, namun kakinya cukup kesakitan karena mengenakan gelang yang kekecilan. Dia juga mendapati naga yang ditemuinya mati, dia pun memakan naga itu. Di sini aku baru tahu kalau naga itu kanibal, karena tidak ada dua naga yang bisa ditemui dalam satu wilayah yang sama. Tak ada yang lebih menyenangkan naga selain memakan naga lain. Di situ, Eustace mulai berpikir, dia kebingungan dan sedih. Pertama kalinya dia merasa bagaimana dicintai dan mencintai, merasakan kesepian yang ternyata sangat tidak enak sekali. CS Lewis menggambarkan: Sangatlah tidak menyenangkan bergerak dengan sangat hati-hati ketika di dalam dirimu ada suara yang terus menerus berkata, "cepat, cepat, cepat!"

Mau tak mau, akhirnya naga Eustace menampakkan diri di sekitar perahu Dawn Treader. Ini tentu menarik perhatian Caspian, Edmund, dan Lucy. Eustace mendekat dan mengajak anak-anak itu berkomunikasi. Hingga akhirnya mereka sadar jika naga itu adalah Eustace. CS Lewis juga bilang, "Eustace belum membaca buku-buku yang tepat. Sama sekali tidak tahu cara menceritakan kisah dengan benar." Namun di saat yang sama, "Penyembuhan telah dimulai, sejak saat itu Eustace telah menjelma anak yang berbeda." Lucy mencoba menyembuhkan kakinya yang seperti dikerangkeng gelang kebesaran itu. Meski hanya menyembuhkan sedikit dengan cairan ajaib mirip Lucy. Gelang itu disembuhkan dengan sendirinya ketika Eustace mulai menyerah, dan lepas sendiri. Tak ada yang mau mengakuisisi gelang itu, lalu dilemparkan oleh Caspian dan tertancap di sebuah cabang pegunungan selamanya. 

Perubahan Eustace dari naga menjadi manusia kembali ini juga menarik. Perubahan ini ternyata dibantu Aslan. Eustace bertemu Aslan. Dia diminta berenang dalam sebuah kolam, di dalamnya, perubahan kulit dari naga ke manusia terjadi perlahan. Agak menyakitkan tapi melegakan, rasanya mirip kamu mengelupas kulit mati di kakimu. Proses itu diceritakan Eustace ke Edmund. Edmund pun menceritakan sedikit tentang Aslan, dunia yang tak diketahui Eustace. 

Memasuki kisah pertengahan hingga ke belakang, buku ini sangat-sangat menarik sekali imajinasinya. CS Lewis keren banget mengarang cerita, dan sepertinya ini jadi salah satu buku dengan imajinasi terbaik yang pernah kubaca. Usai metamorfosis Eustace jadi naga dan menjadi Eustace lagi. Perjalanan dilanjutkan untuk menemukan tujuh Lord. Mereka di tengah laut bertemu dengan ular laut raksasa yang menganggu kapal Dawn Treade. Ular laut ini aneh berwarna hijau dengan mata biru. Namun, dengan kekompakan tim yang dipimpin Caspian, ular laut ini bisa dihadapi.

Saat kapal mereka bersandar di sebuah pulau yang tak berpenghuni, yang jalan-jalannya terjal. Ada ketegangan antara pilihan Caspian dan kapten Dridian. Namun mereka sama-sama memutuskan untuk istirahat. Dalam istirahat itu, mereka mencari perbekalan lain. Lalu, Caspian, Edmund, Lucy, dan Eustace mengambil jalur berbeda. Mereka menemukan sebuah danau aneh. Di sana banyak tulang, juga ada bekas baju yang lama, dan didugalah pulau itu dulu memang ditinggali. Yang aneh, danau itu jernih sekali, hingga dasarnya bisa dilihat. Di dasarnya ada orang yang semua tubuhnya berwarna emas. Timbullah imajinasi, jika bisa menguasai ini tentu akan raya.

Namun, anak-anak Pevensie ragu, mereka skeptis dan tak percaya begitu saja dengan keanehan danau ini. Akhirnya dicobalah dengan kayu untuk menguji seberapa dalam danaunya, dan anehnya, kayu itu ikut berubah jadi emas. Tak pelak, mereka berkesimpulan jika danau tersebut adalah danau kutukan, ketika apa pun yang masuk ke danau tersebut akan berubah jadi emas. Caspian pun memutuskan memberi nama danau itu Goldwater Lake, namun karena kutukan dan bisa terjadi bencana jika tempat ini diketahui orang, maka namanya diganti Deathwater Lake. Uniknya, mereka juga tahu jika pria emas yang berbaring di dasar danau tersebut adalah salah satu Lord yang mereka cari, Lord Restimar, dilihat dari artefak pakaian yang dia pakai. 

Usai dari perjalanan Galma, Terebinthia, Seven Isles, Lone Islands, Dragon Islands, Burnt Islands, Deathwater, mereka melanjutkan perjalanan ke negeri duffer. Negeri kutukan berikutnya: Pulau Suara-Suara. Imajinasi ini sangat-sangat unik yang menyenangkan bagiku untuk dibayangkan! Aku suka! Jadi, mereka berada di sebuah negeri yang masyarakatnya tidak bisa dilihat, karena mereka telah dikutik oleh penyihir dengan sebuah mantra. Lucy diculik oleh salah satu pemimpinnya ketika dia tertinggal, tapi langsung dibantu oleh rombongan Caspian dan lain-lain. 

Jadi, rombongan kaum Dufflepud yang tak bisa dilihat ini (dan menganggap diri mereka makhluk paling jelek sedunia), meminta Lucy untuk mencuri buku mantra milik penyihir di rumah penyihir. Lucy bisa mencurinya saat siang hari di hari tertentu saat si penyihir tidur siang. Jika Lucy tak mau melakukannya, kaum ini akan mencelakai rombongan. Sebab alasan heroik ini, Lucy pun mau, meski awalnya dia takut-takut. Lucy mendatangi rumah penyihir yang autentik gitu, penuh patung, ruangan dengan dokrasi hewan-hewan, cermin yang seleras dengan wajah, dengan hati-hati Lucy mendekati meja tempat buku penyihir, meski ruangan itu juga dipenuhi buku.

Lucy sangat takjub dengan buku sihir itu. Isinya kumpulan para mantra yang bisa menjadi nyata di dunia nyata. Saking takjubnya, Lucy ingin mencoba semua sihir, seperti sihir mengetahui pikiran orang lain, sihir mengubah diri menjadi perempuan paling cantik (Lucy iri dengan kecantikan Susan kakaknya), hingga sihir utama yang diminta Dufflepud, bagaimana membuat mereka terlihat lagi. Ketika akan membacanya, ternyata Aslan datang dan memberi tahu Lucy keinginannya yang tak perlu seperti mengubah diri menjadi cantik. Obrolannya dengan Aslan untuk mensyukuri apa yang ada pun didengar.

Adakadabra! Ternyata si penyihir datang, ternyata dia bukan nenek tua, tapi kakek tua yang sebenarnya baik hati bernama Coriakin (ternyata dia juga bagian dari Lord yang dicari). Coriakin menceritakan latar belakang kaum Dufflepud ini yang mereka memang bodoh, tak ada ancaman bahaya dari mereka. Kaum ini membuat diri mereka sendiri tak kelihatan dan menyalahkan orang lain. Sementara bagi Coriakin, pengarang buku mantra itu, mode tidak kelihatan membuatmu cepat mengantuk.

Coriakin bercerita jika kaum Dufflepud ini tinggi hati, terutama pemimpin Duffer, dan mengajari pengikutnya bersikap sama. Sangat mengagumi pemimpin, dan Coriakin bilang, "Lebih baik mereka mengaguminya daripada tidak mengagumi siapa-siapa." Mereka juga sangat bodoh, misal ada gangguan kucing di ruangan banyak cat. Bukan kucingnya yang dikeluarkan, tapi malah kaleng-kaleng cat. Mantra, ini kata yang luar biasa. Ketika mantra dibacakan, akhirnya Lucy dkk bisa melihat bagaimana sosok Dufflepud ini, mereka adalah makhluk Monopod, berpenyangga satu. Bentuknya seperti jamur, mereka berjalan dengan melompat-lompat seperti katak, dengan tubuh mirip seperti dwarf. Bahkan makhluk ini tak bisa dengan benar menyebut diri mereka sendiri dengan nama moneypud, pomonod, poddymon. Lucy banget bab ini hahaha. Aku bisa berlama-lama di sini.

Ketika Caspian dan rombongan ingin meninggalkan Pulau Suara-Suara itu, kaum Dufflepud inilah yang mengantar dengan tubuh mereka mirip seperti sekoci jika berjalan di atas air. Berikutnya, perjalan selanjutnya mengantar rombongan ke Pulau Kegelapan. Di sana tak ditemui apa pun cahaya, gelap total, bahkan cahaya yang dicoba nyalakan lewat obor tak membantu. Ternyata itu juga pulau kutukan, tempat setiap mimpi jadi kenyataan. Di sana mereka bertemu dengan seseorang yang sudah sejak lama ingin keluar dari pulau itu, orang itu ternyata adalah salah satu lord juga yang dicari, Lord Rhoop di pulau kegelapan. 

Namun, inti cerita dari pulau ini adalah, "Dan semua orang langsung menyadari tidak ada yang perlu ditakuti dan dan sebenarnya tidak pernah ada yang perlu ditakuti." Dan aku berpikir, kepala kita adalah hal yang paling ajaib, dan dia bisa mewujudkan semuanya. Isma. Pelajaran dari Pulau Kegelapan. Dengan pikiranlah mereka bisa keluar dari Pulau Kegelapan, dan mencapai terang kembali dengan perlahan-lahan. "Apakah menurut kalian kita telah datang kesini untuk mematahkannya?" Tanya salah seorang tokoh, dan kujawab iya. Di titik ini aku berdoa:

"Ya Allah, aku niatkan waktu membaca dan menulisku juga sebagai waktu meditasiku. Semoga apa yang kubaca mendekatkan aku pada-Mu, dan menjadikan aku manusia yang lebih baik, penuh cinta dan hormat pada makhluk lain. Aamin."

Setelah keluar, mereka melihat lereng-lereng seperti bantal. Mereka tertambat ke sebuah puingan kerajaan pula, sisa-sisa kerajaan. Di sebuah altarnya, tampak tiga kepala dengan rambut menjular panjang, mereka seperti dikutuk untuk tidur panjang, dan ternyata, mereka juga bagian dari Lord yang dicari: Lord Revilian, Lord Argoz, Lord Mavramorn. Makanan di ruangan itu juga terus diperbaharui karena tim datang kesana dala kondisi lapar. Lalu, datanglah seorang putri canti anak dari Ramandu, orang tua penghuni kerajaan reruntuhan di tempat yang bernama Akhir Ujung Dunia. Ramandu ini nantinya akan jadi mertua Caspian, karena Caspian menikahi anaknya. Ramandu bercerita jika ketiga lord itu bisa dibebaskan kutukannya ketika ada seseorang berada di ujung dunia, tapi dia tak kembali (sepertinya di negeri Narnia sih, dan di sini, Reepicheep mau mengorbankan diri).

Perjalanan berlanjut ke ujung dunia beriutnya karena semua Lord telah ditemukan. Lucy melihat di lautan paling dalam para pasukan laut yang mengendarai kuda-kuda laut. Mereka seperti makhluk aneh yang tak perlu ditanggapi oleh pelaut karena mereka bisa berhalusinasi dan melompat ke laut. Namun, masalah utama di akhir cerita, Caspian sedih harus berpisah dengan Edmund, Lucy, dan Eustace. Bahkan Caspian membuat keputusan-keputusan bodoh, dan menyebut Reepecheep bersalah. "Dia masalah yang lebih besar daripada seluruh awak kapal digabungkan menjadi satu." Sedih banget gak sih? Tapi untungnya si pemimpin tikus itu bijak bilang ke Caspian: Kau tidak boleh menyenangkan diri dengan petualang seolah kau individu pribadi. Lalu, CS Lewis yang menyebalkan pula ikut bercerita, "Aku tidak akan bergumul dengan menceritakannya." Wkwk.

Tapi pada akhirnya, ada pertemuan juga ada perpisahan. Reepicheep mengorbankan diri ke negeri jauh. capsian pergi ke Ramandu dan menikahi putrinya. Sementara, Edmund, Lucy, dan Eustace juga kembali ke rumah Alberta, rumah ibu Eustace. Sementara itu, Aslan bilang pada Edmund dan Lucy, "Kalian terlalu tua, anak-anak." Aslan, p. 355. Dua tokoh ini di bab Narnia setelahnya tidak diikutkan lagi, sebagaimana Peter dan Susan yang sudah tak terlibat lagi. Aih, such a gerat story. Oh iya, kemarin aku nemu website dari CS Lewis Foundation. Aku ingin belajar banyak dari beliau.

Sabtu, 17 Mei 2025

Rangkuman “Peranan Koperasi Dewasa Ini" karya DN Aidit

Judul: Peranan Koperasi Dewasa Ini (Seri Kursus Rakyat No. 4) | Penulis: DN Aidit | Tahun Terbit: 1963 | Kota Terbit: Jakarta | Penerbit: Depagitprop CC PKI

Kurasa, ini buku berat kedua tentang koperasi yang kubaca setelah buku Moh. Hatta. Gaya tulisan Aidit bagiku sangat ideologis. Banyak PR berat yang dia tuliskan, terutama perlawanannya tiada akhir akan kapitalisme, imperialisme, dan feodalisme. Jangan sampai penyakit-penyakit mematikan ini ada dalam gerakan koperasi di Indonesia.

Peranan Koperasi dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Sekarang

DN Aidit menyiapkan materi ini saat diundang oleh Kepala Djawatan Koperasi pusat pada tanggal 28 Februari 1963, dan masuk dalam Kursus Rakyat no. 4 dengan judul "Peranan Koperasi Dewasa Ini".

Di dalam buku ini, Aidit paling tidak ingin membahas tiga hal: (1) susunan ekonomi Indonesia yang hendak dibangun, (2) peranan koperasi dan perkembangannya, (3) peranan pemerintah dalam gerakan koperasi serta peraturannya. Harapannya, ceramah ini bisa mendorong dan memperlancar gerakan koperasi, sebagai "satu lapangan kegiatan" dan perjuangan dari amanat revolusi Agustus 1945, sampai ke akar-akarnya.

I. Tentang susunan ekonomi Indonesia yang hendak kita bangun sekarang

Perjuangan untuk menuju rakyat Indonesia yang demokratis (sebagaimana dicita-citakan koperasi) belumlah selesai, bahkan hingga 80 tahun Indonesia merdeka. Belajar dari sejarah, usai persetujuan KMB yang merugikan, perjuangan mengusir misi menghapuskan sisa-sisa kolonialisme hingga saat ini masih berlanjut. Termasuk bagaimana menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang ada saat ini. Perjuangan imperialisme dan musuh-musuh revolusi masih terus berjalan, meskipun Indonesia pernah terjebak dalam Southeast Asia Treaty Organization (SEATO) di bawah naungan AS yang mengekang negara-negara di Asia Tenggara dalam rangka penguatan stabilitas politik. Di dalam negeri sendiri, tahun-tahun itu juga diiringi dengan pemberontakan DI/TII, RMS, PRRI, dan Permesta. Perjuangan melawan komprador imperialis dan kapitalis birokrat, yang disebut Soekarno "pencoleng-pencoleng kekayaan negara".

Aidit menggarisbawahi, tugas yang masih berlangsung adalah menghancurkan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme, untuk menuju masyarakat Indonesia yang sosialis. Untuk itu, penting bagi Aidit agar "tepat dalam pengertian, serta setia pada praktik", dalam konteks ini yang digariskan Soekarno: (1) mencapai Indonesia yang merdeka penuh, bersih dari imperialisme, dan demokratis; (2) Indonesia yang bersih dari kapitalisme dan dari "I'exploitation de I'homme par I'homme" (eksploitasi manusia oleh manusia). Tidak mengerti ini, tidak mengerti sama sekali revolusi. Ini pula yang membedakan revolusi Indonesia dan revolusi Prancis (1789) dan revolusi Rusia (1917). Cita-cita ini juga berarti membebaskan kaum tani dari penghisapan atas tuan tanah dan lintah darat.

Aidit kemudian menariknya pada pengalaman terkait pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA/Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960) dan UU Perjanjian Bagi Hasil (UU No. 2 Tahun 1960)--UUPA merupakan kerangka hukum agraria nasional, sementara UU Perjanjian Bagi Hasil adalah turunan dari UUPA yang mengatur secara teknis hubungan kerja antara pemilik tanah dan penggarap, yang meskipun sudah diterbitkan tapi tidak berarti melakukan penghapusan sama sekali dari sistem imperial dan feodal dari tuan tanah. Masih terjadi ketidakadilan dan ketidakkonsistenan. Di sini, koperasi kaum tani, koperasi pertanian, ditekankan Aidit bisa menjadi organisasi ekonomi yang bisa membantu meningkatkan taraf hidup kaum tani, serta mendorong peningkatan produksi dan memajukan pertanian.

Bagi rakyat yang telah bergaung dalam Front Nasional, terdapat beberapa tugas urgen yang ada dalam panca-program: (1) Mengkonsolidasikan kemenangan yang sudah dicapai; (2) Menanggulangi kesulitan ekonomi dengan mengutamakan kenaikan produksi; (3) Meneruskan perjuangan anti-imperialisme dan neo-kolonialisme dengan memperkuat kegotongroyongan nasional revolusioner berporoskan NASAKOM; (4) Meratakan dan mengamalkan indoktrinasi 7 bahan pokok indoktrinasi dilengkapi dengan Resopim/Revolusi Sosial dan Politik Indonesia dan Takem/Tata Kerja Ekonomi dan Manajeme yang memuat "9 Wejangan" Presiden; (5) Melaksanakan rituling--penyegaran, pelatihan ulang, atau restrukturisasi-- aparatur negara termasuk bidang pemerintahan dari pusat sampai ke daerah.

Aidit memandang, poros dari tugas-tugas urgen ini adalah menanggulangi kesulitan ekonomi lewat kekuasaan politik yang bisa mengubah sistem masyarakat, mengutamakan kepentingan mayoritas (Rakyat Pekerdja).

II. Tentang peranan, lapangan kegiatan dan perkembangan gerakan koperasi

Rakyat pernah dijejali dengan demagogi (tokoh yang memanipulasi emosi, prasangka, dan ketakutan rakyat) terkait koperasi oleh kaum reaksioner yang menyesatkan. Mengutip Hatta, "Koperasi adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kemakmuran bagi bangsa kita yang masih lemah ekonominya." Di sini Aidit mengkritik, Hatta lewat gagasannya ini tidak ditujukan untuk memberantas kekuasaan kapitalis-imperialis dan feodalisme, dan bertentangan dengan amanat Soekarno di Hari Koperasi 1962, bahwa tujuannya bukan sekadar masyarakat kapitalis dengan koperasi, dengan koperasi buruh/tani di dalamnya, tapi perjuangan anti-kapitalisme dan menuju sosialisme. Ada keraguan juga, koperasi tidak begitu diperlukan sekarang, karena tidak membawa hasil apa-apa bagi Rakyat. Dianggap pekerjaan mengorganisasi koperasi rakyat tak ada gunanya.

Menurut Aidit, hal itu tidak tepat, karena Rakyat ingin memperbaiki tingkat hidup dan membutuhkan koperasi sebagai alat menuju perbaikan. Ada dua sisi positif dari koperasi. Pertama, koperasi memiliki unsur mempersatukan pekerja menurut lapangan hidup masing-masing (di tengah diferensiasi kerja yang ada). Dengan persatuan inilah bisa mengurangi penghisapan dari tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, dan kapitalis. Namun, di sini koperasi hanya mengurangi, tidak menghapuskan kapitalisme yang jadi tugas revolusi. Kedua, koperasi bisa meningkatkan produksi, menambah penghasilan bagi anggota. Pengalaman rakyat terkait koperasi yang sudah-sudah bisa menjadi pengalaman berharga untuk membentuk koperasi tingkat tinggi, atau istilah Aidit "koperasi yang bersifat sosialis di masa yang akan datang".

Tentu ada beda yang besar antara koperasi di bawah kapitalisme dan sosialisme, terutama dalam hubungan hak milik. Dalam sistem sosialis, koperasi produksi pertanian, tanah, dan alat-alat produksi adalah milik kolektif. Hal ini tak terjadi di koperasi di bawah kapitalisme. Ini bisa terjadi jika sudah ada perubahan tanah (land reform) seluruhnya.

Usaha ini dilakukan secara bertingkat-tingkat sesuai tingkat kesadaran: (1) organisasi yang mengandung bibit sosialisme di kalangan petani, (2) pengorganisasian koperasi pertanian setengah sosialis, karena alat masih dimiliki perorangan, (3) koperasi tingkat tinggi yang sosialis sepenuhnya, dari milik perseorangan jadi milik kolektif. Jadi masa ini bagi Aidit merupakan masa peralihan. Penguatan dilakukan di ekonomi negeri, dengan pembantu dan pemerkuatnya adalah sektor swasta. Aidit mewanti-wanti jangan sampai koperasi berkembang ke badan-badan kapitalis. Kukira ini bisa jadi renungan pula di Koperasi Perumahan, bagaimana koperasi perumahan tidak jatuh ke lembaga-lembaga kapitalis ini? Atau yang lebih Advance, kapitalis yang bergandengan dengan negara (neoliberalisme). Aidit menyebut, "Koperasi progresif harus bisa menjadi senjata di tangan rakyat pekerja untuk melawan penghisapan tuan tanah, lintah darat, dan kapitalis." (p. 16)

Dua kecenderungan yang perlu dihindari oleh gerakan koperasi yaitu, (a) kecenderungan kekiri-kiran yang tak sesuai dengan cita-cita revolusi, yang menganggap koperasi sekarang adalah koperasi sosialis, tapi isinya para kapitalis birokrat, komprador, dan tuan tanah; (b) kecenderungan kekanakan, di mana koperasi jadi tempat menjalankan praktik-praktik kapitalis. Di tengah situasi koperasi ada di tengah struktur kemodalan, sektor swasta asing, hingga ekonomi feodal desa. Kapitalis yang menyelundup pada gerakan koperasi dan "berjubah koperasi". Bagi Aidit, "Dasar koperasi pada pokoknya ialah kerja sama antara mereka yang lemah ekonominya, agar dengan bersatu dan saling bantu mencapai perbaikan tingkat hidup." (p. 16-17). Di sini sarat bersama dan sukarela menjadi penting, tidak ada lintah darat di sana karena kepentingannya bertentangan.

Di sini, Aidit memberikan ilustrasi tentang orang-orang yang berbeda kepentingan berada dalam koperasi yang sama (bagaimana menentukannya?), dia memberi contoh di salah satu desa di Purwokerto. Di sana dibangun koperasi simpan pinjam, di mana seluruh masyarakat desa otomatis jadi anggota koperasi. Modal pertama diambil dari penjualan gula distribusi kepada penduduk dan modal tambahan dari uang tabungan para anggota. Di sana, para golongan tuan tanah, petani kaya, tengkulak, hingga lintah darat ikut bergabung. Semua boleh pinjam, tapi bunganya sangat tinggi, 10 persen dalam 35 hari atau 104 persen setahun! Ini pemerasan bagi petani miskin. Pengurus harus bersikap keras. Petani juga kena intimidasi sehingga harus menjual tanah dan hasil taninya dengan harga murah untuk melunasi pinjaman. Aidit merasa praktik ini lebih busuk daripada itu, dan contoh-contoh seperti ini masih banyak.

Kukira di Koperasi Perumahan, hal ini juga perlu mendapat perhatian yang serius. Kaum produsen yang menjadi anggota koperasi jangan sampai menyerahkan produksinya kepada koperasi sehingga koperasi menjadi "single buyer" dengan harga yang lebih rendah dibandingkan di pasar bebas. Perkembangan gerakan koperasi harus ditujukan pada lapisan terbesar dari massa rakyat pekerja (kaum tani, dalam konteks kota, kaum buruh). Kaum tani ini bisa dibagi lagi, ada kaum tani miskin, tani sedang, dll. Perhatian pada kaum tani miskin dan sedang ini untuk meningkatkan produksi pertanian mereka melalui sistem cooperative marketing, koperasi jual beli untuk mendapatkan pasar yang baik dari barang yang sudah diproduksi. Aidit menyebut, koperasi serba-usaha (multipurpose cooperative) menjadi jenis koperasi yang tepat. Koperasi ini juga perlu mendapat bantuan pemerintah, dan perlu dipastikan tidak dipimpin oleh elemen-elemen yang korup. Tapi memilih pemimpin yang jujur, cakap, dan Manipolis. Namun, hal utama yang perlu dipastikan adalah pelaksanaan land reform sebagai syarat perkembangan koperasi.

Tak hanya itu, Aidit juga mengajak para pemuda dan kaum perempuan untuk terlibat. Pemuda di sini punya daya yang lebih besar, sementara kaum perempuan lebih cermat dan teliti, yang mendorong koperasi bisa bekerja dengan baik. Di sini, kaum buruh dan pegawai negeri juga perlu koperasi karena gaji yang kecil, baik untuk bangun rumah, beli kendaraan, atau keperluan kenduri. Di sini bukan berarti pemerintah dan perusahaan kemudian lepas tangan, perlu ada pemeliharaan dan jaminan sosial yang menjadi tanggungjawabnya. Begitu juga dengan kaum perajin dan nelayan juga perlu koperasi. Karena koperasi nelayan lebih diperuntukkan bagi mereka yang bekerja, alih-alih untuk juragan perahu atau pawang ikan yang tak bekerja. Di sisi lain, kaum miskin kota membutuhkan pula koperasi konsumsi yang meringankan beban hidup. Juga kaum pedagang kecil juga butuh kredit untuk beli barang. "...terbentang lapangan yang luas bagi kegiatan gerakan koperasi, lapangan kegiatan yang hanya mungkin dihadapi dengan ketekunan, kecakapan, dan kejujuran daripada kader-kader atau aktivis-aktivis gerakan koperasi kita." (p. 21)

Jika disingkat, ada tiga jenis koperasi yang dibutuhkan: koperasi kredit, produksi, dan konsumsi. Koperasi juga perlu disertakan di samping RT/RK dan swasta nasional. Usaha ini akan meningkatkan ekonomi negeri dan swasta sekaligus, gerakan koperasi adalah motor penggerak menuju ekonomi nasional-demokratis; asalkan, tidak digabungkan dengan praktik lintah darat, tuan tanah, pencoleng, dan tengkulak. Di tulisan ini, Aidit juga menyebut jumlah koperasi primer beserta anggotanya tahun 1961. Ada 34.780 koperasi primer dengan 6.3332.368 orang anggota. Jumlah simpanan Rp1,6 miliar, perputaran Rp5,5 miliar, dan dana cadangan 153 juta. Di masa depan, koperasi pertanian cukup mendesak karena jumlah tani yang besar (dengan lebih dulu land reform). "Di dalam gerakan koperasi, kader-kader atau aktivis-aktivis Nasakom harus bersatu dan berlomba-lomba bekerja baik bagi kepentingan massa anggota koperasi dan massa rakyat." (p. 23)

III. Tentang peranan pemerintah dalam mengembangkan gerakan koperasi dan beberapa persoalan Undang-Undang Koperasi

Pada bab ini, Aidit menekankan perlunya peran besar pemerintah dalam mengembangkan gerakan koperasi baik langsung maupun tidak langsung. Pemerintah perlu melaksanakan garis-garis Manipol dan MPRS untuk melikuidasi kapitalis birokrat, komprador, dan tuan tanah. Kaum buruh dan tani juga melaksanakan dukungan sosial dan kontrol sosial dalam ekonomi, khususnya dalam produksi, yang di sisi lain memperbaiki syarat materiil kehidupan buruh dan tani.

Produksi ini juga perlu diiringi dengan kestabilan finansial. Beberapa upaya yang dilakukan, pemerintah perlu menguasai ekspor bahan-bahan penting, menyesuaikan impor dengan rencana pembangunan dalam negeri, mencegah inflasi gila-gilaan, dll. Kehidupan koperasi juga bergantung dengan fasilitas-fasilitas dan kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah, keringanan pajak, hingga mengusahakan pendidikan bagi anggota koperasi. Secara regulasi saat itu, gerakan koperasi diatur dalam UU No. 79/1958 tentang Perkumpulan Koperasi dan PP No. 60/1959 tentang Perkembangan Gerakan Koperasi. Aidit mengusulkan beberapa perubahan dalam dua regulasi tersebut, khususnya tentang definisi, lapangan usaha koperasi, prinsip-prinsip demokrasi, peranan pemerintah, dan daerah bekerja koperasi.

Pertama, terkait definisi, Aidit berpandangan, definisi koperasi harus sesuai dengan jiwa koperasi yang dimiliki oleh rakyat pekerja di Indonesia maupun dunia. Dalam pengertian umum, koperasi adalah "sejumlah orang mengadakan perkumpulan untuk memungkinkan secara kerja sama mencapai hasil-hasil yang lebih menguntungkan daripada kalau dikerjakan sendiri-sendiri oleh orang-orang itu." (p. 26) Pengertian ini tak didebatkan, tapi yang mendapat perhatian adalah adanya rumusan yang tegas terkait berbedaan koperasi dengan badan-badan ekonomi kapitalis seperti NV, PT, firma, dll. Di UU 79/1958, koperasi tidak merupakan wadah konsentrasi modal. Dia merasa masih ada regulasi yang umum, samar-samar, karet, dan mudah disalahgunakan secara praktik.

Sementara itu, Aidit menyebut definisi koperasi dalam empat prinsip pokok: (1) Ia adalah perkumpulan orang-orang dan bukan kapital. (2) Anggota-anggota perkumpulan itu mempunyai hak sama, peraturan yang berlaku adalah satu anggota satu suara. (3) Masuk-keluar perkumpulan adalah sukarela. (4) Perkumpulan mempunyai tujuan di mana anggota-anggotanya mempunyai kepentingan bersama dan pelaksanaannya memerlukan bantuan dari masing-masing anggota. "Menetapkan definisi-definisi yang dengan tegas membedakan koperasi daripada badan-badan ekonomi kapitalis adalah penting untuk mencegah penyelewengan." (p. 27)

Kedua, lapangan usaha koperasi, ini perlu diteliti mana yang paling sesuai dengan kepentingan golongan-golongan massa rakyat saat ini. UU Koperasi merumuskan lapangan usaha koperasi yang akan menentukan jenis koperasi. Aidit menekankan, ketentuan yang terlalu luas dan umum tentang lapangan usaha koperasi akan menjadi celah penyelewengan yang merusak tujuan. Penetapan anggota yang jelas juga penting, pasal ini terlalu luas dan tak ada batas, "...tidak hanya berdasarkan kepentingan-kepentingan yang bersamaan saja, melainkan juga yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang satu sama lain ada sangkut pautnya secara langsung." (p. 28) Karena memungkinkan masuknya orang-orang yang punya kepentingan berlawanan. Sekali lagi, jangan ada penghisapan manusia atas manusia dalam koperasi.

Ketiga, mengenai prinsip demokrasi daripada koperasi, dalam pasal UU Koperasi disebut kekuasaan tertinggi ada pada rapat anggota. Tapi ada pasal nyeleneh, yang memberi hak istimewa kepada pejabat untuk memutuskan pembubaran koperasi. Pasal ini menciderai keputusan rapat anggota dan badan pimpinan koperasi. Aturan ini dikhawatirkan memunculkan ekses-ekses. Selain itu, bantuan dari pemerintah dan bantuan dari luar gerakan koperasi bersifat bantuan sukarela.

Empat, mengenai peranan pemerintah dalam gerakan koperasi, hal ini perlu secara jelas ditetapkan. Gerakan pemerintah ini selaras dengan gerakan memperbaiki koperasi. Anggapan pemerintah tak usah turut campur ini dirasa Aidit tidak tepat, karena di baliknya ada maksud liberal, bahkan maksud yang menyimpang dari jiwa dan tujuan koperasi. Namun, pemerintah juga perlu tahu batas, jangan sampai ikut campur terlalu banyak pada internal koperasi, yang memungkinkan penyelewengan oleh pejabat yang tak baik.

Kelima, daerah kerja koperasi, ini perlu jelas. Di UU Koperasi diatur, diizinkan ada dua atau lebih koperasi sejenis dan setingkat dalam salah satu daerah kerja, maka pejabat wajib mengusahakan penyatuan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Peraturan ini bisa memunculkan penyalahgunaan tertentu seperti monopoli oleh salah satu golongan dalam gerakan koperasi.

Aidit menuntut mutlak perlu ada pengubahan sistem masyarakat dengan melikuidasi penghisapan-penghisapan besar di kota dan desa, menghapuskan kekuasaan kapitalis birokrat, komprador, tuan tanah, dan setan-setannya. Ini kata Aidit menjadi Program Front Nasional, yang berporoskan Nasakom dari atas ke bawah, dari pusat ke daerah. Di bab ini, Aditi menutupnya dengan harapan-harapan: (1) Gerakan koperasi supaya betul-betul menjadi gerakan ekonomi yang berjuang untuk perbaikan tingkat hidup massa anggotanya, massa rakyat pekerja yang ekonominya lemah, di bawah bendera koperasi progresif. (2) Sebagai koperasi progresif, gerakan koperasi tak hanya ambil bagian dalam kegiatan ekonomi, tapi juga kegiatan revolusioner. (3) Sudah saatnya gerakan koperasi menyimpulkan pengalaman dari kegiatan gerakan koperasi selama ini, sehingga bisa mengembangkan sisi-sisi positif dan menghilangkan segi-segi negatif.

Kembangkan gerakan koperasi untuk mengurangi kesulitan-kesulitan beban hidup rakyat dan dalam rangka membangun ekonomi nasional

Bab terakhir ini disampaikan Aidit selaku Wakil Ketua MPRS pada Musyawarah Pembiayaan Koperasi tanggal 13 November 1962 di Cipayung.

Dia membuka pidatonya dengan optimisme bahwa gerakan koperasi di Indonesia telah mengalami kemajuan. Dari data, koperasi konsumsi telah ada di semua daerah tingkat I, juga hampir semua daerah di tingkat II, dan mulai merata di desa-desa. Koperasi di Indonesia juga bergerak di sektor ekonomi negara dan swasta nasional. Aidit mengutuk para "pseudo koperasi", yang dia tulis sebagai, "Usaha-usaha beberapa golongan yang untuk kepentingan golongan itu sendiri, mempergunakan nama Koperasi. Terutama mereka itulah yang selalu mempergunakan dan menuntut kepada hak koperasi, tetapi tanpa memperhatikan kebutuhan daripada konsumen." (p. 36) Golongan ini mempergunakan rakyat untuk koperasi, dan bukan sebaliknya, koperasi untuk rakyat. Cara ini dianggap sebagai cara kapitalis dan bertentangan dengan asas kekeluargaan, asas sosialis, dan asas koperasi.

Aidit mengingatkan, kita tak bisa menutup mata dari perkembangan-perkembangan negatif yang nyata terjadi terhadap koperasi dan perlu diatasi. Inti pokoknya ada pada prinsip koperasi, pembangunan organisasi, dan kegiatan sehari-hari. Aidit berharap gerakan koperasi bisa tumbuh sebagai "pohon di udara bebas dan jangan seperti 'kamerplant' (tanaman penghias kamar) yang hidup karena disirami terus menerus". Gerakan koperasi perlu melawan liberalisme dan menjauhi terus menerus sifat perusahaan kapitalis.

Dalam kesempatan ini, dia menekankan perlunya pembicaraan tentang persoalan pembiayaan koperasi. Alasannya, (1) Persoalan ini perlu dipecahkan berdasarkan perkembangan kebutuhan gerakan koperasi, (2) Musyawarah bisa menghasilkan kesimpulan yang tegas dan konkret untuk mendorong gerakan koperasi agar sesuai asas. Serta, melalui bimbingan dan pengawasan dari petugas di Departemen Koperasi seluruh negeri, maka kredit-kredit perlu digunakan secara efektif dan efisien dalam kegiatan ekonomi. Dia berpendapat, penyaluran modal dan kredit swasta nasional yang progresif kepada kegiatan gerakan koperasi adalah hal yang bisa direalisasi, apabila dilakukan oleh pihak yang progresif, dan bukan prinsip kapitalis. Dasarnya sama-sama anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Dan kata Aidit, penggalangan modal koperasi tidak bisa diharapkan dari jumlah yang besar, karena bukan koperasi kapitalis, dan koperasi juga bukan konsentrasi modal. Sehingga koperasi pun harus dijalankan dengan prinsip tidak memberatkan anggotanya. 

Jakarta, 17 Mei 2025